siwah.com

Category: News

  • Data dari Media Sosial Harus Tetap Diverifikasi

    Jakarta, Kompas – Keberadaan media sosial, seperti Facebook dan Twitter, adalah tantangan besar bagi media massa konvensional. Dengan makin banyaknya informasi melalui media sosial yang ditulis oleh siapa saja, wartawan pun dituntut untuk jeli memilih informasi itu, dan tetap memverifikasi data itu kepada narasumber.

    ”Ini persoalan serius bagi media konvensional yang tidak bisa menghindar dari badai media sosial. Semua orang bisa menjadi publisher melalui akunnya sehingga banyak informasi yang menyerbu dan orang menjadi bingung. Silakan mengambil atau mengintip media sosial, tetapi dengan beberapa syarat karena itu hanya data, belum menjadi informasi,” kata Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun dalam pemaparan hasil survei penggunaan konten media sosial yang dilakukan Dewan Pers di Jakarta, Jumat (17/2).

    Indonesia adalah negara pengguna media sosial dengan peringkat tinggi di dunia. Pada Januari 2012, orang Indonesia yang memiliki akun Facebook sebanyak 43,1 juta orang, lebih tinggi dibandingkan Brasil. Namun, lebih rendah daripada India, yang tahun ini melampaui Indonesia.

    Terkait perkembangan ini, Dewan Pers mengadakan survei untuk mengetahui kecenderungan penggunaan konten media sosial dalam peliputan dan produksi berita oleh wartawan. Survei diadakah pada 29 November 2011-3 Februari 2012, melibatkan 157 responden yang semuanya berprofesi wartawan.

    Anggota Dewan Pers, Uni Lubis, memaparkan, dari survei itu diperoleh hasil, sebanyak 96 persen responden memiliki akun Facebook, 67 persen memiliki akun Twitter, 40 persen memiliki blog/Wordpress, 22 persen memiliki Linkedin, dan lain-lain (9 persen). Sebanyak 76 responden menjawab informasi di media sosial dipakai sebagai sarana memantau, 46 persen sebagai sumber ide berita, dan mencari narasumber 31 persen.

    Sebanyak 75 persen responden menjawab selalu melakukan verifikasi ulang dengan mengontak orang yang pesannya dikutip di media sosial. Sebanyak 14 persen responden mengaku sebagian yang diverifikasi ulang. (lok)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Media Sosial, Bentuk Perlawanan Publik untuk Perubahan

    Media sosial seperti Facebook dan Twitter telah menjadi perangkat penting bagi gerakan sosial. Medium ini dianggap mempunyai efektivitas besar untuk menjaring dukungan massa bagi gugatan kepada sistem ataupun tuntutan atas perubahan.

    Aksi dukungan kepada dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi periode lalu, Bibit Samad Rianto-Chandra M Hamzah, dan ”koin keadilan” bagi Prita Mulyasari merepresentasikan dua gugatan terhadap sistem, yaitu rasa tidak puas dan tersumbatnya saluran publik. Saat Bibit-Chandra ditahan polisi pada Oktober 2009, publik merespons dengan menggalang 1,3 juta dukungan melalui Facebook. Dukungan itu menjadi representasi perlawanan publik terhadap ketidakadilan praktik hukum.

    Solidaritas publik juga ditunjukkan pada gerakan pengumpulan uang receh bagi Prita Mulyasari yang digugat karena dituduh mencemarkan nama baik RS Omni. Curahan hati Prita seputar layanan kesehatan RS Omni melalui surat elektronik menuai denda Rp 204 juta. Jalan panjang Prita mencari keadilan menyebar lewat Facebook dan segera menarik simpati masyarakat. Publik merepresentasikan nuraninya yang ditohok oleh ketidakadilan hukum dengan wujud aksi solidaritas. Aksi itu berhasil mengumpulkan uang Rp 810 juta. Simbolisasi uang receh yang digunakan untuk membantu Prita menjadi bagian dari bahasa perjuangan rakyat jelata menghadapi pihak yang berkuasa.

    Selain ketidakpuasan publik, kedua gerakan sosial tersebut menjadi metafora gugatan terhadap tidak lancarnya saluran aspirasi masyarakat. Publik lebih percaya pada media sosial untuk menyalurkan suaranya dibandingkan dengan lembaga perwakilan seperti DPR atau DPRD yang dinilai lemah dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Bukannya menyuarakan aspirasi masyarakat dan mengawasi kinerja pemerintah, lembaga ini lebih sering terlibat skandal korupsi bersama-sama dengan aparat birokrasi.

    Dalam konteks masyarakat saat kanal aspirasi disumbat dan pengabaian ketidakpuasan publik terus-menerus terjadi, sama artinya dengan memicu gerakan massa yang kerap kali merupa- kan pilihan tak terelakkan. (Andreas Yoga/ Litbang Kompas)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Surat “Terakhir” dari Darwati

    Tiga hari lagi, masa jabatan Irwandi Yusuf akan berakhir, tepatnya 8 Februari 2012. Lima tahun menjabat gubernur Aceh, ia didampingi seorang wanita murah senyum yang tak segan-segan turun ke daerah, bahkan ke lokasi bencana sekalipun. Darwati A. Gani, perempuan itu, adalah first lady Aceh sejak 8 Februari 2006. 

    Hari ini, 5 Pebruari 2011, redaksi The Atjeh Post menerima sepucuk surat istimewa yang dikirimkan lewat surat elektronik (email). Pengirimnya, tak lain adalah first lady itu, Darwati. Menggunakan email pribadinya, Darwati mengatakan, surat ini dibacakan sebagai pidatonya di Mesjid Raya Baiturrahman untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

    Berikut adalah isi surat  first lady Aceh ini

    Banda Aceh, 5 Pebruari 2012
    Ibu dan bapak serta saudaraku sekalian

    Tak terasa sudah lima tahun saya mendampingi Bapak Irwandi Yusuf sebagai Gubernur Aceh. Dalam masa-masa itu, banyak hal yang telah kami lewati. Tantangan demi tantangan datang silih berganti. Tetapi, kami menikmatinya sebagai bagian dari tugas mulia. Selama itu pula kami mendapat hal-hal baru yang belum pernah ada sebelumnya.

    Ada empat hal yang ingin saya katakan. Pertama, saya ingin sekali mengatakan rasa terharu saya atas jalinan persaudaraan yang sudah kita jalin selama, lebih kurang lima tahun ini. Buat saya, persaudaraan itu rahmat besar. Satu saja bertambah saudara itu sudah membahagiakan. Apalagi jika lebih dari satu. Menjalin persaudaraan dengan seluruh masyarakat Aceh sungguh membahagiakan hati. Jika pun ada yang saya sedihkan itu karena saya belum bisa menjangkau secara langsung semua saudara saya yang ada di Aceh. Saya sudah berusaha masuk kampung ke luar kampung untuk bertemu semuanya. Tapi apa daya, luasnya wilayah Aceh tidak membuat saya bisa menjangkau seluruhnya. Tapi, saya yakin, jarak bukan penghalang, bertemu bukan segalanya,  jalinan hati kita yang saling terhubung dalam rasa keacehan dan keindonesiaan adalah segalanya.

    Jika satu saja bertambah saudara sudah membuat bahagia tentu sebaliknya, akan sedih sekali jika harus kehilangan saudara. Karena itu, jika mungkin, saya berharap jalinan persaudaraan yang sudah terbangun selama ini tidak berakhir meski masa tugas kami selama lima tahun akan segera berakhir tanggal 8 Februari 2012 ini.

    Bagi saya, persaudaraan adalah jalinan hubungan hati untuk selamanya. Jadi saya ingin persaudaraan diantara kita sepenuhnya persaudaraan yang didasari pada hati. Itu harapan saya dan tentu saja saya menghormati harapan dan sikap semua.

    Buat saya, ini persaudaraan yang amat indah. Saya tidak akan mengganti keindahan ini dengan memutus jalinan persaudaraan. Saya ingin terus menambah dan memperkuat kualitas persaudaraan baik selama bertugas maupun saat menjadi rakyat biasa.

    Kedua, saya ingin menyampaikan terimakasih yang tak terhingga atas semua bentuk dukungan yang telah diberikan oleh segenap rakyat Aceh selama lima tahun ini. Sungguh, semua bentuk dukungan, sekecil apapun sangat berarti. Saya sangat menyadari, tanpa dukungan tidak ada yang bisa diwujudkan dalam kerja-kerja sosial, kerja-kerja kemanusiaan, kerja-kerja pendidikan dan kerja-kerja pembangunan lainnya.

    Saya juga ingin mengatakan betapa terharunya saya setiap kali melihat dukungan yang datang dari semua masyarakat Aceh. Sungguh, itu dukungan yang amat tulus. Saya bisa merasakan dari lubuk hati saya sehingga setiap dukungan menjadi sangat berarti dan membekas hingga saat ini. Ibarat matahari, dukungan itu memberi penerangan. Ibarat air, dukungan itu memberi kesejukan. Ibarat tanah, dukungan itu memberi kelapangan. Maka, izinkanlah saya membawa dukungan ini ke dalam kenangan hidup saya. Saya ingin menjadikannya sebagai catatan sejarah yang membanggakan.

    Ketiga, hari ini adalah Maulid Nabi Muhammad. Saya berharap zikir maulid ini dapat menjadi angin yang menyejukkan suasana politik yang agak memanas belakangan ini, dengan harapan Aceh akan selalu aman, damai, dan Pilkada juga bisa melahirkan pemimpin yg terbaik untuk Aceh ke depan. Lebih dari itu, melalui zikir akbar maulid nabi, diharapkan ada pencerahan oleh ibu Eli Risman terkait keteladanan Rasulullah agar kita bisa merajut ukhwah Islamiyah dalam menyiapkan generasi yang tangguh di era digital.

    Keempat, izinkan saya memohon maaf atas segala kekhilafan, kekurangan dan kesalahan saya selama lima tahun ini. Saya sadar tidak mungkin menjadi sosok sempurna. Jika tidak ada gading yang tidak retak maka tentu saja saya juga tidak luput dari kekhilafan, kekurangan dan kesalahan. Untuk itu, sekali lagi saya memohon sudi kiranya dimaafkan.

    Sungguh, banyak sekali yang masih ingin dimaksimalkan dari apa yang sudah diperbuat dengan dukungan semua. Juga masih banyak yang ingin dibuat lagi bagi masyarakat dan Aceh. Tapi apa daya, waktu membatasi niat, gagasan dan rencana yang ada.

    Terakhir, izinkan saya mengatakan tidak ada yang perlu ditangisi. Jabatan, tugas dan kesempatan itu hanya amanah sesaat aja. Jika pun ada yang harus ditangisi adalah karena saya belum maksimal berbuat.

    Demikianlah, wabillahitaufik wal hidayah, wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Mencegah Katastropik yang Menghancurkan

    Sejarawan Perancis, Alexis de Tocqueville penulis buku De la démocratie en Amérique (Demokrasi di Amerika) pada tahun 1835, menggambarkan bagaimana orang-orang Amerika menganggap kekayaan sebagai sesuatu yang dipuja dan dikejar, bukan hal yang harus dicemooh dan di redistribusi. ”Kesetaraan yang permanen atas kepemilikan,” tulis Tocqueville.

    Gagasan atas pemikiran ini terus melekat, setidaknya sampai berakhirnya Perang Dingin dan rontoknya kekuatan ideologi komunis bersamaan dengan rontoknya Tembok Berlin saat memasuki dekade 1990-an.

    Lalu ada gagasan Vladimir Lenin, almarhum mantan pemimpin Uni Soviet, mengenai komandnye vysoty (lazim diterjemahkan sebagai commanding heights) tahun 1924 tentang penguasaan dan dominasi aktivitas ekonomi, terutama produksi. Ini juga kelak menjadi dasar ekonomi liberal junjungan para pemimpin Barat, terutama almarhum mantan Presiden AS Ronald Reagan, mantan PM Inggris Margaret Thatcher, dan mantan PM Yasuhiro Nakasone yang menciptakan fondasi ekonomi pasar dan demokrasi liberal di bidang politik.

    Globalisasi abad ke-21 mengubah keseluruhan pemahaman liberalisme. Ini tidak lagi berbenturan dengan ideologi sosialistis seperti pada era Perang Dingin. Liberalisme menjadi rumit dan menjadi bumerang bersamaan dengan munculnya krisis zona euro dan AS.

    Ada yang berubah. Kebangkitan China tidak bisa dibendung secara ekonomi. Model pertumbuhan ekonomi pun berubah, tidak lagi dominasi ekonomi liberal yang dijagokan selama beberapa dekade ini.

    Perdebatan soal ini juga berlangsung dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Perdebatan meruncing antara kapitalisme liberal sesuai gagasan tiga sekawan, Reagan, Thatcher, dan Nakasone, versus kapitalisme negara dengan basisnya di China dan Rusia pemilik kekuatan BUMN yang meluas.

    China berubah, dunia pun berubah. Di sisi China, belum pernah ada upaya ekonomi sehingga bisa sampai lebih dari 400 juta jiwa berhasil terangkat dari kemiskinan absolut. Inilah buah keberhasilan modernisasi pembangunan dan reformasi ekonomi yang dijalankan selama tiga dekade di China.

    Krisis ekonomi global sekarang ini berbeda dengan Depresi Besar tahun 1929-1933 di AS, karena sifat dan skalanya yang juga berbeda. Memang kelesuan ekonomi dan keuangan dulu dan sekarang bersifat sistemis, tetapi secara prinsip berbeda satu sama lain.

    Krisis ekonomi menjelang Perang Dunia II ketika itu mewakili keruwetan berbagai institusi keuangan, ekonomi, sosial, dan politik di Amerika dan negara-negara yang terkait dengan kawasan itu. Sedangkan kawasan lain, mencakup negara China, India, dan Uni Soviet, lama tidak terkena dampak Depresi Besar tersebut. Artinya, krisis itu bersifat regional. Dan upaya satu negara saja, khususnya AS, cukup untuk mengatasi persoalan tersebut.

    Diuntungkan

    Sekarang persoalannya berbeda. Integrasi Uni Eropa (UE) belum mencapai titik optimum, termasuk sistem keuangannya. Utang yang menumpuk di negara-negara UE, termasuk AS, sangat masif. Di sisi lain, ada kecemburuan negara-negara Barat yang melihat Asia memiliki rumusan efektif untuk mempertahankan dan melindungi pertumbuhan ekonominya, khususnya China.

    Berbagai tuduhan pun dilontarkan, mulai dari persoalan depresiasi mata uang yuan, krisis nuklir Iran, terorisme, hak asasi manusia, hingga berbagai persoalan lain, termasuk ketimpangan perdagangan. Ketidakseimbangan struktural China-AS telah mendorong terjadinya berbagai ketegangan. Para politisi dan akademisi AS melihat hubungan persoalan ini dengan Beijing sebagai zero-sum games, dia atau saya yang hidup.

    Total defisit perdagangan AS dengan China diperkirakan mencapai 300 miliar dollar AS atau sekitar 40 persen dari total perdagangan kedua negara. Kenyataannya, statistik perdagangan kedua negara ini sering kali menyesatkan. Ambil iPad sebagai contoh. Produk merek Apple ini adalah buatan perusahaan AS, tetapi dirakit di China oleh Foxconn, perusahaan asal Taiwan.

    Apple mendapat keuntungan 30 persen dari harga iPad yang dijual, sedangkan China hanya memperoleh 2 persen keuntungan untuk biaya buruh dan manufaktur. Kecilnya kontribusi iPad bagi China, menurut berbagai penelitian, menunjukkan sebenarnya AS sangat diuntungkan oleh produk yang dibuat dan dijual di China. Ekonomi AS tetap diuntungkan oleh perusahaan multinasional AS yang beroperasi di China dan menjual produknya secara global.

    Katastropik

    Sekarang ada kecenderungan ekonomi pasar bergeliat dan bergerak ke arah yang tidak menentu dan dibarengi oleh kegagalan pemerintah untuk meregulasinya. Perdebatan kapitalisme pasar dan kapitalisme negara menunjukkan ekonomi pasar global sekarang ini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan dengan kapasitas pemerintah untuk memahaminya.

    Sistem demokrasi liberal dalam politik global ditusuk dan diporakporandakan oleh krisis keuangan pada saat globalisasi bergerak menuju integrasi ekonomi. Yang paling parah, krisis zona euro telah melenyapkan pemerintahan seperti kekosongan politik yang terjadi di Belgia selama hampir dua tahun terakhir ini.

    Sistem internasional yang berlaku sekarang ini adalah relik masa lalu yang usang dan tidak mampu untuk menjawab tantangan krisis ekonomi keuangan global yang dihadapi Barat. Konflik globalisasi tidak lagi antara demokrasi liberal melawan komunisme, tetapi konflik kekayaan di dalam negara-negara makmur yang ditandai oleh rontoknya Lehman Brothers.

    Ketika AS mencari terobosan-terobosan baru melalui perang di Afganistan dan Irak, kebijakan sumbu (pivot) dengan menempatkan pasukan Marinir AS di Darwin (Australia), maupun pembentukan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) yang dilihat sebagai arogansi negara makmur, konflik globalisasi menjadi tidak terbendung.

    Hubungan antara China dan negara-negara makmur akan menjadi sangat menentukan arah globalisasi ketika keterbukaan ekonomi dan perdagangan bebas di tengah praktik kapitalisme negara yang tidak memiliki preseden sebelumnya.

    Kehancuran bersama, yang dipastikan (mutual assured destruction) dalam Perang Dingin dengan persenjataan nuklir yang mampu menghancurkan dunia berkali-kali, menjadi prinsip penting bagi perkembangan ekonomi global dewasa ini untuk mencegah terjadinya situasi katastropik.

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Lima Tren Sosial Media Tahun 2012

    KOMPAS.com – Tahun 2011 lalu, sosial media berkembang sangat pesat. Indonesia adalah salah satu negara yang terkena demam sosial media. Indonesia menjadi pengguna Facebook nomor kedua terbanyak dan pengguna Twitter terbanyak ketiga di dunia. Akan seperti apa perkembangan sosial media di tahun 2012? Berikut pemaparan Amy Jo Martin, pendiri Digital Royalty seperti dikutip Tech Crunch.

    Sosial Media Akan Masuk Ke Siaran Televisi
    Televisi di tahun 2012 akan menjadi wadah sosial media baru. Pertunjukan televisi akan melibatkan masyarakat secara langsung melalui sosial media. Jaringan televisi yang khusus menyiarkan berita pun akan melibatkan audiens untuk berinteraksi secara langsung tentang sebuah berita yang sedang hangat.

    Siaran politik, kampanye, dan pemilihan Presiden mungkin akan dilakukan di televisi secara interaktif. Televisi, yang semula bersifat monolog, akan berubah menjadi dialog. Komunikasi yang semula satu arah, akan berubah menjadi dua arah dan lebih interaktif.

    Streaming Televisi Akan Ramaikan Sosial Media
    Ini kebalikan dari Integrasi Sosial Televisi. Setelah sosial media masuk ke ranah televisi, kali ini tayangan televisi yang akan masuk ke ranah internet. Di tahun 2012 ini, Super Bowl, pertandingan final sepak bola Amerika yang dilangsungkan di akhir musim pertandingan NFL di Amerika Serikat, akan tayang secara streaming.

    Artinya, tayangan ini bisa dinikmati para netizen (sebutan bagi pengguna internet) tanpa harus menonton televisi. Nonton sepak bola bisa melalui desktop atau laptop. Tayangan streaming akan semakin menjamur di ranah online dan bisa diintegrasikan dengan sosial media dan periklanan.

    Facebook Akan Menjadi Pusat Sosial Media
    Ami percaya, di tahun 2012, Facebook akan menjadi pusat proyek-proyek sosial media. Facebook akan bisa menjual namanya untuk mendapatkan beragam proyek yang membuat sebuah sosial media tertentu tidak ditinggalkan oleh penggunanya.

    Integrasi dengan Facebook menjadi sebuah keharusan yang menguntungkan di tahun 2012.

    Bisnis Besar Sosial Media Akan Tumbuh

    Perusahaan-perusahaan besar akan berkonsentrasi merawat akun jejaring sosial yang dimiliki perusahaan, untuk menjaga “brand image”. Facebook, Twitter, dan Youtube bukan lagi tempat untuk memasang iklan, melainkan menjalin hubungan sosial dengan pelanggan dan mitra bisnis.

    Bagi pengusaha jejaring sosial, ini bisa menjadi tempat untuk membuat sebuah channel khusus berbayar bagi perusahaan lain, sehingga halaman yang mereka miliki terlihat lebih profesional namun tetap “bersahabat”.

    ROI Masih Besar
    ROI (Return on Investment) di sosial media masih besar tahun 2012 ini. Konsep hubungan yang terjalin dari keberhasilan sosial media akan diadopsi oleh perusahaan sebagai strategi bisnis. Costumer Service, riset, dan image branding akan menjadi bisnis yang penting di ranah sosial media.

    Perusahaan akan memanfaatkannya untuk mengetahui sejauh mana masyarakat mengerti kebijakan yang diambil dan sejauh mana pemasaran berhasil. Sosial media akan menjadi tempat investasi yang menghasilkan ROI besar dengan mengeluarkan sedikit investasi.

    Source : Kompas Tekno

  • Jalan Tengah Best Western dan Baiturrahman

    Dalam dua pekan ini, publik Aceh dan khususnya warga kota Banda Aceh tengah hangat-hangatnya membicarakan rencana walikota yang akan memberikan izin pendirian  Best Western Hotel yang akan berdiri secara berhampiran dengan Mesjid Raya Baiturrahman (MRB). Rencana ini telah mendapat banyak sorotan dari berbagai kalangan di Aceh, mulai dari ulama, cendekiawan, mahasiswa, akademisi, politisi dan bahkan juga para pemuka masyarakat. Terutama kecemasan berbagai pihak akan timbulnya efek negatif yang secara langsung akan mengganggu ketenteraman dan kenyamanan masyarakat kota Banda Aceh dalam melaksanakan kegiatan ibadah di MRB.

    Walau sebelumnya Ketua DPRK Banda Aceh telah bersuara bahwa hotel ini akan dijalankan secara Islami, tetapi hal ini belum memberikan jaminan secara jelas kepada masyarakat. Akibat ketidakjelasan dan dipenuhi kesimpang-siuran manajemen kebijakan pembangunan dan pengelolaan hotel inilah yang sesungguhnya menjadi punca masalah tersebut.

    Tulisan ini mencoba sedikit memberikan masukan jalan tengah sebagai bagian alternatif diskusi tentang rencana pembangunan hotel tersebut di Banda Aceh. Terlepas dari ada tidaknya berbagai kepentingan politis dan lingkungan serta lainnya, menurut penulis kalau memang ingin jujur dan ikhlas mendirikan hotel di samping MRB mestinya komunikasi dan mencari solusi secara aktif dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan tersebut, sekaligus ini modal investasi sosial mereka kini dan untuk masa yang akan datang. Sehingga kecemasan-kecemasan yang dipertanyakan warga kota dapat dijelaskan dan diuraikan dengan sejumlah komitmen-komitmen yang patut dipenuhi oleh pemerintah dan manajemen perusahaan pemilik hotel tersebut.

    Beberapa jalan tengah yang menjadi kajian penting menurut penulis adalah, kalau kita berpandangan contohlah hotel-hotel yang ada di Saudi Arabia (Mekkah dan Madinah) yang semuanya berhampiran dengan mesjid-mesjid mulia (Masjidil Haram dan Mesjis Nabawi) atau hotel-hotel yang berdekatan dengan mesjid di Negeri Kelantan, Malaysia (salah satu negeri bersyariat Islam di Malaysia). Mereka sah-sah saja berjalan dengan baik antara keduanya, yang disertai sejumlah aturan yang ketat.

    Lebih lanjut tentu hal ini membutuhkan diskusi yang lebih mendalam dan dapat menjadi cikal bakal pembuatan Qanun tentang pendirian dan perizinan pembangunan hotel di Aceh atau khususnya Banda Aceh dengan berwawasan syariat tentunya. Jadi, bukan sekedar menolak atau menerima begitu saja pemberian izin atas pendirian hotel tersebut. Masalah ini lebih kepada komitmen dan aturan hukum yang jelas. Ini yang pertama.

    Kedua, dapat pula mencontoh model Hotel Sofyan yang saat ini ada di Jakarta. Hotel Sofyan ini memiliki pengawas Syariah-nya, jadi ada semacam Dewan Syariah dalam manajemen pengelolaan hotelnya. Sehingga segala seuatu berkaitan kebijakan, operasional, manajemen, pengelolaan, keuangan, semuanya berbasiskan pandangan syariah, semua transaksi berlaku secara syariah. Ini juga dapat mencegah perilaku atau tindakan yang mengarah kepada maksiat yang mungkin akan terjadi atau sengaja ditolerir oleh manajemen hotel.

    Dewan Syariah hotel termasuk dalam bagian manajerial hotel, sehingga setiap kebijakan mestilah memenuhi aturan syariat itu sendiri. Dewan Syariah ini dapat dipilih dari MPU, IKADI, HUDA atau ulama lainnya, lebih baik lagi yang mengerti tentang perekonomian syariah.

    Ketiga, kalau perusahaan hotel itu berniat untuk menambah warna syiar MRB, sebaiknya pilihan nama juga lebih menunjukkan sikap keberpihakannya pada nilai-nilai religi atau keacehan, termasuk arsitektur, pelayanan, dan asesoris hotel dipenuhi dengan nuansa keislaman, sehingga dengan sendirinya, suasana hotel seperti nuansa mesjid. Di antaranya ornamental, hiasan dan lainnya bernuansa Islam dan atau keacehan. Jadi dari segi nama menyebutkan nama Islam, bukan best western yang berbau kebaratan, dan isi hotel semuanya penuh dengan warna-warna islam. Pilihlah nama seperti Hotel Baiturrahhim, Hotel Riyadhusshalihin, Hotel Seuramoe atau Hotel Geutanyoe yang lebih bernuansa Islami dan keacehan. Memberi nama yang kebaratan ini secara tidak langsung ingin menunjukkan kepentingan lain yang juga mengarah secara sengaja untuk mengganggu terhadap nilai-nilai yang menjauhi kearifan lokal di Aceh.

    Keempat, program-program manajemen pihak hotel ke depannya diharapkan mendukung wisata religi di Banda Aceh. Misalnya menawarkan paket ibadah, pasantren kilat, training keislaman, zikir akbar, wisata mesjid dan lainnya. Termasuk yang juga penting adalah sarana dan prasarana untuk mendukung program religi ini cukup tersedia dengan baik dari manajemen hotel itu sendiri. Dan lebih baik lagi program-program religi ini disinkronisasikan dengan program-program yang sudah direncanakan oleh pengurus MRB. Sehingga keduanya saling mengisi dan saling memberi manfaat. Komitmen ini yang mesti dibangun dari awal tentunya.

    Kelima, makanan dan minuman. Ini adalah persoalan strategis bagi sebuah hotel. Pihak perusahaan dan manajemen mesti menjamin bahwa hotel ini memiliki makanan dan minuman yang bersertifikasi halal untuk disajikan kepada para pelanggan/tamu hotel. Dan lebih baik lagi juga memenuhi standarisasi makanan halalan thayyiban, seperti adanya jaminan sistem Analisis Haram dan Pengendalian Titik Kritis (Haram Analysis Critical Control Point atau HrACCP) dan sistem Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (Hazard Analysis Critical Control Point atau HACCP). HrACCP adalah sebuah sistem untuk mencegah terproduksinya barang haram sedangkan HACCP adalah sistem untuk mencegah terproduksinya barang berbahaya bagi kesehatan dengan cara melakukan tindakan pencegahan sedini mungkin melalui serangkaian proses. Jadi sertifikasi halal, sistem HrACCP dan HACCP adalah sebuah standarisasi yang sudah banyak digunakan di berbagai manajemen hotel dan industri produksi makanan/minuman di seluruh dunia.

    Keenam, membayar zakat. Pihak pemerintah kota dan manajemen/perusahaan hotel membuat komitmen bersama agar hotel tersebut membayarkan zakatnya melalui lembaga resmi yang diakui oleh pemerintah melalui badan atau lembaga amil zakat yang ada di Aceh. Jadi penambahan zakat yang berfungsi untuk membantu kalangan fakir dan miskin lainnya akan bertambah, seiring dengan bertambah majunya perkembangan hotel ini sendiri. Sehingga pilihan masyarakat menengah ke atas untuk membuat kegiatan dan perhelatan dapat memilih hotel berbintang yang membayar zakat. Selain mendapatkan kepuasan layanan dari manajemen hotel, pelanggan atau tamu juga berpahala karena telah berkontribusi untuk menambah penambahan pemasukan zakat di Banda Aceh khususnya.

    Saya kira ini mungkin beberapa masukan alternatif yang saya sebut sebagai jalan tengah antara hotel dan mesjid, sekali lagi bukan hanya sekedar menolak atau mendukung sebuah kebijakan. Tapi sebuah kajian kritis yang diharapkan akan lebih memberi manfaat bagi semua pihak. Wallahu’alam bissahawab.[]

    *Oleh Rahmat Fadhil ,Penulis; Pemerhati Sosial Kemasyarakatan dan Manajemen Kebijakan

    Source : Harian Aceh

  • Demokrasi Dibajak Uang

    Kupang, Kompas – Praktik berdemokrasi di Indonesia sedang dibajak kekuatan uang dan kekuasaan. Uang dan kekuasaan yang seharusnya dikelola untuk kesejahteraan rakyat justru dipakai untuk merusak nilai moral, etika berdemokrasi, dan menginjak-injak hak warga.

    Setiap pesta demokrasi, dana di posisi sentral. Namun, uang yang digunakan untuk merusak moral bangsa itu bersumber dari uang rakyat. Kekuasaan dan jabatan tak dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat, tetapi semua hanya berorietansi pada uang.

    Demikian dikatakan Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto saat melantik Eston Foenay sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kupang, Sabtu (7/1). Soal uang yang berkuasa itu, lanjutnya, tampak dari setiap hari media massa memberitakan kasus korupsi oleh pejabat.

    ”Mereka masih aktif atau mantan, seperti gubernur, dirjen, bupati, anggota DPR dan DPRD, serta seterusnya sampai ketua RT yang mengurus beras untuk rakyat miskin (Raskin). Bangsa ini mengalami dekadensi moral luar biasa, tetapi pengambil kebijakan tidak pernah sadar akan kondisi ini. Mereka bahkan berjuang untuk meneruskan situasi ini ke depan,” kata Prabowo.

    Eston adalah Wakil Gubernur NTT. Dia mendampingi Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang adalah Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Frans menambahkan, meski berbeda partai, dia dan Eston bersepakat untuk terus membangun provinsi itu.

    Prabowo memisalkan, di Jawa Tengah biaya kampanye pasangan calon bupati menghabiskan dana Rp 15 miliar. Gaji bupati hanya Rp 5 juta. Dari mana bupati yang memenangi pemilu kepala daerah melunasi ongkos kampanyenya? Di sinilah proses pencurian uang rakyat terjadi. Dana APBN/APBD setiap tahun ratusan triliun rupiah, tetapi tidak pernah sampai kepada rakyat bawah. (kor)

    Source : Kompas.com

  • Outlook Teknologi Informasi Indonesia 2012 (Bagian I)

    Sekalipun fisikawan Denmark ternama, Niels Bohr (1885-1962), pernah berucap bahwa “prediction is very difficult, especially about the future”, namun atensi akan apa yang terjadi di esok hari takkan pernah surut.

    Setidak-tidaknya, pertanyaan tentang apa yang akan terjadi dalam sektor teknologi informasi Indonesia pada 2012, kerap menghampiri penulis. Dari yang bersifat konseptual hingga sisi pragmatis bisnis-nya.

    Ini menjadi kian menarik dibahas, manakala jumlah pengguna internet Indonesia yang sudah tembus 50 juta, telah banyak mengubah tatanan. Bahwa teknologi informasi hari ini adalah keseharian yang masuk ranah consumer.

    Teknologi informasi bukan lagi perangkat monopoli korporasi, atau sebagian golongan dengan akses kapital besar. Karena itu, mengabaikan consumer dalam semua kebijakan bisa menciptakan sebuah kesalahan besar.

    E-Channel Revolution

    Secara garis besar, ada empat poin utama –saling berkaitan–  yang akan terjadi tahun depan. Pertama, pergerakan mendatang akan terangkum  dalam sebuah konsep bernama e-channel revolution atau revolusi berbasis layanan dunia maya.

    Frase ini merujuk pada situasi mulai meluasnya dan mengakarnya aplikasi internet dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia. Dari mulai e-commerce, e-lifestyle, e-social, e-payment, e-banking, dan sejenisnya.

    Ambil contoh Forum Jual Beli/FJB  Kaskus.us atau tokobagus.com yang nilai transaksi bulanannya sudah demikian besar. Kita tak pernah mengira bahwa orang Indonesia akan jual-beli produk di internet secepat dan sedahsyat ini.

    Bahkan, saya amati, generasi muda saat ini lebih mencari dan membeli produk berbasis rekomendasi koleganya di internet –sekalipun di lingkungan sekitarnya sudah ada toko konvensional yang menjual produk serupa.

    Transaksi Elektronik

    Demikian pula dengan sistem pembayaran elektronik. Kini lazim ditemukan, sekalipun di level pedagang ritel di Glodok, yang seluruh transaksinya dibayar oleh sebuah perangkat keypad (misalnya milik BCA) untuk mentransfer seketika.

    Dua contoh ini menunjukkan bahwa pembayaran dan transaksi telah mengalami revolusi amat signifikan. Kepraktisan, kemudahan, kekuatan jejaring, keamanan, dan kecepatan, telah mengubah preferensi prilaku masyarakat Indonesia.

    Revolusi ini tentu akan membahayakan mereka yang masih bergerak pada paradigma bisnis lama. Kita cukup terhenyak dengan kenyataan bahwa Aquarius Dago, toko kaset iconic Bandung sekian puluh tahun lamanya, juga harus ditutup!

    Ini pertanda bahwa cara orang mengakses lagu dan film sudah berubah luar biasa. Mereka tetap mau mengeluarkan uang untuk menikmati tembang favoritnya, namun dengan cara digital dan sophiscticated seperti RBT/ring back tone.

    Apakah kita kini mencari dan mereservasi hotel masih dengan mendatangi tempatnya? Banyak fakta di tahun ini menegaskan bahwa pencarian dan reservasi hotel semacam agoda.com justru lebih diminati, terutama oleh masyarakat urban.

    Yang Kolot, Tergerus

    E-channel revolution juga telah menggerus banyak perusahaan kolot, bahkan salah satu toko buku terbesar di Amerika pun, harus menerima kenyataan bahwa Amazon.com menyalipnya dan kini kokoh jadi toko buku terbesar di dunia.

    Seluruh perubahan berbasis layanan digital ini akan kian menguat tahun depan di Indonesia. ‘Taring’-nya bahkan bakal makin tajam karena segala bentuk dan variasi layanannya makin banyak dan mungkin di luar imajinasi kita.

    Kekuatan layanan penunjang hidup digital ini bisa juga makin mengakar karena perangkat pendukung semacam smartphone-pun makin terjangkau. Belum dengan fenomena komputer tablet yang mudah ditemukan di lingkungan kita.

    Generasi GIMI

    Prediksi penulis tentang generasi GIM (gadget internet mobile) di awal 2011 lalu, yang dinamis namun tetap terkoneksi, bukan hanya terbukti di lapangan, namun juga terjadi melampaui prediksi dengan fenomena iPad.

    GIMI atau gadget internet mobile iPad and iPad like be adalah istilah yang lebih tepat ketika kita melihat bahwa masyarakat Indonesia semakin mudah dan nyaman saat mengakses internet kapan dan dimanapun.

    So, tahun 2012 akan menunjukkan kian maraknya fenomena GIMI di Indonesia, sehingga menciptakan mata rantai yang kuat dalam mewujudkan e-channel revolution. Mereka yang masih konservatif, berhati-hatilah!

    … Prediksi kedua: kejadian sedot pulsa tahun ini, akan berulang tahun depan, sekalipun dalam bentuk yang berbeda. Seperti apa? Nantikan dalam Outlook Teknologi Informasi Indonesia 2012 Bagian Dua …  

    * Dr. Dimitri Mahayana, Penulis adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision.

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Budaya Konsumtif Kelas Menengah

    Rasa bangga muncul seketika di kala media massa menabur berita bahwa jumlah kelas menengah kini sekitar 43 persen dari total penduduk Indonesia.

    Berarti setidaknya 100 juta orang mampu meraih penghasilan 2-20 dollar AS per kapita per hari. Pengamat memperkirakan, jika pertumbuhan ekonomi terus membaik, setiap tahun akan bertambah 7 juta kelas menengah baru. Mereka adalah orang yang beruntung lolos dari penjara kemiskinan yang memasung ratusan juta warga miskin lainnya karena berpenghasilan kurang dari 1 dollar AS per hari.

    Setelah menelisik data aslinya, ternyata sebagian besar dari angka 50 persen itu hanya berpenghasilan 2-4 dollar AS per hari. Semakin mendekati penghasilan 20 dollar AS, semakin menciut persentase kelas menengah ini. Bisa disimpulkan, mereka sangat rentan terhadap krisis ekonomi yang sewaktu-waktu bisa bergejolak. Jika itu terjadi, barisan inilah yang pertama tergiring ke kumpulan warga miskin.

    Namun, bukan itu yang membuat rasa bangga menjadi sirna, melainkan kegemaran kelas menengah mengonsumsi barang impor. Entah karena merasa baru merdeka dari koloni kemelaratan menahun atau ingin pamer kepemilikan materi, libido konsumtif mereka begitu menggelora. Ketika barang konsumsi teranyar dilempar ke pasar, seketika itu pula mereka menyerbunya. Banyak pengamat mengatakan, kelas menengah Indonesia adalah penggila produk asing, mulai dari makanan, fesyen, barang elektronik, sampai otomotif.

    Mungkin potret kegilaan yang dipicu libido konsumtif itulah yang mencuat ketika ribuan orang antre berjam-jam dan berdesak-desakan untuk membeli telepon seluler merek Blackberry Bold 9790 di sebuah mal di Jakarta baru-baru ini. Ini bukan kasus pertama. Dua minggu sebelumnya peristiwa konyol serupa juga muncul di Manado (Kompas, 12/11/2011). Tragis, karena kegilaan untuk memiliki telepon bermerek itu berbuah celaka. Seribu biji telepon pintar mengecoh ribuan manusia yang kurang pintar sehingga puluhan jatuh pingsan dan terkapar.

    Tragedi kultural

    Kalau boleh disebut, inilah serial lanjutan tragedi kultural bangsa kita. Galibnya, peningkatan status ekonomi berjalan seiring eskalasi kecerdasan sosial. Andai pun tidak bersemangat kapitalis tulen dalam arti hemat dan kerja keras, minimal orang tidak hedonis-konsumtif.

    Namun, yang terjadi sebaliknya. Mobilitas vertikal kelas menengah ini merangkak tanpa pijakan nilai dan etos hidup yang mencerahkan. Harga diri sebagai kelas ekonomi baru hanya disangga oleh pilar nilai yang keropos: emo ergo sum, saya belanja, maka saya ada!

    Hidup menjadi arena pacuan gengsi yang hampa isi. Medianya adalah belanja dan kepemilikan materi. Nafsu belanja terus menyeruak di tengah defisit kearifan kolektif. Hidup konsumtif dan boros begitu seksi dan menggoda. Nilai kultural sekuat apa pun nyaris tak mampu menghalanginya. Belilah, mumpung barang belum habis. Ada diskon sekian persen, plus diskon tambahan buat pemilik kartu anggota. Pakai selagi belum ketinggalan mode. Tertibkan alis mata, haluskan kulit tubuh, dan wangikan raga di ruang spa. Jangan pikir besok lusa karena semua ada waktunya. Begitu bujuk rayu yang menghanyutkan kelas menengah ke ajang perburuan materi.

    Lantas, budaya konsumtif pun menggiring mereka memproduksi keinginan-keinginan baru yang nyaris tak bertepi. Batas-batas kebutuhan lenyap akibat ditelikung libido liar untuk memiliki segala yang berbentuk materi.

    Adalah usaha sia-sia menautkan hasrat memiliki materi dengan penggunaan akal sehat. Tak tabu berutang, yang penting bergengsi, gaya, dan gaul. Di tingkat ini, kepemilikan tak lagi berfungsi produktif. Sebaliknya ia terdegradasi jadi simbol gengsi sosial yang acap kontraproduktif.

    Maka, bisa dipahami mengapa industri otomotif dan elektronik mengguyur kelas menengah yang baru bangkit ini dengan produk unggulannya secara masif. Tak lain adalah karena wabah budaya konsumtif tadi.

    Majalah The Economist belum lama ini menempatkan Indonesia di peringkat teratas sebagai pengguna sepeda motor sekawasan Asia Tenggara. Tahun 2010, tak kurang 8 juta unit disapu bersih oleh pasar konsumen lokal dan hanya tersaingi oleh konsumen di China dan India. Masih di tahun yang sama, lebih dari 760.000 unit mobil berbagai kelas terjual laris manis di pasar otomotif. Perusahaan RIM, produsen Blackberry, mengklaim kelas menengah Indonesia salah satu pasar terbesarnya. Ini pun belum apa-apa dibandingkan dengan jumlah pelanggan (kartu telepon) aktif yang mencapai 240 juta.

    Mengapa budaya konsumtif mereka menggelora? Jawabnya ada pada faktor kendali diri dan daya kritik yang majal. Terbentuknya kelas menengah di negeri ini ternyata tidak melahirkan kelompok masyarakat kritis.

    Kalau boleh disebut, mereka adalah kelas menengah yang secara psikososial sangat labil dan permisif. Ciri-cirinya, antara lain, mudah terpengaruh, lekas berpuas diri, alergi bernalar, dan suka dipuji. Bukan kebetulan, pemeo the consumer is king cocok benar dengan karakter tersebut. Sebab, hanya dengan menjadi pembelilah mereka merasa jadi raja. Sayang, itu cuma perasaan belaka. Faktanya, konsumen yang tak kritis hanya menjadi budak nafsu konsumtifnya sendiri.

    Wabah budaya konsumtif sangat mencemaskan. Bukan karena ia terkait dengan persoalan etika dan rapuhnya karakter anak bangsa. Hal yang berbahaya adalah ketergantungan pada barang-barang impor yang niscaya akan mematikan pasar produk lokal. Taruhannya adalah daya tahan perekonomian nasional. Budaya konsumtif jadi bentuk undangan terbuka bagi kapitalisme global untuk leluasa menyetir pola pikir, gaya hidup, selera, bahkan ideologi kelas menengah kita sesuai dengan nilai yang melekat pada barang yang mereka hasilkan.

    Melihat ancaman besar seperti itu, tampaknya harus dicari jurus jitu untuk meredam penyebaran budaya konsumtif tadi. Jika tidak, kita harus rela menerima kenyataan jadi bangsa yang kehilangan jati diri.

    Janianton Damanik Guru Besar Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fisipol UGM

    Source : Kompas.com

  • Seorang Anak Bertanya..

    Seorang anak bertanya kpd Tuhannya. “Ya Allah mengapa bundaku sering menangis?

    “Allah menjawab: “karena ibumu seorang WANITA. Aku ciptakan ia sebagai makhluk yg sangat istimewa.

    Aku kuatkan bahunya untuk menjaga putra putrinya. Aku lembutkan hatinya untuk memberikan rasa aman. Aku kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia. Aku teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat orang lain menyerah.

    Aku beri dia rasa sensitif untuk mencintai putra putrinya dalam keadaan apapun. Aku kuatkan batinnya untuk tetap menyayangi meski disakiti oleh putra putrinya atau oleh suaminya sekalipun. Aku beri dia kekuatan untuk mendorong suaminya belajar dari kesalahan. Aku beri dia keindahan untuk melindungi batin suaminya.

    Bundamu adalah makhluk yang sangat kuat. Jika suatu saat kau melihatnya menangis, itu karena Aku beri dia AIR MATA yg bisa digunakan sewaktu-waktu utk membasuh luka batinnya sekaligus utk memberikan KEKUATAN.

    “SELAMAT HARI IBU 22 Desember..”

    Posted with WordPress for BlackBerry.