“Kera Ngalam Ojo Melok Golput”

”Ojok melok golput lho ker… tapi yo ojo gegerane” (jangan ikut golput dan jangan menimbulkan keributan). Kata-kata itu bukan iklan layanan masyarakat dari KPU Kota Malang, melainkan kalimat seruan tertulis pada baliho besar di Alun-Alun Bunder Kota Malang.

Bagi orang luar Malang, ketika membaca kalimat itu akan berkerut kulit dahinya dan bertanya-tanya, apa maksud kata ”ker”. Kata ”ker” ini terlihat unik dan khas dibandingkan dengan kata-kata lain dalam bahasa Jawa. Ternyata masyarakat Malang mengartikan ”ker” sebagai ”rek” yang dieja terbalik. Rek merupakan kependekan dari arek yang sering dibalik menjadi ”kera”. Lengkapnya, ”kera ngalam” pun berarti formal ”arek Malang” alias anak Malang bukan ”kera” Malang.

Itulah gaya bahasa walikan sebagai salah satu ciri khas budaya Kota Malang. Bahasa walikan atau ”bahasa terbalik” merupakan salah satu bahasa rakyat yang menurut Ayu Sutarto dalam buku Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan Provinsi Jawa Timur, termasuk produk kebudayaan folklor lisan. Selain di Malang, bahasa rakyat Jatim lainnya adalah logat, julukan, sindiran, bahasa rahasia, wadanan (olok-olok), dialek, dan makian khas dialek Surabaya.

Kawasan Malang tidak hanya dikenal dengan bahasa walikan-nya. Malang juga identik dengan kata arek. Istilah arek berkaitan dengan budaya arek sebagai bagian subkewilayahan sosiokultural Jawa Timur. M Dwi Cahyono, dosen Universitas Negeri Malang, menyebutkan, lingkup wilayah budaya arek merupakan eks Karesidenan Malang yang melingkupi Kabupaten dan Kota Malang, Kota Batu, serta sebagian Kabupaten Lumajang dan Pasuruan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Malang.

Aremania dan “arek-arek”

Ketika ditelurusi lebih jauh, budaya arek yang melatarbelakangi budaya di kawasan Malang Raya lahir dari perpaduan berbagai aliran budaya: Hindu, Budha, Islam, Mataraman, Kristen, dan kolonial. Perpaduan budaya tersebut, menurut cerpenis Malang, Ratna Indraswari Ibrahim, membuat orang Malang lebih egaliter, terbuka, toleransi, dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Keterbukaan sikap masyarakat arek semakin terlihat setelah Kota Malang berkembang menjadi kota pendidikan, pariwisata, peristirahatan, dan militer. Pendatang yang berprofesi sebagai pelajar, karyawan, dan pedagang menambah keragaman budaya di wilayah yang dilintasi Sungai Brantas itu.

Pendatang dan penduduk asli berbaur dan membentuk komunitas, seperti komunitas budaya, hobi, dan forum diskusi. Dari komunitas-komunitas itu terbentuklah budaya khas arek Malang. Matasan, yang pernah menjadi koordinator suporter klub sepak bola Arema, menyebutkan, keberadaan arek Malang tidak bisa disamakan dengan keberadaan arek Surabaya. ”Rasa solidaritas yang tinggi inilah yang membedakan dengan arek Surabaya atau arek Jombang,” ujar Matasan.

Aremania atau Arema mania pun menjadi satu komunitas terkenal, bahkan menjadi ikon baru Malang menggantikan musik rock. Aremania sebagai suporter sepak bola dikatakan lahir dari sekumpulan pendukung klub Arema. Aremania inilah menurut Matasan digunakan sebagai tali pemersatu geng anak muda yang banyak berkembang di Malang.

Aremania berusaha menciptakan kreativitas baru yang unik dalam mendukung klub Arema. Salah satunya adalah mempertahankan tradisi untuk berbicara dalam bahasa walikan. Keunikan Aremania inilah juga menjadi salah satu bukti arek Malang tidak mau disamakan dengan arek wilayah lainnya.

“Ojo melok golput”

Sikap egaliter masyarakat Malang, menurut Ratna Indraswari Ibrahim, dianggap mampu meredam konflik pada Pilgub Jatim dan Pilwali Malang. Memang ada beberapa komunitas masyarakat bersikap mendukung salah satu calon gubernur atau wali kota. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, kerumunan warga itu tidak membuat sekat-sekat eksklusivisme.

Tidak adanya konflik di kalangan arek Malang selama prapelaksanaan Pilkada Jawa Timur, bisa dikaitkan dengan salah satu sifat arek yang mau mendengarkan orang lain. Ayu Sutarto menyebutkan komunitas arek mempunyai sesanti yok apa enake, yakni keinginan menyelesaikan segala macam persoalan melalui upaya suka sama suka atau win-win solution.

Hal tersebut patut diperhatikan, siapa pun gubernur Jawa Timur yang terpilih nanti untuk mengatur arek Malang. Agar masyarakat berkultur egaliter tidak akan mengenal ”gap” antara pimpinan dan masyarakat. Arek Malang akan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan kepada pemimpin. Sebaliknya, jika gubernur terpilih mempunyai kepemimpinan yang baik, mereka tidak akan malu-malu menunjukkan pujiannya.

Sayangnya, kelima calon gubernur Jatim itu, selama masa menjelang pencoblosan gubernur Jatim, rasanya kurang menyentuh kultur arek Malang yang unik. ”Calon gubernur Jatim jarang yang melakukan kampanye besar-besaran di Malang,” kata beberapa mahasiswa di Malang. Hal inilah menurut Ratna Indraswari Ibrahim yang membuat masyarakat Malang menjadi apatis, tidak peduli terhadap Pemilihan Gubernur Jatim.

Masyarakat Malang bebas untuk menentukan pilihannya sendiri terhadap calon pimpinan Jatim dan Kota Malang. Bahkan, secara terang-terangan mereka berani menyatakan untuk tidak memilih alias golput. “Lah apa rek, calone elek-elek,” kata seorang sopir angkot. Kalau sudah begitu, KPU Kota Malang tepatnya mengeluarkan slogan tegas sebelum putaran kedua nanti: ”Ojok melok golput loh ker…!”

(M PUTERI ROSALINA /LitbangKompas)

Source : kompas.com

One thought on ““Kera Ngalam Ojo Melok Golput”

Leave a Reply