siwah.com

Tag: Opinion

  • Fenomena Artis Berpolitik dan Demokrasi Keblinger

    Saat ini terjadi sebuah fenomena menarik dalam kehidupan demokrasi di Indonesia. Artis, sebagai bagian dari warga negara, ramai-ramai mencalonkan diri atau dicalonkan oleh partai politik untuk menduduki jabatan publik.

    Dalam konteks sejarah politik bangsa, masuknya artis dalam kancah politik bukan sesuatu yang baru. Artis telah membanjiri kehidupan politik praktis, terutama sejak masa Orde Baru (1966-1998). Hampir semua partai politik saat itu punya unsur artis dalam aktivitas politiknya.
    (more…)

  • Bersatunya Politik Santri dan Abangan

    Jika saja Clifford Geertz masih hidup dan berkesempatan menuliskan disertasinya berdasarkan apa yang tengah berlangsung dewasa ini di Jawa Timur, mungkin pandangan beliau mengenai kaitan antara Islam dan partai politik (parpol) bakal berbeda.

    Dalam tulisannya berjudul “The Javanese Village” di mana Geertz untuk pertama kalinya mengungkapkan teori aliran, kemudian dipertegas dalam bukunya The Social History of an Indonesian Town, dia menemukan adanya pembilahan ideologis-politis antara kaum abangan, priyayi, dan santri di Jawa.
    (more…)

  • Intelektual Kok Nyaleg?

    Setidaknya ada dua sahabat saya yang mendaftar menjadi calon anggota legislatif alias ikut nyaleg. Yang satu, yang selama ini dikenal sebagai analis politik Centre for Strategic and International Strategic (CSIS), Indra Jaya Piliang.

    Dia sudah berpamitan dan menyatakan akan maju sebagai calon legislatif (caleg) Partai Golkar dari daerah pemilihan (dapil) Sumatera Barat II. Dia masih muda. Usianya baru 36 tahun. Dia memutuskan untuk kembali ke kampung guna minta restu dan dukungan. Sahabat saya yang lain ialah yang selama ini dikenal sebagai intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi.
    (more…)

  • Golput dan Memilih dengan Rasional

    Sedikitnya ada tiga alasan mengapa seseorang menjadi golput.

    Pertama, seseorang menjadi golput karena di luar kehendak; misalnya sebetulnya ingin memilih tetapi karena suatu hal —misalnya sakit parah—dia tidak memilih.

    Kedua, golput sebagai pernyataan politik yang mengisyaratkan ketidakpercayaan pada sistem yang ada.
    (more…)

  • Ekonomi, Popularitas Presiden dan Partai Politik

    Berbagai survei dan pengamatan umum menunjukkan, masalah ekonomi menjadi perhatian utama pemilih dalam menilai pemerintah, khususnya presiden.

    Masalah harga kebutuhan pokok, pekerjaan, dan kemiskinan merupakan hal-hal utama yang menurunkan popularitas Presiden Yudhoyono. Hal serupa juga dialami Presiden Megawati saat berkuasa. Pada masa demokrasi yang relatif singkat, pemilih menentukan pilihan calon presiden berdasar popularitas serta harapan dan tidak bertumpu pada kemampuan calon presiden. Hal ini nyata sekali saat SBY terpilih menjadi presiden dan popularitas Megawati menentukan kemenangan PDI-P tahun 1999.
    (more…)

  • Adu Taktik Survei Politik

    Suhu politik di daerah memanas menjelang pilkada. Para calon kepala daerah, yang dulu lebih mengandalkan bantuan spiritual, kini mulai rasional. Mereka memanfaatkan jasa lembaga survei. Siapa saja yang menangguk rezeki?

    ANALIS politik Denny Januar Ali, 42 tahun, menghabiskan waktunya di Batam hampir sepekan penuh. Doktor perbandingan politik lulusan Ohio State University ini bukan sedang liburan. Selasa hingga Jumat pekan lalu, Denny bergumul dengan 200 juru kampanye (jurkam) Ismeth Abdullah, kandidat Gubernur Kepulauan Riau. “Kami memberikan kepada mereka pemahaman politik modern,” ujar Denny J.A.
    (more…)

  • Pemasaran Politik Taktik Baru Menangkan Pilkada

    PARADIGMA lama memenangkan pertarungan kekuasaan politik, terutama pemilu selama orde baru dengan pola represif sudah ketinggalan zaman. Perubahan sistem politik membuka peluang hadirnya cukup banyak partai politik.Jumlah partai yang beragam, secara langsung berimplikasi pada taktik dan strategi untuk memenangkan perebutan kekuasaan politik. Partai politik yang mengandalkan kekuatan dan represif sudah tidak akan dilirik oleh pemilih.

    Keterbukaan dan pilihan referensi informasi yang cukup gencar, memberi banyak pilihan bagi pemilih menentukan sikap dan pilihan-pilihan politiknya. Kompetisi partai politik meraih dukungan dan simpati pemilih juga sangat seru. Pola dan stretegi yang dilakukan termasuk mencoba gunakan pendekatan baru dengan pemasaran politik (marketing politik).
    (more…)

  • Kampanye dan Pemasaran

    Senin, 7 Juli 2008,Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan 34 partai politik (parpol) sebagai peserta Pemilu 2009.

    Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan 24 partai peserta Pemilu 2004 sekaligus memupus harapan terjadinya proses penyederhanaan (penyusutan) secara alamiah jumlah kontestan pemilu.Kita masih ingat,Pemilu 1999 diikuti oleh 48 partai. Di luar opini mengenai menurunnya kinerja regulator parpol, ada dua fakta di balik angka 34 itu.Fakta pertama, parpol tetap dianggap sebagai komoditas strategis sebagai produk politik yang masih layak dipasarkan.
    (more…)

  • Politik Luar Ruangan

    TEMPO Interaktif, Jakarta: Setelah menyelesaikan rangkaian panjang pemilu legislatif dan presiden tahun lalu, tahun ini kita kembali disibukkan rangkaian pemilihan langsung kepala daerah di lebih dari separuh wilayah Indonesia. Pemilihan langsung kepala daerah 2005 bukan sekadar membikin politik kita makin hiruk-pikuk, melainkan menegaskan tengah terjadinya perubahan politik penting.

    Sepanjang sejarah Indonesia modern, inilah pertama kali kepala daerah dipilih secara langsung. Sebelumnya, pemilihan dilakukan oleh parlemen daerah. Maka yang sedang terjadi sebetulnya perpindahan arena utama politik lokal. Politik dalam ruangan (PDR) makin tergeser oleh politik luar ruangan (PLR).
    (more…)

  • Memasuki Era Pemasaran Politik

    Jatuhnya kekuasaan otoriter Soeharto mengantarkan Indonesia ke era baru, yakni sistem politik demokrasi yang lebih terbuka. Bahkan, gaya politik model Amerika ini ikut menghadirkan sebuah istilah kosakata politik baru, yakni pemasaran politik (marketing politic).

    Era demokrasi yang terbuka telah melahirkan profesi baru, yakni konsultan politik. Mereka melakukan survei, jajak pendapat untuk memasarkan sang kandidat, mengukur popularitas seorang kandidat. Sudah bukan menjadi rahasia lagi, jika ingin menjadi kepala daerah atau bahkan seorang presiden, dibutuhkan seorang konsultan politik. Tentu saja ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Apalagi kalau seorang konsultan itu dibutuhkan dari mulai awal mencari pasangan sampai terpilih menjadi pemimpin lewat suara yang diberikan rakyat.
    (more…)