siwah.com

Category: Political Marketing

  • Sembilan Caleg di Sumbar Masih di Bawah Umur

    Padang, Kompas – Sembilan calon anggota legislatif atau caleg dari Sumatera Barat ternyata masih di bawah umur. Saat mendaftarkan diri sebagai caleg, mereka belum genap berusia 21 tahun.

    Husni Malik Kamil, anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumatera Barat, Senin (15/9) di Padang, mengatakan, kesembilan caleg yang berusia di bawah umur itu berasal dari empat partai politik, yakni Partai Bulan Bintang sebanyak lima caleg, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dua orang, serta Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Matahari Bangsa (PMB) masing-masing seorang caleg.

    ”Sembilan caleg itu terpaksa kami coret dari daftar caleg karena tidak memenuhi syarat usia minimum sebagai caleg sesuai peraturan,” tutur Husni.
    (more…)

  • KPU Diminta Waspadai Calon Anggota Legislatif Ganda

    Jakarta, Kompas – Komisi Pemilihan Umum diminta berhati-hati memverifikasi perbaikan berkas daftar calon anggota legislatif yang akan dilakukan hingga 19 September.

    Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengindikasikan adanya sejumlah caleg ganda, baik dicalonkan oleh partai politik berbeda untuk satu tingkatan lembaga perwakilan maupun mengajukan diri untuk dua lembaga perwakilan dengan tingkatan berbeda.

    Demikian diungkapkan anggota Bawaslu Bidang Pengawasan dan Hubungan Antarlembaga, Bambang Eka Cahya Widada, dalam konferensi pers di kantor Bawaslu, Jakarta, Senin (15/9). Hadir dalam acara itu Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini serta dua anggota Bawaslu, Wahidah Suaib dan Wirdyaningsih.
    (more…)

  • Jumlah Pemilih Turun Dua Juta: Tidak Ada yang Peduli Daftar Pemilih Sementara

    Jakarta, Kompas – Jumlah pemilih dalam Daftar Pemilih Sementara atau DPS menurun setelah dimutakhirkan oleh Komisi Pemilihan Umum atau KPU. Angka DPS awal sebanyak 172.801.878 pemilih dan setelah dimutakhirkan menjadi 170.752.862 pemilih atau mengalami penurunan sebanyak 2.049.016 pemilih.

    Demikian disampaikan Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi II DPR, Senin (15/9) di Jakarta. Jumlah pemilih yang berkurang itu akibat banyaknya data yang dobel atau warga yang sudah meninggal tetapi tetap terdaftar. ”Itu hasil laporan KPU provinsi dan masih data sementara. Saat ini masih dilakukan DPS perbaikan,” katanya.
    (more…)

  • Pergeseran Kekuatan Partai Nasionalis dan Islam, 1955-2004

    Penetrasi kekuatan Orde Baru telah mampu mengubah peta politik di luar Jawa. Setelah pemerintahan Orde Baru tumbang, warna politik nasionalis pun masih tetap kental di luar Jawa. Sementara di Jawa, komposisi nasionalis-agama cenderung kembali seperti Pemilu 1955.

    Pemilihan umum pertama yang diselenggarakan pada 29 September 1955 dan diikuti oleh sekitar 172 peserta pemilu telah memetakan untuk pertama kalinya kekuatan-kekuatan partai politik dominan di berbagai wilayah di Indonesia. Hasil pemilu yang dilaksanakan di 15 daerah pemilihan (dapil) menunjukkan cukup berimbangnya kekuatan partai-partai berbasis massa nasionalis dan komunis dengan partai-partai berakar massa Islam. Sekitar 43,71 persen pemilih memberikan suaranya untuk Masyumi, NU, Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan beberapa partai kecil lainnya. Sebaliknya, sekitar 46,86 persen pemilih lainnya memberikan suaranya untuk partai-partai yang berhaluan nasionalis seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), berhaluan komunis seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), atau berhaluan sosialis semacam Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan juga kepada partai-partai dengan akar pluralis lainnya.
    (more…)

  • KPUD Kesulitan Susun Daftar Pemilih Tetap

    Jakarta, Kompas – Sebagian Komisi Pemilihan Umum kabupaten/kota kesulitan menyusun Daftar Pemilih Tetap atau DPT karena baru sebagian kecil Daftar Pemilih Sementara atau DPS yang dikirimkan Panitia Pemungutan Suara. Daerah yang baru melaksanakan pemilihan kepala daerah tidak terlalu sulit menyusun DPT karena masih dapat menggunakan data pemilih pemilihan kepala daerah.

    Demikian diungkapkan Ketua KPU Belitung Timur, Bangka Belitung, Marwansyah dan anggota KPU Lumajang, Jawa Timur, Misbahul Munir, saat dihubungi secara terpisah di Jakarta, Sabtu (13/9). Pemilihan kepala daerah di Belitung Timur dan Lumajang masing-masing diselenggarakan pada Juni 2005 dan Juli 2008.
    (more…)

  • KPU Pilih Contreng untuk Pemberian Suara

    Tanda Contreng Dianggap Lebih Mudah dan Dikenal

    Jakarta, Kompas – Alasan pemilihan tanda centang atau tanda contreng (V) sebagai pemberian suara sah pada kertas suara Pemilu 2009 adalah, karena Komisi Pemilihan Umum menganggap lebih mudah dan sudah dikenal. Sebelumnya, KPU mempunyai tiga alternatif tanda, yaitu tanda contreng, lingkaran, dan silang.

    Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Andi Nurpati, yang menjadi Ketua Kelompok Kerja Pemungutan dan Penghitungan Suara, mengatakan hal itu, Rabu (10/9).

    Menurut dia, dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD diatur bahwa pemilih memberi tanda satu kali pada surat suara sehingga KPU menafsirkan bahwa tanda bisa berbentuk apa saja.
    (more…)

  • Obama, Johnson, dan Politik Ras

    Sebagai seorang liberal dan Demokrat, saya kagum sekali saat mendengarkan pidato Barack Obama saat dia menerima pencalonannya sebagai presiden Amerika Serikat dalam konvensi partai minggu lalu. Dia tekankan janji utamanya: Change we can believe in, perubahan yang bisa kita yakini.

    Namun, ia juga merinci sejumlah kebijakan khas yang akan diperjuangkan, yaitu asuransi kesehatan untuk semua, perbaikan mutu pendidikan, peningkatan pertumbuhan sekaligus pemerataan ekonomi, pengurangan ketergantungan AS pada minyak Timur Tengah, penarikan kembali tentara AS dari Irak, serta peningkatan dukungan kami kepada Pemerintah Afganistan.

    Lengkap, sempurna, sebagai langkah awal sebuah kampanye nasional. Itulah kesimpulan saya setelah menonton pidato Obama malam itu. Namun, koran pagi membawa berita lain. Ternyata saya tidak mewakili seluruh partai saya. Masih banyak aktivis, khususnya orang keturunan Afrika, yang memasalahkan pendekatan Obama.
    (more…)

  • Pemilih Kian Abaikan Janji-janji Parpol

    Citra elite pemimpin dan kelembagaan partai politik tampaknya menjadi penilaian utama yang semakin diperhitungkan oleh calon pemilih dalam Pemilu 2009. Pilihan publik tidak lagi kepada janji-janji kampanye, visi-misi, dan program yang sering kali dijual selama kampanye, tetapi pada karakter pemimpin dan citra partai yang sudah terbaca selama ini.

    Hasil jajak pendapat Kompas yang dilakukan terhadap 880 responden di 10 kota besar di Indonesia menunjukkan terjadi penurunan prioritas dalam memilih partai. Alasan kecocokan visi-misi, program, dan janji-janji parpol saat berkampanye, diakui oleh 24,78 persen responden, menjadi daya tarik utama yang mendorong mereka memilih parpol tertentu pada Pemilu 2004. Namun, kini alasan yang sama hanya menarik bagi 16,26 persen responden.

    Sebaliknya, citra elite pemimpin dan kelembagaan parpol, yang menjadi alasan bagi 24,78 persen responden untuk memilih partai tertentu pada Pemilu 2004, kini menguat menjadi 37,9 persen. Dengan demikian, rekam jejak tokoh dan aktivitas parpol menjadi bagian penting yang bisa berpengaruh besar pada pilihan publik.
    (more…)

  • Pergeseran Geopolitik Menjelang 2009

    Geopolitik pada Pemilu 2009, bisa jadi, sangat berbeda dengan pemilu sebelumnya. Pergeseran penguasaan wilayah kemungkinan akan banyak diwarnai oleh tumbuhnya kepercayaan diri partai pascapemilihan kepala daerah. Karena itu, laju pergeseran dominasi Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mungkin tidak semulus dulu.

    Setelah kekuasaan rezim Orde Baru runtuh, dominasi kekuatan politik tetap dipegang oleh dua kekuatan partai lama, Partai Golkar dan PDI-P. Partai Golkar berjaya di luar Jawa dan PDI-P di Pulau Jawa. Selama dua pemilu terakhir, peta kekuatan terus berubah.

    Pertarungan politik pada Pemilu 1999 yang melibatkan 48 parpol dimenangi oleh PDI-P yang merebut 33,74 persen suara, mengalahkan Partai Golkar yang hanya berhasil merebut 22,4 persen suara. PDI-P berhasil menang di 166 kabupaten/kota, sementara Golkar hanya mampu menguasai 114 wilayah.
    (more…)

  • Kekuatan Parpol pada Pemilu 2009

    Herbert Feith bisa disebut sebagai ”Bapak Studi Politik Indonesia Modern”.

    Buku klasiknya, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, menelurkan banyak konsep, dari tipe kepemimpinan administrator dan solidarity maker, ”politik aliran,” pembagian ideologi parpol pada 1950-an, sampai ”demokrasi konstitusional” (berbasis konstitusi dan konstitusionalisme). Feith juga mewariskan model kajian pemilu, Pemilihan Umum 1955 di Indonesia.

    Memperingati 10 tahun reformasi, Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), The Habibie Center, dan The Herb Feith Foundation mengadakan seminar, 21-22 Mei 2008, bertema ”The Rise of Constitutional Democracy in Indonesia,” kebalikan judul buku almarhum. Ini pertanda, roh demokrasi konstitusional yang terkubur sejak tahun 1959 bangkit kembali sejak 1998.
    (more…)