Kisah “Hutang Budi” Jokowi di Media Sosial

JAKARTA – Pasangan Joko Windodo – Basuki Tjahja Purnama (Jokowi-Basuki) resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta (15/10). Melihat kebelakang, tim sukses Jokowi-Basuki ternyata melancarkan sejumlah kampanye dengan mengandalkan media sosial.

Jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan YouTube nampaknya memiliki fungsi lebih dalam menggiring opini publik untuk mencitrakan salah satu kandidat dalam pertunjukan politik yang tengah digelar. Tim kampanye pasangan Jokowi – Basuki menerapkan strategi tersebut, dan nampaknya ampuh dalam mendorongnya menjadi pemenang dalam Pilkada DKI 1. Continue reading

Sosial Media di Mata Jokowi

TEMPO.CO, Jakarta–Calon gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo menyatakan pentingnya sosial media dalam kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta. Sosial media bisa menjadi alat membangun persepsi serta ajang meluruskan beragam informasi yang simpang siur.

“Ini kan di sini membangun persepsi yang paling penting kan membangun persepsi. Jadi kalau ada yang bengkok harus diluruskan. Ini tugasnya media sosial,” kata Jokowi dalam pertemuan dengan relawan sosial media Jokowi-Ahok di Menteng, Sabtu, 25 Agustus 2012. Menurut ia, pada era sekarang ini, semua warga Jakarta pasti aktif dalam media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Kaskus.

Continue reading

Jokowi-Ahok Paling Populer di Media Sosial

TEMPO.CO, Jakarta – Calon Gubernur-Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, menjadi kandidat yang paling sering disebut atau muncul di media sosial selama empat pekan terakhir. Sedangkan pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli mengekor di peringkat kedua.

Data ini merupakan hasil survei yang dilakukan oleh Politicawave terhadap enam media sosial, yaitu Twitter, Facebook, blog, forum online, berita online, dan YouTube. Pasangan cagub independen, Faisal Basri dan Biem Benjamin, menempati peringkat ketiga dan Alex Noerdin-Nono Sampono berada di peringkat keempat. Pasangan Hidayat Nur Wahid- Didik J Rachbini bertengger di peringkat kelima. Hendardji Soepandji dan Ahmad Riza Patri berada di peringkat keenam.

Direktur PoliticaWave, Yose Rizal menyatakan hasil survei popularitas cagub/cawagub di media sosial ini bisa menggambarkan persepsi masyrakat mengenai para kandidat tersebut. “Ini merefleksikan suara masyarakat, suara rakyat bisa tercermin di media sosial,” kata Yose di Jakarta, Jumat, 13 Juli 2012.

Menurut Yose, hasil surveinya yang tidak banyak berbeda dengan hasil perhitungan cepat sehingga membuktikan sosial media bisa menjadi alat untuk merefleksikan keinginan masyarakat. Ia mengelak jika responden yang mewakili hasil surveinya hanya mewakili warga kelas menengah.

“Toh, sekarang warga kelas bawah juga sudah banyak memiliki telepon selular yang bisa mengakses media sosial,” katanya.

Pengamat politik, Jaleswari Pramodhawardani, menilai media sosial sebagai sebuah wadah pelampiasan kebutuhan untuk berbicara. “Facebook, Twitter menjadi katarsis atau pelampiasan kebutuhan untuk bicara. Perbincangan di wilayah publik bisa menjadi sebuah percakapan sehat jika dituntun oleh isu yang mencerdaskan kita,” katanya.

Source : Tempo.co

Media Sosial Bisa Petakan Pilkada DKI Jakarta

VIVAnews – Pilkada DKI Jakarta 2012 putaran pertama berdasarkan hasil quick count berbagai lembaga survei menempatkan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama sebagai pemenang.

Bersama calon incumbent Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang menepati posisi dua, mereka akan bertarung di putaran kedua Pilkada DKI 20 September 2012.

Lembaga pemantau media sosial, PoliticaWave, menyatakan jika aktivitas di jejaring sosial dapat memetakan dan memprediksi siapa yang nantinya bakal menjadi gubernur terpilih. Setidaknya, poin itu terbukti di putaran pertama.

“Survei popularitas cagub dan cawagub di media sosial ini dapat merefleksikan suara masyarakat. Jadi suara rakyat bisa tercermin di media sosial,” kata Direktur PoliticaWave, Yose Rizal, di Jakarta, Sabtu 14 Juli 2012.

Yose mengemukakan dalam survei PolitivaWave di enam jejaring sosial, yaitu Twitter, Facebook, blog, forum online, berita online, dan YouTube, Jokowi-Ahok menjadi kandidat yang paling sering disebut oleh pengguna media sosial menjelang Pilkada DKI Jakarta putaran pertama. Sementara Foke-Nara menempati urutan kedua.

Selanjutnya Faisal Basri-Biem Benjamin, Alex Noerdin-Nono Sampono, Hidayat Nur Wahid-Didik J. Rachbini, dan Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patri menempati urutan berikutnya secara berurutan.

PoliticaWave telah memantau dukungan para kandidat melalui enam media sosial itu sejak 1 Mei 2012. Pengukuran tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga kualitatif. “Kami analisis makna conversation, mendukung atau kontra terhadap kandidat. Lalu apakah bernada sentimen positif, negatif, atau netral,” papar Yose.

Yose menyebut bahwa para pengguna enam media sosial itu tidak melulu kelas menengah ke atas. Dalam perkembangannya, kalangan menengah ke bawah juga sudah mulai merambah dunia ini.

Berdasarkan data yang dikumpulkan PoliticaWave, pengguna internet sudah melebar dengan adanya smartphone dengan harga terjangkau. “Pulsa unlimited juga turut meningkatkan pengguna internet. Dengan demikian kelas menengah punya pengaruh yang besar dalam interaksi itu,” jelas Yose.

Praktisi sosial media, Arif Zulkifli, menyimpulkan temuan PoliticaWave itu mematahkan dua asumsi yang berlaku di sosial media selama ini. Pertama, twitter adalah dunia yang chaos dan tak terkontrol. Kedua, twitter adalah milik kelas menengah pengguna smartphone. Ketiga, twitter adalah media yang tidak dapat dibaca polanya.

“Berdasarkan validitas data-data PoliticaWave, percakapan di sosial media tak jauh beda dengan pendapat umum yang berlaku di masyarakat,” kata Arif.

Source : Vivanews.com

Milad Komunitas @iloveaceh

Dalam rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Komunitas @iloveaceh ke-2, yang jatuh pada tanggal 23 Februari ini. Dengan ini kami mengajak rakan #ATwitLovers untuk ikut berpartisipasi dalam menyukseskan acara tersebut dengan teman “Aceh Lon Sayang, Rakan Meubahgia” yang bertempat di Gedung ACC Sultan Selim II, Banda Aceh.

Adapun rangkaian acaranya #2thoniloveaceh:
• Donor Darah bersama PMI (Pukul 07.30 – 10.30 WIB)
• Seminar Teknologi & Sosial Media (Pukul 11.00 – 13.00 WIB)
• Mengenal @iloveaceh lebih Dekat (Pukul 14.00 – 15.30 WIB)
• Nonton Bareng Film Cut Nyak Dhien (Pukul 15.30 – 16.30 WIB)
• Stand Up Comedy (Pukul 17.00 – 17.30 WIB)
• #2thonIloveaceh Awards (Pukul 17.30 – 18.00 WIB)

Koordinator acara Banda Aceh :
@zarialgegem @xHDRx @Bzkara @86erz @fakhrulridha @cutemine @themieracle @jrule @Iqbal_Mhd @nazliza (0852 6077 3969)

Donasi untuk acara bagi #ATwitLovers bisa lewat No. Rek:
BNI (a.n. Nazliza 0180539089)
Bank Mandiri (a.n. Yuliansyah 120-00-0558084-5)

Koordinator acara Jakarta :
085716728786 Deni / @deni_m_abrar
082111502026 Wanti / @wanti_one
085261333030 Yulyansyah / @yulyansyah

Ingin membaca proposal dan detail acara #2thoniloveaceh bisa diunduh dislideshare.net/iloveaceh

Pembicara Seminar:
> Prof. Dr. Ir. Yuwaldi Away, M.Sc (Dishubkomintel)
> Teuku Farhan (Koordinator MIT Indonesia)
> T. Raja Muda Darma Bentara (Penggiat Komunitas Blogger Aceh)
> Fadli Idris (IT Consultant dan Web Developer)
100 orang pertama seminar akan mendapatkan sertifikat

Sesi @iloveaceh juga akan diisi oleh:
> @teguhpatria (Media radio/cetak – Serambi FM/Serambi Indonesia)
> @hijrahheiji (Wirausaha – Mister Piyoh/Piyoh Design)
> @fakhrurrazi (Akademisi – Pemilik blog Siwah Edutainment)
> @FadhilAchyari (Duta Wisata – Agam Inong Aceh 2011)
> Perwakilan luar Aceh (#ATwitLovers dari Jakarta/Medan/Bandung)*

Mater of Ceremony: Tere dan Rudy, turut dimeriah juga penampilan Komunitas Drumer dan Perkusi (KODA), nonton bareng film jejak sejarah Pahlawan Wanita, Cut Nyak Dhien serta guyonan yang siap mengocakkan perut Anda lewat Stand Up Comedy.

Semua sesi acara GRATIS. Informasi kuis dan lomba akan update hanya di linimasa.

Data dari Media Sosial Harus Tetap Diverifikasi

Jakarta, Kompas – Keberadaan media sosial, seperti Facebook dan Twitter, adalah tantangan besar bagi media massa konvensional. Dengan makin banyaknya informasi melalui media sosial yang ditulis oleh siapa saja, wartawan pun dituntut untuk jeli memilih informasi itu, dan tetap memverifikasi data itu kepada narasumber.

”Ini persoalan serius bagi media konvensional yang tidak bisa menghindar dari badai media sosial. Semua orang bisa menjadi publisher melalui akunnya sehingga banyak informasi yang menyerbu dan orang menjadi bingung. Silakan mengambil atau mengintip media sosial, tetapi dengan beberapa syarat karena itu hanya data, belum menjadi informasi,” kata Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun dalam pemaparan hasil survei penggunaan konten media sosial yang dilakukan Dewan Pers di Jakarta, Jumat (17/2).

Indonesia adalah negara pengguna media sosial dengan peringkat tinggi di dunia. Pada Januari 2012, orang Indonesia yang memiliki akun Facebook sebanyak 43,1 juta orang, lebih tinggi dibandingkan Brasil. Namun, lebih rendah daripada India, yang tahun ini melampaui Indonesia.

Terkait perkembangan ini, Dewan Pers mengadakan survei untuk mengetahui kecenderungan penggunaan konten media sosial dalam peliputan dan produksi berita oleh wartawan. Survei diadakah pada 29 November 2011-3 Februari 2012, melibatkan 157 responden yang semuanya berprofesi wartawan.

Anggota Dewan Pers, Uni Lubis, memaparkan, dari survei itu diperoleh hasil, sebanyak 96 persen responden memiliki akun Facebook, 67 persen memiliki akun Twitter, 40 persen memiliki blog/Wordpress, 22 persen memiliki Linkedin, dan lain-lain (9 persen). Sebanyak 76 responden menjawab informasi di media sosial dipakai sebagai sarana memantau, 46 persen sebagai sumber ide berita, dan mencari narasumber 31 persen.

Sebanyak 75 persen responden menjawab selalu melakukan verifikasi ulang dengan mengontak orang yang pesannya dikutip di media sosial. Sebanyak 14 persen responden mengaku sebagian yang diverifikasi ulang. (lok)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Media Sosial, Bentuk Perlawanan Publik untuk Perubahan

Media sosial seperti Facebook dan Twitter telah menjadi perangkat penting bagi gerakan sosial. Medium ini dianggap mempunyai efektivitas besar untuk menjaring dukungan massa bagi gugatan kepada sistem ataupun tuntutan atas perubahan.

Aksi dukungan kepada dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi periode lalu, Bibit Samad Rianto-Chandra M Hamzah, dan ”koin keadilan” bagi Prita Mulyasari merepresentasikan dua gugatan terhadap sistem, yaitu rasa tidak puas dan tersumbatnya saluran publik. Saat Bibit-Chandra ditahan polisi pada Oktober 2009, publik merespons dengan menggalang 1,3 juta dukungan melalui Facebook. Dukungan itu menjadi representasi perlawanan publik terhadap ketidakadilan praktik hukum.

Solidaritas publik juga ditunjukkan pada gerakan pengumpulan uang receh bagi Prita Mulyasari yang digugat karena dituduh mencemarkan nama baik RS Omni. Curahan hati Prita seputar layanan kesehatan RS Omni melalui surat elektronik menuai denda Rp 204 juta. Jalan panjang Prita mencari keadilan menyebar lewat Facebook dan segera menarik simpati masyarakat. Publik merepresentasikan nuraninya yang ditohok oleh ketidakadilan hukum dengan wujud aksi solidaritas. Aksi itu berhasil mengumpulkan uang Rp 810 juta. Simbolisasi uang receh yang digunakan untuk membantu Prita menjadi bagian dari bahasa perjuangan rakyat jelata menghadapi pihak yang berkuasa.

Selain ketidakpuasan publik, kedua gerakan sosial tersebut menjadi metafora gugatan terhadap tidak lancarnya saluran aspirasi masyarakat. Publik lebih percaya pada media sosial untuk menyalurkan suaranya dibandingkan dengan lembaga perwakilan seperti DPR atau DPRD yang dinilai lemah dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Bukannya menyuarakan aspirasi masyarakat dan mengawasi kinerja pemerintah, lembaga ini lebih sering terlibat skandal korupsi bersama-sama dengan aparat birokrasi.

Dalam konteks masyarakat saat kanal aspirasi disumbat dan pengabaian ketidakpuasan publik terus-menerus terjadi, sama artinya dengan memicu gerakan massa yang kerap kali merupa- kan pilihan tak terelakkan. (Andreas Yoga/ Litbang Kompas)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Indonesia Social Media Outlook 2011: “Five Big Shift in 2011 and Beyond”

Minggu lalu saya sharing di teman-teman FreSh dalam sebuah diskusi hangat bertajuk “Indonesia Online Business Outlook 2011” di Gedung Telkom Jl. Gatot Subroto. Di situ saya sharing mengenai Consumer 3000 yang saya elaborasi sedikit, implikasinya bagi bisnis online di Indonesia. Saya bilang di situ bahwa salah satu karakteristik penting dari Consumer 3000 adalah bahwa mereka semakin technology savvy dan “social media freak”. Thanks to the internet, dengan munculnya social media tool seperti Twitter dan Facebook yang supermurah, supermudah, dan superpowerful, konsumen kita semakin gampang mengadopsi beragam produk konsumsi berteknologi.

Dalam forum itu saya mengintroduksi munculnya lima pergeseran besar dalam lanskap bisnis online dan social media di Indonesia. Pergeseran ini tak terelakkan lagi merupakan dampak dari “gempa tektonik” (yang dikuti “tsunami”) perilaku konsumen Indonesia sebagai akibat munculnya Consumer 3000. Berikut ini adalah pergeseran-pergeserannya di tahun 2011.

#1. Social Media Euphoria Is Over. It’ll Become a Basic Needs
Yup!!! selama tiga-empat tahun terakhir blog, Facebook, Twitter telah menjadi hype dan eforia luar biasa di Indonesia. Ia menjadi sebuah gerakan massa. Orang beramai-ramai membuka akun Facebook atau Twitter agar tidak disebut jadul atau gaptek; agar disebut keren dan cool. Bermodal “update status” saja sudah cukup, nggak penting berderet fitur yang lain, yang penting bisa ngomong ke teman-teman bahwa mereka sudah menjadi “Facebook freak” atau “Twitter freak”. Di masa eforia, Facebook dan Twitter menjadi alat ekspresi diri, untuk menunjukkan “siapa aku”.

Kini masa eforia itu sudah lewat. Punya akun Facebook dan Twitter kini sudah tidak lagi keren atau sesuatu yang wah… biasa saja.  Lalu apa akibatnya? Facebook dan Twitter tidak lagi alat ekspresi diri, tak lagi alat nampang. Penggunaan Facebook dan Twitter memasuki fase kematangannya, yaitu mengarah ke fungsi (functionality) yang sesungguhnya. Konsumen Indonesia mulai menggunakan Facebook dan Twitter untuk berkoneksi dengan orang lain, berdiskusi, saling bertukar informasi, mencari berita terbaru, mendapatkan tips-tips, mencari informasi produk, mendapatkan referal sebelum melakukan pembelian, dan sebagainya. Tinggal tunggu waktu… social media will be a basic needs.

#2. iPad 500 Ribu Perak? Why Not!!!
Dulu kita tak bisa membayangkan ponsel harganya Rp. 200 ribu. Kini semua itu terwujud. Akankah tablet seperti iPad menjadi cuma 500 ribu perak? Tentu saja tidak. Apple tentu saja tak akan melego produk legendarisnya semurah itu. Tapi proses yang dialami ponsel di atas tak akan terelakkan lagi bakal dialami oleh iPad. Merek-merek murah lokal tiruan iPad yang dibikin di Cina bakal membanjiri pasar. Celakanya, merek-merek lokal ini bukanlah produk murahan yang asal dibikin, tapi merupakan produk value for money yang memiliki functionality tak kalah dari iPad tapi dengan harga jauh lebih murah. Celakanya lagi, di Indonesia akan ada begitu banyak smart value consumers yang akan membeli iPad tiruan ini. Di dalam konsep Consumer 3000, saya menyebut konsumen jenis ini sebagai: “Nexian Hunter”.

Kombinasi antara kuatnya permintaan (thanks to economies of scale) dan dorongan kompetisi antar iPad-iPad tiruan ini akan menggerus harga tablet ke titik yang sangat murah (hingga di bawah 1 juta perak, bisa-bisa cuma 500 ribu perak). Dan kalau hal ini terjadi, maka tablet akan menjadi mass product yang bakal dimiliki oleh semua lapisan masyarakat, tak terbatas hanya kalangan menengah dan atas. Persis seperti yang terjadi pada ponsel sekarang.

#3. Android Explosion
Kalau revolusi tablet terjadi, maka serta-merta revolusi “pasangannya” pun tak terhindarkan. Apa itu? Tak lain adalah revolusi pasar aplikasi (apps). Dan revolusi apps tersebut tak lain adalah revolusi Android. Kenapa Android? Karena di Android Market nantinya kita akan mendapatkan ribuan bahkan jutaan apps (mulai dari koran, majalah, buku, games, entertainment, radio-TV satelit, video … apapun) secara gratis. Ingat, gratis adalah sesuatu yang paling disukai konsumen kita (…yup, kualitas apps adalah masalah ke sekian, yang penting gratis!!!). Dan kalau hal ini yang terjadi, maka benar kata Telkom bahwa “the world is in your hand”. Apapun bisa kita dapatkan melalui gadget di tangan kita. Dan gadget di tangan itu tak lain adalah tablet yang di dalamnya berisi jutaan apps yang memudahkan, menghibur, mewarnai, dan memperindah hidup kita. Tinggal tunggu waktu saja… hidup kita bakal “dikuasai” oleh Android.

#4. From “Broadcasting” to “Connecting”
Kalau di tingkat konsumen, social media semakin menjadi basic needs, maka di tingkat produsen para brand manager pun mulai menggunakan social media pada tempatnya, dan menurut fungsi yang sesungguhnya. Tantangan terbesar bagi brand manager dalam mengadopsi social media selama ini adalah merubah mindset mereka dari pendekatan vertikal atau “broadcasting” menjadi pemasaran horisontal atau “connecting”. Karena sudah sekian lama para brand manager ini menggunakan media “broadcasting” seperti TV, radio, dan koran/majalah, maka ketika muncul media baru, social media, mindset mereka tetap tidak berubah. Mereka menggunakan media baru tersebut untuk mem-broadcast pesan-pesan pemasaran ke konsumen.

Kini, setelah 3-4 tahun melalui “masa pembelajaran”, para brand manager (early adopter) mulai menyadari dan memahami bagaimana seharusnya menggunakan media baru tersebut. Mereka akan mulai menggunakan blog, Facebook atau Twitter untuk menciptakan connection (melalui conversation dan engagement) dengan konsumennya. Terdapat tren, kini semakin banyak brand yang menciptakan conversation melalui medium blog atau portal komunitas (lihat misalnya, brand pelumas Evalube dengan portal GilaMotor.com-nya; atau brand kosmetik Caring Colours dengan portal komunitas CaringCareer-nya). Tak hanya itu, mereka juga memanfaatkan Facebook dan Twitter sebagai channel untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Semua dilakukan bukan dengan pendekatan “broadcasting” tapi mulai mengarah ke “connecting”.

#5. The Birth of Millions of Social Media Entrepreneurs
McKinsey&Co. secara umum mendefinisikan kelas menengah (middle class) adalah mereka yang memiliki pendapatan “menganggur” (disposable income, yaitu pendapatan sisa di luar yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari) mencapai 1/3 dari keseluruhan pendapatan. Disposable income ini merupakan dana sisa yang siap diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk bisnis. Ketika sudah cukup banyak kelas menengah di Indonesia, menyusul tembusnya GDP/kapita $3000, maka disposable income ini akan cukup besar dan siap untuk diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk venture, termasuk masuk ke bisnis online berbasis social media.

Nantinya akan banyak profesional dan pekerja kantoran yang sudah cukup disposable income-nya akan nyambi menjadi entrepreneur dengan berinvestasi di bisnis online berbasis social media. Bahkan ketika sudah banyak contoh sukses entrepreneur muda kaya raya di negeri ini karena berbisnis online/social media (lihat sukses Koprol dibeli Yahoo!), maka akan semakin banyak orang kantoran ini yang memberanikan diri nyebur menjadi full-time social media entrepreneur karena iming-iming kesuksesan.

Kenapa social media entrepreneur? Karena bisnis berbasis social media menuntut investasi yang relatif murah tapi memiliki potensi luar biasa karena merupakan sunrise business sekaligus blue ocean business. Karena murah meriah, kini muncul tren para fresh graduate mulai tak tertarik menjadi pegawai atau profesional; mereka mulai berani mencoba pertaruhan menjadi social media entrepreneur. Karena itu saya memprediksi social media entrepreneur bakal boom dalam beberapa tahun ke depan.

Selamat Datang 2011.

Source: yuswohady.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

SENSUS DIGITAL: Ini 33 Merek Berpengaruh di Media Sosial

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 33 merek terkenal dan 8 tokoh berpengaruh menjadi jawara di media sosial yang diperoleh dari hasil sensus digital yang dihasilkan melalui mesin yang diberi nama Sistem Iklan Teknologi Teks Indonesia (SITTI).

“SITTI bekerja sama dengan Majalah SWA dan OMG Consulting memberikan penghargaan bagi ‘Indonesia Most Popular Brand in Social Media dan Indonesia Most Influential Personality in Social Media’, ini adalah ajang penghargaan bagi merek-merek danpersonality Indonesia paling populer di media sosial,” kata Andy Sjarief dari SITTI kepada wartawan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (14/12/2010) malam.

Menurut Andi, cara kerja SITTI terkait penghargaan 33 merek dan personality paling populer di media sosial, dengan menangkap 600 juta halaman situs dalam bahasa Indonesia, 8 juta akun Twitter dan komunikasinya, serta merekam sekitar 10 juta akun Facebook.

“Dari hasil tangkapan itu, kemudian dilakukan pemetaan pembicaraan. Jika pembicaraan menyangkut merek atau personality, dapat ditemukan kata apa saja yang paling tinggi frekuensinya ditulis di situs internet, Twitter, Facebook, dan media sosial lainnya. Setelah itu, dapat diukur seberapa besar relevansinya terhadap merek atau personality tersebut,” papar Andy.

Sementara menurut pemimpin Majalah SWA, Kemal Effendi Gani, kolaborasi dan penghargaan ini untuk pertama kali untuk memetakan fenomena perkembangan media sosial yang begitu pesat, terutama di Indonesia. “Perkembangan media sosial sangat luar biasa, banyak dari kita sudah mengetahuinya. Namun, bagi pemilik dan pengelola merek, seperti apa merek mereka dibicarakan dalam dunia digital? Juga benarkah suara para public figure, pengusaha, artis, dan pakar didengar di media sosial? Survei ini memetakan fenomena tersebut,” jelas Kemal.

Dalam survei digital ini, terdapat 33 kategori produk dan lebih dari 100 merek yang ditelusuri rekam jejaknya di dunia maya. Sebanyak 33 kategori ini mulai dari makanan, minuman, elektronik, oli, sepatu sampai otomotif. Selain produk, hasil survei mencatat sejumlah orang yang berpengaruh di ranah media sosial, terutama Twitter. Mereka berpengaruh di bidang tertentu yang mampu menggerakkan pengikutnya (follower) yang jumlahnya tak sedikit untuk menge-tweet.

Rene S Canoneo dari SITTI mengatakan, SITTI adalah sebuah inisiatif digital dari, oleh, dan untuk Indonesia. Sebagai sebuah mesin, SITTI berkemampuan untuk membaca dan memaknai lebih dari 600 juta halaman web berbahasa Indonesia sekaligus menangkap pembicaraan di dunia maya. “Penghargaan ini untuk menghormati para pengguna media sosial yang telah berhasil memaknai dunia digital. Keberhasilan mereka adalah kontribusi pertumbuhan usaha dan perkembangan dunia digital di Indonesia,” kata Rene.

Berikut hasil survei 33 Indonesia Most Favourable Brands in Social Media:

Minuman Isotonik-Vitazone, Pasta Gigi-Pepsodent, Kopi Bubuk-Torabika, Lemari Es-LG, Sampo-Sunsilk, Oli Pelumas-Castrol, Mobil-Toyota Avanza, Sepatu-Converse, Minuman Penambah Tenaga-Kuku Bima Ener-G, Kacang-Garuda, Sabun Mandi-Lux, Obat Sakit Kepala-Panadol, Leasing-FIF, Deodoran-Rexona, Televisi-Samsung, Motor-Honda, Lipstick-Maybelline, Kamera-Canon, Simcard GSM-IM3, Simcard CDMA-Esia, Rokok Putih-Marlboro Light, Rokok Mild-Sampoerna A Mild, Rokok Kretek-Sampoerna Hijau, Obat Batuk dan Flu-Decolgen, Laptop-HP, Biskuit-Oreo, Teh Kemasan-Frestea, Mi Instan-Indomie, Bank-BCA, Asuransi-Prudential, Maskapai Penerbangan Low Cost-Air Asia, Maskapai Penerbangan Full Service-Garuda Indonesia, Smartphone-Nokia

Hasil survei 8 Indonesia Most Influential Personality in Social Media:

Film – Hanung Bramantyo, Makanan – Bondan Winarno, Musik – Indra Lesmana, Olahraga – Bambang Pamungkas, Travel – Bondan Winarno, Fashion – Iwet Ramadhan, Gadget – Andrew Darwis Kaskus

Source: Kompas.com, 15 Desember 2010

“Social Media” Memudahkan Riset Produk

twitter logo

JAKARTA, KOMPAS.com — Social media rupanya tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan produk yang pada akhirnya akan meningkatkan penjualan. Namun, bagi produsen sendiri, social media bisa dimanfaatkan untuk melakukan riset produknya untuk menciptakan sebuah produk yang lebih baik. “Kami tidak perlu lakukan research lagi sekarang. Melalui social media, kami tahu respons konsumen beberapa saat saja setelah produk kami diluncurkan,” ucap Chief Marketing Officer Nexian Andy Jobs, Kamis (16/12/2010), dalam The Markplus Conference 2011, di Pacific Place, Jakarta.

Ia membandingkan ketika belum ada social media, sebuah perusahaan untuk mengevaluasi produknya harus melakukan sebuah riset dengan biaya yang cukup mahal. Hasilnya pun tidak bisa langsung diketahui, dua atau tiga bulan kemudian baru diketahui kelebihan atau kekurangan fitur di dalam produk.

Dengan adanya social media, ujar Andy, membantu perusahaan untuk memangkas biaya riset serta evaluasi produk dapat diketahui dengan cepat. “Evaluasi produk bisa diketahui dari komentar-komentar netizen, di mana kurangnya produk kami. Jadi menggantikan fungsi riset sebelumnya,” ungkap Andy.

Dengan adanya social media ini, Andy mengaku menjadi lebih mudah melakukan penetrasi pasar. “Soalnya selama ini, rupanya netizen sendirilah yang mengembangkan pasarnya di dalam komunitasnya. Mereka yang berbicara tentang produk,” ungkap Andy.

Oleh karena itulah, Nexian selalu memberikan budget lebih untuk aspek pengelolaan netizen. Namun, strategi komunikasi dengan netizen memang tidak boleh hanya dijalin di dunia maya karena pada dasarnya netizen merupakan citizen (masyarakat). Maka, strategi komunikasi melalui kampanye “Above The Line” pun masih perlu dilakukan untuk melengkapi strategi komunikasi ke netizen.

Social media, ungkap Andy, juga menjadi barang dagangan yang laris manis untuk dimasukkan dalam fitur ponsel. Namun, strategi ini sudah banyak diterapkan oleh banyak produsen sehingga social media menjadi barang yang generik. “Semua social media yang bisa jadi added value sekarang bahkan sudah jadi bahan generik, walaupun HP dengan harga ratusan pasti bisa Twitter-an atau Facebook,” tutur Andy.

Maka dari itu, Andy menyarankan bahwa produsen perlu melakukan sebuah inovasi pelayanan dengan menambahkan added value lain yang menarik konsumen. “Contohnya, kami membuat Nexian Messenger yang saat ini sudah ada 2 juta database profile, music databes profile berbasis DRM (digital rights management), dan lain-lain,” pungkas Andy.

?Penulis: Sabrina Asril ? ?Editor: Erlangga Djumena

Source: kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.