Dua Putaran di Jatim: Partai Golkar Mengaku Kalah, PDI-P Puas

Surabaya, Kompas – Pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur periode 2008-2013 diprediksi akan berlangsung dua putaran. Tidak ada pasangan calon yang memperoleh lebih dari 30 persen dari jumlah suara sah dalam pemungutan suara yang berlangsung pada Rabu (23/7).

Pasal 107 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang No 32/2004 menyebutkan, apabila tidak ada pasangan calon kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 30 persen dari jumlah suara sah, dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pemenang pertama dan pemenang kedua.

Hasil prediksi Litbang Kompas dan sejumlah lembaga survei, pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) berpeluang mengikuti putaran kedua.

Prediksi Kompas menunjukkan, perolehan suara Kaji dan Karsa seimbang. Dengan margin error 1 persen, pasangan Karsa memperoleh 25,51 persen, sedangkan Kaji 25,36 persen.

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur, Arief Budiman, mengatakan, pemilihan kepada daerah (pilkada) putaran kedua akan dilaksanakan Oktober 2008 dengan biaya sekitar Rp 225 miliar. Jika digabungkan dengan biaya pilkada putaran pertama sebesar Rp 560 miliar, secara keseluruhan Pilkada Jatim membutuhkan biaya Rp 785 miliar.

Terkait kemungkinan dilangsungkannya putaran kedua, Soekarwo menilai hal itu akan menambah beban rakyat Jatim. Namun, mantan Sekretaris Daerah Jatim itu menerima dan akan mengikuti putaran kedua karena perolehan suara di pilkada kemarin merupakan kehendak rakyat Jatim. Khofifah juga menerima hasil putaran pertama karena menilai perolehan suaranya merupakan hasil sebuah proses.

Tiga pasangan lain yang diprediksi gagal bertarung di putaran kedua juga menyatakan akan menerima hasil pilkada. Sutjipto yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) mengatakan, yang paling penting sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan amanat partai.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDI-P Pramono Anung mengaku puas dengan hasil Pilkada Jatim karena PDI-P berhasil mempertahankan perolehan suara pada Pemilu 2004.

Soenarjo, yang diusung Partai Golkar, menyatakan tak masalah jika kalah dalam Pilkada Jatim karena ia masih memiliki banyak tugas lain. Namun, ia meminta Partai Golkar mawas diri dan berkonsolidasi, menyusul kekalahan partai berlambang pohon beringin itu di sejumlah pilkada.

Adapun Achmady yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mempersilakan partainya menyerahkan suaranya kepada pihak mana pun di putaran dua.

Menurut Sekjen DPP PKB versi Muktamar Luar Biasa Parung Yenni Wahid, partainya dapat menerima prediksi sejumlah lembaga survei tentang kekalahan Achmady-Suhartono. Terkait ke mana PKB akan mengalihkan suaranya pada putaran kedua, hal itu bergantung pada hasil pengumuman KPU Jatim dan evaluasi internal partai.

Peluang sama besar

Pengajar Ilmu Politik di Universitas Airlangga Surabaya, Krisnugroho, mengatakan, koalisi untuk putaran kedua akan diwarnai dua hal, yakni kepentingan persiapan Pemilu 2009 dan kepentingan ekonomi. Para calon atau partai yang kalah pasti akan mencari kompensasi.

Calon gubernur-wakil gubernur pasti menghabiskan banyak dana. Partai juga akan mencari tambahan untuk menuju tahun 2009. ”Tawar-menawar koalisi akan diwarnai kepentingan ekonomi. Ini akan dilakukan partai kecil maupun besar,” ujar Krisnugroho.

Ia juga memprediksi, pada putaran kedua nanti PDI-P dapat merapat ke pasangan Kaji, sedangkan PKB lebih mungkin merapat ke Karsa. Pasalnya, Kaji didukung KH Hasyim Muzadi yang hubungannya dengan Ketua Dewan Syuro DPP PKB Abdurrahman Wahid tak begitu mulus.

PDI-P pernah menolak merekomendasikan Soekarwo sebagai calon gubernur. Sebaliknya, PDI-P dengan komunitas NU punya hubungan simbiosis relatif kuat. ”Memang masih sangat mungkin berubah, bergantung tawar-menawar nanti,” ujarnya.

Sementara itu, Airlangga Pribadi Kusman, pengajar Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya menilai peluang pasangan Kaji dan Karsa sama besar dalam putaran kedua. Sebab, masing- masing pasangan memiliki kelebihan yang bisa dijual kepada pemilih.

Pasangan Kaji, kata Airlangga, diuntungkan karena masyarakat Jatim sudah jenuh terhadap calon yang lebih dulu muncul. Apalagi, Khofifah bisa mendorong antusiasme warga dengan keberadaannya sebagai kader nahdliyin perempuan yang berani maju sebagai cagub dan merepresentasikan tokoh muda.

Adapun pasangan Karsa, lanjut Airlangga, memiliki figur Soekarwo yang berpengalaman memimpin Jatim. Saifullah juga memiliki basis konstituen yang cukup kuat di kalangan nahdliyin.

Golkar terima kalah

Ketua Umum DPP Partai Golkar Muhammad Jusuf Kalla, yang juga Wakil Presiden, mengaku bisa menerima kekalahan calon yang diusung Golkar. ”Karena inilah wujud demokrasi,” katanya.

Menurut Kalla, pilkada di Jatim menarik. ”Jatim merupakan basis PKB, tetapi suara untuk calon PKB justru paling rendah. Ini membuktikan antara figur dan partai tidak ada relevansinya,” katanya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga memantau secara khusus hasil penghitungan cepat sejumlah lembaga survei. Dalam pilkada Jatim, Partai Demokrat mengusung pasangan Karsa bersama PAN dan PKS. (HAR/INU/INA/RAZ/ VIN/IDR/DWA/NWO)

Source : kompas.com

Leave a Reply