siwah.com

Category: Education

  • Dipo Alam’s Political Stance Acceptable

    JAKARTA, KOMPAS.com – A noted sociologist from Syarif Hidayatullah Islamic State University has defended Cabinet Secretary Dipo Alam’s political stance on the country’s mass media, which were so critical to President Susilo Bambang Yudhoyono.

    “The political stance and steps that Dipo Alam has taken so far must be respected and appreciated as we also respect those, who criticize and disagree with the president’s leadership,” Dr.Musni Umar said here Friday.

    In democracy, disagreement and different political stances were acceptable. In Islam, different opinions were also acceptable, he said. Therefore why should Dipo Alam’s recent threat to certain media that were so critical to the government be bitterly reacted? he asked.

    Umar argued that there were at least three reasons for understanding the discourse of media versus Dipo Alam. The first argument was related to difference of interests.

    “This is so natural in real politics because an everlasting friend is only interest,” he said.

    The second argument was related to the disturbance of interests. In this context, becoming an opposition within a governance in a country brought a consequence, he said. Those in power would defend themselves from any movement and criticism if they felt disturbed. One of the actions that they might take was boycotting their opponents’ interests.

    This was what Dipo Alam had done, he said. The third argument was related to a culture of not easily accepting criticism. Print and electronic media belonged to the capital owners but they were run by journalists.

    Those behind the mass media were not “angels”. Therefore they could be right or wrong. Due to the fact that both parties (government and media) had their own interests, they could be united but could also be disunited, he said.

    By considering this argument, there was nothing wrong with Dipo Alam’s political stance regarding his remarks on the media, he said. However, Dipo Alam’s remarks had sparked pros and cons in the society.

    For Golkar Party Chairman Aburizal Bakrie, it was not appropriate to threaten the mass media in Indonesia’s democratic and openness era. “It (threatening media) is most inappropriate,” he said.

    Instead, it might have only been a “slip of his tongue”, he said adding that threatening the print and electronic media that were critical to the government was not appropriate in this democratic era. In connection with this controversial remark, the Press Council had summoned Dipo Alam.

    Source: kompas.com

  • Cerita Soal Bandit Demokrasi

    Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama sungguh galau dengan maraknya korupsi di negeri ini. Bagaimana mungkin, di era demokrasi, bisa terjadi hampir separuh gubernur dan bekas gubernur di republik ini tersangkut kasus korupsi. Belum lagi, masih ada 155 pejabat daerah yang terjerat korupsi.

    Kegalauan itu disampaikannya saat membuka Seminar Nasional ”Korupsi yang Memiskinkan” yang diadakan Kompas di Hotel Santika, Jakarta. Korupsi menjadi penyakit bangsa ini, sejak dulu hingga kini!

    Upaya memeranginya terus dilakukan, namun belum menunjukkan hasil. Lembaga pengawas korupsi bertebaran, namun korupsi tetap saja ada, bahkan kian meluas. Lembaga donor tampaknya frustrasi dengan situasi ini. Paling tidak itu tecermin dari pernyataan Laode M Syarif, PhD, Chief of Cluster for Security in Justice. Ia menyebut survei yang dilakukan Partnership for Governance Reform soal persepsi korupsi di Indonesia pada tahun 2001 tidaklah berubah sampai sekarang. ”Kami mungkin telah gagal,” ucap pria yang meraih PhD dari University of Sydney.

    Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan bangsa ini?   

    Biaya demokrasi yang mahal dituding sebagai penyebab terjadinya korupsi di sejumlah daerah. Biaya untuk bertarung menjadi gubernur bisa berkisar Rp 80 miliar (tergantung dari daerahnya), sementara pendapatan gubernur tak akan sebesar itu. Lalu dari mana biaya itu diperoleh? Ya, tentunya diupayakan kembali saat menjadi gubernur atau bupati. Itulah model politik transaksional yang kini sedang terjadi.

    Pertanyaan lain yang selalu menghinggapi adalah sungguh-sungguh seriuskah bangsa ini memberantas korupsi. Jangan-jangan banyak yang senang dengan iklim yang korup, di mana uang suap, uang semir, amplop merajalela di setiap meja birokrasi.

    Program antikorupsi dijalankan, tapi semata-mata hanya karena ada donor yang mau mensponsorinya. Ide Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Yudisial, Komisi Ombudsman bukanlah ide murni bangsa ini. Itu adalah desakan dari luar. Kelahiran lembaga pengawas itu tidaklah jelek, tapi mungkin karena dipandang sebagai proyek, geregetnya kurang terasa.

    Jawaban meyakinkan memang belum didapat. Namun, sebuah buku tipis karya almarhum I Wibowo, Negara dan Bandit Demokrasi (2011), mungkin bisa memberikan perspektif. Dalam buku itu ada kumpulan artikel soal demokrasi di Indonesia dan perdebatan dengan sejumlah ahli di harian Kompas tahun 2003.

    Wibowo salah satunya mengutip sebuah buku, Power and Prosperity (2000) karya Mancur Olson (1932-1998). Tesis Olson inilah yang dipakai untuk menunjuk salah satu kelemahan demokrasi di Indonesia. Dalam buku itu, Olson menunjuk fakta adanya roving bandits (bandit yang mengembara) dan stationary bandits (bandit yang menetap).

    Terasa kasar memang menyebut bandit untuk ukuran Indonesia. Tapi karena itu adalah tesis Olson, saya tak dalam posisi mengubahnya. Memang bukan Indonesia yang dijadikan sampel oleh Olson, tapi Uni Soviet. Ia menggambarkan ketika Uni Soviet mengumumkan demokrasi, bukan demokrasi yang bertakhta, tetapi para bandit.

    Lalu, apa kaitannya dengan demokrasi? Demokrasi mengharuskan sirkulasi elite secara periodik. Dalam situasi inilah, aji mumpung terjadi. Sebelum pemilu berikutnya digelar, yang terpikir adalah

    bagaimana mengembalikan utang investasi politik. Mumpung masih berkuasa, kekayaan negara disabet. Inilah yang dikonstruksikan Olson sebagai roving bandits yang mengancam demokrasi.

    Apakah tesis Olson itu jawaban atas maraknya korupsi dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Rote? Dari eksekutif hingga legislatif? Dari advokat hingga hakim? Entahlah, tapi itu patut direnungkan. Ironisnya lagi, proyek kantin kejujuran di sekolah pun banyak yang bangkrut.

    Lalu, Wibowo dalam tulisan ”Memaafkan Demokrasi” menyebut penegakan hukum menjadi salah satu solusi untuk atasi bandit. Sedangkan solusi jangka panjang adalah pendidikan antikorupsi sejak dini. Budiman Tanuredjo

    Source: kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Mubarok: Gerindra Cerdas, PKS Kelewatan

    VIVAnews – Setelah usul Pansus Hak Angket Mafia Pajak kandas di paripurna Dewan Perwakilan Rakyat, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Achmad Mubarok memuji sikap Fraksi Gerindra. Fraksi partai yang didirikan Prabowo Subianto itu dinilai berperan besar dalam menggagalkan usulan ini.

    Sikap itu dipuji kalangan petinggi Partai Demokrat.  “Gerindra itu obyektif, cerdas, dan tidak terbawa arus. Tapi, bukan berarti mereka menjilat. Itu mereka lakukan karena punya pandangan yang baik dan tidak retoris,” kata Mubarok, Rabu, 23 Februari 2011.

    Fraksi Gerindra, Mubarok melanjutkan, mampu menganalasis dengan baik bahwa masalah perpajakan di Tanah Air ini tidak tepat bila diselesaikan melalui jalur politis atau angket, melainkan harus secara hukum. Dalam hal ini, Mubarok menekankan, Demokrat bukan berarti tidak setuju untuk menuntaskan masalah-masalah pajak di Indonesia.

    “Gerindra itu bisa mikir. Bahwa hak angket itu, sesuai pengalaman sebelumnya (kasus Bank Century) tidak ada hasilnya. Padahal, angket Century begitu mahal ongkosnya,” kata Mubarok.

    Lantas, Mubarok membandingkan Fraksi Gerindra dengan Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar) dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kata Mubarok, kedua fraksi tidak mau kompak, padahal mereka anggota koalisi pendukung pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono. “PKS ini kelewatan, partai pemerintah kok seperti itu,” kata Mubarok. “Kalau Golkar, ini memang sudah punya kepentingan tertentu.”

    Seperti diberitakan sebelumnya, dari semua anggota partai koalisi, yang sejalan dengan Demokrat yakni, PPP, PAN, dan PKB minus Lily Wahid dan Effendy Choirie.

    Sebelumnya petinggi Golkar menegaskan bahwa dukungan terhadap usulan Pansus Mafia Pajak itu diberikan semata-mata agar kasus mafia pajak ini lebih terbuka. Terutama membuka para mafia dibalik 151 perusahaan yang masuk dalam daftar klien Gayus Tambunan.

    Dengan membentuk Pansus, kata ketua fraksi Golkar, Priyo Budi Santoso, DPR bisa memanggil perusahaan-perusahaan itu dan petinggi di departemen perpajakan. Sebab mafia pajak itu selalu merupakan kerjasama antara dua belah pihak. Pansus ini, katanya, tidak diarahkan untuk memakzulkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    Source: vivanews.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • PKNU Siap Merger dengan PKB atau PBB

    SIDOARJO–MICOM: Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) siap merger dengan parpol lain yang memiliki visi sama.

    Penjajakan merger parpol disampaikan Ketua Umum DPP PKNU Choirul Anam saat Rapat Pimpinan Nasional PKNU di Hotel Sinar Juanda Sidoarjo, Selasa (22/2). Menurut Cak Anam, PKNU siap melakukan merger asalkan dengan parpol berbasis Islam dan memiliki visi sama.

    Uniknya, Cak Anam menegaskan bahwa PKNU idealnya merger dengan PKB, baik PKB Muhaimin Iskandar maupun PKB Gus Dur. Selain PKB, parpol lain yang dinilai cocok adalah Partai Bulan Bintang (PBB).

    Penjajakan merger parpol bisa saja terealisasi. Mengingat saat ini ada Undang-Undang Partai Politik baru yang bisa mematikan partai-partai kecil.

    Sebab UU Parpol baru itu mensyaratkan semua parpol, baik baru maupun lama, untuk melakukan verifikasi. Persyaratan verifikasi sesuai UU Parpol baru sangat berat.

    Persyaratan yang memberatkan tersebut di antaranya mewajibkan setiap parpol harus memiliki kepengurusan di 100% provinsi, 75% kabupaten/kota, dan 50% kecamatan. “Tapi idealnya parpol-parpol Islam memang harus bersatu dengan adanya UU Parpol baru ini,” kata Cak Anam. (OL-5)

    Source: media indonesia

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Golkar Umumkan Calon Presiden pada Akhir 2012

    SURABAYA–MICOM: Partai Golkar akan mengumumkan calon presiden (capres) yang didukung pada akhir 2012 atau awal 2013.

    “Saya enggak bisa menjawab sekarang (soal capres), karena kami akan melakukan survei kader ke masyarakat dulu,” kata Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) di Surabaya, Selasa (22/2).

    Ia mengemukakan hal itu menanggapi pertanyaan peserta seminar nasional memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-88 NU yang digelar PWNU Jatim.

    Dalam seminar yang juga menampilkan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, fungsionaris PPP KH Noer Iskandar SQ, Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj, Ketua Umum FPI Habib Rizieq, dan mantan Panglima Laskar Jihad ustadz Ja’far Umar Thalib itu, seorang peserta menanyakan kesiapannya menjadi capres.

    Menurut Ical, survei masyarakat itulah akan menentukan yang bisa menjadi leader (pemimpin) yang tegas, keras, dan dinilai mampu.

    “Jadi, jawabannya bukan sekarang tapi nanti tahun 2012. Saya terikat memimpin Golkar, karena Golkar belum menentukan capres maka saya tak bisa mengatakannya,” katanya.

    Pihaknya akan memilih kader terbaik Golkar maupun figur luar sebagai pimpinan bangsa. “Yang terbaik hasil keinginan masyarakatlah yang akan diusung Golkar dalam Pemilu 2014,” katanya. (Ant/OL-5)

    Source: media indonesia

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Gerindra Tegaskan tidak akan Gabung Koalisi

    JAKARTA–MICOM: Meskipun menolak usulan Hak Angket Pajak, Fraksi Partai Gerindra menegaskan tidak akan pindah ke barisan partai-partai koalisi.

    Dalam voting yang digelar Selasa (22/2) malam, seluruh anggota Fraksi Gerindra yang berjumlah 26 orang menolak usulan pembentukan pansus hak angket. Sikap itu sejalan dengan Partai Demokrat dan sebagian koalisinya.

    “Harus saya tegaskan keputusan kami menolak bukan karena posisi kami menentukan. Ini murni, tidak ada kaitan dengan deal-deal. Ini tindakan murni sebagai partai politik independen,” ujar Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani.

    Menurut dia, keputusan menolak hak angket terjadi karena Fraksi Gerindra belajar dari pengalaman di kasus Bank century yang tidak tuntas.

    “Di Century tidak ada apa-apanya, problemnya di eksekutornya, bukan di DPR. Ini tidak terkait persoalan koalisi, saya jamin tidak ada tawar menawar, tidak ada pembicaraan antara Pak Prabowo dan Pak SBY,” imbuhnya.

    Persoalan mafia pajak, sambung dia, telah menjadi isu untuk berebut panggung politik. “Dalam alasan yang disampaikan pengusung hak angket, kami kebingungan melihat potensi pelanggaran. Ini problem yang tidak dijelaskan pengusung,” pungkasnya. (Wta/OL-3)

    Source: media Indonesia

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Program Beasiswa ke AS (Fulbright) untuk Tamatan SMA/SMK/Lulusan Diploma/S1

    COMMUNITY COLLEGE INITIATIVE PROGRAM

    This international educational exchange program enables individuals to study at a community college in the United States to develop professional skills.
    Eligible fields are Business Management and Administration; Tourism and Hospitality Management; Health Professions, including Nursing; Media; Information Technology; Agriculture; and Engineering Science.

    ELIGIBILITY
    To apply to the program, candidates must:

    Have completed a secondary school education; D1, D2, D3 and S1
    Preference will be given to High School Diploma
    Applicants with a Bachelor’s degree are eligible if they are applying in a field different from the field of their degree and have relevant work experience in the field for which they are applying.
    Applicants with MA or PhD degrees are noteligible to participate.
    Have relevant work experience in the field in which they are applying;
    Have English language skills that provide a basis for enrolling in academic coursework;
    Submit a complete application;
    Minimum Institutional TOEFL score 500 or TOEIC score 650 atau IELTS 5.0 (only scores less than 2 years old are valid).

    U.S. PROGRAM
    The Community College Summit Initiative Program will provide funding for round-trip airfare to the U.S.; a living allowance during English language, academic, and practical training program components; tuition costs; health insurance; and cultural enhancement activities. Students will be hosted in groups by community colleges competitively selected to participate in the program. Students are required to return home at the end of their program and may not transfer to a four-year U.S. academic institution.
    SUBMISSION OF APPLICATIONS
    Please return to AMINEF your complete application package by the application deadline that includes:
    Completed application form.
    Copy of your most recent, less than two years old, TOEFL/TOEIC/IELTS score report.
    Copy of high school diploma (English translation).
    Copy of identity document (KTP or passport).
    Please send the application package to AMINEF Office NO LATER November 1, 2011. Starting from January to the end of March, AMINEF office will be at Gd. Balai Pustaka, 6th Floor, Jl. Gunung Sahari Raya No. 4, Jakarta 10720. Effectively on April 1, 2011, AMINEF office will be at CIMB NIAGA Plaza, 3rd Floor, Jl. Jend. Sudirman Kav. 25, Jakarta 12920. Shall you decide to send your application by mail, please send them to the following address: AMINEF, PO BOX 2939, JKP 10029.

    For additional information, contact infofulbright_ind@aminef.or.id.
    We do not accept email applications. Hard copies must be sent or delivered to American Indonesian Exchange Foundation.
    The form can be downloaded here:
    To download form click here

  • Program Indofood Riset Nugraha untuk Mahasiswa S1

    Program Indofood Riset Nugraha untuk Mahasiswa S1

    http://www.indofood.com/event/irn2011/#

    PESERTA PROGRAM
    Mahasiswa S1 Perorangan (dalam rangka tugas akhir)

    PERSYARATAN  MENGIKUTI PROGRAM
    Bagi mahasiswa S1 perorangan, proposal yang diajukan harus dalam rangka menyelesaikan tugas akhir/Skripsi dengan melampirkan transkip nilai terakhir.
    Jangka waktu penelitian maksimal 1 (satu) tahun.
    Penelitian dilakukan dalam wilayah Republik Indonesia.
    Menyertakan riwayat hidup lengkap Peneliti dan Dosen Pembimbing beserta data-data diri yaitu nama, NPM/NIM, jenis kelamin, alamat lengkap, nomer telepon, telepon seluler (HP), faksimili dan email.
    Mengajukan proposal tertulis dengan melengkapi semua persyaratan yang ditetapkan.

    FORMAT PROPOSAL
    Format Pengetikan :
    Proposal diketik dalam kertas A-4, jarak 1,5 spasi, font times new roman, ukuran 12 poin.
    Batas pengetikan : batas kiri 4 cm, batas kanan 2,5 cm, batas atas 3 cm dan batas bawah 2,5 cm, tidak termasuk nomer halaman.
    Sampul Muka berwarna Biru
    Halaman Pengesahan (yang telah dicap/stempel dan ditandatangani oleh Dosen Pembimbing dan Kajur/Prodi atau Dekan)

    Daftar Isi
    Uraian Umum
    Abstrak/Ringkasan Penelitian
    Pendahuluan
    Perumusan Masalah
    Tujuan dan Manfaat Penelitian
    Tinjauan Pustaka
    Metode Penelitian

    Jadwal Pelaksanaan
    Rincian Anggaran Penelitian
    Daftar Pustaka
    Lampiran:
    Download Panduan Sistematika & Format Proposal

    BATAS WAKTU
    1 Batas akhir penerimaan proposal paling lambat tgl. 18 Maret 2011 (Cap Pos).
    2 Semua proposal dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dan dikirim ke Sekretariat Panitia.
  • Kampanye Terselubung Kian Marak

    JEURAM – Jadwal tahapan pilkada 2011 belum lagi ditetapkan, namun aksi kampanye terselebung yang melibatkan sejumlah figur yang disebut-sebut akan maju sebagai bupati mau pun wakil bupati akhir-akhir ini kian marak saja di Kabupaten Nagan Raya. Di pihak lain, pihak KIP setempat menyatakan tak bisa mengambil tindakan terhadap hal tersebut, karena belum ada payung hukum.

    Pantauan Serambi, di beberapa tempat dan kesempatan, para figur calon kepala daerah maupun tim suksesnya malah tidak segan-segan melakukan kampanye secara terbuka. Selain baliho, spanduk, kalender yang disebar secara luas, beberapa kandidat juga menggelar pertemuan dengan masyarakat di sejumlah kecamatan. Bahkan tak tanggung-tanggung, sejumlah pernyataan sikap yang diwakili tokoh masyarakat, perkumpulan pemuda, serta kelompok tertentu di wilayah itu semakin terang-terangan saja.

    Aris Irwansyah, seorang mahasiswa asal Nagan Raya kepada Serambi Minggu (20/2) mengatakan, aksi kampanye terselubung dan terbuka yang terjadi di wilayah itu kini telah mencapai pada tahap yang mencemaskan dan membingungkan. Pasalnya, beberapa bakal calon kepala daerah dan wakil telah melakukan kampanye yang intinya warga harus memilih mereka pada pemilihan mendatang.

    Tak hanya itu, aksi kampanye yang kini dilakukan itu seolah-olah telah memasuki tahapan pilkada. Sehingga masyarakat yang sedang melakukan aktivitas secara pribadi untuk melakukan kegiatan ekonomi, justru terganggu dengan hal itu. “Seharusnya Pemkab Nagan Raya atau pihak terkait lainnya segera mengambil tindakan, sehingga masyarakat tak dirugikan dengan kampanye terbuka dan terselubung ini,” keluhnya.

    Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Nagan Raya T Abdul Rasyid SE yang dimintai tanggapannya mengatakan pihaknya tidak bisa mengambil tindakan apapun terhadap fenomena itu, karena belum ada aturan yang mengatur tentang hal itu. “Secara kelembagaan kami telah berupaya meminta penjelasan ke KPU pusat di Jakarta dan KIP Aceh tentang hal ini, namun sejauh ini sama sekali tak ada suatu aturan untuk mengatasi hal ini,” jelasnya.

    Menurutnya, kalaupun ada solusi dan penanganan, hal itu diserahkan sepenuhnya kepada pihak terkait untuk melakukan penertiban. Karena wewenang penertiban kampanye terbuka dan terselubung ini merupakan tanggung jawab Pemkab Nagan Raya serta aparat penegak hukum, pungkasnya.(edi)

    Source: Serambi Indonesia

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Dipo Alam Penabu Genderang SBY

    INILAH.COM, Jakarta – Sekertaris Kabinet Dipo Alam kini gencar mengeluarkan pernyataan kontroversi, tentang isu politik. Sikapnya yang kritis ini mirip dengan Ruhut Sitompul.

    Pengamat poltik Lembaga Survei Indonesia Burhanudin Muhtadi mengatakan, Dipo kini telah diseting sebagai garis keras SBY.

    “Sebelumnya kan Dipo jarang tampil ke publik, tapi belakangan sjak kasus tokoh agama yang melontarkan daftar kebohongan SBY, dia berada di garis depan. Saya melihat Dipo Alam sebagai hard liner SBY,” ujarnya kepada INILAH.COM, Selasa (22/2/2011).

    Burhan mengibaratkan, dalam kelompok orkestra musik Dipo berperan sebagai penabu genderang yang memeriahkan musik. “Dalam politik itu semacam orkestra ada yang bagian pianis, gitaris, nah Dipo Alam ini drumernya,” kata dia.

    Namun tetap saja, lanjutnya, kelompok orkestra musik ini dikendalikan oleh seorang dirijen yang dalam hal ini SBY langsung. [lal]

    Source: inilah.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.