Ghana Connect: Does celebrity endorsement of politicians make a difference?

Photo: myjoyonline.com

It has become part of our political culture in Ghana. The practice where every election year so called celebrities and people in the entertainment industry queue up to endorse Presidential candidates.

This week, Nana Addo Dankwa Akufo-Addo, Presidential candidate of the New Patriotic Party (NPP) was endorsed by the embattled hip-life artiste who is still in court in a public nudity case.
So does celebrity endorsement of Presidential candidates in an election year make any real difference for voters?
Continue reading

The Essential Role Of Promotional Products in Politics

Source Asicentral.com

Investing millions in promotional products helped fuel the unexpected rise of Donald Trump and Bernie Sanders – and reinforced promo’s essential role in the race for our nation’s highest office.

Two political outsiders – one a successful businessman, the other a long-time independent – run for office. The former’s presence in the race is regarded as an open act of ego stroking and instant fodder for the media circus. The latter is a virtual unknown among large blocks of voters, and someone so lightly regarded that his main opponent won’t even mention his name. And yet, through concerted marketing efforts that include savvy messaging and a heavy investment in promotional products, both wildly surpass expectations. The businessman is the unexpected party front runner. The now-former independent has become a surprisingly formidable opponent.
Continue reading

Capres dan Media Sosial

Ilustrasi, Kompas Cetak

KOMPAS.com – Siapa yang menguasai internet dan media sosial, dialah yang akan memimpin negara. Barack Obama sudah membuktikannya di AS. Bagaimana dengan calon presiden Republik Indonesia? Sejauh mana capres-capres memanfaatkan media sosial untuk menjaring pendukung?
Sebelum menjabat presiden Amerika Serikat 2008, Barack Obama, Senator Illinois ini, sukses memanfaatkan internet untuk menjaring pendukung dan mengumpulkan dana secara online. Obama memiliki jejaring sosial mulai dari Facebook, LinkedIn, Youtube, Twitter, Friendster, hingga MySpace. Pada pemilihan periode kedua 2012, Obama juga memanfaatkan jejaring sosial lainnya yang populer di Amerika, seperti Google Hangouts.

Menguasai komunikasi publik salah satu kunci kemenangan capres. Franklin D Roosevelt menggunakan radio untuk menjangkau pendukungnya, John F Kennedy memanfaatkan televisi untuk meraih kemenangan.

Barack Obama memanfaatkan internet, menyapa masyarakat akar rumput melalui media sosial yang bertebaran di Amerika. Obama mencatat sejarah, menjadi orang berkulit hitam pertama yang tinggal di Gedung Putih. Internet menjadi sarana ampuh bagi Obama.
Continue reading

Basics of political marketing to target young voters in 2014 elections

The primary aim of political warfare is to win votes, by building preference and shaping perception. The challenge of preference building has to be accomplished in a short period of time. This is not classic marketing warfare; marshalling the 4Ps. Marketing in politics is more about the 4Cs: cause, constituency, comparative advertising and celebrity endorsements. 

Cause is the start point: what does the party stand for? Why does this party exist? What does the PM candidate stand for? There are many causes on offer: secular, development, safety, jobs, prices, pride, honesty and governance. This election will see multiple voter segments. 
Continue reading

Mencari Dukungan dan Suara Lewat Media

Prabowo Subianto, Minggu (19/8), berjalan meninggalkan Istana Negara menuju halaman samping bangunan bersejarah tersebut. Bersama para pejabat dan sejumlah pemimpin teras sejumlah partai politik, ia baru saja selesai bersilaturahim dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga dalam rangka Idul Fitri 1433 Hijriah.

Pertanyaan diajukan kepada Prabowo yang memakai setelan jas abu-abu, berbeda dengan pencitraannya di media. ”Bapak akhir-akhir ini selalu populer dalam survei. Tanggapan Bapak?” tanya wartawan. Prabowo terdiam lalu menjawab, ”Kalau didukung pers, pasti menang,” ujar Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerindra itu sambil memegang pundak wartawan yang bertanya.

Continue reading

Gerindra: Iklan Politik Bisa Dibatasi, Asal..

VIVAnews – Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Suhardi, menyambut baik langkah Komisi Penyiaran Indonesia untuk membuat aturan khusus bagi iklan kampanye partai politik. Namun, menurut dia, prinsip yang harus diutamakan dalam aturan tersebut adalah keadilan bagi semua kontestan pemilu memberikan penjelasan kepada masyarakat.

“Saya kira aturan itu baik, tapi tentu kontrolnya akan sulit,” ujar Suhardi dalam perbincangan dengan VIVAnews, Selasa 13 Maret 2012.

Perihal pengaturan durasi, menurut Suhardi, sebaiknya jangan mengurangi kesempatan masyarakat untuk melihat siapa atau partai apa memaparkan visi misi secara lengkap. Suhardi mencemaskan durasi iklan kampanye politik yang terlalu singkat. “Kalau sangat singkat, bagaimana bisa menerangkan visi misi, sangat sulit,” kata Suhardi.

Siaran bertema debat politik, menurut Suhardi, tetap diperlukan agar masyarakat dapat menilai sebuah program, gagasan, atau ide yang diperjuangkan agar diterima oleh masyarakat, sehingga pada akhirnya dapat menentukan pilihan masyarakat itu sendiri untuk mengikuti yang mana.

Source : Vivanews.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Pastikan Sumber Dana, Bukan Iklan

Jakarta, Kompas – Bagi masyarakat calon pemilih, pemasangan iklan yang masif oleh partai politik bisa saja mengalahkan faktor komitmen visioner sebuah partai politik. Hanya saja, yang lebih utama bukanlah soal pembatasan iklan, melainkan lebih bagaimana menjalankan prinsip transparansi anggaran dan memastikan iklan bersumber dari dana yang benar.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ahmad Fauzi Ray Rangkuti, Selasa (13/3), di Jakarta. Ray merujuk pada fenomena lonjakan dukungan bagi Partai Nasional Demokrat yang ditengarai akibat pemasangan iklan yang masif di media massa.

Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dilansir akhir pekan lalu menyebutkan, Partai Golkar mendapat dukungan terbesar, disusul Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Demokrat. Peringkat keempat ditempati Partai Nasional Demokrat yang mengalahkan Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Keadilan Sejahtera.

Ray mengatakan, tidak perlu ada batasan kaku atas iklan parpol. Pembatasan itu hanya akan berimplikasi pada keterbatasan parpol baru untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat. Mekanisme dana kampanye dan sosialisasi lebih penting ketimbang sekadar pembatasan iklan.

Iklan merupakan bagian dari kompetisi pemilu. Kemampuan meyakinkan, mengalihkan dukungan, mencari dana, mengalokasikan dana, dan membuat program yang lebih diterima masyarakat merupakan bagian umum dari kompetisi itu.

Publik harus dididik membuat sensornya sendiri, misalnya menilai bersih tidaknya parpol dengan membandingkan iklannya di media dengan laporan keuangannya. ”Yang utama, lagi-lagi, adalah memastikan bahwa dana beriklan mereka didapatkan dengan cara halal dan dipergunakan juga secara halal,” ujar Ray.

Pengajar ilmu politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Ari Dwipayana, menilai, Partai Nasional Demokrat terdongkrak oleh akses yang kuat di media massa. Lonjakan dukungan bagi partai ini juga ditopang ketidaktersediaan saluran bagi pendukung parpol kecil.

Menurut Ari, peta dukungan atas Partai nasional Demokrat bisa berubah. Ruang bermain partai ini sama dengan parpol tengah seperti Partai Golkar, Partai Demokrat, dan PDI-P.

”Naik-turunnya (dukungan) tergantung kemampuan ekspansif tiga partai ini untuk merebut massa mengambang,” ujar Ari.

Ray pun berpendapat, lonjakan Partai Nasional Demokrat didasari sentimen kejenuhan pada parpol lama. Merujuk survei LSI, perolehan parpol lama, misalnya Partai Golkar, Partai Demokrat, dan PDI-P, tak jauh dari hasil survei sebelumnya. (DIK)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Baliho Kandidat

Banyak baliho kandidat kepala/wakil kepala daerah yang dipasang diberbagai tempat, tak kecuali sepanjang pinggiran jalan. Bak aksesoris musiman yang menawarkan pemandangan unik pada setiap musim pilkada.

Banyak yang kreatif memang. Tidak kurang juga yang asal jadi. Kombinasi warna plus tulisan pasti membuat banyak orang mau melirik. Untuk itu, pengendara harus hati-hati. Saking asyik melirik dan membaca bisa rawan kecelakaan, kan hehe.

Umumnya, baliho-baliho yang menampilkan wajah calon tersebut selalu dirangkai dengan menggunakan rangka kayu. Penggunaan rangka kayu umumnya ada di daerah-daerah. Berbeda jika di kota, baliho umumnya dipasang di tempat yang memang disewakan untuk pemasangan baliho.

Tidak ada yang salah dengan baliho, atau media kampanye lainnya seperi spanduk dan poster. Ini musim Pilkada, dimana-mana juga begitu adanya. Jadi, sangat  dibenarkan cara-cara seperti ini dalam sebuah kampanye suksesi kepemimpinan.

Saya kira, bukan hanya aksi pasang baliho, para kandidar juga melakukan ragam aksi lainnya. Kunjungan ke daerah khususnya ke daerah bencana pasti menjadi pilihan. Idealnya sih kunjungan sudah menjadi sesuatu yang dilakukan sejak awal, bahkan sejak sebelum musim Pilkada tiba. Bukankah menjadi pemimpin saat sekarang membutuhkan perencanaan jangka panjang sehingga hasilnya menjadi sesuatu yang lahir dari proses, bukan sesuatu yang instan.

Kembali masalah baliho. Hitung saja berapa jumlah baliho dari masing-masing kandidat. Ada 4 kandidat gubernur plus satu pasangan kandidat dari Partai Aceh. Ada 111 pasangan kandidat Bupati dan Walikota plus 14 kandidat dari Partai Aceh.

Katakanlah tidak semua kandidat  memasang baliho, karena biaya agak tinggi atau tim kandidat ingin berhemat. Namun yang pasti hampir semua baliho tersebut selalu saja dirangkai dengan kayu. Tentu ratusan kubic (m³) kayu dihabiskan hanya untuk merangkai baliho calon kepala/wakil kepala daerah, baik gubernur/wakil gubernur dan 17 bupati/wakil, walikota/wakil di seluruh Aceh. Dasyat….

Saya kembali membuka dokumen Instruksi Gubernur Aceh Nomor 5/INSTR/2007, tanggal 6 Juni 2007 tentang moratorium logging (jeda menebang). Ternyata salah satu implikasinya adalah sulitnya masyarakat untuk memperoleh kayu, terutama kayu legal. Tidak jarang terdengar suara masyarakat “jino ka tat susah ta mita papeun keranda”.

Ironisnya para kandidat begitu mudahnya mendapatkan kayu, untuk rangka baliho dan poster. Apakah kandidat yang banyak balihonya sudah pasti menang? Tentu belum!

Semakin dekat waktu pelaksanaan Pilkada 2012 Aceh semakin banyak pula alat peraga dipasang dan tersebar diseluruh tempat, jalan-jalan dan tempat strategis lainnya. Namun coba perhatikan. Ternyata, hasilnya malah jadi semraut dan kotor, menggangu keindahan, menggangu pandangan penguna jalan. Bahkan ada ditempel didinding, pohon-pohon dan digantung disembarang tempat, sehingga secara umum telah menggangu keindahan dan keasrian sebuah kawasan.

Pengaturan dan penertiban pemasangan alat-alat kampanye merupakan upaya yang harusnya segera dilakukan sehingga trotoar dan jalan hanya cukup dihiasi dengan rimbunan pepohonan dan petunjuk lalu-lintas jalan, tanpa ditambah baliho, poster-poster spanduk dan alat kampanye lainnya, demikian juga halnya dengan taman-taman kota, Ruang Terbuka Hijau. Tidak perlu lagi dihiasi dengan wajah-wajah calon pemimpin, biarkan saja suasananya alamiah..

Dengan bertambah dekatnya waktu pemilihan, sebaiknya calon bukan menambah baliho, poster, spanduk serta alat peraga lainnya, Karena masyarakat sebagai pemilih akan menitipkan suara dan aspirasinya kepada yang telah mereka kenal. Dan lebih lagi kedekatan dengan masyarakat bukan hanya karena akan naik menjadi kepala/wakil kepala daerah tetapi jauh sebelumnya sudah terjalin hubungan komunikasi dan sudah dikenal baik oleh masyarakat. 

Dengan tidak menambah penggunaan bahan baku kayu sebagai bahan pendukung sosialisasi dan kampanye kandidat, hal ini dapat bermakna memiliki visi yang jelas dan tegas terhadap kelangsungan sumberdaya alam dan penyelamatan lingkungan, setidaknya si calon telah ikut serta dalam menghambat laju kerusakan lingkungan, yang kian hari ancaman bencana akibat kerusakannya semakin bertambah.

Dan tentu saja pemilih akan memilih calon pemimpinya yang tidak memiliki sifat destruktif terhadap sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Semoga,                                          
 

* TEUKU MASRIZAR, Peminat masalah sosial dan lingkungan, tinggal di Aceh Selatan

Source : Atjehpost.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Marketing ala Maher Zain

Saya kagum pada Maher Zain. Bukan saja karena tiket konsernya di Bandung, Surabaya, dan Jakarta terjual habis, tetapi juga kalau dipikir-pikir, tidak banyak orang yang bisa mengumpulkan orang seisi satu Istora Senayan untuk mendendangkan shalawat dengan harus membayar tiket seharga rata-rata lima ratus ribu rupiah. Bukankah itu hebat?

Tidak dipungkiri, tentu saja kunci kesuksesan Maher Zain terletak pada musiknya. “Musik yang menyentuh jiwa,” kata Fadly dari band Padi yang menjadi penyanyi pembuka konser Maher. Tetapi menurut pendapat saya, kesuksesan Maher Zain merupakan kombinasi antara talenta seorang musisi dengan kecerdasan seorang pemasar (marketer).

Yang utama dan paling penting, Maher amat memahami karakter dari target pasarnya. Target utama musik Maher yang masuk dalam genre pop dan R&B adalah generasi muda yang berusia belasan hingga tigapuluhan tahun. Generasi ini adalah generasi muslim modern yang amat fasih dalam menggunakan Internet, jejaring sosial, dan aneka perangkat teknologi (gadget) modern semisal BlackBerry. Generasi ini juga lebih kreatif dalam mengekspresikan diri, contohnya dalam menginterpretasikan busana muslim agar selaras dengan kaidah-kaidah Islam namun juga mengikuti tren fashion.

Namun, generasi ini juga menghadapi tantangan-tantangan unik yang berbeda dibandingkan dengan tantangan generasi-generasi pendahulunya. Maher memahami tantangan-tantangan tersebut dan meramu pemahaman tersebut ke dalam lirik-lirik lagu, sehingga yang tercipta bukan saja musik yang enak didengar, namun juga menginspirasi. Tengok saja lirik lagu “Insya Allah” yang penuh berisikan harapan (don’t despair and never lose hope//’cause Allah is always by your side).

Pilihan bahasa menunjukkan bahwa strategi pemasaran Maher Zain dilakukan dengan cermat. Meskipun bahasa Arab adalah bahasa ibu Maher, sebagian besar lagu yang dinyanyikannya adalah dalam bahasa Inggris, sehingga mempermudah upaya pemasaran dalam tataran global. Namun, menyadari betul akan keberagaman bahasa umat muslim dunia, Maher pun berkolaborasi dengan musisi dari berbagai negara untuk menyanyikan lagu-lagunya dalam bahasa-bahasa lokal: Arab, Perancis, Urdu, Turki, Melayu, dan Bahasa Indonesia. Kolaborasi ini membuat nama dan musiknya lebih cepat dikenal di negara-negara yang menggunakan bahasa-bahasa tersebut. Inilah contoh sukses dari slogan “Think globally, act locally”.

Prinsip “Think global, act local” juga menjadi resep Maher dalam urusan penampilan. Jeans, jaket, dan topi baret adalah ciri khas penampilan Maher. Berbeda dengan pemusik-pemusik religi lain semisal Sami Yusuf atau Yusuf Islam yang berpenampilan lebih konservatif, dan amat kontras dengan pemusik-pemusik Indonesia yang seolah mewajibkan diri untuk berbaju koko ketika menyanyikan lagu bernuansa Islami. Penampilan yang dipilih Maher ini senada dengan irama musik R&B yang diusungnya, dan membuat Maher dapat diterima lebih mudah di kalangan generasi muda di berbagai  belahan dunia.

Dalam hal performa panggung pun, Maher menyesuaikan diri dengan target pasarnya. Contohnya, pada konsernya di Jakarta dua minggu yang lalu, sepanjang konser saya menanti-nanti Maher menyanyikan lagu “Awaken” . Lagu ini berisikan ajakan bagi umat Muslim agar berhenti menyalahkan orang lain dan lebih banyak berintrospeksi  ke dalam (yes it’s easy to blame everything on the west, when in fact all focus should be on ourselves). Namun saya tidak heran ketika hingga akhir konser Maher tidak menyanyikan lagu tersebut. Karakter audiens  Indonesia lebih menyukai lagu-lagu yang easy listening, sehingga Maher memilih untuk tidak menyanyikan lagu-lagu yang terkesan “berat”.

Terakhir namun tidak kalah pentingnya, dalam soal promosi dan distribusi, Maher dengan cerdas memanfaatkan jejaring sosial, YouTube dan platform berbasis Internet lainnya sebagai media untuk mempromosikan serta mendistribusikan musiknya agar lebih cepat dan mudah merambah pasar. Terbukti , meskipun tergolong penyanyi pendatang baru, Maher dapat dengan cepat mengalahkan penyanyi-penyanyi religi senior lainnya baik dalam hal prestasi penjualan maupun popularitas. Melalui YouTube, video klip “Insya Allah” saja telah diunduh lebih dari 11 juta kali dari tahun 2010 hingga kini.

Maher juga mencatat rekor sebagai artis Muslim pertama yang jumlah fansnya di Facebook mencapai satu juta orang.

Harmonisasi antara musikalitas Maher Zain dan strategi pemasarannya terbukti berhasil. Di manapun Maher menggelar konser, termasuk di Indonesia, tiketnya selalu terjual habis. Hanya tiga bulan sejak peluncuran album pertamanya yang berjudul “Thank You Allah”, Maher juga memenangkan penghargaan Lagu Religi Terbaik dari Nujoom FM, stasiun radio terbesar di Timur Tengah, mengalahkan penyanyi-penyanyi religi senior Sami Yusuf dan Hussein Al-Jismi.

Di Indonesia sendiri, tahun ini Maher Zain telah memperoleh 10 penghargaan platinum dari Sony Music Indonesia. Penghargaan ini mengukuhkan album “Thank You Allah”sebagai album internasional tersukses di Indonesia pada tahun 2011. Pemahaman yang baik akan pasar memang merupakan kunci dari strategi pemasaran yang sukses. Maher Zain adalah contohnya. Selain sebagai pemusik yang menginspirasi, Maher Zain ternyata juga seorang marketer yang handal!

Oleh: Afia R. Fitriati, Penulis adalah dosen Islamic Marketing di Paramadina Graduate School

Source : Republika.co.id

Posted with WordPress for BlackBerry.

SRI Mau Ikuti Jejak Demokrat

calon presiden 2014

Jakarta, Kompas – Partai Serikat Rakyat Independen ingin mengikuti sukses Partai Demokrat yang meraih suara banyak dalam Pemilihan Umum 2004 dengan hanya menjual figur Susilo Bambang Yudhoyono. Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang diusung sebagai calon presiden dari Partai SRI, diyakini bisa mendongkrak suara partai.

”Saya yakin fenomena Partai Demokrat pada Pemilu 2004 saat mengandalkan figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga bisa terjadi pada kami, yang mengandalkan sosok Sri Mulyani. Kami tidak meniru sisi teraniaya dan seolah dizalimi seperti SBY waktu itu, tetapi kebutuhan pemimpin masa depan yang tegas dan mempunyai integritas,” kata Ketua Umum Partai SRI Damianus Taufan di Jakarta, Kamis (4/8).

Taufan mengakui, memang tak cukup hanya mengandalkan popularitas Sri Mulyani. ”Perlu ada upaya ekstra yang lain dan perlu dijalani. Upaya ekstra tentu dari partai dalam menjaring suara dengan menjual gagasan soal integritas pengurus partai serta ide mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi bangsa ini,” katanya lagi.

Namun, Yuddy Chrisnandi dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) menilai, sosok Sri Mulyani layak diperhitungkan dalam Pemilu 2014. Namun, Partai SRI yang penggiatnya relatif minim pengalaman mengelola parpol mesti bekerja keras untuk membangun struktur partai sampai ke bawah, seperti dipersyaratkan undang-undang.

”Jika mampu membuktikan dirinya bersih, Sri Mulyani bukan hanya sekadar penggembira pada Pemilu Presiden 2014, tetapi bisa jadi ia pemain utama yang diperhitungkan,” kata Yuddy.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi menilai biasa saja kalau Sri Mulyani diusung oleh partai baru, seperti Partai SRI. Setiap warga negara memiliki hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilu. Namun, dia mengingatkan, kasus pemberian dana talangan senilai Rp 6,7 triliun untuk Bank Century yang belum selesai ditangani dapat menghabiskan modal politik dan sosial Sri Mulyani.

PAN tak terpengaruh dengan pencalonan Sri Mulyani. PAN kemungkinan besar tetap mengusung Ketua Umum PAN Hatta Rajasa sebagai calon presiden dalam Pemilu 2014.

Hatta dipilih karena memiliki pengalaman dalam pemerintahan, memiliki kapabilitas tinggi, dan berintegritas. Selain itu, Hatta adalah kader PAN yang paripurna sehingga komitmennya untuk bangsa dan negara tak perlu diragukan lagi.

Sebaliknya, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Priyo Budi Santoso menyatakan, partainya menghormati partai lain yang sudah mengajukan calon presiden. ”Golkar menghormati Partai SRI yang disebutkan mengusung Sri Mulyani atau Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang disebut-sebut mengusung Prabowo Subianto. Semakin banyak calon, kami kira makin banyak pilihan. Mereka bukan ancaman, melainkan sahabat untuk berkompetisi secara sehat,” katanya.

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, di Jakarta mengakui, calon presiden harus memiliki tingkat elektabilitas dan akseptabilitas yang tinggi. ”Sri Mulyani memiliki akseptabilitas yang tinggi, tetapi namanya seharusnya tak disebut dulu sekarang. Jika terlalu dini, ia akan dikunci oleh pesaing politik,” ujarnya.

Mubarok juga tidak menutup kemungkinan tampilnya Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa sebagai calon presiden tahun 2014. Namun, Hatta masih harus dinilai berdasarkan cara merespons dinamika masyarakat yang berkembang.

Dari Washington DC, Amerika Serikat, Sri Mulyani masih enggan menanggapi pencalonannya sebagai presiden oleh Partai SRI. Ia mengaku masih sibuk, belum sempat menanggapi usulan itu.

Ajukan Aburizal Bakrie

Priyo Budi Santoso mengakui, Golkar hingga saat ini belum secara resmi membahas calon presiden yang akan diusung dalam Pemilu 2014. Namun, tidak dimungkiri jika Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie dinilai masih menjadi kandidat terkuat untuk dicalonkan sebagai presiden mendatang.

”Pembahasan calon presiden dari Golkar paling cepat dilakukan pertengahan tahun 2012. Sekarang kami masih konsentrasi bekerja dan berjuang untuk memenangi hati rakyat. Memang benar, Ketua Umum menjadi calon yang paling diunggulkan,” katanya. Namun, Aburizal belum menyampaikan kesediaan untuk dicalonkan.

Selain Aburizal, kader Golkar dalam sejumlah kesempatan juga menyebut nama lain yang layak menjadi calon presiden/wakil presiden. Mereka adalah Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono, mantan Wakil Presiden M Jusuf Kalla, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung, serta Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad.

Secara terpisah, Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi di Jakarta, Kamis, mengatakan, partainya masih konsisten mengajukan Prabowo sebagai kandidat presiden pada Pemilu 2014. ”Gerindra sudah bulat tekad mencalonkan Prabowo Subianto. Kami masih mempertimbangkan siapa yang dipasangkan sebagai calon wakil presiden. Ada beberapa nama tokoh yang baik, tetapi kami masih menunggu,” ujarnya. Untuk mendukung pencalonan itu, ada Kader Utama Gerindra di 30 persen kabupaten dan kota se-Indonesia.

Demokrat dan PDI-P

Dalam Partai Demokrat berkembang ide menggelar konvensi terbuka akhir tahun 2013 untuk menjaring calon presiden yang akan diusung partai itu. Konvensi bisa diikuti siapa saja, termasuk orang yang bukan kader Demokrat. Hal ini untuk memperoleh calon terbaik. ”Stok calon presiden sangat minim. Nama yang ada tergolong jadul (jaman dulu),” kata Mubarok, Kamis.

Partai Demokrat, kata Mubarok, sama sekali belum menemukan orang yang kira-kira pantas diusung. Namun, ia percaya pada saatnya nanti bermunculan nama calon yang pantas diusung. ”Sejarah akan terus berlangsung,” ujar Mubarok.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Hasto Kristiyanto mengakui, partainya masih belum menyiapkan mekanisme untuk menentukan siapa saja calon presiden yang akan diusung pada Pemilu 2014. PDI-P tak mau terjebak pada figur calon presiden yang akan disiapkan. Apalagi, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri mengisyaratkan tak akan mencalonkan diri lagi pada Pemilu 2014.

Menurut Hasto, PDI-P memilih merumuskan pemerintahan seperti apa yang hendak dijalankan seusai Pemilu 2014. ”Bagi kami, yang terpenting adalah merumuskan bagaimana menjalankan pemerintahan ke depan. Kami memang belum menentukan orang untuk maju dalam pemilihan presiden,” kata Hasto lagi. (ody/dik/bil/ato/ nwo/nta/ong/why)

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.