Mencari Ospek yang Mendidik dan Akademis

Ospek dalam bahasa yang lebih sederhana adalah masa orientasi studi dan pengenalan kampus. Tujuannya, mengenalkan kampus dan berbagai hal terkait dengan perkuliahan sebagai dunia baru yang akan dimasuki mahasiswa baru alias maba.

Sebagai sebuah kegiatan yang menjadi. pintu pertama bagi maba, transfer ilmu menjadi kunci utama kegiatan ini. Transfer ilmu yang dilakukan kampus sebagai sebuah institusi direpresentasikan oleh kehadiran para senior yang sengaja dilibatkan dalam kegiatan ini. Tentu saja petinggi kampus dan dosen pengajar juga turut campur.

Idealnya, tidak ada praktik kekerasan dalam kegiatan ini. Tidak dalam level apa pun. Sangat keliru bila ospek justru memakan korban seperti yang kerap terjadi di sebuah kampus pencetak birokrat di negeri ini.

Sayangnya, hingga saat ini, ospek belum juga berhasil menampilkan dirinya sebagai kegiatan yang positif. Dalam benak mahasiswa, ospek adalah kegiatan yang mengerikan, yang sebisa mungkin harus dihindari.

Setidaknya dari tahun 1990-an hingga saat ini, metode yang dilakukan beberapa kampus masih sama. Ospek identik dengan tugas yang aneh dan nyaris tidak masuk akal, ditambah praktik kekerasan terselubung, kerap disebut sebagai hukuman bagi yang dianggap melanggar, dengan level yang berbeda-beda.

Annisa Iskandar asal Bandung, Jawa Barat, mengenang, saat ospek, dia diwajibkan membawa cokelat merek tertentu yang sangat sulit ditemukan. ”Waktu itu sampai ngubek seluruh Bandung. Tapi enggak ketemu juga,” kenangnya.

Gara-gara tak bisa membawa cokelat yang diminta sebagai salah satu bentuk tugas, Annisa pun mendapat hukuman. ”Hukumannya bikin paper. Tapi, paper- nya banyak banget. Sampai 30 lembar kalau enggak salah,” kenang Annisa.

Ia mengatakan, praktik kekerasan dalam berbagai manifestasi, misal bentakan dan omelan, terjadi selama ospek yang diikutinya. Annisa menganggapnya sebagai hal wajar, tetapi tidak bagi beberapa temannya.

Permintaan aneh

Febryanty Putry, mahasiswa Universitas Bakrie yang pernah mengecap kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di kawasan Depok, Jawa Barat, menuturkan, saat ospek dia juga diminta melakukan hal-hal yang menurutnya aneh, yaitu meminta tanda tangan kepada mahasiswa di lingkungan kampusnya.

Tidak hanya digelar di jurusan, ospek juga dilakukan di tingkat fakultas. Alhasil, waktu yang dibutuhkan untuk ospek sangat panjang. Hampir satu bulan lamanya, sementara mahasiswa sudah aktif di perkuliahan.

Setelah pindah ke kampus baru, Putry baru mengetahui bahwa kampus barunya menerjemahkan ospek dengan kegiatan luar ruang di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Selama kegiatan luar ruang itu, mahasiswa menginap selama tiga hari dua malam.

Tidak ada praktik kekerasan karena kegiatan yang dilakukan lebih bertujuan untuk membangun kedekatan dan keakraban di antara mereka. Di antara kegiatan yang dilakukan, disuntikkan berbagai informasi seputar kampus. Pulang dari Bogor, mereka menjadi keluarga besar yang akrab dan kompak.

Menurut Putry, model ospek seperti inilah yang seharusnya diterapkan di kampus-kampus. ”Ospek jangan sampai jadi ajang pamer senioritas. Kalau memang mau dihormati, ya bersikap baik saja. Kami sebagai junior akan hormat kepada senior kalau memang mereka pantas dihormati,” tegas Putry.

Tidak khawatir

Bhredipta, lulusan SMA AL Azhar 4 Kemang Pratama yang baru saja diterima sebagai mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, mengungkapkan, sebagai calon mahasiswa, tak tebersit sedikit pun kekhawatiran tentang ospek yang akan dijalaninya. Ia cukup yakin ospek di kampusnya akan berjalan baik-baik saja.

Meski begitu, Bhredipta tidak mau tinggal diam. Ia banyak mencari informasi tentang ospek yang akan dijalaninya melalui internet dan ngobrol dengan kakak teman-temannya yang kuliah di UGM. Dari situ dia yakin ospek yang akan dijalaninya bukan ospek yang harus ditakuti.

”Soalnya wajib ikut. Kalau enggak, enggak bisa ikut kegiatan di kampus,” ujar Bhredipta. Materi yang diberikan antara lain sejarah UGM dan soal manajemen waktu. Ia sudah mempersiapkan mental dan fisiknya bila September kelak bertolak ke Yogyakarta dan menjadi salah satu peserta ospek.

Ia berharap ospek yang akan dia jalani berhasil membuka matanya terhadap kehidupan kampus yang akan dijalaninya kelak. ”Kondisi yang sudah pasti berbeda dengan saat sekolah di bangku SMA,” ujar Bhredipta.

Tentang ospek ideal, Bhredipta mengatakan, sesuai namanya, orientasi pengenalan lingkungan kampus, idealnya ospek mengajarkan atau memberi informasi tentang nilai-nilai yang dijunjung kampus tersebut, memberikan kemampuan dan nilai apa saja yang harusnya dimiliki maba.

”Harapannya bisa menjadi bekal maba untuk mengarungi kehidupan kampus. Intinya, ospek harus mendidik dan bersifat akademik karena itulah fungsi kampus,” kata Bhredipta.

Ia sepakat bila ospek harus meninggalkan jauh-jauh praktik kekerasan karena kekerasan hanya melahirkan generasi yang menyelesaikan masalah dengan kepala panas, tidak berpikir matang dan menyelesaikan segala sesuatunya dengan otot. ”Mau dibawa ke mana Indonesia kalau generasi mudanya seperti itu,” lontar Bhredipta.

Senada dengan Bhredipta, Annisa dan Putry juga sangat tidak setuju dengan praktik kekerasan dalam ospek. ”Bila sampai terjadi kekerasan, seharusnya mahasiswa yang mengalaminya berani melapor kepada pihak kampus. Dengan demikian, kekerasan yang terjadi tidak bertambah parah dan bisa segera dihentikan,” kata Putry.

Sementara Bhredipta mengatakan, ”Kekerasan enggak ada gunanya. Kalau memang kakak kelas ingin dihormati dan dihargai oleh kami, mahasiswa junior, prestasilah yang harusnya mereka tonjolkan. Lebih baik disegani, bukan ditakuti. Tentang ospek yang berupa kegiatan luar ruang atau outbound, Bhredipta mengatakan setuju asal tujuannya jelas.

Kembali ke khitah

Kepala Subdit Minat, Bakat, dan Penalaran IPB Direktorat Kemahasiswaan Bambang Riyanto menuturkan, dulu senioritas memang masih terjadi dalam kegiatan ospek di sejumlah kampus. Namun, saat ini sejumlah kampus sudah mengembangkan metode ESQ dalam ospek yang dilakukan sehingga bentuk-bentuk yang berkaitan dengan senioritas atau praktik kekerasan ditiadakan.

”Sebaiknya ospek memang dikembalikan pada khitahnya untuk memperkenalkan kampus kepada mahasiswa baru dan mengarahkan orientasi mahasiswa di kehidupan yang akan datang sebagai bagian dari masyarakat kampus,” kata Bambang.

Namun, Bambang tidak bisa menutup mata bahwa praktik semacam itu tidak sepenuhnya hilang. Bila IPB sudah menghapuskan segala praktik yang berhubungan dengan kekerasan dalam ospek, yang di IPB dikenal dengan nama Masa Perkenalan Kampus untuk Mahasiswa Baru (MPKMB), ini semata-mata agar tak menimbulkan masalah baru.

”Sudah banyak masalah dalam dunia pendidikan. Kita tidak mau timbul masalah lain,” tutur Bambang. Melalui MPKMB, mahasiswa baru mendapat gambaran tentang dunia pertanian dan bagaimana di masa depan mereka dapat berperan aktif di dunia pertanian.

(dwi AS Setianingsih) KOMPAS/HERU SRI KUMORO Mahasiswa baru Jurusan Teknik Industri Institut Sains Terapan dan Teknologi Surabaya (ISTTS) praktik membatik bermotif mangrove khas Surabaya di Kampus ISTTS, Surabaya, Agustus 2010

Source : Kompas.com

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply