Refleksi atas Kemenangan Jokowi

Ketika berlangsung Munas Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia di Solo, 2008, penulis bertanya kepada ketua asosiasinya, Yusuf Serang Kasim—saat itu Wali Kota Tarakan, Kalimantan Timur—tentang alasan memilih Solo sebagai tuan rumah acara organisasi tersebut.

Yusuf menjawab: ”Kami, para wali kota, ingin belajar dan melihat langsung sukses Solo dalam aneka kebijakan yang berdampak langsung kepada rakyat.” Continue reading

James T Riyadi: Pewaris Kerajaan Bisnis yang Fasih Bicara Sosial

james riyady

INILAH.COM, Jakarta –  Penerus kerajaan Grup Lippo ini baru ditunjuk menjadi Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Tenaga Kerja, Pendidikan, dan Kesehatan. Namun, ia sudah fasih berbicara tentang rencana hingga 5 tahun ke depan.

“Kadin akan mendukung transformasi sosial khususnya di bidang pendidikan. Saat ini jumlah rakyat yang duduk di bangku kuliah baru 2 persen dari total warga , target 5 tahun ke depan akan meningkatkan

tingkat standar yg terjangkau, target jumlahnya akan meningkat menjadi 10 persen,” ujar James T. Riady ketika ditemui usai mengikuti pengukuhan kepengurusan Kadin masa bakti 2010-2015 di jakarta, Kamis (25/11).

Menurutnya, sumber daya manusia merupakan komponen penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Selain itu, keberadaan Kadin sebagai salah satu pilarnya, dapat membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Membangun bangsa adalah membangun sumber daya manusia. Kami harap dalam 5 tahun ini, Indonesia dapat merasakan kualitas pendidikan dan kesehatan yang tinggi, terjangkau masyarakat karena akan ada terobosan-terobosan dalam pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan,” papar  James yang juga Chief Executive Officer Grup Lippo.

Lebih lanjut disebutkan, bahwa Kadin akan membantu meningkatkan akses warga terhadap dunia pendidikan, khususnya akses masyarakat yang selama ini kurang mampu untuk turut merasakan jenjang perkuliahan di Indonesia.

Impian semua siswa untuk memasuki universitas ataupun perguruan tinggi yang mereka idam-idamkan, kadang harus kandas banyak faktor. Hal yang paling klasik adalah mahalnya biaya kulliah. “Mereka kalah sebelum bertanding, karena mereka merasa tidak memiliki apapun untuk masuk,” ujar pria berkulit putih ini.

James Tjahaya Riady, adalah salah satu anak Mochtar Riady, pendiri grup Lippo, kelompok bisnis yang memiliki lebih dari 50 anak perusahaan. Jumlah seluruh karyawannya diperkirakan lebih dari 50 ribu orang. Aktivitas perusahaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hadir di kawasan Asia Pasifik, terutama di Hong Kong, Guang Zhou, Fujian, dan Shanghai.

Grup Lippo pun paling tidak memiliki 5 area bisnis utama. Seperti jasa-jasa keuangan yang meliputi perbankan, investasi, asuransi, sekuritas, manajemen aset, dan reksadana. Kemudian sektor properti dan urban development, yang meliputi pembangunan kota satelit terpadu, perumahan, kondominium, pusat hiburan dan perbelanjaan, perkantoran dan kawasan industri.

Lalu, area pembangunan infrastruktur, seperti pembangkit tenaga listrik, produksi gas, distribusi, pembangunan jalan raya, pembangunan sarana air bersih, dan prasarana komunikasi. Hampir semua bisnis ini dikonsentrasikan di luar negeri dan dikontrol oleh kantor pusat Grup Lippo yang berbasis di Hong Kong.

Sektor lainnya adalah bidang industri yang meliputi industri komponen elektronik, komponen otomotif, industri semen, porselen, batu bara dan gas bumi. Terakhir, bidang jasa-jasa yang meliputi teknologi informasi, bisnis ritel, rekreasi, hiburan, hotel, rumah sakit, dan pendidikan. Sepak terjangnya dengan sektor sosial inilah yang tampaknya membuat James fasih berbicara tentang rencana jangka panjang untuk jabatan baru yang diembannya. 

James memang harus membawahi beraneka ragam bidang dengan cakupan sangat besar. Namun, ia mengungkapkan hidup bukan hanya sekedar bekerja. Menurutnya,  hidup harus seimbang dengan bekerja, rekreasi dan keluarga. “Saat ini, saya fokus hanya mempengaruhi minimal 10 keputusan paling penting dan membuat perbedaan,” katanya.

Cara ini dipelajari dari sang ayah, sehingga etika kerja keras agar memiliki sprit berjuang yang tinggi, menjadi salah satu pelajaran yang James pegang dalam hidupnya.

Ia membagi sedikit pengalamannya, yakni ketika sebelum 1990 dirinya memegang jabatan sebagai presiden direktur di semua perusahaan milik grup Lippo. Hal ini membuat James bangkrut secara relasi dengan istri, anak dan saudara. “Namun, sejak 1990 saya bertobat. Hidup bukan sekedar bekerja tapi hidup yang utuh harus belajar membagi waktu dan pendewasaan,” tutupnya. [ast]

Source: inilah.com

Posted with WordPress for BlackBerry.