Saling Saing Rebutan Pemilih Muda dan Perempuan

Memilih satu dari lima pasang calon bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika setiap pasang calon berasal atau memiliki unsur ikatan yang sama, misalnya tradisi ke-NU-an yang menjadi ciri dominan Jatim. Ditambah lagi dengan adanya sikap apatis terhadap siapa pun gubernur yang terpilih.

Hasil jajak pendapat terhadap pemilih sesaat setelah memberikan suaranya (exit poll) yang dilakukan Litbang Kompas menunjukkan lekatnya aspek-aspek primordial seperti jender, etnis, dan agama dalam pilihan terhadap kandidat.

Kalangan nahdliyin, yang merupakan pemeluk agama Islam terbanyak di Jatim, cenderung memilih pasangan Khofifah-Mudjiono (Kaji) dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur periode 2008-2013. Dalam Pilkada Jatim, pasangan Kaji diprediksi memperoleh suara 32,5 persen dari kalangan NU, sementara Karsa 25 persen. Jika putaran kedua Pilkada Jatim digelar, suara kaum nadliyin kemungkinan besar tetap akan menjadi penentu kedua pasangan tersebut.

Adapun suara konstituen Islam dari Muhammadiyah cenderung memilih pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa). Responden pemilih yang beragama lainnya, seperti Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha, cenderung memberikan suaranya kepada pasangan Soetjipto-Ridwan Hisjam (SR) dan Karsa.

Pilihan jender

Kehadiran Khofifah Indar Parawansa sebagai satu-satunya perempuan calon gubernur Jatim menyedot sebagian besar suara konstituen perempuan (34,1 persen). Pasangan Karsa hanya mendapat 27,3 persen suara perempuan. Sebaliknya, suara konstituen laki-laki dikuasai oleh pasangan Karsa 28,7 persen, sedangkan Kaji hanya mendapat 23,9 persen.

Meski mengaku tidak begitu mengenal figur Khofifah, pemilih perempuan memberikan suaranya karena Khofifah merupakan tokoh perempuan Ketua PP Muslimat NU yang bisa membawa pembaruan. Sosok Muslimah ini diyakini bisa membawa perbaikan keislaman masyarakat, sisi spiritual yang sangat dikedepankan di Jatim.

Sebagai gambaran, salah satu TPS sampel yang terletak di Dusun Kopen, Kelurahan Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Jombang, yang berjarak sekitar satu jam dari pusat kota, menjadi salah satu tempat pemenangan Khofifah. Kaum perempuan di dusun yang secara geografis sulit dengan infrastruktur yang buruk dan tak satu pasangan calon pun yang sampai ke wilayah ini begitu mengidolakan Khofifah.

”Calon perempuan hanya Khofifah. Ia dari Muslimat NU, sosok yang cerdas dan bisa memberikan perubahan,” demikian kata Supiah, yang terang-terangan mendukung Khofifah. Mesin Muslimat NU, juga Fatayat NU, memang terbukti ampuh merasuk hingga pelosok-pelosok desa melalui aktivitas pengajian para ibu-ibu atau remaja putri dan sosialisasi yang disampaikan oleh para istri kiai di pondok pesantren.

Kaum muda memilih

Antusias kaum muda terlihat dari gerombolan pemuda-pemudi yang mendatangi sejumlah TPS, terutama yang berada di wilayah pondok-pondok pesantren. Responden exit poll berusia muda, 17-23 tahun, cenderung memberikan suaranya kepada pasangan Karsa (31,1 persen). Perolehan suara pasangan nomor urut lima ini bersaing dengan pasangan Kaji yang mendulang 26,7 persen suara golongan muda. Karsa juga berpotensi menguasai suara pemilih yang berusia 24-34 tahun (32 persen). Sementara Kaji mendapatkan 30,2 persen. Suara untuk pasangan yang didukung PPP dan 12 partai kecil lainnya ini tampak lebih menonjol pada kelompok masyarakat berusia 35 tahun ke atas.

Secara etnis, terjadi rebutan suara yang juga ketat antara pasangan Kaji dan Karsa. Pemilih yang beretnis Jawa memberikan suara sama banyak kepada pasangan Karsa (27,7 persen) ataupun Kaji (27,2 persen). Pemilih beretnis Madura lebih memilih Kaji (37,7 persen) ketimbang Karsa (30,4 persen). Etnis lainnya memilih pasangan Kaji.

Karakteristik agama, jender, usia, dan etnis pemilih menunjukkan betapa ketatnya penguasaan dan tarik-menarik antara pendukung pasangan Kaji dan Karsa yang diprediksi akan maju ke putaran kedua Pilkada Jatim. Sosialisasi dan pencitraan kedua pasangan ini cukup berhasil.

Masyarakat Jatim begitu independen dalam memutuskan pilihannya. Tidak ada pihak yang dominan memengaruhi calon yang akan dipilih responden, baik itu tokoh agama (kiai), anggota keluarga, teman, kerabat, maupun aparat pemerintahan.

Terbukti, kampanye atau sosialisasi yang dilakukan para calon tidak berpengaruh apa-apa terhadap keputusan memilih. Hal ini disampaikan oleh sebagian besar responden (56,8 persen). Responden pun tidak berusaha mengajak atau memengaruhi orang lain untuk memilih calon sesuai dengan pilihannya. ”Memilih itu adalah hak masing-masing orang,” kata Mas’ah (28).

Yang menarik, pilihan konstituen atas kedua pasangan calon ini lebih disebabkan oleh kualitas dan kemampuan calon ketimbang sekadar alasan kesesuaian pemilih dengan partai politik yang mengusung pasangan calon. Artinya, pemilih sekarang lebih rasional memilih pemimpinnya berdasarkan kebutuhan dan kompetensi calon ketimbang menelan mentah-mentah apa yang disodorkan parpol. (Gianie/Litbang Kompas)

Source : kompas.com