siwah.com

Tag: aceh

  • Abu Razak: Hampir di Semua Daerah Zaini-Muzakir Menang

    BANDA ACEH – Ketua Umum Pemenangan Pusat Partai Aceh, Kamaruddin Abu Bakar, atau yang dikenal Abu Razak mengatakan bahwa hampir di semua daerah pemilihan di Aceh, pasangan Zaini Abdullah Muzakir Manaf memperoleh kemenangan dalam perolehan suara.

    “Dari perhitungan cepat beberapa lembaga nasional dan hasil sementara real quick count Partai Aceh menunjukkan kemenangan pasangan Zaini-Muzakir hampir di semua wilayah Aceh,” kata Abu Razak dalam saat konferensi di Kantor Pusat Pemenangan Partai Aceh, Lamdingin, Banda Aceh, Senin malam, 9 April 2012.

    Disebutkan, beberapa daerah yang peroleh suaranya dimenangkan oleh Partai Aceh antara lain Aceh Utara, Pidie, Aceh Timur, dan Aceh Jaya.

    Hingga saat dilaksanakannya konferensi pers, Partai Aceh telah menginput 1.339.093 suara sah dari 5581 TPS, atau sebanyak 57,04 persen dari total jumlah suara Pilkada Aceh 2012. Dari jumlah itu, pasangan Zaini-Muzakir menempati urutan pertama, sebanyak 746.175 suara atau 55,72 persen dari total suara yang masuk ke Partai Aceh.

    Sedangan urutan kedua untuk pasangan Irwandi-Muhyan, 387.704 suara, atau 28,95 persen dari total suara sementara yang masuk ke Partai Aceh.  Selanjutnya pasangan Nazar-Nova, 110.375 atau 8, 24 persen, pasangan Darni Daud-Ahmad Fauzi 53,405  atau 3,99 persen, Abi Lampisang-Ahmad Tajudin 41.434 atau 3,09 persen.

    Karena itu, kata Abu Razak, pihaknya menginstruksikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pemenangan Partai Aceh untuk mengawal suara pada semua tingkatan yang sudah ditentukan oleh KIP.[]

    Source : The Atjehpost

  • Tim Pemenangan Partai Aceh Rilis Kecurangan Pilkada 2012

    BANDA ACEH – Tim Pemenangan Pusat Partai Aceh menyebutkan telah menemukan beberapa pelanggaran di lapangan dalam proses pemilihan gubernur-wakil gubernur dan bupati/wakil bupati yang sedang berlangsung hari ini, Senin, 9 April 2012.

    Berdasarkan siaran pers yang ditandatangani Yuli Zuardi Rais, Ketua Bidang Propaganda Pemenangan Pusat Partai Aceh disebutkan, pihaknya menemukan sejumlah pelanggaran yang berpotensi merusak proses pemilihan yang sedang berlangsung.

    Berikut adalah isi siaran pers dari Tim Pemenangan Pusat Partai Aceh.

    Daftar Pelanggaran/Kecurangan Pilkada Aceh 2012 Data Base Partai Aceh

    Pukul 11.53 Wib
    [Aceh Selatan] Tepatnya di kecamatan Samadua di Desa gunung Ketek kedapatan dua surat suara telah tercoblos pada kandidat (Calon Gubernur No. 2) dan di Ujung Gunong, Samadua Timses pasangan Irwandi-Muhyan dengan memakai baju Tim Ses kedapatan membagi-bagi nasi
    bungkus kepada masyarakat pemilih. Kasus ini telah dilaporkan ke panwas setempat.

    Pukul 11.53 Wib
    [Aceh Barat Daya] di Kecamatan Blangpidie Desa Mata Ie. Pihak KPPS di TPS 1 – TPS4 melakukan pelanggaran dengan meminta tanda tangan saksi diberita acara perhitungan suara sebelum pemilihan usai.

    Pukul 11.54 Wib
    [Aceh Barat Daya] di Kecamatan Babahrot Abdya, Desa Blang dalam TPS1, terdapat 1 kertas surat suara sudah tercoblos untuk (Calon Gubernur No.1) dan (Calon Bupati No.1).

    Pukul 11.54 Wib
    [Aceh Barat Daya] di Kecamatan Kuala Batee, Kp. Tengah, TPS 1 ada kertas suara rusak yang sudah tercoblos diluar kotak kandidat untuk gubernur, kontak KPPS : Mirza Elia.

    Pukul 11.59 Wib
    [Aceh Besar] Para Napi lapas Kec. Darul Imarah (belakang Serambi Indonesia) masih belum mendapat surat undangan untuk memilih.

    Pukul 12.27 Wib
    [Gayo Lues] di Kecamatan Dabun Gelang, Desa Kendawi TPS 1. Kurang surat suara untuk pemilian Calon Gubernur dan Wakil Gubernur sebanyak 105 dan TPS 1 kota Blang Kejeren
    kekurangan 100 lembar surat suara.

    Tim Pemenangan Pusat Partai Aceh (PA) akan melakukan update per Jam untuk perkembangan lapangan Pilkada Aceh 2012.

    BANDA ACEH, 9 April 2012
    TIM PEMENANGAN PUSAT Dr. H. ZAINI ABDULLAH-MUZAKIR MANAF UNTUK PEMERINTAH ACEH 2012-1017

    KETUA BIDANG PROPAGANDA PEMENANGAN PUSAT PARTAI ACEH

    YULI ZUARDI RAIS

    Source : The Atjehpost

  • Mualem: Jika Terpilih, Kita Akan Benahi Ulee Ureung

    PANTON LABU – “Saya optimis Partai Aceh akan menang dan target perolehan suara 75 persen seluruh Aceh.” Hal itu disampaikan Muzakir Manaf atau Mualem kepada wartawan, usai melakukan pencoblosan di TPS 29 Kota Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Senin 9 April 2012.

    Saat ditanya, apa yang ia lakukan jika Partai Aceh tidak menang? “Jika memang nantinya saya (Partai Aceh) tidak terpilih, ya tidak mengapa, mau bagaimana lagi?,” jawabnya sambil tersenyum.

    Mualem menambahkan, jika terpilih, semua butir-butir MoU akan dirampungkan, termasuk yang belum dijalankan oleh pemimpin pemerintahan Aceh sebelumnya. “JKA akan kita jalankan, mungkin namanya saja yang berbeda. Untuk dokter, kita akan seleksi ketat yang memiliki kemampuan terbaik,” ujarnya.

    “Kita juga akan membenahi semua program mulai dari A hingga Z. Namun yang pertama, kita akan perbaiki “Ulee Ureung” (Sumber Daya Manusia) itu sendiri,” kata Mualem.[]

    Source : The Atjehpost

  • Pertama Dalam Sejarah, Wali Aceh Ikut Mencoblos

    TEMPO.COBanda Aceh – Pertama dalam sejarah hidupnya, Pemangku Wali Aceh Nangroe Malik Mahmud Al Haythar ikut mencoblos dalam pemilihan umum di Indonesia, khususnya di Aceh. “Ini sangat bersejarah bagi saya,” kata pria berusia 72 tahun itu sesaat sebelum mencoblos, Senin, 9 Maret 2012.

    Malik, atau yang biasa disapa Meuntroe karena pernah menjadi Perdana Menteri Aceh di era pemberontakan, tercatat sebagai pemilih di tempat pemungutan suara nomor 2 di Kelurahan Beurawe, Banda Aceh. Saat mencoblos, ia didampingi oleh abang sepupunya, M. Zain Sulaiman. Di daftar pemilih, Malik tercatat beralamat di Jalan T. Iskandar Nomor 11 Banda Aceh. “Saya menginap di sana tadi malam,” katanya.

    Panitia pemungutan suara pun menyambutnya dengan meriah. Saat memasuki gerbang TPS, Malik disambut sepasang remaja yang mengenakan baju adat Aceh. Kedatangan Malik juga tak kalah heboh. Saat mendatangi TPS, mobil Toyota Rush bernomor polisi BL 709 JW yang ia kendarai dikawal oleh enam unit mobil jip yang berlogo Brigade Partai Aceh. Di dalam mobil diisi oleh belasan pria yang merupakan para pengawal berbedan tegap. Di antara mereka ada juga yang berewokan.

    Hari ini sekitar 3,2 juta pemilih di Aceh mengikuti pemilihan gubernur dan wakil gubernur untuk kedua kali sejak penandatanganan Mou Helsinki. Selain gubernur, pemilihan kali ini juga dibarengi dengan pemilihan 17 kepala daerah di Aceh. Malik menjadi penasihat Partai Aceh, yaitu partai yang menampung mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka.

    Malik baru setahun menjadi warga negara Indonesia. Ia sebelumnya tercatat sebagai warga negara Singapura. Istri dan anaknya masih tinggal di sana dan belum berstatus WNI.

    Dalam sepak terjangnya, Malik adalah orang nomor dua setelah Hasan Tiro, pendiri GAM. Oleh karena itu, sosoknya sangat misterius. Ia termasuk orang di GAM yang paling akhir menjadi WNI. Hasan Tiro, calon gubernur dan wakil dari Partai Aceh yang memiliki basis massa GAM, Zaini Abdullah, dan Muzakir Manaf, sudah lebih dulu memegang paspor Indonesia.

    Kepada Tempo, Malik mengatakan Kelurahan Beurawe yang kini tercatat sebagai alamatnya punya sejarah di dalam keluarganya. Meskipun lahir di Singapura, pada masa kecil dan mudanya Malik sempat tumbuh di Beurawe bersama orangtuanya.

    Beberapa keluarganya juga masih ada di kelurahan itu. Dari informasi yang dikumpulkan, Malik selama ini menyimpan rapat cerita ini dengan alasan keamanan keluarga sebab di masa pemberontakan Malik menjadi buruan wahid pemerintah. “Kali ini saya datang sebagai warga negara Indonesia dan memberikan yang terbaik untuk Aceh,” katanya.

    Source : Tempo.co

  • Menurun Partisipasi Rakyat Aceh Ikut Pemilukada

    Banda Aceh – Direktur ACTSF, Juanda Djamal selaku juru bicara Jaringan Masyarakat Sipil Untuk Perdamaian (JMSP) melaporkan beberapa keadaan politik menjelang pencoblosan dan pada hari pencoblosan.

    Kepada The Globe Journal, Senin (9/4) sore tadi, Ia mengatakan tindak kekerasan masih terjadi satu hari menjelang pencoblosan, pemukulan tim sukses Irwandi di Bireuen, penyanderaan tim sukses Ilyas Hamid di Aceh Utara dan beberapa aksi intimidatif lainnya yang merupakan aksi untuk dapat mempengaruhi jalannya proses pencoblosan hari ini 9 April 2012.

    Juanda Djamal menjelaskan keadaan saat pencoblosan, menurut pemantauan yang dilakukan oleh Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perdamaian (JMSP) bahwasanya tingkat antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi menurun.

    Di beberapa lokasi seperti Ie Rho Barat dan Tambu Samalanga, Bireuen tingkat partisipasinya 60-75 %.

    Dibeberapa tempat lainnya, menurut pengakuan beberapa masyarakat adalah tidak mendapatkan undangan pencoblosan sebagaimana dijanjikan, hal ini mempengaruhi partisipasi masyarakat untuk melakukan pemilihan.

    “Selain itu, beberapa masyarakat cenderung apatis untuk aktif berpartisipasi, selain ada kekhawatiran warga juga terlihat seperti kebingungan dengan keadaan ini,” kata Juanda.

    Kasus lainnya yang dilaporkan oleh masyarakat Sikabu dan Lhok Gayo di Abdya ditemukan kertas suara yang sudah di coblos terlebih dahulu. Keadaan ini menjadi indikasi atas ketidakjujuran para kontestan atau pendukungnya dalam menciptakan pemilukada yang jurdil dan demokratis.

    Setidaknya masalah tersebut dapat diusut oleh pihak kepolisian. Kasus-kasus kekerasan menjelang masa pencoblosan dan kasus-kasus kekerasan sebelumnya, semoga kasus-kasus ini dapat menjadi momentum terhadap penegakan hukum di Aceh.

    Panwaslu sebagai lembaga yang berwenang mengawasi proses penyelenggaraan pemilukada supaya dapat membantu pihak kepolisian dalam menindaklanjuti berbagai kasus pelanggaran yang terjadi.

    KIP sebagai pihak penyelenggara pemilukada supaya dapat mengumpulkan informasi atas kelemahan dan kekurangan yang terjadi pada pemilukada menjadi pembelajaran bagi penyelenggaraan pemilukada yang akan datang secara lebih sempurna lagi.

    Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perdamaian (JMSP) tergabung didalamnya ACSTF-AJMI-The Aceh Institute-Balai Syura-Katahati Institute-An-nisa Centre-Walhi Aceh-PCC-Saree School- YRDPI-Forum LSM Aceh-Bungong Jeumpa-YRB -AWPF-Flower Aceh-FP3-Lingkaran-Solidaritas Perempuan Aceh-Suloh Aceh-JKMA-MPK Aceh-PEMA USM-PEMA Unmuha-BEM FE Unmuha-GEPAR.[003]

    Source : The Globe Journal

  • LSI : Aceh I & Aceh VII Zaini-Muzakir Kalah Telak

    Banda Aceh – Hasil quick count yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Citra Publik Indonesia (CPI) menyatakan kandidat Gubernur Aceh nomor urut 5 pasangan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf menang. Namun menurut LSI wilayah Aceh I dan Aceh VII pasangan yang diusung Partai Aceh itu kalah total.

    Saat melakukan konperensi pers di Hermes Palace Hotel, Senin (9/4) pukul 17.30 WIB, peneliti LSI, Chandra mengatakan Aceh I dan Aceh VII pasangan Zaini-Muzakkir kalah telak dengan pasangan nomor urut 2, Irwandi-Muhyan.

    Menurut Chandra, Aceh I itu berada di Aceh Besar, Kota Banda Aceh dan Kota Sabang. Sedangkan wilayah Aceh VII meliputi Gayo Luwes, Aceh Tenggara, Aceh Singkil dan Kota Subulussalam. Quick Count yang dihasilkan LSI ini berasal dari rek-up data dari 350 relawan LSI di 350 TPS dari Aceh I sampai Aceh VIII.

    Menurut LSI secara umum pasangan nomor 5 yang diusung Partai Aceh lebih unggul. Namun ada titik-titik tertentu yang kalah telak dengan pasangan nomor urut 2, Irwandi-Muhyan. Ia menyebutkan data sample yang masuk hingga pukul 17.30 WIB sudah 95,14 persen menyebutkan di Aceh I, pasangan Irwandi-Muhyan meraih 35,79 persen sedangkan pasangan Zaini-Muzakkir hanya mengantongi 33,05 persen suara.

    Kemudian untuk wilayah Aceh VII, pasangan Irwandi-Muhyan mengumpulkan 47,33 persen, sedangkan pasangan Zaini-Muzakkir hanya 40,36 persen suara.

    Sementara itu Aceh IV yang meliputi Kabupaten Bireuen, Bener Meriah dan Aceh Tengah kedua pasangan kombatan ini bersaing dan saling kejar-mengejar. Wilayah ini, pasangan Irwandi-Muhyan meraih 43,25 persen dan pasangan Zaini-Muzakkir membawa 43,98 persen suara.

    Chandra melanjutkan ada sekitar 5 persen lagi data sample yang akan masuk. “Deadlinenya sekitar pukul 19.00 WIB,” kata Chandra yang didampingi dua rekannya Fitri dan Boy.

    Data LSI secara umum dari Aceh I – Aceh VIII menyebutkan Kandidat Gubernur Aceh nomor urut (1) Abi Lampisang meraih 3,84 persen, kandidat nomor urut (2) Irwandi Yusuf meraih 29,88 persen, kandidat nomor (3) mengumpulkan 4,11 persen, kandidat nomor urut (4) mengantongi 7,77 persen dan kandidat nomor urut (5) membawa 54,40 persen suara. [003]

    Source : The Globe Journal

  • 60 Persen Etnik Tionghoa Ikut Pemilukada

    Banda Aceh- Sebanyak 60 persen etnik Tionghoa dari 1.890 total Daftar Pemilihan Tetap (DPT) yang terdaftar di Gampong Peunayong  ikut serta dalam pemilukada Aceh 2012. Hal tersebut disampaikan oleh Teuku Mirwan Sahputra, Ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) Gampong Peunayong pada The Globe Journal, Senin (9/4).

    “Kita tidak tahu jumlah pastinya, karena mereka terbagi dalam empat TPS. Kita tidak mendata hanya etnik tionghoa saja,” jelasnya saat ditanya berapa angka pasti pemilih dari etnik tersebut.

    Namun, ujar Mirwan mungkin tidak semua etnik tionghoa yang ikut mencoblos di pemilihan kepala daerah kali ini. Hal tersebut dikarenakan, ada etnik tionghoa yang tengah menempuh pendidikan di luar Aceh atau sedang tidak berada di Aceh sendiri.

    Sementara itu, saat ditanya jumlah pemilih yang tidak terdaftar di empat TPS Gampong Peunayong, Mirwan menyebutkan lebih dari 20 orang yang memang tidak terdaftar sebagai DPT. Dia mengatakan bahwa sudah empat kali membuka daftar pemilih tambahan, namun masih juga terdapat masyarakat yang namanya tidak terdaftar. Selain itu, dari total DPT yang ada, lebih dari 10 orang DPT tersebut sudah meninggal dunia.  [003]

    Source : The Globe Journal

  • Di Tanah Luas, Di TPS Pemilih Diarahkan Pilih Calon PA

    Banda Aceh – Deklarasi Pemilukada damai hanya sekadar ungkapan saja. Intimidasi kembali terjadi di Aceh Utara yang kebetulan menimpa warga Gampoeng Hagu Tanah Luas, Aceh Utara. Para intimidator dengan beraninya memasuki Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk mengarahkan pemilih memilih kandidat Partai Aceh (PA).

    “Mereka masuk ke bilik pemilihan untuk mengarahkan kami, padahal kami tahu itu melanggar peraturan,” kata warga Tanah Luas yang tidak mau namanya ditulis kepada The Globe Journal, Senin (9/4).

    Katanya, bukan hanya dirinya saja diperlakukan seperti itu akan tetapi dua orang temannya juga mengalami hal yang sama. “Dua orang kawan kami dipegang tangannya, sementara polisi tidak ada ditempat saat itu, mereka hanya mondar-mandir saja di jalan,”sambungnya dengan nada terbata-bata.

    Sebelum hari H pemilihan temannya ditemui oleh orang PA setempat dan mengancam. “Kalian harus ingat, dulu kami mengeluarkan darah, sekarang kalian mau meminumnya,” wanita itu mengutip pembicaraan pengintimidasi.

    Sementara Juru Bicara Partai Aceh, Fachul Razi yang dikonfirmasi The Globe Journal mengatakan jika pun itu terjadi, bukan tim suksesnya saja yang melakukan, akan tetapi semua timses semua kandidat akan melakukan hal yang sama untuk memenangkan kandidatnya.

    “Kalapun ada, mungkin bisa dihitung dengan jari. Kan ada saksi pun disana. Biarkan saja masyarakat memilih dengan hati, tapi kami yakin masyarakat tahu memilih yang mana,” tukasnya.

    Namun yang sangat disayangkan kata Fachrul, banyak warga yang tidak mendapatkan surat suara sehingga tidak bisa memilih karena tidak ada nama di Daftar Pemilih Tetap (DPT).

    Source : The Globe Journal

  • Menang-Kalah, Irwandi Bentuk Partai Lokal

    Banda Aceh-Irwandi Yusuf didampingi Istrinya Darwati A.Gani hari ini memilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 2 TK Perkib Lampriet, Senin (9/4).

    Irwandi tiba di TPS pukul 09.45 WIB, puluhan wartawan media cetak lokal niasonal dan luar negeri menunggu kedatangan Irwandi.

    Dalam daftar udangan Irwandi kebagian nomor undangan 48 dan Darwati nomor undangan 49. Dalam pemilihan ini baju Irwandi memakai baju orange lambang PSSB Bireuen begitiu juga Darwati memakai baju Orange.

    Ditanya mengenai kemenangan, Irwandi yakin “kita akan menang 1% di atas para kandidat , hitungan mutlak keseluruhannya 43% pasangan Irwandi-Muhyan akan meraup suara di Pemilukada Aceh kali ini,” katanya.

    Disinggung masalah saksi Irwandi bilang “saksi-saksi kita di beberapa daerah di Pantai Timur Aceh banyak yang mengundurkan diri karena ancaman dan intimidasi seperti di Aceh Utara saksi kita disekap selama 2 x 24 Jam apa ini tidak namanya penculikan’ , katanya.

    Bersama istri tercinta DarwatiIrwandi menyebutkan kalah dan menang dirinya akan mendirikan partai politik lokal baru di Aceh, untuk mengikuti ajang pesta pada tahun 2014 Jika pun kalah saya sudah siap, banyak pekerjaan yang menampung saya apakah jadi dosen, petani ataupun jadi supir Hammer untuk dapat keliling Aceh.[003]

    Source : The Globe Journal

  • Peneliti: Demokrasi di Aceh Tidak Islami

    Banda Aceh – Semangat perdamaian di Aceh sangat besar, lihat saja semua masyarakat dengan santai duduk di warung kopi tanpa merasa sedikitpun merasa was-was dengan situasi politik akhir-akhir ini yang semakin memanas.

    “Semangat perdamaian di Aceh perlu dimunculkan, lihat saja 24 jam masyarakat bisa santai di warung kopi dan itu tidak dimiliki oleh daerah lain”, ujar seorang Peneliti Konflik dan Mahasiswa S3 di Australia, Badrus Shaleh.

    Namun demikian demokrasi di Aceh untuk saat ini masih kurang sehat, masyarakat memilih dibawah teror dan intimidasi. Walau demikian, ujarnya, itu semua proses pendewasaan dan pematangan dalam berdemokrasi. Butuh semua komponen untuk terus mematangkan demokrasi dan juga menciptakan iklim demokrasi yang sehat dan menuju kualitas yang baik.

    “Demokrasi di Aceh mencekam, orang memilih dibawah ancaman, tapi ini semua berproses untuk menuju kematangan dalam berdemokrasi”.

    Badrus yang telah melakukan penelitian diberbagai daerah konflik termasuk di Maluku menjelaskan kembali dalam diskusi yang diadakan Kelompok Diskusi Dealektika Lina di Lingka Kupi Sabtu (7/4) pukul
    16.30 wib. “Tidak cukup juga dengan hanya demokrasi saja untuk menguatkan perdamaian, tetapi juga dibutuhkan Institusi/ Pemerintah yang kuat dalam proses penguatan dan pematangan demokrasi di dalam
    sebuah daerah, termasuk di Aceh”.

    Selanjutnya, Badrus sempat mengkritik ulama yang tidak bereaksi saat maraknya terjadi pembunuhan menjelang pelaksanaan Pilkada. Ketika terjadi pembunuhan ulama tidak mengeluarkan fatwa apapun menyangkut dengan tindakan tersebut. Seharusnya ulama bertindak dan memprotes secara tegas aksi-aksi teror apa lagi penghilangan nyawa seseorang secara paksa.

    “Demokrasi di Aceh tidak Islami, ketika terjadi pembunuhan, ulama tidak ada yang protes”, ketusnya kembali.

    Namun, jelasnya kembali, orang Aceh harus optimis bahwa perdamaian bisa ditegakkan, insiden-insiden itu hanya sebagai proses pendewasaan dalam berdemokrasi dan seluruh rakyat Aceh harus tetap merawat perdamaian itu.

    Aceh juga berhasil merubah dari gerakan bersenjata menjadi perjuangan politik, ini menjadi sebuah prestasi yang luar biasa di Aceh yang tetap harus dipertahankan.

    Source : The Globe Journal