Di Balik Kejatuhan Ekonomi AS dan Eropa

Dari status sebagai kekuatan ekonomi global sejak Perang Dunia II, Jepang berubah menjadi negara yang terjebak resesi sejak 1980-an sampai kini. Dampaknya, Jepang bertahan dengan tumpukan utang yang sudah mencapai 200 persen dari produk domestik bruto.

Pada dekade 2000-an, Eropa dan AS menyusul dengan pertumbuhan yang sulit mencapai 3 persen per tahun. Sama seperti Jepang, Eropa dan AS juga terjebak timbunan utang, yang melebihi 100 persen. Lembaga pemeringkat Fitch menyatakan, porsi utang yang aman adalah 72 persen dari PDB. Pakta Stabilitas dan Pertumbuhan (SGP) Uni Eropa menegaskan agar utang dijaga pada batas maksimum 60 persen dari PDB.

Dampaknya, AS, Eropa, dan Jepang setiap hari didera gejolak bursa serta surutnya kepercayaan konsumen dan korporasi. Dengan dunia yang tersambung, goyangan di AS, Jepang, dan Eropa ini menggoyang seantero negara lain lewat jalur keuangan, perbankan, bursa saham, perdagangan, dan kepanikan pasar. Inilah yang membuat Australia, China, dan Jerman (karena merupakan kekecualian) berang. Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde juga secara implisit berang dan meminta semua negara yang terlilit utang mengatasi masalahnya agar tidak mengimbas dunia lain.

Ikon ekonomi

Ironisnya, semua negara itu pilar ekonomi pasar. AS, misalnya, adalah pilar utama laissez-faire. Pertanyaannya, mengapa semua negara ini gagal? Mengapa fondasi kekuatan ekonomi global masa lalu ini menjadi tontonan dunia dengan kemelut utang diiringi pertikaian politisinya?

”It’s the demography, stupid” demikian tulisan Chrystia Freeland dari kantor berita Associated Press, edisi 2 Agustus. Kawasan terjerembap utang itu kini memiliki penduduk yang menua, yang produktivitasnya sudah anjlok, dan membuat marah warga muda karena dipaksa merelakan gaji dipajaki tinggi demi membiayai the aging population.

AS yang terkenal dengan generasi baby boomers kini juga terkulai dengan penduduk yang menua, ditandai dengan penduduk seusia mantan Presiden AS Bill Clinton. Untuk membiayai penduduk usia tua itu, AS harus mengalokasikan dana 3,3 triliun dollar AS, yang membuat negara ini tertimpa utang.

Pakar ekonomi politik, Nicholas Eberstadt, melakukan riset intensif soal penduduk yang menua ini. ”Biaya yang harus dialokasikan terkait penduduk yang menua ditaksir mencapai setengah dari total utang negara di negara-negara OECD dalam 20 tahun terakhir,” kata Eberstadt. OECD adalah singkatan dari Organisation for Economic Cooperation and Development.

Melanggar rambu-rambu

Ali Alichi, ekonom IMF, mengatakan, para penduduk tua relatif enggan membayar utang dan ini mengancam status utang negara.

Namun, keadaan diperburuk perseteruan politisi di AS dan Eropa. Majalah The Economist edisi 31 Juli menyatakan prihatin dengan politisi yang sibuk memanjakan konstituen dengan janji-janji subsidi walau dengan konsekuensi menimbun utang.

Untuk kasus AS, pelanggaran terhadap rambu-rambu ekonomi juga menjadi penyebab. Pelanggaran-pelanggaran ini pernah membuat Gregory Mankiw mundur sebagai penasihat ekonomi George W Bush. Joseph Stiglitz juga mundur sebagai penasihat ekonomi Bill Clinton. Christina Romer mundur pula sebagai penasihat ekonomi Presiden Barack Obama.

Bush memberikan pembebasan pajak saat negara butuh penerimaan untuk menghindari timbunan utang. Bush memilih utang. Lebih parah lagi, Bush melakukan dua perang di Irak dan Afganistan berbiaya 1,7 triliun dollar AS yang menambah utang.

Penduduk menua, pelanggaran rambu-rambu, dan pengabaian nasihat para ekonom, serta kelalaian politisi karena kehilangan suara saat pemilu menjadi kombinasi yang membuat Eropa, AS, dan Jepang menjadi seperti sekarang.

Seruan reformasi ekonomi oleh Kanselir Jerman Angela Merkel dan seruan pengontrolan aksi spekulasi pasar yang didorong Presiden Perancis Nicolas Sarkozy tidak dipenuhi oleh rekannya di G-20. Hal ini turut membuat pasar, pelaku perbankan, melakukan aksi penipuan di pasar, pembobolan sejumlah korporasi besar, yang memaksa pemerintah mengeluarkan dana talangan. Semua mengerucut tumpukan utang.

Di samping semua itu, George Soros menjuluki keadaan ini sebagai ”the end of the era”, yang kini direbut China. (MON)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply