siwah.com

Category: Political Marketing

  • Despite millions spent on political marketing, few were influenced to switch their vote

    With the Conservatives’ campaign ahead on every measure, the vast majority claim an ‘uneventful’ election run-up provided no compelling reasons to change their vote, though young people’s propensity to be swayed could be decisive in future polls.

    The marketing tactics deployed by the UK’s political parties during the general election campaign were largely ineffective in changing the way people voted, according to new research commissioned by Marketing Week.

    Although the scale of the Conservative Party’s victory came as a shock to many, the study by ICM Unlimited suggests very little shifted in the minds of the electorate in the weeks leading up to the vote on 7 May.
    (more…)

  • Ini Saran Ahli untuk Melawan Ahok di Pilkada DKI 2017

    Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disapa Ahok menyampaikan pidatonya saat Deklarasi dukungan Partai Hanura di Jakarta, 26 Maret 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta – Untuk melawan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada Pilkada DKI 2017 harus dengan keberanian karena inkumben selalu diuntungkan.

    “Jadi melawan Ahok bukan dengan cara mengkritik isu suku, ras, dan agama (sara),” kata pengamat komunikasi politik Benny Susetyo kata dia Jakarta Selatan.
    (more…)

  • Membaca Tanda Zaman

    Benny Susetyo Pr (foto:satuharapan.com

    SATUHARAPAN.COM – Ketua DPR Ade Komarudin mengingatkan, revisi UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota harus untuk kepentingan nasional. Revisi, kata dia, jangan dilakukan hanya untuk menjegal salah seorang calon kepala daerah tertentu. Wacana revisi UU Pilkada mencuat menyusul keputusan Basuki Tjahaja Purnama maju sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta melalui jalur independen. Bagi sebagian kalangan, langkah Basuki merupakan ancaman. Alasannya, syarat yang diperuntukkan bagi calon independen yang diatur di dalam UU itu tidak memenuhi asas berkeadilan.

    Ketakutan akan femenena Ahok sebagai calon independen tidak perlu dikuatirkan karena fenomena biasa dalam ilmu pemasaran politik bagian strategi meraih kemenangan. Marketing politik yang dari istilahnya sendiri terasa sebagai contradictio in terminis (dalam istilahnya seperti ada yang kontradiktoris). Tapi sesungguhnya tidak demikianlah adanya. Strategi-strategi marketing memang sudah saatnya diterapkan dalam politik, mengingat Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunkasi, semakin terintegrasinya masyarakat global dan tekanan untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi, institusi politik pun membutuhkan pendekatan alternatif untuk membangun hubungan dengan konstituen dan masyarakat luas.
    (more…)

  • Political brands: who gets your vote?

    David Cameron and Nick Clegg in the final leaders’ debate in 2010. Photograph: WPA Pool/Getty Images

    As the general election looms, marketing experts assess the political parties for brand strength and relevance

    Political campaigning for the 2015 general election has not exactly been a masterclass in marketing. Some efforts, such as the Conservative’s first election poster, which showcased a German road, and Labour’s pink bus tour to court female voters, have even been met with widespread derision.
    (more…)

  • Tren Politik Jualan Kinerja

    Referensi politik seseorang bisa saja berubah-ubah hanya dalam hitungan detik sesuai dengan situasi serta kondisi tertutama tergantung dengan kontruksi apa yang sedang dibangun pada saat itu.

    Hal ini lantas mengi­ngat­kan kita pada perhelatan besar bangsa kita yakni Pilpres 2014 silam. Dimana jauh hari sebe­lum Pilpres 2014 itu digelar, Prabowo Subianto menjadi tokoh yang digadang-ga­dang­kan sebagai kandidat terkuat dalam bursa calon Presiden Indonesia 2014. Dapat dika­takan pada saat itu, hampir seluruh hasil lembaga survei maupun lembaga penelitian politik lainya dapat dipukul rata menempatkan nama Pra­bowo di urutan teratas pemi­lik popularitas serta elek­ta­bilitas tertinggi mengalahkan banyak tokoh lain seperti Megawati, Wiranto, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla dan para tokoh-tokoh senior lainnya.
    (more…)

  • Sistem Presidensial, Kedudukan Kuat Lazimnya di Tangan Presiden

    KOMPAS/ALIF ICHWAN
    Centre for Policy Studies and Strategic Advocacy (CPSSA)

    Keunikan kehadiran dan kepemimpinan Presiden Joko Widodo saat ini menjadi isu strategis yang tak habis diperbincangkan. Bahkan, perbincangan sistem demokrasi presidensial seakan diputar kembali oleh para pemikir dari berbagai kalangan karena lazimnya sistem demokrasi presidensial memberikan kedudukan yang kuat kepada Presiden Jokowi dalam menjalankan kekuasaannya.

    Demikian benang merah dalam dialog yang digelar Centre for Policy Studies and Strategic Advocacy dan Institute for Peace and Democracy di Jakarta, Jumat (20/11). Hadir dalam acara tersebut (dari kiri ke kanan) Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Ketut Erawan, Daniel Dhakidae dan Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshiddiqie.
    (more…)

  • Political Marketing itu “Menjual Figur”

    Pengamat komunikasi politik Heri Budianto mengatakan bahwa secara general masyarakat kini sudah krisis kepercayaan terhadap partai politik (Parpol). Itu dikarenakan kegagalan Parpol dalam menjalankan kaderisasi yang baik serta banyaknya partai yang terlibat kasus korupsi telah membuat masyarakat lebih memilih ketokohan figur, dan tidak begitu mementingkan profil parpol. “Secara umum masyarakat lebih memilih seorang tokoh figur dibandingkan partai politiknya,” ujarnya.

    Dirinya juga menyebutkan ketokohan figur telah “memanjakan” partai sejak era reformasi bergulir. Contoh ada Almarhum Gus Dur di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), meski dia sudah tidak ada tapi figur atau tokohnya masih melekat hingga sekarang. Ada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di partai Demokrat, dan masih banyak lagi tokoh atau figur yang membawa parpol mampu menarik massa. “Fenomena ketokohan memang mengemuka pascareformasi dan ketika sistem demokrasi kita terapkan. Dan itu mampu membawa massa dalam partainya,” imbuhnya.

    (more…)

  • Marketing Politik, “Berdagang” Ikon

    Belakangan ini muncul beberapa partai politik baru, diantaranya Partai Solidaritas Indonesia, Partai Persatuan Indonesia, Partai Damai dan Aman, serta Partai Priboemi. Sepertinya, hasrat mendirikan parpol tetap menyala setelah satu setengah dekade Reformasi 1998. Bagaimana prospek sekaligus tantangan yang mereka hadapi?

    Melihat hal itu, Pakar Manajemen dan ?Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia?, Rhenald Kasali mengatakan, jika kita ingin mengetahui seberapa besar tim sukses atau tim marketing dari partai politik (parpol) bisa menjual “ikonnya” dalam pilpres atau pilkada, itu bisa lihat dari seberapa besar tokoh tersebut mendapatkan simpati dari masyarakat bawah atau grass root. Pasalnya hingga kini itu menjadi tolak ukur keberhasilan dari cara marketing politik dewasa ini. “Masyarakat saat ini menginginkan pemimpin yang tegas, bersih, sederhana dan cakap dalam mengatasi berbagai macam masalah yang dihadapi bangsa ini. Pada dasarnya masyarakat sudah cerdas dalam memilih. Mereka ingin adanya perubahan,” ujar Rhenald saat dihubungi NERACA, Selasa.

    (more…)

  • Era Politisi Cerdas

    Doc: http://makassar.tribunnews.com/

    Pada beberapa pekan lalu, saya baru menyelesaikan membaca sebuah buku berjudul I’Am Marketeers terbitan Kompas Gramedia 2015. Salah satu bagian yang menurut saya sangat menarik dan membuat saya tertawa sendiri, ketika Hendra Soeprajitno beserta tim redaksi Marketeers yang menjadi penyusun buku tersebut, mengulas ‘praktik political marketing di Indonesia’.

    Apa yang menarik? Lantas mengapa saya tertawa? Karena pada halaman 96 -99, dari buku yang diadopsi dari kumpulan terbitan majalah marketeers itu, memiliki kesamaan dengan apa yang selama ini saya lihat, rasakan, dari berbagai fakta tentang karakter dan tingkah laku para politisi yang pernah saya jumpai.
    Walau terkesan menyederhanakan, namun dari berbagai ‘pengalaman lapangan’ selama ini, memang tiga pola dan karakter politisi Indonesia yang diuraikan dalam buku tersebut benar adanya. Pertama, sosok politisi bermental snob (politisi sombong). Karakter politisi seperti ini sesekali saya temukan dengan ciri-ciri utama ‘berkantong tebal’.
    (more…)

  • Pemilukada dan Ketidakberuntungan Pemilih

    PEMILUKADA serentak 2015 segera berlangsung. Selain masih didominasi pemain lama, pemilukada juga masih diwarnai dengan disfungsi parpol dalam melahirkan sosok kandidat yang sejalan dengan ekspektasi pasar politik.

    Mekanisme Pasar Politik

    Dalam sistem demokrasi, parpol memiliki beragam peran yang sangat strategis. Salah satunya memberikan suplai atas kebutuhan dan permintaan pemilih terhadap sosok pemimpin dan model kepemimpinan yang diharapkan mayoritas pemilih. Dalam perspektif marketing politik, proses suplai dan permintaan yang terjadi dalam panggung politik sangat ditentukan kondisi struktural-sistemik di satu sisi dan juga kondisi internal tiap-tiap organisasi parpol di sisi yang lain.

    (more…)