Fenomena digital marketing di politik

Internet saat ini memang tak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Mau bukti? Simak hasil survei yang dilakukan Opera di sembilan kota besar mengungkapkan, banyak penduduk yang memilih berinternet ketika menunggu. Sekitar 78% responden menuturkan kegiatan menunggu terasa lebih baik, jika mereka memiliki koneksi internet.

Survei yang melibatkan 1.000 responden ini menemukan kegiatan browsing atau mengakses media sosial adalah pilihan utama ketika memakai smartphone saat menunggu.

Tak hanya itu, 66%  responden juga menyebutkan rela mengorbankan beberapa hal lain untuk mendapatkan koneksi internet saat menunggu. Hal yang dikorbankan antara lain adalah jatah minum kopi, waktu mandi, termasuk kehilangan makan malam.

Peluang
Dus, statistik ini tentunya menjanjikan bagi para politikus ataupun konsultan dan para pendukungnya yang tengah berjuang dalam kontes Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung secara serentak pada 2017 di negeri ini.

Ranah digital sekarang tak lagi dianggap sebagai aksesori, tetapi salah satu medan pertempuran utama yang harus dimenangkan oleh para kandidat dalam meraih suara. Harapannya, para generasi millenial atau kelas menengah yang ada di media sosial bisa menjadi influencer bagi para calon pemilih lainnya.

Tak percaya dengan dahsyatnya pengaruh media sosial? Simak hasil survei terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menunjukkan elektabilitas salah satu kandidat Gubernur di Pilkada DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, semakin merosot karena sejak Maret 2016, terkesan menjadi musuh bersama (common enemy) di dunia maya.

Padahal, sebelumnya, sang petahana yang didukung Teman Ahok dimana didominasi oleh anak-anak muda dan kelas menengah Jakarta  berhasil mengumpulkan 1 juta KTP melalui kampanye di media sosial dan pembukaan booth di mal-mal Jakarta.

Khusus Pilkada DKI Jakarta, media sosial rasanya akan menyajikan pertempuran seru bagi aktivis digital marketing politik.

Soalnya, penantang petahana, Anies Baswedan adalah inisiator gerakan Indonesia Mengajar dan gerakan Turun Tangan yang juga dimotori oleh anak muda dan kelas menengah dimana sudah akrab dengan media sosial.

Pasangan Anies, Sandiaga Uno juga banyak didukung anak-anak muda, bahkan sebelum disahkan menjadi Calon Wakil Gubernur, Sandi (panggilan akrab Sandiaga), sudah mengoptimalkan media sosial.

Penantang lainnya, Agus Yudhoyono adalah tentara muda dengan segudang prestasi, sehingga menjadi idola kaum muda dan dianggap akan menjadi pemimpin masa depan.

Singkatnya, pertarungan untuk Pilkada DKI Jakarta bisa dikatakan serasa simulasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, sehingga jangan heran suasana media sosial rada-rada panas belakangan ini.

Mengutip data di www.politicawave.com/jakarta sejak hari terakhir pendaftaran, 23 September 2016  tercatat 243.859 percakapan mengenai ketiga pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI.

Pasangan Ahok-Djarot sementara memimpin dengan 146.460 percakapan atau memiliki Share of Awareness sebesar 60,06% dari total percakapan. Diikuti oleh pasangan Anies-Sandi dengan 62.584 percakapan atau memiliki Share of Awareness sebesar 25,66% dan pasangan Agus-Sylviana dengan 34.815 percakapan atau memiliki Share of Awareness sebesar 14,28%.

Setiap percakapan mengandung sentimen, yang merupakan persepsi netizen terhadap pasangan calon tersebut. Berdasarkan pengalaman PoliticaWave.com melakukan prediksi terhadap Pilkada, Pileg dan Pilpres sejak 2012, pasangan yang akan menjadi pemenang adalah pasangan dengan jumlah percakapan terbesar (Share of Awareness) dan Net Sentimen paling positif.

Hal yang kita harapkan dari euforia penggunaan media sosial ini adalah disajikannya konten-konten bermutu dan bertanggungjawab bagi target audiens.

Digital strategist dari para kandidat harus memahami media sosial memiliki dua fungsi strategis dalam kampanye politik. Pertama, berkomunikasi secara real time dengan para netizen. Kedua, mendengarkan aspirasi.

Netizen pun harus memahami ada pameo terkenal di dunia politik yang ditulis George Orwell (1903-1950) yang mengatakan bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar sebagai kejujuran dan pembunuhan tampak terhormat, serta untuk memberikan angin surga.

Jadi, bagi mereka yang ingin menang di media sosial, pintar-pintarlah mengelola konten dan jangan terjerumus ke kampanye hitam yang ujungnya justru merugikan ekosistem keseluruhan dari dunia maya. Selamat Berkampanye!

Source: Indotelko.com

Leave a Reply