Gempa, Manuskrip, dan Pemilukada di Aceh

“…dan bergerak gempa pada bulan Safar… jika pada waktu Isya alamatnya bala (musibah) akan datang ke negeri itu…”

Saya baru beberapa puluh menit saja memejamkan mata ketika gempa 7,1 skala Richter dan berpotensi tsunami di Aceh itu terjadi pada Rabu (11/01/2012) pukul 01.36 WIB dan membuat saya terbangun. Itu adalah malam pertama para tamu dari dalam dan luar negeri mendarat di Banda Aceh untuk sebuah acara international workshop bertemakan “From Anatolia to Aceh: Ottomans, Turks, and Southeast Asia” pada dua hari berikutnya.

Topik gempa besar di Aceh yang sempat membuat kepanikan, terutama di Meulaboh, itu kemudian menghiasi obrolan kami saat sarapan pagi dan setiap coffee break, mulai dari obrolan ringan belaka sampai dikaitkan dengan kajian akademis. Fiona Kerlogue dari the Horniman Museum, Inggris, mengaku shock dan tidak bisa tidur sampai malam berikutnya.

Anthony Reid, sejarawan senior tentang Asia Tenggara dari Australian National University (ANU), adalah salah seorang yang paling bersemangat membicarakan sejarah dan antropologi gempa, terkait rencananya menulis artikel tentang topik tersebut. Menurutnya, berbeda dengan di Jepang, tradisi pencatatan dan dokumentasi sejarah gempa di nusantara tidak terlalu baik, sehingga cukup sulit mengetahui siklus gempa yang terjadi di nusantara ratusan tahun lalu.

Saya beruntung memiliki sejumlah informasi terkait gempa dari sumber primer berupa manuskrip-manuskrip tulisan tangan abad ke-18 dan ke-19 yang tercecer dan terhimpun secara tidak sengaja selama bertahun-tahun menekuni bidang kajian manuskrip nusantara dan atas kebaikan kawan-kawan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) di lapangan. Dari berbagai goresan tangan orang terdahulu di Tanah Air, wilayah nusantara, khususnya Aceh, Minangkabau, dan sekitarnya, sepertinya memang menjadi wilayah langganan gempa.

Dalam sebuah manuskrip asal abad ke-19 di Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, terdapat catatan dalam bahasa Arab berbunyi: “Wa-kanat al-zalzalah al-syadidah al-tsaniyah fajr yawm al-khamis tis’ah ayyam min jumad al-akhir sanah 1248 min hijrah al-nabawiyah…” Catatan tersebut menunjukkan bahwa pernah terjadi gempa besar untuk kedua kalinya pada Kamis pagi, 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M (Fathurahman dkk, 2010: xx).

Bukti lain seringnya terjadi gempa di bumi kita pada masa lalu adalah dijumpainya sejumlah manuskrip tentang “takwil gempa” dalam bahasa Melayu menggunakan aksara Jawi, seperti manuskrip “Tabir Gempa” di Perpustakaan Ali Hasjmy, Banda Aceh (Fathurahman & Holil 2007: 274-275), “Ramalan tentang Gempa” di Perpustakaan Nasional Jakarta (Behrend [ed] 1998: 291), dan “Takwil Gempa” di Surau Lubuk Ipuh, Padang Pariaman, Sumatra Barat.

Kearifan lokal takwil gempa
Ternyata, menurut orang-orang tua terdahulu, setiap gempa yang terjadi sebetulnya membawa pesan tertentu bagi umat manusia, entah itu pesan menggembirakan atau sebaliknya.

Salah satu bagian dari manuskrip “Takwil Gempa” asal abad ke-19 Surau Lubuk Ipuh yang sudah dikaji oleh Zuriati dkk (2008), misalnya, menjelaskan bahwa, “…dan jika pada bulan Dzulqaidah…dan jika pada waktu duha, alamatnya bala (musibah) banyak akan datang ke dalam negeri itu…” Seperti kita ketahui, gempa dan tsunami di Aceh yang menewaskan hampir 200 ribu korban jiwa terjadi pada Ahad pagi waktu duha, 26 Desember 2004, atau 14 Dzulqaidah 1425 Hijriah.

Dengan hati berdebar-debar, saya lalu mencoba menyimak bagian lain “ramalan” gempa dalam manuskrip tersebut seraya menghubungkannya dengan gempa 7,1 SR pada Rabu, 16 Safar antara waktu Isya dan Subuh lalu di Nanggroe Aceh Darussalam.

Saya agar gemetaran karena takwil gempa pada bagian itu berbunyi, “…dan bergerak gempa pada bulan Safar… jika pada waktu Isya alamatnya bala (musibah) akan datang ke negeri itu…” Apakah itu artinya akan ada bala baru di Aceh dan sekitarnya? Semoga tidak! Peringatan dini datangnya tsunami pun sudah dicabut dua jam setelah gempa.

Sekali lagi, semua yang tertulis dalam kertas Eropa berusia ratusan tahun tersebut memang bukan sebuah ramalan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Saya sendiri ingin melihat takwil itu sebagai sebuah kearifan lokal (local wisdom) leluhur kita saja yang ingin mengingatkan anak cucunya agar hidup lebih baik, bukan sebagai sesuatu yang niscaya terjadi.

Takwil gempa dan Pemilukada Aceh
Masalahnya, terlepas dari adanya gempa atau tidak, situasi mutakhir menjelang pemilukada di Aceh pun membuat kita waswas, apa yang akan terjadi jika penembakan misterius terus terjadi dan situasi politik terus memanas?

Mata saya pun terus bergerak mengamati transkripsi teks “Takwil Gempa” yang dibuat oleh Yusri Akhimudin tersebut untuk mencari tahu kearifan lokal apa yang mungkin “dititipkan” oleh nenek moyang kita agar terhindar dari bala  yang “diramalkan” itu.

Sang pengarang ternyata menulis demikian, “…maka haruslah kita memakai pakaian yang suci-suci dan memakai bau-bauan yang harum-harum supaya dijauhkan Allah ta’ala akan bala daripada tubuh kita…”

Kita bisa menafsirkan sendiri apa yang tersirat dari “kesucian pakaian dan kebersihan badan” yang dipersyaratkan oleh leluhur kita agar terhindar dari bala yang mungkin terjadi tersebut. Mungkin mereka menginginkan agar pakaian dan tubuh kita tidak dikotori oleh pertengkaran, korupsi, dan nafsu duniawi belaka. Wallahu a’lam.

Oleh Oman Fathurahman
Peneliti PPIM UIN Jakarta,
Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara(Manassa)

Source : Republika.co.id

Posted with WordPress for BlackBerry.

Grafis Prediksi Tsunami Menuju Indonesia

prediksi tsunami jepang

JAKARTA, KOMPAS.com — Grafis yang dikeluarkan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan, perkiraan waktu tsunami bisa mencapai kawasan pantai di negara-negara tetangga menuju Filipina hingga Indonesia serta kawasan pantai barat Pasifik.

Pemerintah Amerika Serikat telah menerbitkan peringatan siaga tsunami untuk wilayah Pantai Barat Pasifik dan Hawaii. Tsunami diramalkan terjadi sekitar pukul 02.45 waktu setempat di kawasan Hawaii, sementara di Pantai Barat akan terjadi pukul 07.45 waktu setempat.

Tsunami dipicu oleh gempa dahsyat berkekuatan 8,9 SR yang menghantam timur laut Jepang, Jumat siang.

Badan Survei Geologi AS (USGS) sebelumnya menyatakan bahwa gempa tersebut berkekuatan 7,9 SR dan berpusat di kedalaman 24,3 km sekitar 130 km di sebelah timur Sendai, di pulau utama Honshu. Namun, USGS kemudian menyatakan bahwa gempa berkekuatan 8,9 SR.

Source: kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Diperkirakan Tsunami Tiba di Indonesia Pukul 18.00 WIB

Jakarta – Tsunami yang menyapu pesisir pantai di Jepang diperkirakan juga akan menghantam wilayah pesisir pantai beberapa negara. Salah satu negara yang terancam sapuan gelombang tsunami adalah Indonesia.

Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) siang ini, Jumat (11/3/2011) memprediksi gelombang tsunami akan tiba di Indonesia di wilayah Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Papua sekitar pukul 18.00 WIB, atau sekitar pukul 20.00 waktu setempat.

Diperkirakan kekuatan gelombang tsunami yang tiba di Indonesia sudah berkurang. Penduduk yang berada di wilayah pesisir pantai di tiga propinsi itu diminta waspada.

BMKG sebelumnya telah melansir peringatan dini tsunami yang kemungkinan juga akan melanda Indonesia.

Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menghimbau masyarakat yang bermukim di sepanjang garis pantai di wilayah Indonesia Timur menjauhi pantai.

“Kami menghimbau warga masyarakat yang bermukim di sepanjang pantai di wilayah Maluku Utara, Papua dan Sulawesi Utara untuk menjahui bibir pantai,” himbau Kepala PVMBG, Surono, Jumat (11/3/2011).

Menurut perhitungan PVMBG, gelombang tinggi atau Tsunami akan sampai di beberapa wilayah Indonesia Timur sekitar pukul 19.00 WIT sampai 20.00 WIT. Tsunami yang sampai ke Indonesia diperkirakan menacapai ketinggiann setengah meter sampai satu meter
(rez/rez)

Source: today.co.id

Posted with WordPress for BlackBerry.