siwah.com

Category: News

  • Perang Kurs dan Prospek Rupiah

    Perekonomian dunia kini dicekam oleh perang kurs—atau perang mata uang (currency wars)—yang melibatkan para raksasa ekonomi Amerika Serikat, China, Zona Euro, Jepang, dan Korea Selatan. Jika tidak dikendalikan, hal ini akan menjerumuskan kembali perekonomian dunia ke jurang resesi berikutnya (double dip recession). Bagaimana dampak perang kurs terhadap rupiah dan perekonomian kita?

    Sangat bisa dimengerti jika AS akhir- akhir ini gusar terhadap China. Pada Agustus 2010, AS mencatat rekor defisit perdagangan terbesar terhadap China, mencapai 28 miliar dollar AS. Dengan demikian, dalam 12 bulan ini, defisit terhadap China sebesar 250 miliar dollar AS. Secara total, defisit AS terhadap seluruh dunia kini 632 miliar dollar AS. Ini fantastis, yang mau tidak mau harus ditekan.

    Bahwa AS mengalami defisit perdagangan, ini merupakan keniscayaan. Sudah cukup lama AS menderita ”defisit kembar”, yakni defisit perdagangan dan defisit anggaran pemerintah. Meski AS kini masih tetap berstatus negara dengan kekuatan ekonomi terbesar (PDB-nya sekitar 15 triliun dollar AS), perekonomiannya sudah digerogoti oleh negara-negara lain, terutama China dan Jepang (PDB masing-masing 5 triliun dollar AS).

    Pada dasawarsa 1930-an, ekonom Jepang, Kaname Akamatsu, meramalkan fenomena flying geese, yakni kawasan Asia akan menjadi semacam sayap dalam formasi ”angsa terbang”. Maksudnya, perekonomian AS pada suatu titik tertentu akan kejenuhan. Pertumbuhan ekonominya sulit dipacu lagi. Perdagangan AS kalah dengan negara-negara lain yang lebih unggul secara komparatif dan kompetitif.

    Investasi di AS juga kian tidak efisien, seiring dengan mahalnya upah tenaga kerja. Karena itu, banyak industri yang direlokasi ke Asia yang kaya penduduk dan sumber daya alam. Jepang merupakan negara terdepan dalam formasi ”angsa terbang” ini, disusul ”empat macan Asia” (Korea Selatan, Hongkong, Taiwan, dan Singapura), lalu ”macan kloter kedua” (Thailand, Indonesia, dan Malaysia), serta kini China dan India.

    Jadi, dengan atau tanpa perang kurs, sesungguhnya AS sudah amat menyadari bahwa daya saing produknya kalah dibandingkan kawasan Asia, terutama China. Namun, di sisi lain, AS juga mencium gelagat China yang sengaja memperlemah mata uangnya, yuan, agar daya saingnya lebih hebat lagi.

    Dengan perekonomian yang selalu tumbuh double digit serta punya cadangan devisa terbesar di dunia (sekitar 2,5 triliun dollar AS), mestinya kepercayaan pada yuan sangat tinggi. Majalah Newsweek (18 Oktober 2010 dan 8 November 2010) melaporkan, merek mode terkenal, Louis Vuitton, Hermes, dan Fendi, serta mobil mewah Mercedes Benz dan BMW kini beramai-ramai menyerbu China. ”China terlalu kaya”, tulisnya.

    Konsekuensinya, permintaan atas yuan juga kian besar sehingga mestinya menguat tajam. Ternyata tidak terjadi. Memang yuan menguat, dari 8 yuan (2005) menjadi 6,8 yuan per dollar AS (2010), tetapi belum sebesar ekspektasi mekanisme pasar.

    Patut diduga, Pemerintah China sengaja menahan yuan agar tidak terlalu kuat. Caranya? Dengan cerdik (atau nakal?) mereka tidak membiarkan yuan menjadi mata uang global. Hal serupa pernah dilakukan Jepang ketika mereka menolak penggunaan yen dalam transaksi internasional, agar yen tidak menguat (yendaka) berlebihan, pada dasawarsa tahun 1990-an.

    AS mulai frustrasi karena berbagai persuasinya pada China selalu kandas. Kini muncul jurus baru yang sebenarnya tidak lazim, yaitu sengaja mencetak uang sebanyak 600 miliar dollar AS. Kurs dollar AS akan merosot. Inilah esensi perang kurs dewasa ini: China tidak mau merevaluasi yuan sesuai mekanisme pasar, sedangkan AS menambah pasokan dollar agar kursnya melemah.

    Ekonom terkenal Jagdish Bhagwati dari Columbia University, New York, khawatir atas kurs yuan terlalu dilebih-lebihkan. Namun, sebaliknya, pencetakan uang oleh Fed yang merupakan bagian dari kebijakan moneter AS mestinya tidak usah dikomplain Pemerintah China (Newsweek, 15 November). Sedangkan Menteri Keuangan AS Timothy Geithner malah mengatakan, perang kurs tidak membawa dampak negatif terhadap negara-negara lain.

    Saya tidak sependapat. Jika perang kurs terus terjadi, dollar AS akan melemah dan rupiah akan terus menguat. Dalam teori penentuan kurs, ada dua hal yang perlu dicapai. Pertama, kurs seyogianya mencerminkan kredibilitas perekonomian suatu negara. Berarti, kurs yang baik adalah cenderung kuat.

    Namun, harus juga dipertimbangkan hal kedua, yakni kurs yang baik adalah yang dapat mendukung daya saing produk-produk negara itu di pasar global. Artinya, kurs yang terlalu kuat justru tidak baik karena akan mengganggu daya saing.

    Jadi, ke depan akan kita saksikan demonstrasi negara-negara maju yang seperti berlomba memperlemah mata uangnya masing-masing demi mencapai posisi neraca perdagangan yang lebih baik. Bagi AS, kepentingannya adalah menurunkan defisit perdagangan, terutama terhadap China.

    Maka, Bank Indonesia harus menghitung, sampai level berapa rupiah diizinkan menguat. Memang ada manfaat penguatan rupiah, misalnya bagi produsen yang mengimpor mesin atau barang modal. Biaya produksi bisa ditekan, yang juga akan menekan inflasi. Karena faktor inilah saya yakin inflasi kita bisa di bawah 6 persen tahun 2011.

    Namun, rupiah yang terlalu kuat juga akan merangsang masyarakat berbelanja barang impor dan bepergian ke luar negeri, yang bisa menguras cadangan devisa yang kini mencapai rekor 92 miliar dollar AS.

    Pasca-kegagalan lobi AS terhadap China, pelemahan kurs mata uang negara-negara kunci akan menjadi tren tahun 2011. Ini memerlukan peningkatan kewaspadaan BI pada gejala penguatan rupiah. Saya yakin, perekonomian Indonesia akan sehat apabila rupiah dijaga pada kisaran sempit Rp 9.000-Rp 9.200 per dollar AS.

    A Tony Prasetiantono Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM, Yogyakarta

    Source: kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Universitas yang Tidur dalam Kemewahan

    Paling tidak lima tahun terakhir universitas-universitas di Indonesia secara serentak menslogankan ”universitas kelas dunia” seperti nyanyi vokal yang tidak jelas bunyi awal dan akhirnya. Bunyi nyanyi itu indah didengar dan dibayangkan, tetapi buruk dilihat dan pahit dirasakan. Realitasnya, universitas-universitas di Indonesia tidak pernah menduduki peringkat puncak di Asia, bahkan di Asia Tenggara.

    Dibandingkan dua jirannya, Malaysia dan Singapura, keterpurukan itu terlihat jelas. Beberapa universitas Malaysia dan Singapura pernah menduduki posisi puncak Asia. National University Singapura, misalnya, di ranking ketiga Asia tahun 2009, Universiti Malaya di ranking ke-4 Asia (2004), dan Universitas Kebangsaan Malaysia masuk 200 dunia pada 2006.

    Tahun ini, dari ranking versi QS (London), Indonesia secara keseluruhan belum mencatat capaian impresif, betapapun banyak komentar subyektif mengagulkan diri dari pejabat perguruan tinggi. Ketika Malaysia menempatkan lima universitasnya dalam 100 terbaik Asia, Indonesia hanya menempatkan dua universitas. Universiti Malaya (Malaysia) di ranking 42 Asia, turun setingkat dari 2009, Universiti Kebangsaan Malaysia (58), Universiti Sains Malaysia (69), Universiti Putra Malaysia (77) dan Universiti Teknologi Malaysia (90).

    Sementara Indonesia, posisi terbaik dicapai Universitas Indonesia (UI) yang masuk 50 besar Asia dan Universitas Gajah Mada (UGM, 85). Selebihnya di luar angka 100. Institut Teknologi Bandung (ITB) terlempar ke peringkat 113 Asia, kalah dari Universitas Airlangga (Unair, 109). Sementara Institut Pertanian Bogor (IPB) di peringkat 119 dan Universitas Padjadjaran (Unpad) serta Universitas Diponegoro (Undip) di ranking 161. Universitas luar Jawa yang tertua, Universitas Andalas Padang dan Universitas Makassar tidak masuk 200 Asia. Apa sebenarnya kunci di balik sukses dan ”sukses” para universitas di atas? Perbandingan bisa menjadi salah satu ilustrasi.

    Lemah basis pustaka

    Adalah kenyataan, di Indonesia universitas yang masuk peringkat 200 besar Asia adalah universitas yang ada di Pulau Jawa. Maknanya, pembangunan pendidikan tinggi ternyata masih berfokus di pusat-pusat kekuasaan. Satu warisan sentralisme sejak awal republik, bahkan sejak kolonial.

    Di luar itu, universitas-universitas di Indonesia juga belum memiliki satu kebijakan pendidikan yang progresif dan reformatif untuk—katakanlah—membangun sistem dan fasilitas pendidikan berkelas dunia. Di Malaysia, fasilitas dunia segera tampak hampir di semua fasilitasnya, mulai laboratorium, ruang kuliah, perpustakaan, sampai anggaran operasionalnya.

    Sementara di Indonesia, dari segi perpustakaan saja, Universitas Indonesia (kini masuk 50 Asia) hanya bisa meminjamkan lima buku ke tiap mahasiswa, durasi 15 hari, dengan perpanjangan 45 hari. Sistem peminjaman dan pengadaannya juga umumnya bersifat lokal, bahkan manual. Di Malaysia, semua mahasiswa bisa meminjam 20 buku per kartu, masa pinjam 40 hari dan bisa diperpanjang sampai 140 hari. Semua dilengkapi sistem jejaring elektronik dan dapat bertukar akses dengan berbagai perguruan tinggi dunia.

    Perguruan tinggi di Malaysia amat sadar akan pentingnya buku. Itu terlihat dari upaya keras mereka meningkatkan kuantitas koleksi tiap tahun. Mereka punya tim pemburu buku dan jaringan pemesanan buku di berbagai tempat di dunia, termasuk Indonesia. Tidak salah jika berbagai terbitan dan kliping Indonesia disimpan di sejumlah universitas Malaysia.

    Kita dengan mudah menemukan koleksi lengkap majalah Editor, Tempo, Pandji Masyarakat, Suara Mesjid, Horison, dan majalah yang (mungkin) dianggap tak penting di Indonesia seperti Aneka Minang—terbit tahun 1970-an. Kita pun bisa mendapat majalah terbitan Hindia Belanda seperti Indische Verslag, Koloniale Studien, De journalistiek van Indie, dan Kroniek Oostkust van Sumatra Instituut, sekadar contoh. Semua majalah itu disimpan bersama ribuan jurnal lama dan terbaru dari berbagai disiplin ilmu yang terbit dari berbagai sudut dunia, dari berbagai universitas terkemuka dunia.

    Perpustakaan mereka dilengkapi ruang audio visual, yang menyimpan dokumen mikrofilm, CD-DVD, kaset, dan film. Juga disediakan ruangan untuk mahasiswa peneliti, ruang diskusi, dan ruang laboratorium komputer-cyber, serta bioskop mini untuk memutar film.

    Tidak salah jika mahasiswa Muslim Asia berbondong-bondong ke Malaysia untuk melanjutkan studi, termasuk dari Indonesia. Semua bisa mendapat beasiswa dan menjadi asisten riset. Gajinya jelas lebih besar dari gaji dosen golongan IVa di Indonesia.

    Di Indonesia

    Indonesia dengan kebijakan hebat meningkatkan porsi anggaran pendidikan hingga 20 persen, ternyata malah cenderung menswastakan universitas negeri. Artinya, memindahkan beban yang harus dipikul negara ke rakyat banyak. Dengan PDB tertinggi di ASEAN, sekitar 5.000 triliun rupiah, porsi 20 persen dari APBN tentu sangat signifikan. Namun, mengapa justru perguruan tinggi makin menguatkan diri sebagai komoditas mewah yang bisa diakses hanya oleh sebagian kecil penduduk?

    Sebenarnya Indonesia hingga saat ini—walau diam-diam—masih jadi acuan utama bagi Malaysia, dan mungkin bagi sebagian negara ASEAN. Bangsa Indonesia disukai karena dianggap lebih dinamis, kreatif, dan egaliter—ini sangat disenangi dosen-dosen Malaysia. Bangsa Indonesia memiliki dasar historis dan basis budaya pendidikan yang kuat dibandingkan Malaysia atau negara lain. Gairah intelektualnya lebih dahulu muncul dibandingkan Malaysia.

    Kondisi geografis, politis, historis, hingga kultural Indonesia menempati posisi tersendiri karena kekayaan, kebesaran, dan kematangannya. Namun, sayang, semua itu tidak dijadikan dasar kuat membuat perguruan tinggi yang bisa menjadi acuan terbaik. Kita ingat, di abad ke-7, di masa Sriwijaya, kita sudah punya universitas yang jadi acuan banyak negara. Mungkin itu salah satu universitas tertua di dunia.

    Sayang sekali, kita seperti tertidur dalam kemewahan warisan hebat di atas. Adakah karena kebijakan dan sistem yang tidak cerdas atau manusianya yang tidak cerdas. Jawabannya harus kita dapatkan bersama. Bersama-sama.

    WANNOFRI SAMRY Dosen Universitas Andalas, Mahasiswa Doktoral Universiti Kebangsaan Malaysia

    Source: kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Warung Kopi Pontianak, Etalase Sosial Kalbar

    warung kopi hijas di pontianak, kalbar

    Sungai Kapuas pernah sibuk sebagai jalur transportasi air pada tahun 1960-an. Dari sana lahir tradisi minum kopi di sekitar Pelabuhan Pontianak, Kalimantan Barat. Tempat rehat transportasi air itu lalu bersemi jadi penyangga kelas menengah di seluruh pelosok Kalbar.

    Minuman kopi—dengan berbagai variannya—bahkan telah merambah ke kafe-kafe dan hotel-hotel berbintang di Pontianak. Warung kopi telah bermetamorfosis sebagai etalase sosial dan penggerak ekonomi masyarakat sekaligus.

    Warung kopi di Pontianak adalah tempat berkumpul hampir semua kalangan dengan semua ragam karakternya. Riuh pembeli bisa dijumpai di hampir semua warung kopi di Pontianak, bukan hanya pada pagi atau siang, melainkan juga malam hingga hari berganti.

    Pagi hari, orang datang ke warung kopi sebelum berangkat kerja atau masuk ke kantor. Siang hari, giliran para pekerja dengan mobilitas tinggi, seperti salesman dan pebisnis kelas menengah dan bawah yang memenuhi warung kopi. Malam harinya, orang-orang yang sudah suntuk dengan kesibukan siang hari melepas penat di warung kopi.

    Jalan Gadjah Mada dan Jalan Tanjungpura merupakan pusat warung kopi di Pontianak. Selain toko-toko yang buka sejak pagi hingga dini hari, ada banyak pula warung kopi yang buka pada malam hari saja. Warung kopi juga mudah ditemui di pelabuhan dan pasar-pasar tradisional.

    Pemilik Warung Kopi Winny, Heriwonoto (28), mengatakan, kebiasaan minum kopi di Pontianak sudah menggejala pada awal tahun 2000-an. Ketika itu orang mulai betah berlama-lama di warung kopi.

    Melihat peluang itu, Heri mengubah warung kelontong milik orangtuanya, yang mulai sepi karena bertambahnya pasar swalayan, menjadi warung kopi. Winny lalu menjadi salah satu warung kopi terlaris di Jalan Gadjah Mada.

    ”Saya berangkat dari hobi minum kopi di beberapa warung kopi yang sudah ada dan melihat orang bisa betah berjam-jam ngobrol di warung kopi. Saya tangkap fenomena itu dengan menyediakan banyak meja bagi pembeli dan tidak membatasi jam duduk mereka,” tutur Heri.

    Penyuka minuman kopi memang bisa menghabiskan waktu berjam-jam sambil ngobrol di warung kopi. Obrolan di warung kopi bisa mulai dari persoalan sehari-hari, isu terhangat, bisnis, hingga perbincangan politik.

    Suraji (37) mengaku dalam sehari bisa beberapa kali memesan kopi di Djaja, warung kopi langganannya di Jalan Tanjungpura. ”Minum kopi sekaligus bisnis. Saya membeli dan menjual emas. Sering juga saya bertransaksi di warung kopi Djaja, tergantung kesepakatan dengan pembeli atau penjual,” kata Suraji.

    Dari warung kopi bahkan bisa lahir keputusan-keputusan politik. Wakil Wali Kota Pontianak Paryadi mengakui, obrolannya di warung kopi ketika menjadi anggota DPRD Kota Pontianak membuahkan peraturan daerah.

    Bahkan, sejumlah strategi kampanye ketika mencalonkan diri menjadi wakil wali kota Pontianak berpasangan dengan calon wali kota Sutarmidji pada tahun 2008 dirumuskan oleh Paryadi di sebuah warung kopi.

    Di Kota Pontianak, jumlah toko yang memang khusus menjadi warung kopi ada sekitar 100 buah. Namun, ada lebih dari 100 toko lain yang tak melulu menjadi warung kopi. Ada yang, misalnya, juga sekaligus menjadi warung makan.

    Kopi bubuk yang diperlukan satu warung kopi bervariasi 1 kilogram-5 kilogram per hari, tergantung dari sedikit atau banyaknya pembeli yang datang. Kopi bubuk ini diperoleh para pengusaha warung kopi dari perajin yang menggoreng dan menumbuk kopi sendiri. Biji kopi berasal dari petani lokal, di antaranya dari Singkawang.

    Kopi yang biasanya menjadi kesukaan masyarakat Pontianak adalah kopi hitam yang disaring ampasnya. Namun, ada pula yang suka kopi susu—campuran kopi hitam saring dan krim.

    Makin ramainya warung kopi tak terlepas dari harga murah yang ditawarkan. Satu gelas kopi hitam saring rata-rata hanya Rp 2.500, sedangkan satu potong makanan ringan Rp 1.500. Dengan uang sedikit, pembeli puas berlama-lama. Slruuup….cleguk!

    Warung kopi pun turut menggerakkan perekonomian Pontianak karena menampung pekerja tanpa pendidikan khusus, seperti lulusan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas.

    Di Warung Kopi Winny, Pontianak, misalnya, Heri menampung 18 pekerja yang kebanyakan berasal dari Kabupaten Landak, Bengkayang, dan Kubu Raya.

    Kakak beradik Ite (25) dan Rika (18) yang bekerja di Winny mengakui bahwa warung kopi itu telah menyelamatkan perekonomian keluarga mereka. ”Mereka yang baru bekerja mendapat gaji Rp 450.000, bulan kedua naik menjadi Rp 500.000. Kalau yang sudah lama, bisa mencapai Rp 1,1 juta. Itu gaji bersih karena kebutuhan sehari-hari untuk makan dan tempat tinggal sudah saya tanggung,” tutur Heri.

    Warung kopi juga biasa menerima titipan makanan ringan dan makanan tradisional. Satu warung kopi mendapat sedikitnya 10 jenis makanan ringan dari 10 pembuat kue yang berbeda.

    Budayawan Tionghoa, Lie Sau Fat atau XF Asali, menuturkan, kebiasaan minum kopi yang kini ada di Pontianak awalnya dibawa oleh sejumlah mantan koki kapal-kapal besar China ke Kabupaten Sambas, Kalbar. ”Mereka adalah etnis Hainan,” tutur Asali.

    Asali sudah menjumpai toko kopi di Pemangkat, Sambas, sekitar tahun 1942. Dari Sambas, kebiasaan warung kopi itu lalu diikuti oleh masyarakat di pesisir hingga Pontianak. ”Di Pontianak, tradisi minum kopi makin ramai sejak 1969.”

    Namun, warung kopi juga pernah menjadi lahan prostitusi terselubung di daerah Sungai Raya, Pontianak, era tahun 1970-an. Tahun 1990-an, kawasan prostitusi itu dibubarkan.

    Etalase sosial bernama warung kopi tidak hanya mengukuhkan perubahan sosial yang ada, tetapi juga berfungsi sebagai penyangga kekuatan sosial ekonomi masyarakat kelas menengah dan bawah di sana selama beberapa dekade.

    Apa jadinya pedalaman Kalbar dan Pontianak tanpa jejaring warung kopi. Agustinus Handoko

    Source: kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Email Facebook Diluncurkan Hari Ini

    HAI fans Facebook. Ada rumor yang menyatakan Anda akan mendapatkan alamat email yang diakhiri dengan @facebook.com.

    Layanan email ini diperkirakan bisa dinikmati paling cepat hari ini Senin (15/11), demikian seperti dikutip dari PcWorld.

    Layanan surat elektronik besutan Facebook mungkin membuat ngeri raksasa pencari data Google yang sebelumnya memblok akses pengguna akun Gmail di Facebook.

    Dengan adanya layanan ini, data pengguna akan jatuh di bawah kendali jaringan sosial terbesar di dunia itu. Layanan dikabarkan tidak hanya berupa versi update dari inbox Facebook yang ada saat ini. Namun layanan email barunya dipastikan akan bersaing dengan layanan lain seperti Gmail dan Hotmail.

    Proyek pembuatan email yang bertajuk Project Titan itu rencananya diumumkan dalam acara Web 2.0 Summit di San Francisco, hari ini.

    Rumor adanya layanan email Facebook sebenarnya muncul sejak Februari lalu. Pengguna Facebook secara otomatis langsung terkoneksi dengan email personal your@facebook.com.

    Jika benar diluncurkan hari ini, email facebook langsung menyalip para raksasa pemilik layanan email. Di antaranya hotmail yang punya 361 juta pengguna, Yahoomail yang memiliki 273 juta pengguna dan Gmail yang punya 193 juta pengguna. (OL-9)

    Source: Mediaindonesia.com

  • Menyoal Perang Mata Uang Dunia

    Isu perang mata uang yang digembar-gemborkan oleh Amerika Serikat, Dana Moneter Internasional, dan Bank Dunia tiba-tiba saja mereda. Apa alasan sebenarnya di balik munculnya isu perang mata uang tersebut dan apakah China memang biang kerok timbulnya masalah perang mata uang yang kini ramai dipermasalahkan itu?

    Sebelum pertemuan G-20 yang diadakan di Seoul, Korea Selatan, baru-baru ini, kita dibuat khawatir akan peluang timbulnya perang mata uang di perekonomian global. Namun, kekhawatiran tersebut ternyata tidak terwujud. Dalam pertemuan tersebut, negara-negara G-20 tampak sepakat untuk menunda pemecahan masalah nilai tukar ini, paling tidak sampai pertemuan berikutnya.

    Faktor pemicu

    Pemicu utama munculnya isu perang mata uang adalah semakin membesarnya defisit perdagangan AS. Pada tahun 1993 defisit total perdagangan AS baru mencapai 115,6 miliar dollar AS, tetapi pada tahun 2000 sudah meningkat menjadi 436,1 miliar dollar AS.

    Defisit perdagangan bahkan meningkat lagi menjadi 503,6 miliar dollar AS pada tahun 2009. Jadi, dalam hampir 20 tahun terakhir defisit perdagangan AS mengalami peningkatan sebesar 335 persen.

    AS tentu saja tidak senang dengan perkembangan ini dan berusaha untuk memperbaiki neraca perdagangannya sebisa mungkin. Saat ini kebetulan China-lah yang memiliki surplus perdagangan terbesar dengan AS sehingga China menjadi sasaran utama AS untuk menekan defisit perdagangannya. Atau, dengan istilah AS, agar ketidakseimbangan global dapat diperbaiki.

    Memang, perkembangan surplus perdagangan China dengan AS amat mencengangkan. Pada tahun 1993 defisit perdagangan AS dengan China hanya mencapai sekitar 22,8 miliar dollar AS. Jumlah ini sudah naik menjadi 83,8 miliar dollar AS pada tahun 2000 dan pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi 226 miliar dollar AS (gambar 1).

    Jadi, sampai dengan tahun 2009 defisit perdagangan AS dengan China sudah meningkat sekitar 170 persen dibandingkan dengan keadaan pada tahun 2000. Dan, situasi tampak semakin memburuk karena pada sembilan bulan pertama tahun 2010 ini defisit perdagangan AS dengan China sudah mencapai sekitar 201 miliar dollar AS.

    Perlu dikemukakan di sini bahwa kenaikan nilai nominal surplus perdagangan AS tersebut bukan karena disebabkan oleh membesarnya ekonomi AS saja. Kenaikan tersebut terjadi karena memang secara riil ekonomi AS menjadi semakin banyak menyerap produk dari luar negara tersebut. Hal ini terlihat dari rasio defisit perdagangan AS terhadap PDB-nya, yang meningkat dari 1,7 persen pada tahun 1993 menjadi 4,4 persen pada tahun 2000, memuncak di 6,1 persen pada tahun 2005, dan pada tahun 2009 (karena pengaruh resesi di AS yang menurunkan permintaan produk impor) menurun ke kisaran 3,9 persen (gambar 2).

    Kontribusi defisit dengan China cukup signifikan, mencapai sekitar 1,6 persen dari PDB AS pada tahun 2009. Karena itu, tidaklah mengherankan bila AS getol mencari cara agar defisit perdagangannya dengan China dapat ditekan. Dan, salah satu alasan yang oleh AS dianggap tepat adalah memaksa China memperkuat nilai tukar yuan dengan cepat.

    Memang, selama ini pergerakan nilai tukar yuan terhadap dollar AS relatif terbatas karena Pemerintah China mengontrol nilai tukar yuan dengan ketat. AS berpendapat bila nilai yuan menguat dengan signifikan, daya saing produk China di pasar AS akan tergerus, sementara daya saing produk AS akan meningkat. Akibatnya, diharapkan defisit perdagangan AS dengan China (dan negara-negara lainnya di dunia) akan segera turun.

    Sejarah

    Ketidakseimbangan global tidak terjadi saat ini saja. Pada masa lalu terjadi beberapa kali ketidakseimbangan global yang berbuntut pada perubahan sistem finansial dunia.

    Misalnya, setelah Perang Dunia Pertama banyak negara menjalankan kebijakan nilai tukar yang dijuluki beggar thy neighbor, di mana negara-negara berlomba-lomba melakukan devaluasi terhadap mata uangnya dengan harapan produknya menjadi lebih kompetitif di pasar global.

    Kebijakan nilai tukar seperti ini dianggap sebagai faktor utama dibalik terjadinya gejolak perekonomian dunia pada tahun 1930-an, sekaligus juga faktor utama yang menyebabkan terjadinya kekacauan di sistem perdagangan dunia kala itu.

    Setelah itu, negara-negara di dunia mencari bentuk baru sistem finansial global agar perekonomian dunia dapat terus bertumbuh secara berkesinambungan, misalnya pada tahun 1944 dibuat sistem Bretton Woods. Dalam sistem ini kebijakan beggar thy neighbor menjadi sesuatu yang dihindari. Proses penyesuaian global terhadap ketidakseimbangan yang terjadi diharapkan terjadi secara seimbang antara negara surplus dan negara defisit, di mana sistem cadangan devisa dan peran IMF diharapkan dapat menghindari terjadinya kejutan global yang berlebihan.

    Sistem ini pada akhirnya berkembang menjadi apa yang disebut gold dollar system (dollar menjadi instrumen cadangan devisa internasional utama), di mana negara reserve utama (yaitu AS) menjadi tidak harus memperbaiki keadaan neraca perdagangannya.

    Agar berjalan dengan baik, sistem ini juga mengharuskan negara reserve utama untuk menjalankan kebijakan moneter yang stabil.

    Sistem ini akhirnya gagal karena dua faktor. Pertama, Perancis tidak menyukai posisi AS yang dianggap menerima keistimewaan yang berlebihan karena AS tidak harus memperbaiki ketidakseimbangan dari neracanya (payment imbalances). Yang kedua, sejak tahun 1965, AS mulai melakukan ekspansi kebijakan fiskal dan moneter yang berlebihan (inflationary) antara lain untuk membiayai perang Vietnam.

    Kebijakan ini menyebabkan meningkatnya defisit AS, sekaligus meningkatkan cadangan devisa di banyak bank sentral di negara-negara Eropa.

    Pada akhirnya keadaan ini mendorong Perancis dan negara Eropa lainnya untuk menukarkan cadangan dollar AS yang mereka miliki dengan emas (kepada Pemerintah AS), yang tentu saja menggerus cadangan emas AS dengan signifikan.

    Akhirnya sistem Bretton Woods pun runtuh ketika Presiden AS Richard Nixon memutuskan untuk menghentikan penukaran emas tersebut pada tahun 1971.

    Keadaan saat ini sering disamakan dengan keadaan pada pelaksanaan sistem Bretton Woods, di mana saat ini banyak negara berkembang mengumpulkan dollar AS (dalam bentuk cadangan devisa) sebanyak mungkin. China saja, misalnya, mempunyai cadangan devisa lebih dari 2 triliun dollar AS. Karena itu, banyak ekonom menganggap keadaan saat ini tidak akan berkesinambungan, seperti pada sistem Bretton Woods yang lalu.

    Namun, menyalahkan keadaan ini timbul hanya karena China melakukan manipulasi nilai tukar rasanya tidaklah terlalu tepat. Tidak terlihat China melakukan devaluasi besar-besaran untuk meningkatkan daya saingnya dalam 10 tahun terakhir.

    Sebaliknya, dalam lima tahun terakhir ini nilai yuan justru mengalami penguatan yang cukup lumayan, sekitar 19,9 persen terhadap dollar AS (tabel 1). Penguatan nilai yuan ini tampak belum dapat menurunkan defisit perdagangan AS dengan China seperti yang diharapkan (gambar 2). Perlu dikemukakan juga di sini bahwa nilai yuan juga menguat terhadap rupiah.

    Sebaliknya, nilai dollar AS mengalami pelemahan yang cukup signifikan terhadap banyak mata uang dunia dalam lima tahun terakhir. Nilai yen Jepang, misalnya, sudah mengalami penguatan sebesar sekitar 43 persen terhadap dollar AS dalam lima tahun terakhir.

    Tampaknya, justru AS yang melakukan kebijakan melemahkan mata uangnya. Pemerintah AS tentu saja membantah hal ini dan mengatakan pelemahan yang terjadi adalah karena konsekuensi kebijakan mereka untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik mereka, termasuk langkah Bank Sentral AS, The Fed, untuk kembali membeli obligasi Pemerintah AS dalam jumlah yang besar dalam waktu dekat.

    Diskusi di atas menunjukkan bahwa tuduhan AS bahwa China telah melakukan manipulasi mata uang untuk meningkatkan daya saing produknya tampaknya tidak mempunyai landasan yang terlalu kuat. Keadaan ini membuat ”perang mata uang” yang diantisipasi banyak orang akan terjadi pada pertemuan G-20 di Seoul minggu lalu dapat dihindari dengan relatif mudah.

    Tampaknya AS harus lebih kreatif untuk memikirkan penyebab utama dari membengkaknya defisit perdagangan negaranya. Ada banyak masalah dalam negeri mereka sendiri yang harus mereka perbaiki untuk meningkatkan daya saing produk mereka di pasar global.

    Purbaya Yudhi Sadewa Chief Economist Danareksa Research Institute

    Source: kompas.com

  • Erupsi Saham Krakatau Steel

    Suka atau tidak, melejitnya harga saham PT Krakatau Steel sebesar 49,41 persen pada hari pertama dan kumulatif pada hari kedua naik sebesar 78,82 persen telah menguatkan dugaan banyak pihak tentang adanya indikasi masalah di balik penawaran saham perdana PT Krakatau Steel.

    Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan ketidakheranan atas naiknya harga sebagai akibat mekanisme pasar. Jika keyakinan akan pasar memang menjadi acuannya, mengapa pemerintah tidak mengikuti ”denyut pasar” dalam menetapkan (book building) harga saham perdana PT Krakatau Steel (KRAS)?

    Pemerintah dan pendukung ”harga Rp 850” menyatakan, hal itu disebabkan oleh dipilihnya investor berkualitas. Itulah mengapa Kompas dan banyak media menyoroti aksi jual asing yang masif atas saham perdana KRAS di bursa. Karena asing ”dicitrakan” berkualitas. Kualitas, menurut Hikmahanto Juwana dalam artikel opini Kompas (20/11/2010), diartikan sebagai ”investor akan memegang saham yang diperoleh untuk jangka panjang”.

    Substansi pengawasan

    Jika pemerintah dan para pihak berpegang pada etika pasar my word is my bond, asumsi preferensi investor berkualitas haruslah dapat dipertanggungjawabkan. Itu karena, faktanya, terjadi aksi jual saham IPO di bursa secara masif.

    Di sebuah media on-line, Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyatakan, aksi jual asing terjadi karena banyak keributan di seputar IPO KS. Jika itu asumsinya, berpegang pada mekanisme pasar, jual cepat dalam jumlah banyak (panic selling) tentu akan mendorong harga turun.

    Bagi saya, inkonsistensi logika ”mekanisme pasar” terjadi dua kali. Pertama, di pasar perdana naiknya permintaan tidak meningkatkan harga; dan kedua di bursa aksi jual masif justru menaikkan harga.

    Hikmahanto, dalam tulisannya di Kompas, menurut hemat saya, melihat kewajaran IPO KRAS dari sisi hukum positif prosedural penawaran saham perdana (IPO). Yang dipermasalahkan banyak pihak ialah tentang konflik kepentingan dan adanya keuntungan pihak-pihak tertentu.

    Untuk itu, jika ukurannya best practice sistem pengawasan dan penegakan hukum, terlalu sederhana dan terlampau cepat menarik kesimpulan kewajaran hanya dari penilaian prosedural.

    Kewajaran harga dan perolehan manfaat hanya dapat disimpulkan jika unsur-unsur manipulasi pasar dan/atau insider trading (Pasal 90-97 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal) telah diperiksa dan disidik oleh otoritas (Bapepam-LK, Pasal 5).

    Jika pembentukan harga di pasar perdana dan bursa direkonstruksikan, indikasi motif (keuntungan pihak tertentu) sebagaimana diatur dalam Pasal 92 UU Pasar Modal cukup terlihat, yakni investor merealisasikan keuntungan tinggi pada saat pertama.

    Hukum pidana pasar modal mengatur transaksi wajar adalah terjadi tanpa pengelabuan informasi (Pasal 90), harga terjadi bukan karena persekongkolan antara order beli dan jual yang membentuk harga (Pasal 91), serta tidak mendatangkan kerugian publik untuk perolehan keuntungan pihak tertentu (Pasal 92).

    Saya, ketika KRAS dibuka di papan bursa, langsung memantau lalu lintas order dan transaksi sahamnya. Bukan karena saya memegang saham KRAS, karena saya memang tidak memegang saham satu lot pun. Saham KRAS, dalam hitungan detik, dengan lot tidak terlampau banyak dibentuk ke Rp 950, Rp 1.080, dan Rp 1.100. Pembentukan tiga tangga harga tersebut terjadi di menit pertama transaksi KRAS.

    Sinyal persekongkolan

    Setelah itu, dalam hitungan detik ke detik, saham KRAS menunjukkan sebuah indikasi terjadinya persekongkolan pembentukan harga. Kenapa demikian? Setidaknya ada dua sinyal, pertama, transaksi dalam waktu singkat sudah menembus ke angka menuju Rp 1 triliun; dan kedua, harga dipicu naik justru dari inisiatif pembeli (bid inisiator).

    Begini ceritanya, jika harga naik dari detik ke detik, mekanismenya order beli mengejar harga di atas harga sebelumnya yang disimpan oleh sekuritas di posisi order jual (bid inisiator). Sebaliknya, jika harga turun, sekuritas yang memasang order jual mengejar harga order beli di bawah harga sebelumnya (ask inisiator).

    Masifnya penjualan terjadi setelah harga terbentuk ke kisaran di atas Rp 1.100. Di sisi ini saya rasa panic selling tidak tampak karena penjual melepas setelah harga dibuka dari harga yang terdongkrak order beli. Daya beli saham KRAS yang mampu mengejar keinginan jual di harga tinggi menyisakan tanya karena jumlahnya mencapai Rp 1,991 triliun pada hari pertama dan Rp 2,53 triliun pada hari kedua. Angka yang tidak kecil, untuk dikatakan sebagai ”mekanisme pasar”.

    Mendorong hasrat beli sedemikian masifnya pada saat informasi sendiri tengah tidak jelas (ribut), sungguh sebuah pertanyaan untuk negara dengan pemain lokal di bursanya yang hanya sekitar 350.000 orang.

    Di sinilah kesan konflik kepentingan tercium. Kesannya (indikasi), sudah ada skenario kekuatan yang siap membeli di bursa karena jumlahnya yang masif (besar). Di sinilah, proses book building dan penerima penjatahan harus diskemakan ke perdagangan orang dalam (Pasal 95-97) karena kesan adanya kepentingan harga rendah di IPO untuk keuntungan di bursa (transaksi mendahului informasi).

    Ada dua kemungkinan, pertama, skenario peminat serius (jangka panjang) memang mengambil di pasar sekunder. Yang harus dibuktikan melalui proses pemeriksaan dan penyidikan adalah apakah sudah ada kesepakatan di belakang (back door) dengan ”penerima jatah”.

    Kemungkinan kedua, dana-dana lokal—di mana yang terbesar tentu saja juga BUMN—mengambil di sekunder dari ”penerima jatah”. Jika ini terjadi, tentu skema konflik kepentingan menjadi semakin meluas dan terbuka.

    Tulisan ini tidak menuduh, berasaskan praduga tak bersalah. Semua asumsi harus dibuktikan dalam pemeriksaan dan penyidikan. Yang ingin saya dorong adalah pemeriksaan dan penyidikan dengan cepat dan tepat sasaran oleh otoritas karena sinyal indikatif telah cukup terlihat dari pertanyaan publik itu sendiri.

    Dengan demikian, mendorong proses penegakan hukum melalui upaya hukum oleh publik (class action) adalah sah dalam negara demokrasi dan sistem pasar. Hal ini agar citra pasar modal bisa membuat tata kelola BUMN lebih baik dan terlepas dari praktik sapi perah (korupsi), tidak menyisakan korupsi dengan mekanisme pasar itu sendiri.
    Yanuar Rizky Pengamat Ekonomi

    Source: Kompas.com

  • Obama Serang Yuan

    Seoul summit
    Seoul, Kompas – Dalam komunike G-20, para pemimpin sepakat bekerja sama mencegah volatilitas pasar dan bersedia menyeimbangkan ekonomi gobal yang memang timpang, ditandai dengan defisit besar anggaran Pemerintah Amerika Serikat, sumber gejolak pasar.

    Akan tetapi, dalam pernyataan tersendiri, para pemimpin jauh dari kesan harmonis. AS menyerang yuan dan menyebutnya sebagai pembuat masalah.

    Pertemuan puncak negara-negara anggota G-20 hari Kamis (11/11) ditutup Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak dengan kesimpulan bahwa para anggota G-20 setuju bekerja sama membahas segala persoalan. Demikian dilaporkan wartawan Kompas, Simon Saragih, semalam.

    Tak lama kemudian Presiden AS Barack Obama melakukan jumpa pers tersendiri di tempat yang sama dengan menyebut satu per satu wartawan AS yang hadir dan wartawan non-AS hanya mendengar. ”Yuan itu menyebabkan iritasi, bukan saja bagi AS melainkan juga mitra dagang China yang lain,” kata Obama menjawab pertanyaan wartawan AS, yang menanyakan bagaimana perasaannya soal perilaku China terkait yuan.

    ”China yang kuat kita terima karena berguna bagi kemakmuran dunia dan juga AS. Namun, China juga harus menunjukkan tanggung jawab internasional dengan membuat kurs yuan merupakan refleksi keadaan pasar sebenarnya,” ujar Obama.

    China selama bertahun-tahun membeli dollar AS dan melakukan intervensi di pasar untuk menekan kurs yuan. Tidak seharusnya China terus menggenjot ekspor dengan melemahkan kurs yuan dan saatnya meningkatkan permintaan domestik agar berguna bagi perekonomian negara lain,” kata Obama.

    AS selalu mengkritik China dengan tuduhan bahwa China menumpuk surplus berupa cadangan devisa lebih dari 2,5 triliun dollar AS. Hal ini, menurut Obama, juga didorong dengan pelemahan kurs, yang membuat produk ekspor China menjadi jauh lebih murah dari seharusnya.

    China menjawab

    Kantor berita Xinhua pada hari yang sama juga memberitakan isi pidato Presiden China Hu Jintao, yang ditujukan khusus kepada G-20. Hu meminta AS untuk mengambil tindakan yang bertanggung jawab. ”Negara-negara maju harus mengambil tindakan bertanggung jawab dan mempertahankan kestabilan kurs,” kata Presiden Hu.

    ”Komunitas dunia harus memperbaiki sebuah kerangka untuk pertumbuhan yang kuat, berkesinambungan, dan berimbang serta meningkatkan kerja sama pembangunan … mengutamakan perdagangan yang terbuka,” tutur Hu.

    Bagi China, ketidakseimbangan yang dialami AS, berupa defisit anggaran dan perdagangan yang besar, lebih karena kebijakan ekonomi makro AS yang lebih mengandalkan utang ketimbang mengandalkan tabungan domestik dan penerimaan pajak.

    Source: Kompas.com

  • Salaman Tifatul-Michelle Obama Mendunia

    tifatul salaman dg Michelle

    VIVAnews – Momen salaman Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring dengan Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama, menjadi berita di sejumlah negara termasuk Amerika Serikat. Salah satu kantor berita Amerika, The Associated Press, ikut melaporkan soal kejadian yang menurut Tifatul, “tidak disengaja” itu.

    AP melaporkan dengan judul “Minister admits reluctant Michelle Obama handshake” alias Menteri mengakui enggan menyalami Michelle Obama. AP lalu mengutip tweet Tifatul yang menyatakan, mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera itu mengaku sudah berusaha agar tak menyentuh tangan Michelle Obama yang disodorkan kepadanya. Namun tangan kanan Ibu Negara AS yang mantan pengacara itu, kata Tifatul, terlalu maju sehingga salaman tak terelakkan.

    Tak lupa, AP menaruh sejumlah latar belakang sejumlah sensasi yang dimunculkan Tifatul, mulai dari soal komentarnya soal bencana alam disebabkan moral dan guyonannya soal kepanjangan dari penyakit AIDS.

    Sementara Yahoo! News juga menurunkan berita tersendiri di segmen Upshot-nya. Yahoo! menulis, Tifatul menjadi perhatian karena salaman dengan Michelle padahal sebelumnya dia selalu menghindar bersalaman dengan perempuan bukan muhrim.

    Tak lupa Yahoo! melampirkan tayangan video yang menunjukkan salaman itu. Meski Tifatul membantah sengaja menyalami Michelle, Yahoo! menulis, “video peristiwa itu terlihat bertentangan dengan penjelasan Tifatul — namun Anda hakimnya.”

    Masih di Amerika Serikat, sejumlah blogger juga mengulas peristiwa itu di situs ternama seperti Washington Post dan Huffington Post. Sejumlah media lokal seperti Chicago Tribune, kota asal Obama, juga menulis.

    Di Australia, Daily Telegraph, juga menurunkan laporan soal insiden salaman Tifatul dengan Michelle ini.

    Dan sekali lagi, benar atau tidak salaman itu tak sengaja, Andalah yang harus menjadi hakimnya.

    Source: vivanews.com

  • Vulkanologi, Inovasi, Kemitraan Iptek Ideal RI-AS

    Di tengah masih berlangsungnya letusan Gunung Merapi, juga di tengah lawatan Presiden Barack Obama ke Indonesia, satu hal terbayang di depan mata adalah AS mau berbagi sumber daya di bidang vulkanologi. Dari pihak AS, bantuan yang bisa diberikan tak sebatas pada dana, tetapi juga berbagi data dan pengetahuan tentang ilmu kegunungapian (vulkanologi), juga geologi, dan meteorologi (untuk merespons isu pemanasan global/perubahan iklim), serta mitigasi dan manajemen bencana alam.

    Komitmen kerja sama di bidang vulkanologi dalam kerangka Persetujuan Kemitraan Komprehensif Indonesia-AS ini, Senin (8/11), juga disampaikan oleh Duta Besar RI untuk AS Dino Patti Djalal menjelang kedatangan Presiden Obama di Jakarta. Menurut Dino, Badan Geologi AS yang dikenal sebagai US Geological Survey (USGS) akan mengirim sejumlah peneliti ke Indonesia (Antara, 8/11). Mereka, tambah Dino, akan bekerja sama dengan peneliti Tanah Air untuk meneliti fenomena gunung api di Indonesia. Dipilihnya tema vulkanologi sebagai wadah kerja sama kedua negara tak terlepas dari letusan Gunung Merapi sejak 26 Oktober silam.

    Di AS, yang di seluruh wilayah kontinen dan teritorinya terdapat 169 gunung berapi, pemantauan dan pemberian peringatan dini semakin menjadi perhatian. Didukung oleh ketersediaan dana dan iptek, USGS meluncurkan Sistem Peringatan Dini Nasional untuk Gunung Berapi (National Volcano Early Warning System/NVEWS). (Situs: volcanoes.usgs.gov, 21/1/10)

    NVEWS didirikan untuk memastikan bahwa gunung berapi di AS terpantau sesuai dengan tingkat ancaman yang ada. Rencana NVEWS sendiri dikembangkan oleh Volcano Hazard Program yang ada di USGS dan mitra terkait di Consortium of US Volcano Observatories.

    Bila dari 129 gunung berapi di Indonesia sekitar 20 senantiasa beraktivitas di atas normal dan 4-5 di antaranya meletus, di AS separuh dari 169 gunung berapi muda yang ada juga berbahaya karena cara gunung itu meletus dan masyarakat yang ada di kawasan letusannya.

    NVEWS didirikan karena sekarang ini masih banyak dari gunung berapi yang dinilai belum dipasangi sistem pemantauan yang memadai, misalnya dengan seismometer, global positioning system (GPS) kontinu, sementara lainnya meski sudah dipantau tetapi dengan alat-alat yang sudah ketinggalan zaman.

    Dengan Rencana NVEWS, gunung berapi berbahaya bisa dipantau dengan baik jauh sebelum dimulainya aktivitas vulkanik sehingga para ilmuwan bisa memperkirakan secara akurat kapan gunung bakal meletus dan seberapa tingkat bahayanya. Juga bisa dibuat perencanaan lebih baik bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung untuk mengambil langkah yang tepat dan pada waktunya. Adanya prosedur semacam itu yang didukung oleh ketelitian sarana pemantauan diyakini bisa membantu mengurangi risiko.

    Tidak berhenti di situ, Rencana NVEWS juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan komunitas vulkanologi Amerika melalui sejumlah langkah, dalam hal ini: meningkatkan kemitraan dengan pemerintah lokal dan petugas keadaan darurat; memberi kesempatan kepada universitas dan organisasi lain untuk riset kerja sama guna memajukan ilmu kegunungapian, teknologi pemantauan, dan strategi mitigasi (untuk memperkecil dampak bencana); penambahan staf dan otomasi guna memperbaiki monitoring 24/7 (24 jam dan tujuh hari seminggu) dan sistem komputer untuk mendistribusikan data kepada para ilmuwan, badan-badan terkait, dan masyarakat, serta menggabungkan sistem yang digunakan untuk memantau gunung berapi Amerika yang ada sekarang ini.

    Lawatan Presiden Obama kali ini ingin dijadikan sebagai momentum untuk meluncurkan kemitraan komprehensif di antara kedua negara. Konsep kemitraan ini dicanangkan saat Menteri Luar Negeri Hillary Clinton berkunjung ke Indonesia, Februari tahun lalu. Berikutnya, diluncurkan Komisi Bersama RI-AS untuk menjalankan Kemitraan Komprehensif oleh menlu kedua negara di Washington DC, September silam.

    Sebagai langkah selanjutnya, muncul Rencana Aksi Kemitraan AS-Indonesia yang mencakup kerja sama di berbagai bidang, seperti keamanan, pemerintahan, pendidikan, energi, perdagangan dan investasi, serta lingkungan hidup.

    Sebagai salah satu wujud komitmen AS, Utusan Presiden AS bidang Sains Bruce Alberts datang ke Indonesia bulan Mei silam, dan selama di sini dia mengunjungi beberapa fasilitas ilmiah di Indonesia, seperti Puspiptek Serpong dan Cibinong Science Center LIPI.

    Di luar vulkanologi

    Selain vulkanologi, dari AS kita juga dapat menimba ilmu-ilmu kebumian lain, seperti geologi, seismologi, dan juga geofisika dan meteorologi. Ilmu-ilmu tersebut dewasa ini kita rasakan tidak saja semakin penting, tapi—seiring dengan terjadinya rentetan bencana alam akhir-akhir ini—juga mendesak untuk kita kuasai.

    Di luar ilmu-ilmu kebumian, bidang praktis yang terkait dengan iptek dan industri adalah pengembangan tradisi inovasi. Presiden SBY telah membentuk Komite Inovasi Nasional, tapi Indonesia masih memerlukan bagaimana konsep-konsep inovasi dapat tumbuh dan berkembang secara subur.

    AS menjadi salah satu contoh ideal karena di negeri ini banyak perusahaan yang bersemangat dan berpengalaman dalam inovasi, seperti Apple dan Google. Inovasi, proses nilai tambah, dan kewirausahaan tak disangsikan merupakan satu kunci penting yang harus dikuasai Indonesia guna meraih kemajuan. NINOK LEKSONO

    Source: Kompas.com

  • Raja Mesin Pencari Internet di China

    the king of china search engine

    ”Misi kami adalah memberikan cara-cara terbaik bagi orang banyak untuk mendapatkan informasi. Untuk melakukan ini, kami terlebih dahulu mendengarkan dengan cermat setiap kebutuhan dan keinginan para pengguna.”

    Pendiri, pemilik, dan CEO Baidu Inc, Robin Li Yanhong, mengucapkan hal itu dengan keyakinan dan percaya diri. Dia telah membuktikannya melalui Baidu, mesin pencari internet nomor satu di China yang kini melesat ke tiga besar dunia setelah Google dan Yahoo.

    Keingintahuan, inovasi, kreativitas, dan kerja keras telah mengantarnya menjadi orang kaya baru di Negeri Tirai Bambu. Majalah Forbes edisi terbaru, pekan lalu, bahkan memasukkan Robin Li sebagai satu dari dua orang terkaya China selain Zong Qinghou, pengusaha minuman ringan.

    Li telah masuk dalam deretan orang kaya di dunia. Dia berada dalam satu rentang daftar orang kaya bersama dengan pendiri Google, mesin pencari internet terbesar di dunia saat ini, Sergey Brin dan Larry Page.

    Kekayaan Li naik hampir tiga kali lipat atau 281 persen menjadi 7,2 miliar dollar AS tahun lalu. Kekayaan itu mendongkraknya naik ke urutan kedua dari sebelumnya di urutan ke-14 daftar orang kaya China. Setelah Google hengkang dari China, Baidu kian kinclong. Keuntungan bersih Baidu naik 112,4 persen per tahun.

    Saham Baidu sejak Januari 2005 hingga Juni 2006 melonjak melampaui 50 persen. Pada 2008, sahamnya naik menjadi 62 persen, lalu meroket menjadi 76 persen pada 2009. Mulai Desember 2007, Baidu menjadi perusahaan China pertama dalam indeks Nasdaq-100.

    Berkat kegigihan Li, Baidu terus memperoleh pangsa pasar di China, terutama lagi karena adanya dukungan dari pemerintah. Pada kuartal ketiga tahun 2010, Baidu menguasai pangsa pasar internet sekitar 73 persen, menyisihkan Yahoo dan Google yang telah tutup untuk pasar domestik China.

    Bermula dari ”kebetulan”

    Evolusi Baidu, dan perjalanan Li sebagai pengusaha, merupakan contoh keberhasilan di bidang bisnis serta keuletan dan ketabahan seorang pengusaha. China memiliki penduduk 1,3 miliar. Robin Li tahu benar potensi pasar dalam negeri China. Saat ini ada 420 juta pengguna internet di China, atau sekitar sepertiga total penduduknya, dan 70 persen di antaranya adalah para pengunjung Baidu.

    Total populasi pengguna internet itu merupakan peluang besar, menjadi saingan AS. Apalagi China telah menjadi raksasa ekonomi dunia yang bertumbuh paling cepat. Model Baidu yang dikembangkan Li bekerja superbaik tanpa masalah berarti dan loyal pada kebutuhan pengguna.

    Prestasi bisnis Li bermula dari ”kebetulan” pada musim panas tahun 1998 di Silicon Valley, Amerika Serikat. Saat itu Eric Xu, seorang ahli biokimia, memperkenalkan rekannya yang pemalu, Robin Li, kepada John Wu yang kemudian menjadi ketua tim mesin pencari Yahoo.

    Li, yang ketika itu masih berusia 30 tahun, sedang frustrasi. Dia hanya seorang anggota staf di Infoseek, sebuah mesin pencari internet milik Disney. Komitmen Disney untuk mengembangkan Infoseek lambat laun terus memudar dan hal itu membuat Li frustrasi hingga ia terdorong untuk menemukan caranya sendiri.

    Setahun setelah piknik ke Silicon Valley, pada 1999, Li bersama Eric Xu lalu mendirikan perusahaan pencari bernama Baidu. Kini, Baidu telah mempunyai nilai pasar sekitar 3 miliar dollar AS, menjadi empat besar website dunia yang paling diminati pengguna internet.

    Nama Baidu terinspirasi oleh sebuah puisi yang ditulis lebih dari 800 tahun silam di China, tepatnya pada masa Dinasti Song yang berkuasa tahun 960-1279 Masehi.

    Baidu, secara literal berarti ”ratusan kali”, mempresentasikan sebuah ”pencarian yang gigih terhadap apa yang dicita-citakan”. Baidu adalah puncak dari pencarian tiada henti, kerja keras, dan ketabahan dari seorang yang frustrasi menjadi sukses mengubah hidup serta menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Dialah Robin Li.

    Untuk meningkatkan pengalaman para pengguna, Li terus melakukan perbaikan produk dan layanannya. ”Sebagai contoh, kami memperkenalkan ’fonetik’ atau ’pin-yin’ pencarian yang memungkinkan para pengguna untuk mengetik kata kunci dalam bahasa China menggunakan abjad Inggris,” katanya.

    Li berasal dari Yangquan, kota miskin di Provinsi Shanxi, barat daya Beijing. Anak keempat dari lima bersaudara itu dibesarkan dalam suasana revolusi budaya China yang brutal.

    Sekalipun penindasan mengepungnya, ia fokus pada minatnya sebagai pengoleksi prangko. Ia terlibat pertunjukan opera tradisional dan kegiatan lainnya hingga akhirnya terjun ke dunia komputer.

    Li cukup cerdas ketika masuk perguruan tinggi paling bergengsi di China, Universitas Peking. Dia mengambil jurusan ilmu perpustakaan dan berkecimpung dalam ilmu komputer. Ia mendapat Bachelor of Science (BSc) dalam Informasi Manajemen (1991).

    Setelah lulus, Li meninggalkan tanah airnya yang sedang kacau menyusul peristiwa Lapangan Tiananmen. Dia hijrah ke AS untuk belajar komputer. ”Saya mengirimkan lebih dari 20 surat lamaran,” katanya.

    Dia kemudian diterima di State University of New York, Buffalo. Setelah meraih gelar Master of Science (MSc) dalam Ilmu Komputer (1994) dan langsung bergabung dengan New Jersey Dow Jones & Company, Li mengembangkan program perangkat lunak untuk edisi online The Wall Sreet Journal.

    Selama di AS dia terus mengikuti perkembangan teknologi di Silicon Valley. Terobosan mengejutkan muncul pada 1996 ketika Li berhasil mengembangkan mekanisme pencarian yang disebutnya link analysis.

    Li lalu bekerja sebagai staf Infoseek, pelopor internet perusahaan mesin pencari (1997-1999). Dia juga menjadi konsultan senior untuk IDD Information Service (1994-1997). Saat di Infoseek itulah dia merasa frustrasi.

    ”Lalu lintas Baidu terus meningkat. Kami sekarang menjadi mesin pencari nomor satu di China,” kata Li bangga.

    (NEW YORK TIMES/AFP/AP)

    Source: Kompas.com