Strategi Parpol: Pasar Menjadi Sasaran Empuk untuk Kampanye

Rabu (16/7), jarum jam masih menunjuk pukul 05.30. Namun, calon Wakil Gubernur Jawa Timur periode 2008-2013, Saifullah Yusuf, sudah berada di Pasar Daerah Mojo Agung, Jombang, Jawa Timur, untuk bertemu dan menyapa pedagang di sana.

Kedatangan Saifullah yang tiba-tiba ini cukup menarik perhatian sejumlah pedagang dan pembeli pasar tersebut. ”Saya Saifullah, wakilnya Pak De Karwo (Soekarwo). Mohon doa restunya,” kata Saifullah berkali-kali kepada mereka yang ditemuinya. Untuk lebih menunjukkan perhatiannya, selain senyum manis terus dikembang, Saifullah beberapa kali merangkul pedagang pria yang ditemuinya.

Perhatian orang-orang di dalam pasar itu semakin besar saat seorang pengikut Saifullah tiba-tiba mengeluarkan tiga lembar uang Rp 100.000 untuk memborong kue milik seorang pedagang. ”Ini sudah dibayar. Silakan ambil sendiri, gratis,” katanya. Segera saja puluhan orang berebut mengambil kue yang ada.

Serbuan itu tidak ayal membuat si pedagang yang dipanggil ”Bu Sus” ini panik. ”Pesanan orang ikut diambil. Saya bisa dimarahi langganan…. Saya bisa dimarahi langganan,” kata Bu Sus dengan ekspresi antara kaget dan gembira karena dagangannya diborong dengan harga tinggi.

Sejak masa kampanye yang dimulai 6 Juli lalu, pasar tradisional di Jawa Timur telah menjadi tempat yang paling sering didatangi para cagub dan wagub. Bahkan, dalam sehari, seorang calon bisa mendatangi lebih dari dua pasar tradisional. Ini, antara lain, diperlihatkan calon gubernur dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Achmady.

Dalam kampanyenya yang kemarin dilakukan dengan perjalanan dari kantor DPC PKB Jember ke Kecamatan Tanggul yang berjarak sekitar 30 kilometer, Achmady beberapa kali turun dari trailer yang membawanya, untuk kemudian masuk ke pasar yang dilewatinya dan menyalami warga di sana.

”Ini mengingatkan asal-usul Achmady yang pernah menjadi petugas pasar sehingga dia sangat peduli dengan nasib pedagang kecil di pasar tradisional,” kata Ketua DPC PKB Jember H Miftahul Ulum yang mendampingi Achmady.

Namun, tujuan blusukan para cagub dan wagub itu agaknya bukan hanya untuk mengingatkan asal-usul para calon, tetapi juga karena kampanye di pasar relatif murah, tak perlu menyewa gedung dan pengeras suara, atau membagikan uang bensin seperti yang biasa dilakukan saat kampanye di lapangan atau tempat tertutup.

Potensi efektivitas kampanye di pasar juga tinggi karena di tempat itu berkumpul banyak orang dari berbagai latar belakang. Komunikasi yang ada di sana juga bebas, cair, dan sifatnya sangat manusiawi. Kedatangan para cagub atau wagub di pasar juga dapat membangun citra merakyat dalam diri mereka.

Dengan berbagai keunggulan itu, tak aneh jika Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri kemarin juga mengampanyekan pasangan Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR) di Pasar Baru Sugih Waras, Madiun.

Namun, seperti yang umumnya terjadi di daerah lain, setelah kampanye berakhir, kunjungan para pejabat ke pasar tradisional biasanya juga akan berakhir. Bahkan, dengan alasan pembangunan, mereka dapat mengganti pasar tradisional dengan pasar modern meski hal itu berarti mematikan ekonomi rakyat.

Akhirnya, pasar juga menunjukkan wajah politik kita di mana para elite umumnya hanya menjadikan rakyat sebagai obyek. Mereka dirangkul hanya ketika dibutuhkan.

Keadaan ini sudah dipahami sebagian rakyat. Karena itu, meski sudah mendapat sebungkus onde-onde dari dagangan yang dibeli oleh teman Saifullah Yusuf, seorang ibu hanya tersenyum penuh arti saat ditanya siapa yang akan dipilih di Pilkada Jawa Timur, 23 Juli nanti.(RAZ/NWO/SIR)

Source : Kompas.com

Leave a Reply