Artis Masih Jadi “Figuran”

Jakarta, Kompas – Setidaknya ada tujuh anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang berlatar belakang artis di DPR 2004-2009. Secara umum, mereka dinilai belum menunjukkan kinerja menonjol di bidang legislasi, pengawasan, atau anggaran. Ibarat dalam film, mereka masih seperti ”figuran”, belum sebagai pemeran utama.

Menurut penilaian Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Indonesia, sampai saat ini ada atau tidak ada artis di DPR sama saja. Keberadaannya belum memberi pengaruh signifikan. PSHK adalah salah satu lembaga nonpemerintah yang banyak memantau kinerja parlemen. ”Kinerjanya tidak menonjol. Ini kata halusnya,” kata Bivitri Susanti, peneliti senior dari PSHK.

Meski demikian, dari pengalaman berinteraksi dengan sejumlah artis di DPR, Bivitri menilai ada beberapa artis yang memiliki kemauan belajar tinggi sehingga bisa berperan. ”Tetapi, ada juga yang tidak mau belajar. Kalau bicara juga umum sekali. Hanya memesonakan ketimbang substansi,” paparnya.

Pada Pemilu 2009, artis yang ingin mencalonkan diri sebagai anggota DPR diharapkan partai melakukan pembekalan lebih awal. Dengan demikian, mereka mengetahui mekanisme kerja DPR, paham apa yang harus diperbuat di komisi, dan bagaimana mengelola konstituen menjadi kekuatan politik.

Berperan di komisi

Nurul Qomar, anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, mengakui, para artis yang saat ini berada di DPR belum menonjol, terutama dalam rapat-rapat paripurna. Namun, dalam rapat-rapat komisi sudah berperan. ”Dalam rapat komisi, saya selalu diberi kesempatan bertanya. Mereka berharap dari letupan-letupan saya bisa mencairkan suasana,” kata Qomar yang pelawak itu.

Pada tahun pertama memang dia sempat kesulitan berbaur. Apalagi sebagai pelawak sering dianggap sebagai ”sudra”, kelompok paling rendah. Namun, pada tahun-tahun berikutnya ia sudah bisa beradaptasi. ”Untungnya saya mimikri. Kalau abu-abu cepat jadi abu-abu, kalau hijau cepat jadi hijau,” ujarnya tertawa.

Guruh, meskipun jarang kelihatan, menurut Qomar, harus diapresiasi karena giat membangun seni budaya di Indonesia. Dede Yusuf bahkan sudah menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat.

Dalam rapat paripurna, para artis belum banyak bersuara karena setiap fraksi sudah punya skenario, mengatur siapa yang perlu bicara dan tidak, siapa yang menjadi penyerang, dan siapa yang harus menjadi ”bek kanan” atau ”bek kiri”.

Ketua F-PAN Zulkifli Hasan menilai, kinerja artis di DPR memang tak bisa digeneralisasi, tetapi harus dinilai orang per orang. Selain Dede Yusuf, beberapa artis dari fraksi lain juga dinilai memiliki kinerja baik, antara lain Angelina Sondakh, Adjie Massaid, dan Marissa Haque. ”Tetapi, memang, ada juga artis yang tidak terdengar,” ucapnya.

Pembekalan artis sebelum menjadi anggota DPR, menurut Zulkifli, memang menjadi sangat penting mengingat tugas seorang anggota parlemen adalah ”berbicara” menyuarakan kepentingan rakyat.

Menurut Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Tjahjo Kumolo, partai juga tidak sembarangan merekrut artis menjadi caleg. Tjahjo menjamin artis-artis yang dicalonkan PDI-P bukan sekadar memanfaatkan keartisannya, tetapi juga punya kapasitas berpolitik. (SUT)

Source : Kompas.com

Leave a Reply