siwah.com

Tag: pemilukada

  • Baliho Irwandi Dibakar, Timses Darni Diancam

    SUBULUSSALAM – Baliho bergambar pasangan kandidat gubernur/wakil gubernur Aceh Irwandi-Muhyan di Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Minggu (4/3) dini hari, dibakar oleh orang yang belum teridentifikasi. Sementara Edy Suhendri, Ketua Tim Sukses (Timses) pasangan Darni-Ahmad Fauzi, Subulussalam, mendapat surat kaleng berisi ancaman terhadap keselamatan jiwanya.

    Tim sukses Irwandi-Muhyan, Ishak Munthe alias Gadis (35) yang dikonfirmasi Serambi mengatakan, baliho yang dibakar itu terpajang di depan Seuramoe Irwandi-Muhyan, di Kecamatan Sultan Daulat Jalan Subulussalam-Tapaktuan Desa Gunung Bakti.

    Ishak yang juga mantan kombatan GAM ini, memperkirakan peristiwa pembakaran baliho tersebut terjadi sekitar pukul 02.00 WIB. “Kejadiannya sekitar pukul 02.00 WIB, tapi baru kami ketahui paginya,” kata Gadis yang juga dikenal dengan sebutan Tengku Tualang itu.

    Mantan juru bicara GAM wilayah Aceh Singkil ini mengaku saat kejadian tersebut, Seuramoe hanya dihuni istrinya Ny Iarti (30) bersama anak-anaknya. Namun, saat kejadian, Ny Iarti baru mengetahui sekitar pukul 06.00 WIB. Peristiwa pembakaran ini pun telah dilaporkan kepada pihak kepolisian setempat, termasuk kepada Danramil dan Camat Sultan Daulat.

    Masih di Subulussalam, Ketua Tim Sukses Cagub/Cawagub Aceh, Darni M Daud-Ahmad Fauzi, Edy Suhendri mendapat surat kaleng berisi ancaman. Surat bertulis tangan tanpa identitas dan amplop tersebut, dikirim di rumah Edy Desa Gunung Bakti, Kecamatan Sultan Daulat sekitar pukul 02.00 WIB.

    Surat tersebut diletakkan di depan kaca mobil operasional Timses Darni jenis Toyota Avanza BK 1724 JY. Mobil tersebut biasa diparkir di halaman rumahnya. “Waktu saya mau menyalakan mobil nampak ada surat dan isinya bernada ancaman,” kata Edy.

    Edy juga mengaku sudah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti. Terhadap masalah ini, Edy berharap agar tidak ada pihak-pihak yang melakukan aksi berupa ancaman atau intimidasi baik antar tim sukses maupun kepada masyarakat.

    Edy sendiri tidak mau berspekulasi terkait pelaku pengirim surat ancaman tersebut. “Tapi saya mengimbau siapapun pelakunya hendaknya jangan ada lagi kejadian serupa, marilah berjuang secara sehat merebut hati masyarakat tanpa kekerasan dan intimidasi.(kh)

    Source : Serambi Indonesia

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • “Mengapa Hanya Saya”

    BANDA ACEH – Calon gubernur Aceh dari jalur perseorangan, Prof Dr Darni M Daud MA mempertanyakan sikap panwas yang terkesan sangat ngotot mempersoalkan dirinya.

    “Mengapa cuma saya yang dipersoalkan oleh panwas. Padahal banyak juga PNS dari dosen dan dekan Unsyiah yang maju dalam pilkada kali ini sebagai bupati, wali kota, dan wakil bupati di sejumlah kabupaten/kota di Aceh. Sedangkan untuk calon gubernur, selain saya ada juga seorang lagi dari dosen Unsyiah. Saya menilai panwas tidak adil dalam hal ini,” kata Darni Daud kepada Serambi menanggapi informasi yang dilansir Ketua Panwas Aceh terkait belum mundurnya Darni dari jabatannya sebagai Rektor Unsyiah.

    Menurut Darni, semua calon kepala daerah dari kalangan dosen dan dekan Unsyiah tidak mundur dari jabatan fungsionalnya sebangai dosen maupun tugas tambahan sebagai dekan. Kalau pun ada, hanya meminta nonaktif sementara.

    “Saya tahu karena saya sendiri yang keluarkan surat itu, kecuali seorang calon gubernur yang masih tercatat sebagai dosen di Unsyiah yang tidak meminta surat nonaktif. Kenapa calon yang terakhir ini tidak dipersoalkan. Makanya persoalan saya ini saya serahkan saja kepada Allah SWT,” ujar Darni.

    Darni mengaku sudah mengajukan surat permohonan penguduran diri sementara dari Rektor Unsyiah kepada Dirjen Dikti dan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas).

    Dia menjelaskan, sesuai Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 9 Tahun 2001 dalam pasal 2 dinyatakan, dosen adalah PNS yang diangkat oleh pejabat yang berwenang dalam jabatan fungsional untuk menjalankan tugas tridarma perguruan tinggi.

    Selain tugas tridarma, dosen dapat diberi tugas tambahan perguruan tinggi sebagai rektor, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, ketua sekolah tinggi, pembantu ketua sekolah tinggi, dan direktur politeknik. “Tugas tambahan tersebut bukan jabatan struktural,” katanya.

    Selanjutnya, kata Darni, kalau sudah terpilih dan dilantik berlaku ketentuan PNS yang diangkat menjadi pejabat negara. Jika tidak terpilih bisa dipekerjakan kembali pada instansi semula, karena dosen bukan jabatan struktural tetapi fungsional yang tugas tambahan melekat pada jabatan fungsionalnya.

    Darni juga merasa aneh karena panwas menyatakan sudah dua kali menyurati dirinya untuk dipanggil terkait masalah ini. Menurut Darni, baru sekali menerima surat panggilan dan langsung memenuhinya. “Mungkin saja ada dikirim tapi tidak sampai. Seharusnya panwas tidak boleh mempublis ke media dulu tentang surat panggilan itu, tetapi lebih elok kan ditanya dulu sama saya, apa ada menerima surat atau tidak,” demikian Darni Daud.(sup)

    Source : Serambi Indonesia

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Soal Kejujuran

    MUNDUR dari jabatan struktural atau fungsional bagi seorang PNS yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah dari jalur partai maupun perseorangan telah diatur dalam pasal 59 UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Juga Peraturan KPU Nomor 13 Tahun 2010 dan Peraturan Badan Kepegawaian Negara Nomor 10 Tahun 2005.

    Misalnya untuk calon yang menggunakan jalur perseorangan, pengunduran dirinya diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2008 pasal 59 ayat 5a huruf e). Hal yang sama juga berlaku bagi calon yang maju lewat parpol, Kalau ia berstatus sebagai PNS, TNI, dan Polri yang masih menjabat sebagai pejabat struktural dan fungsional juga harus mundur.

    Jadi, tidak ada alasan lagi bagi seorang PNS, yang menjabat jabatan struktural maupun fungsional tidak mengundurkan diri dari jabatannya pada saat ia mendaftar sebagai calon kepala daerah/wakil kepala daerah. Untuk masalah ini, kita kembalikan  kepada kejujuran seorang calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang ikut pilkada, selanjutnya kepada lembaga penyelenggara dan pengawas pilkada untuk menyikapinya secara hukum.

    Mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, saat masih menjabat Gubernur Aceh, semua pejabat di jajaran Pemerintah Aceh yang ikut pilkada telah digantinya. Termasuk pasangannya sendiri, Muhyan Yunan yang sebelumnya menjabat Kadis Bina Marga dan Cipta Karya Aceh.

    * M Jakfar SH MHum, mantan Ketua KIP Aceh. (her)

    Source : Serambi Indonesia

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Panwas: Darni belum Mundur

    BANDA ACEH – Panitia Pengawas (Panwas) Pilkada Aceh kembali mempersoalkan pencalonan Prof Dr Darni M Daud MA sebagai calon gubernur Aceh pada Pilkada 2012 karena dinilai belum memenuhi ketentuan sebagaimana disyaratkan peraturan perundang-udangan.

    “Hingga saat ini Darni belum menyatakan secara tegas mundur dari jabatan fungsionalnya sebagai Rektor Unsyiah. Ia baru sebatas menyatakan kesanggupan mundur dari jabatannya sebagai rektor bila terpilih sebagai pejabat negara,” kata Ketua Panwas Aceh, Nyak Arief Fadillahsyah, Senin (5/3).

    Menurut Nyak Arief, pihaknya sudah menyampaikan surat kepada KIP tentang koreksi terhadap surat pernyataan mundur yang disampaikan Prof Dr Darni M Daud MA kepada atasannya, Dirjen Dikti/Kasubbag Hukum Kemendagri.

    “Pada 9 Februari 2012 kami melakukan penelusuran ke Dirjen Dikti/Kasubbag Hukum Kemendagri, Bapak Suwitno selaku atasan langsung Darni M Daud. Di sana didapatkan keterangan bahwa yang bersangkutan (Darni Daud) sampai dengan 9 Februari 2012 baru sebatas menyampaikan surat pemberitahuan kesanggupan mengundurkan diri dari tugas tambahan sebagai rektor jika terpilih sebagai kepala daerah,” kata Arief Fadillahsyah kepada Serambi, Senin (5/3) usai rapat persiapan Deklarasi Pilkada Damai Aceh dengan Pj Gubernur Aceh, Kapolda, Pangdam, Kajati, dan KIP di ruang rapat Gubernur Aceh.

    Pernyataan yang sama juga disampaikan Arief kepada wartawan seusai menghadiri rapat koordinasi dengan KIP Provinsi dan kabupaten/kota di Media Center KIP Aceh, kemarin.

    Pihak Panwas Aceh tetap bersikukuh bahwa surat yang disampaikan Prof Dr Darni M Daud MA itu belum sesuai isi pasal 59 ayat 5a huruf e) UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

    Dalam pasal 59 ayat 5a huruf e) dijelaskan, calon perseorangan pada saat mendaftar wajib menyerahkan; surat pernyataan mengundurkan diri dari jabatan negeri bagi calon yang berasal dari PNS, anggota TNI, dan anggota Polri. Aturan yang sama juga dijelaskan dalam Peraturan KPU Nomor 13 Tahun 2010 pasal 15 ayat 2 huruf f).

    Selain itu, dalam Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 10 Tahun 2005 pasal 1 ayat 2, yang dimaksudkan jabatan negeri adalah jabatan struktural dan jabatan fungsional pegawai negeri sipil termasuk PNS yang diangkat sebagai pejabat negara tertentu. Jabatan rektor masuk di dalamnya. “Karena itu Prof Dr Darni M Daud MA yang telah mendaftarkan dirinya kepada KIP sebagai calon gubernur Aceh wajib membuat surat pernyataan mudur dari jabatan rektornya,” tandas Arief.

    Panwas berharap proses pencalonan Darni dapat berjalan sesuai aturan yang ada. “Untuk itu kami meminta agar rekomendasi panwas dapat ditindaklanjuti oleh KIP,” demikian Nyak Arief.(her/sar)

    Source : Serambi Indonesia

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Terapkan Kampanye Cerdas, Mawardi – Illiza Targetkan 75 Persen Suara Perempuan

    BANDA ACEH – Pasangan kandidat wali kota-wakil wali kota Banda Aceh, Mawardy Nurdin dan Illiza Saaduddin Djamal, optimis mampu merebut kembali hati masyarakat Banda Aceh pada 9 April mendatang. Indikasi ini dilihat dari sikap antusias dan semangat masyarakat yang menginginkan pasangan  kandidat ini agar kembali memimpin Banda Aceh.

    Hal itu dikatakan Arif Fadillah, Ketua Tim Pemenangan Mawardi – Illiza kepada The Atjeh Post, Jumat 2 Maret 2012. Menurut Arif masyarakat sekarang sudah cerdas.

    “Dalam menentukan pilihan mereka lebih melihat pada bukti-bukti maupun visi misi kandidat itu sendiri. Karena itu untuk mendapatkan hati mereka tidak perlu lagi dilakukan dengan cara-cara yang tidak etis,” ujarnya.

    Lebih lanjut Arif mengatakan bila masih ada yang berusaha mendapatkan suara rakyat dengan cara politik uang atau membagi-bagikan sembako itu tak lain adalah upaya pembodohan masyarakat itu sendiri. “Dalam kampanye modern cara-cara seperti itu sudah lama ditinggalkan. Masyarakat jangan mau dibodoh-bodohi lagi dengan cara diberi sembako atau uang,” katanya.

    Mengenai hal itu, kata Arif, timnya akan menerapkan pola kampanye cerdas dan santun, yaitu dengan tidak melakukan intimidasi dan politik uang. “Karena politik itu sendiri merupakan bagian dari pendidikan masyarakat,” ujarnya.

    Bila pada periode sebelumnya pasangan Mawardi – Illiza menaruh fokus pada perbaikan infrastruktur, kata Arif, maka untuk kali ini mereka menaruh perhatian serius pada sistem pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan.

    Misalnya, kata Arif, dengan memberikan kemudahan dalam modal usaha untuk home industri. Berkaitan dengan hal ini sejak periode lalu Mawardi Nurdin sudah menghapuskan retribusi pelayanan perizinan bagi masyarakat Banda Aceh. “Terobosan ini sangat menguntungkan masyarakat, karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya apa-apa untuk pengurusan izin usaha mereka seperti SIUP dan SITU,” ujarnya.

    Begitu pula dengan optimalisasi peran perempuan. Untuk memperkuat peran perempuan dalam pembangunan kota, sebelumnya pasangan ini telah merintis terbentuknya Balee Inong. Fungsi Balee Inong ini penting dalam membentuk Musrena atau Musyawarah Rencana Kerja Perempuan, sebagai penjaringan aspirasi perempuan di kecamatan.
    Gagasan-gagasan yang dirumuskan dalam Musrena ini akan dibawa ke Musrembang (Musyawarah rencana pembangunan). “Sehingga hak-hak suara perempuan dalam pembangunan tidak terabaikan.”

    Mengenai suara perempuan, pasangan ini optimis menargetkan 75 persen suara akan mereka raih. Angka yang sama juga ditetapkan untuk total daftar pemilih tetap dari 160 ribu pemilih di Kota Banda Aceh.

    Untuk mengegolkan Mawardi – Illiza hingga kini, kata Arif, setidaknya mereka memiliki seribu orang anggota tim sukses yang siap terjun. Dari jumlah tersebut 200 orang terpusat di Anjongan Mawardi – Illiza yang ada di Jalan P. Nyak Makam, Lambhuk. Sedangkan 900 lainnya tersebar di sembilan kecamatan di Banda Aceh dengan masing-masing kecamatan menyiapkan 100 orang. “Jumlah ini belum termasuk dengan jumlah relawan dan simpatisan yang terdiri dari profesional, paguyuban, dan mahasiswa,” kata Arif.[]

    Source : Atjehpost.com

  • Muzakir Manaf Siap Perbaiki Ekonomi Aceh

    GAYO LUES – Ketua Partai Aceh Muzakir Manaf mengatakan, dirinya sangat mengenal kondisi masyarakat di Gayo Lues, karena dimasa lalu dirinya sering menjelajahi wilayah ini.

    “Saya tahu bagaimana kondisi masyarakat Gayo Lues, miskin dan susahnya, Ini akan menjadi PR apabila Zikir terpilih nanti,” kata Muzakir Manaf kepada rakyat Gayo Lues pada Deklarasi pemenangan Calon Gubernur/wakil Gubernur Zaini Abdullah- Muzakir manaf, serta Bupati/wakil bupati Gayo Lues Irmawan Yudi Candra di Lapangan SD 1 Pusat kota Blang Kejeren, Gayo Lues, senin (27/2).

    Dikatakan Mualem, sapaan Muzakir, sedikitnya prioritas jangka pendek pertama yang harus dilakukan   dengan memperbaiki ekonomi masyarakat, sebab pengalaman di beberapa negara kemiskinan dapat menghalalkan segala cara.

    “Kalau ekonomi kita buruk semua bisa dihalalkan,” lanjut Mualem.

    Disebutkan, dana otsus Aceh yang mencapai 2 trilyun pertahun, seharusnya setiap keluarga bisa memperoleh minimal 500 ribu per bulan. “Ini program Jangka Pendek, makanya mari kita bersama dibawah PA,” katanya.

    Mantan Panglima GAM ini juga menguraikan beberapa program yang telah di kerjakan Partai Aceh melalui Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), seperti Bandara Iskandar muda yang kinibisa disinggahi langsung oleh pesawat luar negeri. “Sekarang pesawat dari luar negeri bisa langsung mendarat di Aceh, tidak perlu melalui Medan lagi. Begitu PP Sabang yang sudah selesai, ini sebuah kemajuan,” jelasnya.

    Muzakir juga meminta kepada masyarakat untuk memberi dukungan  kepada PA untuk menyelesaikan Qanun dan PP hingga tahun 2013 mendatang.[]

    Source : Atjehpost.com

  • JKA Versi Muzakir Manaf

    GAYO LUES – Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang sudah berjalan sekarang bukan pekerjaan orang perorang, tetapi hasil perjuangan PA di DPRA. Kalau selama ini kita melihat JKA seakan dimiliki oleh seorang saja, maka itu pembohongan yang luar biasa.

    “Pelayanan kesehatan Aceh itu di dukung oleh Partai Aceh DPRA, maka lahirlah pengobatan gratis,” kata Muzakir Manaf pada Pidato khususnya di depan ribuan simpatisan Partai Aceh di Lapangan SD 1, Kota Blang Kejeren, Gayo Lues, senin (27/2).

    Namun diakui Muzakir kalau sekarang keadaannya sudah berubah jauh, karena harapan pelayanan yang dimaksud tidak tercapai. “Banyak obat-obatan JKA yang kadaluarsa,” katanya.

    Ke depan, PA akan berjuang untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. Diakuinya, kalau selama ini orang Aceh lebih banyak berobat ke Penang, maka ke depan Dokter Penang yang kita bawa ke Aceh. “Dokter dari Penang akan bekerjasama dengan dokter kita di sini,” ujar Mualem.

    Pelayanan kesehatan ini, kata Mualem, juga menjadi prioritas jangka pendek Partai Aceh. “Kita ingin menjadikan rumah sakit di seluruh kabupaten/kota punya kualitas yang sama sehingga masyarakat tidak perlu ke Banda Aceh lagi, tapi cukup di daerah masing-masing.”[]

    Source : Atjehpost.com

  • Ini Kata Muzakir Manaf Jika Menangkan Pilkada Aceh

    BANDA ACEH  – Ketua Umum Partai Aceh Muzakir Manaf yang saat ini mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Aceh mendampingi calon Gubernur Zaini Abdullah mengatakan akan menyambung dan memperbaiki beberapa program yang belum dapat dirasakan langsung untuk masyarakat.

    Dia mengatakan, program-program yang dinilainya bagus dan bermanfaat untuk masyarakat akan tetap berlanjut. Selain itu, dia akan mempertajam program-program lain yang bermanfaat langsung bagi masyarakat Aceh.

    “Seperti sektor pertanian,  banyak kendala di lapangan di mana rakyat tidak memiliki irigasi untuk pertaniannya,” kata Muzakir Manaf kepada The Atjeh Post di Kantor Pusat Partai Aceh, Rabu 22 Februari 2012.

    Selain itu, kata Muzakir, dia bersama Doto Zaini (Zaini Abdullah) juga akan memperbaiki sejumlah sektor lainnya seperti pendidikan, perindustrian, dan perkebunan. “Diharapkan nantinya masyarakat dapat memperoleh penghasilan dari sektor perkebunan,” katanya.

    Selain itu, Muzakir berencana mengupayakan para investor menanamkan modalnya di Aceh. “Asean, PIM II, dan KKA akan kami usahakan untuk dihidupkan lagi, agar masyarakat Aceh memperoleh lapangan pekerjaan,” ujarnya.

    Jika pabrik-pabrik itu hidup, Muzakir menambahkan, dirinya akan memprioritaskan orang Aceh yang menjadi pekerja di perusahan-perusahaan itu. “Putra daerah harus dipruorutaskan bekerja di situ,” ujarnya. []

    Source : Atjehpost.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Tiga Amanah Hasan Tiro untuk Rakyat Aceh

    Sigli- Tiga amanah Teungku Hasan di Tiro sebagai hak rakyat Aceh. Amanah itu meliputi pendidikan, kesehatan, dan rumah. Demikian sebut Calon Gubernur Irwandi Yusuf melakukan konsolidasi dan silaturrahmi dengan Bekas Tentara Negara Aceh (TNA) angkatan dan pejuang GAM angkatan 76 beserta keluarga Alm. Tgk. Hasan Tiro di Pidie, Rabu (22/2).

    Dalam acara yang dihadiri oleh Muhyan Yunan (pasangan cawagub Irwandi) dan sejumlah mantan panglima wilayah GAM di Gedung Olah Raga Pidie serta sekitar 708 orang (berdasarkan absensi).

    Pada acara tersebut perwakilan ulama, GAM angkatan 76, dan keluarga alm.tgk.Hasan Tiro turut memberikan sambutan, Mantan GAM angkatan 76, Tgk.Hanafiah Pasi Lhok mengingatkan apabila terpilih Irwandi haruslah meneruskan program yang berpihak kepada rakyat. Menurut Hanafiah, pendidikan rakyat harus mendapat perhatian khusus untuk ditingkatkan.

    “Kami juga berharap Irwandi dapat meneruskan perjuangan, untuk rakyat Aceh.”

    Dalam sambutannya Irwandi mengajak mantan kombatan untuk terus bersatu dan tidak mau dipecah belah oleh alasan politik.

    “Politik ini hanya sesaat, jangan gara-gara politik kesatuan dan kekompakan kita pecah, apapun pilihan politik yang terpenting mantan kombatan tetap bersatu, kita tetap bersaudara,” ajak Irwandi dalam pernyataan tertulis kepada The Globe Journal, Rabu(22/2).

    Dia juga meminta para mantan kombatan untuk melawan semua intimidasi dan teror yang dilakukan orang-orang yang hendak memecah-belah kekompakan. Mantan kombatan juga harus menjadi pemberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat Aceh dalam pilihan politiknya.

    Irwandi menegaskan,dirinya naik kembali sebagai calon pemimpin Aceh bukan karena keinginannya, tapi karena keadaan dan atas dukungan mantan panglima wilayah dan mantan kombatan GAM. “Dari tahun 2006 saya juga tidak berambisi jadi Gubernur, namun karena izin Allah dan keadaan yang mengatarkan saya jadi pemimpin di Aceh.”

    Menurut Irwandi, kalau kedepan terpilih lagi, maka akan melanjutkan program-program yang sudah berjalan seperti selain akan memberlakukan pendidikan gratis sampai tingkat SMA, dan juga akan membuat program stimulus perbaikan ekonomi bagi masyarakat

    miskin malalui program gratis abonemen listrik 2 amper bagi mas????arakat miskin.[003]

    Source : The Globe Journal

  • Tiada Kesombongan di Kantor Partai Aceh

    BANDA ACEH – Ruko tingkat tiga itu berwana merah, garis hitam putih menjadi ciri khasnya. Terletak di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah, pusat kota Banda Aceh, tempat ini sejak pagi sudah berseliweran pengunjung. Beberapa kendaraan roda dua dan empat teparkir di depannnya. Bebera bendera mengelilinginya. Inilah kantor pusat Partai Aceh. Sebuah partai terbesar di Aceh, pemenang Pemilu yang lalu.

    Ketika The Atjeh Post tiba di sini, di dalam kantor sejumlah mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berada di sini. Mereka memang sudah terjun ke dunia politik, dan Partai Aceh adalah satu-satunya partai yang memberi wadah yang luas buat mereka. Kendati demikian, Partai Aceh kini juga telah membuka ruang politik untuk masyarakat di Aceh. “Siapa saja boleh berpolitik di Aceh, tak ada batasan suku. Asalkan berada di Aceh dan berfikir untuk kemajuan masyarakat Aceh,” kata Muzakir Manaf, Ketua Umum Partai Aceh.

    Ketika memasuki Kantor Pusat Partai Aceh, terlihat beberapa orang staf dan tenaga keamanan di ruang depan. Sejumlah tamu lainnya mengantre menunggu kesempatan masuk ke dalam kantor.

    Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan untuk mewawancarai sejumlah kegiatan Tim Pusat Partai Aceh menjelang Pilkada. Dengan wajah ramah, staf keamanan di situ langsung menyerahkan badge tamu (tanda pengenal) dan mengantarkan The Atjeh Post ke lantai II kantor. Di antar sampai bertemu dengan  Kamaruddin Abubakar yang akrab disapa Abu Razak. Abu Razak adalah Ketua Tim Pemenangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, elit Partai Aceh yang menjadi kandidat Gubernur-Wakil Gubernur Aceh.

    Saat berjalan menuju lantai II kantor itu, terlihat juga beberapa orang sedang berbincang-bincang di ruang pertemuan atau ruang rapat di lantai I. Sejumlah foto-foto terpampang di salah satu bagian dinding lantai I Kantor Pusat Partai Aceh itu. Salah satunya adalah foto Wali Nanggroe Hasan di Tiro yang adalah pencetus berdirinya Gerakan Aceh Merdeka. Terdapat lambang besar Partai Aceh dibawah foto itu, yang diapit dua bendera Merah Putih dan bendera Partai Aceh.

    Saat tiba di Lantai II, beberapa staf keamanan juga terlihat berjaga-jaga. Beberapa staf lainnya sibuk mengurusi segala kebutuhan administrasi menjelang Pilkada. The Atjeh Post pun dipersilahkan menunggu sesaat dikarenakan ada tamu yang sedang bertemu dengan Ketua Tim Pemenangan Pusat Partai Aceh.

    Sembari menunggu, The Atjeh Post berbincang-bincang dengan salah seorang staf kantor itu. Mereka mengaku memiliki staf berjumlah 15 orang yang mengurus segala urusan adminintrasi, dengan tenaga keamanan yang berjumlah 6 orang setiap harinya yang menjaga kantor itu. “Untuk keamanan yang jaga 3 di bawah dan tiga diatas,” kata Wakil Sekretaris Pengurus Pusat Partai Aceh Dahlan kepada The Atjeh Post, Rabu 22 Februari 2012.

    Selain mengurusi adminitrasi Partai Aceh, Dahlan mengaku bersama tim lainnya mengurusi sejumlah tanda pengenal relawan yang ingin mejadi tim kampanye dan tim pemenangan Partai Aceh. “Kami sudah mengeluarkan tanda pengenal berjumlah ribuan,” kata Dahlan. “Setiap hari ada saja yang terus berdatangan dan ingin menjadi relawan.”

    Selang beberapa saat, tamu di dalam ruangan Ketua Tim Pemengan Partai Aceh pun keluar dan The Atjeh Post dipersilahkan masuk untuk mewawancarai Abu Razak. Ada dua buah sofa dan beberapa kursi di dalam ruangan Abu Razak.

    Disela-sela wawancara, beberapa orang staf masuk dan menyatakan ada beberapa tamu lainnya yang ingin bertemu dengan Abu Razak. The Atjeh Post pun langsung menanyakan beberapa poin pertanyan yang diperlukan untuk bahan berita. Di saat wawancara itu, tiba-tiba muncul Muzakir Manaf yang disapa Mualem langsung memasuki ruangan itu dan menyalami beberapa orang yang ada di dalam ruangan Abu Razak.

    “Silahkan, lanjut terus,” kata Mualem sembari tersenyum.

    Sembari mewawancarai Abu Razak, The Atjeh Post juga sempat mengajukan beberapa pertanyaan ke Mualem, namun dikarenakan banyaknya tamu yang ingin bertemua dengan Abu Razak dan Mualem, akhirnya The Atjeh Post memutuskan tidak melanjutkan wawancara lagi.

    Akhirnya, The Atjeh Post izin pamit kepada Abu Razak dan Mualem. “Mualem kalau dia ada di Banda Aceh sering datang kemari untuk memberikan arahan dan petunjuk,” kata seorang staf Kantor Pusat Partai Aceh di ruang administrasi yang berdekatan dengan ruang Abu Razak.

    Ketika The Atjeh Post turun, beberapa pengurus Pusat Partai Aceh sedang melakukan pertemuan di ruang rapat di lantai I kantor itu. Terlihat diantaranya Juru Bicara Partai Aceh Fakhrul Razi, Ketua Tim kampanye Pusat Partai Aceh Azkia Abubakar, serta beberapa pengurus pusat Partai Aceh lainnya.
    Sementara di ruang depan, sejumlah tamu juga semakin ramai yang berdatangan.

    “Mereka sejumlah masyarakat yang berdatangan dari berbagai daerah untuk menjadi relawan tim pemenangan Partai Aceh,” kata salah seorang tenaga keamanan Kantor Pusat Partai Aceh Diansyah kepada The Atjeh Post.

    Dian mengaku, setiap harinya puluhan tamu  berdatangan dari berbagai daerah di Aceh. “Para tamu yang datang kemari kebanyakan untuk menjadi relawan Partai Aceh,” ujarnya.

    Setelah berbincang sesaat dan mengambil foto-foto, akhirnya The Atjeh Post pamit. Ternyata mereka-mereka yang dulunya pemanggul senjata, juga memiliki kemampuan berpolitik dan administrasi kepengurusan partai seperti para tokoh-tokoh politik partai naional di Aceh. Mereka ramah dan bersahabat. Berbicara santun, tak ada aroma kesombongan dan jumawa di sini.