siwah.com

Tag: Partai Aceh

  • Ujian Final Partai Aceh

    Akankah Partai Aceh keluar sebagai pemenang di Pemilukada 2012 Aceh? Bisa iya. Bisa juga, tidak. Jawabannya akan sangat ditentukan pada kemampuan Partai Aceh meyakinkan rakyat bahwa calon yang diajukan adalah pemimpin sejati, bukan pemimpin yang bisa buat makan hati. 

    Jika menang, ini artinya kemenangan penutup setelah sebelumnya “memenangkan” proses politik di musim Pemilukada Aceh. Partai Aceh, layak disebut sang juara di medan tarung politik.

    Jika pun tidak menang, modal kemenangan proses politik di musim Pemilukada akan tetap menempatkan Partai Aceh sebagai nakhoda politik Aceh hingga 2014.

    Itu artinya, posisi politik Partai Aceh tidak lagi menempatkan soal kemenangan di Pemilukada 2012 menjadi suatu momentum penting secara politik. Sebab, siapapun yang akan mengalahkan kandidat Partai Aceh pada 9 April 2012, “dipaksa” untuk memilih salah satu peran yang serba salah khususnya jika tidak mampu tampil sebagai sosok pemimpin sejati.

    Disebut serba salah karena jika tampil akomodatif terhadap Partai Aceh bisa saja memunculkan amarah pendukung. Pendukung, bisa saja beranggapan bahwa dukungan yang diberikan pada Pemilukada 2012 hanya sebagai batu lonjatan untuk meraih kemenangan. Setelah menang justru “bermesraan” dengan Partai Aceh. Beruntung jika pendukung berjiwa besar. Jika tidak?!

    Sebaliknya, juga akan salah manakala tampil ala “cowboy” dengan Partai Aceh. Relasi-koordinasi pembangunan pasti akan terganggu. Kalau sudah begini pasti akan banyak hambatan dalam proses-proses yang mengharuskan adanya kemitraan dengan parlemen yang dikuasai oleh Partai Aceh.

    Akibatnya, kepala daerah terpilih akan menghabiskan banyak biaya sosial, politik, dan ekonomi untuk mendorong berbagai kelompok di masyarakat guna memberi tekanan kepada anggota parlemen yang berasal dari Partai Aceh. Biaya sosial, politik dan ekonomi bisa juga terkuras untuk melobi anggota dan pengurus partai lainnya yang memiliki kursi di parlemen untuk sebuah dukungan politik.

    Katakanlah, anggota parlemen yang berasal dari Partai Aceh bisa ditaklukkan. Tapi, Partai Aceh sebagai rumah politik mereka bisa saja mengambil langkah pergantian.

    Katakan juga rakyat banyak bisa dimobilisasi untuk melakukan tekanan penuh pada parlemen. Namun, bayangkan betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk itu? Belum lagi jika terjadi sesuatu bagi rakyat maka kekacauan sosial-politik akan sangat mudah terjadi. Akibat lanjutnya? Bisa saja kepala daerah akan meminta lunas biaya pengeluaran dengan imbalan-imbalan yang bisa menceriderai pembangunan.

    Pemimpin Sejati
    Satu-satunya pilihan terbuka adalah menjadi pemimpin sejati. Siapapun yang akan menjadi pemenang, termasuk kandidat dari Partai Aceh, hanya akan sukses manakala bersedia tampil sebagai pemimpin sejati. Jika tidak, semua pemenang, termasuk dari Partai Aceh, akan berhadapan dengan politik penghadangan.

    Apa itu pemimpin sejati? Menurut kabar, filosof besar Cina, Lao Tsu, pernah menerangkan kepada muridnya bahwa pemimpin sejati adalah sosok yang kerap tidak diketahui “keberadaannya” oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan, ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri.

    Jika saja nanti kepala daerah di Aceh adalah sosok yang tampil “ini karya saya” sudah pasti bukan sosok pemimpin sejati. Masih menurut Lao Tsu, pemimpin sejati itu adalah seorang pemberi semangat, motivator, inspirator, dan maximizer. Jadi bukan sosok yang penuh amarah nan sombong yang mengharapkan pujian dan pengakuan dari mereka yang dipimpinnya.

    Sekali lagi, pemimpin sejati itu adalah sosok yang rendah hati. Mungkin, Nelson Mandela dari negeri yang juga pernah tercabik oleh konflik bisa menjadi contoh dari sosok pemimpin yang rendah hati.

    Penderitaan selama 27 tahun yang dialaminya justru melahirkan perubahan pada dirinya. Ia bukan menjadi sosok pendendam. Sebaliknya, ia justru menjadi sosok yang rendah hati sehingga mau memaafkan musuh-musuhnya dan bersahabat untuk satu kepentingan, memajukan Afrika. Tidak akan keluar dari mulut orang berjiwa besar “Ka di pakai bajee gob.”

    Itulah sebabnya sangat bisa dimengerti jika ada yang mengatakan bahwa kepemimpinan itu dimulai dari hati sendiri untuk kemudian keluar guna melayani orang banyak yang dipimpinnya.

    Pertanyaannya, siapakah diantara calon kepala daerah di Aceh yang sangat menderita selama 30 tahun lebih konflik Aceh? Jika ada, apakah ia sudah tampil menjadi pribadi rendah hati? Bersediakan dia bermitra dengan musuhnya? Adakah penampilan, komunikasi, dan hubungannya dengan semua pihak menunjukkan karakter diri yang rendah hati? Jika ada maka dialah pribadi yang berani memilih takdir sebagai pemimpin dan bersiap diri menjadi pemimpin sejati.

    Sebagai entitas politik lokal, Partai Aceh sudah menunjukkan kemampuan politiknya. Tidak hanya di Aceh, Partai Aceh juga mampu mewarnai keputusan-keputusan politik di nasional untuk Aceh. Menariknya, proses-proses politik yang dilakukan oleh Partai Aceh tidak mencerminkan watak politik arogan.

    Menariknya, meskipun tidak arogan, pesan politik Partai Aceh masih menunjukkan watak politik keacehan yang membuat pusat harus melakukan sesuatu, agar tidak terjadi sesuatu. Ini jelas wujud kemenangan komunikasi politik Partai Aceh yang walaupun sudah meninggalkan politik perang masih tetap diperhitungkan. Hebatnya, itu tidak dilakukan dengan bahasa arogan.

    Berbeda dengan Partai Aceh, calon yang tampil dengan bahasa perlawanan justru diabaikan oleh pusat. Tekanan politik yang dimainkan di sepanjang musim Pilkada justru tidak menarik perhatian pusat. Pusat, melalui representasi politik Partai Demokrat justru memberi dukungan politik kepada sosok yang tampil dengan citra politik santun dan bermartabat. Partai nasional lain yang juga mewarnai parlemen tidak pula memberi dukungan resmi secara kelembagaan. Ini bukti kegagalan dari sisi komunikasi politik.

    Sekali lagi, apakah Partai Aceh akan memenangkan kontes Pemilukada 2012? Jelas kemenangan politik atas Jakarta belum mencerminkan kemenangan politik atas rakyat pemilih di Pemilukada 2012. Meski Partai Aceh berhasil keluar dari qisas politik yang dimainkan pihak lawan di musim Pemilukada Aceh tapi jebakan politik masih akan terus menerpa Partai Aceh, termasuk dalam jebakan politik wacana Pemilukada damai.

    Partai Aceh jelas tidak mungkin menolak wacana politik Pemilukada damai. Namun, pada saat yang sama wacana Pemilukada damai jelas mengandung pesan tersembunyi yang secara kampanye jelas kemana arahnya. Disinilah Partai Aceh sekali lagi ditantang. Apakah akan berhasil keluar dari jebakan wacana Pemilukada damai yang semakin menjadi hypnopolitic bagi pemilih dengan “pesan” tersembunyinya?

    Jawabannya akan bisa dilihat dari hasil akhir Pemilukada. Jika saya orang Partai Aceh, saya tidak akan bermabuk ria dengan kemenangan politik di ranah politik pusat. Sepenuh hari akan saya bangkitkan semua kekuatan kebajikan yang dimiliki Partai Aceh untuk merebut simpati rakyat di hari-hari yang sudah sangat dekat dengan hari “H” Pemilukada.

    Saya akan yakinkan rakyat bahwa proses-proses politik yang dilakukan Partai Aceh tinggal selangkah lagi menuju kemenangan bersama dengan pemimpin sejati dari Partai Aceh. Bersama rakyat membangun Aceh tercinta. Sungguh, ini ujian final bagi Partai Aceh untuk melengkapi rapor menjadi sang juara.

    Dan, siapapun pemenangannya, jika di hari kemenangan ia langsung tampil sebagai sosok pemimpin sejati maka kemenangan itu akan menjadi hypnopolitic bagi celebration (perayaan) di hari inagurasi, dan itulah pertanda sebagai hari kemenangan rakyat Aceh. Bisa?!

    Kolom Risman

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Muzakir Manaf Siap Perbaiki Ekonomi Aceh

    GAYO LUES – Ketua Partai Aceh Muzakir Manaf mengatakan, dirinya sangat mengenal kondisi masyarakat di Gayo Lues, karena dimasa lalu dirinya sering menjelajahi wilayah ini.

    “Saya tahu bagaimana kondisi masyarakat Gayo Lues, miskin dan susahnya, Ini akan menjadi PR apabila Zikir terpilih nanti,” kata Muzakir Manaf kepada rakyat Gayo Lues pada Deklarasi pemenangan Calon Gubernur/wakil Gubernur Zaini Abdullah- Muzakir manaf, serta Bupati/wakil bupati Gayo Lues Irmawan Yudi Candra di Lapangan SD 1 Pusat kota Blang Kejeren, Gayo Lues, senin (27/2).

    Dikatakan Mualem, sapaan Muzakir, sedikitnya prioritas jangka pendek pertama yang harus dilakukan   dengan memperbaiki ekonomi masyarakat, sebab pengalaman di beberapa negara kemiskinan dapat menghalalkan segala cara.

    “Kalau ekonomi kita buruk semua bisa dihalalkan,” lanjut Mualem.

    Disebutkan, dana otsus Aceh yang mencapai 2 trilyun pertahun, seharusnya setiap keluarga bisa memperoleh minimal 500 ribu per bulan. “Ini program Jangka Pendek, makanya mari kita bersama dibawah PA,” katanya.

    Mantan Panglima GAM ini juga menguraikan beberapa program yang telah di kerjakan Partai Aceh melalui Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), seperti Bandara Iskandar muda yang kinibisa disinggahi langsung oleh pesawat luar negeri. “Sekarang pesawat dari luar negeri bisa langsung mendarat di Aceh, tidak perlu melalui Medan lagi. Begitu PP Sabang yang sudah selesai, ini sebuah kemajuan,” jelasnya.

    Muzakir juga meminta kepada masyarakat untuk memberi dukungan  kepada PA untuk menyelesaikan Qanun dan PP hingga tahun 2013 mendatang.[]

    Source : Atjehpost.com

  • JKA Versi Muzakir Manaf

    GAYO LUES – Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang sudah berjalan sekarang bukan pekerjaan orang perorang, tetapi hasil perjuangan PA di DPRA. Kalau selama ini kita melihat JKA seakan dimiliki oleh seorang saja, maka itu pembohongan yang luar biasa.

    “Pelayanan kesehatan Aceh itu di dukung oleh Partai Aceh DPRA, maka lahirlah pengobatan gratis,” kata Muzakir Manaf pada Pidato khususnya di depan ribuan simpatisan Partai Aceh di Lapangan SD 1, Kota Blang Kejeren, Gayo Lues, senin (27/2).

    Namun diakui Muzakir kalau sekarang keadaannya sudah berubah jauh, karena harapan pelayanan yang dimaksud tidak tercapai. “Banyak obat-obatan JKA yang kadaluarsa,” katanya.

    Ke depan, PA akan berjuang untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. Diakuinya, kalau selama ini orang Aceh lebih banyak berobat ke Penang, maka ke depan Dokter Penang yang kita bawa ke Aceh. “Dokter dari Penang akan bekerjasama dengan dokter kita di sini,” ujar Mualem.

    Pelayanan kesehatan ini, kata Mualem, juga menjadi prioritas jangka pendek Partai Aceh. “Kita ingin menjadikan rumah sakit di seluruh kabupaten/kota punya kualitas yang sama sehingga masyarakat tidak perlu ke Banda Aceh lagi, tapi cukup di daerah masing-masing.”[]

    Source : Atjehpost.com

  • Tiada Kesombongan di Kantor Partai Aceh

    BANDA ACEH – Ruko tingkat tiga itu berwana merah, garis hitam putih menjadi ciri khasnya. Terletak di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah, pusat kota Banda Aceh, tempat ini sejak pagi sudah berseliweran pengunjung. Beberapa kendaraan roda dua dan empat teparkir di depannnya. Bebera bendera mengelilinginya. Inilah kantor pusat Partai Aceh. Sebuah partai terbesar di Aceh, pemenang Pemilu yang lalu.

    Ketika The Atjeh Post tiba di sini, di dalam kantor sejumlah mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berada di sini. Mereka memang sudah terjun ke dunia politik, dan Partai Aceh adalah satu-satunya partai yang memberi wadah yang luas buat mereka. Kendati demikian, Partai Aceh kini juga telah membuka ruang politik untuk masyarakat di Aceh. “Siapa saja boleh berpolitik di Aceh, tak ada batasan suku. Asalkan berada di Aceh dan berfikir untuk kemajuan masyarakat Aceh,” kata Muzakir Manaf, Ketua Umum Partai Aceh.

    Ketika memasuki Kantor Pusat Partai Aceh, terlihat beberapa orang staf dan tenaga keamanan di ruang depan. Sejumlah tamu lainnya mengantre menunggu kesempatan masuk ke dalam kantor.

    Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan untuk mewawancarai sejumlah kegiatan Tim Pusat Partai Aceh menjelang Pilkada. Dengan wajah ramah, staf keamanan di situ langsung menyerahkan badge tamu (tanda pengenal) dan mengantarkan The Atjeh Post ke lantai II kantor. Di antar sampai bertemu dengan  Kamaruddin Abubakar yang akrab disapa Abu Razak. Abu Razak adalah Ketua Tim Pemenangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, elit Partai Aceh yang menjadi kandidat Gubernur-Wakil Gubernur Aceh.

    Saat berjalan menuju lantai II kantor itu, terlihat juga beberapa orang sedang berbincang-bincang di ruang pertemuan atau ruang rapat di lantai I. Sejumlah foto-foto terpampang di salah satu bagian dinding lantai I Kantor Pusat Partai Aceh itu. Salah satunya adalah foto Wali Nanggroe Hasan di Tiro yang adalah pencetus berdirinya Gerakan Aceh Merdeka. Terdapat lambang besar Partai Aceh dibawah foto itu, yang diapit dua bendera Merah Putih dan bendera Partai Aceh.

    Saat tiba di Lantai II, beberapa staf keamanan juga terlihat berjaga-jaga. Beberapa staf lainnya sibuk mengurusi segala kebutuhan administrasi menjelang Pilkada. The Atjeh Post pun dipersilahkan menunggu sesaat dikarenakan ada tamu yang sedang bertemu dengan Ketua Tim Pemenangan Pusat Partai Aceh.

    Sembari menunggu, The Atjeh Post berbincang-bincang dengan salah seorang staf kantor itu. Mereka mengaku memiliki staf berjumlah 15 orang yang mengurus segala urusan adminintrasi, dengan tenaga keamanan yang berjumlah 6 orang setiap harinya yang menjaga kantor itu. “Untuk keamanan yang jaga 3 di bawah dan tiga diatas,” kata Wakil Sekretaris Pengurus Pusat Partai Aceh Dahlan kepada The Atjeh Post, Rabu 22 Februari 2012.

    Selain mengurusi adminitrasi Partai Aceh, Dahlan mengaku bersama tim lainnya mengurusi sejumlah tanda pengenal relawan yang ingin mejadi tim kampanye dan tim pemenangan Partai Aceh. “Kami sudah mengeluarkan tanda pengenal berjumlah ribuan,” kata Dahlan. “Setiap hari ada saja yang terus berdatangan dan ingin menjadi relawan.”

    Selang beberapa saat, tamu di dalam ruangan Ketua Tim Pemengan Partai Aceh pun keluar dan The Atjeh Post dipersilahkan masuk untuk mewawancarai Abu Razak. Ada dua buah sofa dan beberapa kursi di dalam ruangan Abu Razak.

    Disela-sela wawancara, beberapa orang staf masuk dan menyatakan ada beberapa tamu lainnya yang ingin bertemu dengan Abu Razak. The Atjeh Post pun langsung menanyakan beberapa poin pertanyan yang diperlukan untuk bahan berita. Di saat wawancara itu, tiba-tiba muncul Muzakir Manaf yang disapa Mualem langsung memasuki ruangan itu dan menyalami beberapa orang yang ada di dalam ruangan Abu Razak.

    “Silahkan, lanjut terus,” kata Mualem sembari tersenyum.

    Sembari mewawancarai Abu Razak, The Atjeh Post juga sempat mengajukan beberapa pertanyaan ke Mualem, namun dikarenakan banyaknya tamu yang ingin bertemua dengan Abu Razak dan Mualem, akhirnya The Atjeh Post memutuskan tidak melanjutkan wawancara lagi.

    Akhirnya, The Atjeh Post izin pamit kepada Abu Razak dan Mualem. “Mualem kalau dia ada di Banda Aceh sering datang kemari untuk memberikan arahan dan petunjuk,” kata seorang staf Kantor Pusat Partai Aceh di ruang administrasi yang berdekatan dengan ruang Abu Razak.

    Ketika The Atjeh Post turun, beberapa pengurus Pusat Partai Aceh sedang melakukan pertemuan di ruang rapat di lantai I kantor itu. Terlihat diantaranya Juru Bicara Partai Aceh Fakhrul Razi, Ketua Tim kampanye Pusat Partai Aceh Azkia Abubakar, serta beberapa pengurus pusat Partai Aceh lainnya.
    Sementara di ruang depan, sejumlah tamu juga semakin ramai yang berdatangan.

    “Mereka sejumlah masyarakat yang berdatangan dari berbagai daerah untuk menjadi relawan tim pemenangan Partai Aceh,” kata salah seorang tenaga keamanan Kantor Pusat Partai Aceh Diansyah kepada The Atjeh Post.

    Dian mengaku, setiap harinya puluhan tamu  berdatangan dari berbagai daerah di Aceh. “Para tamu yang datang kemari kebanyakan untuk menjadi relawan Partai Aceh,” ujarnya.

    Setelah berbincang sesaat dan mengambil foto-foto, akhirnya The Atjeh Post pamit. Ternyata mereka-mereka yang dulunya pemanggul senjata, juga memiliki kemampuan berpolitik dan administrasi kepengurusan partai seperti para tokoh-tokoh politik partai naional di Aceh. Mereka ramah dan bersahabat. Berbicara santun, tak ada aroma kesombongan dan jumawa di sini.

  • Abu Razak: Kami Didukung 80 Persen Masyarakat Aceh

    BANDA ACEH – Ketua Tim Pemenangan Pusat Kandidat Gubernur dari Partai Aceh, Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, Kamaruddin Abubakar, mengatakan dukungan dari masyarakat terus mengalir. “Mulai dari  23 kabupaten dan kota, hingga kecamatan dan desa-desa untuk memenangkan pasangan Zaini-Muzakir,” katanya.

    Pernyataan ini disampaikan Kamarudin Abubakar, yang akrab disapa Abu Razak,  Ketua Tim Pemenangan Pusat Zaini-Muzakir, kepada The Atjeh Post, Rabu 22 Februari 2012. Abu Razak mengaku telah mendapat dukungan 80 persen dari masyarakat Aceh.

    “Ini bukan klaim, tapi setelah deklarasi kemari berjalan dengan aman maka dukungan terus mengalir ke Partai Aceh,” ujarnya. Dukungan itu, kata Abu Razak, datang dari berbagai organisasi masyarakat dan organisasi pendukung yang dibentuk masyarakat untuk memberikan dukungan ke Partai Aceh.

    Abu Razak mengaku, selain PAN, FLP2A, dan Persatuan Peguyuban Masyarakat Jawa di Aceh, sejumlah masyarakat Jawa Transmigrasi di Aceh juga telah komit untuk mendukung Partai Aceh.

    “Selain itu ada juga beberapa calon bupati dari partai nasional mengarahkan para pendukungnya (konstituen) untuk memilih Gubernur Zaini-Muzakir,” ujarnya.

    Ketika ditanyakan soal strategi, Abu Razak menjelaskan, strateginya adalah bagaimana mengambil hati seluruh masyarakat Aceh. “Seharusnya 100 persen tapi kami hanya mengatakannya 80 persen,” ujarnya.

    Sementara itu soal pandangannya terhadap kandidat gubernur lain, Abu Razak menyatakan tidak mempermasalahkan adanya kandidat gubernur lain. “Yang penting demokrasi berjalan baik dan tidak ada intimidasi,” ujarnya.[]

    Source : Atjehpost.com

  • Muksalmina: “Kami Lakukan, Untuk Selamatkan Citra Perjuangan”

    Banda Aceh-Mantan Juru Bicara Komando Pusat KPA, Muksalmina berang ketika di cap sebagai pengkhianat. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh pihaknya bersama rekan-rekan mantan Panglima Wilayah GAM dari 14 Kabupaten Kota, merupakan upaya penyelamatan amanah MoU dan UU-PA dengan tidak mengotori citra perjuangan serta menyelamatkan citra pimpinan dan misi perjuangan yang belum selesai.

    “Dalam pandangan ketua KPA dan GAM di wilayah, yang dimaksud dengan citra perjuangan yaitu menyelamatkan pimpinan dan misi perjuangan yang belum selesai, bukan pimpinan menjadi calon Gubernur dan wakil Gubernur,” tegas Muksalmina.

    Karenanya, dalam rapat khusus pimpinan KPA bersama pimpinan GAM pada bulan Februari 2011, dengan agenda pembahasan Cagub yang akan diusung PA, mayoritas pimpinan KPA menolak adanya penunjukan secara langsung Cagub oleh Pimpinan GAM, Malik Mahmud. “Kami bersikeras memberi masukan dan mempertanyakan kenapa dua pimpinan GAM diputuskan untuk menjadi Calon Gubernur yang merupakan wakil pemerintah RI di Aceh,” jelas Muksalmina.

    Namun, dalam perjalanan proses demokrasi tersebut, lanjutnya, pimpinan wilayah Batee Iliek, Saiful alias Cagee malah tertimpa musibah, ditembak. Padahal, Ia adalah salah satu Pimpinan Wilayah yang getol mengajak untuk lakukan diskusi ulang mengenai pencalonan gubernur Aceh tersebut.

    “Dr. Zaini Abdullah yang bertugas sebagai menteri luar negeri GAM dan Muzakkir Manaf sebagai ketua KPA pusat, yang mana mereka berdua sebagai simbolnya perjuangan GAM dan pimpinan tertinggi dari GAM, sangat tidak layak dicalonkan sebagai gubernur dan wakil gubernur.”

    Muksalmina menjelaskan, penolakan ini lebih daripada kedua tokoh ini merupakan tokoh kunci perdamaian dan hal ini, katanya, menjadi sangat penting, agar para pihak tetap dapat berunding untuk memperbaiki implementasi MoU Helsinki yang termasuk dalam kategori dispute (yang belum diamandemen/revisi oleh pemerintah RI kedalam UUPA).

    “Nah, ketika masukan daripada wilayah tidak diakomodir oleh pimpinan, kami merasa sangat kecewa, karena disaat perang kami selalu berprinsip, suksesnya diplomasi politik pimpinan GAM di swedia adalah karena adanya GAM dan TNA di hutan,” lanjutnya lagi.

    Ia menambahkan, bertahannya TNA dan GAM di hutan, karena adanya bantuan dari masyarakat. Jika ketiga sistem itu tidak berjalan, mungkin perdamaian tidak akan lahir seperti yang dirasakan saat ini.

    “Kami yang bergerilya di hutan sudah terbukti sanggup mempertahankan perjuangan. Milad yang sudah dilakukan sampai seterusnya, merupakan bukti bahwa GAM dan TNA tidak kalah dalam berperang. Kalau kalah dalam berperang, sudah pasti GAM dan TNA tidak dapat melaksanakan milad tersebut,” tambah Muksalmina.

    Muksalmina mengaku keinginannya dan kawan-kawan tidak dihargai karena tidak adanya pelibatan dalam pengambilan keputusan politik praktis yaitu untuk mencalonkan Gub dan Wagub.

    “Keputusan itu diambil tanpa musawarah,” ujarnya.

    “Yang kami tahu, dalam sumpah (bai’at), tidak pernah tersebut GAM akan membuat partai, mencalonkan diri untuk menjadi anggota legislatif dan eksekutif baik di provinsi maupun kab/kota. Karena tidak ada dalam bai’at tersebutlah kami merasa hal itu harus diputuskan dalam musyawarah bersama yang melibatkan semua wilayah.”

    Katanya, sangatlah aneh ketika perdamaian, lahir kategori pemecatan. Tapi Muksalmina menjelaskan, tidak merisaukan terhadap bahasa pemecatan atau klaim pengkhianat.

    “Karena yang kami lakukan saat perang bukanlah untuk pimpinan tetapi untuk rakyat Aceh,” akhirinya. [Release]

    Source : Acehcorner.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Partai Aceh Tak Ditinggal Mantan Panglima GAM

    Banda Aceh, Kompas – Pengurus Pusat Partai Aceh membantah klaim kubu Irwandi Yusuf dan Sofyan Dawood bahwa ada 15 mantan Panglima Wilayah Gerakan Aceh Merdeka yang telah membelot dan sepakat membentuk partai baru untuk melawan Partai Aceh. Dari 15 panglima tersebut, hanya empat orang yang telah dipecat dan tidak loyal, selebihnya masih loyal dengan Partai Aceh.

    ”Klaim itu tidak benar. Mereka hanya melebih-lebihkan. Dari sejumlah orang yang diklaim oleh Sofyan Dawood itu justru tak diundang di Hermes dan namanya diklaim begitu saja. Kami sudah bertanya kepada Abu Sanusi (mantan Panglima Wilayah GAM Aceh Timur) dan Abu Yus (Meulaboh). Mereka tak tahu-menahu,” kata pengurus pusat Partai Aceh, Muhammad Kautsar, yang juga Sekretaris Jenderal Tim Pemenangan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur dari Partai Aceh Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, Jumat (17/2).

    Seperti diketahui, mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf bersama sejumlah mantan Panglima Wilayah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyatakan akan membentuk partai politik baru. Par- tai tersebut ditujukan untuk melawan Partai Aceh yang telah memecat mereka dari struktural.

    Mantan juru bicara Pimpinan Pusat GAM Sofyan Dawood menyebutkan, ada 15 dari 17 mantan Panglima Wilayah GAM yang sudah setuju bergabung dengan partai baru tersebut nantinya. Dari 15 panglima itu, tiga di antaranya sudah kembali ke Partai Aceh.

    Kautsar mengatakan, dari 15 panglima yang disebut Sofyan Dawood, hanya ada empat mantan panglima yang diberhentikan dari Partai Aceh. Mereka adalah Panglima GAM Wilayah Sabang Ayah Merin, Muharam Idris (Aceh Rayeuk), Bachtiar Sarbini (Aceh Jaya), dan Saiful Cage (Bireuen). Mereka, ujarnya, dipecat karena alasan politik dan kriminal. (HAN)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Partai Aceh Kian Terancam Pecah

    Jakarta, Kompas – Eks Gerakan Aceh Merdeka yang menjadi elemen utama dalam Partai Aceh kian terancam perpecahan. Sejumlah mantan panglima wilayah GAM kini membentuk partai politik baru bersama calon Irwandi Yusuf.

    Dalam rapat di Banda Aceh, Kamis (16/2), sejumlah mantan panglima wilayah GAM dan ratusan mantan pimpinan militer GAM sepakat membentuk partai baru, setidaknya sebelum Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) Aceh pada 9 April 2012. Rapat itu dihadiri mantan anggota GAM Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh yang kini mencalonkan diri kembali, dan mantan Juru Bicara GAM Sofyan Dawood.

    Sofyan menuturkan, dengan terbentuknya parpol baru, diharapkan dapat memperbaiki segala sesuatu yang tidak dapat dilakukan Partai Aceh sebagai parpol lokal yang menjadi wadah mantan eks kombatan.

    ”Para panglima ikut dari awal pembentukan partai itu (Partai Aceh). Namun, partai lalu berjalan tak sesuai aturan. Hingga akhirnya kami dipecat. Bukan mengundurkan diri,” katanya.

    Dari 17 mantan panglima GAM, 15 di antaranya dipecat dari Partai Aceh. Alasan pemecatan karena mendukung Irwandi Yusuf sebagai calon gubernur dalam Pilkada 2012. Namun, tiga di antaranya kembali ke Partai Aceh, yakni Abu Yus (Meulaboh), Abdul Rahman (Aceh Barat Daya), dan Nurdin (Simeulue).

    ”Jadi, 70 persen mantan panglima GAM bergabung dengan kami,” kata Sofyan. Ada dua wilayah yang menolak bergabung dengan kelompok ini, yaitu wilayah GAM Aceh Utara dan Pidie.

    Dengan membentuk partai baru itu, Sofyan mengakui, akan ada perpecahan di tubuh eks GAM. ”Kalau dikatakan pecah, bisa iya. Dikatakan tidak, bisa tidak. Partai Aceh bukan GAM. Namun, dalam Partai Aceh ada GAM. Begitupun kami nantinya,” paparnya.

    Juru Bicara Tim Sukses Irwandi, Linggadinsyah, menyatakan, 12 mantan panglima GAM yang bergabung dalam partai baru adalah Muharam Idris (Aceh Rayeuk), Ayah Merin (Sabang), Bachtiar Sarbini (Meurhom Daya), Abrar Muda (Tapaktuan), Nurdin (Singkil), Win Kaka (Aceh Tenggara), Panji (Gayo Lues), Aman Begi (Aceh Tengah), Ramdana (Bener Meriah), Helmi (Tamiang), Abu Sanusi (Peurlak), dan Saiful Cage (Bireuen). Namun, Saiful meninggal tertembak beberapa saat lalu.

    Juru Bicara Partai Aceh Fachrul Razi membantah ada perpecahan di tubuh partainya. Dukungan dari mantan panglima GAM masih solid.

    Masuknya tiga jenderal purnawirawan TNI ke Partai Aceh dalam Pilkada Aceh 2012, kata Fachrul, tidak memengaruhi soliditas partainya. Ketiganya adalah Mayor Jenderal (Purn) Sunarko dan Mayjen (Purn) Djali Yusuf, keduanya mantan Panglima Kodam Iskandar Muda, serta Mayjen (Purn) Sulaiman AB, mantan Komandan Detasemen Polisi Militer. ”Masuknya mereka menunjukkan Partai Aceh itu terbuka,” katanya.

    Dari Jakarta, Kamis, dilaporkan, pemerintah pusat dan DPR akan langsung mengawasi Pilkada Aceh. Kesepakatan ini diambil saat rapat konsultasi Tim Pengawas Pelaksanaan Otonomi Khusus Papua dan Aceh DPR dengan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, Kepala Badan Intelijen Negara Marciano Norman, Ketua Komisi Pemilihan Umum Hafiz Anshari, anggota Badan Pengawas Pemilu Wahidah Suaib, serta wakil Pemerintah Provinsi dan DPR Aceh di Jakarta. (han/nta)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Vitamin Politik Partai Aceh

    RASA lega dan puas para kader Partai Aceh (PA) seketika muncul pascaputusan Mahkamah Konstitusi (MK), yang memerintahkan Komisi Independen Pemilihan (KIP) membuka kembali pendaftaran calon dan pemungutan suara pilkada diundur paling lambat hingga 9 April 2012.

    Tak seperti sebelumnya, kali ini PA mendukung penuh putusan MK tersebut. Alhasil, stabilitas politik pun terwujud, walaupun nantinya bukan tidak mungkin muncul gesekan-gesekan baru lagi. Politik selalu diselimuti passion.

    Gairah politik PA tampak dengan mendaftarnya semua kandidat yang diusung di seluruh kabupaten/kota di Aceh, termasuk untuk kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur. Walaupun sebelumnya PA mempermasalahkan adanya calon independen karena dianggap tidak sesuai dengan amanah MoU Helsinki, namun kini PA justru tidak lagi getol menentangnya. Pendaftaran dibuka kembali, pilkada ditunda, itu sudah cukup memuaskan.

    Stabilitas politik
    PA mempunyai peranan kunci atau pengaruh yang cukup besar terhadap stabilitas politik di Aceh. Sekalipun hanya partai lokal, tetapi dengan bargaining power dan basis dukungan yang cukup besar –walaupun banyak pihak menganggap sudah agak merosot– terbukti bahwa manuver-manuver politik PA dapat memengaruhi situasi secara keseluruhan.

    Jadi, sebagai salah satu kekuatan politik yang cukup diperhitungkan, maka bukan sesuatu yang mengherankan apabila dibukanya pendaftaran kedua demi mengakomodir kontestan-kontestan dari PA, yang sebelumnya enggan mendaftar dipilih oleh para regulator untuk menstabilkan situasi.

    Jika memang di kemudian hari tidak ada yang “gatal tangan” untuk mengeruhkan suasana, maka besar kemungkinan pilkada akan berlangsung –terutama pada masa kampanye– dengan persaingan ketat tapi berhawa harmonis. Artinya, Pilkada sebagai ajang perebutan kekuasaan memang kerap diiringi dengan persaingan sengit namun yang paling penting adalah persaingan tersebut dijalankan secara sehat.

    Dibukanya kembali pendaftaran akhirnya berujung pada ditundanya jadwal pemungutan suara untuk kesekian kalinya. PA pun mengapresiasi putusan ini dan menyatakan siap mendukung agar pelaksanaannya berjalan baik dan demokratis. Kendati demikian, rasa puas ini seharusnya dibuang dulu jauh-jauh oleh para kader PA.

    Sikap malu-malu tapi mau yang ditampilkan membuat publik beranggapan PA kurang berkonsistensi terhadap keputusan politiknya. Ketika awalnya keputusan untuk tidak mendaftar dalam pilkada karena dinilai cacat hukum dan demi menjaga “marwah Aceh” dipilih menjadi sikap politik, sikap “berani” tersebut memang harus diberi dua jempol.

    Tapi kini PA telah melunak. Dalam politik, sikap idealis memang harus dikirkan ulang. Jika PA memang idealis, tentu tidak ada berkas pendaftaran dari kandidat yang diusung masuk ke KIP. Padahal calon independen masih tetap disertakan, malah bertambah lagi sejak dibukanya pendaftaran kedua. Kalkulasi untung-rugi tampaknya telah mengubah sikap PA. Rasionalitas lebih dikedepankan ketimbang sentiment-sentimen politik.

    Kehilangan simpati publik
    Sebenarnya, keputusan PA untuk “menjilat ludah sendiri” tak serta-merta harus dipandang sinis. Memang imbas buruknya terhadap image PA sangat jelas atas ketidakkonsistenan mereka pada sikap yang pernah diperlihatkan sebelumnya. Ini bisa saja akan melemahnya dukungan terhadap satu-satunya partai politik lokal yang masih survive dalam arena politik ini. Kehilangan simpati publik memang hal yang sangat menyakitkan.

    Namun, mendaftarnya PA dalam Pilkada telah menurunkan suhu panas atmosfer politik Aceh. Ketika PA tak lagi mempersoalkan adanya kontestan dari jalur independen, fakta bahwa situasi berubah stabil seketika. Masing-masing pihak, baik kontestan dari parpol maupun jalur indepenpen, akan lebih fokus pada persoalan bagaimana meraup dukungan sebanyak-banyaknya menjelang kampanye dan pemungutan suara, untuk memenangkan persaingan.

    Persoalan berat yang harus segera diperbaiki adalah meningkatkan kembali rasa percaya masyarakat yang mulai tergerus akibat minimnya prestasi politik PA selama ini. Berbagai janji yang pernah diumbar pada Pemilu 2009 lalu memang lebih banyak menjadi asap atau hanya sekedar –memakai istilah Badrawi– polipstik atau lips service.

    Jargon-jargon atau janji-janji politik ketika kampanye dulu, di kemudian hari akhirnya menjadi senjata makan tuan atau boomerang karena tak mampu direalisasi. Maka tak heran, saat ini, di kampung-kampung pedalaman sekalipun, ada orang-orang yang merasa kecewa dan memberikan komentar sinis terhadap PA.

    Kemudian, sekarang ditambah lagi dengan sikap plin-plan PA terkait pilkada. Semua faktor yang membuat publik berpandangan sinis harus segera diperbaiki dengan cara-cara cerdas dan persuasif kalau memang ingin tak hanya sekadar menyukseskan jalannya pilkada, melainkan juga sukses keluar sebagai sang juara.

    Sekalipun PA tidak plin-plan dalam Pilkada alias tetap kokoh pada pendiriannya untuk tidak mendaftar, itu juga akan menimbulkan efek buruk lainnya, yang bukan tidak mungkin akan semakin merugikan PA di Pemilu 2014 nanti. Dengan tidak ikutnya PA dalam Pilkada, bisa saja para kontestan lainnya akan bermanuver untuk merebut hati atau dukungan para konstituen PA.

    Peluang dekatkan diri
    Dengan berbagai pertimbangan, keputusan untuk mendaftar, sekali pun dicap telah menjilat ludah sendiri, setidaknya telah menghindari PA dari imbas buruk yang berjangka panjang. Dalam situasi politik yang tentram seperti saat ini, peluang bagi PA untuk mulai mendekatkan diri lagi pada masyarakat dan tidak hanya sibuk mengurusi persiapan menjelang pilkada.

    Penyusunan program kerja dan visi-misi para kontestan yang diusung tidak lagi relevan dengan hanya mendengar curhat satu atau dua orang saja, melainkan turun langsung ke arena dan melihat dengan mata kepala sendiri, mendengar langsung dengan telinga sendiri, atas berbagai persoalan yang dialami masyarakat luas, terutama di daerah pedalaman.

    Berbagai kritikan pedas dari semua pihak, termasuk dari tulisan ini, harus dijadikan suatu penghasil energi baru bagi PA untuk berbenah dari segala keburukan dan kegagalan. Para kader PA boleh saja membela diri kalau mereka tidak gagal, namun yang paling berhak menilai baik-buruk serta sukses-gagal kinerja PA adalah masyarakat. Karena itu, kritikan ini harus dijadikan vitamin oleh PA, bukan sesuatu yang harus dianggap meulanggeh.

    * Oleh Bisma Yadhi Putra, Penulis adalah Aktivis Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat/Mahasiswa Prodi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe.

    Source : Serambi Indonesia

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • PDI Perjuangan Dukung Calon Gubernur Partai Aceh

    Banda Aceh, (Analisa). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Aceh memutuskan untuk memberikan dukungan bagi calon Gubernur/Wakil Gubernur, Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf yang diusung Partai Aceh (PA) dalam pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) 9 April 2012 mendatang.
    Dukungan tersebut diberikan karena pasangan perjuangan dan perdamaian ini dinilai para kader partai berlambang kepala banteng gemuk moncong putih itu, selama ini konsisten dalam memperjuangkan implementasi UU No. 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UU-PA) untuk memberikan kesejahteraan dan perdamaian bagi rakyat Aceh.

    Pernyataan dukungan secara resmi tersebut, diputuskan dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) III PDI-P Aceh yang dihadiri 21 dari 23 Ketua DPC se-Aceh dan pengurus DPD, Sabtu dan Minggu (4-5/2) di Banda Aceh.

    Surat pernyataan dukungan telah diserahkan Ketua DPD PDI-P Aceh, Karimun Usman kepada Ketua Tim Kampanye Pemenangan Cagub Partai Aceh, Atqia Abubakar didampingi Sekretaris Hamdan Budiman di Kantor Sekretariat DPD di Jalan Mr Muhammad Hasan, Batoh, Banda Aceh.

    “Kami menilai Partai Aceh paling konsisten memperjuangkan UU-PA, makanya kami mendukung penuh untuk memenangkan pasangan Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf dalam Pilkada mendatang,” ujar Ketua DPD PDI-P Aceh, Karimun Usman kepada wartawan di Banda Aceh, Sabtu (4/2).

    Zaini Abdullah merupakan mantan Menteri Luar Negeri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang cukup lama mengasingkan diri di Swedia dan juga tokoh yang terlibat dalam perundingan damai hingga penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) damai RI-GAM di Helsinki, Finlandia 15 Agustus 2005.

    Sedangkan Muzakkir Manaf merupakan mantan Panglima Angkatan Bersenjata GAM yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh dan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA).

    Cukup Signifikan

    Karimun Usman menambahkan, dirinya melihat apa yang telah diperjuangkan selama ini oleh Partai Aceh dalam upaya mempertahankan dan menjalankan UU-PA cukup signifikan. PDIP Aceh, ingin membuktikan kalau selama ini beredar isu di level daerah bahwa partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu tidak sependapat dengan MoU Helsinki dan UU-PA, justru salah.

    Sebenarnya PDI-P lah yang menjadi pioner dalam mendukung terwujudnya UU-PA yang harus dipertahankan sampai kapan pun. “Kami tetap terdepan untuk memperjuangkan UU-PA agar berjalan diatas rel on the track untuk membangun Aceh lebih baik lagi ke depan,” tegasnya.

    Dalam kaitan ini, diminta agar para Ketua DPC se-Aceh turut aktif berupaya memenangkan pasangan Zaini-Muzakkir, dengan segera menyelesaikan konsolidasi partai di daerah, sebab pemilih terbanyak ada di desa dan kecamatan.

    Sementara Ketua Tim Kampanye Calon Gubernur/Wakil Gubernur Partai Aceh, Atqia Abubakar menyatakan rasa simpati yang mendalam terhadap dukungan yang diberikan PDI Perjuangan Aceh, sehingga optimistis pasangan Zaini-Muzakir dapat meraih suara terbanyak pada Pilkada mendatang.

    “Saat ini, selain PDI-P, cukup banyak partai-partai nasional dan lokal yang mendukung pasangan Zaini-Muzakkir, juga dari berbagai kalangan tokoh masyarakat, intelektual, pemuda dan lainnya,” jelas Atqia. (mhd)

    Source : Harian Analisa

    Posted with WordPress for BlackBerry.