siwah.com

Blog

  • Erupsi Saham Krakatau Steel

    Suka atau tidak, melejitnya harga saham PT Krakatau Steel sebesar 49,41 persen pada hari pertama dan kumulatif pada hari kedua naik sebesar 78,82 persen telah menguatkan dugaan banyak pihak tentang adanya indikasi masalah di balik penawaran saham perdana PT Krakatau Steel.

    Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan ketidakheranan atas naiknya harga sebagai akibat mekanisme pasar. Jika keyakinan akan pasar memang menjadi acuannya, mengapa pemerintah tidak mengikuti ”denyut pasar” dalam menetapkan (book building) harga saham perdana PT Krakatau Steel (KRAS)?

    Pemerintah dan pendukung ”harga Rp 850” menyatakan, hal itu disebabkan oleh dipilihnya investor berkualitas. Itulah mengapa Kompas dan banyak media menyoroti aksi jual asing yang masif atas saham perdana KRAS di bursa. Karena asing ”dicitrakan” berkualitas. Kualitas, menurut Hikmahanto Juwana dalam artikel opini Kompas (20/11/2010), diartikan sebagai ”investor akan memegang saham yang diperoleh untuk jangka panjang”.

    Substansi pengawasan

    Jika pemerintah dan para pihak berpegang pada etika pasar my word is my bond, asumsi preferensi investor berkualitas haruslah dapat dipertanggungjawabkan. Itu karena, faktanya, terjadi aksi jual saham IPO di bursa secara masif.

    Di sebuah media on-line, Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyatakan, aksi jual asing terjadi karena banyak keributan di seputar IPO KS. Jika itu asumsinya, berpegang pada mekanisme pasar, jual cepat dalam jumlah banyak (panic selling) tentu akan mendorong harga turun.

    Bagi saya, inkonsistensi logika ”mekanisme pasar” terjadi dua kali. Pertama, di pasar perdana naiknya permintaan tidak meningkatkan harga; dan kedua di bursa aksi jual masif justru menaikkan harga.

    Hikmahanto, dalam tulisannya di Kompas, menurut hemat saya, melihat kewajaran IPO KRAS dari sisi hukum positif prosedural penawaran saham perdana (IPO). Yang dipermasalahkan banyak pihak ialah tentang konflik kepentingan dan adanya keuntungan pihak-pihak tertentu.

    Untuk itu, jika ukurannya best practice sistem pengawasan dan penegakan hukum, terlalu sederhana dan terlampau cepat menarik kesimpulan kewajaran hanya dari penilaian prosedural.

    Kewajaran harga dan perolehan manfaat hanya dapat disimpulkan jika unsur-unsur manipulasi pasar dan/atau insider trading (Pasal 90-97 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal) telah diperiksa dan disidik oleh otoritas (Bapepam-LK, Pasal 5).

    Jika pembentukan harga di pasar perdana dan bursa direkonstruksikan, indikasi motif (keuntungan pihak tertentu) sebagaimana diatur dalam Pasal 92 UU Pasar Modal cukup terlihat, yakni investor merealisasikan keuntungan tinggi pada saat pertama.

    Hukum pidana pasar modal mengatur transaksi wajar adalah terjadi tanpa pengelabuan informasi (Pasal 90), harga terjadi bukan karena persekongkolan antara order beli dan jual yang membentuk harga (Pasal 91), serta tidak mendatangkan kerugian publik untuk perolehan keuntungan pihak tertentu (Pasal 92).

    Saya, ketika KRAS dibuka di papan bursa, langsung memantau lalu lintas order dan transaksi sahamnya. Bukan karena saya memegang saham KRAS, karena saya memang tidak memegang saham satu lot pun. Saham KRAS, dalam hitungan detik, dengan lot tidak terlampau banyak dibentuk ke Rp 950, Rp 1.080, dan Rp 1.100. Pembentukan tiga tangga harga tersebut terjadi di menit pertama transaksi KRAS.

    Sinyal persekongkolan

    Setelah itu, dalam hitungan detik ke detik, saham KRAS menunjukkan sebuah indikasi terjadinya persekongkolan pembentukan harga. Kenapa demikian? Setidaknya ada dua sinyal, pertama, transaksi dalam waktu singkat sudah menembus ke angka menuju Rp 1 triliun; dan kedua, harga dipicu naik justru dari inisiatif pembeli (bid inisiator).

    Begini ceritanya, jika harga naik dari detik ke detik, mekanismenya order beli mengejar harga di atas harga sebelumnya yang disimpan oleh sekuritas di posisi order jual (bid inisiator). Sebaliknya, jika harga turun, sekuritas yang memasang order jual mengejar harga order beli di bawah harga sebelumnya (ask inisiator).

    Masifnya penjualan terjadi setelah harga terbentuk ke kisaran di atas Rp 1.100. Di sisi ini saya rasa panic selling tidak tampak karena penjual melepas setelah harga dibuka dari harga yang terdongkrak order beli. Daya beli saham KRAS yang mampu mengejar keinginan jual di harga tinggi menyisakan tanya karena jumlahnya mencapai Rp 1,991 triliun pada hari pertama dan Rp 2,53 triliun pada hari kedua. Angka yang tidak kecil, untuk dikatakan sebagai ”mekanisme pasar”.

    Mendorong hasrat beli sedemikian masifnya pada saat informasi sendiri tengah tidak jelas (ribut), sungguh sebuah pertanyaan untuk negara dengan pemain lokal di bursanya yang hanya sekitar 350.000 orang.

    Di sinilah kesan konflik kepentingan tercium. Kesannya (indikasi), sudah ada skenario kekuatan yang siap membeli di bursa karena jumlahnya yang masif (besar). Di sinilah, proses book building dan penerima penjatahan harus diskemakan ke perdagangan orang dalam (Pasal 95-97) karena kesan adanya kepentingan harga rendah di IPO untuk keuntungan di bursa (transaksi mendahului informasi).

    Ada dua kemungkinan, pertama, skenario peminat serius (jangka panjang) memang mengambil di pasar sekunder. Yang harus dibuktikan melalui proses pemeriksaan dan penyidikan adalah apakah sudah ada kesepakatan di belakang (back door) dengan ”penerima jatah”.

    Kemungkinan kedua, dana-dana lokal—di mana yang terbesar tentu saja juga BUMN—mengambil di sekunder dari ”penerima jatah”. Jika ini terjadi, tentu skema konflik kepentingan menjadi semakin meluas dan terbuka.

    Tulisan ini tidak menuduh, berasaskan praduga tak bersalah. Semua asumsi harus dibuktikan dalam pemeriksaan dan penyidikan. Yang ingin saya dorong adalah pemeriksaan dan penyidikan dengan cepat dan tepat sasaran oleh otoritas karena sinyal indikatif telah cukup terlihat dari pertanyaan publik itu sendiri.

    Dengan demikian, mendorong proses penegakan hukum melalui upaya hukum oleh publik (class action) adalah sah dalam negara demokrasi dan sistem pasar. Hal ini agar citra pasar modal bisa membuat tata kelola BUMN lebih baik dan terlepas dari praktik sapi perah (korupsi), tidak menyisakan korupsi dengan mekanisme pasar itu sendiri.
    Yanuar Rizky Pengamat Ekonomi

    Source: Kompas.com

  • “Ngobama”

    Saya yakin andai ada sesi tanya jawab dalam pidato di Balairung Kampus UI, Depok, Rabu (10/11), banyak hadirin yang curhat kepada Presiden AS Barack Obama. Soalnya dia mendadak jadi pemimpin idola yang kita rindukan walau cuma mampir di Jakarta 19 jam saja.

    Curhat pertama begini. ”Bapak dua kali membatalkan lawatan ke sini karena bencana kebocoran minyak Teluk Meksiko dan memperjuangkan RUU jaminan kesehatan. Kenapa para pemimpin/politisi kami malah ke luar negeri saat ada bencana di Wasior, Mentawai, dan Merapi?”

    Curhat nomor dua lain lagi. ”Bapak warga minoritas, tapi bisa jadi presiden. Kok bisa? Sukar dibayangkan itu terjadi di sini karena hampir semua etnis dan agama minoritas dimusuhi atau diserbu. Pemerintah berpangku tangan saja!”

    Sekarang curhat nomor tiga. ”Pak, apa benar mau membantu pemberantasan korupsi? Kalau benar, tolong cepat-cepat kirim agen-agen FBI menyidik korupsi Century. Kalau bisa, kerja sama kemitraan strategis mencakup pula bantuan ahli-ahli AS mengurai banjir dan macet Jakarta!”

    Pidato Obama bukan saja mengundang curhat, tetapi juga tangis. Saya dua kali diundang menyaksikan pidatonya ketika merayakan kemenangan Pilpres 2008 di Chicago, November 2008, dan dilantik sebagai presiden di Washington DC, Januari 2009.

    Ratusan warga mewek, mulai dari yang menangis meraung-raung sampai yang hanya menitikkan air mata. Mereka yang menangis tak pandang bulu: tua, muda, kaya, miskin, hitam, putih, sendiri-sendiri, atau beramai-ramai. Saya bersumpah ikut sedikit terharu!

    Jika berpidato, Obama memang enggak pernah curhat. Tetapi, ia reach out mendengarkan curhat rakyat. Akibatnya, rakyat merasa punya teman berbagi dan berharap hidupnya bisa lebih baik. Itu sesuai dengan slogan kampanye kemenangan Obama, ”Yes We Can” (Bersama Kita Bisa).

    Mengapa Obama pandai menampung curhat? Kini saya tahu jawabannya: 50 persen karena ia orang awam yang tak sudi berpura-pura dan 50 persen karena rakyat kecewa kepada Presiden George W Bush selama delapan tahun memerintah.

    Obama sebenarnya kurang pandai berpidato, makanya ia disarankan tetap memakai teleprompter. Namun, ia jujur dalam menyampaikan isi dan cara menyampaikan pidato dengan gaya profesor rendah hati. Seperti kata pepatah, the singer, not the song.

    Rakyat AS tergila-gila kepada Obama karena sebal kepada George W Bush. Fenomena ini lebih kurang sama dengan yang dialami 5.000 hadirin di Balairung UI, yang tergila-gila pula kepada Obama karena merasa sebal terhadap kelakuan para pemimpin kita.

    Jadi, ”Obamania” di sini cuma sekadar kompensasi politik. Kini di negaranya Obama mulai menghadapi masalah, tetapi popularitasnya tak menurun drastis, masih rata-rata 40 persen. Dan, sampai sekarang ia praktis belum tersaingi untuk jadi presiden 2012-2016.

    Nah, Obama sebenarnya bukan melawat, cuma ”mampir” ke Jakarta dari India, on the way ke Korea Selatan dan Jepang. Kita boleh saja gembira karena rakyat Australia dan Guam pasti kecewa batal dikunjungi oleh ”Obama the rock star”.

    Meski tak pernah menulis lagu dan menjual CD, karisma Obama tak kalah dibandingkan dengan Mick Jagger. Mereka mampu menyedot puluhan ribu penonton sekali manggung. Makanya Obama ngotot mau pidato di UI untuk reach out ke berbagai kalangan yang diwakili 5.000 undangan saja.

    Tampak sekali Obama enjoy-enjoy aja. Buktinya ia bolak-balik ngomong Indonesia, menyimpang dari teks di teleprompter. Tiap kali mengucapkan bahasa kita, matanya berbinar dan senyumnya lebar memperlihatkan deretan giginya yang seperti permen Chiclets.

    Setidaknya Obama menjawab curhat kita melalui tiga hal pokok: pembangunan, demokrasi, dan toleransi. Ia paham kesenjangan masih besar, demokrasi bermasalah, dan kebinekaan terancam. Tak heran ia paham tiga hal ini karena, katanya, ”Indonesia bagian dari diri saya.”

    Benar, untuk ketiga soal itu kita mungkin lebih tahu. Namun, kita kok baru sadar dan prihatin tiga soal besar tersebut masih saja melilit bangsa yang sudah merdeka 65 tahun ini justru ketika diucapkan oleh seorang Obama?

    Jawabannya mudah: selama ini kita kurang sadar dan prihatin karena ketiga soal itu hanya diucapkan sampai pada tingkat wacana semata-mata oleh mulut-mulut pemimpin kita. Pidato mereka kosong tanpa makna karena mereka selalu ”lain kata lain perbuatan”.

    Saya yakin Obama senang bukan kepalang walau cuma mampir. Buktinya ia bilang, ”Pulang kampung nih!” Setidaknya ia juga puas melahap habis berbagai suguhan yang bukan cuma sate dan bakso, melainkan juga tongseng, somay, gado-gado, sampai sop buntut.

    Lawatan Obama tak lebih dari nostalgia belaka yang bersifat simbolis saja. Mungkin sebagian dari pejabat kita yang ”sok genting”, sampai-sampai sapi-sapi dan kambing-kambing kurban di pinggir jalan enggak boleh ikut nonton Obama karena ditutupi terpal.

    Saya harap Anda terhibur ikutan ngobama atau, dalam bahasa Inggris, Obama-ing. Arti nge dalam bahasa Betawi lebih kurang ”iseng saja”, misalnya nge-mal (iseng keliling mal). Untung dia hanya 19 jam di sini. Kalau enggak, banyak facebooker membuat grup ”Dukung Obama Jadi Presiden”. Budiarto Shambazy

    Source: Kompas.com

  • Obama Serang Yuan

    Seoul summit
    Seoul, Kompas – Dalam komunike G-20, para pemimpin sepakat bekerja sama mencegah volatilitas pasar dan bersedia menyeimbangkan ekonomi gobal yang memang timpang, ditandai dengan defisit besar anggaran Pemerintah Amerika Serikat, sumber gejolak pasar.

    Akan tetapi, dalam pernyataan tersendiri, para pemimpin jauh dari kesan harmonis. AS menyerang yuan dan menyebutnya sebagai pembuat masalah.

    Pertemuan puncak negara-negara anggota G-20 hari Kamis (11/11) ditutup Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak dengan kesimpulan bahwa para anggota G-20 setuju bekerja sama membahas segala persoalan. Demikian dilaporkan wartawan Kompas, Simon Saragih, semalam.

    Tak lama kemudian Presiden AS Barack Obama melakukan jumpa pers tersendiri di tempat yang sama dengan menyebut satu per satu wartawan AS yang hadir dan wartawan non-AS hanya mendengar. ”Yuan itu menyebabkan iritasi, bukan saja bagi AS melainkan juga mitra dagang China yang lain,” kata Obama menjawab pertanyaan wartawan AS, yang menanyakan bagaimana perasaannya soal perilaku China terkait yuan.

    ”China yang kuat kita terima karena berguna bagi kemakmuran dunia dan juga AS. Namun, China juga harus menunjukkan tanggung jawab internasional dengan membuat kurs yuan merupakan refleksi keadaan pasar sebenarnya,” ujar Obama.

    China selama bertahun-tahun membeli dollar AS dan melakukan intervensi di pasar untuk menekan kurs yuan. Tidak seharusnya China terus menggenjot ekspor dengan melemahkan kurs yuan dan saatnya meningkatkan permintaan domestik agar berguna bagi perekonomian negara lain,” kata Obama.

    AS selalu mengkritik China dengan tuduhan bahwa China menumpuk surplus berupa cadangan devisa lebih dari 2,5 triliun dollar AS. Hal ini, menurut Obama, juga didorong dengan pelemahan kurs, yang membuat produk ekspor China menjadi jauh lebih murah dari seharusnya.

    China menjawab

    Kantor berita Xinhua pada hari yang sama juga memberitakan isi pidato Presiden China Hu Jintao, yang ditujukan khusus kepada G-20. Hu meminta AS untuk mengambil tindakan yang bertanggung jawab. ”Negara-negara maju harus mengambil tindakan bertanggung jawab dan mempertahankan kestabilan kurs,” kata Presiden Hu.

    ”Komunitas dunia harus memperbaiki sebuah kerangka untuk pertumbuhan yang kuat, berkesinambungan, dan berimbang serta meningkatkan kerja sama pembangunan … mengutamakan perdagangan yang terbuka,” tutur Hu.

    Bagi China, ketidakseimbangan yang dialami AS, berupa defisit anggaran dan perdagangan yang besar, lebih karena kebijakan ekonomi makro AS yang lebih mengandalkan utang ketimbang mengandalkan tabungan domestik dan penerimaan pajak.

    Source: Kompas.com

  • Golkar Garap Desa

    Surabaya, Kompas – Partai Golongan Karya akan fokus menggarap pemilih di desa. Hal itu, antara lain, karena hasil pemilu dan sejumlah survei menunjukkan pemilih Partai Golkar banyak di desa. Program modal bergulir merupakan salah satu cara Partai Golkar mendekati pemilih di desa.

    ”Desa-desa kembali menguning seperti dulu,” ujar Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Luhut Binsar Panjaitan dalam peluncuran Modal Bergulir bagi Penduduk Desa di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (11/11).

    Selain Luhut, acara itu juga dihadiri Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie, Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Hanura Fahrurrozi, Ketua Legiun Veteran RI (LVRI) Zainal Abidin, mantan Asisten Intelijen Kepala Staf Umum TNI Mayjen (Purn) Heriyadi, dan mantan Kepala Staf Teritorial TNI Letjen (Purn) Agus Widjojo.

    Khofifah hadir

    Ketua DPP Nasional Demokrat (Nasdem) Khofifah Indar Parawansa juga hadir. Bahkan, Aburizal secara khusus menyebut kehadiran Khofifah yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama.

    ”Jilbab Bu Khofifah sudah kuning,” ujar Aburizal.

    Khofifah menegaskan, kehadirannya bukan indikasi akan bergabung ke Partai Golkar. Kehadirannya dalam acara itu lebih didasari keinginan bersama untuk memajukan desa.

    ”Tidak bisa dicampuradukkan antara Nasdem dan kehadiran saya dalam acara ini,” ungkapnya.

    Koordinator Sukarelawan Indonesia Dhimas Oky Nugroho menilai Golkar berusaha menarik kembali para purnawirawan jenderal. Namun, Golkar tak sekadar menarik mereka.

    ”Jenderal-jenderal purnawirawan itu punya akses terhadap sumber ekonomi dan kekuasaan,” katanya.

    Selain itu, mereka juga masih punya banyak pendukung loyal. Hal itu, antara lain, terlihat pada Zainal Abidin yang memimpin LVRI. Sebagian juga merupakan pemikir dan pengatur strategi. ”Golkar seperti ingin mengimbangi sejumlah partai lain yang merekrut purnawirawan jenderal untuk memperkuat organisasi,” ujar Dhimas.

    Terkait kehadiran Khofifah, Dhimas menilai Partai Golkar sedang serius menggarap perempuan pemilih dan orang-orang arus bawah. (RAZ)

    Source: Kompas.com

  • Demokrat Bergeming

    Jakarta, Kompas – Fraksi Partai Demokrat Dewan Perwakilan Rakyat tetap bergeming, tidak bersedia berkompromi, terkait pelibatan partai politik dalam lembaga penyelenggara pemilihan umum. Wakil partai politik terlibat dalam Dewan Kehormatan di penyelenggara pemilu saja.

    Sikap Fraksi Partai Demokrat (F-PD) itu menyebabkan lobi informal fraksi-fraksi di Komisi II DPR, terkait penyusunan revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu, belum membuahkan hasil. Anggota Komisi II DPR dari F-PD, Ignatius Mulyono, di Jakarta, Kamis (11/11), menegaskan, penyelenggara pemilu harus benar-benar mandiri, seperti diamanatkan dalam konstitusi.

    Kemandirian itu, katanya, diartikan, lembaga penyelenggara pemilu, terutama Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), harus bebas dari unsur parpol. ”Bagaimana mungkin anggota parpol sebagai pemain sekaligus wasit dalam pemilu? Itulah yang tidak bisa kami kompromikan,” katanya.

    F-PD mempertahankan usulan agar mereka yang menjadi anggota KPU dan Bawaslu harus bebas dari keanggotaan parpol, minimal lima tahun sebelum mendaftarkan diri. Usulan itu mendapat dukungan dari Fraksi Partai Amanat Nasional.

    Awalnya tujuh fraksi lain di Komisi II DPR meminta parpol dilibatkan sebagai anggota KPU dan Bawaslu. Namun, karena tak kunjung menemukan titik temu, mereka mengalah dan mengusulkan anggota harus keluar dari parpol begitu terpilih menjadi anggota KPU dan Bawaslu.

    ”Sekarang tidak ada lagi yang mengusulkan parpol dilibatkan dalam KPU dan Bawaslu. Tinggal masalah waktu, dua fraksi mengusulkan lima tahun harus bebas dari parpol, tujuh fraksi ingin begitu masuk KPU atau Bawaslu, orang itu langsung mundur dari parpol,” kata Wakil Ketua Komisi II DPR Ganjar Pranowo (Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan/PDI-P).

    F-PD DPR hanya berkompromi terkait dengan keanggotaan Dewan Kehormatan (DK) KPU. ”Hal yang bisa dikompromikan itu adalah parpol ikut mengawasi pelaksanaan pekerjaan KPU dan Bawaslu. Artinya, parpol bekerja di DK KPU,” kata Mulyono.

    Anggota Komisi II DPR dari F-PDIP, Arif Wibowo, menilai, keterbukaan F-PD untuk melibatkan parpol dalam DK KPU adalah sebuah kemajuan. Namun, dia mengusulkan agar DK KPU bersifat permanen sehingga dapat mengusut kecurangan atau pelanggaran pemilu yang dilakukan KPU dan Bawaslu.

    Sebagai jalan tengah atas silang pendapat yang terjadi, Arif mengusulkan agar sebagian kewenangan KPU dikurangi. Pengurangan kewenangan itu penting agar KPU tak bersikap sewenang-wenang karena saat ini KPU adalah pemegang kuasa tunggal penyelenggaraan pemilu. Kewenangan dan posisi itu dikhawatirkan akan membuat KPU mudah mengarahkan kemenangan pihak-pihak tertentu. (nta)

    Source: Kompas.com

  • Salaman Tifatul-Michelle Obama Mendunia

    tifatul salaman dg Michelle

    VIVAnews – Momen salaman Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring dengan Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama, menjadi berita di sejumlah negara termasuk Amerika Serikat. Salah satu kantor berita Amerika, The Associated Press, ikut melaporkan soal kejadian yang menurut Tifatul, “tidak disengaja” itu.

    AP melaporkan dengan judul “Minister admits reluctant Michelle Obama handshake” alias Menteri mengakui enggan menyalami Michelle Obama. AP lalu mengutip tweet Tifatul yang menyatakan, mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera itu mengaku sudah berusaha agar tak menyentuh tangan Michelle Obama yang disodorkan kepadanya. Namun tangan kanan Ibu Negara AS yang mantan pengacara itu, kata Tifatul, terlalu maju sehingga salaman tak terelakkan.

    Tak lupa, AP menaruh sejumlah latar belakang sejumlah sensasi yang dimunculkan Tifatul, mulai dari soal komentarnya soal bencana alam disebabkan moral dan guyonannya soal kepanjangan dari penyakit AIDS.

    Sementara Yahoo! News juga menurunkan berita tersendiri di segmen Upshot-nya. Yahoo! menulis, Tifatul menjadi perhatian karena salaman dengan Michelle padahal sebelumnya dia selalu menghindar bersalaman dengan perempuan bukan muhrim.

    Tak lupa Yahoo! melampirkan tayangan video yang menunjukkan salaman itu. Meski Tifatul membantah sengaja menyalami Michelle, Yahoo! menulis, “video peristiwa itu terlihat bertentangan dengan penjelasan Tifatul — namun Anda hakimnya.”

    Masih di Amerika Serikat, sejumlah blogger juga mengulas peristiwa itu di situs ternama seperti Washington Post dan Huffington Post. Sejumlah media lokal seperti Chicago Tribune, kota asal Obama, juga menulis.

    Di Australia, Daily Telegraph, juga menurunkan laporan soal insiden salaman Tifatul dengan Michelle ini.

    Dan sekali lagi, benar atau tidak salaman itu tak sengaja, Andalah yang harus menjadi hakimnya.

    Source: vivanews.com

  • Obama: Saya Banyak Didoktrin tentang Pancasila

    Obama di balairung UI Depok
    JAKARTA – Banyak poin penting yang disampaikan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam kuliah umum di Kampus Universitas Indonesia (UI). Salah satunya, tentang pentingnya pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

    “Saat saya belajar di Indonesia, saya banyak didoktrin tentang Pancasila. Dan saat ini demokrasi sebagai makna dari Pancasila sudah berjalan baik di Indonesia,” kata Presiden Obama dalam pidatonya, Rabu (10/11/2010).

    Hal itu, lanjut pria yang pernah menjalani masa kecilnya di Jakarta ini, terlihat dari proses pemilihan langsung yang sudah dilaksanakan di Indonesia.

    “Memilih anggota parlemen juga sudah dilaksanakan secara langsung. Di tengah masyarakat Indonesia yang dinamis pertahankan terus demokrasi itu,” pinta Obama.

    Poin lain yang juga disitir Presiden Obama adalah kerjasa sama Indonesia dengan Amerika yang terus ditingkatkan.

    “Saya baru saja menandatngai perjanjikan kerjasama di bidang ekonomi dan Industri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga sudah tumbuh baik dengan lebih dari 50 persen menghasilakn produk ekspor,” jelasnya.

    Kekuatan lain yang juga dimiliki Indonesia, kata Obama, adalah sumber daya alam yang sangat memadai.  
    (ded)

    Source: okezone.com

  • Obama: Indonesia Bagian dari Diri Saya

    Obama di balairung UI Depok

    DEPOK, KOMPAS.com — Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, merebut simpati dan decak kagum dari Indonesia karena perhatian besar dari salah satu pemimpin negara terkemuka di dunia ini kepada negara di mana ia sempat besar bersama ayah tiri dan ibu kandungnya selama 4 tahun. Dalam pidatonya di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Barack Obama memuji ketabahan ataupun keuletan bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana alam yang berlangsung belakangan, terutama bencana Gunung Merapi.

    “Indonesia bagian dari diri saya,” demikian potongan kalimat yang diucapkan Obama secara fasih dalam bahasa Indonesia untuk mengungkapkan betapa besar ia merasa terlibat dalam duka Indonesia terhadap bencana alam yang terjadi belakangan. Di balik pengantar yang cukup menyentuh ini, Obama juga menyampaikan guyonan sederhana dengan mengucapkan beberapa kata yang sempat diucapkan secara lantang saat ia sempat berada di Jakarta pada masa kanak-kanaknya.

    ” Sate…bakso,…enak ya,” ucapan lantang Obama dalam bahasa Indonesia itu spontan mendapatkan sambutan gelak tawa dari para hadirin di Balairung UI. Jimmy Hitipeuw

    Source: Kompas.com

  • Kenapa Mega Datang ke Istana Tadi Malam?

    megawati hadir di istana negara
    JAKARTA, KOMPAS.com – Kehadiran mantan Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri di Istana Negara, tadi malam, mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, Mega kerap tidak pernah memenuhi undangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sejumlah momen.

    Politisi senior PDI-P Pramono Anung mengatakan, kedatangan Mega bukanlah hal yang tiba-tiba diputuskan. “Ibu diundang sebagai mantan presiden kelima. Kalau dilihat dari tempat duduknya, secara protokoler, beliau itu menduduki sebagai mantan presiden kelima. Jadi kalau duduk sebagai istri Ketua MPR tentunya tempat duduknya tidak di situ. Tetapi sebagai mantan presiden kelima, tempat duduknya di samping Michelle,” ungkapnya di Gedung DPR, Rabu (10/11/2010).

    Menurut Wakil Ketua DPR ini, Mega diundang langsung oleh Presiden Yudhoyono. Pramono juga yakin, Kepala Negara juga mengundang mantan Presiden ketiga BJ Habibie.

    Pramono menambahkan kedatangan Mega menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia sudah berjalan dengan baik meski memiliki posisi politik yang berbeda. Apalagi, kunjungan Obama memperoleh perhatian yang luar biasa dari dunia internasional.

    “Sehingga kehadiran Ibu Mega semata-mata untuk memperlihatkan bahwa proses demokratisasi di republik ini sudah mengalami kematangan,” tandasnya.

    Menurut catatan Kompas.com,  ini adalah kedatangan Megawati pertamakali ke Istana memenuhi undangan sejak ia dikalahkan Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilu presiden 2004. Sebagai mantan Presiden, Megawati selalu diundang menghadiri upacara kemerdekaan 17 Agustus di Istana Negara. Namun, ia tidak pernah datang.
    Caroline Damanik ? ?Editor: Heru Margianto

    Source: Kompas.com

  • Cetro Tolak Anggota Parpol Masuk KPU

    BANDUNG, KOMPAS – Centre for Electoral Reform menolak usulan masuknya anggota partai politik dalam kepengurusan penyelenggara pemilu, seperti Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu, dalam rencana revisi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu. Masuknya unsur parpol itu dianggap menodai independensi penyelenggara pemilu.

    ”Kondisi ini akan menimbulkan tarik-menarik kepentingan dalam lembaga pemilu yang seharusnya mandiri dan imparsial. Perwakilan parpol menjadi penyelenggara pemilu juga inkonstitusional karena bertentangan dengan Pasal 22 E Ayat (5) UUD 1945,” kata Arman Riyansyah, peneliti Cetro, di Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/11).

    Anggota parpol yang menjadi penyelenggara pemilu, tak dapat dihindari, akan membawa agenda dan kepentingan politik parpol masing-masing. ”Keputusan penyelenggara pemilu nantinya menguntungkan beberapa pihak saja karena sarat kepentingan,” ujarnya di Bandung.

    Dalam kondisi saat ini saja, yakni anggota KPU disyaratkan bebas dari keanggotaan parpol mana pun selama lima tahun, Arman menilai masih banyak hal yang membuat publik ragu akan netralitas mereka.

    Ia mencontohkan hengkangnya Andi Nurpati dari KPU dan menjadi pengurus Partai Demokrat. Kejadian itu menimbulkan kecurigaan akan kinerja Andi selama di KPU, apakah yang bersangkutan bersikap netral ataukah tidak.

    ”Kami mendesak Komisi II DPR untuk tidak memasukkan perwakilan parpol sebagai penyelenggara pemilu dan segera menyelesaikan revisi UU No 22/2007,” kata Arman.

    Selama sebulan ini, Cetro juga menyebarkan formulir petisi online yang isinya meminta publik menolak usulan unsur parpol masuk dalam kepengurusan penyelenggara pemilu. Formulir yang terisi akan diberikan kepada Komisi II DPR sebagai bahan advokasi penolakan tersebut.

    Ketua KPU Kota Bandung Apipudin mengatakan, undang-undang sekarang yang mensyaratkan calon anggota KPU selama lima tahun tidak boleh menjadi anggota parpol cukup adil untuk menilai netralitas seseorang.

    Apipudin berpendapat, daripada mengusulkan unsur parpol masuk ke dalam lembaga penyelenggara pemilu, sebaiknya DPR dan pemerintah membenahi infrastruktur KPU hingga di tingkat daerah. (REK)

    Source: Kompas.com