siwah.com

Tag: security

  • Polisi: Kurangi Kampanye Terbuka

    Banda Aceh, Kompas – Kepolisian Daerah Aceh meminta Komisi Independen Pemilihan Aceh mengurangi pelaksanaan kampanye terbuka berupa pengerahan massa. Dengan kondisi Aceh saat ini, kampanye terbuka rawan sekali menimbulkan gesekan atau kerusuhan.

    ”Kepala Polda Aceh sudah mengirimkan surat permintaan kepada KIP mengenai masalah ini. Ini semacam imbauan saja kepada KIP berdasarkan prediksi-prediksi yang banyak berkembang sekarang,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Aceh Komisaris Besar Gustav Leo di Banda Aceh, Selasa (6/3).

    Pilkada di Aceh untuk memilih gubernur dan wakil gubernur, 17 bupati dan wakil bupati, serta wali kota dan wakil wali kota akan digelar pada 9 April 2012. Masa kampanye dimulai 22 Maret.

    Polda Aceh menilai model kampanye tertutup di ruangan dapat menjadi alternatif pilihan untuk masa kampanye pilkada di Aceh. Pasalnya, kampanye tertutup atau dialogis tak terlalu berisiko menimbulkan gangguan keamanan antar-massa.

    ”Bagaimana kalau kampanye dilaksanakan di Banda Aceh, tetapi massa pengikut berdatangan dari daerah-daerah. Di tengah jalan bagaimana kalau terjadi bentrokan dengan massa kandidat lainnya. Ini harus diantisipasi bersama,” katanya.

    Terlebih, lanjut dia, selama ini ada beberapa kali kegiatan politik di Banda Aceh yang mendatangkan massa berjumlah ribuan dari wilayah lain. Apabila hal itu terjadi saat kampanye, akan sangat berisiko terjadi bentrokan.

    Menurut dia, saat ini ada kelompok tertentu yang sengaja ingin membuat Aceh tak aman. Mereka mengintimidasi, meneror, dan melakukan tindak kekerasan menjelang Pilkada Aceh.

    Menanggapi hal itu, komisioner KIP Aceh, Zainal Abidin, mengatakan, KIP belum dapat memutuskan terkait permintaan Polda Aceh tersebut. Berdasarkan Keputusan KIP Aceh Nomor 18 Tahun 2011, kampanye terbuka salah satu bentuk kampanye yang dapat dilaksanakan.

    ”Di satu sisi, kami tak mungkin melanggar peraturan perundangan yang ada terkait masalah ini. Namun, di sisi lain, kami dapat memahami bahwa kepolisian juga mempunyai kewenangan terkait keamanan Pilkada Aceh,” kata dia.

    Untuk memutuskan hal tersebut, KIP Aceh akan menggelar rapat bersama muspida di Aceh lainnya, termasuk Polda Aceh, Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda, dan Gubernur Aceh.

    Secara terpisah, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Aceh Destika Gilang Lestari mengatakan, situasi Aceh menjelang pilkada menunjukkan sesuatu yang kurang baik. Ada serangkaian kasus intimidasi, teror, bahkan kekerasan.

    Kontras Aceh mencatat selama Januari-Februari 2012 terjadi 10 kasus teror dan kekerasan di Aceh. Ironisnya, dari 12 kasus tersebut belum satu pun yang dapat diungkap oleh kepolisian.

    ”Pola kekerasan dan teror ini hampir mirip dengan kasus yang terjadi menjelang Pemilu 2009. Jika tak segera diungkap, maka ketakutan akan terus terjadi di masyarakat menjelang pilkada,” katanya. (han)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • “E-voting” Versi Baru Diuji Coba

    Jakarta, Kompas – Pengembangan sistem elektronik untuk pemungutan dan penghitungan suara (electronic voting) sampai ke tahap keempat, seiring dengan terciptanya versi 1.0. E-voting versi baru ini akan diterapkan pada pemilihan Ketua Ikatan Alumni ITB pada awal Desember.

    Demikian disampaikan Andrari Grahitandaru, Kepala Program E-Voting Pusat Teknologi Informasi dan Teknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Selasa (22/11). Pelaksanaan uji petik sistem itu dilakukan seusai kampanye calon ketua Ikatan Alumni ITB di Jakarta.

    Uji petik e-voting versi 1.0, menurut Nani Hendriati selaku panitia pemilihan Ketua Ikatan Alumni ITB, dilaksanakan seusai kampanye lima kandidat. Ada sekitar 400 orang yang memberikan suara pada pengujian itu. Pemberian suara dilakukan pada sistem e-voting, yang prosesnya mirip transfer dana pada mesin ATM.

    Sistem e-voting yang mulai dikembangkan tahun 2000 mengalami beberapa kali pengembangan, terutama dari segi pengamanan, baik pada proses pemungutan suara, pengiriman hasil, maupun perhitungan suara.

    Pada versi baru, lanjut Andrari, sukses dikembangkan sistem pengamanan dengan menerapkan free token yang menghasilkan kunci khusus untuk suara yang masuk. Oleh karena itu, sistem pengaman ini juga dapat digunakan untuk pembuktian dalam pemungutan suara.

    Perangkat e-voting ini akan terus ditingkatkan hingga ke tingkat keandalan tinggi untuk diterapkan pada pemilihan umum tahun 2014. E-voting menghemat biaya, lebih cepat menghitung suara, aman dari manipulasi, serta mudah dalam proses pemungutan suara dan audit prosesnya. (YUN)

    Source : Kompas.com

  • Mempertanyakan Keamanan Data Komputasi Awan

    Tren teknologi informatika sedang menapaki komputasi awan. Yakni, teknologi yang merancang piranti keras dalam bentuk minimum, tetapi memiliki kemampuan mengakses data secara maksimum dari gudang data internet di ”awan” yang hampir tak terbatas.

    Independent Software Vendor Entrepreneurship (ISV) Program Manager Developer and Platform Group Microsoft Irving Hutagalung, Selasa (19/7) di Jakarta, menyebutkan, komputasi awan (cloud computing) terbagi untuk publik dan privat. Aplikasi komputasi awan untuk privat atau swasta di Indonesia mampu berjalan dengan baik, misalnya untuk dunia perbankan. Ini berbeda dengan penggunaan komputasi awan untuk publik menyangkut kebijakan pemerintah.

    ”Beberapa pemerintah daerah memiliki layanan informasi publik melalui fasilitas internet yang dikelola sendiri-sendiri dengan kapasitas terbatas. Dengan komputasi awan, layanan informasi publik sebenarnya bisa dihimpun secara nasional dengan kapasitas yang hampir tak terbatas,” kata Hutagalung.

    Seperti masalah penggunaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) yang sedang dipersiapkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Komputasi awan cukup efisien digunakan untuk menyimpan data dan memudahkan akses sewaktu-waktu.

    Menurut Hutagalung, kebijakan pemerintah belum memudahkan aplikasi komputasi awan untuk kebutuhan publik.

    ”Regulasi pemerintah di antaranya masih mengatur penempatan data publik harus tetap berada di wilayah Indonesia. Komputasi awan jelas tidak menunjang hal ini,” kata dia.

    Belum lagi tuntutan jaminan keamanan data publik di komputasi awan masih menjadi pertanyaan awam.

    Keamanan

    Pengelola perusahaan layanan sekuriti cloud computing Trend Micro, Rabu (20/7), berusaha meyakinkan adanya program jaminan keamanan data komputasi awan ini.

    ”Kerahasiaan dan perlindungan data di komputasi awan menjadi hal utama dan menjadi perhatian khusus kami,” kata Executive Vice President Trend Micro Asia Pacific Oscar Chang.

    Trend Micro mengedepankan program SecureCloud untuk melindungi data secara efisien dengan kunci enkripsi yang dijamin aman. Akan tetapi, sejauh ini penawaran tersebut cenderung berlaku untuk kepentingan bisnis swasta ataupun privat.

    Jawaban atas pertanyaan jaminan keamanan data publik di komputasi awan tersebut sesungguhnya sekarang ini dibutuhkan. Setidaknya, ini bakal memberi kontribusi penting bagi Pemerintah Indonesia yang tengah mempersiapkan KTP elektrik yang makin memudahkan layanan publik sekarang ini.
    (NAW)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.