siwah.com

Tag: satisfaction

  • Partai Politik Kini Andalkan Kepercayaan Masyarakat

    Jakarta, Kompas – Perbedaan basis ideologi partai-partai yang ada saat ini semakin tipis. Program-program yang disiapkan juga hampir semua sama. Akhirnya, hanya kepercayaan masyarakat yang membedakan satu partai dengan partai lain.

    Dalam orasi politik pada Deklarasi dan Rapat Koordinasi Nasional Partai Nasdem, Selasa (26/7), di Jakarta, Jusuf Kalla mengatakan, partai berbasis agama kini semakin terbuka dan bukan lagi 100 persen berdasarkan agama. Latar belakang agama pengurusnya pun semakin beragam.

    Partai nasional juga lebih religius. Sebagai contoh, kata JK panggilan akrab Jusuf Kalla, Partai Golkar pernah dipimpin Akbar Tandjung dari Himpunan Mahasiswa Islam. Perkataan JK ini disambut gelak hadirin dari Partai Nasdem. ”Anda boleh ketawa, tetapi kenyataannya begitu,” ujar JK.

    Dalam kesempatan tersebut, Ketua Majelis Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung juga mengatakan, perbedaan warna ideologi partai saat ini memang tidak tampak. Kemampuan dan konsistensi partai mengakomodasi aspirasi masyarakat dinilai lebih penting.

    ”Saya tetap berpendapat parpol semestinya mempunyai suatu gagasan yang membuatnya berbeda dengan parpol lain dan membuat daya ikat masyarakat dengan parpol semakin kuat,” tutur Akbar.

    Namun, ketika perbedaan ideologi tidak ada, parpol lebih baik memperlihatkan konsistensi dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Parpol juga semestinya menunjukkan platform atau tema utama perjuangannya.

    JK melihat konsistensi perjuangan partai menghasilkan kepercayaan masyarakat kepada partai. Oleh karena itu, partai harus sungguh-sungguh mengupayakannya.

    Selain Jusuf Kalla dan Akbar Tandjung, deklarasi Partai Nasdem dihadiri tokoh-tokoh partai politik lain, seperti Taufiq Kiemas, Achmad Mubarok, Bima Arya, dan Permadi.

    Dalam deklarasi tersebut, Partai Nasdem menegaskan mengusung slogan yang sama dengan ormas Nasional Demokrat, yaitu restorasi. Patrice Rio Capela sebagai Ketua Umum Partai Nasdem.

    Sejumlah anggota Partai Nasdem adalah anggota sejumlah partai politik. Secara terpisah, Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengatakan, sejumlah kader Partai Golkar yang bergabung menjadi anggota Partai Nasdem agar keluar.(ina/nta)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Parpol Kian Kehilangan Pemilih Loyal

    Jakarta, Kompas – Kecenderungan jumlah massa mengambang semakin tinggi. Tidak hanya dilihat dari penurunan tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu 1999-2009, tapi umumnya partai politik tidak dapat mempertahankan pemilihnya bila pemilu digelar saat ini.

    Hal ini diungkapkan peneliti utama Lembaga Survei Indonesia, Saiful Mujani, Minggu (29/5), di Jakarta. Tingkat partisipasi pada Pemilu 1999-2009 menurun. Bila tren penurunan linear, dalam lima tahun saja tingkat partisipasi akan menjadi 60 persen. Penurunan 20 persen dalam satu dasawarsa, menurut Saiful, menunjukkan lemahnya hubungan antara parpol dan pemilih.

    Hal ini diperkuat hasil penelitian LSI sepanjang 10-25 Mei 2011 kepada 1.220 responden dengan ambang kesalahan (margin of error) 2,9 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Hanya Partai Golkar, PDI-P, dan Partai Persatuan Pembangunan yang relatif dapat mempertahankan pemilihnya. Lebih dari 70 persen pemilih ketiga partai ini, yakni 74,5 persen (PPP), 75,4 persen (PDI-P), dan 77,5 persen (Partai Golkar), tidak mengubah pilihan suaranya.

    Pemilih yang masih akan tetap memberikan suara kepada Partai Demokrat hanya 54,5 persen. Loyalitas pemilih pada parpol menengah, seperti Gerindra, PAN, PKS, dan PKB, juga hanya 51-63 persen.

    Merujuk survei, Partai Demokrat masih bisa memenangi pemilu, tetapi perolehan suara merosot menjadi hanya 18,9 persen. Kendati masih mendapat suara tertinggi dalam survei, pemilih Demokrat sangat labil. Sebaliknya, pemilih Partai Golkar dinilai paling stabil ketimbang pemilih PDI-P dan Demokrat. Namun, kata Saiful, Partai Golkar tidak mampu menarik pemilih baru, sedangkan PDI-P mampu menjaga pemilih lama dan menarik pemilih tambahan.

    Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia Prof Hamdi Muluk melihat keterpilihan parpol dan kader parpol di Indonesia bukan disebabkan adanya kedekatan dengan masyarakat ataupun informasi menjelang pemilihan. Sangat sedikit pemilih mengidentifikasi diri dengan parpol. Dalam penelitian LSI, hanya 5 persen pemilih inti di setiap parpol. Karenanya, faktor popularitas dinilai menjadi sangat menentukan.

    Peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lili Romli, menambahkan, parpol di Indonesia sangat tak sehat. Kaderisasi tak berjalan, perekrutan instan, dan parpol tak mampu merepresentasikan rakyat. Oligarki politik menguat, parpol dikendalikan dinasti elite. (INA)

    Source : Kompas.com