Mahasiswa siap lawan intimidasi Pemilu di Aceh

BANDA ACEH –  Mahasiswa yang mengatasnamakan Pusat Penyelamat Aceh melakukan aksi unjukrasa menentang premanisme dan intimidasi menjelang pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) 2009 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Aksi yang berlangsung di bundaran Simpang Lima Banda Aceh, Senin, melibatkan sekitar 100 mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan IAIN Ar-Raniry Aceh itu menyatakan siap melawan aksi premanisme dan intimidasi.

Presiden Pemerintahan Mahasiswa Unsyiah, Hendra Kusmara menegaskan aparat keamanan harus mewaspadai aksi premanisme dan intimidasi yang dilakukan oknum-oknum dari kelompok tertentu terhadap aktifis partai politik.

Tindakan tersebut dikhawatirkan akan dapat merusak perdamaian yang kini berjalan di Provinsi NAD. Jadi, Pemilu di Aceh harus berjalan demokratis dan damai, tanpa adanya intimidasi dan sikap premanisme, tegasnya.

Ia menyatakan, aksi intimidasi sekarang ini sudah mulai muncul, khususnya di daerah-daerah pedesaan.

“Siapa saja berhak mendirikan partai, tapi harus bersaing secara fair dan demokrasi. Sekarang ini sudah tidak zamannya lagi melakukan teror dan intimidasi terhadap lawan politik,” ujarnya.

Mahasiswa berharap agar pihak berwajib bersikap tegas terhadap pelaku preman dan intimidasi terhadap peserta dan pemilih Pemilu mendatang, ujarnya.

Selain itu, mahasiswa juga menyampaikan kekecewaannya terhadap Pemerintah Aceh yang sepertinya tidak serius dengan pelaksanaan syariat Islam, karena sudah hampir empat tahun berjalan, tapi moral generasi muda di daerah itu semakin jelek.

“Syariat Islam yang menjadi tuntutan kita semua, tapi sepertinya Pemerintah Aceh kurang serius, sehingga akibatnya kerusakan moral generasi muda semakin parah,” ujarnya.

Para mahasiswa juga menuntut agar Pemerintah memperhatikan peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan, serta kesejahteraan rakyat.

Mahasiswa juga mengharapkan agar masyarakat Aceh harus jeli memilih anggota legislatif,  yakni mereka yang benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan sebaliknya mengedepankan kelompok dan pribadinya.

Aksi yang sempat mengganggu kelancaran lalu lintas itu berakhir pada pukul 12.00 WIB.

Source : Harian Waspada

Leave a Reply