“Seharusnya partai politik mengkaji atau meriset kecil tentang mapping kebutuhan pemilih baru dikristalkan dalam bentuk platfom atau program. Itu baru jelas, bahwa partai politik itu memang memperjuangkan kebutuhan hak-hak dasar dari konsistuennya/pemilihnya.”
Deg..deg…kurang lebih begitulah suara jantung para caleg partai politik menghitung hari yang kian dekat pada penentuan nasib. Perasaan bercampur-aduk antara menang dan kalah dirasakan semua caleg politik. Namun ketika saya tanyakan, hampir seluruh caleg, selalu berpikir optimis dengan satu kata “Menang”. Hal menarik tergelitik dibenak saya, aneh memang keinginan para caleg bila ingin menang seharusnya investasi sosial dan politik jauh-jauh hari dipersiapkan bukan kayak politikus karbitan (instan) yang hanya berorientasi uang dan jabatan ketimbang membela hak rakyat. Realitasnya para caleg hanya mengkampanyekan jadi dirinya saja melalui baliho, spanduk, stiker, kartu nama, dll. Seharusnya spirit mencerdaskan rakyat melalui pendidikan berpolitik diberikan. Mareka tidak mau tau dengan aturan yang mareka langgar dalam menjalankan kegiatan-nya. Sehingga apa yang mareka perbuat baik pada masa pra kampanye ataupun pada tahap kampanye tidak pernah melakukan atau memberikan pendidikan politik kepada rakyat, karena rakyat tetap pada posisi sebagai objek untuk mengantarkan mareka meraih kekuasaan dan jabatan.
(more…)