JAKARTA, KOMPAS — Penurunan partisipasi pemilih dalam setiap pemilihan umum dianggap wajar karena terjadi juga di banyak negara maju. Meski demikian, partai politik tetap harus berbenah diri agar sesuai dengan kehendak rakyat. (more…)
Tag: parpol
-
Tak Ada Salahnya Aktivis & Akademisi Terjun ke Dunia Politik
JAKARTA- Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN), Bima Arya Sugiarto, merilis buku autobiografi bertajuk ‘Titik Balik’ di Universitas Paramadina, Jakarta Selatan, Sabtu (27/7/2013) sore. (more…)
-
Dua Partai Politik Fenomal Nasional dan Lokal: Partai Demokrat dan Partai Aceh Jelang Pesta Demokrasi PILEG 2014 Diambang Pinto Aceh
Mempertahankan kemenangan jauh lebih sulit daripada meraih kemenangan itu sendiri, didalam segala bidang mempertahankan prestasi dan predikat juara dibutuhkan konsistensi dan daya juang yang tinggi serta mental juara. Begitupula didalam bidang politik partai lokal yang saat ini mendominasi kursi di DPRA dan DPRK propinsi Aceh yaitu Partai Aceh menjelang pesta demokrasi Pileg 2014 tentu tidak mau dipencundangi oleh partai lokal lain yang pada pesta demokrasi tahun 2014 nanti hanya ada tiga partai lokal yang akan bertarung yaitu Partai Damai Aceh (PDA), serta partai pendatang baru yaitu Partai Nasional Aceh (PNA) dan Partai Aceh. Serta partai nasional yang akan bersaing diambang pinto Aceh yaitu, Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai PPP, Partai PDIP, Partai Hanura, Partai PAN,Partai PKB,Partai Gerindra,Partai PBB,Partai PKS,Partai PKPI,serta Partai NASDEM.
-
Rakyat Tidak Butuh Cucu Pemimpin Sejati
Politik dinasti sering dipertentangkan dengan meritokrasi. Politik dinasti kerap dimaknai dekat dengan nepotisme dan kolusi. Betapa tidak, politik dinasti diartikan sebagai praktik pendistribusian kekuasaan di antara anggota keluarga sedarah.
Praktik ini dilakukan bukan saja untuk memastikan suksesi kekuasaan, melainkan juga untuk melanggengkan akses terhadap kekuasaan politik dan ekonomi di tangan satu keluarga atau klan tertentu. Sementara itu, meritokrasi menekankan pada sistem yang memberi tempat kepada mereka yang berprestasi untuk menjadi pemimpin.
-
Dinasti Politik Menghambat Sirkulasi Elite
Sirkulasi elite dalam konteks pergantian kepemimpinan politik adalah salah satu syarat bagi terwujudnya iklim demokrasi yang sehat. Fenomena kekerabatan politik dinilai berpotensi menghambat jalannya sirkulasi politik yang terbuka dan partisipatif.
Fenomena banyaknya hubungan kekerabatan dalam kepemimpinan politik di negeri ini semakin menguatkan gejala dinasti politik. Hal ini khususnya terekam dalam pemilu kepala daerah (pilkada) langsung. Petahana kepala daerah cenderung berupaya mempertahankan kekuasaan dengan melimpahkan dukungan kepada kerabatnya dalam pilkada. Data hasil kontestasi politik di tingkat lokal mencatat, tidak sedikit kerabat petahana sukses memenanginya.
Gejala ini dinilai publik cukup mengkhawatirkan, meski dari sisi perundang-undangan masih bisa dimungkinkan. Publik menilai pola penguasaan politik semacam itu bakal menjerumuskan kondisi politik menjadi tidak sehat dan berdampak negatif.
(more…) -
Gagasan Ekonomi Parpol
Komisi Pemilihan Umum telah menetapkan 10 partai politik sebagai peserta Pemilihan Umum 2014. Meski demikian, sampai saat ini masih ada sengketa dari parpol yang tidak lolos pemilu.
Bagi sebagian orang, 10 partai politik (parpol) tersebut dianggap ideal untuk mewakili aspirasi politik rakyat meskipun sebagian khalayak masih menganggap jumlah itu terlalu banyak, dan sebagian lain berpendapat sebaliknya.
Dalam kontestasi demokrasi, ujung dari proses politik pemilu itu adalah kemenangan suara yang diperoleh dari akumulasi produksi gagasan, soliditas organisasi, dan kapasitas modal (untuk kepentingan kampanye, iklan, dan sebagainya). Bagi orang awam, yang terlihat dari aktivitas parpol hingga hari ini sekadar upaya memperkuat soliditas organisasi dan pengumpulan pundi-pundi uang untuk kepentingan pemilu melalui beragam cara. Publik hampir tidak pernah mendengar gagasan yang hendak dijual parpol, khususnya ide terkait pengelolaan ekonomi nasional.
(more…) -
Kegagalan Partai Islam
Partai politik Islam diprediksi akan tergusur dari pusaran politik nasional pada 2014. Kemungkinan pergeseran peta politik ini hasil jajak pendapat jika pemilu dilakukan awal Oktober 2012.
Merujuk survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network, tak satu pun partai berbasis massa Islam masuk zona aman. Justru ranking lima besar dimonopoli partai yang tidak memiliki konstituen tradisional Islam, yaitu Golkar, PDI Perjuangan, Demokrat, Nasdem, dan Gerindra. Kemunculan Nasdem yang diisi mayoritas politisi muda mengejutkan dan diyakini akan jadi penantang serius bagi dominasi Golkar, PDI-P, dan Demokrat. (more…)
-
Empat Penyebab Kemerosotan Partai Islam
VIVAnews – Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Networks menunjukkan partai politik Islam makin terpuruk pada pemilu 2014 mendatang. Peluang tokoh partai Islam untuk maju sebagai calon
presiden sangat kecil, apa penyebabnya?Peneliti LSI Network, Adjie Alfaraby menjelaskan LSI menemukan ada empat faktor penyebab kenapa tingkat elektabilitas dan popularitas partai dan tokoh Islam semakin menurun dan diprediksi tidak lagi masuk dalam lima besar partai pemenang pemilu 2014.
(more…) -
LSI: Popularitas Partai dan Capres Tokoh Islam Makin Suram
Jakarta – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis survei mengenai kondisi terkini serta prediksi masa depan partai dan tokoh Islam di Indonesia. Hasilnya, popularitas partai dan tokoh Islam di kancah perpolitikan nasional kian suram.
“Partai Islam hanya akan jadi komplementer di 2014, jadi pelengkap saja,” kata Peneliti LSI, Adjie Alfaraby, dalam acara rilis hasil survei ‘Makin Suramnya Partai dan Capres Islam di Pemilu 2014’ di kantor LSI di Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (14/10/2012).
(more…) -
Cetak Kader Berkualitas
Jakarta, Kompas – Mencetak kader partai politik yang militan untuk penugasan di lembaga legislatif dan eksekutif merupakan pekerjaan tidak sederhana. Upaya itu dapat diraih oleh parpol dengan terus melakukan konsolidasi dan pendidikan kader.
Demikian dikatakan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri, Sekretaris Sekretaris Jenderal Partai Gerakan Indonesia Raya Ahmad Muzani, dan Sekretaris Jenderal PDI-P Tjahjo Kumolo, secara terpisah pada Rabu (3/10) dan Kamis (4/10). (more…)