siwah.com

Category: Information Technology

  • Peretas Sudah Mengincar Akun Twitter Andi Arief

    andi arief twitter

    JAKARTA – Akun Twitter Staf Khusus Presiden bidang Sosial dan Bencana, Andi Arief, diduga telah diincar oleh peretas sejak lama. Ini terlihat dari pola postingan sang hacker.

    “Jika dilihat dari postingan Akun Twitter Andi Arief yang dibajak, berisi dengan ejekan dan makian, maka si pelaku sudah jelas menargetkan untuk membajak Akun tersebut. Siapapun pelakunya sudah diluar konteks ethical hacker alias Black Hacker,” ujar web security auditor, Nathan Gusti Ryan, kepada okezone, Kamis (25/11/2010).

    Menurut Nathan, setidaknya ada beberapa cara yang dilakukan oleh hacker untuk membajak akun orang lain (hacking account). Langkah pertama adalah dengan teknik Soceng (social enggineering). Teknik ini kebanyakan digunakan oleh para spammer. Caranya dengan mengirimkan email berisi link yang akan mengarahkan calon korbannya untuk mengunjungi situs palsu, mirip Twitter, Facebook atau situs besar lainnya. Saat sang korban login maka secara otomatis informasi akun akan berpindah tangan ke pembajak akun yang akan digunakan untuk kepentingan mereka.

    Cara kedua, lanjut Nathan, berkaitan dengan kelalaian pemilik akun. Kemungkinan pemilik akun menggunakan paralel password, atau satu password untuk banyak akun. Akibatnya jika password ini jatuh ke orang yang salah maka seluruh akun yang dimiliki akan menjadi target potensial untuk di-hack. Bahkan efeknya pun akan berantai, bisa membuat situs tersebut terkena hack juga. Satu lagi kelalaian pengguna adalah tidak sengaja membuat akun jatuh ke tangan orang lain.

    “Biasanya orang malas mengingat password dan username yang banyak. Lalu mereka tulis di tempat lain, di ponsel, BB, atau kertas. Nah, ketika perangkat itu hilang akun ini bisa digunakan oleh orang lain,” papar Nathan.

    Selain itu, lanjut Nathan, cara lain adalah dengan mengambil data saat reset password. Setiap registrasi pada suatu websites, termasuk Twitter juga memiliki fasilitas Reset Password. Jika reset password ini bisa dilakukan oleh seseorang, biasanya membutuhkan beberapa data pribadi dan pertanyaan khusus.

    “Data pribadi dapat di cari dari sejumlah account, sedangkan pertanyaan khusus ini bila mudah ditebak maka reset cccount akan mudah dilakukan. Selanjutnya account yang lain akan jatuh ke tangan si pembajak tersebut,” ujarnya.

    Oleh karena itu Nathan sendiri menganjurkan agar masyarakat tidak melakukan coba-coba suatu software yang berfungsi untuk reset account. Apalagi mengunjungi link mencurigakan, yang didapat dari email tidak dikenal. (srn)

    Source: okezone.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Email Facebook Diluncurkan Hari Ini

    HAI fans Facebook. Ada rumor yang menyatakan Anda akan mendapatkan alamat email yang diakhiri dengan @facebook.com.

    Layanan email ini diperkirakan bisa dinikmati paling cepat hari ini Senin (15/11), demikian seperti dikutip dari PcWorld.

    Layanan surat elektronik besutan Facebook mungkin membuat ngeri raksasa pencari data Google yang sebelumnya memblok akses pengguna akun Gmail di Facebook.

    Dengan adanya layanan ini, data pengguna akan jatuh di bawah kendali jaringan sosial terbesar di dunia itu. Layanan dikabarkan tidak hanya berupa versi update dari inbox Facebook yang ada saat ini. Namun layanan email barunya dipastikan akan bersaing dengan layanan lain seperti Gmail dan Hotmail.

    Proyek pembuatan email yang bertajuk Project Titan itu rencananya diumumkan dalam acara Web 2.0 Summit di San Francisco, hari ini.

    Rumor adanya layanan email Facebook sebenarnya muncul sejak Februari lalu. Pengguna Facebook secara otomatis langsung terkoneksi dengan email personal your@facebook.com.

    Jika benar diluncurkan hari ini, email facebook langsung menyalip para raksasa pemilik layanan email. Di antaranya hotmail yang punya 361 juta pengguna, Yahoomail yang memiliki 273 juta pengguna dan Gmail yang punya 193 juta pengguna. (OL-9)

    Source: Mediaindonesia.com

  • Raja Mesin Pencari Internet di China

    the king of china search engine

    ”Misi kami adalah memberikan cara-cara terbaik bagi orang banyak untuk mendapatkan informasi. Untuk melakukan ini, kami terlebih dahulu mendengarkan dengan cermat setiap kebutuhan dan keinginan para pengguna.”

    Pendiri, pemilik, dan CEO Baidu Inc, Robin Li Yanhong, mengucapkan hal itu dengan keyakinan dan percaya diri. Dia telah membuktikannya melalui Baidu, mesin pencari internet nomor satu di China yang kini melesat ke tiga besar dunia setelah Google dan Yahoo.

    Keingintahuan, inovasi, kreativitas, dan kerja keras telah mengantarnya menjadi orang kaya baru di Negeri Tirai Bambu. Majalah Forbes edisi terbaru, pekan lalu, bahkan memasukkan Robin Li sebagai satu dari dua orang terkaya China selain Zong Qinghou, pengusaha minuman ringan.

    Li telah masuk dalam deretan orang kaya di dunia. Dia berada dalam satu rentang daftar orang kaya bersama dengan pendiri Google, mesin pencari internet terbesar di dunia saat ini, Sergey Brin dan Larry Page.

    Kekayaan Li naik hampir tiga kali lipat atau 281 persen menjadi 7,2 miliar dollar AS tahun lalu. Kekayaan itu mendongkraknya naik ke urutan kedua dari sebelumnya di urutan ke-14 daftar orang kaya China. Setelah Google hengkang dari China, Baidu kian kinclong. Keuntungan bersih Baidu naik 112,4 persen per tahun.

    Saham Baidu sejak Januari 2005 hingga Juni 2006 melonjak melampaui 50 persen. Pada 2008, sahamnya naik menjadi 62 persen, lalu meroket menjadi 76 persen pada 2009. Mulai Desember 2007, Baidu menjadi perusahaan China pertama dalam indeks Nasdaq-100.

    Berkat kegigihan Li, Baidu terus memperoleh pangsa pasar di China, terutama lagi karena adanya dukungan dari pemerintah. Pada kuartal ketiga tahun 2010, Baidu menguasai pangsa pasar internet sekitar 73 persen, menyisihkan Yahoo dan Google yang telah tutup untuk pasar domestik China.

    Bermula dari ”kebetulan”

    Evolusi Baidu, dan perjalanan Li sebagai pengusaha, merupakan contoh keberhasilan di bidang bisnis serta keuletan dan ketabahan seorang pengusaha. China memiliki penduduk 1,3 miliar. Robin Li tahu benar potensi pasar dalam negeri China. Saat ini ada 420 juta pengguna internet di China, atau sekitar sepertiga total penduduknya, dan 70 persen di antaranya adalah para pengunjung Baidu.

    Total populasi pengguna internet itu merupakan peluang besar, menjadi saingan AS. Apalagi China telah menjadi raksasa ekonomi dunia yang bertumbuh paling cepat. Model Baidu yang dikembangkan Li bekerja superbaik tanpa masalah berarti dan loyal pada kebutuhan pengguna.

    Prestasi bisnis Li bermula dari ”kebetulan” pada musim panas tahun 1998 di Silicon Valley, Amerika Serikat. Saat itu Eric Xu, seorang ahli biokimia, memperkenalkan rekannya yang pemalu, Robin Li, kepada John Wu yang kemudian menjadi ketua tim mesin pencari Yahoo.

    Li, yang ketika itu masih berusia 30 tahun, sedang frustrasi. Dia hanya seorang anggota staf di Infoseek, sebuah mesin pencari internet milik Disney. Komitmen Disney untuk mengembangkan Infoseek lambat laun terus memudar dan hal itu membuat Li frustrasi hingga ia terdorong untuk menemukan caranya sendiri.

    Setahun setelah piknik ke Silicon Valley, pada 1999, Li bersama Eric Xu lalu mendirikan perusahaan pencari bernama Baidu. Kini, Baidu telah mempunyai nilai pasar sekitar 3 miliar dollar AS, menjadi empat besar website dunia yang paling diminati pengguna internet.

    Nama Baidu terinspirasi oleh sebuah puisi yang ditulis lebih dari 800 tahun silam di China, tepatnya pada masa Dinasti Song yang berkuasa tahun 960-1279 Masehi.

    Baidu, secara literal berarti ”ratusan kali”, mempresentasikan sebuah ”pencarian yang gigih terhadap apa yang dicita-citakan”. Baidu adalah puncak dari pencarian tiada henti, kerja keras, dan ketabahan dari seorang yang frustrasi menjadi sukses mengubah hidup serta menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Dialah Robin Li.

    Untuk meningkatkan pengalaman para pengguna, Li terus melakukan perbaikan produk dan layanannya. ”Sebagai contoh, kami memperkenalkan ’fonetik’ atau ’pin-yin’ pencarian yang memungkinkan para pengguna untuk mengetik kata kunci dalam bahasa China menggunakan abjad Inggris,” katanya.

    Li berasal dari Yangquan, kota miskin di Provinsi Shanxi, barat daya Beijing. Anak keempat dari lima bersaudara itu dibesarkan dalam suasana revolusi budaya China yang brutal.

    Sekalipun penindasan mengepungnya, ia fokus pada minatnya sebagai pengoleksi prangko. Ia terlibat pertunjukan opera tradisional dan kegiatan lainnya hingga akhirnya terjun ke dunia komputer.

    Li cukup cerdas ketika masuk perguruan tinggi paling bergengsi di China, Universitas Peking. Dia mengambil jurusan ilmu perpustakaan dan berkecimpung dalam ilmu komputer. Ia mendapat Bachelor of Science (BSc) dalam Informasi Manajemen (1991).

    Setelah lulus, Li meninggalkan tanah airnya yang sedang kacau menyusul peristiwa Lapangan Tiananmen. Dia hijrah ke AS untuk belajar komputer. ”Saya mengirimkan lebih dari 20 surat lamaran,” katanya.

    Dia kemudian diterima di State University of New York, Buffalo. Setelah meraih gelar Master of Science (MSc) dalam Ilmu Komputer (1994) dan langsung bergabung dengan New Jersey Dow Jones & Company, Li mengembangkan program perangkat lunak untuk edisi online The Wall Sreet Journal.

    Selama di AS dia terus mengikuti perkembangan teknologi di Silicon Valley. Terobosan mengejutkan muncul pada 1996 ketika Li berhasil mengembangkan mekanisme pencarian yang disebutnya link analysis.

    Li lalu bekerja sebagai staf Infoseek, pelopor internet perusahaan mesin pencari (1997-1999). Dia juga menjadi konsultan senior untuk IDD Information Service (1994-1997). Saat di Infoseek itulah dia merasa frustrasi.

    ”Lalu lintas Baidu terus meningkat. Kami sekarang menjadi mesin pencari nomor satu di China,” kata Li bangga.

    (NEW YORK TIMES/AFP/AP)

    Source: Kompas.com

  • Mengapa Facebook Tidak Bangun Data Center di Indonesia?

    Saat ini, dengan jumlah lebih dari 400 juta Facebookers aktif di dunia, 25 persen di antaranya mengakses melalui telepon seluler. Angka ini dua kali lebih aktif dari akses melalui komputer personal/laptop. Di sisi lain, lebih dari 100 operator telekomunikasi di 60 negara di dunia, telah mempromosikan mobile Facebook untuk layanan mereka.

    Berdasarkan riset kami, Indonesia adalah negara urutan ke-3 ditinjau dari keaktifan Facebooker-nya. Saat ini, lebih dari 47 persen pengguna internet di dalam negeri mengakses situs tersebut. Jumlah Facebooker aktif di Indonesia mencapai 18,9 juta, dengan trafik menempati posisi ke-8 dunia.

    Melihat potensi pasar yang demikian dahsyat, secara ekonomi, sudah seharusnya situs jejaring sosial terbesar ini mendekati pelanggan agar respon lebih cepat dirasakan. Pendekatan ini juga berarti berbagi rejeki dengan daerah-daerah lokal di mana pelanggan berada.

    Pertanyaannya kemudian, dengan jumlah pelanggan sebanyak ini, mengapa Facebook tidak meletakkan data center atau kolokasi (collocation) di Indonesia? Ada apa gerangan? Ini tentu amat merugikan bagi Indonesia; yakni, hilangnya kue bisnis, dan kedua, kebutuhan bandwidth koneksi internet internasional terus meningkat.

    Coba mari kita hitung bersama. Saat ini, dengan jumlah “ummat” begitu besar, Facebook dikabarkan mempunyai 60 ribu web server, dengan pengeluaran mendekati Rp 500 miliar di tahun 2010 guna biaya sewa.  Jika kita anggap setiap user aktif mempunyai space yang sama, berarti tiap user mendapat alokasi biaya sewa data center sebesar Rp 1.250 per tahun. Jika demikian, jatah sewa data center untuk Facebooker Indonesia adalah sebesar Rp 23,6 miliar per tahun!

    Itu baru satu situs. Belum dengan Twitter, Friendster, BlackBerry, Yahoo, Google, dll.
    Rumor menyebutkan Facebook meletakkan data center-nya di Singapura.  Tentu, di samping situs buatan Mark Zuckerberg ini, top internet site lainnya melakukan duplikasi data di negeri jiran ini. Otomatis, ini mendorong ketertarikan semua industri global untuk collocation di sana. Maka, betapa untungnya Singapura dan betapa ruginya Indonesia.

    Ada empat dugaan mengapa Singapura lebih dipilih ketimbang Indonesia untuk hunian data center. Pertama, national security-safety. Harus diakui, tingkat keamanan dan iklim investasi di negeri ini belum setinggi negara tetangga kita.

    Kedua, kualitas data center di Indonesia masih tertinggal, baik dari sisi konfigurasi bangunan maupun manajemen operasi. Inilah yang sebenarnya menjadi faktor kunci.

    Data Sharing Vision menunjukkan kebutuhan data center oleh industri global rata-rata tier-3. Maksudnya data center dengan segala infrastruktur pendukungnya mempunyai redundansi sebanyak (N+1), sehingga jika data center membutuhkan 2 cooling system dalam operasinya, maka data center tersebut akan mempunyai 3 cooling system. Disamping itu, tier-3 mempunyai multiple path untuk distribusi power dan cooling meski hanya satu saluran yang aktif. Ini membuat proses perawatan dapat dilakukan tanpa mengganggu operasional. Dengan ketentuan di atas, tier-3 mempunyai availability sebesar 99,96 persen atau hanya 1,6 jam waktu down yang diperbolehkan selama satu tahun.

    Guna melihat seperti apa data center kelas dunia, sangat penting bagi kita untuk belajar dan melakukan studi banding langsung ke data center paling top di dunia. Itulah yang melandasi Sharing Vision melakukan workshop Visiting World Class Data Center di Singapura pada 2-3 Desember mendatang.

    Ketiga, belum jelasnya konsep pemasaran negara dan strategi pemasaran industri teknologi informasi nasional. Menurut data www.datacentermap.com, tercatat ada 9 data center di Indonesia yang dikomersialkan. Konon, dari 9 data center tersebut ada yang telah mendekati tier-3, namun cara pemasarannya ke industri global belum terdengar jelas.

    Ini patut disayangkan, perhitungan Sharing Vision menunjukkan pasar layanan data center di Indonesia pada tahun 2011 mencapai sekitar Rp 1,5 triliun. Sebab, kian banyak perusahaan di Indonesia yang sadar pentingnya data center dan data recovery center dengan infrastruktur memadai.

    Keempat, ketidakpastian regulasi. Ini bisa kita lihat dari perbandingan implementasi WiMax di Indonesia dengan keberanian pemblokiran layanan BlackBerry di Arab Saudi, misalnya. Empat faktor inilah yang membuat Facebook dkk masih memilih Singapura sebagai tempat kolokasi, meski pengguna di Indonesia jauh lebih besar.

    Ironis, memang. Dengan demikian, jelas adanya pesan tulisan ini, “Mari tingkatkan pengelolaan dan kualitas data center nasional seraya meningkatkan pasar data center nasional, agar tercipta keseimbangan aliran bandwidth dalam dan luar negeri yang akan menyejahterakan Indonesia!”

    Penulis, Dimitri Mahayana, adalah pendiri sekaligus chief lembaga riset telekomunikasi dan informasi berbasis di Bandung, Sharing Vision, dan Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB.

    Source: kompas.com

  • Awas, Virus McDonald di Facebook!

    JAKARTA, KOMPAS.com — Pengguna Facebook di Indonesia hari ini dihebohkan undangan berisi link atau tautan beralamat di bit.ly untuk menonton video heboh mengenai McDonald. Banyak macam judulnya, ada “The Truth Behind McDonald” dan “Shocking McDonald Video”. Tetapi, bukannya dapat video yang dimaksud, Facebook Anda malah menyebarkan undangan yang sama ke teman-teman dan mengotori inbox.

    Hati-hati karena semua itu hanyalah trik orang yang iseng untuk memanfaatkan akun Facebook Anda. Inilah bentuk virus baru di Facebook untuk mencuri data pribadi penggunanya. Jika pelakunya jahat, maka bukan tidak mungkin akun Anda dipakai untuk bermacam penipuan lewat Facebook.
    (more…)

  • E-Voting, Harapan Baru Pemilu Murah

    e-vote
    KOMPAS.com – Akhir-akhir ini kita terjebak pada arus media utama sehingga Kompasiana sangat disibukkan dengan segala macam tulisan mengenai markus, Gayus, Susno, Nunung dan yang terakhir pro-kontra mengenai FA. Kenapa kita tidak berprinsip out of the box supaya tulisan kita tidak menjadi kembaran dari koran-koran yang kita beli sehari-hari.

    (more…)

  • Dahsyatnya Kekuatan Pembaca di Era Internet

    Jakarta – Saat ini telah terjadi pergeseran perilaku masyarakat dalam tren pengkonsumsi konten. Awalnya mereka berperan hanya sebagai konsumen yang pasif menerima informasi, kemudian bergeser menjadi konsumen dan produsen. Kini masyarakat memiliki kekuatan untuk berperan sebagai produsen, konsumen, maupun kolaborasi keduanya.
    (more…)

  • Fake Liberty Reserve Email

    15 jam yag lalu, Aceh Trader Charity menerima email dari Liberty Reserve Admin yang mengatakan bahwa “Libertyreserve Requires Warnings About Your Account”. Nah, disinilah jelinya cracker untuk mengirimkan fake email ke kita, he..he..he..

    Saya Konfirmasi ke Support Liberty Reserve (LR) untuk menanyakan email tersebut, karena asal email tersebut seperti alamat diatas. dan jawaban dari support bahwa mereka tidak pernah mengirimkan email ke pelanggan LR, dan saran mereka segera dihapus dan saling mengingatkan kepada teman2 yang laen, bahwa Email tersebut tidak pernah dikirimkan oleh pihak LR.
    (more…)

  • Kalau Presiden (Obama) Senang BlackBerry

    ”Saya masih ’nempel’ dengan Blackberry saya. (Dan) mereka mencoba merenggutnya dari tangan saya.” (Presiden Barack Obama dalam wawancara dengan CNBC dan ”The New York Times”, 8/1/2009)

    Perihal kesenangan presiden baru AS Barack Obama terhadap perangkat BlackBerry, sudah banyak orang yang tahu. Pemimpin AS ini—sebagaimana jutaan orang lain di dunia—menggunakan gadget yang sedang mewabah ini untuk menelepon, mengirim SMS, dan mengirim e-mail. Alat yang digolongkan sebagai smart phone PDA (personal digital assistant) ini punya keunggulan khas, yaitu bisa menghadirkan e-mail tanpa kita perlu repot membuka situs web. E-mail sudah diunduh secara otomatis ke dalam alat yang—kalau tak streng dalam menggunakannya—bisa membuat orang lupa daratan ini.
    (more…)

  • Mahasiswa Dilatih Desain Website

    BANDA ACEH – Sejumlah mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) Unsyiah dilatih mendesain website dan program e-commerce. Pelatihan itu diselenggarakan empat hari, mulai 28-31 Juli, di Laboratorium fakultas tersebut.

    Instruktur pelatihan, Kusnandar (32), mengatakan tujuan pelatihan untuk membekali pengetahuan mahasiswa mendesain website dan program e-commerce. Selain itu, menciptakan alternatif lapangan pekerjaan, sehingga orientasi mahasiswa usai kuliah, tidak sebatas PNS atau pekerja di perusahaan. “Kami harapkan mahasiswa mampu membuat usaha sendiri dan bisa hidup mandiri,” ujarnya kepada Serambi, kemarin.
    (more…)