Partisipasi Pemilih: Separuh Pilkada Gubernur “Dimenangi” Golput

Jakarta, Kompas – Dari 26 pemilu kepala daerah tingkat provinsi yang dilakukan pada 2005-2008, 13 pemilu gubernur di antaranya ”dimenangi” oleh golongan putih atau golput. Artinya, jumlah dukungan suara bagi gubernur pemenang pilkada kalah dibandingkan dengan jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya.

Kondisi itu tercermin dalam data tentang partisipasi pemilih yang dipublikasikan Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) dalam ”Fenomena Golput dalam Pilkada dan Potensi Golput pada Pemilu 2009” di Jakarta, Kamis (7/8).

”Kemenangan” golput terjadi pada pemilu kepala daerah di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, dan Banten. Kondisi serupa terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur putaran I, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Pemilu kepala daerah Jateng dimenangi oleh pasangan Bibit Waluyo-Rustriningsih dengan 6.084.261 suara. Namun, jumlah golput di Jateng mencapai 11.854.192 suara. Sementara itu, pemilu kepala daerah Jabar dimenangi pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf dengan perolehan 7.287.647 suara. Namun, jumlah pemilih yang golput mencapai 9.130.594 suara.

”Rendahnya partisipasi pemilih ini membuat legitimasi gubernur-wakil gubernur terpilih sangat rendah di mata rakyatnya sendiri,” kata Koordinator Nasional JPPR Jeirry Sumampow.

Pemilu kepala daerah kabupaten/kota mengalami hal sama. Dari 130 kabupaten/kota yang menyelenggarakan pemilu, 39 pemilu kepala daerah kabupaten/kota ”dimenangi” golput.

Besarnya jumlah golput dalam pemilu kepala daerah diprediksi akan merembet ke pemilu anggota DPR, DPD, DPRD, dan pemilu presiden pada 2009. Hal ini terjadi karena sistem pendataan pemilih dalam pemilu mendatang sama dengan pemilu kepala daerah yang menempatkan masyarakat sebagai pihak yang aktif. Cara ini jelas tidak akan menghasilkan data pemilih yang baik.

”Buruknya pendataan pemilih merupakan sumber utama golput. Golput yang disebabkan apatisme pemilih atau kemalasan pemilih relatif kecil jumlahnya,” ujar Jeirry.

Anggota Departemen Seni Budaya, Pariwisata, dan Pemberdayaan Perempuan Partai Golkar, Nurul Arifin, mengatakan, untuk meningkatkan partisipasi pemilih dalam pemilu, partai politik harus gigih mendidik pemilihnya. Hal ini sangat diperlukan di tengah semakin memburuknya citra partai politik.

Dorongan parpol

Untuk itu, parpol perlu menjual calon anggota legislatif yang benar-benar berkualitas pada pemilu mendatang. Pola pikir masyarakat yang semakin kritis dan kompetitifnya persaingan antarparpol menuntut parpol untuk mengusung calon anggota legislatif yang layak dan bisa diterima masyarakat.

Parpol juga harus mendorong konstituennya agar mereka sadar dan mau menggunakan hak pilihnya. (MZW)

Source : kompas.com

Leave a Reply