siwah.com

Tag: pemilukada

  • Kekerasan Cenderung Meningkat di Aceh

    Banda Aceh, Kompas – Potensi kekerasan dan pelanggaran dalam pemilihan umum kepala daerah di Aceh diperkirakan meningkat menjelang pemungutan suara. Ini akan terjadi jika rangkaian pelanggaran dan kekerasan tak kunjung ada penindakan tegas dari kepolisian dan Panitia Pengawas Pemilu.

    Tanpa tindakan tegas, pelaku merasa aman untuk terus berbuat kekerasan dan melanggar.

    Demikian kesimpulan yang berkembang dalam acara diskusi potensi ancaman dan kekerasan Pilkada Aceh yang digelar Forum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aceh, di Banda Aceh, Senin (2/4).

    Koordinator Forum LSM Aceh Sudarman mengatakan, ada 40 kasus kekerasan dan pelanggaran dalam Pilkada Aceh sejak 12 Maret hingga akhir Maret. Kasus-kasus tersebut sebagian sudah dilaporkan ke Panwas dan kepolisian, tetapi sampai saat ini belum jelas tindak lanjutnya.

    ”Yang kami khawatirkan, jika kasus-kasus itu tak diungkapkan, akan terus berlanjut pada saat menjelang pemungutan suara. Apalagi, potensi terjadinya kecurangan dalam bentuk intimidasi dan kecurangan lainnya pada saat jelang pemungutan sangat besar,” lanjutnya.

    Oleh karena itu, Sudarman berharap, aparat dan Panwas dapat bertindak tegas dan mengungkapkan segera pelakunya sehingga dapat memberikan terapi kejut kepada kontestan agar kembali menjaga komitmen dalam pilkada.

    ”Pada akhirnya, komitmen para pasangan calon menjaga perdamaian adalah yang paling penting,” ujar Sudarman.

    Diusut

    Ketua Panwas Aceh Nyak Arif Fadillah Syah mengatakan, Panwas tetap komit untuk mengusut kasus-kasus pelanggaran pilkada. Saat ini ada 37 kasus yang dalam pemberkasan. ”Kasus-kasus itu sedang ditangani di Panwas kabupaten dan kota masing-masing,” katanya.

    Enam dari 37 kasus itu berupa pelanggaran pidana, sisanya pelanggaran administrasi. Pelanggaran pidana umumnya berupa intimidasi dan kekerasan. Tiga kasus di antaranya terjadi di Lhokseumawe.

    ”Kasus administrasi umumnya berupa pelanggaran kampanye yang menyalahi jadwal. Ada juga berupa iming-iming uang yang diberikan kepada masyarakat,” kata Nyak Arif Fadillah Syah.

    Kasus administrasi nantinya akan dilimpahkan ke Komisi Independen Pemilihan, sedangkan kasus pidana dilimpahkan ke kepolisian. ”Kami tak bisa menyebut pelakunya sekarang karena akan menjadi kampanye untuk calon tertentu,” lanjutnya. (HAN)

    Source : Kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Fadel Muhammad Kampanye untuk Zaini-Muzakir

    BANDA ACEH – Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Fadel Muhammad, hari ini akan berkampanye untuk pasangan calon gubernur-wakil gubernur, Zaini Abdullah – Muzakir Manaf. Politisi senior Partai Golkar ini saat ini sudah berada di Banda Aceh. Nanti siang dia akan meluncur ke Lapangan Harapan Bangsa, Lhong Raya, tempat Partai Aceh berkampanye.

    Fadel adalah mantan Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Indonesia Bersatu II. Sebelumnya dia juga adalah Gubernur Provinsi Gorontalo sejak 10 Desember 2001 hingga 22 Oktober 2009. Pada pilkada Gorontalo 2006 yang dilaksanakan pada 26 November 2006, ia memperoleh 81 persen suara. Nilai ini merupakan tertinggi di Indonesia untuk pilkada sejenis dan tercatat di rekor MURI sebagai rekor pemilihan suara tertinggi di Indonesia.

    Tokoh lainnya yang akan tampil kampanye di Banda Aceh untuk Zaini-Muzakir hari ini antara lain adalah Mayjend (Purn) Soenarko yang adalah mantan Panglima Kodam Iskandar Muda. Sejumlah tokoh lainnya dipastikan akan terlibat dalam kampanye hari ini.

    Adapaun pasangan Zaini-Muzakir yang biasanya berkampanye di dua lokasi yang terpisah, dalam kampanye di Banda Aceh, mereka akan bersama tampil di panggung. Saat ini para pendukung dan simpatisan untuk pasangan Zaini-Muzakir dan Partai Aceh mulai berdatangan ke lokasi kampanye yang dirancang menjadi merah warna khas Partai Aceh.[]

    Source : Atjehpost.com

  • Irwandi dan Partai Aceh Dominasi Gesekan Kekerasan

    Banda Aceh-Sampai tanggal 30 Maret 2012, Panwas Aceh telah merilis 37 kasus pelanggaran Pemilukada Aceh. 31 kasus pelanggaran administrasi dan 6 kasus yang mengarah ke pidana.

    Ketua Panwas Aceh, T. Nyak Arif Fadhilahsyah mengatakan, dari sekian kasus yang terjadi terdapat 57 kasus intimidasi Pemilukada 2012 ini.

    “Biasanya terjadi ketika massa kempanye pulang dari orasi. Ada dalam bentuk pelemparan, ketapel, merobek spanduk, membakar mobil, dan pencegahan lainnya,” ujar T. Nyak Arif saat konferensi pers di kantor Panwas Aceh, Senin (2/4).

    Sambung T. Nyak Arif, gesekan intimidasi dan intimidasi yang kerap sekali terjadi hanya pada dua calon gubernur yaitu pasangan nomor dua (Irwandi-Muyan) dan pansangan nomor lima (Zaini-Muzakir).

    “Berdasarkan laporan masyarakat dan anggota Panwas sendiri di lapangan gesekan yang kuat ada pada dua kubu ini,”

    Nyak Arif tidak mengatakan diantara kedua kubu ini siapa yang menjadi korban dan siapa yang menjadi pelaku intimidasi dan kekerasan, karena itu kode etik Panwas Aceh.

    “Kita tidak bisa mengungkapkan siapa yang melakukan banyak pelanggaran karena itu kode etik Panwas,” tukasnya.[003]

    Source : The Globe Journal

  • Irwandi Kritik Program Saingannya

    BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Bekas Gubernur Aceh yang kembali mencalonkan diri dalam pemilihan 9 April nanti, Irwandi Yusuf, berkampanye di Lapangan Merdeka, Kota Langsa, Ahad (1/4) sore. Dalam kampanye di hadapan ribuan pendukungnya, Irwandi mengkritik sejumlah program rivalnya.

    Program rivalnya yang dikritik yaitu program bagi-bagi uang sebesar Rp1 juta kepada setiap kepala keluarga di Aceh yang diusung kandidat dari Partai Aceh. Menurut Irwandi, program itu tidak realistis. “Itu sangat tidak mungkin bisa direalisasikan,” kata Irwandi.

    Seperti diketahui, dalam kampanye di hadapan ribuan pendukungnya di Aceh Tenggara, calon wakil gubernur dari Partai Aceh, Muzakir Manaf, berjanji akan mengelola 70 persen dana bagi-hasil minyak dan gas untuk kesejahteraan rakyat. Muzakir bilang, setiap keluarga akan diberikan Rp1 juta.

    Irwandi bilang, di Aceh saat ini terdapat 1,2 juta kepala keluarga. Jika satu juta dikali 1,2 juta, maka dalam sebulan dibutuhkan anggaran Rp1,2 triliun. “Kalau setahun, maka dibutuhkan dana Rp14,4 triliyun. Sementara dana yang dimiliki Aceh per tahun hanya Rp9,5 triliyun,” ujar bekas juru kampanye Partai Aceh pada pemilu 2009 ini. “Jadi tidak mungkin.”

    Kampanye Irwandi di Lapangan Merdeka juga diisi orasi politik dari bekas Juru Bicar Militer Gerakan Aceh Merdeka Sofyan Dawood, bekas Panglima GAM Aceh Rayeuk Muharram Idris, bekas Juru Bicara GAM di Stockholm Bakhtiar Abdullah, Fauzi Zainal Abidin Tiro (keponakan Hasan Tiro), dan Hasan Umar Tiro (putra Keuchik Umar, panglima GAM Pidie Pertama). []

    Source : Acehkita.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Irwandi Yusuf: Kekerasan di Aceh Seperti Dibiarkan

    TEMPO.CO, Langsa – Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan berbagai tindak kekerasan di Aceh, termasuk yang menimpa tim sukses dan massa pendukung Irwandi sebagai calon gubernur, dilakukan Partai Aceh dan terkesan dibiarkan.

    Menurut Irwandi, pelaku penembakan warga asal Pulau Jawa dan pelaku teror menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah di Aceh sebenarnya sudah diketahui polisi. Tindak kekerasan tersebut dilakukan anak buah Ayah Banta. »Tapi Polda tidak berani menyatakan itu kelompok Partai Aceh dan KPA, juga atas perintah siapa mereka melakukan tindak kekerasan,” kata Irwandi kepada Tempo di Langsa, Jumat dinihari, 30 Maret 2012.

    Irwandi menegaskan berbagai tindak kekerasan yang terjadi selama ini bukan dilakukan oleh orang yang tidak dikenal. Pelakunya jelas, termasuk yang menimpa tim sukses Irwandi di Lhoksukon, Jumat, 23 Maret 2012. Saat itu si pelaku dengan garang menunjukkan wajah dan menyatakan siapa dirinya kepada korban. »Kau lihat muka aku,” ujar Irwandi mengutip ucapan pelaku kekerasan berdasarkan laporan yang diterimanya. Namun si pelaku masih bebas dan tidak ditangkap. ”Kalau seperti ini penegakan hukum, sangat memalukan negara kita ini,” ucap Irwandi pula.

    Irwandi bahkan memaparkan bahwa berbagai tindak kekerasan tersebut bukan terjadi dengan sendirinya melainkan berdasarkan perintah dari atasan. »Ada duduk rapat lagi,” tutur Irwandi.

    Irwandi tak menampik adanya pengarahan Menkopolhukam dan Mabes polri bahwa harus bertindak tegas terhadap pelanggar hukum. ”Saat ini belum tegas, tapi entah besok. Kita tidak tahu,” katanya.

    Sementara itu, juru bicara Partai Aceh, Fakrurrazi, membantah tindak kekerasan itu dilakukan oleh anggota Partai Aceh. ”Itu bukan dilakukan anggota Partai Aceh, tapi oleh simpatisan Partai Aceh,” katanya.

    Fakrurrazi menjelaskan Partai Aceh sudah mengimbau kepada simpatisan dan kader agar tidak bersikap arogan dan anarkistis, serta harus menjaga ketertiban umum.

    Fakrurrazi juga mengatakan tindak kekerasan dan arogan pun dilakukan oleh pendukung partai lain. Namun pemberitaan media selalu mengatakan bahwa pelaku tindak kekerasan adalah Partai Aceh. ”Itu adalah strategi calon lain untuk meraup suara dan itu tidak begitu menarik bagi kami karena kami sedang menggalang dukungan masyarakat yang semakin hari makin meningkat terhadap Partai Aceh,” Kata Fakrurrazi.

    Hari ini, sebuah mobil operasional tim sukses Irwandi-Muhyan, pukul 12.00 WIB, dilempari di Desa Cot Kreut, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen.

    Mobil yang dikemudikan Mulyadi alias si Pe itu dilempari oleh orang yang bersembunyi di balik kebun sawit. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Kepolisian dan Koramil setempat sedang menyisir lokasi kejadian.

    IMRAN MA

    Source : Tempo.co

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Di Langsa, Nazar Janjikan Gaji Geuchik 1 Juta Perbulan

    LANGSA – Calon Gubenur Aceh, Muhammad Nazar, menjanjikan jika dirinya nanti terpilih menjadi Gubenur Aceh periode 2012 – 2017, maka akan menerapkan standar minimal gaji Geuchik di seluruh Aceh sebesar Rp 1 juta perbulan.

    Hal itu disampaikan Nazar ketika melakukan Kampanye dialogis yang dihadiri ratusan kader partai pengusung (Demokrat, PPP, SIRA) serta berbagai elemen masyarakat Kota Langsa, Rabu, 28 Maret 2012, di Rangkang Kupi Kota Langsa. Kampanye dialogis itu juga dihadiri Calon Walikota Langsa yang diusung Partai SIRA, H Jauhari Amin.

    Dikatakan Nazar, pemberian gaji  itu dianggap penting mengingat tugas dan tanggung jawab Geuchik sangat penting dalam pembangunan Aceh. Di hadapan ratusan pendukungnya,  Nazar mengatakan geuchik merupakan ujung tombak dalam proses pelaksanaan pembangunan di Aceh.

    “Mengingat kompleksitas peran geuchik, maka sudah selayaknya pemimpin di tingkat gampong tersebut mendapatkan penghargaan yang lebih layak.

    Jika nanti Allah mengizinkan saya memimpin Aceh, maka kita akan terapkan standar minimal gaji geuchik sebesar Rp 1 juta, sehingga kesejehteraan geuchik akan lebih terjamin dan program pembangunan juga akan lebih sempurna,” kata Nazar.

    Selain akan menerapkan standar minimal gaji geuchik, Muhammad Nazar pada kesempatan tersebut juga mengingatkan kadernya untuk berpolitik dengan santun dan tidak melakukan hal-hal tercela. Karena, kata Nazar, pemilukada merupakan arena politik yang harus dilakoni dengan aman dan damai serta penuh dengan rasa persaudaraan.

    “Kita tidak ingin ada kader kita yang berprilaku tidak baik dalam proses Pemilukada. Karena apa yang kita jalani ini harus berjalan dengan aman dan damai,” lanjutnya lagi.

    Sementara untuk sektor ekonomi, Nazar menjanjikan jika ia terpilih nanti akan membuka lapangan kerja sebesar-sebesarnya, mengatasi angka pengangguran, dan memberdayakan industri-industri produktif seperti padi, kacang kuning, jagung, pabrik ikan, dan pabrik garam.

    Sedangkan untuk pengembangan sumber daya manusia, Nazar menjanjikan beasiswa bagi anak yatim, mahasiswa S1, S2 dan S3. Selain itu, juga akan diberikan bantuan bagi perguruan tinggi, penguatan dayah, dan balai-balai pengajian.

    Dalam kampanye dialogis ini, Nazar tanpa ditemani wakilnya, Nova Iriansyah. Kampanye berakhir pukul 17.00 WIB. []

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Di Kuala Simpang, Zaini Janjikan Pemerintahan yang Bersih dan Jujur

    BANDA ACEH – Kandidat Gubernur dari Partai Aceh, Zaini Abdullah, hari ini, Rabu 28 Maret 2012, melakukan kampanye di Kuala Simpang, Aceh Tamiang.

    Dalam kampanye itu, Zaini tidak ditemani oleh wakilnya Muzakir Manaf karena pada saat yang bersamaan Muzakir juga berkampanye di Matang, Bireuen. Zaini ditemani Muzakir Hamid , salah satu anggota tim suksesnya. 

    Dalam orasi politiknya, Zaini menyampaikan visi dan misi di hadapan massa yang hadir. Zaini juga menjanjikan pemerintah yang bersih dan jujur jika mereka terpilih nanti. Selain itu, ia juga mengatakan andaikan dipercaya menjadi Gubernur Aceh, ia akan mengupayakan peningkatan pendidikan umum dan agama, serta kesejahteraan rakyat.

    “Masa yang memadati lapangan bola Kuala Simpang menjadi bukti sejarah, sebab antusias masyarakat sangat tinggi,” kata Muzakkir Hamid.

    Muzakkir Hamid juga mengatakan kampanye itu turut didukung oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk Persatuan Paguyuban Masyarakat Aceh Jawa (PPMAJ) Kuala Simpang.

    Kampanye juga dimeriahkan dengan penampilan penyanyi Aceh, Yakob Tailah. []

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Muzakkir Manaf: Kita Punya Tanah di Belanda

    Bireuen – Muzakkir Manaf, Calon Wakil Gubernur Aceh yang diusung oleh Partai Aceh (PA), melakukan kampanye di Lapangan Blang Asan, Matang Geulumpang Dua, Bireuen, Rabu (28/3). Pada kesempatan orasi di penghujung acara, Mantan Panglima AGAM ini mengatakan, bahwa Aceh memiliki aset di negeri yang pernah menjajah Aceh yakni Belanda.

    “Kita juga punya tanah di Belanda, ganti tanah pemakaman prajurit Belanda di Banda Aceh. Kelak, tanah-tanah ini akan kita jadikan asset semua rakyat Aceh, bukan asset independen atau sekelompok orang,” ujarnya yang pada kesempatan kampanye kali ini tidak didampingi oleh Zaini Abdullah selaku Calon Gubernur dari Partai Aceh.

    Disamping itu, Muzakkir Manaf  juga berjanji dihadapan ribuan massa PA, jika pasangan ZIKIR menang dalam Pilkada tahun ini maka tanah hibah milik rakyat Aceh yang ada di Arab Saudi akan dikembalikan kepada rakyat Aceh.

    Selain itu, Muallem juga menjelaskan bahwa berkat adanya MoU Helsinki, Aceh akan mempunyai Lembaga Wali Nanggroe. “Kelak lembaga ini akan menjadi tempat berkumpulnya ulama-ulama yang ada di Aceh, pemerintahan akan kita jalankan sebagaimana diatur dalam Islam,” ujarnya.

    Kampanye PA di Ibu Kota Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen ini, dihadiri ribuan massa Partai Aceh, dimulai sekitar jam 14.00 WIB, diawali dengan penyampaian sikap PAN dan PDI-P yang mendukung pasangan ZIKIR, kemudian dilanjutkan dengan orasi Tgk Nasruddin Jeunib, yang merupakan tokoh Partai Aceh di Bireun.

    Turut hadir  dan juga menyampaikan orasi politik memenangkan pasangan ZIKIR dalam kampanye tersebut,  Ketua DPW PA Bireun Darwis Jeunieb, Juru Bicara Partai Aceh Fachrul Razi, Ketua DPD PDI-P Aceh Karimun Usman, perwakilan DPW PAN Aceh, dan Ketua Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA) Tgk. Abu Azis serta kandidat calon Bupati Bireun yang diusung oleh Partai Aceh. Dan sedikit mengejutkan publik pada kesempatan ini hadir  salah satu mantan Gubernur Aceh yakni Abdullah Puteh.

    Untuk menghibur massa, di panggung merah tersebut  tampil juga musisi lokal, yang juga eks kombatan GAM, Imum Jhon, yang menyanyikan beberapa buah lagu bertemakan perjuangan GAM dan Partai Aceh. (Mun)

    Source : Atjehlink.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Kontestan Dilarang Libatkan Anak-Anak dalam Kampanye

    Sigli | Harian Aceh – Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Pidie mengingtkan kepada para kontestan untuk tidak melibatkan anak-anak turut dalam kampanye. Hal itu diungkapkan Humas Panwaslu Pidie, Said Husen kepada Harian Aceh, Senin (26/3).

    “Anak -anak yang tidak memiliki hak pilih dilarang ikut dalam kampanye. Namun yang terjadi di beberapa tempat pada hari pertama dan kedua kampanye, masih terlihat adanya anak-anak diarena kampanye,” kata Said Husen.

    Kata dia, pihaknya setelah melakukan pemantauan dan menanyakan langsung permasalahan ini kepada para kontestan terkait.

    “Berdasarkan hasil investigasi dilapangan, tidak satu pun didapati adanya mobilisasi anak-anak dalam kampanye. Hanya saja mereka ikut karena melihat adanya keramaian. Jadi hal itu sulit dihindari, apalagi kedatangan artis lokal, sehingga menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat terutama anak-anak,” katanya.

    Sementara itu, Ketua Pemenangan Kandidat Pantai Aceh (PA) Pidie, M. Sufi, kepada Harian Aceh, membantah melibatkan anak-anak dalam kampnye di Mila dan Alun-Alun Kota Sigli. Anak-anak yang hadir, kata dia, tidak bisa dihindari karena mereka ikut orang tuanya untuk menyaksikan adanya artis lokal yang hadir saat jeda kampanye.

    “Saya tegaskan bahwa dalam setiap acara kampanye PA tidak pernah memobilisasi anak-anak. Karena itu, jelas dilarang dalam etika berkampanye. Namun ada juga anak-anak yang hadir tidak bisa dilakukan tindakan apapun. Tidak hanya kampanye PA saja, tetapi kampanye kandidat lainya juga demikian. Mari kita sikapi ini dengan bijaksana, jangan ada salah penafsiran terhadap kehadiran anak-anak dalam kampanye, mereka juga ingin menyaksikan keramaian,” ungkap M. Sufi yang akrab disapa Abu Chik ini. (zuk)

    Source : Harian Aceh

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Rekontruksi Politik Aceh

    Pilkada Aceh 2012 bisa dibilang sedang terus “bertarung” untuk menampilkan sisi damainya. Berbagai kekerasan yang terjadi di musim Pilkada Aceh, meski baru sebatas mengganggu ketentraman,  telah menjadi riak yang berpotensi menjadi gelombang, yang berpotensi menjadi tsunami bagi pilkada Aceh kali kedua di era damai Aceh. Jika tsunami kekerasan sampai merusak dan menghancurkan Pilkada Aceh maka Ikrar Pilkada Damai di Mesjid Raya Baiturrahman (14/3) hanya akan menjadi monumen politik kenangan belaka. Bisa-bisa dampaknya akan melemahkan ikatan damai MoU Helsinki.

    Jika saja itu terjadi, harapan dan misi rakyat dan pemerintah serta dunia yang sangat berharap Aceh bisa terus menjadi suri tauladan dalam menjaga dan mengisi perdamaian, termasuk mampu menggelar suksesi kepemimpinan secara damai di Indonesia, tidak kesampaian dan menjadi sia-sia. Bisa dibayangkan bagaimana kecewanya para inisiator, mediator, pendukung, pendorong terwujudnya perdamaian Aceh jika perdamaian Aceh tidak mampu menjadi berkah bagi kemajuan Aceh dan kesejahteraan rakyat melalui kepemimpinan yang kuat.

    Meskipun begitu, tokoh perdamaian Jusuf Kalla tetap yakin bahwa Pilkada Aceh yang akan berlangsung pada 9 April akan sukses. Sikap optimis sang maestro perdamaian  itu disyaratkan manakala semua pihak menjunjung tinggi perjanjian Helsinki. Jusuf Kalla juga yakin bahwa pemerintah akan melakukan upaya terbaik untuk menjaga  keamanan untuk kesuksesan Pilkada Aceh. Lebih lanjut, Jusuf Kalla di acara seminar yang digelar oleh Aceh Sepakat juga yakin Pilkada Aceh sukses karena didukung karakter masyarakat Aceh yang walau tergolong keras tetapi berani bertanggungjawab dan mau membuka diri untuk dialog.

    Meski berbagai gejolak yang terjadi di musim Pilkada baru sebatas mengganggu ketentraman dan tidak bisa dijadikan indikator telah mengganggu perdamaian Aceh tetap saja penting untuk diajukan pertanyaan berikut: “mengapa kekerasan masih saja terjadi dalam Pilkada Aceh. Ada apa? Dan mengapa? Jawabannya, ada empat kemungkinan. Apa saja?

    Pertama, kekerasan memang sengaja dilakukan untuk menakuti lawan politik. Dengan kekerasan lawan politik diharap hilang nyali untuk mendekati rakyat. Cara ini, untuk masa sekarang, rasanya tidak keren.

    Keberadaan media dan pemantau bisa sangat berbahaya bagi pelaku kekerasan. Jika salah satu kandidat pintar merekam bukti dan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sengketa hasil Pilkada maka bisa-bisa MK akan menggagalkan kemenangan karena terbukti melakukan kecurangan secara massal dan terencana.

    Kedua, kekerasan sengaja dibangun dengan memancing amarah lawan politik. Dengan kekerasan yang dialami diharapkan simpati pemilih akan terbangun dan pada saat yang sama akan terbangun kebencian terhadap pihak yang menjadi tertuduh sebagai pelaku. Cara ini lebih masuk akal dalam pertarungan politik yang tidak sehat dan mudah untuk membuat alibi politik.

    Di Indonesia sangat terkenal dengan istilah politik kasihan. Orang-orang yang teraniaya kerap dimenangkan dalam pertarungan politik. Citra sebagai sosok yang dizalimi masih menjadi citra politik yang dipercaya dapat membangun simpati politik.

    Beruntungnya, tuduhan melakukan skenario bisa mudah dibantah dengan satu pernyataan saja “mana mungkin kami menganiaya diri sendiri? Tidak mungkin kami mau mencelakai diri sendiri, mengorbankan milik sendiri apalagi mengorbankan tim sukses atau pendukung……”

    Ketiga, kekerasan tercipta oleh sebab tinggi dan ketatnya kompetisi politik antar kandidat yang melibatkan tim sukses dan pendukung. Kemungkinan ini sangat mungkin karena jalur politik suksesi di Aceh sangat banyak. Jika di nasional hanya ada dua jalur maka di Aceh jalur politik suksesi ada tiga yakni, partai nasional, partai lokal dan perseorangan.

    Banyaknya jalur suksesi membuka ruang yang sangat lebar bagi terjadinya kompetisi yang ketat. Siapa saja, sejauh memenuhi syarat yang ditetapkan KIP Aceh maka otomatis bisa ikut bertarung di Pilkada Aceh. Lemahnya kinerja dalam verifikasi semakin memudahkan siapa saja ikut berkompetisi dalam Pilkada di Aceh.

    Terbukti, pada Pilkada 2012 ada 5 pasangan kandidat yang ikut bertarung di Pilkada provinsi dan lebih kurang ada 137 pasangan kandidat yang ikut bertarung di Pilkada kabupaten/kota.

    Pergesekan bukan hanya bisa terjadi antarcalon tapi juga di soal regulasi dan kinerja lembaga-lembaga terkait Pilkada Aceh serta lemahnya manajemen pemenangan tim sukses.

    Apa yang terjadi dengan Pilkada Aceh yang mengalami beberapa kali perubahan jadwal, adanya perilaku curi start kampanye, dan kacaunya pola komunikasi antar tim sukses menjadi pupuk yang menyuburkan tingkat pergesekan politik yang akhirnya menjadi pemicu timbulnya tindak kekerasan.

    Kemungkinan keempat adalah soal paradigma politik Aceh. Jika paradigma politik para pelaku suksesi di Aceh masih menempatkan Pilkada sebagai alat untuk mencari kekuasaan, kekayaan, kemudahan, dan ketenaran maka politik transaksional akan terjadi.

    Politik transaksi di tengah kompetisi atau persaingan yang ketat namun sangat lemah regulasi dan pengawasan tentu sangat mungkin akan terbangun perilaku mafia politik yang menghalalkan segala cara hanya untuk satu maksud, memenangkan pertarungan.  Di tangan mafia politik sudah pasti tidak ada yang namanya nilai-nilai politik. Jika pun ada maka nilai-nilai itu lebih dipakai sebagai tekanan politik untuk membangun citra kebajikan terhadap dirinya dan pada saat yang sama mengirim pesan negatif bagi pihak lawan politiknya. Di pasar tradisional politik pemilihan maka sangat mungkin berlaku praktek politik formalin untuk menarik pembeli.

    Apa yang bisa dilakukan untuk mengakhiri politik kekerasan atau ketidaktentraman di suksesi Aceh? Jawaban masuk akalnya adalah melakukan rekontruksi politik Aceh. Meski belum cocok untuk dipikirkan saat ini mungkin bisa menjadi catatan di hati untuk digunakan pada waktunya yang tepat.

    Pertama, sangat penting dipikirkan untuk mensederhanakan jalur suksesi Aceh. Cukup dua jalur saja. Bisa lewat jalur partai nasional dan partai lokal atau lewat jalur partai lokal dan jalur perseorangan. Jika pun tetap tiga jalur mungkin penting untuk diperketat syarat pencalonan melalui jalur perseorangan dan memperbaiki proses penjaringan di partai politik.

    Kedua, barangkali juga penting untuk dipikirkan apakah gubernur dan wakil gubernur tetap dipilih langsung oleh rakyat atau cukup melalui pemilihan di DPRA, atau cukup ditunjuk oleh presiden dengan berkonsultasi dengan DPRA. Pilkada dengan demikian hanya dilakukan di tingkat kabupaten/kota. Selama ini, konflik suksesi lebih banyak dipicu di tingkat Pilkada provinsi ketimbang di Pilkada di kabupaten/kota.

    Ketiga, peran lembaga Wali Nanggroe barangkali bisa menjadi penahan awal konflik yang keras dalam suksesi Aceh dengan cara bakal calon hasil seleksi KIP Aceh perlu mendapat persetujuan dari kelembagaan Wali Nanggroe yang bertugas melakukan fit and pro pertest tentang spirit dan etik keacehan termasuk memahami dengan baik tentang MoU Helsinki para bakal calon sebelum ditetapkan sebagai calon.

    Dengan ketatnya syarat kepemimpinan diharapkan mereka yang terpanggil jiwanya untuk menjadi pemimpin sudah mempersiapkan diri sejak dini lahir batin. Selebihnya,  Pilkada lebih sebagai proses seleksi untuk kemudian bertarung di pilihan rakyat. Selama ini, keikutsertaan tidak sepenuhnya karena panggilan jiwa kepemimpinan. Demokrasi memang tidak mempersoalkan siapa saja yang boleh layak menjadi pemimpin. Siapa yang terpilih dengan suara terbanyak maka dialah yang jadi pemimpin. Meski begitu, pengetahuan kepemimpinan mengajarkan kepada kita bahwa menjadi pemimpin untuk saat ini adalah pilihan sadar yang prosesnya tidak instan.

    Dalam konteks Aceh, apa yang sudah dicapai oleh Aceh saat ini, bukanlah buah dari mereka yang memiliki privilese, atau mereka yang lahir dari kemewahan monarkhi. MoU Hensinki, dengan semua kandungannya, adalah hasil dari kesadaran para alumnus  “universitas Aceh” yang kurikulumnya memang sulit dan keras dan merekalah para pemimpin yang hasil dari kepemimpinan itu juga diklaim sebagai hasil bersama oleh berbagai pihak di Aceh.

    Apakah dengan begitu tidak semua orang Aceh berhak menjadi pemimpin? Rumusan pernyataan yang lebih tepat adalah siapa saja rakyat Aceh yang memiliki kesadaran keacehan dan mempersiapkan dirinya untuk menjadi pemimpin bagi pemajuan Aceh, memakmurkan rakyat Aceh dengan tetap menjaga martabat keacehan maka mari berlomba-lomba untuk dipilih oleh rakyat Aceh dalam Pilkada Aceh yang damai.

    Untuk saat ini, menghadapi Pilkada 9 April, semua pihak sangat penting untuk terus menghimbau semua kandidat untuk berlaku tenang, jangan gabuk, tidak putus asa sehingga melakukan trik dan strategi yang tidak terpuji. Tenang saja, dan biarkan rakyat menggunakan kesempatan yang ada untuk menentukan pilihannya dengan tenang.

    Semua pihak penting membantu memberi energi positif kepada semua kandidat dan bersedia menyediakan waktu untuk membantu kandidat yang berpotensi emosional dengan pendekatan psikologi, agama, dan budaya agar tidak menjadi faktor perusak. Menenangkan mereka yang berpotensi merusak juga menjadi ibadah yang berguna karena sudah mencegah terjadinya potensi kekacauan yang meluas dan merusak. []

    RISMAN A. RACHMAN

    Source : Atjehpost.com