Marketing Politik, “Berdagang” Ikon

Belakangan ini muncul beberapa partai politik baru, diantaranya Partai Solidaritas Indonesia, Partai Persatuan Indonesia, Partai Damai dan Aman, serta Partai Priboemi. Sepertinya, hasrat mendirikan parpol tetap menyala setelah satu setengah dekade Reformasi 1998. Bagaimana prospek sekaligus tantangan yang mereka hadapi?

Melihat hal itu, Pakar Manajemen dan ?Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia?, Rhenald Kasali mengatakan, jika kita ingin mengetahui seberapa besar tim sukses atau tim marketing dari partai politik (parpol) bisa menjual “ikonnya” dalam pilpres atau pilkada, itu bisa lihat dari seberapa besar tokoh tersebut mendapatkan simpati dari masyarakat bawah atau grass root. Pasalnya hingga kini itu menjadi tolak ukur keberhasilan dari cara marketing politik dewasa ini. “Masyarakat saat ini menginginkan pemimpin yang tegas, bersih, sederhana dan cakap dalam mengatasi berbagai macam masalah yang dihadapi bangsa ini. Pada dasarnya masyarakat sudah cerdas dalam memilih. Mereka ingin adanya perubahan,” ujar Rhenald saat dihubungi NERACA, Selasa.

Continue reading

How Can Political Marketers Win With Young Voters?

Political marketing to young voters is big business. One report suggests that parties spent more than $100 million marketing to youth groups in 2010. And it’s no wonder why: Politicians who want to win the White House in 2016 need to engage teens—and they need to do it soon. After all, today’s 15-to-19 year olds will help elect the next president.

Winning the votes of young people will require more than just advertising dollars. Low voter turnout means that convincing Millennials that Candidate X is the right person for the job is just half the battle. Only 45% of 18-to-29 year olds voted in the 2012 election.

Continue reading