siwah.com

Blog

  • Vulkanologi, Inovasi, Kemitraan Iptek Ideal RI-AS

    Di tengah masih berlangsungnya letusan Gunung Merapi, juga di tengah lawatan Presiden Barack Obama ke Indonesia, satu hal terbayang di depan mata adalah AS mau berbagi sumber daya di bidang vulkanologi. Dari pihak AS, bantuan yang bisa diberikan tak sebatas pada dana, tetapi juga berbagi data dan pengetahuan tentang ilmu kegunungapian (vulkanologi), juga geologi, dan meteorologi (untuk merespons isu pemanasan global/perubahan iklim), serta mitigasi dan manajemen bencana alam.

    Komitmen kerja sama di bidang vulkanologi dalam kerangka Persetujuan Kemitraan Komprehensif Indonesia-AS ini, Senin (8/11), juga disampaikan oleh Duta Besar RI untuk AS Dino Patti Djalal menjelang kedatangan Presiden Obama di Jakarta. Menurut Dino, Badan Geologi AS yang dikenal sebagai US Geological Survey (USGS) akan mengirim sejumlah peneliti ke Indonesia (Antara, 8/11). Mereka, tambah Dino, akan bekerja sama dengan peneliti Tanah Air untuk meneliti fenomena gunung api di Indonesia. Dipilihnya tema vulkanologi sebagai wadah kerja sama kedua negara tak terlepas dari letusan Gunung Merapi sejak 26 Oktober silam.

    Di AS, yang di seluruh wilayah kontinen dan teritorinya terdapat 169 gunung berapi, pemantauan dan pemberian peringatan dini semakin menjadi perhatian. Didukung oleh ketersediaan dana dan iptek, USGS meluncurkan Sistem Peringatan Dini Nasional untuk Gunung Berapi (National Volcano Early Warning System/NVEWS). (Situs: volcanoes.usgs.gov, 21/1/10)

    NVEWS didirikan untuk memastikan bahwa gunung berapi di AS terpantau sesuai dengan tingkat ancaman yang ada. Rencana NVEWS sendiri dikembangkan oleh Volcano Hazard Program yang ada di USGS dan mitra terkait di Consortium of US Volcano Observatories.

    Bila dari 129 gunung berapi di Indonesia sekitar 20 senantiasa beraktivitas di atas normal dan 4-5 di antaranya meletus, di AS separuh dari 169 gunung berapi muda yang ada juga berbahaya karena cara gunung itu meletus dan masyarakat yang ada di kawasan letusannya.

    NVEWS didirikan karena sekarang ini masih banyak dari gunung berapi yang dinilai belum dipasangi sistem pemantauan yang memadai, misalnya dengan seismometer, global positioning system (GPS) kontinu, sementara lainnya meski sudah dipantau tetapi dengan alat-alat yang sudah ketinggalan zaman.

    Dengan Rencana NVEWS, gunung berapi berbahaya bisa dipantau dengan baik jauh sebelum dimulainya aktivitas vulkanik sehingga para ilmuwan bisa memperkirakan secara akurat kapan gunung bakal meletus dan seberapa tingkat bahayanya. Juga bisa dibuat perencanaan lebih baik bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung untuk mengambil langkah yang tepat dan pada waktunya. Adanya prosedur semacam itu yang didukung oleh ketelitian sarana pemantauan diyakini bisa membantu mengurangi risiko.

    Tidak berhenti di situ, Rencana NVEWS juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan komunitas vulkanologi Amerika melalui sejumlah langkah, dalam hal ini: meningkatkan kemitraan dengan pemerintah lokal dan petugas keadaan darurat; memberi kesempatan kepada universitas dan organisasi lain untuk riset kerja sama guna memajukan ilmu kegunungapian, teknologi pemantauan, dan strategi mitigasi (untuk memperkecil dampak bencana); penambahan staf dan otomasi guna memperbaiki monitoring 24/7 (24 jam dan tujuh hari seminggu) dan sistem komputer untuk mendistribusikan data kepada para ilmuwan, badan-badan terkait, dan masyarakat, serta menggabungkan sistem yang digunakan untuk memantau gunung berapi Amerika yang ada sekarang ini.

    Lawatan Presiden Obama kali ini ingin dijadikan sebagai momentum untuk meluncurkan kemitraan komprehensif di antara kedua negara. Konsep kemitraan ini dicanangkan saat Menteri Luar Negeri Hillary Clinton berkunjung ke Indonesia, Februari tahun lalu. Berikutnya, diluncurkan Komisi Bersama RI-AS untuk menjalankan Kemitraan Komprehensif oleh menlu kedua negara di Washington DC, September silam.

    Sebagai langkah selanjutnya, muncul Rencana Aksi Kemitraan AS-Indonesia yang mencakup kerja sama di berbagai bidang, seperti keamanan, pemerintahan, pendidikan, energi, perdagangan dan investasi, serta lingkungan hidup.

    Sebagai salah satu wujud komitmen AS, Utusan Presiden AS bidang Sains Bruce Alberts datang ke Indonesia bulan Mei silam, dan selama di sini dia mengunjungi beberapa fasilitas ilmiah di Indonesia, seperti Puspiptek Serpong dan Cibinong Science Center LIPI.

    Di luar vulkanologi

    Selain vulkanologi, dari AS kita juga dapat menimba ilmu-ilmu kebumian lain, seperti geologi, seismologi, dan juga geofisika dan meteorologi. Ilmu-ilmu tersebut dewasa ini kita rasakan tidak saja semakin penting, tapi—seiring dengan terjadinya rentetan bencana alam akhir-akhir ini—juga mendesak untuk kita kuasai.

    Di luar ilmu-ilmu kebumian, bidang praktis yang terkait dengan iptek dan industri adalah pengembangan tradisi inovasi. Presiden SBY telah membentuk Komite Inovasi Nasional, tapi Indonesia masih memerlukan bagaimana konsep-konsep inovasi dapat tumbuh dan berkembang secara subur.

    AS menjadi salah satu contoh ideal karena di negeri ini banyak perusahaan yang bersemangat dan berpengalaman dalam inovasi, seperti Apple dan Google. Inovasi, proses nilai tambah, dan kewirausahaan tak disangsikan merupakan satu kunci penting yang harus dikuasai Indonesia guna meraih kemajuan. NINOK LEKSONO

    Source: Kompas.com

  • Raja Mesin Pencari Internet di China

    the king of china search engine

    ”Misi kami adalah memberikan cara-cara terbaik bagi orang banyak untuk mendapatkan informasi. Untuk melakukan ini, kami terlebih dahulu mendengarkan dengan cermat setiap kebutuhan dan keinginan para pengguna.”

    Pendiri, pemilik, dan CEO Baidu Inc, Robin Li Yanhong, mengucapkan hal itu dengan keyakinan dan percaya diri. Dia telah membuktikannya melalui Baidu, mesin pencari internet nomor satu di China yang kini melesat ke tiga besar dunia setelah Google dan Yahoo.

    Keingintahuan, inovasi, kreativitas, dan kerja keras telah mengantarnya menjadi orang kaya baru di Negeri Tirai Bambu. Majalah Forbes edisi terbaru, pekan lalu, bahkan memasukkan Robin Li sebagai satu dari dua orang terkaya China selain Zong Qinghou, pengusaha minuman ringan.

    Li telah masuk dalam deretan orang kaya di dunia. Dia berada dalam satu rentang daftar orang kaya bersama dengan pendiri Google, mesin pencari internet terbesar di dunia saat ini, Sergey Brin dan Larry Page.

    Kekayaan Li naik hampir tiga kali lipat atau 281 persen menjadi 7,2 miliar dollar AS tahun lalu. Kekayaan itu mendongkraknya naik ke urutan kedua dari sebelumnya di urutan ke-14 daftar orang kaya China. Setelah Google hengkang dari China, Baidu kian kinclong. Keuntungan bersih Baidu naik 112,4 persen per tahun.

    Saham Baidu sejak Januari 2005 hingga Juni 2006 melonjak melampaui 50 persen. Pada 2008, sahamnya naik menjadi 62 persen, lalu meroket menjadi 76 persen pada 2009. Mulai Desember 2007, Baidu menjadi perusahaan China pertama dalam indeks Nasdaq-100.

    Berkat kegigihan Li, Baidu terus memperoleh pangsa pasar di China, terutama lagi karena adanya dukungan dari pemerintah. Pada kuartal ketiga tahun 2010, Baidu menguasai pangsa pasar internet sekitar 73 persen, menyisihkan Yahoo dan Google yang telah tutup untuk pasar domestik China.

    Bermula dari ”kebetulan”

    Evolusi Baidu, dan perjalanan Li sebagai pengusaha, merupakan contoh keberhasilan di bidang bisnis serta keuletan dan ketabahan seorang pengusaha. China memiliki penduduk 1,3 miliar. Robin Li tahu benar potensi pasar dalam negeri China. Saat ini ada 420 juta pengguna internet di China, atau sekitar sepertiga total penduduknya, dan 70 persen di antaranya adalah para pengunjung Baidu.

    Total populasi pengguna internet itu merupakan peluang besar, menjadi saingan AS. Apalagi China telah menjadi raksasa ekonomi dunia yang bertumbuh paling cepat. Model Baidu yang dikembangkan Li bekerja superbaik tanpa masalah berarti dan loyal pada kebutuhan pengguna.

    Prestasi bisnis Li bermula dari ”kebetulan” pada musim panas tahun 1998 di Silicon Valley, Amerika Serikat. Saat itu Eric Xu, seorang ahli biokimia, memperkenalkan rekannya yang pemalu, Robin Li, kepada John Wu yang kemudian menjadi ketua tim mesin pencari Yahoo.

    Li, yang ketika itu masih berusia 30 tahun, sedang frustrasi. Dia hanya seorang anggota staf di Infoseek, sebuah mesin pencari internet milik Disney. Komitmen Disney untuk mengembangkan Infoseek lambat laun terus memudar dan hal itu membuat Li frustrasi hingga ia terdorong untuk menemukan caranya sendiri.

    Setahun setelah piknik ke Silicon Valley, pada 1999, Li bersama Eric Xu lalu mendirikan perusahaan pencari bernama Baidu. Kini, Baidu telah mempunyai nilai pasar sekitar 3 miliar dollar AS, menjadi empat besar website dunia yang paling diminati pengguna internet.

    Nama Baidu terinspirasi oleh sebuah puisi yang ditulis lebih dari 800 tahun silam di China, tepatnya pada masa Dinasti Song yang berkuasa tahun 960-1279 Masehi.

    Baidu, secara literal berarti ”ratusan kali”, mempresentasikan sebuah ”pencarian yang gigih terhadap apa yang dicita-citakan”. Baidu adalah puncak dari pencarian tiada henti, kerja keras, dan ketabahan dari seorang yang frustrasi menjadi sukses mengubah hidup serta menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Dialah Robin Li.

    Untuk meningkatkan pengalaman para pengguna, Li terus melakukan perbaikan produk dan layanannya. ”Sebagai contoh, kami memperkenalkan ’fonetik’ atau ’pin-yin’ pencarian yang memungkinkan para pengguna untuk mengetik kata kunci dalam bahasa China menggunakan abjad Inggris,” katanya.

    Li berasal dari Yangquan, kota miskin di Provinsi Shanxi, barat daya Beijing. Anak keempat dari lima bersaudara itu dibesarkan dalam suasana revolusi budaya China yang brutal.

    Sekalipun penindasan mengepungnya, ia fokus pada minatnya sebagai pengoleksi prangko. Ia terlibat pertunjukan opera tradisional dan kegiatan lainnya hingga akhirnya terjun ke dunia komputer.

    Li cukup cerdas ketika masuk perguruan tinggi paling bergengsi di China, Universitas Peking. Dia mengambil jurusan ilmu perpustakaan dan berkecimpung dalam ilmu komputer. Ia mendapat Bachelor of Science (BSc) dalam Informasi Manajemen (1991).

    Setelah lulus, Li meninggalkan tanah airnya yang sedang kacau menyusul peristiwa Lapangan Tiananmen. Dia hijrah ke AS untuk belajar komputer. ”Saya mengirimkan lebih dari 20 surat lamaran,” katanya.

    Dia kemudian diterima di State University of New York, Buffalo. Setelah meraih gelar Master of Science (MSc) dalam Ilmu Komputer (1994) dan langsung bergabung dengan New Jersey Dow Jones & Company, Li mengembangkan program perangkat lunak untuk edisi online The Wall Sreet Journal.

    Selama di AS dia terus mengikuti perkembangan teknologi di Silicon Valley. Terobosan mengejutkan muncul pada 1996 ketika Li berhasil mengembangkan mekanisme pencarian yang disebutnya link analysis.

    Li lalu bekerja sebagai staf Infoseek, pelopor internet perusahaan mesin pencari (1997-1999). Dia juga menjadi konsultan senior untuk IDD Information Service (1994-1997). Saat di Infoseek itulah dia merasa frustrasi.

    ”Lalu lintas Baidu terus meningkat. Kami sekarang menjadi mesin pencari nomor satu di China,” kata Li bangga.

    (NEW YORK TIMES/AFP/AP)

    Source: Kompas.com

  • Delapan Parpol Bertemu

    Jakarta, Kompas – Sejumlah partai politik menengah terus berupaya mengantisipasi kemungkinan kenaikan ambang batas parlemen menjadi 5 persen pada Pemilihan Umum 2014. Mereka pun berupaya menggandeng parpol nonparlemen. Langkah itu diyakini dapat meningkatkan suara.

    Upaya itu, antara lain, dilakukan pimpinan Partai Amanat Nasional (PAN), Sabtu (6/11) malam, dengan bertemu pimpinan tujuh parpol yang tidak mendapat kursi di DPR. Ketujuh partai itu adalah Partai Demokrasi Pembaruan, Partai Persatuan Daerah, Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia, Partai Pelopor, Partai Matahari Bangsa, Partai Indonesia Baru, dan Partai Penegak Demokrasi Indonesia.

    Ketua DPP PAN Bima Arya Sugiarto, Minggu, menjelaskan, dalam pertemuan itu antara lain disepakati bahwa mereka akan berupaya agar gabungan parpol dapat diterima sebagai peserta Pemilu 2014.

    ”Jika opsi itu tidak diterima, kami akan memikirkan opsi lain, seperti delapan partai itu akan maju sendiri, tetapi sebelumnya ada kesepakatan bersama bahwa nanti akan bergabung di DPR. Opsi lain yang dipikirkan adalah adanya partai induk,” kata Bima.

    Langkah itu dilakukan tidak hanya agar mereka dapat lolos dari kemungkinan naiknya ambang batas parlemen menjadi 5 persen, tetapi juga untuk memperkecil jumlah suara yang hilang.

    Dengan ambang batas parlemen 2,5 persen di Pemilu 2009, ada 18 juta suara yang hilang. Jika ambang batas dinaikkan menjadi 5 persen, seperti wacana sejumlah partai besar, yaitu Partai Demokrat, Partai Golkar, PDI-P, dan Partai Keadilan Sejahtera, suara yang hilang diperkirakan bisa mencapai 36 juta.

    Sekretaris Jenderal Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Ahmad Muzani menuturkan, kemungkinan ada sembilan parpol yang akan melebur ke partainya di Pemilu 2014. Enam di antaranya adalah Partai Buruh, Partai Merdeka, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, PNI Marhaenisme, Partai Kedaulatan, dan Partai Sarikat Indonesia. Tiga partai lainnya akan diumumkan saat ulang tahun Gerindra pada Februari 2011.

    Sembilan partai itu, lanjut Muzani, sekarang masih berdiri sendiri-sendiri karena mereka memiliki kursi di DPRD. Namun, menjelang Pemilu 2014, mereka akan melebur ke Gerindra. ”Kompensasi partai yang melebur, calegnya akan dimasukkan dalam daftar caleg Partai Gerindra,” kata Muzani.

    Terkait dengan gerakan konfederasi parpol itu, Partai Golkar tidak khawatir. Partai Golkar pun membuka pintu bagi parpol mana pun yang akan bekerja sama. Sejumlah parpol telah menjalin komunikasi politik yang intens dengan Partai Golkar. ”Tapi, janganlah kami yang menyebutkan (parpol yang mendekat ke Partai Golkar),” kata Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso seusai diskusi pemilu kepala daerah di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu.

    Menurut Priyo, gagasan konfederasi dinilai memperkaya pemikiran terkait revisi paket undang-undang bidang politik. Hanya saja, Partai Golkar akan mematangkan sistem politik secara menyeluruh. Partai Golkar tetap berpandangan gagasan meningkatkan ambang batas parlemen menjadi minimal 5 persen.

    Didik Supriyanto dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi menyatakan, gagasan Partai Golkar menaikkan besaran ambang batas parlemen menjadi minimal 5 persen merupakan taktik politik. (DIK/NWO)

    Source: kompas.com

  • Mengapa Facebook Tidak Bangun Data Center di Indonesia?

    Saat ini, dengan jumlah lebih dari 400 juta Facebookers aktif di dunia, 25 persen di antaranya mengakses melalui telepon seluler. Angka ini dua kali lebih aktif dari akses melalui komputer personal/laptop. Di sisi lain, lebih dari 100 operator telekomunikasi di 60 negara di dunia, telah mempromosikan mobile Facebook untuk layanan mereka.

    Berdasarkan riset kami, Indonesia adalah negara urutan ke-3 ditinjau dari keaktifan Facebooker-nya. Saat ini, lebih dari 47 persen pengguna internet di dalam negeri mengakses situs tersebut. Jumlah Facebooker aktif di Indonesia mencapai 18,9 juta, dengan trafik menempati posisi ke-8 dunia.

    Melihat potensi pasar yang demikian dahsyat, secara ekonomi, sudah seharusnya situs jejaring sosial terbesar ini mendekati pelanggan agar respon lebih cepat dirasakan. Pendekatan ini juga berarti berbagi rejeki dengan daerah-daerah lokal di mana pelanggan berada.

    Pertanyaannya kemudian, dengan jumlah pelanggan sebanyak ini, mengapa Facebook tidak meletakkan data center atau kolokasi (collocation) di Indonesia? Ada apa gerangan? Ini tentu amat merugikan bagi Indonesia; yakni, hilangnya kue bisnis, dan kedua, kebutuhan bandwidth koneksi internet internasional terus meningkat.

    Coba mari kita hitung bersama. Saat ini, dengan jumlah “ummat” begitu besar, Facebook dikabarkan mempunyai 60 ribu web server, dengan pengeluaran mendekati Rp 500 miliar di tahun 2010 guna biaya sewa.  Jika kita anggap setiap user aktif mempunyai space yang sama, berarti tiap user mendapat alokasi biaya sewa data center sebesar Rp 1.250 per tahun. Jika demikian, jatah sewa data center untuk Facebooker Indonesia adalah sebesar Rp 23,6 miliar per tahun!

    Itu baru satu situs. Belum dengan Twitter, Friendster, BlackBerry, Yahoo, Google, dll.
    Rumor menyebutkan Facebook meletakkan data center-nya di Singapura.  Tentu, di samping situs buatan Mark Zuckerberg ini, top internet site lainnya melakukan duplikasi data di negeri jiran ini. Otomatis, ini mendorong ketertarikan semua industri global untuk collocation di sana. Maka, betapa untungnya Singapura dan betapa ruginya Indonesia.

    Ada empat dugaan mengapa Singapura lebih dipilih ketimbang Indonesia untuk hunian data center. Pertama, national security-safety. Harus diakui, tingkat keamanan dan iklim investasi di negeri ini belum setinggi negara tetangga kita.

    Kedua, kualitas data center di Indonesia masih tertinggal, baik dari sisi konfigurasi bangunan maupun manajemen operasi. Inilah yang sebenarnya menjadi faktor kunci.

    Data Sharing Vision menunjukkan kebutuhan data center oleh industri global rata-rata tier-3. Maksudnya data center dengan segala infrastruktur pendukungnya mempunyai redundansi sebanyak (N+1), sehingga jika data center membutuhkan 2 cooling system dalam operasinya, maka data center tersebut akan mempunyai 3 cooling system. Disamping itu, tier-3 mempunyai multiple path untuk distribusi power dan cooling meski hanya satu saluran yang aktif. Ini membuat proses perawatan dapat dilakukan tanpa mengganggu operasional. Dengan ketentuan di atas, tier-3 mempunyai availability sebesar 99,96 persen atau hanya 1,6 jam waktu down yang diperbolehkan selama satu tahun.

    Guna melihat seperti apa data center kelas dunia, sangat penting bagi kita untuk belajar dan melakukan studi banding langsung ke data center paling top di dunia. Itulah yang melandasi Sharing Vision melakukan workshop Visiting World Class Data Center di Singapura pada 2-3 Desember mendatang.

    Ketiga, belum jelasnya konsep pemasaran negara dan strategi pemasaran industri teknologi informasi nasional. Menurut data www.datacentermap.com, tercatat ada 9 data center di Indonesia yang dikomersialkan. Konon, dari 9 data center tersebut ada yang telah mendekati tier-3, namun cara pemasarannya ke industri global belum terdengar jelas.

    Ini patut disayangkan, perhitungan Sharing Vision menunjukkan pasar layanan data center di Indonesia pada tahun 2011 mencapai sekitar Rp 1,5 triliun. Sebab, kian banyak perusahaan di Indonesia yang sadar pentingnya data center dan data recovery center dengan infrastruktur memadai.

    Keempat, ketidakpastian regulasi. Ini bisa kita lihat dari perbandingan implementasi WiMax di Indonesia dengan keberanian pemblokiran layanan BlackBerry di Arab Saudi, misalnya. Empat faktor inilah yang membuat Facebook dkk masih memilih Singapura sebagai tempat kolokasi, meski pengguna di Indonesia jauh lebih besar.

    Ironis, memang. Dengan demikian, jelas adanya pesan tulisan ini, “Mari tingkatkan pengelolaan dan kualitas data center nasional seraya meningkatkan pasar data center nasional, agar tercipta keseimbangan aliran bandwidth dalam dan luar negeri yang akan menyejahterakan Indonesia!”

    Penulis, Dimitri Mahayana, adalah pendiri sekaligus chief lembaga riset telekomunikasi dan informasi berbasis di Bandung, Sharing Vision, dan Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB.

    Source: kompas.com

  • PEMILU AS Obama Berharap “Keajaiban” Muncul

    Washington, Selasa – Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Senin (1/11), selama 11 jam berturut-turut memohon kepada warga di Negara Bagian Pennsylvania agar memenangkan Demokrat. Ia mengharapkan keajaiban, berupa kemenangan Demokrat dalam pemilu, Selasa.

    Pada pemilu pertengahan ini (midterm election) warga AS memilih 37 dari 100 kursi Senat AS dan memilih 435 kursi House of Representatives (DPR). Jabatan Obama tidak akan terganggu hingga 2012. Namun, kemenangan Republik di Senat dan DPR, yang terlihat dari hampir semua hasil jajak pendapat, akan membuat Republik mementalkan semua kebijakan Obama.
    (more…)

  • REVISI UU NO 22/2007 Penyusunan Terlalu Lama

    Jakarta, Kompas – Penyusunan rancangan revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum dianggap sudah terlalu lama. Jika dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan akan mengganggu tahapan Pemilihan Umum 2014.

    ”Sebenarnya ini sudah terlalu lama, mengambang di Komisi II DPR,” kata Wakil Ketua DPR, yang membawahi komisi bidang politik dan hukum, Priyo Budi Santoso di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (2/11).
    (more…)

  • Repulik Menang di DPR, Demokrat di Senat

    WASHINGTON, KOMPAS.com – Partai Republik memberi pukulan kepada Presiden Barack Obama dengan meraih kemenangan telak di DPR (House of Representatives) berdasarkan hasil perhitungan sementara pemilu sela, Rabu (3/11). Republik berhasil meraih posisi mayoritas di DPR tetapi gagal menggusur posisi mayoritas Demokrat di Senat, meski sukses menggerus jumlah kursi Demokrat di lembaga itu.

    Kemenangan Republik itu menghadirkan sebuah era pemerintahan yang terbagi di Amerika Serikat. Obama akan harus berhadapan dengan Kongres yang lebih konservatif, yang akan mencakup anggota gerakan tea party yang anti-establishment. Hasil pemilu itu mencerminkan frustrasi warga Amerika terhadap melemahnya ekonomi AS dan kekecewaan terhadap Obama, yang sukses mencapai Gedung Putih dua tahun lalu dengan sebuah pesan harapan dan perubahan tetapi gagal mewujudkannya.
    (more…)

  • Mencari Negeri yang Hilang

    MENURUT Tgk Muhammad Taqiyuddin Lc, Kota Islam Samudra Pasai pun lenyap dalam perut zaman, mencapai titik kulminasi kepunahannya secara maknawi selama lebih seratus tahun terakhir. Karakteristik sejarahnya berhasil dicopot dan digantikan dengan berbagai mitos pada tempatnya. Lantas ia cuma dikenang dalam bagian kecilnya, tidak dalam bobot seutuhnya. Imperialisme boleh tertawa atas kemenangannya itu dalam kubur-kubur mereka, dan Barat boleh berbangga atas apa yang telah dipersembahkan oleh para leluhur mereka! Namun itu tentu tidak untuk selamanya.
    (more…)

  • Warga Blang Weu Temukan Mata Uang Kerajaan Pase

    TGK Azwar bin Muhammad (31) seorang warga Desa Blang Weu, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, belum lama ini menemukan kepingan emas murni berbentuk koin. Kepingan uang yang bagi masyarakat desa sering menyebutkan dengan nama “Dirham” ditemukan oleh ibunya di areal bukit yang tak jauh dari belakang rumahnya.

    Peneliti sejarah kebudayaan Islam di Lhokseumawe, Tgk Taqiyuddin Muhammad mengatakan, penemuan kepingan uang emas di jajaran kerajaan pase bukan pertamakali. Tapi, sejak puluhan tahun lalu mungkin sudah ratusan kepingan emas atau dirham ditemukan dalam kawasan kerajaan Islam Pase. Baik di Aceh Utara, Lhokseumawe dan Aceh Timur selalu ditemukan kepingan dirham.
    (more…)

  • BAN Perguruan Tinggi Tidak Berdaya

    Tangerang, Kompas – Proses akreditasi perguruan tinggi negeri dan swasta berjalan lambat karena minimnya tenaga asesor dan alokasi anggaran dari Kementerian Pendidikan Nasional. Padahal, permohonan akreditasi dari perguruan tinggi untuk tahun lalu saja mencapai sedikitnya 1.000 program studi.

    Hal itu dikemukakan Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Kamanto Sunato dalam workshop akreditasi ”AACSB Processes and Policies Described to Assist Schools in Their Pursuit of Quality of Management Education”, Senin (1/11) di Kampus Prasetya Mulya, Tangerang, Banten.
    (more…)