siwah.com

Category: Political Marketing

  • Pengumuman Tanpa Dilengkapi Foto Caleg

    Jakarta, Kompas – Komisi Pemilihan Umum telah memasang daftar calon sementara atau DCS anggota DPR di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Minggu (28/9). Namun, DCS yang dipasang hanya memuat daerah pemilihan, nomor urut, dan nama calon anggota legislatif.

    Nama caleg dalam DCS diumumkan berdasarkan partai politik dalam bentuk tumpukan kertas folio yang dilapisi plastik. Pengumuman dipasang berjajar di beberapa meja, di Lantai II Kantor KPU. Dengan demikian, masyarakat yang ingin mengetahui DCS harus membolak-balik kertas folio yang ada di atas meja. Kalaupun ada beberapa orang yang ingin melihat DCS satu parpol, mereka harus mengantre satu per satu. Sebelumnya, KPU menjanjikan akan memasang DCS yang dilengkapi foto caleg.
    (more…)

  • Mencoba Peruntungan pada Pemilu 2009

    Dalam pemilihan umum tahun 2004, partai yang keberadaannya dibidani ormas Pemuda Pancasila ini mengusung nama Partai Patriot Pancasila.

    Dengan nomor urut 21 dan berlambang burung garuda bersayap warna-warni, merah, hijau, dan kuning, serta perisai merah-putih lengkap diisi lambang kelima sila Pancasila, parpol ini gagal memperoleh kursi di DPR.

    Bukannya tidak ada yang memilih. Partai Patriot Pancasila saat itu setidaknya mampu meyakinkan satu juta pemilih untuk memercayakan suara mereka ke parpol tersebut.
    (more…)

  • 2.152 Caleg Dicoret

    Jakarta, Kompas – Komisi Pemilihan Umum mencoret 2.152 calon anggota legislatif dari 38 partai politik peserta Pemilu 2009. KPU telah memverifikasi 14.020 caleg dan setelah diverifikasi jumlah itu tinggal 11.868 caleg.

    Hal itu disampaikan Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary dalam penetapan daftar calon sementara (DCS) yang dilaksanakan Jumat (26/9) sekitar pukul 20.45 dalam Rapat Pleno Terbuka Penetapan dan Pengumuman DCS Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
    (more…)

  • Parpol Islam Harus Garap Sumber Alternatif

    Jakarta, Kompas – Berbagai partai politik Islam disarankan berani keluar dari pasar utama (captive market)-nya jika ingin mencapai target menjadi parpol dengan perolehan suara besar. Salah satu caranya adalah dengan mencoba merambah konstituen baru, yang selama ini bernaung di bawah rumah-rumah parpol ber-platform lain seperti nasionalis.

    Hal itu disampaikan dalam siaran pers hasil survei nasional Lembaga Survei Indonesia (LSI), Kamis (25/9), bertema Kekuatan Elektoral Partai-partai Islam Menjelang Pemilu 2009.
    (more…)

  • PKS Bangun Basis Baru

    Jakarta, Kompas – Partai Keadilan Sejahtera membangun basis baru dengan merekrut calon anggota legislatif dari kelompok muda, aktivis, dan buruh. Basis baru ini diharapkan dapat memperluas jaringan PKS yang selama ini sering dituduh eksklusif, elitis, dan perkotaan.

    ”Kehadiran PKS yang lengkap dengan budaya yang berbeda dengan budaya mainstream memang membuat masyarakat mudah memberi cap eksklusif kepada PKS. Namun, itu karena mereka belum banyak mengenal PKS,” ujar Sekjen PKS M Anis Matta di Jakarta, Selasa (23/9), sebelum berangkat umrah.
    (more…)

  • Sosok dan Pemikiran: Logika Dakwah dari PKS

    Partai yang berdiri pada era awal reformasi ini sejak awal mendeklarasikan diri sebagai partai dakwah. Sebagai partai dakwah, apa pun yang dilakukan selalu mendasarkan diri pada logika dakwah, yang selalu mengajak untuk kebaikan.

    Tidak mudah untuk mempertahankan diri tetap di jalurnya. Namun, juga bukan hal yang tidak mungkin dilakukan.

    Pada pemilu mendatang, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tetap mengusung slogan ”Bersih, Peduli, dan Profesional”. Tema ”Bersih dan Peduli” pada Pemilu 2004 telah membangkitkan semangat kader pada masyarakat untuk memberikan dukungan. PKS di Jakarta kemudian bisa menjadi partai unggulan.
    (more…)

  • Dapatkah PKS Bertahan sebagai Partai Dakwah?

    Partai Keadilan Sejahtera, yang pada awalnya lahir dengan nama Partai Keadilan, pada Pemilu 2004 mampu memperlihatkan kuantitas dukungan yang luar biasa. Bahkan, di Provinsi DKI Jakarta yang menjadi wilayah yang cukup prestisius, PKS mampu menjadi partai yang unggul.

    Sejak awal dideklarasikan, PKS sudah mencanangkan diri sebagai partai dakwah. Sebuah partai berbasis massa Islam yang hadir di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Kehadiran PKS berbeda dengan kehadiran partai lain. PKS hadir di masyarakat Indonesia lengkap dengan budaya dan gaya hidupnya. PKS hadir dengan musik nasyid yang khas, kebiasaan kampanye dengan melibatkan anak-anak dan istri, yang massanya lebih banyak menggunakan sepeda motor, dan sapaan ramah dengan idiom Islam yang sangat kental.
    (more…)

  • Bawaslu Sedang Memproses Pelanggaran Iklan Pemilu

    Jakarta, Kompas – Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu sedang memproses temuan Komisi Penyiaran Indonesia terkait dengan penayangan iklan pemilu. Kajian Bawaslu itu akan menentukan apakah pelanggaran iklan pemilu tersebut merupakan pelanggaran administrasi atau pelanggaran pidana pemilu.

    Anggota Bawaslu, Wirdyaningsih, mengungkapkan hal itu, Jumat (19/9), seusai pelantikan anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dari 13 provinsi yang kemudian dilanjutkan dengan pembekalan Panwaslu. Anggota Panwaslu provinsi dilantik Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini. Acara pelantikan itu juga dihadiri Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Abdul Hafiz Anshary dan Sekjen Departemen Dalam Negeri Diah Anggraeni.
    (more…)

  • “Nahdliyin” yang Selalu Diperebutkan…

    Selain militer, Nahdlatul Ulama atau NU adalah pihak yang paling sering diperbincangkan dalam sejarah pemilihan umum di Indonesia. Arah angin dukungan kelompok ini selalu diperhitungkan oleh mayoritas peserta pesta demokrasi di Tanah Air.

    Datangnya era reformasi pada tahun 1998, yang membuat militer kembali ke barak dan tidak terlibat lagi dalam aktivitas sosial politik praktis, telah menurunkan peran mereka dalam pemilihan umum. Namun, tidak demikian dengan nahdliyin, sebutan untuk warga NU. Mereka justru semakin diperebutkan.
    (more…)

  • Tanda Contreng Masih Diperdebatkan: Format Surat Suara Jadi Pilihan Politik

    Jakarta, Kompas – Sebagian anggota Komisi II DPR masih mempertanyakan tanda contreng (V) yang dipilih Komisi Pemilihan Umum atau KPU sebagai tanda pemberian suara. KPU diharapkan segera memutuskan tanda apa yang dikategorikan sebagai suara sah dan suara tidak sah untuk segera disosialisasikan.

    Berbagai pertanyaan mengenai tanda contreng atau centang, bagaimana suara yang sah dan tidak sah, serta desain surat suara muncul dalam rapat dengar pendapat antara DPR dan KPU, Senin (15/9).

    Anggota Komisi II, Andi Yuliani Paris (Fraksi Partai Amanat Nasional, Sulawesi Selatan II), mengatakan, KPU perlu memikirkan nama yang cocok untuk tanda contreng karena tidak semua orang di dalam masyarakat mengetahui arti tanda contreng.
    (more…)