siwah.com

Blog

  • Penetapan Gunakan Sistem Proporsional Terbuka Murni

    Jakarta, Kompas – Setelah pembatalan Pasal 214 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD, cara penetapan calon anggota DPR dan DPRD terpilih dilakukan dengan sistem proporsional terbuka murni, bukan proporsional terbuka terbatas lagi. Penetapan tidak menggunakan sistem distrik murni, seperti pemilu anggota DPD, karena peserta pemilu DPR dan DPRD adalah partai politik.

    Hal itu diungkapkan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), I Gusti Putu Artha, dalam pertemuan dengan perwakilan partai politik terkait penetapan calon anggota legislatif (caleg) terpilih di Jakarta, Senin (23/3). Oleh karena itu, suara perolehan sah calon anggota DPR, DPRD, dan partai dikonversi menjadi suara partai saja.
    (more…)

  • Partai Keadilan Sejahtera: Mosaik Pluralitas Muslim Perkotaan

    Partai Keadilan Sejahtera mencerminkan sebuah kekuatan baru yang mencirikan pluralitas Islam perkotaan. Ia menjadi mosaik yang menghubungkan patahan-patahan dikotomis antara Islam tradisional dan modern, antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Karakteristik baru dari wajah politik aliran. BAMBANG SETIAWAN

    Citra yang melekat pada diri Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai perwujudan dari kekuatan partai Islam pluralis juga tecermin dalam hasil survei nasional yang dilakukan Litbang Kompas 20 Februari-3 Maret 2009. Terbanyak (49,3 persen) dari calon pemilih PKS dalam Pemilu 2009 adalah penganut agama Islam yang tidak terikat dalam salah satu aliran besar (NU atau Muhammadiyah). Baik pemilih dengan latar belakang agama Islam beraliran NU maupun Muhammadiyah memang menyumbang cukup besar pada kekuatan PKS, tetapi terbanyak adalah pribadi-pribadi yang tidak memiliki ikatan emosional dengan kedua aliran tersebut.
    (more…)

  • Modern, Berbasis Program untuk Bisa Melawan Arus

    Menghadapi Pemilu 2009, partai politik di Indonesia mulai berjuang melakukan banyak hal untuk meraih suara, umumnya supaya dapat menempatkan kader di kursi DPR. Tak ketinggalan pimpinan parpol makin sering tampil di media massa untuk menunjukkan eksistensi.

    Namun, tidak demikian halnya dengan Partai Perjuangan Indonesia Baru (PIB). Partai yang pada Pemilu 2009 ini menjadi peserta pemilu untuk kedua kalinya itu justru terkesan melawan arus. Pimpinannya tak banyak muncul di media massa. Kader partai justru ditanam dari tingkat bawah, yakni menjadi anggota DPRD kabupaten/kota dahulu, baru kemudian ke DPRD provinsi.
    (more…)

  • Jejak Getir Pemilu di Aceh

    TANGGAL 9 April 2009 mendatang, seluruh rakyat Indonesia akan menggunakan haknya mengikuti Pemilu Legislatif. Pemilu ke-10 dalam sejarah republik Indonesia, sejak Pemilu pertama tahun 1955. Bagi rakyat Aceh, Pemilu 2009 sangat bermakna, selain memilih 38 caleg dari partai nasional, dapat memilih calon legislatif (caleg) yang diusung oleh enam partai politik lokal (parlok) yang tidak ada di provinsi lain. Banyak yang memprediksi, untuk tingkat kabupaten/kota, caleg parlok akan mengalahkan partai nasional.

    Pada dimensi lain, Pemilu tahun ini merupakan Pemilu bersejarah di Aceh, pasca konflik dengan ditandatanganinya perjanjian damai di Helsinki pada 15 Agustus 2005 antara Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Semua berharap, Pemilu kali ini tidak digelar di bawah ujung bedil. Para pemilihnya benar-benar merdeka menentukan hak pilih mereka.
    (more…)

  • Gerakan Pemilih Cerdas

    PEMILIH Cerdas menjadi penyadaran, terutama bagi pemilih pemula untuk menggunakan potensi akalnya secara sadar memutuskan suatu pilihan. Ini dapat menekan kegamangan caleg mana yang pantas dipilih dari sekian ribu yang foto mereka bertebaran di seluruh penjuru mataangin Aceh, baik tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga caleg tingkat pusat.

    Gerakan yang digagas PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu menjadi penting untuk memperkuat kualitas pemilu 2009, sehingga rakyat tidak seperti membeli “kucing dalam karung”. Di sinilah perlu kecerdasan, terutama pemilih pemula di tengah isu kampanye,
    (more…)

  • Golput, dan Kampanye Retail

    SEPERTI biasa, pemilihan umum kini sudah diambang pintu. Seperti biasa pula, jamu pembangunan dan berbagai resep masa depan kini mulai ditawarkan dimana-mana.. Ada janji dan ungkapan yang jujur dan realistis, ada pandangan utopis. Tak kurang pula, ada rencana dan komitmen gombal yang juga seringkali laku dijual. Tidak ada yang salah dengan tawaran dan janji masa depan itu.K arena memang begitulah mekanisme pasar demokrasi adanya.

    Di sebalik kampanye dan keragaman visi masa depan yang ditawarkan, ada satu dosa kolektif yang seringkali dilakukan, terutama dalam kaitannya dengan strategi persuasi dan kampanye untuk mendapat suara sebanyak mungkin. Kampanye, seperti biasanya, dimanapun di dunia, seringkali lebih bernuansa upaya mempengaruhi pemilih dengan segala cara, sedapatnya mematuhi ketentuan dan aturan yang berlaku. Tidak jarang ada asumsi-asusmsi yang digunakan secara sengaja atau tidak sengaja yang memperlakukan publik pada posisi “bodoh”, atau dapat “dibodohi”. Ada pula yang menganggap pemilih telah menderita penyakit “lupa kolektif” terhadap kejadian masa lalu yang telah dilakukan oleh partai politik ataupun individu.
    (more…)

  • Kampanye Ala Obama

    “Assalamualaikum w.w
    Kawan-kawan yang baik,
    Dengan ini saya menyampaikan bahwa saya, xxx turut serta dalam Pesta Demokrasi Pemilu 9 April 2009. Saya telah ditetapkan dalam Daftar Calon Tetap (DCT). Sebagai Calon Anggota DPR Aceh, Utusan xxx, Nomor Urut x, Dapil 3 (Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya). Mohon Dukungan dengan menyampaikan kepada rekan-rekan, kerabat, famili dan seluruh warga di tiga kabupaten tersebut. Hendaknya dapat memberi suara kepada:
    xxx
    Calon Anggota DPR Aceh,
    Utusan xxx
    Nomor Urut x,
    Dapil 3 (Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya).
    Salam Mulia,
    xxx
    (more…)

  • Dave Menikmati, Halida Cinta Warung, dan Baliho Ibas Hilang

    Menyandang nama terkenal keluarga bagi calon anggota legislatif memang membawa berkah. Itu juga yang dialami Edhie Baskoro Yudhoyono, putra bungsu Susilo Bambang Yudhoyono, atau dikenal dengan nama Ibas, yang menjadi caleg DPR Partai Demokrat di Daerah Pemilihan Jawa Timur VII. Nama Yudhoyono di belakang namanya memudahkannya memperkenalkan diri.

    Caleg lain yang punya modal serupa adalah Halida Hatta, putri proklamator RI, Mohammad Hatta atau Bung Hatta. Halida Hatta (53) adalah caleg nomor 1 dari Daerah Pemilihan DKI II Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Luar Negeri. Di dalam Partai Gerakan Indonesia Raya, ia adalah Wakil Ketua Umum III Bidang Kesejahteraan Sosial.
    (more…)

  • Perempuan dan Peluang

    SATU riwayat, Tjut Nja’ Dhien mengajukan syarat ketika ia ingin dilamar Teuku Umar menjadi istrinya. Tjut Nja’ meminta untuk diizinkan berperang melawan penjajah dan membalas kematian suami pertamanya yaitu Teuku Ibrahim. Teuku Umar menyanggupi syarat itu. Singkatnya, Cut Nyak Dhien ikut terjun di medan perang bersama para pejuang lainnya. Dalam perjalanan kehidupan rumah tangga mereka, akhirnya Teuku Umar pun pergi lebih awal menghadap sang Khalik. Dan Tjut Nja’ Dhien pun tetap berjuang.

    Perjuan perempuan perkasa itu makin sengit dan makin lihat mengalahkan tentara Belanda. Bahkan saat matanya mulai rabun karena dimakan waktu. Semangatnya tak pernah surut. Satu citanya bagaimana mengubah nasib bangsanya, dan peluang terbuka untuk itu. Maka Tjut Nja’ tak menyia-nyiakan waktu. Hingga ia ditangkap dan dibuang ke Sumedang, dalam keadaan matanya yang buta, perempuan dari Lampadang itu masih sempat menikam seorang perwira Belanda yang ingin menyentuhnya. Dalam pembuangan, ternyata Tjut Nja’ tak berdiam diri. Ia berjuang lewat mengajarkan manusia, dengan mengajarkan mengaji pada beberapa orang di rumah pembuangan itu.
    (more…)

  • Benarkan Platfom Partai Kebutuhan Rakyat

    “Seharusnya partai politik mengkaji atau meriset kecil tentang mapping kebutuhan pemilih baru dikristalkan dalam bentuk platfom atau program. Itu baru jelas, bahwa partai politik itu memang memperjuangkan kebutuhan hak-hak dasar dari konsistuennya/pemilihnya.”

    Deg..deg…kurang lebih begitulah suara jantung para caleg partai politik menghitung hari yang kian dekat pada penentuan nasib. Perasaan bercampur-aduk antara menang dan kalah dirasakan semua caleg politik. Namun ketika saya tanyakan, hampir seluruh caleg, selalu berpikir optimis dengan satu kata “Menang”. Hal menarik tergelitik dibenak saya, aneh memang keinginan para caleg bila ingin menang seharusnya investasi sosial dan politik jauh-jauh hari dipersiapkan bukan kayak politikus karbitan (instan) yang hanya berorientasi uang dan jabatan ketimbang membela hak rakyat. Realitasnya para caleg hanya mengkampanyekan jadi dirinya saja melalui baliho, spanduk, stiker, kartu nama, dll. Seharusnya spirit mencerdaskan rakyat melalui pendidikan berpolitik diberikan. Mareka tidak mau tau dengan aturan yang mareka langgar dalam menjalankan kegiatan-nya. Sehingga apa yang mareka perbuat baik pada masa pra kampanye ataupun pada tahap kampanye tidak pernah melakukan atau memberikan pendidikan politik kepada rakyat, karena rakyat tetap pada posisi sebagai objek untuk mengantarkan mareka meraih kekuasaan dan jabatan.
    (more…)