siwah.com

Tag: indonesia

  • Oligarki Seharusnya Tunduk kepada Hukum

    Jakarta, Kompas – Demokrasi di Indonesia bisa berjalan tanpa penegakan hukum jika sistem politik tetap dikuasai oligarki atau kelompok kecil yang bisa berkuasa karena uang dan kekayaannya. Pemilihan Umum Presiden Tahun 2014 seharusnya bisa memberikan ruang kepada calon non-oligarki untuk ikut bertarung sehingga sistem politik diharapkan dapat membuat oligarki tunduk pada hukum.

    Guru Besar Ilmu Politik dari Northwestern University, Chicago, Amerika Serikat, Jeffrey Winters mengatakan hal itu dalam kuliah umum di Rumah Integritas, Jakarta, Jumat (3/6) malam. Ia mengatakan, saat ini sistem politik Indonesia dikuasai oligarki, yang tak tunduk pada hukum.

    Dia mengatakan, kesempatan mengubah sistem politik yang dikuasai oligarki bisa dilakukan saat pemilihan presiden. ”Namun, saat ini sistem politik di Indonesia hanya bisa memunculkan orang untuk jadi calon presiden melalui partai politik. Itu berarti distorsi oligarki ditingkatkan secara pasti. Figur yang naik dari institusi partai harus jadi oligarki dulu mengingat saat ini politik uang yang menentukan dalam satu partai,” ujarnya.

    Kondisi demikian, Jeffrey melanjutkan, akan sulit untuk memunculkan figur yang sebenarnya diinginkan rakyat dan memiliki integritas untuk membawa Indonesia jadi negara demokratis sekaligus bisa membawa seluruh rakyat tunduk pada hukum. ”Saya tak terlalu optimistis jika tak ada perubahan konstitusi yang memungkinkan seseorang tanpa melalui partai bisa maju menjadi calon presiden,” katanya.

    Menurut Jeffrey, kekuasan oligarki dalam sistem politik di Indonesia yang membuat negara ini bisa menerapkan konsep demokratis, tetapi minus penegakan hukum. Hukum hanya bisa menjangkau orang miskin tanpa akses terhadap sumber daya ekonomi dan tak bisa menundukkan mereka yang kaya serta berkuasa secara politik.

    Oligarki, kata Jeffrey, berbeda dengan elite. Dari masa Plato dan Aristoteles sampai munculnya teori elite pada 1895, konsep oligarki selalu berupa kelompok kecil orang yang berkuasa karena punya uang. Oligarki muncul karena adanya stratifikasi kekayaan. Fenomena stratifikasi kekayaan mulai muncul secara kentara sejak Soeharto berkuasa, ketika dia membagikan kesempatan usaha dan investasi kepada sekelompok pengusaha tertentu.

    Jeffrey tidak menjamin, jika konstitusi memberikan kesempatan bagi calon nonpartai maju menjadi calon presiden dan menang pada pemilu, kondisi penguasaan oligarki dalam sistem politik berubah. ”Memang tidak ada jaminan 100 persen. Namun dengan memberikan kesempatan kepada calon non-oligarki untuk bertarung, ada peluang untuk mengubah kondisi sistem politik sekarang ini,” katanya.

    Aktivis mahasiswa tahun 1966, Rahman Tolleng, mengatakan, sebenarnya masih ada oligarki di Indonesia yang mau tunduk pada sistem hukum. Mereka diistilahkan oligarki putih. Mereka mau sistem politik seperti sekarang ini berubah. (bil)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Reformasi Akan Tetap Dilanjutkan

    Jakarta, Kompas – Gerakan reformasi politik dan pemerintahan tetap harus dilanjutkan meskipun tujuan perubahan belum sepenuhnya tercapai. Pemerintah harus mampu memperbaiki kinerjanya untuk mewujudkan harapan masyarakat akan kehidupan yang lebih baik.

    Menurut Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufiq Kiemas di Jakarta, Selasa (17/5), kondisi bangsa setelah reformasi tetap lebih baik daripada kondisi pada masa Orde Baru. Menurut dia, pelaksanaan demokrasi terutama dalam hal kebebasan berbicara lebih terjamin. ”Sekarang mau ngomong apa saja, ngomongin anggota DPR, ngomongin menteri, enggak ditangkap. Pers juga bebas. Itu indikasi demokrasi sekarang lebih bagus dibandingkan yang lalu,” katanya.

    Menurut Taufiq, masalah yang dihadapi bangsa saat ini hanya pelaksanaan pemerintahan yang tidak sesuai dengan target reformasi. Elemen bangsa juga kurang kompak dalam mengupayakan kemajuan. Seharusnya, seluruh elemen bangsa bisa bersatu melanjutkan cita-cita reformasi, memperbaiki sistem politik, pemerintahan, serta ekonomi yang berdampak pada kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

    Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie sependapat jika reformasi politik dan pemerintahan harus dituntaskan, sesuai kehendak rakyat. Hasil survei Indo Barometer yang menyatakan gerakan reformasi gagal seharusnya dijadikan cambuk bagi semua elemen bangsa untuk melakukan perbaikan. ”Apa pun hasil survei, kita harus bekerja keras, melakukan sesuatu yang terbaik untuk bangsa,” ujarnya.

    Secara terpisah, pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur, Airlangga Pribadi, berpendapat survei Indo Barometer itu menunjukkan ada yang salah dalam perjalanan demokratisasi selama 13 tahun karena demokrasi tidak dibangun berdasarkan fondasi kuat. Fondasi utama demokrasi, menurut Airlangga, adalah jaminan negara atas hak sipil dan politik serta kemampuan mengelola konflik secara adil.

    Selain itu, demokrasi tidak cukup dengan sistem politik yang baik, tetapi juga harus diikuti pemimpin tegas. ”Karakter pemimpin yang tegas itu yang sekarang tidak ada,” katanya. Masalah lain adalah pembangunan dan konsolidasi demokrasi hanya digunakan untuk mobilisasi kepentingan politik dan ekonomi kelompok elite. Padahal, aspek penting demokrasi adalah rakyat.

    Di sela-sela diskusi ”RUU Intelijen, Ancaman bagi Demokrasi” di Jakarta, Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Stefanus Gusma mengatakan, ”Bangsa ini terpuruk akibat pemerintah sekarang tidak memenuhi amanat reformasi.”

    Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi Lamen Hendra berharap keterpurukan saat ini tidak sampai menjebak kita untuk kembali pada kehidupan zaman Orde Baru. ”Pemerintah harus introspeksi dan kembali pada fungsi sebenarnya, yaitu bekerja untuk rakyat. Reformasi harus kembali dijalankan,” katanya.

    Bagi Ilham Syah, Koordinator Aliansi Buruh Menggugat, pemerintah saat ini memang tidak benar-benar memperjuangkan rakyat. Elite politik cenderung hanya memperjuangkan diri sendiri dan kelompoknya. (NTA/IAM)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • SENSUS DIGITAL: Ini 33 Merek Berpengaruh di Media Sosial

    JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 33 merek terkenal dan 8 tokoh berpengaruh menjadi jawara di media sosial yang diperoleh dari hasil sensus digital yang dihasilkan melalui mesin yang diberi nama Sistem Iklan Teknologi Teks Indonesia (SITTI).

    “SITTI bekerja sama dengan Majalah SWA dan OMG Consulting memberikan penghargaan bagi ‘Indonesia Most Popular Brand in Social Media dan Indonesia Most Influential Personality in Social Media’, ini adalah ajang penghargaan bagi merek-merek danpersonality Indonesia paling populer di media sosial,” kata Andy Sjarief dari SITTI kepada wartawan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (14/12/2010) malam.

    Menurut Andi, cara kerja SITTI terkait penghargaan 33 merek dan personality paling populer di media sosial, dengan menangkap 600 juta halaman situs dalam bahasa Indonesia, 8 juta akun Twitter dan komunikasinya, serta merekam sekitar 10 juta akun Facebook.

    “Dari hasil tangkapan itu, kemudian dilakukan pemetaan pembicaraan. Jika pembicaraan menyangkut merek atau personality, dapat ditemukan kata apa saja yang paling tinggi frekuensinya ditulis di situs internet, Twitter, Facebook, dan media sosial lainnya. Setelah itu, dapat diukur seberapa besar relevansinya terhadap merek atau personality tersebut,” papar Andy.

    Sementara menurut pemimpin Majalah SWA, Kemal Effendi Gani, kolaborasi dan penghargaan ini untuk pertama kali untuk memetakan fenomena perkembangan media sosial yang begitu pesat, terutama di Indonesia. “Perkembangan media sosial sangat luar biasa, banyak dari kita sudah mengetahuinya. Namun, bagi pemilik dan pengelola merek, seperti apa merek mereka dibicarakan dalam dunia digital? Juga benarkah suara para public figure, pengusaha, artis, dan pakar didengar di media sosial? Survei ini memetakan fenomena tersebut,” jelas Kemal.

    Dalam survei digital ini, terdapat 33 kategori produk dan lebih dari 100 merek yang ditelusuri rekam jejaknya di dunia maya. Sebanyak 33 kategori ini mulai dari makanan, minuman, elektronik, oli, sepatu sampai otomotif. Selain produk, hasil survei mencatat sejumlah orang yang berpengaruh di ranah media sosial, terutama Twitter. Mereka berpengaruh di bidang tertentu yang mampu menggerakkan pengikutnya (follower) yang jumlahnya tak sedikit untuk menge-tweet.

    Rene S Canoneo dari SITTI mengatakan, SITTI adalah sebuah inisiatif digital dari, oleh, dan untuk Indonesia. Sebagai sebuah mesin, SITTI berkemampuan untuk membaca dan memaknai lebih dari 600 juta halaman web berbahasa Indonesia sekaligus menangkap pembicaraan di dunia maya. “Penghargaan ini untuk menghormati para pengguna media sosial yang telah berhasil memaknai dunia digital. Keberhasilan mereka adalah kontribusi pertumbuhan usaha dan perkembangan dunia digital di Indonesia,” kata Rene.

    Berikut hasil survei 33 Indonesia Most Favourable Brands in Social Media:

    Minuman Isotonik-Vitazone, Pasta Gigi-Pepsodent, Kopi Bubuk-Torabika, Lemari Es-LG, Sampo-Sunsilk, Oli Pelumas-Castrol, Mobil-Toyota Avanza, Sepatu-Converse, Minuman Penambah Tenaga-Kuku Bima Ener-G, Kacang-Garuda, Sabun Mandi-Lux, Obat Sakit Kepala-Panadol, Leasing-FIF, Deodoran-Rexona, Televisi-Samsung, Motor-Honda, Lipstick-Maybelline, Kamera-Canon, Simcard GSM-IM3, Simcard CDMA-Esia, Rokok Putih-Marlboro Light, Rokok Mild-Sampoerna A Mild, Rokok Kretek-Sampoerna Hijau, Obat Batuk dan Flu-Decolgen, Laptop-HP, Biskuit-Oreo, Teh Kemasan-Frestea, Mi Instan-Indomie, Bank-BCA, Asuransi-Prudential, Maskapai Penerbangan Low Cost-Air Asia, Maskapai Penerbangan Full Service-Garuda Indonesia, Smartphone-Nokia

    Hasil survei 8 Indonesia Most Influential Personality in Social Media:

    Film – Hanung Bramantyo, Makanan – Bondan Winarno, Musik – Indra Lesmana, Olahraga – Bambang Pamungkas, Travel – Bondan Winarno, Fashion – Iwet Ramadhan, Gadget – Andrew Darwis Kaskus

    Source: Kompas.com, 15 Desember 2010

  • Ini Lho Penyebab Dosen Enggan Meneliti..

    JAKARTA, KOMPAS.com – Lemahnya budaya meneliti, sarana-prasarana yang tak memadai, serta kebijakan pemerintah yang kurang mendukung menyebabkan banyak dosen enggan meneliti. Untuk karier di perguruan tinggi, mereka lebih suka menyiasati angka kredit dari publikasi di jurnal nasional.

    ”Banyak dosen mengeluhkan tingginya beban mengajar sehingga tugas meneliti terabaikan,” kata Ketua Laboratorium Mikrobioteknologi Universitas Mataram Muhamad Ali saat dihubungi Kamis (9/12/2010).

    Persaingan mendapatkan dana penelitian sangat ketat. Kebijakan pemerintah yang menekankan pada riset berbasis produk membuat dosen ilmu dasar sulit bersaing merebutkan dana yang terbatas.

    Saat proposal penelitian disetujui, banyak dosen, khususnya di Indonesia timur, terkendala peralatan dan akses informasi ilmiah yang terbatas. Seusai meneliti, sebagian dosen memilih memublikasikan hasilnya di jurnal lokal intraperguruan tinggi atau jurnal nasional. Selain lebih mudah dan lebih cepat pemuatannya, angka kredit atau kum-nya tidak berbeda jauh dengan hasil penelitian yang dimuat jurnal internasional.

    ”Pembatasan maksimal dua publikasi per semester untuk setiap dosen justru menghambat penelitian,” ungkapnya.

    Koordinator Penelitian Unit Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung Ahmad Faried mengatakan, di luar persoalan teknis meneliti, seperti menyusun proposal penelitian yang detail, peneliti masih dibebani hal- hal birokratis, seperti penyusunan laporan kemajuan penelitian dan pelaporan dana penelitian sesuai sistem keuangan negara.

    ”Muncul ketakutan di antara peneliti, uang penelitiannya sedikit, tapi pelaporannya rumit. Risikonya pun berat,” ujarnya. (ELN/MZW)

    Source: kompas.com

  • Awas.. Rahasia Negara sudah Bocor

    JAKARTA–MICOM: Anggota Komisi I DPR RI Teguh Juwarno menyatakan prihatin dengan dugaan bocornya data rahasia tentang Indonesia di luar negeri dan tersebar melalui internet.

    “Kita sangat prihatin dengan bocornya informasi tentang Indonesia. Komisi I akan segera klarifikasi soal tersebut,” kata Teguh di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (2/12).

    Ia mengatakan, bocornya data-data rahasia tentang Indonesia yang kemudian dimiliki oleh Amerika Serikat di laman situs static.guim.co.uk, membuktikan lemahnya inteligen nasional dan Sandi Yudha untuk mengamankan rahasia penting negara.

    Karena itu, Komisi I akan mengklarifikasi bocornya informasi tersebut dengan mengundang Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto, Kepala BIN Sutanto, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

    “Komisi I akan klarifikasi soal kebocoran data tersebut kepada pemerintah. Ini menunjukkan lemahnya kinerja aparat intelijen kita untuk mengamankan informasi penting negara ini,” kata Teguh, politisi dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPR RI.

    Bocornya rahasia negara yang kemudian dimiliki oleh Amerika Serikat itu merupakan sebuah warning atau peringatan kepada Indonesia, khususnya kepada BIN dan Badan Sandi Negara.

    “Kita minta agar semua dievaluasi kembali kenapa sampai bocor seperti itu. Rahasia negara kita dimiliki oleh negara lain sama artinya kita tidak memiliki kedaulatan lagi,” ujar politisi dari PAN itu.

    Ia juga meminta kepada Presiden Yudhoyono untuk secepatnya mengambil langkah-langkah terkait hal itu.

    “Presiden Yudhoyono harus segera memerintahkan jajarannya untuk segera mengambil langkah-langkah penting, salah satunya adalah dengan mengajukan protes kepada pemerintah AS yang telah menyusup terlalu jauh tentang Indonesia,” kata dia.

    Sebuah situs static.guim.co.uk berhasil membongkar data-data yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Dari data-data yang dimiliki oleh AS itu, terdapat data-data penting tentang Indonesia.

    Menurut informasi tersebut, ada 3.059 dokumen penting rahasia Amerika tentang Indonesia. Ribuan data tentang Indonesia disusun Kedutaan Besar AS di Jakarta.

    Tak ada rincian isi dan hanya klasifikasi dokumen resmi biasa dari laporan resmi untuk Kongres AS tentang Indonesia itu. Hanya disebut, ada laporan berjudul “Congressional Research Service; Report RS21874” yang disusun Bruce Vaughn.

    Analis soal Asia Tenggara dan Asia Selatan dari Divisi Hubungan Luar Negeri, Pertahanan dan Perdagangan ini, mengupas singkat hasil Pemilihan Umum 2004 di Indonesia. (Ant/X-11)

    Source: mediaindonesia.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Dominasi Indonesia di Twitter Diragukan?

    twitter logo

    JAKARTA – Indonesia kini dinobatkan sebagai negara dengan pengguna Twitter terbanyak di dunia. Sayangnya media asing malah meragukan dominasi Indonesia di Twitter.

    Media online asal Inggris misalnya, Guardian, membuat sebuah artikel berjudul ‘Why Indonesians are all Twitter?’. Bahkan dalam sub judul, Guardian membubuhkan kalimat yang mengesankan Indonesia sama sekali tidak pernah tersentuh oleh teknologi.

    “Bagaimana mungkin, negara dengan jutaan penduduknya yang miskin, bahkan mereka pun belum pernah menggunakan komputer, menjadi negara pengguna Twitter terbesar di dunia?” tulis Ben Doherty, penulis Guardian, seperti dikutip okezone, Selasa (23/11/2010).

    Pernyataan yang sama juga pernah dilayangkan oleh komedian Stephen Colbert dalam acara yang dipandunya bertajuk ‘The Colbert Report’ yang tayang di stasiun televisi lokal di AS.

    Dalam salah satu kalimatnya, saat mengomentari video insiden ‘salaman’ Tifatul Sembiring dengan Ibu Negara AS, Michelle Obama, Stephen menyatakan dengan rasa tidak percaya jika warga Indonesia ramai membicarakan insiden ini melalui jejaring sosial Facebook dan Twitter.

    “Masa’ sih? Facebook dan Twitter? Saya pikir orang Indonesia masih berkomunikasi dengan memukul-mukul batok kelapa,” ujar Colbert yang disambut dengan tawa para penonton di studio.

    Doherty memberikan beberapa pemikirannya mengenai alasan mengapa Indonesia mendominasi Twitter. Di antaranya adalah ketersediaan ponsel murah di Indonesia dan banyaknya selebriti Indonesia yang menggunakan layanan mikroblogging ini.

    Namun begitu, Doherty menekankan jika pengguna internet aktif kebanyakan berasal dari kota besar di pulau Jawa. Sedangkan jutaan penduduk lainnya yang berasal dari luar pulau Jawa dianggap belum pernah sama sekali menggunakan komputer.

    Perusahaan riset ComScore menobatkan Indonesia sebagai negara pengguna internet terbanyak dengan jumlah penetrasi sekira 20,8 persen pengunjung per bulan. Sedangkan Brazil berada di posisi kedua dengan penetrasi 20,5 persen. AS berada di peringkat ketiga dengan penetrasi sekira 11,9 persen.

    Total penduduk Indonesia dengan 17.000 pulau ini berjumlah sekira 235 juta jiwa. Diperkirakan 93 juta pengguna internet di dunia telah mengunjungi Twitter. Angka ini meningkat sekira 109 persen dibanding tahun lalu,
    (srn)

    Source: okezone.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.