siwah.com

Blog

  • Menyiapkan “Jihad” di Aceh

    Awal Januari 2009. Sebuah iklan di koran lokal berisi kisah penindasan di Palestina yang diikuti pendaftaran calon mujahidin membakar semangat Baili (24), santri dari Dayah, pesantren, di Blang Pidie, Aceh Barat Daya, Nanggroe Aceh Darussalam.

    Anak keenam dari delapan bersaudara dari Desa Alue Bilie, Nagan Raya, ini segera menuju ke Banda Aceh untuk mendaftarkan diri. ”Saya ingin membantu Palestina yang ditindas. Tetapi, saya miskin, hanya bisa berjihad dengan tenaga,” ujar Baili mengisahkan alasannya mendaftar sebagai relawan ke Palestina yang diprakarsai Front Pembela Islam (FPI) itu.
    (more…)

  • Bukan Peperangan Orang Aceh

    Sebuah pesan pendek berbunyi: ”Tandzim Al Qoidah Indonesia Cabang Serambi Mekah telah bertahan untuk melanjutkan jihad terhadap musuh-musuh Allah: kaum Yahudi, Salibis, dan Murtadin serta meminta musuh-musuh Allah untuk segera meninggalkan tanah Serambi Mekah”.

    Pesan lewat SMS itu dikirim Abu Yusuf dari Pegunungan Bun, Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), kepada seseorang di Solo, Jawa Tengah, pada 27 Februari 2010. Abu Yusuf alias Mustaqim adalah lelaki asal Lampung yang memimpin pelatihan menembak dan membaca peta kelompok bersenjata itu. Dia disebut-sebut sebagai lulusan akademi militer Jamaah Islamiah Hudaibiyah di Mindanao, Filipina.
    (more…)

  • Penataan Partai Politik Perlu

    Jakarta, Kompas – Partai politik yang memiliki manajemen baik belum tentu menang dalam pemilu. Demikian pula sebaliknya, partai yang manajemennya tidak baik bisa jadi keluar sebagai pemenang. Namun, kondisi itu bukan alasan untuk tidak melakukan perbaikan manajemen partai.

    ”Ada hal lain, seperti demografi, yang menentukan kemenangan partai politik selain hal- hal seperti manajemen yang baik. Ini terbukti dalam pemilu,” kata
    (more…)

  • Bukan Rumah Tandzim Al Qoidah

    Bagi Kubang (28) alias Mustafaruddin, mantan anggota pasukan bersenjata Gerakan Aceh Merdeka, perjuangannya masih jauh dari usai. Perdamaian yang ditandatangani perwakilan GAM dan Pemerintah Republik Indonesia pada 2005 bukanlah perdamaiannya.

    Ketika mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) lain bergabung dalam organisasi Komite Peralihan Aceh dan menikmati dana reintegrasi, Kubang pun menolak bergabung.
    (more…)

  • Mengurai Cabikan Luka Partai Politik

    Belum tampak perubahan yang patut dibanggakan dalam mengikuti sepak terjang partai politik di negeri ini. Publik dan khususnya konstituen partai selama ini lebih banyak mengekspresikan ketidakpuasan ketimbang kebanggaannya dalam berpartai. Masih dapatkah partai terselamatkan?

    Kondisi demikian tidak boleh dipandang sebelah mata. Betapa tidak, keberadaan partai nyaris tidak dirasakan manfaatnya oleh bagian terbesar publik. Malah, lebih mengerikan lagi, kiprah partai kerap justru dipersepsikan sebagai bagian dari berbagai persoalan politik yang terjadi di negeri ini.
    (more…)

  • Menghitung Untung dan Rugi FTA ASEAN-China

    KOMPAS.com — Guna memperkuat dan meningkatkan kerja sama ekonomi, meliputi perdagangan dan investasi, negara anggota ASEAN dan China sepakat membuat perjanjian perdagangan bebas. Ratifikasi terkait kerja sama itu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 2004.
    (more…)

  • Perubahan Iklim Ancam Pertanian Saree

    M. Nizar Abdurrani I The Globe Journal | Selasa, 12 Januari 2010

    Jantho – Global Warming atau pemanasan global dimana salah satu akibatnya adalah perubahan iklim ternyata bukan hanya terjadi di lapisan es Antartika ataupun gletser Himalaya. Perubahan iklim ternyata juga sudah dirasakan di Indonesia bahkan Saree, sebuah daerah dingin sentra pertanian di Aceh Besar.

    Kecamatan Saree atau biasa masyarakat menyebutnya dengan Saree terkenal sebagaia tempat yang sejuk dan hasil pertaniannya yang melimpah. Saking sejuknya jika melintasi tempat yang terletak di pegunungan Seulawah Aceh Besar tersebut masyarakat harus memakai pakaian tambahan untuk menangkal udara dingin menusuk kulit. Tapi sejak beberapa tahun belakangan ini temperatur udara di Saree sudah lebih hangat. Yang lebih mengkhawatirkan adalah perubahan iklim ini mengancam sektor pertanian Saree di masa depan.

    Petani Saree sedang memanen dini ubi
    Petani Saree sedang memanen dini ubi

    Fenomena ini menjadi fokus penelitian sekelompok peneliti yang sebelumnya telah mengikuti ‘Climate Change and Poverty’ selama bulan Oktober – November 2009, yang diselenggarakan oleh International Conference for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), Banda Aceh. (more…)

  • Kemewahan yang Menggoda Senayan

    KOMPAS.com – Tidak mudah menjadi wakil rakyat. Baru sebulan duduk di Senayan, godaan sudah datang segunduk. Pendirian yang tak benar-benar kuat, pragmatisme bisa melumat. Kesederhanaan tidak laku, kemewahan malah nomor satu.

    Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Provinsi Gorontalo, Elnino Mohamad Husein Mohi, merasakan itu. Belum sampai sebulan dilantik, aktivis dan bekas wartawan itu mengaku sudah mendapatkan banyak cobaan.
    (more…)

  • Jepang Bangun Stasiun Luar Angkasa Penangkap Energi Matahari

    Jepang Bangun Stasiun Luar Angkasa Penangkap Energi Matahari
    Tokyo  – Kedengarannya seperti dalam kisah film fiksi, tapi rencana badan luar angkasa Jepang benar-benar serius: Tahun 2030 mereka akan menangkap energi matahari di luar angkasa dan mengirimkannya ke bumi lewat sinar laser atau gelombang mikrowave. Demikian dilansir oleh AFP, Minggu (8/11).
    Pemerintah Jepang baru saja memilih sekelompok perusahaan dan tim peneliti yang ditugaskan untuk mencapai ambisi tersebut, mimpi bernilai miliaran dollar, untuk menghasilkan energi bersih dalam jumlah tak terbatas dalam beberapa dekade mendatang.
    Dengan sedikit sumber energi yang mereka miliki dan ketergantungan yang tinggi pada import, Jepang telah lama ingin menjadi terdepan dalam hal energi matahari dan energi terbaharukan lainnya. Tahun ini Jepang telah menetapkan target ambisius pengurangan emisi gas rumah kaca.
    Tetapi rencana Jepang paling berani hingga hari ini adalah pembangunan Space Solar Power System (SSPS), yang berupa serangkaian panel Photovoltaic berukuran beberapa kilometer persegi yang melayang-layang di orbit geostasiun, jauh di atas atmosphere bumi.
    “Karena energi matahari bersih dan merupakan sumber yang tak terbatas, kami yakin sistem ini akan mampu membantu memecahkan persoalan kekurangan energi dan pemanasan global,” kata peneliti pada Mitsubishi Heavy Industries, salah satu partisipan proyek dalam laporannya.
    “Sinar matahari melimpah ruah di luar angkasa.”
    Panel solar akan menangkap energi matahari, yang paling tidak lima kali lebih kuat di luar angkasa dibandingkan dengan di bumi, dan memancarkannya ke bumi melalui sinar laser atau microwave. Energi ini akan di kumpulkan oleh antenna parabola raksasa, yang ditempatkan dilokasi tertentu di laut atau di dam, kata juru bicara Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) Tadashige Takiya.
    Peneliti mentargetkan sistem satu gigawatt, ekuivalen dengan pembangkit listrik tenaga nuklir ukuran menengah, yang akan menghasilkan listrik dengan harga delapan sen per Kwh, enam kali lebih murah dari tarif di Jepang sekarang.
    Berbagai tantangan, termasuk membawa komponen ke luar angkasa, bisa muncul luar biasa besar, tetapi Jepang telah menjalankan proyek ini sejak tahun 1998, bersama 130 peneliti yang melakukan riset di bawah pengawasan JAXA.
    Bulan lalu, Menteri Ekonomi dan Perdagangan bersama Menteri Sain dan Teknologi, membuat satu langkah maju menuju realisasi proyek dengan memilih beberapa perusahaan teknologi terkemuka Jepang untuk melaksanakan proyek. Konsorsium ini diberi nama Institute for Unmanned Space Experiment Free Flyer, beranggotakan Mitsubishi Electric, NEC, Fujitsu dan Sharp.
    Roadmap proyek terdiri dari beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum peluncuran penuh di tahun 2030.
    Dalam waktu beberapa tahun, “Sebuah satelit yang didesain untuk mencoba transmisi microwave akan ditempatkan pada orbit rendah dengan roket Jepang,” kata salah satu kepala peneliti JAXA Tatsuhito Fujita.
    Langkah selanjutnya, diharapkan terjadi sekitar 2020, akan diluncurkan sebuah struktur besar Photovoltaic dengan kapasitas sepuluh megawatt, diikuti dengan sebuah protipe berukuran 250 megawatt.
    Langkah ini akan membantu mengevaluasi kemampuan keuangan proyek, dimana hasil akhirnya adalah untuk menghasilkan listrik murah yang mampu bersaing dengan teknologi alternative lainnya.
    JAXA mengatakan teknologi transmisi aman tetapi mengakui harus terlebih dahulu meyakinkan publik, yang sering mengkaitkan gambaran sinar laser akan ditembakkan dari luar angkasa, memanggang burung-burung atau memotong pesawat yang sedang terbang.
    Menurut penelitian yang dilakukan JAXA tahun 2004, kata “laser” dan “microwave”, merupakan kata yang paling banyak mendapat perhatian diantara 1000 orang responden penelitian. (AFP-MNA-)

    Tokyo – Kedengarannya seperti dalam kisah film fiksi, tapi rencana badan luar angkasa Jepang benar-benar serius: Tahun 2030 mereka akan menangkap energi matahari di luar angkasa dan mengirimkannya ke bumi lewat sinar laser atau gelombang mikrowave. Demikian dilansir oleh AFP, Minggu (8/11).

    Pemerintah Jepang baru saja memilih sekelompok perusahaan dan tim peneliti yang ditugaskan untuk mencapai ambisi tersebut, mimpi bernilai miliaran dollar, untuk menghasilkan energi bersih dalam jumlah tak terbatas dalam beberapa dekade mendatang. (more…)

  • Sepak Terjang Kakak Beradik dari Kalimati

    Liputan6.com, Jakarta: Banyak kalangan hingga kini mempertanyakan belum ditahannya Anggodo Widjojo. Padahal, adik tersangka kasus korupsi di Departemen Kehutanan, Anggoro Widjojo itu diduga berperan besar dalam rekayasa untuk menjerat dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah. Siapa sebenarnya Anggodo Widjoyo?

    Anggodo Widjojo beserta Anggoro Widjojo–kini masih buron, adalah arek Suroboyo asli. Kakak beradik ini berkarier dan menjadi pengusaha sukses di Kota Pahlawan itu. Di kalangan pengusaha Surabaya, nama Anggodo dan Anggoro Widjojo memang tidak terlalu dikenal. Tapi, bila disebutkan nama asli Tionghoa-nya, yakni Ang Tju Nek (Anggodo) dan Ang Tju Hong (Anggoro), hampir semua pengusaha senior mengenal mereka. Bahkan, mereka mengetahui dengan citra tertentu kepada adik kakak itu.
    (more…)