Perubahan Iklim Ancam Pertanian Saree

M. Nizar Abdurrani I The Globe Journal | Selasa, 12 Januari 2010

Jantho – Global Warming atau pemanasan global dimana salah satu akibatnya adalah perubahan iklim ternyata bukan hanya terjadi di lapisan es Antartika ataupun gletser Himalaya. Perubahan iklim ternyata juga sudah dirasakan di Indonesia bahkan Saree, sebuah daerah dingin sentra pertanian di Aceh Besar.

Kecamatan Saree atau biasa masyarakat menyebutnya dengan Saree terkenal sebagaia tempat yang sejuk dan hasil pertaniannya yang melimpah. Saking sejuknya jika melintasi tempat yang terletak di pegunungan Seulawah Aceh Besar tersebut masyarakat harus memakai pakaian tambahan untuk menangkal udara dingin menusuk kulit. Tapi sejak beberapa tahun belakangan ini temperatur udara di Saree sudah lebih hangat. Yang lebih mengkhawatirkan adalah perubahan iklim ini mengancam sektor pertanian Saree di masa depan.

Petani Saree sedang memanen dini ubi

Petani Saree sedang memanen dini ubi

Fenomena ini menjadi fokus penelitian sekelompok peneliti yang sebelumnya telah mengikuti ‘Climate Change and Poverty’ selama bulan Oktober – November 2009, yang diselenggarakan oleh International Conference for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), Banda Aceh.

Penelitian lapangan ini bertujuan untuk melihat sejauh mana perubahan iklim telah dirasakan oleh penduduk Saree dan dampak yang ditimbulkannya. Kelompok peneliti yang dipimpin oleh dr. Nanda Ayu dan beranggotakan lima orang peneliti muda meneliti kondisi lingkungan masyarakat desa Saree Aceh. 

Desa Saree Aceh sebagian besar penduduknya adalah warga yang menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Seluruh masyarakat desa tersebut air yang bersumber dari gunung yang dialirkan melalui pipa untuk keperluan memasak, mandi, mencuci dan keperluan sehari-hari. Sumber air ini dikelola sendiri oleh masyarakat desa.

Dalam laporan penelitian tersebut disebutkan, dalam sepuluh tahun terakhir sebagian besar petani masih menanam tanaman yang sama. “Tapi sebagian kecil beralih jenis tanaman dengan alasan perubahan harga, mudah merawat dan mengikuti perubahan musim penghujan,”kata Nanda.

Hasil pertanian Saree sangat bergantung pada intensitas hujan. “Bila cuaca bagus, hujan tidak terlalu banyak dan tidak kering, para petani bisa untung 80 persen. Namun bila hujan terlalu banyak ataupun cuaca terlalu kering maka maksimal hanya 30%,”kata Nanda menjelaskan.

Masyarakat yang dijumpai umumnya mengatakan adanya perubahan suhu air yang menjadi tidak terlalu dingin lagi. Musim hujan dan musim kemarau yang bergeser. “Mayoritas responden kami yang petani mengatakan musim hujan terlambat datang sejak 10 tahun terakhir. Begitu musim kemarau yang sudah semakin panjang,”sebut laporan tersebut.

Temperatur di wilayah Saree kini sudah lebih hangat. Masyarakat menandainya dengan berkurangnya kabut yang muncul. “Bahkan masyarakat kini mengatakan kalau tidur malam tidak pakai selimut lagi,”ujar Nanda.

Memang Saree memang dikenal sebagai wilayah yang dingin dan sering hujan turun dulunya. Masyarakat Saree dimasa lalu tidak begitu mengenal adanya perbedaan antara musim hujan dan musim kemarau. Dalam kedua musim tersebut keadaan iklim tidak banyak berbeda, hujan tetap ada dan udara tetap saja dingin. Beberapa tumbuhan pun dapat ditanami sepanjang tahun tanpa takut kekurangan air.

Tapi kini situasi telah banyak berubah. Masyarakat harus pandai-pandai menentukan kapan musim hujan telah tiba. Hal ini sangat penting untuk memulai masa tanam dimana tumbuhan pada awal masa pertumbuhan sangat membutuhkan air. Beberapa kali masyarakat keliru dalam menentukan mulainya musim hujan (false rain). “Ketika hujan turun, masyarakat mengira sudah masuk musim hujan. Padahal setelah itu tidak ada lagi hujan turun, sehingga tanaman yang sudah dimulai ditanama jadi rusak,”sebut penelitian tersebut.

Beberapa temuan dibidang pertanian antara lain adalah ukuran buah yang sudah semakin kecil baik itu secara alamiah ataupun karena panen dini atau panen karena terpaksa mengingat musim yang tidak cocok. Penyerangan satwa liar seperti babi hutan dan monyet dirasakan menjadi lebih sering dibandingkan 10 tahun yang lalu. Perebutan sumber air disaat musim kemarau yang terkadang menimbulkan konflik, padahal dulu hal semacam ini tidak pernah terjadi.

Masyarakat sangat menyadari adanya perubahan iklim yang terjadi pada di wilayah mereka. Namun mereka tidak dapat berbuat banyak selain menatap kerusakan lingkungan yang terjadi seperti penggundulan hutan. Bagi mereka hutan adalah sumber air yang harus dijaga kelestariannya. Seorang penduduk berujar,”Hutan itu ibarat rambut pada kepala manusia, jika rambut gundul maka kepala akan kepanasan dan bisa meletus.”

Leave a Reply