Kaleidoskop Pemilu 2008: Jalan Panjang Menuju Pemilu 2009
JAKARTA – Gegap gempita Pemilu 2009 mulai menyeringai sejak awal tahun 2008 bergulir, tepatnya pada permulaan catur wulan pertama tahun 2008. Penyusunan daftar pemilih mengawali fase ini, dengan penyerahan daftar penduduk potensial pemilih pemilu (DP4) dari pemerintah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), pada 5 April 2008. Tahapan ini kemudian berlanjut dengan pemutakhiran data sehari setelah... Read More
Kaleidoskop Pemilu 2008: Geliat Artis di Panggung Politik
JAKARTA – Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah. Itulah sebait lagu yang mencerminkan kehidupan terutama bidang politik saat ini. Di mana, sejumlah artis yang biasanya tampil untuk bersandiwara, kali ini dituntut berperan nyata menjadi bagian penggerak roda pemerintah. Baik itu menjadi kepala daerah ataupun anggota legislatif. Jelang Pemilu 2009 ini, sejumlah nama dari kalangan... Read More
Cetro: Belum Tentu Sistem Suara Terbanyak Merugikan
JAKARTA – Penetapan calon anggota legislatif (caleg) dengan sistem suara terbanyak, belum tentu merugikan caleg perempuan. Karena, jauh sebelum MK memutuskan mengenai suara terbanyak itu, posisi mereka pun belum tentu diuntungkan. “Tentu saya tidak bisa secara tegas mengatakan putusan MK tidak merugikan perempuan. Yang saya perlu katakan, dengan kondisi sebelum putusan MK ada perempuan yang... Read More
Sistem Suara Terbanyak Hanya Untungkan Caleg Berduit
JAKARTA – Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai penetapan calon anggota legislatif (caleg) dengan sistem suara terbanyak dianggap tidak adil bagi caleg perempuan, dan menguntungkan caleg-caleg yang memiliki uang. “Keputusan ini menguntungkan caleg berduit dan ini bisa mempermudah kemenangan caleg berduit tersebut,” ujar anggota Fraksi PKB Nursyahbani Katjasungkana ketika dihubungi okezone, Kamis (25/12/2008).
Protes Putusan MK, Caleg Dinilai Takut Bersaing
JAKARTA – Protesnya para politisi perempuan dan calon anggota legislatif (caleg) perempuan terhadap putusan MK mengenai sistem suara terbanyak dinilai bentuk ketakutan para caleg dalam bersaing dengan lawan politiknya. “Dalam pemilu, intinya kompetisi. Tapi harus diciptakan mekanisme kompetisi yang fair. Kalau berdasarkan nomor urut, fairnya dimana?,” kata Direktur Eksekutif Cetro Hadar Gumay saat dihubungi okezone,... Read More
Ulama Sibuk Berpolitik, Umat Susah Mencari Panutan
Pati, Kompas – Kepala Badan Intelijen Negara Sjamsir Siregar menilai masyarakat sekarang semakin sulit mencari tokoh panutan, terutama dari kalangan kiai di pondok pesantren. Kondisi seperti itu, menurut Sjamsir, muncul lantaran banyak kiai terlalu sibuk ikut politik praktis dan terlibat dalam partai politik. Hal itu dia sampaikan, Sabtu (20/12), saat berkunjung ke Pondok Pesantren Salafiyah... Read More
Memilih Wakil Uang?
Sudah menjadi pengetahuan umum, sejak Pemilu 1999 terjadi pergeseran korupsi pemilu, dari manipulasi pemilihan yang menonjol pada masa Orde Baru ke mobilisasi pemilih lewat politik uang seiring perubahan sistem dan penyelenggaraan pemilu. Pada masa lalu retail strategy melalui distribusi dana publik ke basis pemilih juga dilakukan guna memenangkan Golkar.
Parpol Harus Buka Diri
Yogyakarta, Kompas – Partai politik harus membuka diri dan berpikir obyektif untuk memilih orang yang akan dicalonkan sebagai presiden atau wakil presiden. Jangan sampai parpol memaksakan diri mengangkat calon dari dalam jika mereka tak memiliki kompetensi untuk memimpin bangsa. ”Dalam situasi sekarang, di mana ada beberapa calon alternatif yang potensial menjadi presiden dan wapres, perlu... Read More
Kompleks Demokrasi Elektoral
Tak mudah menjadi seorang Sultan Hamengku Buwono X. Selain mesin politiknya belum memadai, hubungan politik dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun memanas. Sejak mendeklarasikan sebagai capres 28 Oktober lalu, relasi Sultan-Yudhoyono kelihatan kurang bagus. Bahkan, dalam pertemuan raja-raja di Istana Negara, 29 November, Sultan tak diundang. Sebaliknya, dalam rakor gubernur se-Indonesia, Kamis (11/12), Sultan tak... Read More
Politik Maya Ancam Integritas Demokrasi Bangsa
JAKARTA–MI: Fenomena politik maya menjamur di Indonesia, banyak partai politik menawarkan diri mengatasi masalah bangsa sedangkan kinerja dan rekam jejak mereka belum ada. Ini dinilai akan mencederai demokrasi bangsa, karena cenderung membodohi rakyat. Demikianlah kata Pakar Politik UI Arbi Sanit di Hotel Cebtury Park Senayan Jakarta, Senin (22/12). “Rakyat tidak bisa menilai dan melakukan perbandingan... Read More