siwah.com

Tag: aceh

  • Masyarakat Pilih Partai Aceh Karena Ingin Perubahan

    Aceh Utara – Pada Pemilukada Aceh ini, Senin (09/4), masyarakat Aceh tampak lebih memilih cagub/cawagub dari Partai Aceh (PA) Zaini – Muzakir dan Cabup dan Cawabup, Muhammad Thaib-M.Jamil, M.Kes, ketimbang partai lain. Hal itu berdasarkan pantauan The Globe Journal di sejumlah lokasi TPS saat berlangsungnya perhitungan suara di sejumlah desa dan kecamatan di Aceh Utara.

    Seperti yang dikatakan oleh sejumlah warga, salah satunya Andri. Ia mengaku memilih PA dengan alasan ingin menikmati perubahan kabupaten dan propinsi ketika dipimpin oleh kepal yang baru.

    “Saya memilih PA, karena ingin merasakan perubahan Aceh, baik kota maupun kabupaten. Lagi pula mereka menjanjikan akan mengesahkan qanun untuk dayah,”ujar Andri kepada The Globe Journal di Lhoksukon.

    Terkait hal tersebut, Juru Bicara Partai Aceh, Fakhrul Razi kepada The Globe Journal via telephone, mengatakan, hal sedemikian merupakan doa dari rakyat Aceh dengan memilih Partai Aceh sesuai hati nurani.

    “Semua karena doa rakyat Aceh, dan kemenangan ini adalah kemenangan rakyat Aceh nantinya,”ujarnya sembari mengharapkan bahwa suara PA jangan ada yang hilang serta terjadinya kecurangan oleh lawan.

    Saat disinggung mengenai teror meneror maupun aksi kejahatan yang terjadi saat kampanye dan sebelum kampanye, pihaknya telah melaporkan hal tersebut kepada pihak kepolisian setempat. “Ya.. PA juga mengalami beberapa intimidasi dan kekerasan, kami akan melaporkan setelah Pemilukada ini nantinya. Yang penting pilkada berjalan sukses dan demokratis,”jelasnya sambil menutupi pembicaraan.

    Source : The Globe Journal

  • Kemenangan Zaini-Muzakir Kemenangan Rakyat

    INDAHNYA hari ini 9 April 2012, damai rasanya jiwa melihat kondisi aceh yang begini kondusif, aman dan damai di hari penentuan para pemimpin Aceh lima tahun ke depan.

    BBM dan media social seperti Facebook dan Twiterpun terasa sepi, jauh dari hujatan dan caci maki seperti hari-hari sebelumnya.

    Aroma konflik di hari-hari kemarin seketika raib diterpa angin demokrasi. Betapa indahnya hidup jika kondisi seperti ini dapat dipertahankan. Tapi mungkinkah?

    Mungkinkah dalam kondisi yang sarat dengan kepentingan ini, caci maki, hujat menghujat bisa berhenti? Sepertinya jauh panggang dari pada api, apalagi jika ada kecurangan dalam hal penghitungan suara yang akan dikeluarkan oleh KIP nantinya.

    Bukankah dalam dunia politik tipu menipu, sikut menyikut sudah menjadi kewajaran? Bisa saja pada pukul 16 WIB tanggal 9 April 2012 LSI menyatakan ZIKIR memperoleh angka 55,9% dan Irwandi 28,66%, esok lusa KIP akan membalikkan angka tersebut, di mana ZIKIR 28,66% dan Irwandi menjadi 55,99%. Karna hasil akhir tetap berada ditangan KIP.

    Berdarah tidaknya Aceh setlah hari pencoblosan ada ditangan KIP. Semoga saja KIP tetap bersikap jujur dan adil sesuai dengan pilhan rakyat, tidak memanipulasai dan tidak terbuai dengan lembaran rupiah dari pihak manapun.

    Berdasarkan hasil Quick Caunt yang dilakukan oleh LSI di hermes palace tanggal 9 April 2012, (TV One) , Zaini-Muzakir unggul dari kandidat lainnya.

    Kemenangan Zaini-Muzakir mutlak kemenangan rakyat, kemenangan yang tidak lepas dari kerja-kerja pengorganisasian yang telah dibangun sejak 30 tahun silam.

    Menjadi sia-sia segudang baliho atau spanduk jika basis rakyat tidak dikuasai. Diakui atau tidak sampai detik ini kekuatan terbesar GAM yang saat ini telah menjadi KPA masih begitu massif di Aceh dan belum ada satu kekuatanpun yang mampu menjadi pesaing.

    Bukankah kekuatan yang mampu menghancurkan penjajahan atau memenangkan sebuah rezim hanya kekuatan rakyat? saya yakin semua tim sukses mengetahui akan hal ini karna ramai dari mereka adalah anak muda yang memulai karir dari organisasi kiri yang sangat faham dengan kata-kata kekuatan rakyat.

    Namun yang naifnya, kenapa mereka lupa? Kenapa disaat-saat seperti ini buku-buku revolusioner yang telah mereka lahap dicampakkan begitu saja? Kenapa mereka hanya fokus pada kerja-kerja black propaganda semata? Hanya bisa menuduh dan menuding?

    Dua kali sudah Aceh memilih eksekutif, dua kali pula sosok yang disokong oleh PA tampil sebagi pemenang, kemenangan ini adalah bukti nyata bahwa kekuatan rakyat sangat menentukan. struktur PA yang aktif sampai kepelosok desa menjadi jalan mulus bagi PA untuk meraih kursi kepemimpinan.

    Kemenangan Irwandi-Nazar tahun 2006 silam juga tidak lepas dari pengukuhan dan restu yang diberikan oleh Muzakir Manaf selaku ketua PA atas pencalonan mereka.

    Ideology keacehan yang sudah ditanam jauh-jauh hari oleh Hasan Tiro telah menjadi pengikat tersendiri antara masyarakat dengan eks kombatan (KPA/PA). sehingga kemenangan zaini-muzakir bukanlah suatu keanehan dan bukan pula hal yang mengejutkan.

    Kekuatan PA ada di sendi dan tulang-tulang rakyat aceh. Kekuatan yang telah di bangun sejak 37 tahun silam.

    Diakui atau tidak membangun kekuatan rakyat dan kepercayaan rakyat bukan hal yang mudah, tidak cukup dengan lima tahun berkuasa untuk mengambil hati rakyat, tidak cukup dengan milyaran rupiah, tidak cukup dengan kegeniusan semata, tidak pula hanya dengan pencitraan setahun dua tahun, tidak juga hanya dengan JKA, dengan dana untuk anak yatim, dengan memberi daging megang gratis, dengan pendidikan gratis rakyat aceh bisa tunduk dan mangut di telapak kaki kita.

    Tidak seperti itu, rakyat aceh rakyat yang cerdas, rupiah digenggam suara hati belum tentu dapat digapai. Mereka telah diajarkan oleh konflik yang mendera aceh tercinta ini selama puluahn tahun. Konflik telah menjadikan mereka sebagai pelakon politik yang unggul.

    Butuh waktu puluhan tahun, butuh darah, butuh nyawa, butuh kegeniusan yang dibarengi dengan ketaqwaan, akhlak, aqidah serta siap mati tanpa meninggalkan harta warisan untuk anak cucu serta sanak saudara seperti sosok wali naggroe Hasan Tiro untuk tunduk dan patuh diatas ideology yang kita kehendaki.

    Jika tidak mampu menjadi Tgk Hasan Tiro, jangan coba-coba membuat perlawanan atas kekuatan rakyat yang telah terlebih dahulu dibangun oleh Almarhum. Menjaga dan merawat saja apa yang telah ditinggalkan oleh Tgk Hasan Tiro begitu menyulitkan apalagi ingin melawan dan menghancurkan?

    Bagi PA Mengajak masyarakat untuk memilih calonnya bukan hal yang sulit, hanya dua bulan waktu yang dimiliki PA untuk meyakinkan rakyat kalau PA ikut terlibat dalam pesta demokrasi ini, Alhamdulillah dalam jangka waktu dua bulan itu kemenangan bisa diraih, apalagi jika PA memiliki waktu yang panjang seperti kandidiat lainnya, kemungkinan persentase kemenangan akan lebih tinggi

    Cukup dengan kata-kata “kali nyo sige tek tapileh droe teh”! kata-kata sederhana tetapi mampu memberi pemahaman yang sangat dalam dibenak masyarakat.

    Selain dari yang No 5 semuanya bukan” Droe teh”. Kata-kata droe teh memiliki makna kepemilikan bersama, kandidat itu milik kita, saudara kita, keluarga kita. Pengakuan inilah yang sulit diperoleh oleh kandidat selain kandidat PA.

    Tidak banyak yang diharapkan rakyat atas kepemimpinan PA, hanya kepuasan batin yaa… hanya kepuasan batin, seperti pengakuan bang Midi sipenjual buah keliling yang sempat saya tanya apa alasannya memilih No 5. Bang midi sangat sadar kalaupun PA menang dia tetap menjadi bang midi sipenjual buah, pekerjaannya tetap sipenjual buah keliling, tetapi kepuasana batin itulah yang sulit dibeli dari bang midi sipenjual buah keliling.

    Saya sendiripun tidak jauh berbeda dengan bang Midi, ada kepuasan batin, pengabdian saya untuk Partai Aceh selam 10 tahun ini tidak lebih karna rasa memiliki saya atas Partai yang saya kenal dengan ideology keacehannya, terlepas PA diklaim sebagai partai ureung bangai atau partai pemeberontak, bagi saya Kemenangan Partai Aceh adalah Kemerdekaan bagi saya sendiri.

    Hanya dengan kemerdekaan batin saya bisa meraih kedamaian yang hakiki. Kedamaain yang dikehendaki oleh siapa saja, termasuk juga anda.

    Semoga saja dengan kemenangan ZIKIR (Zaini Muzakir) kedamaian itu benar-benar menjadi milik kita semua. Tidak ada gunanya lagi PA dicaci, dimaki dihina dan dihujat, toh PA sudah tampil sebagai juara.

    Hentikan kecurangan, manipulasi, kepalsuan, hapus rasa curiga, stop caci maki, mari kembali bergandengan tangan, lupakan hari-hari kemarin, saatnya kita bersatu dibawah naungan Zaini – Muzakir untuk membangun aceh yang lebih meumarwah. []

    Source : Atjehpost.com

  • Ex-combatants in politics — Aceh’s post-conflict challenge

    Wherever you look, whoever you turn to when talking to people in Aceh today, the feedback seems virtually universal: Aceh will turn red. In other words, the political movement founded by former rebel group GAM (the Free Aceh Movement), the Aceh Party (PA), is expected to win the governorship and a considerable number of top jobs at the district level in the April 9 elections. 

    More significant will be the differences between the contesting parties. Even more important, perhaps, is, if they win, how did they achieve it? Will there be smooth or violent elections? Will it be a fair vote, or will there be threats and silent intimidation?

    History has demonstrated that former armed fighters — ex-armed rebels, ex-guerillas, or ex-revolutionaries — tend to become a critical agency in post-conflict situations. 

    Very recently, we have seen how Timor Leste has been able to turn a volatile situation into a stable one that led to successful presidential elections. Only a few years earlier, though, in 2006, the country almost became a failed state. 

    Back then, the new military corps came into a serious conflict with the national police, resulting in many deaths. Both recruited from ex-guerillas who felt that they were discriminated against. 

    Independent Indonesia also faced such challenges. The drive toward the formation of a professional military had provoked the resistance of politically motivated and idealistic armed revolutionary units. It ultimately led to the so-called Madiun Affair in 1948.

    Now, Aceh, too, has to deal with its former armed fighters. Like Indonesia’s ex-revolutionaries in the late 1940s and Timor Leste’s former guerillas in the mid 2000s, the Acehnese ex-rebel combatants have to find new and secure positions in a post-conflict situation.

    Soon after the Helsinki Peace pact in 2005, one faction of former rebels, known as the ex-Libyan-trained fighters of the late 1980s and the generation of 1998, had consolidated its power and influence away from the elder, exiled leaders of the 1970s who founded the AM, Aceh Merdeka, later renamed GAM. 

    These young ex-combatants subsequently supported the Irwandi Yusuf–Mohammad Nazar candidacy, who won the gubernatorial election in 2006. The GAM’s sharp split has thus since become a persistent fact.

    The older GAM generation, led by Malik Mahmud and Zaini Abdullah, succeeded in turning the tables thanks to the legitimacy bestowed upon them by the Wali Nanggroe (Aceh-state guardian) Hasan di Tiro. PA, which they founded in 2007, became a mass party. Its hegemonic influence was confirmed as they were able to bring home the Wali in 2008. 

    For the first time in Indonesia’s history, it was possible for a supreme rebel leader to return home and it was massively and intensely welcomed by people. That in itself was an exemplary democratic achievement of post-Soeharto Indonesia. But it didn’t subsequently bring a better, stable and peaceful democracy to Aceh itself for three reasons. 

    Firstly, the institutions and instruments to implement the Helsinki regulations are only partly able to accommodate the wishes and interests of the former combatants: the ex-Panglima Wilayah (regional commanders), the ex-Panglima Sagoe (district commanders) and their followers. 

    Some have greatly benefited from Governor Irwandi’s rule and have become wealthy businessmen. Most, however, have benefited less and their followers not at all.

    Secondly, the older PA leaders are now determined to gain power as this is their last chance to lead and rule the province. They do so by modernizing the party structure and organization, by resisting Governor Irwandi’s efforts to be re-elected, and — in general — by threats and intimidation. 

    Thirdly, this has resulted in exhausting political-legal battle, often interspersed with violence, for months. 

    The PA’s boycott of the elections gave rise to the prospect of greater instability. Jakarta’s intervention to avoid this by postponing the elections until April 9, in order to allow the PA to participate, may be well reasoned, but it also made the competition and anxiety even more intense.

    For Governor Irwandi, who was poised to win if the elections were not postponed, now has to mobilize power and funds to compete with the PA. And the PA, in turn, has to play the game very carefully so that it should not arouse Jakarta’s suspicion of a secret agenda of independence if they not only rule the parliament but command the administration. 

    The PA invited four Army generals to campaign for the party, including two former regional commanders, one of whom — Gen. Soenarko — had been particularly controversial due to allegations of harsh treatment of former rebels.

    The postponement of the elections has shaped a dilemma for the ex-combatants: Either they stay put at Irwandi’s camp or change sides and support the PA. 

    It’s a historic moment for them, one that would reveal their real motives as either opportunistic (for business reasons) or idealistic (wanting rural electorates). 

    It’s important to note that the ex-combatants are rooted in the former GAM strongholds in rural areas. It explains why the statement of the older GAM leaders and its commander Muzakkir Manaf as being “neutral” in the 2006 elections resulted in a great victory for the Irwandi group, who used the GAM flag as a symbol. 

    Now it’s the other way around: it’s the older leaders, with Zaini Abdullah and Muzakir Manaf as their candidates — brilliantly shortened to ‘Zikir”, meaning collective prayer to admire God almighty — that is taking the lead as they evoke GAM symbols and the late Wali Hasan Tiro’s legacy. 

    Unfortunately, it’s hard to pinpoint the numbers and the strength — let alone the social-class bases — of the ex-combatant commanders who support Irwandi and the Zikir. But the latest survey suggests the latter would win with 46 percent (against 22 percent) which will not require a second round of voting. 

    Whatever the outcome, it will reflect the general assessment of common Acehnese in villages, who know what contributions the ex-combatants made during the conflict, and will weigh it against their role in peace time as they decide at the private ballot boxes.

    * Aboeprijadi Santoso,  The writer is a journalist.

    Source : The Jakarta Post

  • As Aceh Votes, a Lesson for All of Us

    Voting in Aceh today will be closely watched by observers to gauge whether the challenges posed by simultaneous elections at various levels in a province offset the benefits. 

    More than 3.2 million people in Aceh are expected to cast their ballots to elect a governor and deputy governor, district heads and mayors. It is the second such simultaneous elections for Aceh after the last ones in 2007. 

    Besides polls at the provincial level to elect a governor and deputy governor, Aceh will also see elections at 17 district or municipal levels, with a total of 9,786 polling stations across the province. 

    “Simultaneous elections for heads of regions could be the answer. I am convinced that such elections are much more efficient than elections that are not held simultaneously in a region,” said Saldi Isra, a legal expert at Andalas University in Padang. 

    He said simultaneous elections were clearly much more economical than holding elections separately, as is usually the case. He cited the case of West Sumatra, which in 2010 held simultaneous elections for 14 of its 19 districts and municipalities. 

    “The West Sumatra General Elections Commission [KPUD] reported that the costs were 50 percent less than when the elections were held at different times,” he said. 

    However, unless they are properly organized, simultaneous elections can also pose plenty of problems, including the potential for ensuing bureaucratic transitions across an entire province, he said. 

    Electoral disputes can also pile up, he said, and cause a backlog at the Constitutional Court in Jakarta, which has the authority to handle them, resulting in delayed decisions. 

    Hadar Gumay, a newly elected member of the General Elections Commission (KPU), said the advantages of simultaneous elections in a province were more numerous than the drawbacks.

    “This is a good idea because we will be saving more money. The personnel are the same, there is no need to retrain them or pay them repeatedly,” he said. “The advantages are many.

    ”However, Hadar, who is also a founder of the Center for Electoral Reform (Cetro), said simultaneous elections also carried an element of confusion. 

    “Often, one election influences other elections,” he said. “This is a psychological problem for voters. Voters should be able to vote differently.” 

    He said voters might be confused by having to take in all the information on different candidates from different parties running for governor, mayor and district head. And the same parties may offer different programs at the provincial, district and municipal level, adding a further layer of confusion to the process for voters. 

    “Simultaneous elections will results in a certain level of complexity,” he said. 

    He also said simultaneous local elections could see more electoral disputes having to be settled by the Constitutional Court at the same time. 

    But he added that these problems could be anticipated and prevented with better supervision and law enforcement. 

    All local elections should be held at the same time, and separated from national elections by two and a half years, he said. 

    Irman Putra Sidin, a legal expert at Hasanuddin University in Makassar, agreed. “I would say after the presidential election, just hold the regional elections all at once,” he said. 

    But aldi said holding local elections all at once for the entire country would be too difficult. 

    “It would be possible for several provinces to hold their regional elections at the same time, but not all 33 provinces at the same time,” he said. “I just cannot imagine what would happen.”

    Source : Jakarta Globe

  • Di Kampanye PA, Fadel Muhammad Bilang Berjuang Mati-Matian untuk Zaini-Muzakir

    BANDA ACEH – Pendukung Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (Zikir), calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung Partai Aceh memenuhi lapangan depan Stadion Lhong Raya, Banda Aceh, Senin sore, 2 April 2012.

    Dalam kampanye yang dimulai pukul 14.00 WIB tersebut hadir Wakil Ketua Partai Golkar yang juga Mantan Menteri Kelautan Fadel Muhammad, Nasir Djamil (Anggota DPR RI), Abdullah Puteh (mantan Gubernur Aceh ), Farhan Hamid (Wakil Ketua MPR RI), Hasbi Abdullah (Ketua DPRA), Muklis Abee (Ketua PA Banda Aceh).

    Selain itu ada juga tiga mantan jenderal, yaitu mantan Pangdam Iskandar Muda Mayjen (Purn) TNI Soenarko, Mayjen (Purn) TNI Djali Yusuf, dan mantan Kasdam Brigjen (Purn) M.Yahya. Mereka duduk sepanggung untuk mendukung kampanye akbar pasangan Zikir ini.

    Sebelum Zaini Abdullah dan Muzakhir Manaf berpidato, tampil Fadel Muhammad berorasi. Fadel mengatakan Partai Golkar benar-benar mendukung Zikir.

    “Kami telah berjuang mati-matian untuk pasangan yang ideal ini. Aceh sekarang sangat mendamba-dambakan pemimpin yang sangat peduli dan amanah dengan rakyatnya. Semoga Zikir yang kami usung bisa menjadi pemimpin itu,” ujar Fadel.

    Dalam orasinya, Fadel juga mengatakan kepada massa, “coba buka kepalan tangan kanan kalian, dan lihat ada berapa jari di sana? Ya, ada lima jari di sana. Maka dari itu cobloslah nomor urut lima di pilkada nanti,” ujar Fadel yang disambut suara gemuruh dari pendukung Zikir.[]

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Mualem: Usaha Mikro Pengaruhi Tumbuhnya Industri Makro

    BANDA ACEH – Saat berorasi dalam kampanye akbar di lapangan depan Stadion Lhong Raya Banda Aceh, Calon Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengatakan bahwa Partai Aceh khususnya Zikir (Zaini-Muzakir) akan memegang teguh MoU Helsinki dan mempertahankan perdamaian di Aceh, Senin 2 April 2012.

    Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem itu mengatakan nantinya jika mereka terpilih, Zikir akan berusaha agar di Aceh diberikan kesehatan dan pendidikan gratis. Tidak hanya itu Muzakir juga berjanji akan meningkatkan sektor pertanian, kelautan, dan industri.

    Di sektor industri, Muzakir mengatakan akan mengutamakan industri menengah dengan memberikan pinjaman pinjaman kepada kredit mikro dengan bunga yang sangat kecil. “Usaha mikro sangat berpengaruh besar dengan tumbuhnya industri makro di Aceh,” ujar Mualem.

    Ia juga mengkritik kepimpinan Aceh lima tahun lalu yang tidak membawa rakyat Aceh sejahtera. “Sekarang ada juga yang mengaku-ngaku bahwa JKA itu milik dia. Kami tegaskan, JKA bukan milik dia namun milik seluruh Aceh. Dan dilihat dari awalnya JKA adalah itu semua kebijakan dari DPRA yang kita ketahui di dalam DPRA 75 persennya partai Aceh,” ujarnya.

    Acara kampanye ini turut dimeriahkan juga oleh Imun Jon dan rapai pasee.[]

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Kekerasan Cenderung Meningkat di Aceh

    Banda Aceh, Kompas – Potensi kekerasan dan pelanggaran dalam pemilihan umum kepala daerah di Aceh diperkirakan meningkat menjelang pemungutan suara. Ini akan terjadi jika rangkaian pelanggaran dan kekerasan tak kunjung ada penindakan tegas dari kepolisian dan Panitia Pengawas Pemilu.

    Tanpa tindakan tegas, pelaku merasa aman untuk terus berbuat kekerasan dan melanggar.

    Demikian kesimpulan yang berkembang dalam acara diskusi potensi ancaman dan kekerasan Pilkada Aceh yang digelar Forum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aceh, di Banda Aceh, Senin (2/4).

    Koordinator Forum LSM Aceh Sudarman mengatakan, ada 40 kasus kekerasan dan pelanggaran dalam Pilkada Aceh sejak 12 Maret hingga akhir Maret. Kasus-kasus tersebut sebagian sudah dilaporkan ke Panwas dan kepolisian, tetapi sampai saat ini belum jelas tindak lanjutnya.

    ”Yang kami khawatirkan, jika kasus-kasus itu tak diungkapkan, akan terus berlanjut pada saat menjelang pemungutan suara. Apalagi, potensi terjadinya kecurangan dalam bentuk intimidasi dan kecurangan lainnya pada saat jelang pemungutan sangat besar,” lanjutnya.

    Oleh karena itu, Sudarman berharap, aparat dan Panwas dapat bertindak tegas dan mengungkapkan segera pelakunya sehingga dapat memberikan terapi kejut kepada kontestan agar kembali menjaga komitmen dalam pilkada.

    ”Pada akhirnya, komitmen para pasangan calon menjaga perdamaian adalah yang paling penting,” ujar Sudarman.

    Diusut

    Ketua Panwas Aceh Nyak Arif Fadillah Syah mengatakan, Panwas tetap komit untuk mengusut kasus-kasus pelanggaran pilkada. Saat ini ada 37 kasus yang dalam pemberkasan. ”Kasus-kasus itu sedang ditangani di Panwas kabupaten dan kota masing-masing,” katanya.

    Enam dari 37 kasus itu berupa pelanggaran pidana, sisanya pelanggaran administrasi. Pelanggaran pidana umumnya berupa intimidasi dan kekerasan. Tiga kasus di antaranya terjadi di Lhokseumawe.

    ”Kasus administrasi umumnya berupa pelanggaran kampanye yang menyalahi jadwal. Ada juga berupa iming-iming uang yang diberikan kepada masyarakat,” kata Nyak Arif Fadillah Syah.

    Kasus administrasi nantinya akan dilimpahkan ke Komisi Independen Pemilihan, sedangkan kasus pidana dilimpahkan ke kepolisian. ”Kami tak bisa menyebut pelakunya sekarang karena akan menjadi kampanye untuk calon tertentu,” lanjutnya. (HAN)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Fadel Muhammad Kampanye untuk Zaini-Muzakir

    BANDA ACEH – Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Fadel Muhammad, hari ini akan berkampanye untuk pasangan calon gubernur-wakil gubernur, Zaini Abdullah – Muzakir Manaf. Politisi senior Partai Golkar ini saat ini sudah berada di Banda Aceh. Nanti siang dia akan meluncur ke Lapangan Harapan Bangsa, Lhong Raya, tempat Partai Aceh berkampanye.

    Fadel adalah mantan Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Indonesia Bersatu II. Sebelumnya dia juga adalah Gubernur Provinsi Gorontalo sejak 10 Desember 2001 hingga 22 Oktober 2009. Pada pilkada Gorontalo 2006 yang dilaksanakan pada 26 November 2006, ia memperoleh 81 persen suara. Nilai ini merupakan tertinggi di Indonesia untuk pilkada sejenis dan tercatat di rekor MURI sebagai rekor pemilihan suara tertinggi di Indonesia.

    Tokoh lainnya yang akan tampil kampanye di Banda Aceh untuk Zaini-Muzakir hari ini antara lain adalah Mayjend (Purn) Soenarko yang adalah mantan Panglima Kodam Iskandar Muda. Sejumlah tokoh lainnya dipastikan akan terlibat dalam kampanye hari ini.

    Adapaun pasangan Zaini-Muzakir yang biasanya berkampanye di dua lokasi yang terpisah, dalam kampanye di Banda Aceh, mereka akan bersama tampil di panggung. Saat ini para pendukung dan simpatisan untuk pasangan Zaini-Muzakir dan Partai Aceh mulai berdatangan ke lokasi kampanye yang dirancang menjadi merah warna khas Partai Aceh.[]

    Source : Atjehpost.com

  • Irwandi dan Partai Aceh Dominasi Gesekan Kekerasan

    Banda Aceh-Sampai tanggal 30 Maret 2012, Panwas Aceh telah merilis 37 kasus pelanggaran Pemilukada Aceh. 31 kasus pelanggaran administrasi dan 6 kasus yang mengarah ke pidana.

    Ketua Panwas Aceh, T. Nyak Arif Fadhilahsyah mengatakan, dari sekian kasus yang terjadi terdapat 57 kasus intimidasi Pemilukada 2012 ini.

    “Biasanya terjadi ketika massa kempanye pulang dari orasi. Ada dalam bentuk pelemparan, ketapel, merobek spanduk, membakar mobil, dan pencegahan lainnya,” ujar T. Nyak Arif saat konferensi pers di kantor Panwas Aceh, Senin (2/4).

    Sambung T. Nyak Arif, gesekan intimidasi dan intimidasi yang kerap sekali terjadi hanya pada dua calon gubernur yaitu pasangan nomor dua (Irwandi-Muyan) dan pansangan nomor lima (Zaini-Muzakir).

    “Berdasarkan laporan masyarakat dan anggota Panwas sendiri di lapangan gesekan yang kuat ada pada dua kubu ini,”

    Nyak Arif tidak mengatakan diantara kedua kubu ini siapa yang menjadi korban dan siapa yang menjadi pelaku intimidasi dan kekerasan, karena itu kode etik Panwas Aceh.

    “Kita tidak bisa mengungkapkan siapa yang melakukan banyak pelanggaran karena itu kode etik Panwas,” tukasnya.[003]

    Source : The Globe Journal

  • Irwandi Kritik Program Saingannya

    BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Bekas Gubernur Aceh yang kembali mencalonkan diri dalam pemilihan 9 April nanti, Irwandi Yusuf, berkampanye di Lapangan Merdeka, Kota Langsa, Ahad (1/4) sore. Dalam kampanye di hadapan ribuan pendukungnya, Irwandi mengkritik sejumlah program rivalnya.

    Program rivalnya yang dikritik yaitu program bagi-bagi uang sebesar Rp1 juta kepada setiap kepala keluarga di Aceh yang diusung kandidat dari Partai Aceh. Menurut Irwandi, program itu tidak realistis. “Itu sangat tidak mungkin bisa direalisasikan,” kata Irwandi.

    Seperti diketahui, dalam kampanye di hadapan ribuan pendukungnya di Aceh Tenggara, calon wakil gubernur dari Partai Aceh, Muzakir Manaf, berjanji akan mengelola 70 persen dana bagi-hasil minyak dan gas untuk kesejahteraan rakyat. Muzakir bilang, setiap keluarga akan diberikan Rp1 juta.

    Irwandi bilang, di Aceh saat ini terdapat 1,2 juta kepala keluarga. Jika satu juta dikali 1,2 juta, maka dalam sebulan dibutuhkan anggaran Rp1,2 triliun. “Kalau setahun, maka dibutuhkan dana Rp14,4 triliyun. Sementara dana yang dimiliki Aceh per tahun hanya Rp9,5 triliyun,” ujar bekas juru kampanye Partai Aceh pada pemilu 2009 ini. “Jadi tidak mungkin.”

    Kampanye Irwandi di Lapangan Merdeka juga diisi orasi politik dari bekas Juru Bicar Militer Gerakan Aceh Merdeka Sofyan Dawood, bekas Panglima GAM Aceh Rayeuk Muharram Idris, bekas Juru Bicara GAM di Stockholm Bakhtiar Abdullah, Fauzi Zainal Abidin Tiro (keponakan Hasan Tiro), dan Hasan Umar Tiro (putra Keuchik Umar, panglima GAM Pidie Pertama). []

    Source : Acehkita.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.