siwah.com

Tag: Partai Aceh

  • Tim Pemenangan Partai Aceh Rilis Kecurangan Pilkada 2012

    BANDA ACEH – Tim Pemenangan Pusat Partai Aceh menyebutkan telah menemukan beberapa pelanggaran di lapangan dalam proses pemilihan gubernur-wakil gubernur dan bupati/wakil bupati yang sedang berlangsung hari ini, Senin, 9 April 2012.

    Berdasarkan siaran pers yang ditandatangani Yuli Zuardi Rais, Ketua Bidang Propaganda Pemenangan Pusat Partai Aceh disebutkan, pihaknya menemukan sejumlah pelanggaran yang berpotensi merusak proses pemilihan yang sedang berlangsung.

    Berikut adalah isi siaran pers dari Tim Pemenangan Pusat Partai Aceh.

    Daftar Pelanggaran/Kecurangan Pilkada Aceh 2012 Data Base Partai Aceh

    Pukul 11.53 Wib
    [Aceh Selatan] Tepatnya di kecamatan Samadua di Desa gunung Ketek kedapatan dua surat suara telah tercoblos pada kandidat (Calon Gubernur No. 2) dan di Ujung Gunong, Samadua Timses pasangan Irwandi-Muhyan dengan memakai baju Tim Ses kedapatan membagi-bagi nasi
    bungkus kepada masyarakat pemilih. Kasus ini telah dilaporkan ke panwas setempat.

    Pukul 11.53 Wib
    [Aceh Barat Daya] di Kecamatan Blangpidie Desa Mata Ie. Pihak KPPS di TPS 1 – TPS4 melakukan pelanggaran dengan meminta tanda tangan saksi diberita acara perhitungan suara sebelum pemilihan usai.

    Pukul 11.54 Wib
    [Aceh Barat Daya] di Kecamatan Babahrot Abdya, Desa Blang dalam TPS1, terdapat 1 kertas surat suara sudah tercoblos untuk (Calon Gubernur No.1) dan (Calon Bupati No.1).

    Pukul 11.54 Wib
    [Aceh Barat Daya] di Kecamatan Kuala Batee, Kp. Tengah, TPS 1 ada kertas suara rusak yang sudah tercoblos diluar kotak kandidat untuk gubernur, kontak KPPS : Mirza Elia.

    Pukul 11.59 Wib
    [Aceh Besar] Para Napi lapas Kec. Darul Imarah (belakang Serambi Indonesia) masih belum mendapat surat undangan untuk memilih.

    Pukul 12.27 Wib
    [Gayo Lues] di Kecamatan Dabun Gelang, Desa Kendawi TPS 1. Kurang surat suara untuk pemilian Calon Gubernur dan Wakil Gubernur sebanyak 105 dan TPS 1 kota Blang Kejeren
    kekurangan 100 lembar surat suara.

    Tim Pemenangan Pusat Partai Aceh (PA) akan melakukan update per Jam untuk perkembangan lapangan Pilkada Aceh 2012.

    BANDA ACEH, 9 April 2012
    TIM PEMENANGAN PUSAT Dr. H. ZAINI ABDULLAH-MUZAKIR MANAF UNTUK PEMERINTAH ACEH 2012-1017

    KETUA BIDANG PROPAGANDA PEMENANGAN PUSAT PARTAI ACEH

    YULI ZUARDI RAIS

    Source : The Atjehpost

  • Mualem: Jika Terpilih, Kita Akan Benahi Ulee Ureung

    PANTON LABU – “Saya optimis Partai Aceh akan menang dan target perolehan suara 75 persen seluruh Aceh.” Hal itu disampaikan Muzakir Manaf atau Mualem kepada wartawan, usai melakukan pencoblosan di TPS 29 Kota Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Senin 9 April 2012.

    Saat ditanya, apa yang ia lakukan jika Partai Aceh tidak menang? “Jika memang nantinya saya (Partai Aceh) tidak terpilih, ya tidak mengapa, mau bagaimana lagi?,” jawabnya sambil tersenyum.

    Mualem menambahkan, jika terpilih, semua butir-butir MoU akan dirampungkan, termasuk yang belum dijalankan oleh pemimpin pemerintahan Aceh sebelumnya. “JKA akan kita jalankan, mungkin namanya saja yang berbeda. Untuk dokter, kita akan seleksi ketat yang memiliki kemampuan terbaik,” ujarnya.

    “Kita juga akan membenahi semua program mulai dari A hingga Z. Namun yang pertama, kita akan perbaiki “Ulee Ureung” (Sumber Daya Manusia) itu sendiri,” kata Mualem.[]

    Source : The Atjehpost

  • Masyarakat Pilih Partai Aceh Karena Ingin Perubahan

    Aceh Utara – Pada Pemilukada Aceh ini, Senin (09/4), masyarakat Aceh tampak lebih memilih cagub/cawagub dari Partai Aceh (PA) Zaini – Muzakir dan Cabup dan Cawabup, Muhammad Thaib-M.Jamil, M.Kes, ketimbang partai lain. Hal itu berdasarkan pantauan The Globe Journal di sejumlah lokasi TPS saat berlangsungnya perhitungan suara di sejumlah desa dan kecamatan di Aceh Utara.

    Seperti yang dikatakan oleh sejumlah warga, salah satunya Andri. Ia mengaku memilih PA dengan alasan ingin menikmati perubahan kabupaten dan propinsi ketika dipimpin oleh kepal yang baru.

    “Saya memilih PA, karena ingin merasakan perubahan Aceh, baik kota maupun kabupaten. Lagi pula mereka menjanjikan akan mengesahkan qanun untuk dayah,”ujar Andri kepada The Globe Journal di Lhoksukon.

    Terkait hal tersebut, Juru Bicara Partai Aceh, Fakhrul Razi kepada The Globe Journal via telephone, mengatakan, hal sedemikian merupakan doa dari rakyat Aceh dengan memilih Partai Aceh sesuai hati nurani.

    “Semua karena doa rakyat Aceh, dan kemenangan ini adalah kemenangan rakyat Aceh nantinya,”ujarnya sembari mengharapkan bahwa suara PA jangan ada yang hilang serta terjadinya kecurangan oleh lawan.

    Saat disinggung mengenai teror meneror maupun aksi kejahatan yang terjadi saat kampanye dan sebelum kampanye, pihaknya telah melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisian setempat. “Ya.. PA juga mengalami beberapa intimidasi dan kekerasan, kami akan melaporkan setelah Pemilukada ini nantinya. Yang penting pilkada berjalan sukses dan demokratis,”jelasnya sambil menutupi pembicaraan.

    Source : The Globe Journal

  • Kemenangan Zaini-Muzakir Kemenangan Rakyat

    INDAHNYA hari ini 9 April 2012, damai rasanya jiwa melihat kondisi aceh yang begini kondusif, aman dan damai di hari penentuan para pemimpin Aceh lima tahun ke depan.

    BBM dan media social seperti Facebook dan Twiterpun terasa sepi, jauh dari hujatan dan caci maki seperti hari-hari sebelumnya.

    Aroma konflik di hari-hari kemarin seketika raib diterpa angin demokrasi. Betapa indahnya hidup jika kondisi seperti ini dapat dipertahankan. Tapi mungkinkah?

    Mungkinkah dalam kondisi yang sarat dengan kepentingan ini, caci maki, hujat menghujat bisa berhenti? Sepertinya jauh panggang dari pada api, apalagi jika ada kecurangan dalam hal penghitungan suara yang akan dikeluarkan oleh KIP nantinya.

    Bukankah dalam dunia politik tipu menipu, sikut menyikut sudah menjadi kewajaran? Bisa saja pada pukul 16 WIB tanggal 9 April 2012 LSI menyatakan ZIKIR memperoleh angka 55,9% dan Irwandi 28,66%, esok lusa KIP akan membalikkan angka tersebut, di mana ZIKIR 28,66% dan Irwandi menjadi 55,99%. Karna hasil akhir tetap berada ditangan KIP.

    Berdarah tidaknya Aceh setlah hari pencoblosan ada ditangan KIP. Semoga saja KIP tetap bersikap jujur dan adil sesuai dengan pilhan rakyat, tidak memanipulasai dan tidak terbuai dengan lembaran rupiah dari pihak manapun.

    Berdasarkan hasil Quick Caunt yang dilakukan oleh LSI di hermes palace tanggal 9 April 2012, (TV One) , Zaini-Muzakir unggul dari kandidat lainnya.

    Kemenangan Zaini-Muzakir mutlak kemenangan rakyat, kemenangan yang tidak lepas dari kerja-kerja pengorganisasian yang telah dibangun sejak 30 tahun silam.

    Menjadi sia-sia segudang baliho atau spanduk jika basis rakyat tidak dikuasai. Diakui atau tidak sampai detik ini kekuatan terbesar GAM yang saat ini telah menjadi KPA masih begitu massif di Aceh dan belum ada satu kekuatanpun yang mampu menjadi pesaing.

    Bukankah kekuatan yang mampu menghancurkan penjajahan atau memenangkan sebuah rezim hanya kekuatan rakyat? saya yakin semua tim sukses mengetahui akan hal ini karna ramai dari mereka adalah anak muda yang memulai karir dari organisasi kiri yang sangat faham dengan kata-kata kekuatan rakyat.

    Namun yang naifnya, kenapa mereka lupa? Kenapa disaat-saat seperti ini buku-buku revolusioner yang telah mereka lahap dicampakkan begitu saja? Kenapa mereka hanya fokus pada kerja-kerja black propaganda semata? Hanya bisa menuduh dan menuding?

    Dua kali sudah Aceh memilih eksekutif, dua kali pula sosok yang disokong oleh PA tampil sebagi pemenang, kemenangan ini adalah bukti nyata bahwa kekuatan rakyat sangat menentukan. struktur PA yang aktif sampai kepelosok desa menjadi jalan mulus bagi PA untuk meraih kursi kepemimpinan.

    Kemenangan Irwandi-Nazar tahun 2006 silam juga tidak lepas dari pengukuhan dan restu yang diberikan oleh Muzakir Manaf selaku ketua PA atas pencalonan mereka.

    Ideology keacehan yang sudah ditanam jauh-jauh hari oleh Hasan Tiro telah menjadi pengikat tersendiri antara masyarakat dengan eks kombatan (KPA/PA). sehingga kemenangan zaini-muzakir bukanlah suatu keanehan dan bukan pula hal yang mengejutkan.

    Kekuatan PA ada di sendi dan tulang-tulang rakyat aceh. Kekuatan yang telah di bangun sejak 37 tahun silam.

    Diakui atau tidak membangun kekuatan rakyat dan kepercayaan rakyat bukan hal yang mudah, tidak cukup dengan lima tahun berkuasa untuk mengambil hati rakyat, tidak cukup dengan milyaran rupiah, tidak cukup dengan kegeniusan semata, tidak pula hanya dengan pencitraan setahun dua tahun, tidak juga hanya dengan JKA, dengan dana untuk anak yatim, dengan memberi daging megang gratis, dengan pendidikan gratis rakyat aceh bisa tunduk dan mangut di telapak kaki kita.

    Tidak seperti itu, rakyat aceh rakyat yang cerdas, rupiah digenggam suara hati belum tentu dapat digapai. Mereka telah diajarkan oleh konflik yang mendera aceh tercinta ini selama puluahn tahun. Konflik telah menjadikan mereka sebagai pelakon politik yang unggul.

    Butuh waktu puluhan tahun, butuh darah, butuh nyawa, butuh kegeniusan yang dibarengi dengan ketaqwaan, akhlak, aqidah serta siap mati tanpa meninggalkan harta warisan untuk anak cucu serta sanak saudara seperti sosok wali naggroe Hasan Tiro untuk tunduk dan patuh diatas ideology yang kita kehendaki.

    Jika tidak mampu menjadi Tgk Hasan Tiro, jangan coba-coba membuat perlawanan atas kekuatan rakyat yang telah terlebih dahulu dibangun oleh Almarhum. Menjaga dan merawat saja apa yang telah ditinggalkan oleh Tgk Hasan Tiro begitu menyulitkan apalagi ingin melawan dan menghancurkan?

    Bagi PA Mengajak masyarakat untuk memilih calonnya bukan hal yang sulit, hanya dua bulan waktu yang dimiliki PA untuk meyakinkan rakyat kalau PA ikut terlibat dalam pesta demokrasi ini, Alhamdulillah dalam jangka waktu dua bulan itu kemenangan bisa diraih, apalagi jika PA memiliki waktu yang panjang seperti kandidiat lainnya, kemungkinan persentase kemenangan akan lebih tinggi

    Cukup dengan kata-kata “kali nyo sige tek tapileh droe teh”! kata-kata sederhana tetapi mampu memberi pemahaman yang sangat dalam dibenak masyarakat.

    Selain dari yang No 5 semuanya bukan” Droe teh”. Kata-kata droe teh memiliki makna kepemilikan bersama, kandidat itu milik kita, saudara kita, keluarga kita. Pengakuan inilah yang sulit diperoleh oleh kandidat selain kandidat PA.

    Tidak banyak yang diharapkan rakyat atas kepemimpinan PA, hanya kepuasan batin yaa… hanya kepuasan batin, seperti pengakuan bang Midi sipenjual buah keliling yang sempat saya tanya apa alasannya memilih No 5. Bang midi sangat sadar kalaupun PA menang dia tetap menjadi bang midi sipenjual buah, pekerjaannya tetap sipenjual buah keliling, tetapi kepuasana batin itulah yang sulit dibeli dari bang midi sipenjual buah keliling.

    Saya sendiripun tidak jauh berbeda dengan bang Midi, ada kepuasan batin, pengabdian saya untuk Partai Aceh selam 10 tahun ini tidak lebih karna rasa memiliki saya atas Partai yang saya kenal dengan ideology keacehannya, terlepas PA diklaim sebagai partai ureung bangai atau partai pemeberontak, bagi saya Kemenangan Partai Aceh adalah Kemerdekaan bagi saya sendiri.

    Hanya dengan kemerdekaan batin saya bisa meraih kedamaian yang hakiki. Kedamaain yang dikehendaki oleh siapa saja, termasuk juga anda.

    Semoga saja dengan kemenangan ZIKIR (Zaini Muzakir) kedamaian itu benar-benar menjadi milik kita semua. Tidak ada gunanya lagi PA dicaci, dimaki dihina dan dihujat, toh PA sudah tampil sebagai juara.

    Hentikan kecurangan, manipulasi, kepalsuan, hapus rasa curiga, stop caci maki, mari kembali bergandengan tangan, lupakan hari-hari kemarin, saatnya kita bersatu dibawah naungan Zaini – Muzakir untuk membangun aceh yang lebih meumarwah. []

    Source : Atjehpost.com

  • Ex-combatants in politics — Aceh’s post-conflict challenge

    Wherever you look, whoever you turn to when talking to people in Aceh today, the feedback seems virtually universal: Aceh will turn red. In other words, the political movement founded by former rebel group GAM (the Free Aceh Movement), the Aceh Party (PA), is expected to win the governorship and a considerable number of top jobs at the district level in the April 9 elections. 

    More significant will be the differences between the contesting parties. Even more important, perhaps, is, if they win, how did they achieve it? Will there be smooth or violent elections? Will it be a fair vote, or will there be threats and silent intimidation?

    History has demonstrated that former armed fighters — ex-armed rebels, ex-guerillas, or ex-revolutionaries — tend to become a critical agency in post-conflict situations. 

    Very recently, we have seen how Timor Leste has been able to turn a volatile situation into a stable one that led to successful presidential elections. Only a few years earlier, though, in 2006, the country almost became a failed state. 

    Back then, the new military corps came into a serious conflict with the national police, resulting in many deaths. Both recruited from ex-guerillas who felt that they were discriminated against. 

    Independent Indonesia also faced such challenges. The drive toward the formation of a professional military had provoked the resistance of politically motivated and idealistic armed revolutionary units. It ultimately led to the so-called Madiun Affair in 1948.

    Now, Aceh, too, has to deal with its former armed fighters. Like Indonesia’s ex-revolutionaries in the late 1940s and Timor Leste’s former guerillas in the mid 2000s, the Acehnese ex-rebel combatants have to find new and secure positions in a post-conflict situation.

    Soon after the Helsinki Peace pact in 2005, one faction of former rebels, known as the ex-Libyan-trained fighters of the late 1980s and the generation of 1998, had consolidated its power and influence away from the elder, exiled leaders of the 1970s who founded the AM, Aceh Merdeka, later renamed GAM. 

    These young ex-combatants subsequently supported the Irwandi Yusuf–Mohammad Nazar candidacy, who won the gubernatorial election in 2006. The GAM’s sharp split has thus since become a persistent fact.

    The older GAM generation, led by Malik Mahmud and Zaini Abdullah, succeeded in turning the tables thanks to the legitimacy bestowed upon them by the Wali Nanggroe (Aceh-state guardian) Hasan di Tiro. PA, which they founded in 2007, became a mass party. Its hegemonic influence was confirmed as they were able to bring home the Wali in 2008. 

    For the first time in Indonesia’s history, it was possible for a supreme rebel leader to return home and it was massively and intensely welcomed by people. That in itself was an exemplary democratic achievement of post-Soeharto Indonesia. But it didn’t subsequently bring a better, stable and peaceful democracy to Aceh itself for three reasons. 

    Firstly, the institutions and instruments to implement the Helsinki regulations are only partly able to accommodate the wishes and interests of the former combatants: the ex-Panglima Wilayah (regional commanders), the ex-Panglima Sagoe (district commanders) and their followers. 

    Some have greatly benefited from Governor Irwandi’s rule and have become wealthy businessmen. Most, however, have benefited less and their followers not at all.

    Secondly, the older PA leaders are now determined to gain power as this is their last chance to lead and rule the province. They do so by modernizing the party structure and organization, by resisting Governor Irwandi’s efforts to be re-elected, and — in general — by threats and intimidation. 

    Thirdly, this has resulted in exhausting political-legal battle, often interspersed with violence, for months. 

    The PA’s boycott of the elections gave rise to the prospect of greater instability. Jakarta’s intervention to avoid this by postponing the elections until April 9, in order to allow the PA to participate, may be well reasoned, but it also made the competition and anxiety even more intense.

    For Governor Irwandi, who was poised to win if the elections were not postponed, now has to mobilize power and funds to compete with the PA. And the PA, in turn, has to play the game very carefully so that it should not arouse Jakarta’s suspicion of a secret agenda of independence if they not only rule the parliament but command the administration. 

    The PA invited four Army generals to campaign for the party, including two former regional commanders, one of whom — Gen. Soenarko — had been particularly controversial due to allegations of harsh treatment of former rebels.

    The postponement of the elections has shaped a dilemma for the ex-combatants: Either they stay put at Irwandi’s camp or change sides and support the PA. 

    It’s a historic moment for them, one that would reveal their real motives as either opportunistic (for business reasons) or idealistic (wanting rural electorates). 

    It’s important to note that the ex-combatants are rooted in the former GAM strongholds in rural areas. It explains why the statement of the older GAM leaders and its commander Muzakkir Manaf as being “neutral” in the 2006 elections resulted in a great victory for the Irwandi group, who used the GAM flag as a symbol. 

    Now it’s the other way around: it’s the older leaders, with Zaini Abdullah and Muzakir Manaf as their candidates — brilliantly shortened to ‘Zikir”, meaning collective prayer to admire God almighty — that is taking the lead as they evoke GAM symbols and the late Wali Hasan Tiro’s legacy. 

    Unfortunately, it’s hard to pinpoint the numbers and the strength — let alone the social-class bases — of the ex-combatant commanders who support Irwandi and the Zikir. But the latest survey suggests the latter would win with 46 percent (against 22 percent) which will not require a second round of voting. 

    Whatever the outcome, it will reflect the general assessment of common Acehnese in villages, who know what contributions the ex-combatants made during the conflict, and will weigh it against their role in peace time as they decide at the private ballot boxes.

    * Aboeprijadi Santoso,  The writer is a journalist.

    Source : The Jakarta Post

  • Di Kampanye PA, Fadel Muhammad Bilang Berjuang Mati-Matian untuk Zaini-Muzakir

    BANDA ACEH – Pendukung Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (Zikir), calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung Partai Aceh memenuhi lapangan depan Stadion Lhong Raya, Banda Aceh, Senin sore, 2 April 2012.

    Dalam kampanye yang dimulai pukul 14.00 WIB tersebut hadir Wakil Ketua Partai Golkar yang juga Mantan Menteri Kelautan Fadel Muhammad, Nasir Djamil (Anggota DPR RI), Abdullah Puteh (mantan Gubernur Aceh ), Farhan Hamid (Wakil Ketua MPR RI), Hasbi Abdullah (Ketua DPRA), Muklis Abee (Ketua PA Banda Aceh).

    Selain itu ada juga tiga mantan jenderal, yaitu mantan Pangdam Iskandar Muda Mayjen (Purn) TNI Soenarko, Mayjen (Purn) TNI Djali Yusuf, dan mantan Kasdam Brigjen (Purn) M.Yahya. Mereka duduk sepanggung untuk mendukung kampanye akbar pasangan Zikir ini.

    Sebelum Zaini Abdullah dan Muzakhir Manaf berpidato, tampil Fadel Muhammad berorasi. Fadel mengatakan Partai Golkar benar-benar mendukung Zikir.

    “Kami telah berjuang mati-matian untuk pasangan yang ideal ini. Aceh sekarang sangat mendamba-dambakan pemimpin yang sangat peduli dan amanah dengan rakyatnya. Semoga Zikir yang kami usung bisa menjadi pemimpin itu,” ujar Fadel.

    Dalam orasinya, Fadel juga mengatakan kepada massa, “coba buka kepalan tangan kanan kalian, dan lihat ada berapa jari di sana? Ya, ada lima jari di sana. Maka dari itu cobloslah nomor urut lima di pilkada nanti,” ujar Fadel yang disambut suara gemuruh dari pendukung Zikir.[]

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Mualem: Usaha Mikro Pengaruhi Tumbuhnya Industri Makro

    BANDA ACEH – Saat berorasi dalam kampanye akbar di lapangan depan Stadion Lhong Raya Banda Aceh, Calon Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengatakan bahwa Partai Aceh khususnya Zikir (Zaini-Muzakir) akan memegang teguh MoU Helsinki dan mempertahankan perdamaian di Aceh, Senin 2 April 2012.

    Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem itu mengatakan nantinya jika mereka terpilih, Zikir akan berusaha agar di Aceh diberikan kesehatan dan pendidikan gratis. Tidak hanya itu Muzakir juga berjanji akan meningkatkan sektor pertanian, kelautan, dan industri.

    Di sektor industri, Muzakir mengatakan akan mengutamakan industri menengah dengan memberikan pinjaman pinjaman kepada kredit mikro dengan bunga yang sangat kecil. “Usaha mikro sangat berpengaruh besar dengan tumbuhnya industri makro di Aceh,” ujar Mualem.

    Ia juga mengkritik kepimpinan Aceh lima tahun lalu yang tidak membawa rakyat Aceh sejahtera. “Sekarang ada juga yang mengaku-ngaku bahwa JKA itu milik dia. Kami tegaskan, JKA bukan milik dia namun milik seluruh Aceh. Dan dilihat dari awalnya JKA adalah itu semua kebijakan dari DPRA yang kita ketahui di dalam DPRA 75 persennya partai Aceh,” ujarnya.

    Acara kampanye ini turut dimeriahkan juga oleh Imun Jon dan rapai pasee.[]

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Fadel Muhammad Kampanye untuk Zaini-Muzakir

    BANDA ACEH – Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Fadel Muhammad, hari ini akan berkampanye untuk pasangan calon gubernur-wakil gubernur, Zaini Abdullah – Muzakir Manaf. Politisi senior Partai Golkar ini saat ini sudah berada di Banda Aceh. Nanti siang dia akan meluncur ke Lapangan Harapan Bangsa, Lhong Raya, tempat Partai Aceh berkampanye.

    Fadel adalah mantan Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Indonesia Bersatu II. Sebelumnya dia juga adalah Gubernur Provinsi Gorontalo sejak 10 Desember 2001 hingga 22 Oktober 2009. Pada pilkada Gorontalo 2006 yang dilaksanakan pada 26 November 2006, ia memperoleh 81 persen suara. Nilai ini merupakan tertinggi di Indonesia untuk pilkada sejenis dan tercatat di rekor MURI sebagai rekor pemilihan suara tertinggi di Indonesia.

    Tokoh lainnya yang akan tampil kampanye di Banda Aceh untuk Zaini-Muzakir hari ini antara lain adalah Mayjend (Purn) Soenarko yang adalah mantan Panglima Kodam Iskandar Muda. Sejumlah tokoh lainnya dipastikan akan terlibat dalam kampanye hari ini.

    Adapaun pasangan Zaini-Muzakir yang biasanya berkampanye di dua lokasi yang terpisah, dalam kampanye di Banda Aceh, mereka akan bersama tampil di panggung. Saat ini para pendukung dan simpatisan untuk pasangan Zaini-Muzakir dan Partai Aceh mulai berdatangan ke lokasi kampanye yang dirancang menjadi merah warna khas Partai Aceh.[]

    Source : Atjehpost.com

  • Irwandi Yusuf: Kekerasan di Aceh Seperti Dibiarkan

    TEMPO.CO, Langsa – Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan berbagai tindak kekerasan di Aceh, termasuk yang menimpa tim sukses dan massa pendukung Irwandi sebagai calon gubernur, dilakukan Partai Aceh dan terkesan dibiarkan.

    Menurut Irwandi, pelaku penembakan warga asal Pulau Jawa dan pelaku teror menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah di Aceh sebenarnya sudah diketahui polisi. Tindak kekerasan tersebut dilakukan anak buah Ayah Banta. »Tapi Polda tidak berani menyatakan itu kelompok Partai Aceh dan KPA, juga atas perintah siapa mereka melakukan tindak kekerasan,” kata Irwandi kepada Tempo di Langsa, Jumat dinihari, 30 Maret 2012.

    Irwandi menegaskan berbagai tindak kekerasan yang terjadi selama ini bukan dilakukan oleh orang yang tidak dikenal. Pelakunya jelas, termasuk yang menimpa tim sukses Irwandi di Lhoksukon, Jumat, 23 Maret 2012. Saat itu si pelaku dengan garang menunjukkan wajah dan menyatakan siapa dirinya kepada korban. »Kau lihat muka aku,” ujar Irwandi mengutip ucapan pelaku kekerasan berdasarkan laporan yang diterimanya. Namun si pelaku masih bebas dan tidak ditangkap. ”Kalau seperti ini penegakan hukum, sangat memalukan negara kita ini,” ucap Irwandi pula.

    Irwandi bahkan memaparkan bahwa berbagai tindak kekerasan tersebut bukan terjadi dengan sendirinya melainkan berdasarkan perintah dari atasan. »Ada duduk rapat lagi,” tutur Irwandi.

    Irwandi tak menampik adanya pengarahan Menkopolhukam dan Mabes polri bahwa harus bertindak tegas terhadap pelanggar hukum. ”Saat ini belum tegas, tapi entah besok. Kita tidak tahu,” katanya.

    Sementara itu, juru bicara Partai Aceh, Fakrurrazi, membantah tindak kekerasan itu dilakukan oleh anggota Partai Aceh. ”Itu bukan dilakukan anggota Partai Aceh, tapi oleh simpatisan Partai Aceh,” katanya.

    Fakrurrazi menjelaskan Partai Aceh sudah mengimbau kepada simpatisan dan kader agar tidak bersikap arogan dan anarkistis, serta harus menjaga ketertiban umum.

    Fakrurrazi juga mengatakan tindak kekerasan dan arogan pun dilakukan oleh pendukung partai lain. Namun pemberitaan media selalu mengatakan bahwa pelaku tindak kekerasan adalah Partai Aceh. ”Itu adalah strategi calon lain untuk meraup suara dan itu tidak begitu menarik bagi kami karena kami sedang menggalang dukungan masyarakat yang semakin hari makin meningkat terhadap Partai Aceh,” Kata Fakrurrazi.

    Hari ini, sebuah mobil operasional tim sukses Irwandi-Muhyan, pukul 12.00 WIB, dilempari di Desa Cot Kreut, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen.

    Mobil yang dikemudikan Mulyadi alias si Pe itu dilempari oleh orang yang bersembunyi di balik kebun sawit. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Kepolisian dan Koramil setempat sedang menyisir lokasi kejadian.

    IMRAN MA

    Source : Tempo.co

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Di Kuala Simpang, Zaini Janjikan Pemerintahan yang Bersih dan Jujur

    BANDA ACEH – Kandidat Gubernur dari Partai Aceh, Zaini Abdullah, hari ini, Rabu 28 Maret 2012, melakukan kampanye di Kuala Simpang, Aceh Tamiang.

    Dalam kampanye itu, Zaini tidak ditemani oleh wakilnya Muzakir Manaf karena pada saat yang bersamaan Muzakir juga berkampanye di Matang, Bireuen. Zaini ditemani Muzakir Hamid , salah satu anggota tim suksesnya. 

    Dalam orasi politiknya, Zaini menyampaikan visi dan misi di hadapan massa yang hadir. Zaini juga menjanjikan pemerintah yang bersih dan jujur jika mereka terpilih nanti. Selain itu, ia juga mengatakan andaikan dipercaya menjadi Gubernur Aceh, ia akan mengupayakan peningkatan pendidikan umum dan agama, serta kesejahteraan rakyat.

    “Masa yang memadati lapangan bola Kuala Simpang menjadi bukti sejarah, sebab antusias masyarakat sangat tinggi,” kata Muzakkir Hamid.

    Muzakkir Hamid juga mengatakan kampanye itu turut didukung oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk Persatuan Paguyuban Masyarakat Aceh Jawa (PPMAJ) Kuala Simpang.

    Kampanye juga dimeriahkan dengan penampilan penyanyi Aceh, Yakob Tailah. []

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.