siwah.com

Category: Education

  • Unjuk Pamor di Pandalungan dan Madura

    Pandalungan, yang arti aslinya “periuk besar”, sebagai bagian ”tlatah” atau geokultural terbesar di Jatim banyak dihuni dua etnis mayoritas, Jawa dan Madura. Pandalungan pun bermakna masyarakat hibrida atau masyarakat berbudaya baru akibat terjadinya percampuran dua budaya dominan itu. Di kawasan luas itu mengakar sekali pengaruh Islam dan Jawa. (Ayu Sutarto, 2006)

    Pandalungan yang berarti “periuk besar” dari bahasa Jawa “dhalung” bermakna sebagai pertemuannya budaya sawah dengan budaya tegal. Tidak heran jika masyarakat di sana berciri agraris-egaliter, bekerja keras, agresif, ekspansif, dan memiliki solidaritas yang tinggi.
    (more…)

  • Sekondan Bukan Seken Komandan

    Posisi wakil sebut saja dengan ”sekondan”. Dalam proses pencalonan kepala daerah, sekondan bukanlah barang seken (second) atau sekadar hiasan karena kemenangan pasangan juga sangat ditentukan oleh peran sekondan.

    Peran sekondan atau calon wakil gubernur dalam pilkada bisa dilihat dalam dua hal, meningkatkan popularitas dan memperkuat dana kampanye. Kombinasi kedua hal ini akan menghasilkan banyak pola dan variasi.
    (more…)

  • Saling Saing Rebutan Pemilih Muda dan Perempuan

    Memilih satu dari lima pasang calon bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika setiap pasang calon berasal atau memiliki unsur ikatan yang sama, misalnya tradisi ke-NU-an yang menjadi ciri dominan Jatim. Ditambah lagi dengan adanya sikap apatis terhadap siapa pun gubernur yang terpilih.

    Hasil jajak pendapat terhadap pemilih sesaat setelah memberikan suaranya (exit poll) yang dilakukan Litbang Kompas menunjukkan lekatnya aspek-aspek primordial seperti jender, etnis, dan agama dalam pilihan terhadap kandidat.
    (more…)

  • Pilpol Pilgub Wong Osing

    ”Karakter Banyuwangi lebih kurang bisa dilihat dari makanan khasnya. Rujak itu dari Sidoarjo, sedangkan soto dari Madura. Di sini rujak dan soto dicampur, jadilah rujak soto khas Banyuwangi. Atau pecel dicampur rawon, jadi juga pecel rawon yang cuma ada di Banyuwangi.”

    Demikian tokoh budaya Banyuwangi, Hasnan Singodimayan, memberikan analogi dalam menggambarkan masyarakat Banyuwangi, terutama masyarakat Osing, yang merupakan suku asli di wilayah ujung selatan Jawa Timur ini. Karakter masyarakatnya pun menjadi kuat sebagai akibat perpaduan keragaman budaya dan tradisi yang ada di Banyuwangi.
    (more…)

  • Mataraman Itu Kental, tetapi Gagal

    Pola kultur Mataraman yang masih ada sampai sekarang tentu memengaruhi cara masyarakat wilayah ini memandang kondisi sosialnya, termasuk terhadap calon pemimpin Jatim yang berlaga di ajang pemilihan gubernur 23 Juli lalu.

    alon gubernur yang memiliki kedekatan sosiokultural dengan masyarakat Mataraman lebih ”dimudahkan” dalam urusan merebut hati pemilih di daerah ini. Padahal, bentangan Mataraman merupakan wilayah kultural basis dukungan bagi trio S, Soenarjo, Soekarwo, dan Sutjipto. Soenarjo yang diusung Partai Golkar dan Soekarwo (PAN, Partai Demokrat dan PKS) sejak awal sudah intensif bersaing di wilayah yang pemilihnya paling besar (mencapai 27 persen dari total 29 juta pemilih) di seluruh Jatim (Priyatmo Dirdjosuseno, 2008).
    (more…)

  • “Ngadatnya” Mesin Pengumpul Suara

    Suka tidak suka, partai politik masih menjadi kendaraan politik untuk tampil di panggung kekuasaan. Dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim pada Rabu (23/7), kelima pasangan kandidat yang gagal melewati aturan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 sesungguhnya semua merupakan hasil usungan parpol. Makanya, kegagalan kelima kandidat itu untuk lolos justru menjadi ukuran juga ujian kemampuan parpol itu sebagai pengumpul suara.

    inamika politik di wilayah Jatim selama 2004-2008 sebetulnya sudah menunjukkan kalau kemampuan mesin politik partai sebagai penggalang dukungan belum berfungsi optimal dan suka ngadat. Lihat saja kasus parpol yang sukses mendulang suara pada pemilu legislatif tahun 2004, ternyata tidak menuai keberhasilan dalam pilkada selama 2005-2008.
    (more…)

  • “Kera Ngalam Ojo Melok Golput”

    ”Ojok melok golput lho ker… tapi yo ojo gegerane” (jangan ikut golput dan jangan menimbulkan keributan). Kata-kata itu bukan iklan layanan masyarakat dari KPU Kota Malang, melainkan kalimat seruan tertulis pada baliho besar di Alun-Alun Bunder Kota Malang.

    Bagi orang luar Malang, ketika membaca kalimat itu akan berkerut kulit dahinya dan bertanya-tanya, apa maksud kata ”ker”. Kata ”ker” ini terlihat unik dan khas dibandingkan dengan kata-kata lain dalam bahasa Jawa. Ternyata masyarakat Malang mengartikan ”ker” sebagai ”rek” yang dieja terbalik. Rek merupakan kependekan dari arek yang sering dibalik menjadi ”kera”. Lengkapnya, ”kera ngalam” pun berarti formal ”arek Malang” alias anak Malang bukan ”kera” Malang.
    (more…)

  • Jumlah Pemilih di Padang Turun

    Padang, Kompas – Jumlah pemilih dalam Pemilihan Kepala Daerah Kota Padang pada 23 Oktober 2008 merosot dibandingkan dengan jumlah pemilih yang terdata dalam Pemilu 2004. Penurunan ini disebabkan sejumlah hal, termasuk maraknya pemalsuan kartu pemilih.

    Demikian disampaikan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Padang Endang Mulyani, Kamis (24/7). Saat ini sudah terdata 434.875 pemilih atau sekitar 85 persen dari total data yang masuk. ”Sampai sekarang masih ada tujuh kelurahan di tiga kecamatan yang jumlah pemilihnya belum terdata di KPU Kota Padang,” ujarnya.
    (more…)

  • Pilkada Riau: Baliho dan Spanduk Kampanye Diturunkan

    Pekanbaru, Kompas – Panitia Pengawas Pemilihan Kepala Daerah Riau mulai beraksi. Setelah memberi peringatan secara lisan dan tertulis, hari Kamis (24/7) Panwas Riau dan Kota Pekanbaru dibantu puluhan aparat Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Provinsi Riau menurunkan baliho, spanduk, poster dan stiker kampanye dini yang dilakukan oleh para calon.

    ”Penertiban semua atribut kampanye dini ini untuk menciptakan suasana kondusif seluruh tahapan Pilkada,” ujar Muhammad Amin, anggota Panwas Riau, yang ikut mengawasi jalannya penertiban di kota Pekanbaru, Kamis.
    (more…)

  • Partai Lokal: Buah Perdamaian Rasa Aceh

    Rumah toko di Jalan T Iskandar, Lamglumpang Ulee Kareng, Banda Aceh, itu sama sekali tak mirip sebuah kantor pusat partai politik jika tak ada plang besar yang terpampang di depannya, bertulis Dewan Pimpinan Pusat Partai Rakyat Aceh.

    Masuk ke dalam rumah toko tersebut malah tak mengesankan bahwa di sanalah salah satu dari enam partai lokal di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) berkantor.
    (more…)