siwah.com

Category: Information Technology

  • Google Jadi Penyambung Lidah Rakyat Libya

    twitter with google voice

    KOMPAS.com – Perusahaan internet besar dari Amerika Serikat tampil menjadi “penyambung lidah rakyat” Libya, sebagaimana dulu dilakukannya saat rezim Presiden Mesir, Hosni Mubarak, memberangus sambungan internet. 

     

    Kini, Libya di bawah kuasa Presiden Moammar Khadafi juga memblokir layanan internet, antara lain situs jejaring sosial Twitter. Maka, Google pun berinisiatif meluncurkan layanan speak to tweet bagi rakyat Libya.

    Layanan itu memungkinkan rakyat Libya mengabarkan informasi tentang situasi di negeri itu kepada dunia luar. Caranya, mereka cukup menelepon ke beberapa nomor telepon yang disediakan Google.

    Selanjutnya, Google yang akan mengolah dan menyebarkan informasi itu melalui akun Twitter. Dan, seperti disiarkan TV Al Jazeera, inilah nomor telepon yang disediakan Google buat menyambung lidah rakyat Libya itu: +1 650 419 4196, +3 906 622 07294, +4 420 331 84514.

    Source: kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Teknologi Digital dalam Revolusi Politik

    ”Jika pemerintah Anda menutup internet, tiba waktunya untuk menutup (mengakhiri) pemerintahan tersebut” (slogan mutakhir di internet. The Economist, 12/2).

    Digunakannya teknologi digital atau teknologi-informasi-komunikasi (TIK) dalam kegiatan politik sebenarnya bukan cerita baru. Reformasi di Indonesia pada 1998 sudah menyaksikan penggunaan internet, yang baru beberapa tahun populer di negeri ini, juga layanan singkat melalui telepon seluler (SMS), yang juga baru marak sekitar tiga tahun, digunakan luas dari Gedung MPR/DPR saat itu, baik oleh mahasiswa, wartawan, maupun oleh aktivis politik.

    Setelah itu, dunia juga menyaksikan aksi people’s power kedua pada 2001 di Filipina untuk menggulingkan pemimpin yang diduga korup saat itu. Berikutnya, cerita tentang penggunaan TIK untuk pembangkangan politik juga muncul di sekitar aktivis politik China. Hari-hari ini, tak lama setelah Presiden Mesir Hosni Mubarak yang sudah berkuasa selama 30 tahun terguling, wacana TIK dalam revolusi politik masih terus hangat.

    Dari berbagai penuturan koresponden kantor berita dan surat kabar yang bertugas di Mesir, dan juga di Tunisia, banyak terungkap berbagai aspek dalam aksi yang secara mendalam akan mengubah jagat politik di Timur Tengah ini.

    Kita angkat kembali soal ini karena dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, penggunaan TIK hari-hari ini telah mengalami perubahan besar, khususnya dalam lingkup dan kecepatan. Kalau politisi yang mau maju dalam kontes politik lalu membuat website internet, sekarang ini sudah tergolong standar.

    Tukar info dan galang aksi

    Membaca analisis David D Kirkpatrick dan David E Sanger di The New York Times (13/2) kita dapat mengikuti luasnya aliran tukar-menukar info di kalangan para aktivis prodemokrasi di Tunisia dan Mesir. Saat demonstran Mesir menghadapi petugas keamanan pro-Mubarak, mereka teringat nasihat yang diberikan oleh rekan mereka, pendemo di Tunisia. Mereka harus menaruh jeruk, cuka, atau bawang merah di bawah scarf untuk menangkal gas air mata. Mereka juga diingatkan agar membawa soda dan susu untuk keperluan tersebut. Informasi itu sendiri dipertukarkan melalui Facebook.

    Pemuda-pemuda Tunisia dan Mesir curah pendapat menggunakan teknologi guna menghindari aksi mata-mata pemerintah. Mereka juga saling tukar info bagaimana bertahan terhadap peluru karet atau memasang barikade.

    TIK, yang banyak di antaranya berasal dari Lembah Silikon, juga diakui peranannya sebagai wahana untuk mengomunikasikan gerakan—dalam arti juga untuk memasarkan ide revolusi.

    Memasarkan ide secara online semakin berarti ketika aktivis (yang menurut perannya harus terjun di depan umum) banyak yang lalu ditahan. Aktivis yang bebas kemudian banyak yang beralih ke internet serta terus menyebarkan ide dan melakukan penggalangan melalui blog. Cara ini kemudian juga memberikan ketahanan bagi pergerakan. Ahmad Maher, misalnya, yang dikenal sebagai tokoh gerakan, membangun grup di Facebook dan menggunakannya sebagai simpul gerakan.

    Selain untuk sosialisasi ide, TIK juga dimanfaatkan untuk penggalangan dana, misalnya di Mesir untuk pembelian selimut dan tenda bagi aktivis yang ingin bertahan di Alun-alun Tahrir, aplikasi serupa dengan yang digunakan Tim Sukses Barack Obama saat pemilihan umum presiden.

    Mengapa Revolusi Mesir banyak ditopang oleh orang muda? Selain pemuda secara fitrah masih memiliki fisik dan semangat perjuangan kuat, pemuda masa kini juga lebih terekspos dengan TIK. Masuknya Wael Ghonim (31), yang merupakan eksekutif Google, ke dalam pergerakan Mesir menjadi aset tersendiri.

    Reaksi otoritas

    Dengan menyadari bahwa orang muda semakin punya kapasitas dan cakap menggunakan TIK, dan sementara itu kondisi sosial politik acap kali dilanda ketidakstabilan, wajar apabila mimpi buruk seperti Tunisia dan Mesir menghinggapi banyak rezim di dunia. Apabila di sini sempat muncul wacana untuk melarang TIK, seperti BlackBerry atau Twitter, karena potensial melahirkan ancaman terhadap negara, ini pun merupakan ekstensi permasalahan yang ditimbulkan oleh makin cairnya penguasaan TIK di kalangan masyarakat. Tidak terbatas pada kalangan muda yang prodemokrasi atau propemerintahan bersih di dalam negeri, tetapi juga oleh kalangan lain yang punya agenda selain itu di dalam atau di luar negeri. Wacana perang asimetri, yang antara lain diwujudkan dengan pemanfaatan TIK, diperkirakan juga ikut membentuk persepsi pemerintah mengenai potensi pemanfaatan TIK.

    Dalam kaitan ini, tak kurang di Amerika Serikat pun sempat muncul wacana untuk menutup layanan internet. Senator AS mengusulkan rencana undang-undang pemberian kekuasaan darurat kepada presiden untuk menutup sebagian internet sebagai pertahanan terhadap serangan cyber. Namun, di Mesir pada 28 Januari lalu, internet ditutup karena diketahui merupakan pilar fundamental perjuangan demokratisasi. Menyusul aksi Pemerintah Mesir di atas, otoritas internet di sejumlah negara, seperti Jerman, Austria, dan Australia, menegaskan, pemerintah negara-negara tersebut tidak akan menginginkan adanya kekuasaan semacam itu (menutup internet) (The Economist, 12/2).

    Seperti terbukti di Mesir, ditutupnya layanan internet dan seluler tetap tak sanggup menahan kuatnya tekanan aksi prodemokrasi. Tampaknya TIK telah ditakdirkan menjadi pilar kokoh penegakan politik terbuka dan demokratis. Dalam kaitan ini, rakyat—di mana pun berada—diingatkan bahwa akses internet kini semakin diterima sebagai bagian dari hak asasi manusia.
    OLEH NINOK LEKSONO

    Source: Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Bersiap Merangkul Generasi Elektronik

    The Social Network Movie

    KOMPAS.com – Setiap generasi pastinya memiliki kekhasannya sendiri. Kita tidak bisa menutup mata bahwa perbedaan ini tak jarang menjadi sumber ketegangan. “Saya kapok mempekerjakan ‘fresh-graduate’. Saya lebih suka bila mereka belajar dulu di tempat lain barang setahun, agar mengetahui tata karma bekerja. Mereka perlu mendapat ‘coaching’ superketat dari atasannya. Jujur saja, saya tidak sanggup melakukannya,” demikian ungkap seorang manajer terhadap para “milenial” yang sebenarnya terkenal kreatif dan “tech-savvy”. Ada manajer lain yang mengeluh,”Universitas sekarang tampaknya tidak membuat para lulusannya menjadi pribadi yang matang. Seingat saya, saya lebih matang saat berusia 20 tahun.”

    Kesenjangan generasi memang sangat biasa terjadi. Gaya komunikasi, pola asuh, dan kemajuan teknologi sudah jauh berbeda dari tahun ke tahun. Kita mengenal generasi yang baru dengan sebutan macam-macam: Generation Next, Net Generation, atau Echo Boomers. Generasi ini, seperti generasi Beatles alias Flower generation pada masanya, banyak diberi komentar negatif  oleh generasi sebelumnya.

    Ada yang menyebutkan generasi sekarang lebih tidak bertanggung jawab, tidak bisa “ditembus” dalam komunikasi, dan tidak “komit” dalam menghadapi pekerjaan. Benarkah itu? Bukankah di sisi lain kita melihat di era sekarang, teman-teman yang masih berusia di bawah 30 tahun bisa masuk dalam jajaran 100 orang terkaya di dunia? Banyak dari mereka juga terbukti lebih mandiri dalam bekerja dan menghasilkan karya-karya kreatif. Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa para “Gen Y” ini sejak lahir sudah melek teknologi, sehingga mereka lebih mendominasi penyebaran informasi dengan media baru.

    Bila di era The beatles generasi muda populasinya 11-12 persen dari seluruh penduduk dunia, maka sensus terakhir menunjukkan bahwa mereka sekarang mengambil 24 persen dari populasi dunia. Kita pun pasti menyadari bahwa dalam kurun waktu tidak lebih dari satu dekade, mau tidak mau, kepemimpinan perusahaan akan dialihkan pada generasi ini. Masihkah kita menghindar dari kebutuhan untuk lebih memahami dan bekerjasama dengan generasi muda ini? Apalagi kita semakin menyadari bahwa saluran komunikasi akan beralih dari yang konvensional ke saluran komunikasi yang saat sekarang dikenal oleh generasi muda. Tidak ada pilihan lain, kecuali berusaha menjembatani kesenjangan ini dan mencari cara-cara baru dalam berkomunikasi dan berorganisasi dengan generasi baru.

    Generasi “Autis” yang Semakin Sosial
    Seorang karyawan berbakat yang dikenal mampu melakukan multitasking, kreatif, santun, dan selalu dengan tekun menghadapi komputernya, tiba tiba mengajukan pengunduran diri.  Ketika ditanyakan alasannya, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa “bergaul” di tempat kerjanya. Sebenarnya pernyataan ini cukup aneh, mengingat ia memang adalah pekerja mandiri dan memang tidak dituntut untuk banyak berkomunikasi verbal. Walaupun berbakat pendiam, ia memang terlihat aktif memainkan ponsel dan BlackBerry-nya terus-menerus dan selalu muncul dengan komentar-komentar lucu di Twitter-nya. Kita lihat betapa kebutuhan interaksi sosial mereka begitu tinggi, tanpa harus bertatap muka.

    Kita mungkin bisa lebih berempati bila membayangkan betapa generasi sekarang tumbuh ketika  komunikasi dan informasi bisa didapatkan dengan cara yang mudah dan murah. Hal inilah yang menyebabkan mereka mempunyai pandangan yang berbeda mengenai kesempatan. Bagi mereka, kesempatan memang sangat tidak berbatas. Bila sebelumnya kita memiliki hambatan untuk meng-global, tidak demikian dengan mereka. Anak muda sekarang biasa menembus jaringan tanpa batas, sehingga tumbuh menjadi generasi yang multikultural, interaktif, dan kolaboratif dengan caranya sendiri. Mereka pun lebih mudah antusias terhadap apa saja yang ada di hadapannya, walaupun mungkin tidak terlalu tahu substansinya. “Ah, kita browse saja di internet”, itu keyakinan mereka.

    Mereka yang memang sudah tech savvy jadi lebih optimistis, lebih care terhadap komunitas dan bahkan biasa  menjadi multitasker kronis. Dengan ditunjang kemudahan teknologi dan cara-cara interaksi personal, generasi muda sekarang memang berbeda secara bumi dan langit dengan generasi gaptek, penuh struktur dan berbirokrasi.

    Pertanyaannya, sampai kapan kita mau menekankan perbedaan antara bumi dan langit ini? Mengapa justru kita tidak melihat tantangan untuk memanfaatkan talenta baru, misalnya untuk menemukan hal–hal yang dulu tidak terpikirkan oleh kita? Sebaliknya, kita juga perlu mawas diri tentang cara berkomunikasi kita, karena teman-teman muda kita ini mempunyai lifestyle digital dan juga sangat tribal dan terlibat dalam kelompok sosial kecil maupun besar.

    Tembus Kesenjangan dengan Belajar
    Dari mana Anda belajar mengenai kecanggihan komunikasi digital? Banyak sekali orang tua yang belajar memakai laptop dan membuka account Facebook atau Twitter karena bantuan anak, bahkan cucu mereka, bukan? Hasil survey menyebutkan bahwa 40 persen dari generasi non-Y belajar mengenai i-Tunes, MySpace, atau YouTube, dari adik-adik “GenY”.  Hal ini merupakan fakta bahwa ada jalan yang mudah  untuk menembus kesenjangan generasi ini.

    Time Warner, perusahaan yang dikenal sangat kreatif ini pun memanggil mentor-mentor yang terdiri atas mahasiswa untuk mengajarkan bagaimana menulis blog, mem-posting video di YouTube, dan memanfaatkan media-media baru untuk  memperkaya imajinasi dan mendapatkan ide ide segar. Sebuah perusahaan konsultan yang berusia lebih dari 100 tahun pun mempercayakan situs web komunikasi internalnya pada para management trainees yang belia. Hal ini disambut hangat oleh para senior dan bahkan menghasilkan peningkatan motivasi kerja yang sangat signifikan. Jadi, isunya adalah bukan menunggu mereka behave, dan menyesuaikan diri dengan kultur  lama yang sudah berlangsung, tetapi justru belajar dari teman-teman baru tentang hal-hal yang memang sudah merupakan keharusan untuk dikuasai.

    Generasi baru yang terkenal pembosan ini juga menyukai tantangan. Mereka bisa diberi tugas-tugas riset yang menarik. Kita juga melihat betapa mereka pun menguasai cara-cara marketing elektronik yang banyak tidak dikenal, yang langsung bisa kita manfaatkan untuk inovasi. Kitalah yang harus mempersiapkan organisasi untuk merangkul generasi selanjutnya. Kalau kita selama ini mencap mereka tidak siap, pertanyaannya: mungkinkah kita yang tidak mempersiapkan diri menyambut mereka?  

    (Eileen Rachman & Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)

    Source: Kompas.com

  • Indonesia Social Media Outlook 2011: “Five Big Shift in 2011 and Beyond”

    Minggu lalu saya sharing di teman-teman FreSh dalam sebuah diskusi hangat bertajuk “Indonesia Online Business Outlook 2011” di Gedung Telkom Jl. Gatot Subroto. Di situ saya sharing mengenai Consumer 3000 yang saya elaborasi sedikit, implikasinya bagi bisnis online di Indonesia. Saya bilang di situ bahwa salah satu karakteristik penting dari Consumer 3000 adalah bahwa mereka semakin technology savvy dan “social media freak”. Thanks to the internet, dengan munculnya social media tool seperti Twitter dan Facebook yang supermurah, supermudah, dan superpowerful, konsumen kita semakin gampang mengadopsi beragam produk konsumsi berteknologi.

    Dalam forum itu saya mengintroduksi munculnya lima pergeseran besar dalam lanskap bisnis online dan social media di Indonesia. Pergeseran ini tak terelakkan lagi merupakan dampak dari “gempa tektonik” (yang dikuti “tsunami”) perilaku konsumen Indonesia sebagai akibat munculnya Consumer 3000. Berikut ini adalah pergeseran-pergeserannya di tahun 2011.

    #1. Social Media Euphoria Is Over. It’ll Become a Basic Needs
    Yup!!! selama tiga-empat tahun terakhir blog, Facebook, Twitter telah menjadi hype dan eforia luar biasa di Indonesia. Ia menjadi sebuah gerakan massa. Orang beramai-ramai membuka akun Facebook atau Twitter agar tidak disebut jadul atau gaptek; agar disebut keren dan cool. Bermodal “update status” saja sudah cukup, nggak penting berderet fitur yang lain, yang penting bisa ngomong ke teman-teman bahwa mereka sudah menjadi “Facebook freak” atau “Twitter freak”. Di masa eforia, Facebook dan Twitter menjadi alat ekspresi diri, untuk menunjukkan “siapa aku”.

    Kini masa eforia itu sudah lewat. Punya akun Facebook dan Twitter kini sudah tidak lagi keren atau sesuatu yang wah… biasa saja.  Lalu apa akibatnya? Facebook dan Twitter tidak lagi alat ekspresi diri, tak lagi alat nampang. Penggunaan Facebook dan Twitter memasuki fase kematangannya, yaitu mengarah ke fungsi (functionality) yang sesungguhnya. Konsumen Indonesia mulai menggunakan Facebook dan Twitter untuk berkoneksi dengan orang lain, berdiskusi, saling bertukar informasi, mencari berita terbaru, mendapatkan tips-tips, mencari informasi produk, mendapatkan referal sebelum melakukan pembelian, dan sebagainya. Tinggal tunggu waktu… social media will be a basic needs.

    #2. iPad 500 Ribu Perak? Why Not!!!
    Dulu kita tak bisa membayangkan ponsel harganya Rp. 200 ribu. Kini semua itu terwujud. Akankah tablet seperti iPad menjadi cuma 500 ribu perak? Tentu saja tidak. Apple tentu saja tak akan melego produk legendarisnya semurah itu. Tapi proses yang dialami ponsel di atas tak akan terelakkan lagi bakal dialami oleh iPad. Merek-merek murah lokal tiruan iPad yang dibikin di Cina bakal membanjiri pasar. Celakanya, merek-merek lokal ini bukanlah produk murahan yang asal dibikin, tapi merupakan produk value for money yang memiliki functionality tak kalah dari iPad tapi dengan harga jauh lebih murah. Celakanya lagi, di Indonesia akan ada begitu banyak smart value consumers yang akan membeli iPad tiruan ini. Di dalam konsep Consumer 3000, saya menyebut konsumen jenis ini sebagai: “Nexian Hunter”.

    Kombinasi antara kuatnya permintaan (thanks to economies of scale) dan dorongan kompetisi antar iPad-iPad tiruan ini akan menggerus harga tablet ke titik yang sangat murah (hingga di bawah 1 juta perak, bisa-bisa cuma 500 ribu perak). Dan kalau hal ini terjadi, maka tablet akan menjadi mass product yang bakal dimiliki oleh semua lapisan masyarakat, tak terbatas hanya kalangan menengah dan atas. Persis seperti yang terjadi pada ponsel sekarang.

    #3. Android Explosion
    Kalau revolusi tablet terjadi, maka serta-merta revolusi “pasangannya” pun tak terhindarkan. Apa itu? Tak lain adalah revolusi pasar aplikasi (apps). Dan revolusi apps tersebut tak lain adalah revolusi Android. Kenapa Android? Karena di Android Market nantinya kita akan mendapatkan ribuan bahkan jutaan apps (mulai dari koran, majalah, buku, games, entertainment, radio-TV satelit, video … apapun) secara gratis. Ingat, gratis adalah sesuatu yang paling disukai konsumen kita (…yup, kualitas apps adalah masalah ke sekian, yang penting gratis!!!). Dan kalau hal ini yang terjadi, maka benar kata Telkom bahwa “the world is in your hand”. Apapun bisa kita dapatkan melalui gadget di tangan kita. Dan gadget di tangan itu tak lain adalah tablet yang di dalamnya berisi jutaan apps yang memudahkan, menghibur, mewarnai, dan memperindah hidup kita. Tinggal tunggu waktu saja… hidup kita bakal “dikuasai” oleh Android.

    #4. From “Broadcasting” to “Connecting”
    Kalau di tingkat konsumen, social media semakin menjadi basic needs, maka di tingkat produsen para brand manager pun mulai menggunakan social media pada tempatnya, dan menurut fungsi yang sesungguhnya. Tantangan terbesar bagi brand manager dalam mengadopsi social media selama ini adalah merubah mindset mereka dari pendekatan vertikal atau “broadcasting” menjadi pemasaran horisontal atau “connecting”. Karena sudah sekian lama para brand manager ini menggunakan media “broadcasting” seperti TV, radio, dan koran/majalah, maka ketika muncul media baru, social media, mindset mereka tetap tidak berubah. Mereka menggunakan media baru tersebut untuk mem-broadcast pesan-pesan pemasaran ke konsumen.

    Kini, setelah 3-4 tahun melalui “masa pembelajaran”, para brand manager (early adopter) mulai menyadari dan memahami bagaimana seharusnya menggunakan media baru tersebut. Mereka akan mulai menggunakan blog, Facebook atau Twitter untuk menciptakan connection (melalui conversation dan engagement) dengan konsumennya. Terdapat tren, kini semakin banyak brand yang menciptakan conversation melalui medium blog atau portal komunitas (lihat misalnya, brand pelumas Evalube dengan portal GilaMotor.com-nya; atau brand kosmetik Caring Colours dengan portal komunitas CaringCareer-nya). Tak hanya itu, mereka juga memanfaatkan Facebook dan Twitter sebagai channel untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Semua dilakukan bukan dengan pendekatan “broadcasting” tapi mulai mengarah ke “connecting”.

    #5. The Birth of Millions of Social Media Entrepreneurs
    McKinsey&Co. secara umum mendefinisikan kelas menengah (middle class) adalah mereka yang memiliki pendapatan “menganggur” (disposable income, yaitu pendapatan sisa di luar yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari) mencapai 1/3 dari keseluruhan pendapatan. Disposable income ini merupakan dana sisa yang siap diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk bisnis. Ketika sudah cukup banyak kelas menengah di Indonesia, menyusul tembusnya GDP/kapita $3000, maka disposable income ini akan cukup besar dan siap untuk diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk venture, termasuk masuk ke bisnis online berbasis social media.

    Nantinya akan banyak profesional dan pekerja kantoran yang sudah cukup disposable income-nya akan nyambi menjadi entrepreneur dengan berinvestasi di bisnis online berbasis social media. Bahkan ketika sudah banyak contoh sukses entrepreneur muda kaya raya di negeri ini karena berbisnis online/social media (lihat sukses Koprol dibeli Yahoo!), maka akan semakin banyak orang kantoran ini yang memberanikan diri nyebur menjadi full-time social media entrepreneur karena iming-iming kesuksesan.

    Kenapa social media entrepreneur? Karena bisnis berbasis social media menuntut investasi yang relatif murah tapi memiliki potensi luar biasa karena merupakan sunrise business sekaligus blue ocean business. Karena murah meriah, kini muncul tren para fresh graduate mulai tak tertarik menjadi pegawai atau profesional; mereka mulai berani mencoba pertaruhan menjadi social media entrepreneur. Karena itu saya memprediksi social media entrepreneur bakal boom dalam beberapa tahun ke depan.

    Selamat Datang 2011.

    Source: yuswohady.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • SENSUS DIGITAL: Ini 33 Merek Berpengaruh di Media Sosial

    JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 33 merek terkenal dan 8 tokoh berpengaruh menjadi jawara di media sosial yang diperoleh dari hasil sensus digital yang dihasilkan melalui mesin yang diberi nama Sistem Iklan Teknologi Teks Indonesia (SITTI).

    “SITTI bekerja sama dengan Majalah SWA dan OMG Consulting memberikan penghargaan bagi ‘Indonesia Most Popular Brand in Social Media dan Indonesia Most Influential Personality in Social Media’, ini adalah ajang penghargaan bagi merek-merek danpersonality Indonesia paling populer di media sosial,” kata Andy Sjarief dari SITTI kepada wartawan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (14/12/2010) malam.

    Menurut Andi, cara kerja SITTI terkait penghargaan 33 merek dan personality paling populer di media sosial, dengan menangkap 600 juta halaman situs dalam bahasa Indonesia, 8 juta akun Twitter dan komunikasinya, serta merekam sekitar 10 juta akun Facebook.

    “Dari hasil tangkapan itu, kemudian dilakukan pemetaan pembicaraan. Jika pembicaraan menyangkut merek atau personality, dapat ditemukan kata apa saja yang paling tinggi frekuensinya ditulis di situs internet, Twitter, Facebook, dan media sosial lainnya. Setelah itu, dapat diukur seberapa besar relevansinya terhadap merek atau personality tersebut,” papar Andy.

    Sementara menurut pemimpin Majalah SWA, Kemal Effendi Gani, kolaborasi dan penghargaan ini untuk pertama kali untuk memetakan fenomena perkembangan media sosial yang begitu pesat, terutama di Indonesia. “Perkembangan media sosial sangat luar biasa, banyak dari kita sudah mengetahuinya. Namun, bagi pemilik dan pengelola merek, seperti apa merek mereka dibicarakan dalam dunia digital? Juga benarkah suara para public figure, pengusaha, artis, dan pakar didengar di media sosial? Survei ini memetakan fenomena tersebut,” jelas Kemal.

    Dalam survei digital ini, terdapat 33 kategori produk dan lebih dari 100 merek yang ditelusuri rekam jejaknya di dunia maya. Sebanyak 33 kategori ini mulai dari makanan, minuman, elektronik, oli, sepatu sampai otomotif. Selain produk, hasil survei mencatat sejumlah orang yang berpengaruh di ranah media sosial, terutama Twitter. Mereka berpengaruh di bidang tertentu yang mampu menggerakkan pengikutnya (follower) yang jumlahnya tak sedikit untuk menge-tweet.

    Rene S Canoneo dari SITTI mengatakan, SITTI adalah sebuah inisiatif digital dari, oleh, dan untuk Indonesia. Sebagai sebuah mesin, SITTI berkemampuan untuk membaca dan memaknai lebih dari 600 juta halaman web berbahasa Indonesia sekaligus menangkap pembicaraan di dunia maya. “Penghargaan ini untuk menghormati para pengguna media sosial yang telah berhasil memaknai dunia digital. Keberhasilan mereka adalah kontribusi pertumbuhan usaha dan perkembangan dunia digital di Indonesia,” kata Rene.

    Berikut hasil survei 33 Indonesia Most Favourable Brands in Social Media:

    Minuman Isotonik-Vitazone, Pasta Gigi-Pepsodent, Kopi Bubuk-Torabika, Lemari Es-LG, Sampo-Sunsilk, Oli Pelumas-Castrol, Mobil-Toyota Avanza, Sepatu-Converse, Minuman Penambah Tenaga-Kuku Bima Ener-G, Kacang-Garuda, Sabun Mandi-Lux, Obat Sakit Kepala-Panadol, Leasing-FIF, Deodoran-Rexona, Televisi-Samsung, Motor-Honda, Lipstick-Maybelline, Kamera-Canon, Simcard GSM-IM3, Simcard CDMA-Esia, Rokok Putih-Marlboro Light, Rokok Mild-Sampoerna A Mild, Rokok Kretek-Sampoerna Hijau, Obat Batuk dan Flu-Decolgen, Laptop-HP, Biskuit-Oreo, Teh Kemasan-Frestea, Mi Instan-Indomie, Bank-BCA, Asuransi-Prudential, Maskapai Penerbangan Low Cost-Air Asia, Maskapai Penerbangan Full Service-Garuda Indonesia, Smartphone-Nokia

    Hasil survei 8 Indonesia Most Influential Personality in Social Media:

    Film – Hanung Bramantyo, Makanan – Bondan Winarno, Musik – Indra Lesmana, Olahraga – Bambang Pamungkas, Travel – Bondan Winarno, Fashion – Iwet Ramadhan, Gadget – Andrew Darwis Kaskus

    Source: Kompas.com, 15 Desember 2010

  • “Social Media” Memudahkan Riset Produk

    twitter logo

    JAKARTA, KOMPAS.com — Social media rupanya tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan produk yang pada akhirnya akan meningkatkan penjualan. Namun, bagi produsen sendiri, social media bisa dimanfaatkan untuk melakukan riset produknya untuk menciptakan sebuah produk yang lebih baik. “Kami tidak perlu lakukan research lagi sekarang. Melalui social media, kami tahu respons konsumen beberapa saat saja setelah produk kami diluncurkan,” ucap Chief Marketing Officer Nexian Andy Jobs, Kamis (16/12/2010), dalam The Markplus Conference 2011, di Pacific Place, Jakarta.

    Ia membandingkan ketika belum ada social media, sebuah perusahaan untuk mengevaluasi produknya harus melakukan sebuah riset dengan biaya yang cukup mahal. Hasilnya pun tidak bisa langsung diketahui, dua atau tiga bulan kemudian baru diketahui kelebihan atau kekurangan fitur di dalam produk.

    Dengan adanya social media, ujar Andy, membantu perusahaan untuk memangkas biaya riset serta evaluasi produk dapat diketahui dengan cepat. “Evaluasi produk bisa diketahui dari komentar-komentar netizen, di mana kurangnya produk kami. Jadi menggantikan fungsi riset sebelumnya,” ungkap Andy.

    Dengan adanya social media ini, Andy mengaku menjadi lebih mudah melakukan penetrasi pasar. “Soalnya selama ini, rupanya netizen sendirilah yang mengembangkan pasarnya di dalam komunitasnya. Mereka yang berbicara tentang produk,” ungkap Andy.

    Oleh karena itulah, Nexian selalu memberikan budget lebih untuk aspek pengelolaan netizen. Namun, strategi komunikasi dengan netizen memang tidak boleh hanya dijalin di dunia maya karena pada dasarnya netizen merupakan citizen (masyarakat). Maka, strategi komunikasi melalui kampanye “Above The Line” pun masih perlu dilakukan untuk melengkapi strategi komunikasi ke netizen.

    Social media, ungkap Andy, juga menjadi barang dagangan yang laris manis untuk dimasukkan dalam fitur ponsel. Namun, strategi ini sudah banyak diterapkan oleh banyak produsen sehingga social media menjadi barang yang generik. “Semua social media yang bisa jadi added value sekarang bahkan sudah jadi bahan generik, walaupun HP dengan harga ratusan pasti bisa Twitter-an atau Facebook,” tutur Andy.

    Maka dari itu, Andy menyarankan bahwa produsen perlu melakukan sebuah inovasi pelayanan dengan menambahkan added value lain yang menarik konsumen. “Contohnya, kami membuat Nexian Messenger yang saat ini sudah ada 2 juta database profile, music databes profile berbasis DRM (digital rights management), dan lain-lain,” pungkas Andy.

    ?Penulis: Sabrina Asril ? ?Editor: Erlangga Djumena

    Source: kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • KYAI 2.0: Dari Mimbar ke Twitter

    shutterstock

    KOMPAS.com – Siapa bilang media sosial hanya untuk anak muda kota. Facebook dan Twitter tidak hanya diminati oleh masyarakat urban. Masyarakat rural pun yang sudah terkoneksi internet juga berlomba menggunakan Facebook dan Twitter.

    Melalui Facebook, sekarang saya bisa berkomunikasi dan berteman dengan teman-teman SD di sebuah desa di Gresik, Jawa Timur yang terputus komunikasi lebih dari 15 tahun. Barangkali, kejadian yang sama juga terjadi pada netizen-netizen lain yang kembali terhubung dengan teman-teman lama mereka. Facebook memang memudahkan kita mengenang kembali memori dan romantisme masa lalu.

    Lalu, apa yang menyebabkan masyarakat di rural pun bisa Facebookan dan Twitteran? Jawabannya adalah karena handphone! Penetrasi telepon genggam yang menyebar hingga ke pelosok negeri ditambah dengan gencarya provider seluler dalam memasarkan layanan data—tidak sekadar voice dan SMS—menjadikan masyarakat rural pun sekarang sudah banyak yang terkoneksi internet, meskipun mereka kebanyakan sekadar menggunakan internet untuk bermedia sosial saja.

    Handphone yang mereka gunakan memang bukan ponsel pintar high end, seperti BlackBerry, iPhone, atau ponsel yang berbasis Android. Dengan keterbatasan sumber daya, masyarakat rural lebih banyak menggunakan merek-merek ponsel pintar lokal yang produknya kebanyakan dari China. Merek China banyak dipilih karena harganya yang relatif lebih dijangkau.

    Di samping itu, kalau kita berbicara tentang daerah rural, kita tidak bisa lepas juga untuk membicarakan insititusi pendidikan agama yang sangat terkenal yaitu pesantren. Di rural—terutama di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa—dengan mudah kita akan menemui banyak pesantren dengan berbagai model, baik yang masih tradisional maupun sudah modern.  Asal tahu saja, ada tiga unsur penting yang mengikat dan membentuk pesantren, yaitu kyai, santri, dan masyarakat. Kyai merupakan unsur sentral dari pesantren. Tidak ada kyai tanpa pesantren dan tidak ada pesantren tanpa kyai.

    Lalu, apa hubungannya pesantren, kyai, dan netizen? Untuk menjawab itu pertama-pertama cobalah buka Facebook dan carilah akun yang bernama Si Mbah Kakung. Siapa orang ini? Dia tidak lain adalah KH Musthofa Bisri yang lebih populer dipanggil Gus Mus, seorang budayawan dan pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Thalibien Rembang, Jawa Tengah. Teman Facebook Gus Mus tercatat lebih dari 2.500 orang.
    Selain Facebook, Gus Mus juga mempunyai akun Twitter, yakni @gusmusgusmu. Pengikut (follower) dia lebih banyak, yakni lebih dari 5. 000 follower.

    Dengan Twitter, Gus Mus cukup aktif nge-tweet hal-hal yang terkait isu-isu aktual baik yang terkait dengan agama maupun budaya. Gus Mus juga cukup telaten meladeni pertanyaan dari pengikutnya terkait berbagai topik bahasan. Menariknya, lewat Twitter kadang Gus Mus juga berbagi puisinya. Misalnya, tweet-tweet-nya berikut ini:
    “Langit memimpin/Dzikir malam/Membaca wirid hening/Dalam hitungan/Renyai hujan/Dan manik-manik/Keringat dinginku/Angin mendesirkan/Tasbih bersama/Pucuk-pucuk pohon/Di mulut pori-poriku/Sesekali kilat/Memucatkan rumput-rumput/Mencuatkan Khaufrajaku/lidah-lidah laut/Dalam gemuruh/Tahmid bersama/Khaufrajaku/Sementara petir/Dan guruh bergantian/Meneriakkan takbir/Dari puncak diamku/Langit memimpin/Dzikir malam/Di bumi kelam/Gelisahku.

    Selain Gus Mus, beberapa kyai yang cukup aktif di Twitter adalah KH Sholahuddin Wahid yang populer dipanggil Gus Sholah, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dengan akun @gus_sholah. Ada lagi KH Said Aqil Sirodj, Ketua Umum PBNU dengan akun @saidaqil dan Quraish Shihab dengan akun @quraishshihab.

    Bolehlah kita menyebut para kyai yang sudah nyemplung di jejaring sosial tersebut sebagai Kyai 2.0. Predikat ini berbeda dengan Kyai 1.0 yang lebih senang menggunakan mimbar-mimbar khotbah untuk menyampaikan petuah-petuah yang lebih bersifat doktrin kepada umatnya. Sementara, Kyai 2.0 menyampaikan gagasannya menggunakan media sosial. Mereka mencoba lebih membumi dan menjadi “teman” bagi umatnya.

    Melalui media sosial, “umat” juga bisa langsung berdialog dengan Kyainya. Tak tertutup kemungkinan terjadi komunikasi dua arah yang lebih horizontal. Bukan komunikasi vertikal antara “antara yang tahu” dan “yang belum tahu” lagi.

    Oleh Hermawan Kartajaya (Founder & CEO, MarkPlus, Inc)
    bersama Hasanuddin (Chief Operations, MarkPlus Insight

    Artikel ini ditulis berdasarkan analisis hasil riset sindikasi terhadap 1.500 responden di delapan kota besar di Indonesia, usia 15-64 tahun. Riset ini dilakukan oleh MarkPlus Insight bekerjasama dengan Komunitas Marketeers

    Source: kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Media Sosial Sebagai Pilar Kelima Demokrasi

    kompasiana

    KOMPAS.com – Berbicara mengenai demokrasi, para ilmuwan dan pakar politik selalu mengatakan ada empat pilar demokrasi, yaitu lembaga yudikatif, eksekutif, legislatif, dan media. Lembaga yudikatif lebih berfungsi sebagai lembaga kehakiman, eksekutif lebih ke pemerintahan, sementara legislatif sebagai lembaga yang membuat undang-undang sekaligus mengawasi kinerja pemerintah.

    Selanjutnya, pilar keempat yang juga sangat penting adalah media. Kenapa media bisa dianggap sebagai pilar keempat demokrasi? Karena sering kali orang beranggapan bahwa media itu lebih netral dan bebas dari unsur kekuasaan negara, berbeda dengan tiga pilar sebelumnya yang semuanya berorientasi pada kekuasaan. Media tidak hanya sebagai sumber berita, tapi sekaligus merupakan pembawa dan penyambung suara rakyat. Media juga sering kali menjadi alat daya penekan bagi tiga pilar demokrasi sebelumnya.

    Karena begitu pentingnya media bagi demokrasi, media harus benar-benar dijaga independensinya, baik dari sisi lembaganya maupun dari insan-insan pers di dalamnya. Kebebasan pers juga harus tetap dijaga dari adanya unsur intervensi dari lembaga kekuasaan dalam suatu negara.

    Sekarang, dengan hadirnya internet dan media sosial, dinamika kehidupan demokrasi di suatu negara berubah total. Internet sebagai alat bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tapi, di sini, internet bisa memberi dampak buruk bagi manusia. Internet memang memudahkan kita dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi. Tapi, di sisi dunia lain, internet juga banyak digunakan oleh para teroris untuk meneror belahan dunia yang tidak sesuai dengan ideologi mereka.

    Melalui internet, mereka menyebarkan ide dan gagasan radikal, menebar kebencian, dan merusak perdamaian. Mereka juga dikenal memiliki militansi yang kuat dalam menyampaikan gagasannya melalui internet di banding netizen biasa lainnya. Seorang pengamat terorisme pernah mengatakan sangat khawatir dengan pergerakan mereka di dunia maya yang relatif lebih sulit dideteksi.

    Di sisi lain, dengan hadirnya media sosial di internet, masyarakat juga semakin apresiatif dan aktif dalam menggunakan internet. Mereka tidak hanya membaca berita, tapi juga aktif memberikan opini seputar kehidupan yang mereka jalani sehari. Mereka juga dengan gampang menyampaikan pandangan terkait dengan isu-isu aktual yang terjadi.
    Dengan demikian, kehadiran internet dan media sosial ternyata bisa semakin meningkatkan partisipasi masyarakat terkait dengan isu-isu publik. Kondisi ini menyebabkan peran media sebagai pilar ke-empat demokrasi semakin terancam.  Melalui  Facebook dan Twitter, masyarakat bisa menggalang kekuatan sendiri untuk menolak kebijakan pemerintah yang dirasakan bertentangan dengan hati nurani masyarakat.

    Anda tentu masih ingat kasus Cicak vs Buaya beberapa tahun lalu. Melalui gerakan di Facebook yang bertajuk “Gerakan 2 juta Facebooker Bebaskan Bibit-Chandra” bisa memaksa pengambil kebijakan tertinggi negeri ini mengikuti arus masyarakat netizen ini. Begitu juga kasus Prita vs RS OMNI melalui gerakan Koin Prita mampu menggerakkan partisipasi masyarakat menyumbangkan koin mereka untuk Prita. Dalam beberapa hal, gerakan ini juga dianggap oleh pengamat mampu “mempengaruhi” hasil persidangan yang membebaskan Prita dari segala tuduhan.

    Dalam beberapa kasus, gerakan sosial dan penggalan dana untuk korban bencana alam ternyata cukup efektif menghimpun dana untuk korban bencana. Rasa solidaritas masyarakat semakin mudah ditumbuhkan dengan adanya Facebook dan Twitter. Banjir di Wasior, Gempa di Mentawai, Meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta membuktikan fenomena ini.

    Meskipun peran media agak tergeser oleh media sosial, peran media arus utama tetaplah penting bagi kelangsungan demokrasi di Indonesia. Malah media-media arus utama, seperti Kompas dan Detikcom memanfaatkan media sosial untuk lebih bisa saling berkomunikasi dan menyampaikan berita lebih cepat ke pembacanya. Media-media tersebut juga membuat wadah bagi netizen , seperti forum online dan blog. Kompas membuat blog Kompasiana. Detikcom membuat Detikforum. Wadah ini digunakan oleh para netizen untuk saling berdiskusi dan menyampaikan pendapat mereka tentang berbagai isu aktual.

    Michael Hauben, Bapak Netizen Dunia, suatu kali pernah mengatakan bahwa kehadiran jaringan internet akan semakin memperkuat alam demokrasi di dunia. Apa yang di katakan Michael Hauben itu terbukti sekarang. Internet telah membuka mata masyarakat dunia tentang kejadian-kejadian di berbagai belahan dunia tanpa batas teritori. Karena itu, tidak salah bila kita menyebut bahwa media sosial adalah pilar kelima demokrasi.

    Oleh Hermawan Kartajaya (Founder & CEO, MarkPlus, Inc) bersama Hasanuddin (Chief Operations, MarkPlus Insight)

    Artikel ini ditulis berdasarkan analisis hasil riset sindikasi terhadap 1.500 responden di delapan kota besar di Indonesia, usia 15-64 tahun. Riset ini dilakukan oleh MarkPlus Insight bekerjasama dengan Komunitas Marketeers.

    Source: kompas.com

  • 2010, Facebook Nyaris Menguasai Dunia

    the founder facebook

    VIVAnews – Juni 2009, ada 17 media sosial bertebaran di seluruh dunia. Facebook adalah salah satu yang terbesar, namun belum mendominasi. Desember 2010, beberapa media sosial bertumbangan dikalahkan Facebook.

    Adalah Vincenzo Cosenza yang melakukan penelusuran popularitas media sosial sejak Juni 2009 sampai Desember 2010. Dengan memakai Alexa dan Google Trends, Cosenza menemukan Facebook telah nyaris menguasai dunia.

    Seperti dilansir Mashable, Facebook pada Juni 2009 mendominasi media sosial di Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Desember ini, Facebook telah mengalahkan Orkut di India dan juga beberapa negara di Amerika Latin.

    Friendster yang pada Juni 2009 masih dominan di Filipina juga digerus Facebook. Kemudian Hi5 yang populer di Thailand dan Portugal juga akhirnya dikalahkan Facebook.

    Namun, sejumlah media sosial selain Facebook masih dominan di beberapa negara. Di Rusia, pemain utama adalah V. Kontakte. Orkut juga masih kuat di Brasil. Sementara China dengan QZone. Cosenza menghitung, ada 10 media sosial lain yang belum dikalahkan Facebook di sejumlah negara.

    Lebih jauh, lihat peta perbandingan Juni 2009 dan Desember 2010

    Source: vivanews.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Dominasi Indonesia di Twitter Diragukan?

    twitter logo

    JAKARTA – Indonesia kini dinobatkan sebagai negara dengan pengguna Twitter terbanyak di dunia. Sayangnya media asing malah meragukan dominasi Indonesia di Twitter.

    Media online asal Inggris misalnya, Guardian, membuat sebuah artikel berjudul ‘Why Indonesians are all Twitter?’. Bahkan dalam sub judul, Guardian membubuhkan kalimat yang mengesankan Indonesia sama sekali tidak pernah tersentuh oleh teknologi.

    “Bagaimana mungkin, negara dengan jutaan penduduknya yang miskin, bahkan mereka pun belum pernah menggunakan komputer, menjadi negara pengguna Twitter terbesar di dunia?” tulis Ben Doherty, penulis Guardian, seperti dikutip okezone, Selasa (23/11/2010).

    Pernyataan yang sama juga pernah dilayangkan oleh komedian Stephen Colbert dalam acara yang dipandunya bertajuk ‘The Colbert Report’ yang tayang di stasiun televisi lokal di AS.

    Dalam salah satu kalimatnya, saat mengomentari video insiden ‘salaman’ Tifatul Sembiring dengan Ibu Negara AS, Michelle Obama, Stephen menyatakan dengan rasa tidak percaya jika warga Indonesia ramai membicarakan insiden ini melalui jejaring sosial Facebook dan Twitter.

    “Masa’ sih? Facebook dan Twitter? Saya pikir orang Indonesia masih berkomunikasi dengan memukul-mukul batok kelapa,” ujar Colbert yang disambut dengan tawa para penonton di studio.

    Doherty memberikan beberapa pemikirannya mengenai alasan mengapa Indonesia mendominasi Twitter. Di antaranya adalah ketersediaan ponsel murah di Indonesia dan banyaknya selebriti Indonesia yang menggunakan layanan mikroblogging ini.

    Namun begitu, Doherty menekankan jika pengguna internet aktif kebanyakan berasal dari kota besar di pulau Jawa. Sedangkan jutaan penduduk lainnya yang berasal dari luar pulau Jawa dianggap belum pernah sama sekali menggunakan komputer.

    Perusahaan riset ComScore menobatkan Indonesia sebagai negara pengguna internet terbanyak dengan jumlah penetrasi sekira 20,8 persen pengunjung per bulan. Sedangkan Brazil berada di posisi kedua dengan penetrasi 20,5 persen. AS berada di peringkat ketiga dengan penetrasi sekira 11,9 persen.

    Total penduduk Indonesia dengan 17.000 pulau ini berjumlah sekira 235 juta jiwa. Diperkirakan 93 juta pengguna internet di dunia telah mengunjungi Twitter. Angka ini meningkat sekira 109 persen dibanding tahun lalu,
    (srn)

    Source: okezone.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.