Ada Apa dengan Aceh

Sebuah pertanyaan yang sering diajukan oleh teman-teman dan sahabat, “Mengapa saya memilih Aceh untuk dijadikan tempat untuk meneliti dan menjadi tempat saya mencurahkan perhatian?!”. Membuat saya sering tersenyum sendiri. Saya jadi balik bertanya, “Memangnya ada apa dengan Aceh?!”.

Tentunya tidak ada teman dan sahabat yang bisa menjawab pertanyaan itu sesuai dengan apa yang saya inginkan. Yang paling patut dan mampu untuk menjawabnya adalah orang-orang Aceh sendiri. Oleh karena itulah, saya selalu tertarik dengan Aceh karena hingga sekarang saya belum menemukan jawabannya. Bahkan dari mereka yang mengaku sebagai orang Aceh sekalipun.

Sejak saya membaca apa yang merupakan sejarah penting bagi Indonesia, saya baru mengerti apa maksud dari kalimat, “Bila ingin terang mulailah dari yang gelap”. Sepenggal kalimat yang terus berputar di dalam benak dan hati saya, dan terutama itu merupakan kalimat amanah yang ditinggalkan oleh pendahulu saya sendiri. Mereka memang bukan orang Aceh, tetapi mereka datang ke Aceh karena tertarik dengan apa yang telah dilakukan Aceh dan turun bersama-sama untuk berjuang dengan Aceh.

Saya merasa sangat beruntung bisa mendapatkan penggalan kalimat yang memang diberikan kepada saya itu. Saya jadi terpacu untuk mempelajari lebih banyak tentang apa arti dan makna sebuah kata, sejarah, dan juga apa yang ada dan telah dilakukan di Aceh. Aceh adalah negeri paling Barat dari Indonesia, tempat tergelap pada saat wilayah Indonesia yang lain sudah terang benderang. Namun demikian, memiliki peranan penting, bila Aceh tidak terang, bagaimana mungkin wilayah yang sebelah lainnya bisa mendapatkan terang kembali?!

Sejak tahun 1993, saya sudah mulai meneliti tentang Aceh dan kemudian menjadi bahan riset dan penelitian untuk riset yang saya buat dalam sebuah studi lanjutan. Bagi saya, Aceh merupakan cerminan bagaimana situasi dan kondisi Indonesia secara keseluruhan. Menjadi sebuah “dasar” penting yang patut dicermati karena Aceh sangat berpengaruh kepada masa depan bangsa dan Negara Indonesia.

Seperti contohnya saja pada keadaan saat ini. Sejak Aceh mulai memberlakukan hukum syariat, maka wilayah-wilayah lain di Indonesia pun seperti berlomba untuk bisa menerapkan peraturan hukum yang sama meskipun memiliki beda budaya dan struktur masyarakat. Bahkan saya memiliki sebuah asumsi dan kesimpulan hingga saat ini, di mana “trend” perempuan menggunakan jilbab di Indonesia merupakan hasil dari pengaruh apa yang diberlakukan di Aceh. Masih banyak contoh-contoh lainnya, yang semoga diperhatikan dan dipelajari juga oleh yang lain.

Yang menjadi pemikiran saya adalah, bila kemudian Aceh terus dilanda konflik berkepanjangan dan tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat Indonesia di wilayah lainnya, apa yang akan terjadi?! Bagaimana bila fakta dan sejarah serta kenyataan penting di Aceh itu diabaikan sehingga tidak lagi memiliki jati diri dan kepribadian?! Apa yang akan terjadi di Indonesia?!

Satu hal yang penting juga bagi saya, sebagai amanah peninggalan dari pendahulu saya, adalah di mana saya diingatkan untuk belajar bagaimana orang Aceh berkata dan berdiplomasi. Kehebatan orang Aceh bukan pada kekuatannya di dalam bertempur menggunakan kekerasan dan senjata, tetapi kata dan bahasanyalah yang menjadi senjata terampuh yang mampu mengalahkan musuh terkejam sekalipun. Ini yang barangkali sering dilupakan.

Militerisasi di dunia termasuk di Aceh, sudah membuat orang lupa kekuatan dari kata dan bahasa. Mengikiskan kemampuan untuk berdiplomasi karena dianggap tidak lagi penting. Apalagi ditambah dengan pembodohan yang terus saja mendoktrin kepala-kepala mereka yang tidak mau belajar serta tinggi hati dan dipenuhi dengan egoism serta keakuan. Yah, maklum, memang hanya orang-orang berkualitas tinggi saja yang mampu melakukannya. Makanya, hanya yang terpilih saja yang mampu untuk mendunia, kan?! Seperti para pembesar dan tokoh-tokoh penting dari masyarakat Aceh pada masa lampau. Sekarang, siapa, ya setelah Hasan Tiro tiada?!

Jika memang dianggap penting, tentunya Aceh tidak perlu ada saling memaki dan menghujat seperti sekarang ini. Kualitas kata dan bahasa Aceh yang diagungkan dan memang sangat luar biasa itu, larinya ke mana?! Kata dan bahasa menunjukkan identitas dan kepribadian, juga menunjukkan kualitas seseorang. Orang boleh saja kaya, memiliki jabatan tinggi, ataupun sekolah dengan sederet gelar, tetapi bila tak mampu memiliki kualitas daya baca dan bahasa yang tinggi, yang tercermin dari kemampuannya berkata, berbahasa, dan berdiplomasi, maka sama saja tidak ada artinya. Nihil, begitu kalau kata Nietzsche.

Mengapa demikian?! Pada akhirnya, apapun yang dilakukan hanyalah untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya semata. Meskipun mengatasnamakan apapun juga, terutama jika “mengatasnamakan” masyarakt, orang banyak, bangsa, Negara, dan apapun itu, justru membuat apapun yang diucapkan dan dilakukan menjadi tak ada artinya. Hanya pembenaran untuk kepentingan semata. Bila memang ditujukan untuk semua, maka tentunya setiap kata yang terurai adalah benar dan memiliki arti serta makna yang sesungguhnya. Kata bisa berdusta tetapi kata pun tak bisa dipungkiri. Masih betah dengan pembodohan dan lingkaran kebodohan lewat kata penuh dusta dan janii palsu?!

Barangkali bagi sebagian orang, apa yang saya pikirkan ini berlebihan. Tidak mengapa. Bagi saya, apa yang besar itu belum tentu besar dan apa yang kecil itu pun belum tentu tidaklah besar. Kita cenderung terbawa oleh arus sehingga tidak mampu untuk tenggelam lebih dalam dan melihat apa yang sebenarnya. Jika pun melawan arus itu, tidak memiliki lagi tenaga untuk sampai ke pantai yang tenang karena tidak tahu bagaimana untuk berbuat dan berpikir benar. Apa yang baik bila tidak dilakukan dengan benar, maka kembali lagi, maka akan menjadi sia-sia belaka.

Sungguh sangat disayangkan, Aceh yang dikenal sebagai Serambi Mekkah pun tak mampu untuk menangkap apa yang telah diberikan oleh Sang Maha Kuasa seperti yang “ditangkap” oleh para pendahulu Aceh. Dia yang merupakan Maha Diplomasi sudah mengajarkan bagaimana seharusnya kita berkata dan berbahasa. Dia bisa saja menuliskan ayat-ayat sucinya dengan bahasa apapun yang Dia ingingkan untuk bisa lebih mudah dimengerti dan dipahami. Namun, mengapa Dia memilih menggunakan Bahasa Arab yang buka bahasa Arab “jalanan” tetapi bahasa sastra yang sangat tinggi?! Kualitas kata dan bahasanya tidak perlu diragukan lagi dan merupakan sebuah contoh yang seharusnya ditiru oleh semua, bahwa Dia pun berdiplomasi pada manusia dengan kata dan bahasanya.

Menurut saya pribadi, itulah juga kenapa Dia menyuruh kita semua yang meyakini Dia untuk “membaca” yang bukan hanya sekedar membaca aksara, pandai menghafal atau melafalkan saja sampai habis dan bahkan berulang-ulang. Membaca pun memerlukan hati, jiwa besar, ketulusan, dan terutama kerendahan hati untuk dapat mengerti apa maksudnya agar setiap kata itu benar berarti dan bermakna.

 

Setahu saya, dulu Islam di Aceh sangat sufi dan sama sekali tidak berkutat pada materi, fisik, dan duniawi karena para pendahulu di Aceh sudah mampu mengerti dan bahkan mempraktekkannya. Ini juga yang membuat Aceh dulu besar dan sangat hebat. Kalau tidak, untuk apa kakek buyut saya mendirikan Syarikat Islam dan kelompok pemuda Islam di Kutaradja waktu itu?! Beliau pun pasti berpikiran yang sama dengan saya. Tapi, entahlah. Tentunya para ahli dan pemuka agama di Aceh yang lebih tahu tentang ini semua. Para pemimpin di Aceh pun pasti lebih hebat karena sudah lolos ujian Test Al Qur-an bukan?! Siapalah saya ini?!

Jadi, untuk menjawab pertanyaan teman dan sahabat saya itu, saya sangat berharap sekali ada orang Aceh yang bisa membantu saya menjawabnya. Ada apa dengan Aceh?!

*MARISKA LUBIS, Penulis adalah pengamat masalah perubahan sosial dan politik

Leave a Reply