Peserta Pemilu Tak Boleh Kampanye di Media Sosial

JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Pemilihan Umum (KPU) menegaskan, kampanye pemilu menggunakan media sosial termasuk dalam kampanye media massa. Karena itu, penggunaan media sosial sebagai sarana kampanye belum diperbolehkan. Hal itu dapat dilakukan pada 16 Maret hingga 5 April 2014.

“(Media sosial) termasuk dalam media massa online. Undang-Undang (Nomor 8 tahun 2012 tentang Pemilu Legislatif) dan PKPU (Peraturan KPU Nomor 6 Tahun 2013 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Pemilu Legislatitf) sudah mengatur, kampanye dalam bentuk rapat umum dan kampanye melalui media masa cetak, online, dan elktronik. Hanya bisa dilakukan 21 hari sebelum dimulainya masa tenang,” tegas Komisioner KPU Arif Budiman saat ditemui di Gedung KPU, Jakarta, Selasa (8/10/2013).
Continue reading

Mencari Capres di Media Sosial

KOMPAS.com – Di negeri maya, jangan coba bermimpi menjadi presiden pemimpin mereka jika pengikut di Twitter atau jumlah tayang video Anda di Youtube hanya ratusan orang. Di negeri maya, Anda juga harus siap di-bully warga internet atau netizen jika dianggapnya jauh dari idealisme khas mereka.

Fenomena itu mulai menimpa para peserta Konvensi Pemilihan Calon Presiden dari Partai Demokrat. Perang di media sosial tak terelakkan. Media sosial, seperti Twitter, Youtube, dan Facebook, menjadi senjata termurah untuk mendongkrak popularitas. Twitter menjadi media terlaris. Continue reading

Kampanye Terselubung di Sosial Media Kian Gencar

TEMPO.COJember – Acara pencoblosan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur akan berlangsung Kamis besok, 29 Agustus 2013, dan saat ini merupakan masa tenang. Namun, di Kabupaten Jember, justru kian gencar kampanye terselubung menggunakan fasilitas media sosial, seperti short message service (SMS), Facebook, Twitter, maupun BlackBerry Messenger (BBM).

Isi kampanye umumnya berupa ajakan untuk memilih pasangan tertentu dengan menggunakan idiom-idiom. Di antaranya, “Sudah Ada Ibu, Tak Perlu Ikut Pak Dhe”, “Salam Jempol dari Pak Dhe”, “Semoga Berkah”, “Tidak Usah Bingung”, Yang Penting Beres”, “Kacepot Gulena Merah”, Salah Lopot Nyoblos KarSa”, serta “Jempol Mantap Poll”.
Continue reading

Jurnalisme dan Media Sosial

Betulkah media sosial akan membunuh jurnalisme? Ini salah satu pertanyaan yang tengah banyak dibahas di berbagai forum.

Paling tidak dalam bulan September ini saja ada tiga forum yang membicarakan kedua hal di atas. Rupa-rupanya banyak orang ingin makin mengerti dan mendalami hubungan kedua hal ini, mencoba melihat hubungan positif dan negatif antara jurnalisme dan media sosial.

Media sosial yang muncul belakangan ini—dalam rupa seperti Facebook, Twitter, dan Linkedin—memang mengubah panorama jurnalisme di Indonesia, terutama yang menyangkut proses pengumpulan berita, proses pembuatan berita, dan proses penyebaran berita.

Dalam proses pengumpulan berita, sudah menjadi umum sekarang ini jika ”status” yang ditunjukkan oleh para orang terpandang—ataupun orang yang biasa jadi narasumber—dalam aneka media sosial mereka bisa menjadi bahan, yang kemudian ditulis di media massa mainstream. Sementara itu, aneka ”informasi” yang tersebar dalam jejaring media sosial juga kerap menjadi informasi yang kemudian disebarkan oleh media massa mainstream. Dalam hal ini, jurnalisme warga memiliki ruang untuk beritanya makin tersebar.

Sementara dalam proses pembuatan berita, kita sekarang pun melihat sudah menjadi sesuatu yang umum ketika media online yang menampilkan jurnalisme memberikan ruang komentar dari para pembacanya atas item berita yang mereka hasilkan.

Sementara itu, dalam proses penyebaran berita, kita melihat aneka tampilan media sosial dipergunakan, baik oleh media itu sendiri maupun para pembacanya, untuk meneruskan berita yang telah diproduksi. Di sini kita berhadapan dengan pembaca atau konsumen media yang memiliki perilaku senang berbagi dalam suasana media yang makin terkonvergensi ini (Henry Jenkins, Convergence Culture: Where Old and New Media Collide, 2006).

Banyak pihak melihat jurnalisme dan media sosial sebagai sesuatu yang sedang populer saat ini dan perlu terus dipromosikan. Namun, tidak semua orang melihat kedua hal ini sebagai sesuatu yang saling menguntungkan. Orang seperti Robert G Picard, misalnya, dalam artikelnya di Nieman Reports (Musim Gugur, 2009) justru mempertanyakan manfaat dari media sosial terhadap perusahaan media secara umum. ”Hanya karena teknologi itu populer untuk kalangan jurnalis dan penggunanya, itu bukan berarti penggunaan teknologi itu lalu menguntungkan perusahaan media secara keseluruhan”.

Picard adalah peneliti di Reuters Institute for the Study of Journalism di Universitas Oxford, Inggris, dan juga dikenal sebagai pakar masalah ekonomi media. Ia pun dikenal sebagai editor dari Journal of Media Business Studies serta penulis 23 buku soal ekonomi dan manajemen media.

Pertanyaan dasar Picard sangat beralasan. Hingga kini, belum ditemukan satu model bisnis yang cukup pas untuk mengintegrasikan media sosial dan jurnalisme ini. Artinya, apakah betul media yang menggunakan ”media sosial” itu telah menghasilkan keuntungan dari penggunaan teknologi media horizontal ini?

Lepas dari masalah ekonomi media yang perlu pengamatan lebih dalam dan lebih cermat, antara jurnalisme dan media sosial ini juga menghasilkan sejumlah tantangan ke depan, terutama terkait dengan kualitas jurnalisme di kemudian hari.

Ada banyak persoalan

Dalam era ketika penyedia informasi tidak datang hanya dari wartawan, tetapi juga dari orang-orang biasa saja, kita menemukan ada banyak sekali yang kita pertimbangkan sebagai ”informasi”. Terkadang, saking banyaknya, kita seperti menghadapi tsunami informasi dan kita harus bisa sintas untuk tidak diterjang luapan informasi yang ada tersebut.

Banyak contoh yang sudah kita temui di mana kita menemukan item informasi yang tersebar begitu saja, tanpa diverifikasi terlebih dahulu isinya sudah ikut kita sebarkan ke mana-mana. Mulai dari informasi pengobatan gratis, ritual keagamaan, informasi asal-muasal konflik (dalam kasus Ambon belakangan ini), dan lain-lain. Belakangan kita baru mengetahui bahwa itu adalah kabar bohong, yang akan merugikan orang-orang tertentu.

Pertanyaannya: apakah sikap kita yang mudah berbagi (informasi dalam hal ini) tidak sedang turut berpartisipasi pula dalam mengkreasi kecemasan massal ataupun kebohongan bersama? Padahal, sesungguhnya kita tidak cukup yakin apakah berita yang kita teruskan itu adalah berita yang akurat atau tidak.

Di sini unsur dasar dari jurnalisme dibutuhkan: verifikasi! Di sinilah peran wartawan tetap diperlukan. Wartawan harus bisa memverifikasi informasi sebelum tersebar luas, yang kemudian malah dapat menghasilkan kebingungan.

Belum lagi ketika suatu berita muncul dan mengabarkan tindak-tanduk seseorang yang buruk—apakah itu korupsi, menganiaya, dan lain-lain. Padahal, orang yang disebut dalam berita itu tidak serta-merta mendapat kesempatan untuk mengklarifikasi atau minimal menyampaikan apa yang jadi versi dia untuk masalah tersebut.

Namun, pada kenyataannya, kecepatan untuk melakukan verifikasi kalah cepat dengan tersebarnya informasi tersebut ke berbagai arah. Lalu, apakah koreksi atau imbangan informasi yang menyusul akan bisa mengalahkan kecepatan penyebaran berita terdahulu?

Pertanyaannya: apakah ini kondisi yang adil? Jika tidak, bagaimana jurnalisme masa kini menangani hal tersebut? Rasanya ini suatu pertanyaan yang yang tidak mudah dijawab.

Persoalan yang cukup mendasar di sini adalah seberapa banyak isi dari jurnalisme mengisi media sosial yang ada? Bagaimana membedakan jurnalisme dengan isi media yang lain seperti tips, gosip, hingga berita yang dikreasi untuk tujuan tertentu oleh pihak-pihak tertentu. Betulkah jurnalisme masih dominan dalam era media sosial seperti sekarang? Jika tidak, apa yang lalu akan kita lakukan: mensyukurinya atau membuat kita malah prihatin?

Masih ada banyak persoalan lain yang kita temui dalam melihat persoalan antara jurnalisme dan media sosial. Namun, ini memang suatu pertanda munculnya era baru dalam dunia media komunikasi, menantang kita untuk lebih mendalaminya, dan mencoba memahami serta kembali pada esensi utamanya: untuk apa komunikasi diciptakan? Untuk memudahkan manusia berhubungan dengan manusia lain, untuk lebih ”memanusiakan manusia”, atau malah menghasilkan dehumanisasi?

Ignatius Haryanto Direktur Eksekutif LSPP Jakarta

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Revolusi Twitter

Teknologi berbasis pengetahuan, informasi, dan komunikasi sampai sekarang tetap menjadi tumpuan semangat membangun sistem politik, sosial, ekonomi, perdagangan yang mampu menggerakkan rakyat banyak mencari alternatif di tengah perilaku elite yang non-demokratis, KKN, melakukan penyensoran, atau mengekang pendapat umum.

Gejolak politik dan sosial di kawasan Timur Tengah yang melanda seluruh negara Arab menjadi bukti nyata bagaimana perilaku elite di sejumlah negara bangsa ini satu per satu tumbang berhadapan dengan jejaring sosial digital yang sangat krusial menentukan jalannya masa depan.

Aplikasi seperti Facebook dan Twitter menghasilkan revolusi tanpa kepemimpinan. Sebuah revolusi jenis baru yang mampu mengorganisasi menyatukan jutaan orang mengukir sejarah dunia. Ini terbukti di Tunisia dan Mesir, dan akan tetap membuktikan diri di Bahrain, Libya, Iran, maupun beberapa negara Arab lain.

Perubahan sosial secara radikal yang membawa rakyat negara-negara Arab ke jalanan menuntut para pemimpinnya yang korup dengan kekuasaan yang berkepanjangan telah menjadikan kemajuan teknologi komunikasi informasi, termasuk ponsel dan SMS, sumber inspirasi dan penggerak yang luar biasa.

Ketika jejaring sosial digital disensor dan diputus, jaringan seluler dimatikan, muncul upaya lain untuk ikut menentukan dan memengaruhi gagasan pemikiran baru sebagai alternatif terhadap kekuasaan. Di Asia, kemajuan teknologi komunikasi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan politik.

Gelombang SMS dengan pesan ”Go 2EDSA wear black” menjadi perangkat politik mengubah jalannya kekuasaan pemerintah dan menggulingkan Presiden Filipina Joseph Estrada pada tahun 2001. Kemajuan teknologi komunikasi informasi telah memudahkan kondisionalitas bagi tuntutan politik baru menghadirkan mobilisasi secara penuh dan utuh menjatuhkan kekuasaan tamak.

Ketika kekuasaan Mesir menghentikan sistem jejaring digital, muncul alternatif menghadirkan pesan suara ke nomor telepon tertentu yang secara otomatis mengubah menjadi teks micro-blogging melalui gabungan kerja sama Google, Twitter, dan SayNow.

Perubahan di kawasan Timur Tengah sekali lagi membuktikan, kemajuan teknologi komunikasi informasi tidak bisa dibendung, apa pun cara yang dilakukan. Jejaring sosial digital dalam bentuk Facebook atau Twitter adalah sebuah jaringan yang mengalirkan berbagai data dan informasi yang mampu menggerakkan sebuah revolusi. Revolusi yang tidak dipimpin.

Source: kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Teknologi Digital dalam Revolusi Politik

”Jika pemerintah Anda menutup internet, tiba waktunya untuk menutup (mengakhiri) pemerintahan tersebut” (slogan mutakhir di internet. The Economist, 12/2).

Digunakannya teknologi digital atau teknologi-informasi-komunikasi (TIK) dalam kegiatan politik sebenarnya bukan cerita baru. Reformasi di Indonesia pada 1998 sudah menyaksikan penggunaan internet, yang baru beberapa tahun populer di negeri ini, juga layanan singkat melalui telepon seluler (SMS), yang juga baru marak sekitar tiga tahun, digunakan luas dari Gedung MPR/DPR saat itu, baik oleh mahasiswa, wartawan, maupun oleh aktivis politik.

Setelah itu, dunia juga menyaksikan aksi people’s power kedua pada 2001 di Filipina untuk menggulingkan pemimpin yang diduga korup saat itu. Berikutnya, cerita tentang penggunaan TIK untuk pembangkangan politik juga muncul di sekitar aktivis politik China. Hari-hari ini, tak lama setelah Presiden Mesir Hosni Mubarak yang sudah berkuasa selama 30 tahun terguling, wacana TIK dalam revolusi politik masih terus hangat.

Dari berbagai penuturan koresponden kantor berita dan surat kabar yang bertugas di Mesir, dan juga di Tunisia, banyak terungkap berbagai aspek dalam aksi yang secara mendalam akan mengubah jagat politik di Timur Tengah ini.

Kita angkat kembali soal ini karena dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, penggunaan TIK hari-hari ini telah mengalami perubahan besar, khususnya dalam lingkup dan kecepatan. Kalau politisi yang mau maju dalam kontes politik lalu membuat website internet, sekarang ini sudah tergolong standar.

Tukar info dan galang aksi

Membaca analisis David D Kirkpatrick dan David E Sanger di The New York Times (13/2) kita dapat mengikuti luasnya aliran tukar-menukar info di kalangan para aktivis prodemokrasi di Tunisia dan Mesir. Saat demonstran Mesir menghadapi petugas keamanan pro-Mubarak, mereka teringat nasihat yang diberikan oleh rekan mereka, pendemo di Tunisia. Mereka harus menaruh jeruk, cuka, atau bawang merah di bawah scarf untuk menangkal gas air mata. Mereka juga diingatkan agar membawa soda dan susu untuk keperluan tersebut. Informasi itu sendiri dipertukarkan melalui Facebook.

Pemuda-pemuda Tunisia dan Mesir curah pendapat menggunakan teknologi guna menghindari aksi mata-mata pemerintah. Mereka juga saling tukar info bagaimana bertahan terhadap peluru karet atau memasang barikade.

TIK, yang banyak di antaranya berasal dari Lembah Silikon, juga diakui peranannya sebagai wahana untuk mengomunikasikan gerakan—dalam arti juga untuk memasarkan ide revolusi.

Memasarkan ide secara online semakin berarti ketika aktivis (yang menurut perannya harus terjun di depan umum) banyak yang lalu ditahan. Aktivis yang bebas kemudian banyak yang beralih ke internet serta terus menyebarkan ide dan melakukan penggalangan melalui blog. Cara ini kemudian juga memberikan ketahanan bagi pergerakan. Ahmad Maher, misalnya, yang dikenal sebagai tokoh gerakan, membangun grup di Facebook dan menggunakannya sebagai simpul gerakan.

Selain untuk sosialisasi ide, TIK juga dimanfaatkan untuk penggalangan dana, misalnya di Mesir untuk pembelian selimut dan tenda bagi aktivis yang ingin bertahan di Alun-alun Tahrir, aplikasi serupa dengan yang digunakan Tim Sukses Barack Obama saat pemilihan umum presiden.

Mengapa Revolusi Mesir banyak ditopang oleh orang muda? Selain pemuda secara fitrah masih memiliki fisik dan semangat perjuangan kuat, pemuda masa kini juga lebih terekspos dengan TIK. Masuknya Wael Ghonim (31), yang merupakan eksekutif Google, ke dalam pergerakan Mesir menjadi aset tersendiri.

Reaksi otoritas

Dengan menyadari bahwa orang muda semakin punya kapasitas dan cakap menggunakan TIK, dan sementara itu kondisi sosial politik acap kali dilanda ketidakstabilan, wajar apabila mimpi buruk seperti Tunisia dan Mesir menghinggapi banyak rezim di dunia. Apabila di sini sempat muncul wacana untuk melarang TIK, seperti BlackBerry atau Twitter, karena potensial melahirkan ancaman terhadap negara, ini pun merupakan ekstensi permasalahan yang ditimbulkan oleh makin cairnya penguasaan TIK di kalangan masyarakat. Tidak terbatas pada kalangan muda yang prodemokrasi atau propemerintahan bersih di dalam negeri, tetapi juga oleh kalangan lain yang punya agenda selain itu di dalam atau di luar negeri. Wacana perang asimetri, yang antara lain diwujudkan dengan pemanfaatan TIK, diperkirakan juga ikut membentuk persepsi pemerintah mengenai potensi pemanfaatan TIK.

Dalam kaitan ini, tak kurang di Amerika Serikat pun sempat muncul wacana untuk menutup layanan internet. Senator AS mengusulkan rencana undang-undang pemberian kekuasaan darurat kepada presiden untuk menutup sebagian internet sebagai pertahanan terhadap serangan cyber. Namun, di Mesir pada 28 Januari lalu, internet ditutup karena diketahui merupakan pilar fundamental perjuangan demokratisasi. Menyusul aksi Pemerintah Mesir di atas, otoritas internet di sejumlah negara, seperti Jerman, Austria, dan Australia, menegaskan, pemerintah negara-negara tersebut tidak akan menginginkan adanya kekuasaan semacam itu (menutup internet) (The Economist, 12/2).

Seperti terbukti di Mesir, ditutupnya layanan internet dan seluler tetap tak sanggup menahan kuatnya tekanan aksi prodemokrasi. Tampaknya TIK telah ditakdirkan menjadi pilar kokoh penegakan politik terbuka dan demokratis. Dalam kaitan ini, rakyat—di mana pun berada—diingatkan bahwa akses internet kini semakin diterima sebagai bagian dari hak asasi manusia.
OLEH NINOK LEKSONO

Source: Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Indonesia Social Media Outlook 2011: “Five Big Shift in 2011 and Beyond”

Minggu lalu saya sharing di teman-teman FreSh dalam sebuah diskusi hangat bertajuk “Indonesia Online Business Outlook 2011” di Gedung Telkom Jl. Gatot Subroto. Di situ saya sharing mengenai Consumer 3000 yang saya elaborasi sedikit, implikasinya bagi bisnis online di Indonesia. Saya bilang di situ bahwa salah satu karakteristik penting dari Consumer 3000 adalah bahwa mereka semakin technology savvy dan “social media freak”. Thanks to the internet, dengan munculnya social media tool seperti Twitter dan Facebook yang supermurah, supermudah, dan superpowerful, konsumen kita semakin gampang mengadopsi beragam produk konsumsi berteknologi.

Dalam forum itu saya mengintroduksi munculnya lima pergeseran besar dalam lanskap bisnis online dan social media di Indonesia. Pergeseran ini tak terelakkan lagi merupakan dampak dari “gempa tektonik” (yang dikuti “tsunami”) perilaku konsumen Indonesia sebagai akibat munculnya Consumer 3000. Berikut ini adalah pergeseran-pergeserannya di tahun 2011.

#1. Social Media Euphoria Is Over. It’ll Become a Basic Needs
Yup!!! selama tiga-empat tahun terakhir blog, Facebook, Twitter telah menjadi hype dan eforia luar biasa di Indonesia. Ia menjadi sebuah gerakan massa. Orang beramai-ramai membuka akun Facebook atau Twitter agar tidak disebut jadul atau gaptek; agar disebut keren dan cool. Bermodal “update status” saja sudah cukup, nggak penting berderet fitur yang lain, yang penting bisa ngomong ke teman-teman bahwa mereka sudah menjadi “Facebook freak” atau “Twitter freak”. Di masa eforia, Facebook dan Twitter menjadi alat ekspresi diri, untuk menunjukkan “siapa aku”.

Kini masa eforia itu sudah lewat. Punya akun Facebook dan Twitter kini sudah tidak lagi keren atau sesuatu yang wah… biasa saja.  Lalu apa akibatnya? Facebook dan Twitter tidak lagi alat ekspresi diri, tak lagi alat nampang. Penggunaan Facebook dan Twitter memasuki fase kematangannya, yaitu mengarah ke fungsi (functionality) yang sesungguhnya. Konsumen Indonesia mulai menggunakan Facebook dan Twitter untuk berkoneksi dengan orang lain, berdiskusi, saling bertukar informasi, mencari berita terbaru, mendapatkan tips-tips, mencari informasi produk, mendapatkan referal sebelum melakukan pembelian, dan sebagainya. Tinggal tunggu waktu… social media will be a basic needs.

#2. iPad 500 Ribu Perak? Why Not!!!
Dulu kita tak bisa membayangkan ponsel harganya Rp. 200 ribu. Kini semua itu terwujud. Akankah tablet seperti iPad menjadi cuma 500 ribu perak? Tentu saja tidak. Apple tentu saja tak akan melego produk legendarisnya semurah itu. Tapi proses yang dialami ponsel di atas tak akan terelakkan lagi bakal dialami oleh iPad. Merek-merek murah lokal tiruan iPad yang dibikin di Cina bakal membanjiri pasar. Celakanya, merek-merek lokal ini bukanlah produk murahan yang asal dibikin, tapi merupakan produk value for money yang memiliki functionality tak kalah dari iPad tapi dengan harga jauh lebih murah. Celakanya lagi, di Indonesia akan ada begitu banyak smart value consumers yang akan membeli iPad tiruan ini. Di dalam konsep Consumer 3000, saya menyebut konsumen jenis ini sebagai: “Nexian Hunter”.

Kombinasi antara kuatnya permintaan (thanks to economies of scale) dan dorongan kompetisi antar iPad-iPad tiruan ini akan menggerus harga tablet ke titik yang sangat murah (hingga di bawah 1 juta perak, bisa-bisa cuma 500 ribu perak). Dan kalau hal ini terjadi, maka tablet akan menjadi mass product yang bakal dimiliki oleh semua lapisan masyarakat, tak terbatas hanya kalangan menengah dan atas. Persis seperti yang terjadi pada ponsel sekarang.

#3. Android Explosion
Kalau revolusi tablet terjadi, maka serta-merta revolusi “pasangannya” pun tak terhindarkan. Apa itu? Tak lain adalah revolusi pasar aplikasi (apps). Dan revolusi apps tersebut tak lain adalah revolusi Android. Kenapa Android? Karena di Android Market nantinya kita akan mendapatkan ribuan bahkan jutaan apps (mulai dari koran, majalah, buku, games, entertainment, radio-TV satelit, video … apapun) secara gratis. Ingat, gratis adalah sesuatu yang paling disukai konsumen kita (…yup, kualitas apps adalah masalah ke sekian, yang penting gratis!!!). Dan kalau hal ini yang terjadi, maka benar kata Telkom bahwa “the world is in your hand”. Apapun bisa kita dapatkan melalui gadget di tangan kita. Dan gadget di tangan itu tak lain adalah tablet yang di dalamnya berisi jutaan apps yang memudahkan, menghibur, mewarnai, dan memperindah hidup kita. Tinggal tunggu waktu saja… hidup kita bakal “dikuasai” oleh Android.

#4. From “Broadcasting” to “Connecting”
Kalau di tingkat konsumen, social media semakin menjadi basic needs, maka di tingkat produsen para brand manager pun mulai menggunakan social media pada tempatnya, dan menurut fungsi yang sesungguhnya. Tantangan terbesar bagi brand manager dalam mengadopsi social media selama ini adalah merubah mindset mereka dari pendekatan vertikal atau “broadcasting” menjadi pemasaran horisontal atau “connecting”. Karena sudah sekian lama para brand manager ini menggunakan media “broadcasting” seperti TV, radio, dan koran/majalah, maka ketika muncul media baru, social media, mindset mereka tetap tidak berubah. Mereka menggunakan media baru tersebut untuk mem-broadcast pesan-pesan pemasaran ke konsumen.

Kini, setelah 3-4 tahun melalui “masa pembelajaran”, para brand manager (early adopter) mulai menyadari dan memahami bagaimana seharusnya menggunakan media baru tersebut. Mereka akan mulai menggunakan blog, Facebook atau Twitter untuk menciptakan connection (melalui conversation dan engagement) dengan konsumennya. Terdapat tren, kini semakin banyak brand yang menciptakan conversation melalui medium blog atau portal komunitas (lihat misalnya, brand pelumas Evalube dengan portal GilaMotor.com-nya; atau brand kosmetik Caring Colours dengan portal komunitas CaringCareer-nya). Tak hanya itu, mereka juga memanfaatkan Facebook dan Twitter sebagai channel untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Semua dilakukan bukan dengan pendekatan “broadcasting” tapi mulai mengarah ke “connecting”.

#5. The Birth of Millions of Social Media Entrepreneurs
McKinsey&Co. secara umum mendefinisikan kelas menengah (middle class) adalah mereka yang memiliki pendapatan “menganggur” (disposable income, yaitu pendapatan sisa di luar yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari) mencapai 1/3 dari keseluruhan pendapatan. Disposable income ini merupakan dana sisa yang siap diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk bisnis. Ketika sudah cukup banyak kelas menengah di Indonesia, menyusul tembusnya GDP/kapita $3000, maka disposable income ini akan cukup besar dan siap untuk diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk venture, termasuk masuk ke bisnis online berbasis social media.

Nantinya akan banyak profesional dan pekerja kantoran yang sudah cukup disposable income-nya akan nyambi menjadi entrepreneur dengan berinvestasi di bisnis online berbasis social media. Bahkan ketika sudah banyak contoh sukses entrepreneur muda kaya raya di negeri ini karena berbisnis online/social media (lihat sukses Koprol dibeli Yahoo!), maka akan semakin banyak orang kantoran ini yang memberanikan diri nyebur menjadi full-time social media entrepreneur karena iming-iming kesuksesan.

Kenapa social media entrepreneur? Karena bisnis berbasis social media menuntut investasi yang relatif murah tapi memiliki potensi luar biasa karena merupakan sunrise business sekaligus blue ocean business. Karena murah meriah, kini muncul tren para fresh graduate mulai tak tertarik menjadi pegawai atau profesional; mereka mulai berani mencoba pertaruhan menjadi social media entrepreneur. Karena itu saya memprediksi social media entrepreneur bakal boom dalam beberapa tahun ke depan.

Selamat Datang 2011.

Source: yuswohady.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

SENSUS DIGITAL: Ini 33 Merek Berpengaruh di Media Sosial

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 33 merek terkenal dan 8 tokoh berpengaruh menjadi jawara di media sosial yang diperoleh dari hasil sensus digital yang dihasilkan melalui mesin yang diberi nama Sistem Iklan Teknologi Teks Indonesia (SITTI).

“SITTI bekerja sama dengan Majalah SWA dan OMG Consulting memberikan penghargaan bagi ‘Indonesia Most Popular Brand in Social Media dan Indonesia Most Influential Personality in Social Media’, ini adalah ajang penghargaan bagi merek-merek danpersonality Indonesia paling populer di media sosial,” kata Andy Sjarief dari SITTI kepada wartawan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (14/12/2010) malam.

Menurut Andi, cara kerja SITTI terkait penghargaan 33 merek dan personality paling populer di media sosial, dengan menangkap 600 juta halaman situs dalam bahasa Indonesia, 8 juta akun Twitter dan komunikasinya, serta merekam sekitar 10 juta akun Facebook.

“Dari hasil tangkapan itu, kemudian dilakukan pemetaan pembicaraan. Jika pembicaraan menyangkut merek atau personality, dapat ditemukan kata apa saja yang paling tinggi frekuensinya ditulis di situs internet, Twitter, Facebook, dan media sosial lainnya. Setelah itu, dapat diukur seberapa besar relevansinya terhadap merek atau personality tersebut,” papar Andy.

Sementara menurut pemimpin Majalah SWA, Kemal Effendi Gani, kolaborasi dan penghargaan ini untuk pertama kali untuk memetakan fenomena perkembangan media sosial yang begitu pesat, terutama di Indonesia. “Perkembangan media sosial sangat luar biasa, banyak dari kita sudah mengetahuinya. Namun, bagi pemilik dan pengelola merek, seperti apa merek mereka dibicarakan dalam dunia digital? Juga benarkah suara para public figure, pengusaha, artis, dan pakar didengar di media sosial? Survei ini memetakan fenomena tersebut,” jelas Kemal.

Dalam survei digital ini, terdapat 33 kategori produk dan lebih dari 100 merek yang ditelusuri rekam jejaknya di dunia maya. Sebanyak 33 kategori ini mulai dari makanan, minuman, elektronik, oli, sepatu sampai otomotif. Selain produk, hasil survei mencatat sejumlah orang yang berpengaruh di ranah media sosial, terutama Twitter. Mereka berpengaruh di bidang tertentu yang mampu menggerakkan pengikutnya (follower) yang jumlahnya tak sedikit untuk menge-tweet.

Rene S Canoneo dari SITTI mengatakan, SITTI adalah sebuah inisiatif digital dari, oleh, dan untuk Indonesia. Sebagai sebuah mesin, SITTI berkemampuan untuk membaca dan memaknai lebih dari 600 juta halaman web berbahasa Indonesia sekaligus menangkap pembicaraan di dunia maya. “Penghargaan ini untuk menghormati para pengguna media sosial yang telah berhasil memaknai dunia digital. Keberhasilan mereka adalah kontribusi pertumbuhan usaha dan perkembangan dunia digital di Indonesia,” kata Rene.

Berikut hasil survei 33 Indonesia Most Favourable Brands in Social Media:

Minuman Isotonik-Vitazone, Pasta Gigi-Pepsodent, Kopi Bubuk-Torabika, Lemari Es-LG, Sampo-Sunsilk, Oli Pelumas-Castrol, Mobil-Toyota Avanza, Sepatu-Converse, Minuman Penambah Tenaga-Kuku Bima Ener-G, Kacang-Garuda, Sabun Mandi-Lux, Obat Sakit Kepala-Panadol, Leasing-FIF, Deodoran-Rexona, Televisi-Samsung, Motor-Honda, Lipstick-Maybelline, Kamera-Canon, Simcard GSM-IM3, Simcard CDMA-Esia, Rokok Putih-Marlboro Light, Rokok Mild-Sampoerna A Mild, Rokok Kretek-Sampoerna Hijau, Obat Batuk dan Flu-Decolgen, Laptop-HP, Biskuit-Oreo, Teh Kemasan-Frestea, Mi Instan-Indomie, Bank-BCA, Asuransi-Prudential, Maskapai Penerbangan Low Cost-Air Asia, Maskapai Penerbangan Full Service-Garuda Indonesia, Smartphone-Nokia

Hasil survei 8 Indonesia Most Influential Personality in Social Media:

Film – Hanung Bramantyo, Makanan – Bondan Winarno, Musik – Indra Lesmana, Olahraga – Bambang Pamungkas, Travel – Bondan Winarno, Fashion – Iwet Ramadhan, Gadget – Andrew Darwis Kaskus

Source: Kompas.com, 15 Desember 2010

“Social Media” Memudahkan Riset Produk

twitter logo

JAKARTA, KOMPAS.com — Social media rupanya tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan produk yang pada akhirnya akan meningkatkan penjualan. Namun, bagi produsen sendiri, social media bisa dimanfaatkan untuk melakukan riset produknya untuk menciptakan sebuah produk yang lebih baik. “Kami tidak perlu lakukan research lagi sekarang. Melalui social media, kami tahu respons konsumen beberapa saat saja setelah produk kami diluncurkan,” ucap Chief Marketing Officer Nexian Andy Jobs, Kamis (16/12/2010), dalam The Markplus Conference 2011, di Pacific Place, Jakarta.

Ia membandingkan ketika belum ada social media, sebuah perusahaan untuk mengevaluasi produknya harus melakukan sebuah riset dengan biaya yang cukup mahal. Hasilnya pun tidak bisa langsung diketahui, dua atau tiga bulan kemudian baru diketahui kelebihan atau kekurangan fitur di dalam produk.

Dengan adanya social media, ujar Andy, membantu perusahaan untuk memangkas biaya riset serta evaluasi produk dapat diketahui dengan cepat. “Evaluasi produk bisa diketahui dari komentar-komentar netizen, di mana kurangnya produk kami. Jadi menggantikan fungsi riset sebelumnya,” ungkap Andy.

Dengan adanya social media ini, Andy mengaku menjadi lebih mudah melakukan penetrasi pasar. “Soalnya selama ini, rupanya netizen sendirilah yang mengembangkan pasarnya di dalam komunitasnya. Mereka yang berbicara tentang produk,” ungkap Andy.

Oleh karena itulah, Nexian selalu memberikan budget lebih untuk aspek pengelolaan netizen. Namun, strategi komunikasi dengan netizen memang tidak boleh hanya dijalin di dunia maya karena pada dasarnya netizen merupakan citizen (masyarakat). Maka, strategi komunikasi melalui kampanye “Above The Line” pun masih perlu dilakukan untuk melengkapi strategi komunikasi ke netizen.

Social media, ungkap Andy, juga menjadi barang dagangan yang laris manis untuk dimasukkan dalam fitur ponsel. Namun, strategi ini sudah banyak diterapkan oleh banyak produsen sehingga social media menjadi barang yang generik. “Semua social media yang bisa jadi added value sekarang bahkan sudah jadi bahan generik, walaupun HP dengan harga ratusan pasti bisa Twitter-an atau Facebook,” tutur Andy.

Maka dari itu, Andy menyarankan bahwa produsen perlu melakukan sebuah inovasi pelayanan dengan menambahkan added value lain yang menarik konsumen. “Contohnya, kami membuat Nexian Messenger yang saat ini sudah ada 2 juta database profile, music databes profile berbasis DRM (digital rights management), dan lain-lain,” pungkas Andy.

?Penulis: Sabrina Asril ? ?Editor: Erlangga Djumena

Source: kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.