Baliho Kandidat

Banyak baliho kandidat kepala/wakil kepala daerah yang dipasang diberbagai tempat, tak kecuali sepanjang pinggiran jalan. Bak aksesoris musiman yang menawarkan pemandangan unik pada setiap musim pilkada.

Banyak yang kreatif memang. Tidak kurang juga yang asal jadi. Kombinasi warna plus tulisan pasti membuat banyak orang mau melirik. Untuk itu, pengendara harus hati-hati. Saking asyik melirik dan membaca bisa rawan kecelakaan, kan hehe.

Umumnya, baliho-baliho yang menampilkan wajah calon tersebut selalu dirangkai dengan menggunakan rangka kayu. Penggunaan rangka kayu umumnya ada di daerah-daerah. Berbeda jika di kota, baliho umumnya dipasang di tempat yang memang disewakan untuk pemasangan baliho.

Tidak ada yang salah dengan baliho, atau media kampanye lainnya seperi spanduk dan poster. Ini musim Pilkada, dimana-mana juga begitu adanya. Jadi, sangat  dibenarkan cara-cara seperti ini dalam sebuah kampanye suksesi kepemimpinan.

Saya kira, bukan hanya aksi pasang baliho, para kandidar juga melakukan ragam aksi lainnya. Kunjungan ke daerah khususnya ke daerah bencana pasti menjadi pilihan. Idealnya sih kunjungan sudah menjadi sesuatu yang dilakukan sejak awal, bahkan sejak sebelum musim Pilkada tiba. Bukankah menjadi pemimpin saat sekarang membutuhkan perencanaan jangka panjang sehingga hasilnya menjadi sesuatu yang lahir dari proses, bukan sesuatu yang instan.

Kembali masalah baliho. Hitung saja berapa jumlah baliho dari masing-masing kandidat. Ada 4 kandidat gubernur plus satu pasangan kandidat dari Partai Aceh. Ada 111 pasangan kandidat Bupati dan Walikota plus 14 kandidat dari Partai Aceh.

Katakanlah tidak semua kandidat  memasang baliho, karena biaya agak tinggi atau tim kandidat ingin berhemat. Namun yang pasti hampir semua baliho tersebut selalu saja dirangkai dengan kayu. Tentu ratusan kubic (m³) kayu dihabiskan hanya untuk merangkai baliho calon kepala/wakil kepala daerah, baik gubernur/wakil gubernur dan 17 bupati/wakil, walikota/wakil di seluruh Aceh. Dasyat….

Saya kembali membuka dokumen Instruksi Gubernur Aceh Nomor 5/INSTR/2007, tanggal 6 Juni 2007 tentang moratorium logging (jeda menebang). Ternyata salah satu implikasinya adalah sulitnya masyarakat untuk memperoleh kayu, terutama kayu legal. Tidak jarang terdengar suara masyarakat “jino ka tat susah ta mita papeun keranda”.

Ironisnya para kandidat begitu mudahnya mendapatkan kayu, untuk rangka baliho dan poster. Apakah kandidat yang banyak balihonya sudah pasti menang? Tentu belum!

Semakin dekat waktu pelaksanaan Pilkada 2012 Aceh semakin banyak pula alat peraga dipasang dan tersebar diseluruh tempat, jalan-jalan dan tempat strategis lainnya. Namun coba perhatikan. Ternyata, hasilnya malah jadi semraut dan kotor, menggangu keindahan, menggangu pandangan penguna jalan. Bahkan ada ditempel didinding, pohon-pohon dan digantung disembarang tempat, sehingga secara umum telah menggangu keindahan dan keasrian sebuah kawasan.

Pengaturan dan penertiban pemasangan alat-alat kampanye merupakan upaya yang harusnya segera dilakukan sehingga trotoar dan jalan hanya cukup dihiasi dengan rimbunan pepohonan dan petunjuk lalu-lintas jalan, tanpa ditambah baliho, poster-poster spanduk dan alat kampanye lainnya, demikian juga halnya dengan taman-taman kota, Ruang Terbuka Hijau. Tidak perlu lagi dihiasi dengan wajah-wajah calon pemimpin, biarkan saja suasananya alamiah..

Dengan bertambah dekatnya waktu pemilihan, sebaiknya calon bukan menambah baliho, poster, spanduk serta alat peraga lainnya, Karena masyarakat sebagai pemilih akan menitipkan suara dan aspirasinya kepada yang telah mereka kenal. Dan lebih lagi kedekatan dengan masyarakat bukan hanya karena akan naik menjadi kepala/wakil kepala daerah tetapi jauh sebelumnya sudah terjalin hubungan komunikasi dan sudah dikenal baik oleh masyarakat. 

Dengan tidak menambah penggunaan bahan baku kayu sebagai bahan pendukung sosialisasi dan kampanye kandidat, hal ini dapat bermakna memiliki visi yang jelas dan tegas terhadap kelangsungan sumberdaya alam dan penyelamatan lingkungan, setidaknya si calon telah ikut serta dalam menghambat laju kerusakan lingkungan, yang kian hari ancaman bencana akibat kerusakannya semakin bertambah.

Dan tentu saja pemilih akan memilih calon pemimpinya yang tidak memiliki sifat destruktif terhadap sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Semoga,                                          
 

* TEUKU MASRIZAR, Peminat masalah sosial dan lingkungan, tinggal di Aceh Selatan

Source : Atjehpost.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply