Kader Partai Golkar Diminta Memilih

Jakarta, Kompas – Setelah Partai Nasdem dideklarasikan pada Selasa (26/7), tekad Partai Golkar semakin bulat untuk menertibkan kadernya yang menjadi pengurus di organisasi kemasyarakatan Nasional Demokrat. Penertiban ini dilakukan paling lambat 11 Agustus 2011.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Fadel Muhammad, Jumat, di Jakarta, mengatakan, para kader yang berada di ormas Nasional Demokrat diminta memilih tetap di Partai Golkar atau pindah ke ormas Nasional Demokrat yang tampak ”identik” dengan Partai Nasdem.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham menyampaikan, DPP Partai Golkar mengirimkan surat edaran kepada pengurus di daerah dan meminta penertiban juga dilakukan untuk kader yang merangkap jabatan di ormas Nasional Demokrat.

Salah seorang kader Partai Golkar, Ferry Mursyidan Baldan, yang juga Ketua Nasional Demokrat mengatakan, Partai Golkar tidak dapat melarang kadernya ikut serta dalam ormas. Hal ini karena keanggotaan dalam partai politik diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik, sedangkan masalah keormasan diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985.

Penertiban kader Partai Golkar yang aktif di ormas Nasional Demokrat tersebut, kata Ferry, menghilangkan hak konstitusional warga negara karena ada ketidaksukaan terhadap kader tertentu. Dia mengatakan, Pengurus Pusat Nasional Demokrat memberi kebebasan kepada semua anggota untuk meninggalkan ormas Nasional Demokrat apabila diancam dan ditekan. Sebaliknya, jika memilih tetap aktif di partainya dan karena itu terkena sanksi, ormas Nasional Demokrat akan memberikan perlindungan hukum.

Selain Ferry, Ketua Umum Nasional Demokrat Surya Paloh juga masih menjadi kader Partai Golkar. Padahal, fungsionaris Partai Nasdem mengakui, partainya dibiayai Paloh.

Tidak masalah

Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie tidak mempermasalahkan jika ada kader Partai Golkar yang saat ini menjadi anggota ormas Nasional Demokrat serta diperkirakan sudah pindah partai dan meninggalkan Partai Golkar.

Hal tersebut, menurut politisi yang akrab disebut Ical ini, karena partai berlambang beringin itu sudah berkali-kali ditinggalkan kadernya yang berpindah partai. Aburizal mencontohkan Edy Sudradjat, Wiranto, dan Prabowo.

”Sudah berkali-kali dan Partai Golkar selalu nomor satu atau nomor dua (dalam pemilu),” katanya.

Mengenai Partai Nasdem, menurut dia, partai tersebut belum ada. ”Belum ada (Partai Nasdem). Kan, belum lolos kualifikasi,” ujarnya. (INA)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply