siwah.com

Blog

  • Google Jadi Penyambung Lidah Rakyat Libya

    twitter with google voice

    KOMPAS.com – Perusahaan internet besar dari Amerika Serikat tampil menjadi “penyambung lidah rakyat” Libya, sebagaimana dulu dilakukannya saat rezim Presiden Mesir, Hosni Mubarak, memberangus sambungan internet. 

     

    Kini, Libya di bawah kuasa Presiden Moammar Khadafi juga memblokir layanan internet, antara lain situs jejaring sosial Twitter. Maka, Google pun berinisiatif meluncurkan layanan speak to tweet bagi rakyat Libya.

    Layanan itu memungkinkan rakyat Libya mengabarkan informasi tentang situasi di negeri itu kepada dunia luar. Caranya, mereka cukup menelepon ke beberapa nomor telepon yang disediakan Google.

    Selanjutnya, Google yang akan mengolah dan menyebarkan informasi itu melalui akun Twitter. Dan, seperti disiarkan TV Al Jazeera, inilah nomor telepon yang disediakan Google buat menyambung lidah rakyat Libya itu: +1 650 419 4196, +3 906 622 07294, +4 420 331 84514.

    Source: kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Revolusi Twitter

    Teknologi berbasis pengetahuan, informasi, dan komunikasi sampai sekarang tetap menjadi tumpuan semangat membangun sistem politik, sosial, ekonomi, perdagangan yang mampu menggerakkan rakyat banyak mencari alternatif di tengah perilaku elite yang non-demokratis, KKN, melakukan penyensoran, atau mengekang pendapat umum.

    Gejolak politik dan sosial di kawasan Timur Tengah yang melanda seluruh negara Arab menjadi bukti nyata bagaimana perilaku elite di sejumlah negara bangsa ini satu per satu tumbang berhadapan dengan jejaring sosial digital yang sangat krusial menentukan jalannya masa depan.

    Aplikasi seperti Facebook dan Twitter menghasilkan revolusi tanpa kepemimpinan. Sebuah revolusi jenis baru yang mampu mengorganisasi menyatukan jutaan orang mengukir sejarah dunia. Ini terbukti di Tunisia dan Mesir, dan akan tetap membuktikan diri di Bahrain, Libya, Iran, maupun beberapa negara Arab lain.

    Perubahan sosial secara radikal yang membawa rakyat negara-negara Arab ke jalanan menuntut para pemimpinnya yang korup dengan kekuasaan yang berkepanjangan telah menjadikan kemajuan teknologi komunikasi informasi, termasuk ponsel dan SMS, sumber inspirasi dan penggerak yang luar biasa.

    Ketika jejaring sosial digital disensor dan diputus, jaringan seluler dimatikan, muncul upaya lain untuk ikut menentukan dan memengaruhi gagasan pemikiran baru sebagai alternatif terhadap kekuasaan. Di Asia, kemajuan teknologi komunikasi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan politik.

    Gelombang SMS dengan pesan ”Go 2EDSA wear black” menjadi perangkat politik mengubah jalannya kekuasaan pemerintah dan menggulingkan Presiden Filipina Joseph Estrada pada tahun 2001. Kemajuan teknologi komunikasi informasi telah memudahkan kondisionalitas bagi tuntutan politik baru menghadirkan mobilisasi secara penuh dan utuh menjatuhkan kekuasaan tamak.

    Ketika kekuasaan Mesir menghentikan sistem jejaring digital, muncul alternatif menghadirkan pesan suara ke nomor telepon tertentu yang secara otomatis mengubah menjadi teks micro-blogging melalui gabungan kerja sama Google, Twitter, dan SayNow.

    Perubahan di kawasan Timur Tengah sekali lagi membuktikan, kemajuan teknologi komunikasi informasi tidak bisa dibendung, apa pun cara yang dilakukan. Jejaring sosial digital dalam bentuk Facebook atau Twitter adalah sebuah jaringan yang mengalirkan berbagai data dan informasi yang mampu menggerakkan sebuah revolusi. Revolusi yang tidak dipimpin.

    Source: kompas.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Qanun Wali Nanggroe

    ISU pro dan kontra urusan raqan Wali Nanggroe menimbulkan polemik di dalam masyarakat Aceh dewasa ini. Hal ini kita takutkan akan menjadi pertumpahan darah sesama bangsa Aceh akibat dari fanatik mempertahankan pendapat dan golongan masing-masing. Yang saya sesalkan banyak orang Aceh yang tidak tahu menahu ikut terkorban hanya karena fanatik dan ikut-ikutan tanpa mengetahui latar belakang politik GAM sampai saat ini. Beberapa senior pejuang AM (Atjeh Merdeka) meminta saya untuk membuat ulasan tentang sepak terjang sejarah perjuangan AM, berhubung dengan  banyaknya orang-orang tua GAM yang telah berpulang kerahmatullah dan hanya tinggal beberapa orang yang masih hidup.

    Sebelum mempersoalkan kedudukan Wali Nanggroe, saya rasa rakyat Aceh perlu mengetahui latar belakang sejarah perjuangan bangsa Aceh dalam mempertahankan marwahnya sebagai satu bangsa di  Aceh di ujung Pulau Sumatra.  Sejarah ini saya ceritakan berdasarkan dari pengalaman saya sendiri yang telah mengikuti perjuangan GAM sejak dari semula sampai sekarang, tidak pernah berhenti: mulai dari pergerakan dibawah tanah yang kami mulai di Medan bersama-sama dengan Dr. Mukhtar Y. Hasbi,  Ir. T. Asnawi  dan Tgk. Amir Ishak, jauh sebelum Proklamasi 4 Desember. 1976, malah jauh sebelum Tgk. Hasan di Tiro kembali ke Aceh.

    Sebagai patokan untuk sejarah AM masa kini dimulai sejak Tgk. Daud di Beureu-eh pergi berobat keluar negeri di tahun 1974. Tentu sebelum Abu Beureu-eh berangkat keluar negeri telah bermusyawarah dengan orang-orang tua Aceh yang masih setia dengan perjuangan, antara lain: Tgk. Umar di Tiro, Tgk. Muhammad Zainul Abidin dan beberapa pengikut setia DII, TII Aceh. Salah seorang sahabat saya, Dr. Ishak Abbas ikut mengawal Abu sebagai doktor pribadi beliau. Program yang dibuat oleh Tgk. Daud di Beureu-eh pada saat itu antara lain adalah menjumpai Tgk. Hasan Muhammad di Tiro dan memberi tugas kepada beliau untuk urusan pembelian senjata dan membawa pulang perlengkapan angkatan perang tersebut ke Aceh.  Fakta sejarah ini membuktikan bahwa Prang AM ini adalah sambungan dari Prang Darul Islam, cuma sifatnya tidak lagi Indonesia di belakangnya tetapi Aceh berdiri sendiri di luar Indonesia, karena Tgk. Daud di Beureu-eh  telah memproklamirkan RIA (Republik Islam Aceh) pada akhir perjuangan DII, tahun 1961.

    Yang penting kita ketahui bahwa kesalahan pemimpin Aceh ditahun 1945 telah diperbaiki kembali oleh Tgk. Daud di Beureu-eh dengan memproklamirkan Aceh kembali merdeka dan berdaulat atas Aceh seperti masa sebelum Belanda datang memerangi Aceh 26 Maret 1873. Bedanya kalau di masa awal Prang Aceh-Belanda masih ada Raja atau wakil Raja yang memegang tampuk pimpinan pemerintahan dan pimpinan angkatan Prang, tetapi pada akhir prang Aceh Belanda, yang tinggal tetap berjuang melawan penjajahan Belanda adalah dari golongan ulama dan rakyat. Sebagai Republik, Aceh adalah milik bersama rakyat Aceh.

    Sekembalinya Tgk. Hasan M. di Tiro, dan memproklamirkan Atjèh Meurdéhka pada 4 December 1976, tidak dijelaskan bentuk sistem pemerintahan di Aceh pada saat itu. Kami para menteri AM pada waktu kuliah di University Gunong Halimon, bertanya pada beliau apa bentuk pemerintahan AM. Beliau menjawab dan menerangkan semua bentuk-bentuk sistem pemerintahan yang ada di atas dunia; monarki (bentuk kerajaan), teokrasi (bentuk agama), demokrasi (bentuk republik), dll. Beliau selanjutnya menerangkan kepada kami sejumlah kelebihan dan kekurangan daripada sistem bentuk-bentuk pemerintahan tersebut. Pada saat proklamasi 4 Desember 1976 belum kita tetapkan apakah bentuk dari pada sistem pemerintahan AM; Tgk. Hasan di Tiro sebagai Wali Neugara, sebagai pucuk pimpinan Angkatan Perang Atjèh Meurdéhka dan Kepala Negara menyerahkan kepada rakyat Aceh untuk menentukan bentuk sistem pemerintahannya bila sudah merdeka dan kedaulatan Aceh sudah berada di tangan kita, bangsa Aceh. Dengan demikian, kedaulatan bangsa Aceh otomatis berada ditangan rakyat Aceh. Tengku Hasan M. di Tiro sendiri menuliskan lakap dirinya sebagai Tengku dan akhirnya sebagai Tengku Tjhik atau Panglima Tjhik, dan tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuanku.

    Kedudukan wali negara adalah sebagai wali bangsa Aceh, diambil dari dasar agama Islam sebagai agama dan cara hidup orang Aceh. Dalam satu keluarga perlu ada seorang wali, penanggung jawab yang berdiri di depan untuk menjawab soal-soal hidup-mati satu keluarga, satu bangsa. Terlebih-lebih lagi dalam soal darurat, seperti kedudukan bangsa Aceh sekarang, setelah sekian lama berperang melawan Belanda dan kehilangan begitu banyak walinya dan pemimpin-pemimpinnya. Saat ini kita perlu seorang wali, seorang pemimpin untuk memimpin perjuangan dan mengatur barisan supaya perjuangan kebangsaan ini terarah dan tidak kacau balau ketika menghadapi musuh yang sama yaitu NKRI. Menegakkan kembali kedaulatan bangsa Aceh dan membebaskan bangsa Aceh dari belenggu penjajahan NKRI dan membangun Aceh.

    Semasa saya bersama dengan PYM WN Tgk. Hasan M. di Tiro, kami tidak pernah memisahkan Perjuangan GAM dari perjuangan Rakyat Aceh. Motto kami adalah ‘perjuangan dari rakyat dan untuk rakyat’. Diawal-awal tahun 1976-1979, kami semua para menteri kabinet turun ke kampung-kampung dan berjuang bersama rakyat, duduk bersama rakyat, dalam segala lapisan masyarakat, termasuk ulama dan menggerakkan mahasiswa dan pemuda, yang kesemuanya menjadi anggota angkatan tentera AM. Kita tidak pernah memisahkan diri kita dari rakyat. Rakyat di kampung-kampung yang kami lalui di seluruh Aceh, dimana-mana benar-benar merasakan bahwa kami adalah anak rakyat, bahagian dari mereka yang mengorbankan diri dan karir kami untuk mereka, untuk kelanjutan bangsa dan Negara Aceh. Demikian yang dilakukan oleh Asysyahid Dr. Tgk. Mokhtar Yahya Hasbi di Wilayah Pase; asysyahid Tengku Haji Ilyas Leube dari Lingge, Takengon; asysyahid Dr. Zubir Mahmud di Wilayah Peureulak, assyahid Nek ‘Un di Wilajah Teumiëng, asysyahid Tgk. Idris Ahmad di Wilajah Batèë Iliëk; asysyahid Tgk. Ibrahim Abdullah di Wilayah Glumpang Minjeuk; asysyahid Tgk. Abdullah Shafii di Wilayah Pidië dan Tgk. Bataqiah di Meulaboh, semuanya berjuang untuk rakyat Aceh, demi bangsa Aceh.

    Gerak langkah GAM dibawah pimpinan Malik Mahmud (MM) sangat jauh berbeda dengan GAM yang kami pimpin pada permulaannya. Meskipun nama MM telah dicantumkan sebagai Menteri Negara  di tahun 1976, tetapi yang membuat MM berpengaruh di dalam GAM  dimulai ditahun 1987, di saat ia mendapat tugas untuk me-rekrut anak-anak muda dari Aceh dan dari Malaysia untuk dilatih di Libya dan dari Libya dipulangkan ke Aceh. Semua mereka ini sebelum pulang ke Aceh juga harus melalui MM.  Semua pemuda latihan Libya hanya mengenal MM sebagai pemimpin AM, tidak tahu menahu seluk beluk ideologi AM apatah lagi sejarah Pra AM. Tidaklah heran kalau garis perjuangan TNA dibawah MM berbeda daripada dari tujuan semula. Secara garis besarnya GAM MM memisahkan diri dari rakyat. Mereka menunjukkan dirinya sebagai penguasa dan mendikte rakyat. Siapa yang membangkang langsung ditindak. Hanya ada dua pilihan, yaitu: jalankan perintah atau bayar pajak yang ditetapkan atau anakmu yatim, kehilangan bapaknya. Bukan saja kepada rakyat, bahkan kepada rekan seperjuangan yang berlainan pendapat langsung digeser, difitnah dan tidak sedikit yang dihukum mati. Contoh rekan seperjuangan yang saya maksud: T. Don Zulfahri, Tgk. Haji Usman, Tgk. Abdul Wahab, Tgk. Abdullah Shafii dll. Gurèë Rahman difitnah dan diperangkap hingga dimasukkan ke dalam penjara Malaysia. Tgk. Daud Husin difitnah dan dicopot dari jabatannya serta diperintah bunuh. Besar dugaan pembunuhan Djafar Siddik SH, Prof. Safwan Idris, dan Prof. Dr. Dayan Daud pun ada sangkut-pautnya dengan perebutan kuasa dikalangan masyarakat Aceh dan dalam usaha pembersihan lawan politik MM.

    Sangat disayangkan, Tgk. Hasan diserang penyakit Stroke ditahun 1997 dan MM berusaha menutup-nutupi keadaan WN agar dia dapat menggunakan bayangan WN untuk menutupi gerak langkahnya sendiri, sebelum ia yakin bahwa massa rakyat Aceh telah dapat dipegangnya, untuk menunjukkan kepada rakyat bahwa semua ulah dan tingkah lakunya berdasarkan atas perintah WN.

    Sifat pemerintahan GAM MM yang berbau mafia ini terlihat jelas di dalam Perundingan HDC pertama atau pada Pra HDC di Geneva. Direktur HDC, Martin Griffith dan sekretarisnya Dr. Louiza datang ke Stockholm menjumpai saya dan kawan-kawan sehubungan dengan pembahasan kemungkinan untuk menyelesaikan konflik Aceh-RI di meja perundingan. Dalam kesempatan ini saya meminta kepada HDC supaya tim Aceh dipersatukan dahulu secara terpisah sebelum bertemu dengan utusan dari RI. Maksud saya menggunakan kesempatan yang sangat baik untuk mempersatukan semua golongan dari aktivis Aceh dengan GAM dari dalam dan luar negeri. Saya menyatakan kepada Martin Griffith dan Louiza untuk memanggil lima orang Aceh dari dalam Negeri untuk datang ke Jeneva, antara lain: Sdr. Nazar sebagai wakil mahasiswa dan SIRA; Tengku Ibrahim Panton mewakili Ulama; Otto Syamsuddin Ishak, wakil NGO, Prof. Abdullah Ali dll. Lagi. Saya juga menelepon kepada Sdr. Hasballah MS yang pada waktu itu menjabat Menteri HAM, supaya memberi fasilitas (uang dan passport) kepada orang-orang yang tersebut diatas agar mereka semua dapat datang mengikuti  perundingan di Jeneva. Saya juga meminta kepada HDC agar diberi satu hari untuk kami sendiri dapat berjumpa untuk merekonsiliasi dan sama-sama mengatur strategi dalam menghadapi NKRI. Saya meminta kepada HDC untuk mempertemukan kami dengan pihak MM serta dihadiri juga oleh wakil-wakil dari Aceh tersebut. Tetapi malang, apa yang terjadi adalah semua rancana saya itu dibatalkan oleh MM. Dr. Louiza menceriterakan kepada saya bahwa MM menolak bertemu dengan kami dan wakil-wakil dari Aceh seperti yang saya usulkan diatas. Ia hanya mau bertemu dengan Wakil NKRI dihari Kamis dan kami bertemu dengan NKRI pada hari Jumat. Dan yang paling ironis lagi, pada hari Jumat tersebut Dr. Louiza membisikkan kepada saya bahwa MM baru saja meneleponnya dan mengancam supaya kami tidak di-ikut sertakan dalam perundingan-perundingan selanjutnya.

    Perlu saya tambahkan sedikit lagi bahwa rekonsiliasi yang saya usahakan diatas adalah rekonsiliasi ke II yang saya usahakan dengan bantuan teman-teman seperjuangan yang cinta kepada perdamaian dan persatuan bangsa Aceh dan tidak ingin pertumpahan darah sesama bangsa. Rekonsiliasi pertama yang kami usahakan adalah dengan bantuan IFA, USA. Dalam rapat IFA di Washington tahun 1999 yang dihadiri juga oleh wakil-wakil dari Aceh oleh Prof. Dr. Abdullah Ali, Ir. Ibrahim Abdullah,  Sdr. Ghazali Abbas, dan beberapa aktivis; disitu kami memutuskan untuk mengirim delegasi penengah untuk menjumpai MM melalui M.Nur Juli di Singapura untuk mengadakan rekonsiliasi mendamaikan perpecahan dikalangan GAM. Team delegasi penengah yang dikirim untuk menjumpai MM waktu itu diketuai oleh Sdr. Asjsjahid Jafar Siddik SH dengan dua orang anggota Sdr. Ir. Ibrahim Abdullah dan Sdr. Adam Djuli. Ternyata tim pendamai ini gagal dan ditolak oleh MM, dan yang sangat sedih bagi kita Sdr. Jafar Siddik sendiri didapati terbunuh dengan sangat sadis dan misterius.

    Demikianlah serba singkat pengalaman saya bersama ‘Wali Nanggroe Atjèh’ yang telah beberapa kali membatalkan usaha kami untuk mengadakan rekonsiliasi dan pemersatu semua grup aktivis dan pejuang kemerdekaan Aceh untuk sama-sama memikirkan kelanjutan nasib bangsa. Bagi saya tidak ada gunanya kita memperdebatkan kedudukan Wali Nanggroe pada saat ini. Wali Nanggroe apa? Nanggroe kita belum ada. Wali Nanggroe dari Provinsi Aceh of the Republic of Indonesia? Jangankan kedudukan Wali Nanggroe, kedudukan Sultan pun kalau dibawah NKRI tidak ada harganya. Lihat Sultan Deli, di Istana Maimun.  Beliau tidak mempunyai kekuasaan apa-apa sekarang! Yang penting perjuangan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Aceh yang kini telah diselewengkan kedalam NKRI menjadi Propinsi NKRI harus dikembalikan ke tujuan semula. Atjèh harus merdeka sebagaimana sebelum kolonial Belanda datang. Indonesia yang menggantikan kolonial Belanda harus keluar dari Aceh. Proklamasi 4 Desember 1976 yang telah dikhianati. hak menentukan nasib diri sendiri bangsa Aceh inilah yang harus kita tuntut, sampai kapanpun, kalau perlu sampai dunia kiamat bersambung-sambung, turun-teumurun sampai ke anak cucu, Insya Allah.[]

    Penulis; Dr Husaini Hasan, Menteri Pendidikan Aceh Merdeka angkatan tahun 1976.

    Source: Harian Aceh

  • untuk Para Istri…dari Kami Para Suami !!

    Hal ini kudengar langsung dari bibir Bob Sadino, paling sedikit tiga kali.
    Pertama dihadapan orang banyak, lalu kedua ketika berbincang denganku face
    to face, dan ketiga di Buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino”.

    Tetapi adegan yang paling berkesan adalah ketika hal itu diucapkannya
    didepan para pengusaha yang sengaja diundang beliau kerumah. Dan diantara
    mereka hanya aku undangan yang agak nyeleneh..seorang photographer.

    “Kalau kalian berpikir bahawa Bob Sadino hebat, kalian salah besar. Tapi kalian tak sepenuhnya salah, memang seperti itulah yang diangkat oleh media tentang pengusaha nyeleneh bernama Bob Sadino”. Ia terdiam sebentar sambil
    mengusap wajahnya. Lalu melirik kearah dapur, kemudian menatap dengan mesra
    seseorang. Disana terlihat Mami (istri Om Bob) tengah duduk makan. Kamipun
    ikut-ikutan melirik kearah yang sama.

    “Dia..dia itu..”, ujar Om Bob terbata-bata dengan suara berat. Ekspresi wajah haru itu membuat kami hampir tidak berani menatap kearah beliau.

    “Dia yang hebat…”, lanjut Om Bob sambil menarik nafas panjang dan berat,
    lalu menghembuskannya perlahan.

    “Kalau ketika saya menjadi kuli batu dulu..dia meninggalkan saya..habislah
    sudah..”

    Kali ini Om Bob menunduk hikmat, tangannya kini menggosok lututnya yang telah keriput.

    Seisi ruangan sunyi senyap. Yang terdengar hanyalah hembusan 12 AC yang terpasang di ruangan besar itu. Atmosfir cinta yang kuat memenuhi ruangan itu demikian kuat.

    “Without Her.. I’m just like a piece of shit on the table..a big piece of shit on the table !”

    Kini tak seorangpun berani menatap Bob Sadino..kami terutama para lelaki
    tertunduk dalam. Kata-kata tak terduga..

    dan jika aku bukan laki-laki pastilah aku sudah meneteskan air mata melihat
    adegan ini didepan hidungku.
    *****

    Hiruk pikuk sexy dancer sudah mereda, meskipun pesta belumlah usai. Kini
    laki-laki berdarah Bali itu berdiri tegak

    sambil menggenggam mikrofon ditangan kirinya. Kadek Sardjana, seorang owner
    perusahaan minyak dan gas terkemuka berdiri dihadapan seluruh karyawan dan
    partner bisnis beliau. Hampir tidak bisa bicara..

    “Saya tidak sedang mabuk..”. ujarnya perlahan. Cerutu dijari kanannya tampak
    bergetar, jelas ia sedang berusaha menguasai dirinya sungguh-sungguh.

    “Kalian tahu siapa saya..bagi saya kalian bukan karyawan..tapi kalian adalah
    kawan seperjuangan”, sebentar ia menatap mereka satu-persatu.

    “Kalian tahu persis baik-buruk saya, dan apa yang telah saya lakukan..saya
    bukan laki-laki yang sempurna”, kembali Kadek menarik nafas dalam-dalam.
    Wajah laki-laki pemberani itu melembut.

    “Tapi saya ingin kalian tahu..bahwa tanpa dia”, kini jari kanan itu membuka dan mengarah penuh hormat kearah seseorang di atas sana, Sang Istri Tercinta..

    “Tanpa dia..semua ini tidak akan seperti yang kalian lihat sekarang”

    Kini Kadek Sarjana sedikit menundukkan kepala seolah memberi hormat…

    “Honey..aku bukan laki-laki yang sempurna..but I Love You soMuch.. semua ini untuk mu Honey”

    kini ruanganpun bertambah sunyi senyap.. tidak ada satupun yang berani bicara atau bertepuk tangan.

    Sementara wanita luar biasa diatas sanapun mulai menangis terharu..

    dan beberapa saat kemudian pasangan luar biasa itupun tampak berdansa di
    dance floor dalam remang lampu, dikelilingi karyawan dan undangan.
    ****

    “Mau tahu apa yang saya banggakan ?”, tanya Mario Teguh kepada seluruh
    hadirin yang hadir distudio itu.

    “Mau tau apa itu ?”, ulangnya sekali lagi.

    Kami semua terdiam. Masing-masing memendam pertanyaan besar. Apa yang
    dibanggakan oleh seorang Mario Teguh ? Pertanyaan yang aneh. Betapa banyak
    yang dapat dibanggakan oleh seorang Mario Teguh !!!

    “Karena ada yang mengangguk..maka saya akan menjawabnya juga”, sambung
    beliau..melihat kebingungan kami. Jelas tak satupun yang betanya, namun
    Mario memang tak memerlukan pertanyaan..Ia hanya ingin mendelarasi sesuatu.

    “Yang paling saya banggakan adalah istri saya..”, sambungnya dengan mata
    berkaca-kaca.

    Seluruh hadirinpun bertepuk tangan.
    ***

    “Made..kamu lagi ngapain ??”, tanya sesorang diujung telpon sana. Suara yang khas. Suara yang begitu sering kita dengar meneriakkan “Success is my rigth !! Salam Sukses…Luar BIasa !!!!”

    Yaa..Andrie Wongso. Beliau menelponku disaat yang tak kuduga sama sekali.
    Ketika aku sedang bercelana pendek, memotong rumput dan belum mandi. Kami ngobrol sebentar…lalu ketika obrolan kami menyerempet ke
    keluarga..anak..lalu istri. Iseng saya menanyakan hal ini..”Pak
    Andrie..menurut Bapak apa peran istri bagi seorang Andrie Wongso..?”

    Seketika itu tokoh yang telah menginspirasi begitu banyak orang itu pun terdiam. Aku tahu hubungan telpon tidak terputus. Motivator Nomer 1 itu
    memang sengaja diam.

    Nyaris lebih dari satu menit.

    “Pak Andrie..?”, tanyaku hati-hati. Beberapa saat kemudian sebuah suara
    berat dari Andrie Wongsopun muncul.” Iya Made..I hear you..”, Andrie kembali
    terdiam,”Istri..yah…?”.

    Aku mendengar suara senyuman dari telepon beliau.

    “Tanpa istri..Andrie Wongso pastilah bukan Motivator Nomer 1…entah jadi
    apa dia !!”, ujarnya penuh perasaan.

    “Made, dialah satu-satunya orang yang begitu tabah mendampingi saya
    dimasa-masa sulit dulu..”
    ***

    Jelas aku belum sesukses dan sedahsyat tokoh-tokoh diatas..tetapi paling tidak aku tidak akan menunggu terlalu lama untuk mengatakan hal ini kepada
    istriku, Wida.

    “Bagiku, kau seakan dikirim dari surga untukku. Terima kasih telah bersabar
    dengan seluruh kegilaanku, dan tetap setia mendampingi dan mencintai suamimu ini sekian lama, walaupun kau tahu persis aku bukan laki-laki sempurna. Aku hanya ingin kau tahu..bahwa kau sangat berharga bagiku..aku sangat mencintaimu..!” (*)

    *warm regards,

    *Made Teddy Artiana, S. Kom*
    photographer, penulis & event organizer

    Saya di Majalah SWA sembada (agustus 5-19 2009)
    http://swa.co.id/2009/08/made-teddy-artiana/

    di Majalah Human Capital
    http://www.portalhr.com/majalah/edisisebelumnya/bisnis/detail.php?cid=1&id=1549&pageNum=1

    di Majalah Bahana
    *http://www.ebahana.com/warta-2162-Dari-Hobi-Datanglah-Rejeki.html*

    *My Photography PORTFOLIO*
    # Commercial Photography #
    http://companyprofile.multiply.com
    http://withbobsadino.multiply.com

    # Wedding Special Photography #
    Pernikahan Agung Puteri Sri Sultan Hamengku Buwono X
    GRAJ Nurkamnari Dewi & Jun Prasetyo MBA
    http://nurkamnaridewi.multiply.com

    # Prewedding Photography #
    http://theanonymouslove.multiply.com/
    http://loveforallseasons.multiply.com/
    http://outdoorprewedding.multiply.com
    http://prewedding.multiply.com
    http://prewedding1.multiply.com
    http://prewedding2.multiply.com
    http://prewedding3.multiply.com

    # Wedding Photography #
    http://candidwedding.multiply.com
    http://weddingcandid.multiply.com

    *T J A M P U H A N*
    profile developer : photography, videography, 3D Animation, graphic design &
    printing
    *”Where passion and business live in harmony”*
    CP : Made Teddy || 081317822720

  • Anatomi Revolusi

    Cuma butuh 29 hari untuk menumbangkan rezim di Tunisia yang 22 tahun berkuasa. Hanya butuh waktu kurang dari sebulan untuk memaksa Presiden Mesir Hosni Mubarak akhirnya menyerah.

    Ini bukti bahwa politics is the art of the possible dan revolusi bisa menumbangkan siapa saja. Politik bukan rumus matematika 2+2>4. Ada gurauan politik bisa berdarah seperti dimaknai oleh gabungan dua kata Yunani: poly (banyak) dan tics (parasit pengisap darah).

    Revolusi Melati di Tunisia dan Revolusi 25 Januari di Mesir mewabah cepat ke mana-mana. Revolusi tak ubahnya penyakit flu: tak perlu obat, hanya butuh pemimpin yang sadar bahwa ia butuh tidur lama alias ”istirahat” saja.

    Memang betul obat ”flu politik” banyak: pidato, imbauan, rayuan, gertakan, gas air mata, pentungan, bedil, perombakan (reshuffle), bahkan nyawa. Namun, seperti kata dokter, tak semua obat manjur dan jika terlalu banyak ditenggak bikin overdosis (OD) dengan gejala mulut pasien mengeluarkan busa.

    Lagi pula konyol ada pemimpin nekat mencegah jutaan warga tumpah ke jalan mencari jalannya sendiri. Itu jenis pemimpin yang masih memakai logika ”analog” di era ”digital” yang sudah banjir media atau jejaring sosial ini.

    Dan, janganlah jemawa mau mengatur atau menutup akses internet, Facebook, Twitter, Black- Berry Messenger, dan lain-lainnya. Narasi tidak akan pernah bisa diubah menjadi fiksi, buruk rupa jangan cermin yang dibelah.

    Revolusi atau perubahan—apa pun namanya—tak kenal batas negara dan lingkup masa.

    Apa yang terjadi di Magribi atau Timur Tengah kini sudah membuat kalang kabut rezim di Kuba.

    Revolusi-revolusi klasik kadang diletupkan oleh persoalan pribadi. Di Tunisia ada martir pedagang sayur buah gerobak, Mohamed Bouazizi yang membakar diri, yang memaksa Presiden Zine al-Abidine Ben Ali minggat ke Arab Saudi.

    Menurut teorinya, revolusi meledak hanya kalau ada tokoh-tokohnya. Revolusi 25 Januari tidak punya tokoh karena dipelopori jutaan warga lintas usia, orang kaya ataupun miskin, serta pria dan wanita.

    Ingat, tumbangnya rezim-rezim komunis Eropa Timur pada akhir 1980-an disebabkan hanya perestroika dan glasnost sang dua mantra. Ternyata taglines Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev itu jauh lebih sakti daripada mantra tukang sihir ”simsalabim” atau ”abrakadabra”.

    Jika Bung Karno-Bung Hatta tak diculik para pemuda ke Rengasdengklok, mungkin kita batal merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Andaikan tak ada pembunuhan serta penculikan jenderal-jenderal tanggal 1 Oktober 1965, barangkali Orde Baru gagal mengudeta Orde Lama.

    Itulah bukti bahwa ”faktor X” siap mengintai untuk mengubah sejarah kita. Jika tidak hati-hati, perubahan besar bukan mustahil datang lagi jikalau pemerintah membiarkan terus terjadinya intoleransi terhadap agama.

    Kini Revolusi Melati dan Revolusi 25 Januari telah menjalar ke Yaman, Bahrain, Suriah, Jordania, dan Libya. Pelajaran pertama, penguasa terpaksa mengoreksi diri: tak akan mencalonkan diri kembali sebagai presiden atau berhenti sesuai dengan jadwal kepemimpinannya.

    Pelajaran kedua, revolusi-revolusi di Magribi atau Timur Tengah membuka lebar-lebar mata kita bahwa politik dinasti omong kosong belaka. Ini merupakan peringatan bagi istri atau anak penguasa di negara mana saja.

    Pelajaran ketiga, kekuasaan tak bisa bersembunyi lagi dari rakyatnya. Seperti kata pepatah, bau bangkai akhirnya pasti akan tercium juga.

    Pelajaran keempat, revolusi modern bersenjatakan jejaring sosial yang mudah diakses kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Revolusi dunia maya ini mengandalkan ideologi ”It’s me” alias ”Inilah saya.”

    Merekalah ”anak-anak Facebook”, tweeps, dan bloggers, yang ingin suaranya didengar tanpa melewati perantara. Mereka makin kurang percaya kepada institusi-institusi konvensional, seperti pemerintah, parlemen, partai, aparat keamanan dan hukum, LSM, serta media massa.

    ”Galaksi internet” telah menjadi partai politik mereka. Mereka sudah menarik garis batas yang jelas untuk melawan clumsy regimes yang menyajikan demokrasi semu di Magribi atau Timur Tengah.

    Kata revolusi—atau apa pun namanya—bagi mereka hanyalah masalah semantik semata-mata. Mereka mengingatkan kita yang sudah tua yang masih saja percaya kepada mitos bahwa revolusi mengandung mara bahaya.

    Penguasa berteriak, ”Stop revolusi!” Mereka membalas, ”Stop korupsi!”

    Mau tahu apa slogan paling top selama Revolusi Melati, Revolusi 25 Januari, dan gejolak yang sebentar lagi mungkin pecah jadi revolusi di Magribi atau Timur Tengah?

    ”Mati, matilah korupsi dan koruptor!” teriak mereka.

    Revolusi datang secara natural, bukan sekadar ”copas” (copy and paste) saja. Ia dipimpin generasi muda. Mereka melancarkan tuntutan sama: hak memilih dan mengganti pemimpin, mengganyang korupsi, dan mendapat kesempatan kerja.

    Nah, untuk Anda, ada lagu revolusi berjudul ”Rais Lebled” karya rapper Tunisia, El General, yang kini laris di Magribi atau Timur Tengah. Inilah liriknya:

    ”Tuan Presiden/Rakyat Anda sekarat/Makan sampah di mana-mana/Lihat saja sendiri/Penderitaan di mana-mana/Saya tidak takut Anda/Walau tahu cuma cari gara-gara/Karena saya melihat/Ketidakadilan di mana-mana.”

    Source: kompas

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Rakyat Perlu Pemimpin Bangsa Alternatif

    Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua Umum Partai Bintang Reformasi (PBR) Bursah Zarnubi menyatakan, partainya bergabung dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) karena ingin memunculkan pemimpin alternatif bagi bangsa Indonesia pada 2014.

    “Kita perlu pemimpin alternatif yang berani menantang neoliberalisme,” kata Bursah usai bersama Ketua Umum Gerindra Suhardi menandatangani kesepakatan bersama di Jakarta, Jumat (18/2).

    Hadir dalam acara itu pimpinan Partai Damai Sejahtera, Partai Barisan Nasional, dan Partai Pekerja dan Pengusaha Indonesia yang juga diharapkan bersedia bergabung dengan Gerindra.

    Dengan bergabungnya PBR ke Gerindra, Bursah yakin akan cukup kekuatan politik untuk menghadirkan pemimpin alternatif tersebut.

    Apalagi, sebelumnya enam partai yang tidak lolos “electoral threshold” pada Pemilu 2009 juga sudah bergabung yaitu Partai Merdeka, Partai Buruh, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI), PNI Massa Marhaenis, Partai Kedaulatan dan Partai Serikat Indonesia (PSI).

    Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto menyatakan, bergabungnya PBR merupakan “suntikan” kekuatan bagi partainya.

    “Dengan gabungnya PBR, Gerindra dapat suntikan kekuatan besar. PBR punya anggota DPRD, jaringan, dan kader yang besar,” kata Prabowo.

    Dikatakannya, saat ini Gerindra memiliki 600 anggota dewan di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, ditambah anggota dewan dari PBR, dan enam partai yang telah bergabung terlebih dulu maka menjadi kekuatan yang cukup signifikan.

    “Sekarang ada tiga partai lagi yang berminat bergabung,” kata mantan Penglima Kostrad tersebut.

    Menurut rencana, bergabungnya sejumlah partai ke Gerindra akan dideklarasikan besar-besaran pada Mei 2011.

    Pada pidato politiknya, Prabowo menyatakan Indonesia perlu perubahan, terutama dalam sistem perekonomian karena sudah 65 tahun merdeka rakyat belum juga mendapat kemakmuran.

    “Saya percaya tidak lama lagi rakyat akan melihat alternatif masa depan Indonesia,” kata Prabowo. (Ant/RIZ)

    Source: metrotvnews.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Golkar Sulit jadi Oposisi

    Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat politik Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan sulit bagi Partai Golkar untuk menjadi oposisi.

    “Golkar bukanlah partai yang terbiasa bermain di luar sistem pemerintahan. Golkar adalah partai yang terbiasa berpolitik melalui kebijakan. Entah sebagai penguasa atau menempatkan menterinya di kabinet,” katanya di Jakarta, Jumat (18/2).

    Hal ini diungkapkan Yunarto menanggapi adanya wacana yang berkembang terkait sinyal Partai Golkar untuk beroposisi.

    Ia menambahkan, secara empiris keberadaan Aburizal Bakrie sebagai ketua umum Partai Golkar yang banyak berkorelasi dengan isu-isu kontroversial membuat Golkar sulit bergerak dari ruang lingkup payung kekuasaan.

    “Posisi sebagai oposisi akan membuat Golkar dan Ical tidak lagi terlindungi secara politis,” katanya.

    Selain itu, menurut dia, tiadanya kesejarahan sebagai oposisi dan ideologi partai Golkar yang ingin menyasar semua pemilih tidak mencerminkan partai oposisi.

    “Sementara Golkar lebih tercitrakan sebagai ‘catch all party’ (menyasar semua pemilih) yang tidak memiliki ideologi jelas dan bukan partai yang memiliki sejarah sebagai oposisi. Dari sisi politik, partai yang lebih mungkin memposisikan dirinya sebagai oposisi adalah partai yang memiliki sejarah kuat seperti PDIP masa Orde Baru,” katanya.

    Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina DPP Golkar Akbar Tanjung memberikan sinyal agar Partai Golkar berani untuk beroposisi.

    Ia mengatakan, Partai Golkar harus berani menyatakan tidak lagi bersama dalam koalisi bila persekutuan partai politik pendukung pemerintah tersebut tidak sesuai dengan kepentingan rakyat dan negara.

    “Sikap Golkar mendukung setiap kebijakan yang berdampak bagi kepentingan rakyat dan negara. Golkar harus punya keberanian untuk menyatakan tidak bisa bersama lagi. Tentu hal ini berdasarkan ukuran yang efektif,” katanya. (Ant/RIZ)

    Source: metrotvnews.com

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Anggaran Pemilu Kada Banyak Dipotong dari APBD

    JAKARTA–MICOM: Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas Fotra) menemukan sebagian besar anggaran pemilihan umum kepala daerah (pemilu Kada) dipotong dari alokasi untuk pendidikan dan kesehatan.

    Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Fitra, Yuna Farhan, dalam acara diskusi bertajuk “Pemilu yang Lebih Baik: Pengelolaan, Pendanaan, dan Keterwakilan”, yang diadakan Puskapol UI bekerja sama dengan Asia Foundation dan Australia-Indonesia Partnership, Kamis (17/2).

    Penemuan Fitra ini didasarkan pada 14 daerah yang menyelenggarakan pemilukada pada 2010 silam.

    “Hampir semua daerah penelitian mengalami penurunan belanja publik pada tahun penyelenggaraan pemilu kada, terlepas dari kapasitas daerah yang bersangkutan,” ujar Yuna.

    Daerah-daerah yang disurvei Fitra ini adalah Lombok Utara, Bandung, Surabaya, Medan, Ogan Ilir, Kota Solok, Bengkalis, Kota Manado, Sidoarjo, Kota Kebumen, dan Sumba Timur.

    Fitra pun menemukan, alokasi untuk pendidikan dan kesehatan yang paling banyak dipangkas untuk kebutuhan lima tahun sekali ini.

    Menurut Yuna, ada beberapa alasan kenapa akhirnya anggaran pendidikan dan kesehatan ini yang dipotong. Pasalnya, pos belanja dua bagian ini merupakan yang tertinggi di setiap daerahnya.

    Selain dipotong dari alokasi kesehatan dan pendidikan, Fitra juga menemukan anggaran-anggaran ini dipotong dari alokasi dana bagi hasil dan PAD.

    “Dengan ruang fiskal daerah yang terbatas, biaya pemilu kada diambil dari pendapatan asli daerah (PAD) maupun dana bagi hasil (DBH). Kapasitas fiskal daerah yang pada umumnya rendah membuat daerah yang tidak menyediakan dana cadangan akan mengurangi belanja langsungnya,” paparnya.

    Fitra pun mencontohkan kasus di Kabupaten Ogan Ilir, yang menggunakan gaji ke-13 pegawai untuk pembiayaan pemilu kada.

    Yuna pun menyesalkan pemotongan atas pendidikan dan kesehatan ini dilakukan pemerintah daerah. Pasalnya, masyarakat setempat dipastikan dirugikan dengan adanya pemotongan ini.

    “Rakyat di daerah yang dirugikan dengan ini,” serunya. (CC/OL-11)

    Source: Media Indonesia

  • Peniadaan DPD Perlemah Demokrasi Indonesia

    GORONTALO–MICOM: Indonesia mengalami kerancuan sistem pemerintahan. Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Irman Gusman mengatakan, hal itulah yang menyebabkan masing-masing lembaga negara saling meniadakan sehingga melemahkan sistem demokrasi.

    “Selama ini kita mengalami kerancuan antar sistem pemerintahan presidensial, semi presidensial atau praktek parlementarian. Hubungan antar cabang kekuasaan negara dan cabang kekuasaan legislatif pun menjadi rancu,” ujar Irman di hadapan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo, seusai meresmikan pembangunan kantor perwakilan DPD di Provinsi Gorontalo.

    Menurutnya, ada kecenderungan masing-masing lembaga negara saling meniadakan. Padahal, ujarnya, untuk menciptakan sistem ketatanegaraan demokratis yang kuat seharusnya lembaga-lembaga tersebut saling menguatkan.

    “Misalnya DPR RI meniadakan DPD RI, dan Mahkamah Konstitusi meniadakan Komisi Yudisial,” kata Irman. Dia mengatakan, kewenangan DPD seharusnya sejajar dengan DPR karena kehadiran DPD dapat menjadi penyeimbang dan kontrol bagi kamar DPR.

    Lebih jauh dia mengatakan, penguatan kewenangan DPD akan memperkuat derajat keterwakilan politik daerah. Dengan penguatan DPD, imbuhnya, akan membuka peluang check and balances dalam lembaga perwakilan. Proses pembahasan RUU dan kebijakan yang terkait kepentingan masyarakat daerah pun, imbuhnya, dapat dilakukan berlapis.

    “Jika sistem demokrasi yang kita anut ini diperkuat dengan pola hubungan antarlembaga yang jelas dan sejajar, kita akan mencapai titik terang dalam berdemokrasi,” paparnya.

    Untuk memperkuat eksistensi dan peran DPD, lanjutnya, DPD akan berada di setiap provinsi di Indonesia. Dimulai dengan kantor perwakilan di Provinsi Gorontalo, DPD rencanaya akan membangun kantor perwakilan di seluruh ibu kota provinsi. Pembangunan tersebut pun, lanjut Irman, sesuai dengan UU No 27 tahun 2009 tentang, yang mnyebutkan bahwa DPD RI berdomisili di daerah yang mewakilinya. (*/OL-2)

    Source : Media Indonesia

  • PKS Isyaratkan Dukung Sultan

    JAKARTA–MICOM: Upaya untuk menjadi partai terbuka yang tidak lagi eksklusif mulai ditunjukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Setelah sebelumnya menggelar musyawarah nasional (munas) di Bali, kali ini PKS menggelar mukernas di YogYakarta, 24-27 Februari 2011.

    Seperti diketahui, kedua wilayah itu dikenal memiliki tradisi lokal yang masih kuat. Komunikasi politik yang dilakukan PKS kepada Sri Sultan Hamengku Bowono (HB) X menjelang pelaksanaan mukernas di Yogya, tak hanya menunjukkan pesan inklusifitas partai tersebut kepada publik. Tetapi lebih dari itu bisa dimaknai sebagai isyarat adanya pesan khusus dukungan PKS kepada Sri Sultan.

    Demikian pandangan pengamat politik M Alfan Alfian dan Yudi Latif kepada pers di Jakarta, Kamis (17/2), menanggapi pertemuan Sekjen PKS Anis Matta dengan HB X dan keputusan PKS untuk memilih tempat mukernas di Kota Gudeg.

    “Jika dilihat dari dimensi politik, pertemuan Anis dan HB X yang sekaligus meminta raja Jawa itu untuk membuka mukernas menyiratkan pesan khusus yang ingin disampaikan PKS. Artinya, PKS mendukung HB X dalam beberapa hal. Salah satunya sikap politik HB X. Dan ini bukti bahwa PKS bisa berbeda dengan SBY atau koalisi partai,” ungkap Alfan.

    Pola yang dilakukan PKS dengan mendekat ke HB X ini, lanjut Alfan, bisa juga sebagai sebuah isyarat bahwa PKS sedang melakukan komunikasi politik yang tak biasa dengan HB X. Meskipun untuk bicara 2014 masih terlalu dini. ”Tapi bagaimanapun, saat ini HB X merupakan salah satu tokoh nasional yang signifikan, di luar tokoh-tokoh lain di dalam lingkaran kekuasaan. Jadi wajar kalau PKS mendekat ke HB X,” ulas Alfan.

    Menurut Alfan, pemilihan tempat acara tersebut bukan tanpa alasan. Tapi memiliki pesan khusus yang ingin disampaikan PKS ke publik. Pemilihan kedua tempat itu juga bisa dimaknai bahwa PKS membuka diri dan masih memiliki nilai-nilai kultural Indonesia. “Ada upaya kuat PKS untuk menunjukkan bahwa mereka entitas politik yang tidak eksklusif,” ujarnya. (AO/OL-8)

    Source: Media Indonesia