Pemasaran Politik Relevan Jadi Strategi Alternatif Parpol Jelang 2009

Kapanlagi.com – Menjelang 2009, kalangan parpol dan para kandidat yang akan bertarung memperebutkan jabatan publik perlu mendalami pemasaran (marketing) politik sebagai strategi alternatif mengkomunikasikan pesan yang efektif kepada calon pemilih.

Demikian benang merah diskusi “Peran dan Kontribusi Marketing Politik Dalam Pemilu 2009” dan bedah buku “marketing politik” karya Firmanzah, staf pengajar Fakultas Ekonomi UI di Jakarta, Kamis (25/07).

Dalam diskusi itu hadir sebagai pembicara di antaranya aktivis dari Wahid Institute, Muslim Abdurrahman, pakar manajemen Rhenald Kasali dan peneliti senior dari harian Kompas, Daniel Dhakidae.

Menurut Dhakidae, inti dari pemasaran politik itu adalah mengemas pencitraan, publik figur dan kepribadian seorang kandidat yang berkompetisi dalam kontes Pemilu kepada masyarakat luas yang akan memilihnya.

“Marketing politik ini merupakan metode baru yang berkembang dalam dunia politik,” katanya.

Metode tersebut, menurut Dhakidae, terbukti efektif memenangkan pasangan Eisenhower-Nixon sebagai Presiden AS pada tahun 1952. Waktu itu Jenderal Eisenhower mempopulerkan istilah I Like Ike (nama panggilan Eisenhower) yang secara stilistik menjadi perpaduan sempurna asonansi dan konsonansi literer sekaligus.

Sementara di Indonesia, metode itu baru diperkenalkan pada Pemilu 2004 yang lalu.

Sedangkan Muslim Abdurrahman menilai pasangan Yudhoyono-Kalla sukses dalam Pilpres 2004 karena mereka mampu memanfaatkan marketing politik secara maksimal.

Menurut Muslim, memasarkan citra diri kandidat melalui media terbukti efektif karena karakter masyarakat Indonesia hanyalah pemirsa dan bukan tipe “citizenship”.

“Jadi mau tidak mau, parpol tetap harus memperhatikan aspek pemasaran politik ini,” ujarnya.

Aspek penting lainnya, menurut Muslim,adalah siapa yang menjadi target atau pangsa pasar dari pemasaran politik partai-partai itu.

“Misalnya saja PKB, pangsa pasarnya sudah jelas. Tidak perlu strategi rumit memasarkan politik karena dengan menggarap simpul massa dan menggelar istighosah ataupun haul saja sudah cukup,” kata Muslim yang juga pegiat PKB itu.

Sementara itu dalam bukunya, Firmanzah menuliskan bahwa tujuan marketing dalam politik adalah membantu parpol untuk lebih baik dalam mengenal masyarakat yang diwakili atau menjadi target dan kemudian mengembangkan isu politik yang sesuai dengan aspirasi mereka.

“Marketing yang selama ini dikembangkan dalam dunia bisnis dan kompetisi dirasa semakin dibutuhkan oleh dunia politik,” katanya.

Di negara-negara maju, parpol mengerahkan kemampuan marketing mereka untuk merebut sebanyak mungkin konstituen. Berbagai teknik yang sebelumnya hanya dipakai di dalam dunia bisnis, sekarang ini dicangkokkan kedalam kehidupan politik. (*/lpk)

Source : kapanlagi.com pada hari Kamis, 26 Juli 2007 19:45

One thought on “Pemasaran Politik Relevan Jadi Strategi Alternatif Parpol Jelang 2009

  1. Asslamalaikum.
    Dalam penerapan Teori Marketing Politik,,yg konteksnya diIndonesia…
    sangat tidak sesuai dengan Filosofi Bangsa Indonesia yang lebih berorientasoi kepada tegaknya Harkat dan Mertabat Hidup Rakyat Indonesia.
    kenapa..?
    karena sebernya para pakar Politik dibangsa ini,,tidak Faham akan standar Politik DiBangsa ini, dan memang kalau Faham, apa standar Politik diBangsa ini..?
    kalau Politik tidak dibangun berdasarkan standar, bagaimana dinamika politik akan mampu mengukur dan menjangkau Target yang akan menjadi Tujuan dari Dianmika Politik yang dibangun.
    sebenarnya,, penerapan Marketing Poloitik itu sebagai tujuan atau sebagai sistem,,?
    didalam Trias Politica, dimana Eksistensi dari MPR..?
    berdasarkan Produk Amandemen UUD 2002 pasal 1 ayat 2 menjelaskan soal kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan menurut UUD.
    pertanyaanya.
    dalam produk Amandemen, pasal berapa yang menjelasakan soal satu lembaga yang menegakan Kedaulatan Rakyat secara penuh.?
    serta pola hubungan antara penerapan Marketing politik, bagaimana ceritanya dengan metode tersebut dapat menjamin tegaknya harkat dan martabat hidup Rakyat Indonesia ? yg jelas-jelas Merketing politik hanya proses pencitraan figur, kita tahu sendiri bahwasannya,, citra figur kepemimpinan akan terbentuk dan lebih objektif apabila kepemimpinan tersebut telah terbukti bisa menegakkan kedaulatan rakyat.
    * 082195039215

Leave a Reply