siwah.com

Category: Political Marketing

  • Pencitraan Masih Diandalkan

    Jakarta, Kompas – Partai politik dan politisi makin banyak menggunakan jasa lembaga survei untuk membaca peluang, baik di pemilihan kepala daerah, pemilu, maupun pemilihan presiden. Lembaga survei dibutuhkan untuk mengetahui perilaku pemilih. Politik pencitraan memang wajar digunakan di negara-negara demokrasi.
    < !-more->

    Informasi yang dihimpun Kompas sampai Minggu (15/7) memperlihatkan, peran lembaga survei sangat dibutuhkan bagi parpol atau politisi yang bertarung dalam pilkada atau pemilu. Survei jadi pertimbangan untuk menentukan calon, membuat program kampanye, dan mengetahui hasil pemilihan lewat penghitungan cepat.

    ”Survei sangat penting sebagai rujukan awal untuk menentukan langkah-langkah berikutnya. Bagi kami, survei dapat memperlihatkan sikap, kecenderungan, dan keberpihakan publik. Semacam deteksi awal,” kata Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa Imam Nachrowi. Parpol memerlukan fakta terkait perilaku pemilih dalam pilkada atau pemilu.

    Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Tjahjo Kumolo menuturkan, partainya menggunakan hasil survei sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan kebijakan partai, misalnya di pilkada. Pertimbangan lain yang dipakai yakni ideologi dan kebijakan partai.

    Memang, menurut peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia R Siti Zuhro, politik pencitraan kandidat biasa digunakan di negara maju. Ini penting untuk menimbulkan daya pikat yang maksimal dari kandidat sekaligus menumbuhkan ketertarikan rakyat pada kandidat. Masyarakat menjadi semakin mengenal calon-calon yang hendak dipilihnya.

    Namun, dalam konteks Indonesia, kata Siti Zuhro, ”Politik pencitraan baru dimaknai sebagai promosi yang berlebihan atas sisi-sisi positif kandidat sambil menampilkan sisi-sisi negatif dari kandidat lain.”

    Pentingnya survei itu diakui Wakil Sekjen Partai Demokrat Saan Mustopa. Partai Demokrat setidaknya melakukan tiga kali survei di sebuah pilkada, yaitu penentuan calon, penyusunan strategi kampanye, dan bahan penyusunan strategi terakhir sebelum pemungutan suara.

    Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memanfaatkan lembaga survei untuk mengambil keputusan dalam pilkada atau pemilu. Tanpa data hasil survei, ujar Ketua DPP PPP Zaenut Tauhid Saadi, partai sulit menganalisis kekuatan dan kelemahan partai atau calon.

    Bagi Ketua Departemen Politik DPP Partai Keadilan Sejahtera Agoes Poernomo, partainya biasa menggunakan survei internal untuk melihat berbagai kemungkinan dalam pilkada atau pemilu. PKS juga sering mengundang lembaga survei untuk dimintai pendapat setelah lembaga itu merilis hasil surveinya.

    ”Untuk pilkada, biasanya survei tiga kali, sedangkan untuk menghadapi pemilu legislatif, kami mengadakan survei tahunan. Namun, sejak dua tahun sebelum pemilu, survei dilakukan setiap enam bulan atau bulan Januari pada tahun penyelenggaraan pemilu,” ujar Agoes.

    ”Saat ini, hampir semua pilkada memakai jasa lembaga survei untuk melihat peluang kandidat dan menyusun strategi kampanye,” kata M Qodari dari Indobarometer, pekan lalu.

    Saiful Mujani, peneliti utama Lembaga Survei Indonesia sekaligus pendiri Saiful Mujani Research and Consulting, juga mengatakan, lembaga survei kian berperan penting untuk memetakan perilaku pemilih di pilkada dan pemilu.

    ”Sepanjang pengalaman di partai, hasil survei cukup mendukung. Tapi, itu pun tak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menentukan langkah karena survei kadang meleset dalam beberapa hal,” kata Zaenut.

    Wakil Ketua Umum PPP Lukman Hakim Saifuddin secara terpisah menambahkan, ”Hasil survei sering kali tidak sesuai dengan yang terjadi di lapangan karena survei atau poling merupakan potret sesaat yang amat mungkin berubah.”

    Contoh paling aktual yakni Pilkada DKI Jakarta pada pekan silam. Sejumlah lembaga survei memperkirakan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli bakal unggul. Kenyataannya, berdasarkan hitungan cepat, justru pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama yang unggul.

    Hasil survei, kata Qodari, tidak selalu sama dengan fakta di lapangan. Dari sepuluh survei, biasanya ada dua atau tiga yang hasilnya berbeda. Perbedaan itu biasanya terjadi karena ada manuver dari kandidat di saat-saat akhir atau perubahan opini masyarakat. ”Survei adalah mengukur opini masyarakat, dan opini itu bisa berubah,” ucap Qodari. (IAM/NWO/ATO)

    Source : Kompas.com

  • Menembus Kebuntuan dengan Calon Independen

    Kehadiran calon independen dalam pemilihan kepala daerah memiliki legitimasi yang sah seperti halnya kontestasi melalui partai politik. Kemunculannya menjadi alternatif bagi keberadaan partai politik yang semakin oligarkis dan berorientasi kepada politik uang.
    < !-more->

    Tampilnya pasangan Faisal Basri-Biem Benjamin dan Hendardji Soepandji-A Rizki Patria dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 sebagai calon nonparpol menarik perhatian sejumlah kalangan. Di tengah dominasi mekanisme melalui partai politik dan pragmatisme pemilih di Jakarta, kedua pasangan calon ini bisa mengumpulkan dukungan langsung dari masyarakat sebagai syarat pencalonan.

    Sebut saja Faisal Basri dan Biem Benjamin dalam Pilkada DKI beberapa waktu lalu. Popularitas dan integritas Faisal sebagai seorang aktivis dan intelektual cukup dikenal luas oleh publik Jakarta. Sementara Biem Benjamin adalah putra Betawi asli yang juga anak dari seniman kondang Jakarta, (almarhum) Benyamin Sueb. Kekuatan inilah yang menjadi modal dasar pasangan ini untuk mendapatkan tiket masuk ke arena pilkada.

    Meski tidak lolos ke putaran kedua, pasangan calon independen ini telah mencuri perhatian dan simpati publik. Hasil hitung cepat Litbang Kompas pada 11 Juli 2012 memperlihatkan, pasangan Faisal Basri-Biem Benjamin mendulang suara (5,07 persen) di atas perolehan suara pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono (4,74 persen) yang diusung oleh sejumlah parpol.

    Koreksi parpol

    Calon independen bukanlah hal baru dalam sistem politik Indonesia. Pada Pemilu 1955, keberadaan calon independen sebagai peserta pemilu sudah diakomodasi secara konstitusional oleh negara. Para tokoh yang enggan menggunakan parpol sebagai kendaraan politik lebih memilih jalur nonparpol untuk menjadi anggota konstituante.

    Pada masa Orde Baru, keberadaan calon independen dihapus seiring dengan proses fusi terhadap organisasi peserta pemilu. Artinya, untuk menduduki jabatan-jabatan politis seperti anggota DPR/DPRD, rezim Orde Baru hanya mengakomodasi melalui tiga partai politik yakni Golkar, Partai Demokrasi Indonesia, dan Partai Persatuan Pembangunan. Mekanisme seperti ini terus bertahan hingga era Reformasi.

    Pendeknya, sejak Pemilu 1971-2004 rakyat Indonesia hanya dibiasakan memilih partai sebagai sarana untuk mengantarkan wakil-wakilnya menuju parlemen dan jabatan politik lainnya. Dalam kurun waktu empat dekade tersebut, parpol telah mendominasi orientasi dan pilihan politik rakyat.

    Namun, kecenderungan orientasi kepada kekuasaan membuat parpol mengabaikan fungsi kelembagaannya dan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan utama perjuangan. Politik representasi yang otorisasinya melekat pada parpol gagal dimanfaatkan sebagai sarana memperjuangkan kepentingan rakyat.

    Kondisi inilah yang menghancurkan citra parpol saat ini. Dalam sejumlah pengumpulan pendapat yang dilakukan Litbang Kompas terungkap tentang citra negatif partai politik di mata publik.

    Dalam jajak pendapat pada Mei dan November 2011 terungkap bahwa apresiasi publik begitu rendah terhadap fungsi parpol. Mayoritas responden (80-an persen) menjawab tidak puas terhadap fungsi parpol ini. Tahun ini, melalui jajak pendapat yang dilakukan pada Maret, April, dan Mei terungkap pula hasil yang sama. Ketidakpuasan masih mendominasi jawaban responden.

    Rendahnya apresiasi publik terhadap fungsi parpol terutama dipicu terungkapnya banyak kasus korupsi baik oleh anggota DPR/DPRD maupun kepala daerah yang diusung oleh parpol.

    Terobosan baru

    Ketika pemerintah membuka keran hukum bagi masuknya kandidat dari jalur nonparpol melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah, animo masyarakat untuk menggunakan jalur ini meningkat. Setelah kemenangan pasangan calon independen dalam Pilkada Kabupaten Rote Ndao (NTT), Kabupaten Batubara (Sumatera Utara), dan Garut (Jawa Barat) pada 2008, calon independen terus bermunculan.

    Catatan Litbang Kompas menunjukkan, sepanjang pelaksanaan pilkada tahun 2010, calon independen muncul dalam 71 pilkada kabupaten/kota yang tersebar di 17 provinsi. Dibandingkan dengan jumlah kandidat berbasis parpol, calon independen hanya sepertiga bagian (30,8 persen) dari total 426 pasang kandidat.

    Dari semua calon independen yang bertarung, hanya 10 pasang yang memenangkan pilkada. Sisanya kalah dengan dukungan suara yang bervariasi. Meski masih jauh di bawah kemenangan calon-calon dari parpol, dukungan terhadap calon independen ini merefleksikan munculnya harapan baru dari rakyat.

    Kepercayaan terhadap calon independen menguat lantaran mereka dipercaya memiliki kepentingan pribadi atau kelompok tertentu yang relatif lebih kecil ketimbang calon dari parpol. Pendapat ini terungkap dalam survei Kompas pada November 2011 dan Mei 2012.

    Hasil survei publik tersebut menyatakan bahwa parpol masih mengutamakan kepentingan dirinya ketimbang kepentingan rakyat. Fenomena ini bisa dilihat dari kualitas para penyelenggara negara yang berasal dari partai politik.

    Jajak pendapat Kompas pada Agustus tahun lalu mengungkapkan dua dari tiga responden menyatakan tidak puas terhadap para penyelenggara negara yang terpilih melalui parpol.

    Calon independen dipercaya bisa meminimalkan praktik korupsi karena setiap calon tidak punya kewajiban untuk membayar mahar kepada parpol sebagai uang sewa kendaraan politik. Artinya, dengan calon independen, biaya politik bisa ditekan seminimal mungkin.

    Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Arie Sudjito mengatakan, ”Calon independen merupakan alternatif untuk menjawab kebuntuan politik supaya tidak terjadi frustrasi politik. Calon independen hendaknya dianggap sebagai alternatif mengatasi stagnasi politik, serta menjebol kebuntuan oligarki dan manipulasi politik representasi.” (Kompas.com, 19/6/2012).

    Dengan kata lain, terobosan baru yang diharapkan bisa dilakukan calon independen adalah mengoreksi kebuntuan oligarki dan perilaku korup yang selama bertahun-tahun telah diciptakan oleh parpol.(Litbang Kompas)

    Source : Kompas.com

  • Fenomena Pilkada DKI

    Kejutan politik telah terjadi dalam Pilkada DKI. Kemenangan telak pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) menjadi fenomena yang membuat banyak kalangan terperangah. Sebab, hasil survei sebelumnya rata-rata berkesimpulan pasangan petahana Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) yang bakal keluar sebagai pemenang. Bahkan, digadang-gadang bakal unggul dalam satu putaran.

    Dalam detik-detik terakhir berkembang pula perkiraan, pasangan Faisal Basri-Biem Benjamin akan menjadi kuda hitam. Kenyataannya, Jokowi-Ahok telah menjungkirbalikkan semua hasil survei dan perkiraan di atas. Bukan hanya itu, perbedaan suara dengan calon pesaingnya di putaran kedua pun cukup jauh, yaitu 8,27 persen (Kompas, 12/7).

    Berbagai analisis yang memperbincangkan kemenangan fenomenal ini pun semarak. Pada umumnya para pengamat berpendapat bahwa kemenangan ini merupakan isyarat kuat dari masyarakat yang menginginkan perubahan. Mereka ingin segera keluar dari kejenuhan menghadapi kesulitan hidup, ketidaknyamanan, dan masalah keamanan yang kian mencekik masyarakat bawah.

    Ada pula pendapat bahwa hal ini merupakan pertanda tidak disukainya figur lama serta mereka yang sekadar mencari kekuasaan atau status sosial, tetapi kemampuannya diragukan. Berbagai analisis itu menyimpulkan pula bahwa betapa besarnya ekspektasi masyarakat terhadap pemimpin yang akan datang. Inilah yang harus benar-benar dihayati serta diwaspadai oleh siapa pun pemimpin terpilih nantinya.

    Kejutan lainnya adalah perolehan suara pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono yang hanya 4,74 persen, berada pada urutan kedua dari bawah setelah pasangan Hendardji Soepandji-A Riza Patria. Padahal, banyak hasil survei sebelumnya menempatkan pasangan ini pada posisi kejar-kejaran dengan Foke-Nara. Tentu perolehan kecil ini merupakan pukulan telak bagi Golkar sehingga timbul pertanyaan: bagaimana mesin politik partai kedua terbesar, sarat pengalaman, serta bertabur kader ini bekerja?

    Memang benar kata Tjipta Lesmana bahwa di samping jualan pasangan ini (baca: tiga tahun bisa) tidak masuk akal dan murahan, juga mesin politik Golkar tidak bekerja baik. Tidak terlihat para elitenya turun ke lapangan. Kebanyakan mereka bersikap bossy, seolah membiarkan pasangan yang diusungnya bekerja keras sendiri. Padahal, betapa penting dan strategisnya Pilkada DKI. Keadaan ini memperkuat sinyalemen bahwa fragmentasi elite Golkar memang cukup serius.

    Fenomena hasil Pilkada DKI putaran pertama ini sesungguhnya menjadi potret dari situasi perpolitikan secara nasional karena DKI adalah cermin dari Indonesia. Sebuah potret yang menyembulkan isyarat bahwa di 2014 tampaknya figur lama akan sulit dijual. Rakyat Indonesia sedang mendambakan kehadiran tokoh baru yang mampu membawa perubahan. Isyarat ini perlu ditangkap oleh para elite parpol serta segera mencari alternatif calon yang dapat memenuhi harapan rakyat.

    Putaran kedua

    Kendati putaran kedua akan digelar pada bulan September yang akan datang, setiap pasangan yang lolos putaran pertama telah bergerak dengan cepat. Siang hari setelah dipastikan lolos, Jokowi segera menemui Hidayat Nur Wahid di poskonya. Pendekatan ini memang sangat penting mengingat pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini yang hanya didukung satu partai (PKS) telah memperoleh 11,5 persen suara.

    Perolehan ini bisa jadi berasal dari massa utama PKS di DKI. Ini mengingat dalam pilkada sebelumnya, Adang Daradjatun—yang juga diusung PKS sendirian—telah memperoleh suara yang cukup besar. Dengan demikian, suara yang 11,5 persen ini kemungkinan besar akan solid sehingga tambahan suara ini amat penting pada pertarungan putaran kedua bagi pasangan yang melaju.

    Perlu kerja keras

    Namun, akan muluskah perjalanan Jokowi-Ahok selanjutnya? Tentu mereka sendiri menyadari bahwa situasi masih jauh dari aman. Pasangan ini serta semua parpol pendukungnya masih harus berjuang keras.

    Pertama, masih menjadi tanda tanya besar, apakah PKS yang berbasis Islam ini akan bersedia bergandengan tangan dengan PDI-P dan Gerindra yang berbasis nasionalisme? Memang, pragmatisme dalam berpolitik itu besar, tetapi bagaimanapun ideologi tetap akan menjadi pertimbangan yang menentukan.

    Kedua, terdapat 40 persen yang tidak menggunakan hak pilihnya, suatu angka yang sangat besar dan tentu akan sangat menentukan. Alasan ketidakhadiran mereka di TPS memang beraneka ragam. Namun, dapat dipastikan bahwa mayoritas bukan karena alasan politis, melainkan karena faktor ekonomi, pekerjaan, transportasi, dan tidak sedikit pula yang kepeduliannya rendah sehingga memilih berlibur bersama keluarga di rumah atau ke luar kota.

    Dengan demikian, mereka masih sangat mungkin untuk digarap dan disadarkan. Keberadaan mereka merupakan peluang besar bagi kedua pasangan. Siapa yang mampu mendekati, memengaruhi, dan meyakinkan mereka dengan cepat dan tepat sasaran—sehingga mereka tergerak untuk datang ke TPS—niscaya akan memperoleh kemenangan.

    Peta situasi di atas mengisyaratkan bahwa pertarungan pada putaran kedua masih akan berlangsung ketat dan sengit. Kedua pasangan masih sama-sama memiliki peluang. Namun, perjalanan setiap pasangan calon masih panjang, terjal, dan memerlukan perjuangan keras.

    Terpenting dalam putaran kedua nanti: semua pihak yang bertarung harus menjunjung tinggi sportivitas dan etika berdemokrasi. Hindari politik uang, yakinkan pemilih dengan program realistis. Pemilih pun harus tambah sadar bahwa kedaulatan menentukan pilihan sepenuhnya ada di tangan masing-masing, jangan mudah tergoda rayuan finansial. Pilkada DKI harus berlangsung dengan jujur, adil, lancar, dan aman tanpa kekerasan sehingga menjadi percontohan pemilu di Tanah Air.

    KIKI SYAHNAKRI Ketua Dewan Pengkajian Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat

    Source : Kompas.com

  • 12 Techniques for Productively Raising Make the most any Political Marketing campaign

    Given that Web design manager Barack Our government’s political election success, many individuals are motivated to run intended for consumer business office. Just one grounds for this particular brand-new identified involvement in state policies is that selection Barak overrode what’s arguably essentially the most difficult aspect of campaigning * fund-raising. Ahead of Barack Our government’s promotion, it had been the extensively acknowledged finish within political groups which a selection could not improve plenty of capital to be aggressive coming from smaller donors. political consultant

    Also, the current knowledge appeared to be that will in an effort to add to the big dollars had to acquire elections, the selection essential title popularity in an effort to accomplish big donors. Submit Barak, the paradigm offers altered. We now know by investing in the best approach as well as information, you can now run as well as acquire a political election. In this post, I most certainly will offer you a foundation intended for elevating cash in the political promotion. These pointers will let you buy your promotion started to avoid the blunders that many very first time that job hopefuls create every time they commence fund-raising. political consultant

    One. Have a very approach. You must style the fund-raising approach such as recognizable goals as well as step-by-step criteria. Your fund-raising goals needs to be aimed together with the entire amount of money had to provide for ones promotion. You’ll find one particular fund-raising approach within weblog.

    Only two. Boost capital out of your family and friends 1st. The amount of money you will get out of your family and friends is the best seedling capital. You’ll use the item to protect important promotion start up costs during the infancy stage of this promotion. political consultant

    Three. Produce a call-list. If you’re operating intended for business office, you will have the mind subscribers list interior and exterior ones group which team you will probably be taking intended for promotion shawls by hoda donates. Placed that will mind number written and have absolutely anyone for your promotion staff members bring brands towards number everyday. A sample contact number can be located within weblog.

    Five. Use an appointment linen when dialing prospective donors. A try linen is actually a theme which allows someone to knowledge the donor’s info track record, chatting items, as well as preferably, info commitments. Whenever dialing any contributor, you will have to interact with the contributor when using matter he / she really cares about. Your chatting items area lets you hit these points during the talk. As an example, if the contributor cares for you significantly in relation to animal legal rights, it is advisable to discuss ones help intended for animal legal rights regulation during the contact.

    Your five. Follow-Up. If you try to remember coming from word of advice #4, the video call linen sports a room portion intended for info commitments. In case the contributor makes a financial determination on the telephone, request the contributor regardless of whether he / she will probably be subscriber a check mark or even generating an online settlement. You should encourage the contributor for making an online settlement which is speedier for you to method and you’ll have access to the capital almost immediately. Whereas having a check, you will end up forced to permit time with the check to your account. Nonetheless, either settlement solutions involve you make a follow-up contact towards contributor if you can’t obtain the guaranteed info. I would permit 2 weeks intended for lab tests sent coming from out of state, a few days intended for lab tests sent within state, and three nights intended for on the internet obligations. You should put aside an hour once a week for making reminder calls to your contributor there are acquired the promotion info inside the chosen time period.

    7. End up being initial. Very early bird has the worm where political provide for elevating is involved. You must function as the that you make the initial 1st touching ones donors, not the defender. Round up ones make contact with number before you even mention ones promotion colliding with the bottom operating.

    Seven. Do not be self conscious. Many job hopefuls are far too pleased to request promotion advantages around, and more than, and more than. Nonetheless, there exists genuinely ugh all around the item.

    Seven. Inform Individuals exactly what their funds has helpful to buy. As an example, when your promotion desires 1000 back garden indicators, request the contributor for you to plan to obtaining Twenty-five back garden indicators for a $250 info. When donors realize where their funds is certainly going, they are very likely to offer.

    On the lookout for. Get the huge acknowledgements first. Everyone loves successful and everybody loves to aid successful. The greater huge acknowledgements you have, greater a person looks just like the winner along with the less difficult it can be so you might improve capital. Hence be sure you follow content, group, as well as person acknowledgements early in ones promotion so as not to enable your competition to get momentum.

    13. Make calls by yourself. It doesn’t matter how aged or even rich you might be, it still making you come to feel important to listen to the selection instantly rather than a person in her or his staff members. Hence put aside time once a week for making fund-raising calls personally. Don’t just second hand it away to your staff members.

    Source : Pandandang.com

  • Jokowi-Ahok Paling Populer di Media Sosial

    TEMPO.CO, Jakarta – Calon Gubernur-Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, menjadi kandidat yang paling sering disebut atau muncul di media sosial selama empat pekan terakhir. Sedangkan pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli mengekor di peringkat kedua.

    Data ini merupakan hasil survei yang dilakukan oleh Politicawave terhadap enam media sosial, yaitu Twitter, Facebook, blog, forum online, berita online, dan YouTube. Pasangan cagub independen, Faisal Basri dan Biem Benjamin, menempati peringkat ketiga dan Alex Noerdin-Nono Sampono berada di peringkat keempat. Pasangan Hidayat Nur Wahid- Didik J Rachbini bertengger di peringkat kelima. Hendardji Soepandji dan Ahmad Riza Patri berada di peringkat keenam.

    Direktur PoliticaWave, Yose Rizal menyatakan hasil survei popularitas cagub/cawagub di media sosial ini bisa menggambarkan persepsi masyrakat mengenai para kandidat tersebut. “Ini merefleksikan suara masyarakat, suara rakyat bisa tercermin di media sosial,” kata Yose di Jakarta, Jumat, 13 Juli 2012.

    Menurut Yose, hasil surveinya yang tidak banyak berbeda dengan hasil perhitungan cepat sehingga membuktikan sosial media bisa menjadi alat untuk merefleksikan keinginan masyarakat. Ia mengelak jika responden yang mewakili hasil surveinya hanya mewakili warga kelas menengah.

    “Toh, sekarang warga kelas bawah juga sudah banyak memiliki telepon selular yang bisa mengakses media sosial,” katanya.

    Pengamat politik, Jaleswari Pramodhawardani, menilai media sosial sebagai sebuah wadah pelampiasan kebutuhan untuk berbicara. “Facebook, Twitter menjadi katarsis atau pelampiasan kebutuhan untuk bicara. Perbincangan di wilayah publik bisa menjadi sebuah percakapan sehat jika dituntun oleh isu yang mencerdaskan kita,” katanya.

    Source : Tempo.co

  • Lembaga Survei Semestinya Independen

    JAKARTA, KOMPAS — Lembaga survei kian berperan penting untuk memetakan perilaku pemilih dalam pemilihan kepala daerah dan pemilu di Indonesia. Lembaga itu diharapkan lebih profesional dan independen dari kepentingan politik sehingga dapat memperkuat proses konsolidasi demokrasi.

    Harapan tersebut disampaikan peneliti utama Lembaga Survei Indonesia sekaligus pendiri Saiful Mujani Research and Consulting, Saiful Mujani; dan Manajer Program Penelitian Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial Kurniawan Zein, di Jakarta, Kamis (12/7).

    Saat ini, lembaga survei menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) dan pemilu. Lembaga-lembaga itu meneliti perilaku pemilih terkait para politisi yang bertarung, dan kemudian menyajikan penghitungan cepat sesaat setelah pemilihan.

    Menurut Saiful, lembaga survei merupakan riset politik modern yang berusaha mengungkap tindakan politik individu warga. Hal itu mencakup, apakah seseorang memilih atau tidak, memilih siapa atau partai apa, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Tidak ada cara ilmiah, valid, dan efisien untuk mengetahuinya selain melalui survei.

    M Qodari dari Indo Barometer menjelaskan, usaha di bidang survei adalah bisnis kepercayaan. Lembaga survei yang sering salah memberikan prediksi atau masukan akan kehilangan kredibilitas dan akhirnya ditinggalkan masyarakat.

    Saiful pun mengajak semua lembaga survei agar tidak diatur kepentingan politik, terutama pemodal. Hasil survei yang tak obyektif tidak berguna bagi pemodal itu sendiri. ”Lembaga survei harus lebih profesional,” katanya.

    Kurniawan mengakui, saat ini ada beberapa lembaga survei yang tergoda untuk memasuki ranah konsultasi atau pemasaran politik. ”Kadang, untuk kepentingan pemesan, lembaga survei sengaja memanipulasi data. Ini menyalahi prinsip obyektivitas, rambu-rambu metodologi survei, independensi, dan tanggung jawab akademik lembaga survei,” katanya. (IAM/NWO)

    Source : Kompas.com

  • Jebakan Kartel Oligarkis

    Seusai Marcus Mietzner dari Universitas Nasional Australia berbicara soal kartel politik di Indonesia dalam diskusi di Universitas Humboldt (3/7/2012), kami pun berbincang di warung kopi.

    ”Bagi saya, tak masuk akal Ical melamar Ibas untuk 2014. Ibas bukan siapa-siapa selain anak presiden. Lagi pula, Ical sudah menyebut banyak nama dari banyak partai untuk dilamar juga,” kata Mietzner. Indonesianis kelahiran Frankfurt, Jerman, itu sesungguhnya tengah menyentil Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie yang mau melamar Baskoro Yudhoyono sebagai calon wakil presiden pada 2014.

    Tema utama bukan soal Ical ataupun Ibas. Diskusi kami adalah bagaimana memahami politik Indonesia sesudah 1998, yang ujungnya boleh tiba pada diskursus soal siapa dan kenapa pantas atau tidak pantas di Pilpres 2014.

    Sebagian ilmuwan melihat, sesudah 1998, politik Indonesia masih dikontrol oleh oligarki (Robizon & Hadiz, 2004; Winters, 2011), meskipun menurut Jeffrey Winters, mereka bermetamorfosis dari oligarki sultanistiknya Soeharto menjadi the ruling oligarchy, oligarki yang memerintah. Sebagian lagi fokus pada peran partai politik dan melihat kartel sebagai kekuatan politik dominan pada era pasca-Soeharto (Slater, 2004; Mietzner, 2011).

    Dua pendekatan ini tidak salah. Di satu sisi, dominasi oligarki dalam mengontrol proses politik tampak jelas kalau kita melihat peran orang-orang kaya dalam politik. Kita bisa sebut sendiri nama-nama mereka, serta bagaimana mereka mengatur politik dari belakang ataupun di atas panggung. Mereka adalah oligarki. Di tubuh partai, mereka memainkan peran besar. Bahkan, tidak sedikit partai politik dikuasai oleh orang kaya ini.

    Alhasil, di sisi lain, mereka pun membangun kartel politik. Akan tetapi, mereka tetaplah oligarki yang segala prinsip dan orientasi politiknya bermuara pada upaya meningkatkan dan mempertahankan kekayaan sebagai tujuan tertinggi

    Makhluk politik ini tak mudah dijelaskan dalam bahasa sederhana, meski tidak serumit gerak- gerik politik mereka yang cenderung samar, tetapi berdampak kasar. Mereka membangun kartelisasi dalam rangka memonopoli dan memanipulasi proses politik, sementara mereka berdiri pada fondasi oligarki sebagai habitat asal. Pelaku politik ini yang saya sebut kartel oligarkis, yakni persekongkolan elite partai dari dan berdiri di atas fondasi oligarki untuk menetapkan haluan politik tertentu yang sifatnya tertutup untuk umum dan untuk membatasi kompetisi.

    Kartel politik dari awal dipahami dalam bingkai organisasi, yakni partai politik (Katz & Mair, 1995). Namun, untuk konteks Indonesia, mereka mengarah pada gerombolan individu yang kebetulan memakai partai sebagai instrumen politik. Dengan kata lain, mereka bisa ada di organisasi politik lain yang mirip atau sama dengan partai.

    Harus dikontrol

    Tema soal kepemimpinan ideal, mekanisme elektoral yang demokratis, atau debat demokrasi yang substansial versus yang prosedural menjadi pepesan kosong kalau kita tak memahami dan mengatasi makhluk politik yang liar ini. Kenapa?

    Pertama, kartel oligarkis menguasai struktur hukum, politik, dan ekonomi sehingga kedaulatan rakyat pada konteks ini tak bermakna apa pun. Kedua, kartel oligarkis menentukan siapa yang harus dipilih oleh rakyat untuk menjadi pemimpin.

    Maka, tak ada ruang untuk deliberasi publik dan pertimbangan moral soal siapa pantas dan tidak pantas menjadi pemimpin. Siapa pun yang dikehendaki kartel oligarkis niscaya menjadi pemenang pemilu. Demokrasi langsung dinilai mengebiri permainan kartel, tetapi saluran demokrasi mana di Indonesia yang tak dikendalikan oleh kartel oligarkis?

    Ketiga, kartel oligarkis bertahan hidup dengan menguasai partai politik serta mengatur permainan di panggung politik dan (agar) pada saat yang sama memperkuat fondasi ekonomi mereka. Kehendak dan kebaikan umum direlativisasi dalam konteks ini.

    Dalam garis berpikir ini, komentar sederhana Mietzner di awal dapat dilihat dari sudut ganda. Pertama, kualitas personal penting untuk proses pencalonan dalam pilpres. Kedua, kartel bisa melakukan kombinasi politik seperti apa pun, bahkan sampai pada model kombinasi semrawut yang menabrak semua rambu ideologi politik.

    ”Politik tanpa ideologi itu sulit. Saya heran, ada politisi Kristen yang sulit ditakar ideologi politiknya saking tidak jelasnya,” kurang lebih begitu sindiran Sahra Wagenknecht, anggota Bundestag (DPR) dari Partai Kiri yang lagi kasmaran dengan politisi fenomenal Oskar Lafontaine, dalam diskusi di Mannheim (15/5/2012), yang kami hadiri atas undangan Katholischer Akademischer Ausländer-Dienst (KAAD) Jerman.

    Sindiran Sahra untuk kawan- kawannya dari Partai Kristen (CDU/CSU) mungkin menjadi justifikasi yang terlalu jauh. Namun, substansi kita, ideologi signifikan dalam politik. Sayangnya, di tangan kartel oligarkis, ideologi apa pun tak bermakna kecuali materialisme.

    Namun, ini tak berarti demokrasi kita tak punya masa depan. Pengembalian kedaulatan politik ke tangan rakyat harus didefinisikan secara teknis dalam pemilu. Kebebasan pemilih adalah syarat mutlak, bahkan partai politik dituntut transparan dalam menentukan kandidat.

    Hegemoni kartel oligarkis hanya bisa dilawan dengan kehendak murni dari rakyat. Pemilihan langsung adalah kesempatan terbaik untuk berperang melawan kartel. Rakyat hanya bisa menang kalau proses elektoral benar, transparan, dan dikontrol dengan ketat. Kalau tidak, pemilu tak lebih dari sekadar jebakan para kartel oligarkis.

    Boni Hargens, Dosen FISIP UI; Saat Ini Sedang Belajar di Humboldt-Universität zu Berlin, Jerman

    Source : Kompas.com

  • Politik Kita

    Pilkada DKI Jakarta ibarat laboratorium menarik untuk mengukur apa yang bakal terjadi pada P Budiarto emilu-Pilpres 2014. Walau lima calon gubernur melaporkan kisruh DPT kepada pihak berwenang, proses dan hasil pemilihan relatif mulus.

    Harap maklum, Jakarta ”Indonesia kecil”. Hasil apa pun bisa terjadi dalam pemilihan di Jakarta, termasuk kekalahan bagi partai yang berkuasa.

    Itulah yang dialami Golkar tahun 1977. Penurunan dukungan terhadap Golkar disebabkan korupsi Pertamina dan penguasa yang makin mencengkeram sehingga memicu pecahnya tragedi Malari 1974 dan gerakan mahasiswa 1977.

    Belum diketahui persis berapa persen pemilih yang menggunakan haknya dalam pilkada kali ini. Namun, jika jumlahnya di atas 50 persen, itu sudah cukup ideal mengingat apatisme terhadap partai-partai politik belakangan ini.

    Animo pemilih, meski masih bersifat fragmentatif dan sporadis dan tidak perlu diterjemahkan ke dalam angka, harus diakui cukup besar. Semoga saja animo ini terus meningkat sampai tahun 2014.

    Kita pemilih perlu optimistis karena Pemilu-Pilpres 2014 salah satu pintu masuk memperjuangkan aspirasi rakyat. Partai-partai politik mestinya membaca lebih jeli lagi aspirasi akhir-akhir ini.

    Aspirasi pertama, rakyat makin muak terhadap korupsi—itu sebabnya terjadi perlawanan terhadap partai berkuasa yang mendukung petahana. Aspirasi kedua, kelima cagub—kecuali petahana—menawarkan ”ideologi perubahan” untuk menembus kebuntuan masalah-masalah Ibu Kota.

    ”Ideologi perubahan” rupanya masih berlaku di sebagian negara demokrasi besar, termasuk Indonesia. Inilah yang disebut dengan ”faktor Obama” karena dialah yang memulainya tahun 2008.

    Sukar menduga, pilihan warga Jakarta pada pilgub kali ini lebih karena tokoh daripada partainya atau sebaliknya? Inilah pekerjaan rumah terbesar bagi para capres dan partai-partai politik kita.

    Dalam pemilihan, petahana selalu berada dalam posisi defensif. Pemilihan menjadi vote of confidence atau referendum terhadap apa yang dilakukan selama petahana menjabat.

    Petahana mesti bekerja ekstra keras untuk meyakinkan kembali pemilih dia layak dipercayai kembali dibandingkan para penantangnya. Itu pelajaran berharga yang didapat Joko Widodo ketika dengan mudah terpilih lagi sebagai Wali Kota Solo.

    Hal paling menonjol dalam Pilkada DKI adalah keterpilihan atau elektabilitas keenam cagub. Mereka orang-orang yang berpengalaman politik panjang dan kiranya layak memimpin Jakarta.

    Gubernur Fauzi Bowo sudah pasti, begitu juga dengan Gubernur Alex Noerdin dan Wali Kota Joko Widodo. Hidayat Nur Wahid, Faisal Basri, dan Hendardji Soepandji telah malang melintang berpolitik atau memimpin dalam skala berbeda-beda.

    Artinya, tidak ada cagub yang ujug-ujug muncul begitu saja mengandalkan penampilan, citra, dan modal semata-mata. Mereka berhasil membangun karisma dan karya nyata.

    Fauzi Bowo jelas ahli tata kota, Alex Noerdin berhasil mengembangkan Sumatera Selatan, dan siapa yang tak kenal Joko Widodo? Faisal Basri tokoh reformis sejak 1998 yang turut membidani kelahiran Majelis Amanat Rakyat dan PAN, Hendardji mayor jenderal yang amat kenal Jakarta.

    Catatan penting lainnya, dua cagub independen relatif berhasil meyakinkan sebagian warga Jakarta untuk memilih mereka. Dengan jumlah pemilih cuma hampir tujuh juta, dengan golput yang cukup besar, itu bukan tugas mudah.

    Ini prospek menarik bagi calon-calon perseorangan/independen untuk memenangi pilkada. Contoh menarik, Yonas Salean sebagai calon perseorangan terpilih sebagai Wali Kota Kupang.

    Memang dilema: membolehkan calon perseorangan mengikuti pilkada karena mereka tidak punya ideologi, partai dan strukturnya, AD/ART, anggota tetap, dan sebagainya. Namun, tak mungkin melarangnya berhubung ancaman kartel politik yang sarat transaksi politik dan uang.

    Apa boleh buat, keputusan Mahkamah Agung belum lama ini menolak uji materi yang membolehkan capres perseorangan berlaga dalam pilpres. Padahal, dukungan jutaan orang lewat petisi tidak kalah kredibilitasnya dibandingkan dukungan DPP, DPD, DPC, sampai anak ranting partai.

    Ini lagi yang menjadi bukti, sosok seperti Faisal Basri bisa lebih dipercayai ketimbang calon partai seperti Alex Noerdin—kalau hasil akhir Pilkada DKI tidak berbeda dengan hasil hitung cepat. Partai Golkar pasti menyadari debacle ini.

    Pelajaran menarik bagi mereka yang berminat menjadi capres tahun 2014: lebih sukar membangun karisma dalam waktu dua tahun jika belum punya rekam jejak memadai pada masa lalu. Inilah kiranya selera mayoritas pemilih dewasa ini.

    Oleh sebab itu, rasanya kurang etis jika kita elite negara ini hanya berkutat pada kriteria-kriteria seperti ”wajah lama vs tokoh baru”, ”tua vs muda”. Pada akhirnya yang memilih adalah mayoritas rakyat yang tinggal di pedesaan, yang kurang peduli dengan debat kusir soal usia, jenis kelamin, suku, agama, dan sebagainya.

    Menurut saya, situasi politik dewasa ini sudah mulai mencair berkat pilkada di Jakarta ini. Telah terjadi ”pertandingan” yang berjalan relatif fair, yang diikuti enam kontestan yang membuka pilihan yang beraneka bagi kita, yang membangkitkan harapan baru, dan berlangsung di jantung negara.

    Terbukti lagi, politik adalah panglima. Anda pembaca yang berkepentingan dan berperanan jadi penentu bagi masa depan politik kita.

    Budiarto Shambazy

    Source : Kompas.com

  • Tim Fauzi Tuding Tim Jokowi Main Politik Uang

    Jakarta, kompas – Tim advokasi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli melaporkan dugaan politik uang yang dilakukan tim Joko Widodo- Basuki Tjahaja Purnama pada pilkada, 11 Juli lalu, kepada Panitia Pengawas Pilkada Jakarta.

    ”Kami mengumpulkan laporan dari anggota tim dan relawan di lapangan. Kami sudah melaporkan kasus ini ke Panitia Pengawas Pilkada Jakarta pada 13 Juli,” kata Sekretaris Tim Advokasi Foke-Nara, Dasril Affandi, saat jumpa pers di Media Center Foke-Nara, Sabtu (14/7), di Jakarta.

    Dalam acara itu, tim advokasi menghadirkan dua saksi yang melaporkan dan mengetahui praktik politik uang tersebut.

    Kedua saksi itu adalah anggota tim sukses Foke-Nara wilayah Jakarta Pusat, yakni Jan Awalisi dan Ketua RW 07 Kelurahan Pegangsaan, Jakarta Pusat, Mahmuri.

    Jan menceritakan, ia mendapat laporan dari warga yang didatangi seseorang yang membagikan uang Rp 50.000-Rp 75.000. Uang itu diselipkan dalam baju kotak-kotak. Jan lalu berhasil mengidentifikasi orang itu yang diketahui berinisial A dan berdomisili di RT 12 RW 7. Orang itu diduga sebagai anggota tim sukses pasangan calon nomor 3.

    Pelapor juga menyertakan bukti foto yang diduga sebagai pemberi uang, tetapi bukan foto saat bertransaksi.

    Perangi politik uang

    Boy Bernardi Sadikin, Ketua Tim Sukses Jokowi-Basuki (Ahok), yang juga putra mantan Gubernur DKI Ali Sadikin, menanggapi tudingan itu dengan tenang.

    Boy menyatakan akan mengecek kebenaran informasi itu dan sepenuhnya menyerahkan persoalan ini kepada pihak berwajib karena memberikan atau menerima uang adalah hal yang dilarang dalam pilkada.

    Boy juga menegaskan, pihak Jokowi-Basuki tidak pernah menganjurkan tim sukses ataupun relawan untuk melakukan politik uang. Pihaknya justru sangat gencar memerangi politik uang dengan membentuk Satgas Anti-Money Politic dan Satgas Anti-Curang.

    ”Masyarakat banyak yang belum tahu kalau Jokowi-Ahok itu pernah mendapat penghargaan sebagai tokoh antikorupsi,” kata Boy Sadikin.

    Jokowi mendapat penghargaan Bung Hatta Anticorruption Award 2010. Basuki (Ahok) mendapatkan penghargaan sebagai tokoh antikorupsi dari penyelenggara negara oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan yang terdiri atas Kadin, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Masyarakat Transparansi Indonesia 2007.

    Boy mengimbau pendukung Jokowi-Basuki bersikap bijaksana dan tenang serta tak terpancing dengan pemberitaan yang provokatif. ”Sejarah membuktikan bahwa pada saatnya orang yang benar yang akan memperoleh kemenangan,” ujarnya.

    Panwas akan mengecek

    Dihubungi terpisah, Ketua Panwas Pilkada Jakarta Ramdansyah menyatakan, telah menerima laporan dari tim Foke-Nara tentang dugaan politik uang yang dilakukan tim Jokowi-Basuki.

    ”Kami akan mendalami laporan ini dengan memanggil terlapor dan pelapor serta menggelar rekonstruksi,” kata Ramdansyah.

    Panwas Pilkada Jakarta juga akan mengecek dugaan apakah benar A adalah anggota tim sukses Jokowi-Basuki. ”Yang menjadi kesulitan kami, tidak ada saksi penerima uang tersebut,” kata Ramdansyah.

    Uji materi ke MK

    Kemarin, tim Foke-Nara menilai, upaya uji materi Pasal 11 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta sebagai langkah yang sarat muatan politis dan tendensius karena mendorong Pilkada DKI satu putaran.

    ”Hal itu sangat bernuansa politis karena pengujian dilaksanakan pascahitung cepat pilkada. Ada kepentingan pihak tertentu yang ingin memprovokasi masyarakat dan menyudutkan pasangan tertentu,” kata Dasril.

    Sementara itu, Boy Sadikin menegaskan, yang mengajukan uji materi ke MK bukan tim sukses Jokowi-Ahok.

    Gugatan uji materi didaftarkan ke MK oleh tiga warga DKI, yakni Satrio Fauzia Damarjati, Abdul Havid Permana, dan Mohammad Huda, Jumat (13/7) siang. (ENG)

    Source : Kompas.com

  • Lembaga Survei Membantu Partai Politik

    Jakarta, Kompas – Lembaga survei membantu partai politik merumuskan dengan baik tantangan yang dihadapi calon mereka menjelang pilkada. Karena itu, lembaga survei sangat diperlukan parpol guna mendulang suara terbanyak.

    Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Sutan Bathoegana, Jumat (13/7), menjelaskan, lembaga survei biasanya bekerja dengan mencari tahu terlebih dahulu tingkat popularitas calon yang hendak didukung sebuah partai.

    ”Setelah mengetahui tingkat popularitasnya, lembaga survei akan memberi saran tentang bagaimana cara mendongkrak popularitas si calon itu,” tuturnya.

    Dalam Pilkada DKI Jakarta, menurut Sutan, lembaga survei sudah menjalankan tugas mereka dengan baik. Survei mereka bahwa pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli bakal unggul di putaran pertama tidak keliru.

    ”Masalahnya, ketika hari pencoblosan, sebagian pendukung Fauzi-Nachrowi malah pergi berlibur. Masing-masing dari mereka berpikiran, tidak perlu mencoblos karena Fauzi-Nachrowi pasti unggul jauh,” kata Sutan.

    Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa Imam Nachrowi dan Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai Persatuan Pembangunan Zaenut Tauhid Saadi, secara terpisah di Jakarta, juga menegaskan parpol membutuhkan lembaga survei untuk mengetahui perilaku pemilih.

    Ketua Departemen Politik Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera Agoes Poernomo menuturkan, partainya biasa menggunakan survei internal untuk melihat berbagai kemungkinan dalam pilkada atau pemilu.

    Ketua Umum Partai Nasional Demokrat Patrice Rio Capella, Jumat di Jakarta, menjelaskan, Pilkada DKI membalikkan hasil survei yang margin error-nya 2 persen atau lebih.

    ”Mereka tidak memperhitungkan swing voter yang kompak memberikan suara kepada Jokowi. Oleh karena itu, hasil survei soal presiden pun bisa jadi berbeda dengan hasil akhir dalam pemilu,” kata Rio.

    Dia meningatkan, hasil Pilkada DKI Jakarta menjadi bahan introspeksi lembaga survei yang ada. Pasalnya, tidak ada satu pun lembaga survei yang menjagokan Jokowi.

    (ATO/Ong/IAM/NWO)

    Source : Kompas.com