siwah.com

Tag: GAM

  • Lahirnya Eks-GAM Sakit Hati

    Ada keinginan yang tak tergapai, atau ada janji yang tak dipenuhi, menjadi penyebab utama seseorang sakit hati, termasuk mantan anggota GAM. Berapa banyak jumlah mereka dan apa yang seharusnya dilakukan Pemerintah Aceh?

    BEBERAPA waktu lalu, gencar diperbincangkan mengenai “Barisan Eks-GAM Sakit Hati”. Ada yang membantah keberadaan barisan eks-GAM sakit hati ini. Ada pula yang setuju. Di antara yang membantah adalah petinggi-petinggi eks-GAM itu sendiri seperti Irwandi Yusuf yang Gubernur/Kepala Pemerintah Aceh, Ketua Tim Monitoring Keamanan Komando Pusat KPA Darwis Jeunieb, juga Irwansyah, Juru Bicara KPA Pusat.
    (more…)

  • Harapan Warga dan Mantan Kombatan

    Potret daerah terisolir terekam jelas di kawasan Nisam Antara. Sejumlah ruas jalan masih sangat buruk dan terjal. Kondisi ini sudah berpuluh kali dilaporkan pada Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid. Buruknya sarana jalan, membuat hasil pertanian di sana sangat murah. Misalnya, harga pinang. Saat ini hanya Rp 1.500 per kilogram, dari sebelumnya Rp 3.000 per kilogram. “Harga pinang di sini selalu murah. Tak akan pernah lebih mahal dari kecamatan lainnya. Karena, jalan yang rusak. Jadi, agen pengumpul selalu beralasan, sangat susah kemari. Harganya diturunkan,” kata Adnan, warga Desa Darussalam, Kecamatan Nisam Antara. Dia masih memiliki hubungan family dengan Bupati Aceh Utara, Ilyas Pase. Sebagai keluarga, Adnan menyebutkan sudah berulangkali menyampaikan pada bupati agar memperbaiki jalan itu.
    (more…)

  • Arah Politik eks-Kombatan

    Kesepakatan damai antara Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah mengubur makna merdeka yang selama ini diperjuangkan para kombatan. Mereka beralih ke jalur politik, meraih makna lain dari kata merdeka dalam arti lepas dari batas-batas teritorial. Kini, mereka menguasi semua perangkat layaknya sebuah ‘negara’. Peta Aceh sedang dibuka, ke mana sesungguhnya arah yang hendak dituju?

    Tidak ada hujan yang tak reda, begitu pula tak ada perang yang tak selesai. Kalimat ini, sering menjadi piasan manis menakar suksesnya perdamaian yang terjadi di Aceh. Orang-orang di kampung bersuka ria, jalanan kembali ramai, malam hari di jalur-jalur perdagangan kembali semarak. Denyut nadi Aceh telah hidup kembali setelah 30 tahun berdegub lemah hingga ke titik kritis.
    (more…)